
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Ruangan istirahat di paviliun belakang...
Mereka bertiga duduk saling berhadapan dengan suasana tegang sedikit mencekam. Eyang Putri
duduk di kursi singel dengan wajah datar dan
tatapan tajam hingga membuat kedua orang
di hadapannya hanya bisa menundukkan kepala.
Tidak ada lagi seorang Takayama Hasimoto..
Sang ketua Klan samurai besar, yang ada hanya
lah seorang menantu yang penuh dengan dosa
serta penyesalan.
Nyonya Yuri tiada henti meneteskan air mata
dengan kepala tertunduk dalam. Tangannya
di genggam erat oleh sang suami berusaha
untuk saling menguatkan.
"Jadi..baru sekarang kesadaran itu datang.?
Setelah menantu kalian datang mengingatkan.
Mungkin kalau tidak, kalian hanya akan datang
ketika keranda membawaku ke peristirahatan
terakhir..! ketika aku sudah tidak bernyawa.!"
Suara Eyang Putri terdengar berat. Isak tangis
Nyonya Yuri kini semakin menjadi. Dia bangkit
kemudian bersimpuh kembali di depan Eyang
putri seraya merebahkan kepala di pangkuan
wanita tua itu.
"Mami.. kumohon.. jangan bicara seperti itu.
Dunia boleh kejam pada kita, tapi ikatan darah
tidak akan bisa terputus begitu saja. Selama
ini kami hidup dalam penyesalan.!"
Lirih Nyonya Yuri dengan suara yang terbata-
bata karena terhalang oleh tangis yang kini
semakin menjadi. Ada tetesan cairan bening
yang kini mulai keluar dari sudut mata keriput
Eyang Putri. Dia sudah tidak bisa lagi bersikap
angkuh dan dingin saat ini.
"Sesungguhnya sudah lama kami ingin datang.
Tapi kami tidak memiliki keberanian. Kami
terlalu malu untuk memperlihatkan diri di
hadapan Mami..! maafkan kami.. semoga
penyesalan ini belum terlambat..!"
Ujar Tuan Hasimoto yang ikut berjongkok di
hadapan mertuanya itu. Kedua tangan Eyang
Putri kini di pegang oleh kedua orang itu.Hati
Eyang putri semakin melemah. Dia menatap
teduh anak dan menantunya itu.
"Bangunlah.. kalian berdua harus istirahat.
Ada banyak hal yang harus kalian lakukan di
sini.! Aku sudah sangat tua.. tidak seharusnya
rasa kecewa ini di simpan terus..!"
Tuan Hasimoto mendongakkan kepala begitu
pun dengan Nyonya Yuri.
"Apakah Mami masih memberi kesempatan
pada kami untuk memperbaiki kesalahan.?"
Tuan Hasimoto menatap haru meyakinkan
diri akan semua yang di dengarnya. Eyang
Putri menepuk bahu kokoh menantunya itu
yang sampai saat ini masih saja terlihat
begitu gagah dan mempesona.
"Aku ingin hidup tenang dan bahagia sebelum
akhirnya Tuhan mengakhiri masa hidupku.!"
"Mami.. maafkan Yuri..!"
Nyonya Yuri berseru sambil memeluk erat
tubuh renta ibunya. Mereka berdua saling
memeluk erat dengan tangis yang sama-
sama tidak tertahan. Tuan Hasimoto berdiri
tegak, menarik napas lega memperhatikan
kedua ibu dan anak yang sedang larut dalam
keharuan itu. Baginya tidak ada kata terlambat
untuk segala sesuatu yang lebih baik.
Dan di balik pintu ruangan, dua sosok yang
dari tadi mencoba menguping kini tampak
menarik napas lega lalu saling berpelukan.
"Alhamdulillah.. semua nya berjalan sesuai
dengan apa yang kita harapkan sayang..!"
Lirih Kiran masih berada di dalam pelukan
Agra yang mengusap lembut rambut nya.
"Baiklah.. semuanya baik-baik saja, jadi aku
akan ke kantor sekarang. Ingat kamu harus
banyak istirahat, jangan terlalu lelah oke..?!"
Ujar Agra sambil melonggarkan pelukannya
kemudian mencium kening Kiran lama. Para
pelayan yang ada di ruangan itu tertunduk
diam. Kiran mendaratkan ciuman lembut di
bibir Agra membuat wajah tampan Agra
memerah. Keduanya saling pandang lekat,
kemudian saling memberi kecupan mesra
di bibir, setelah itu barulah Agra berangkat
ke kantor dengan sedikit enggan, tapi karena
ada pertemuan penting, mau tidak mau dia
harus pergi juga..
****** ******
Kantor Megah Bintang Group...
Meeting direksi baru saja selesai. Besok malam
akan di adakan acara gala dinner yang bertajuk
Meet Night.. untuk semua anak perusahaan yang
ada di bawah komando Bintang Group. Sekaligus
pertemuan gabungan untuk beberapa perusahaan
rekanan serta perusahaan besar lainnya. Acara
ini cukup penting karena akan di hadiri oleh para
investor asing baik dari dalam maupun luar negeri.
Selain itu juga acara ini sangat di tunggu-tunggu
karena akan ada acara penghargaan khusus bagi
perusahaan yang berhasil mencapai kesuksesan
dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
Agra keluar dari ruang meeting bersama para
staf kepercayaan nya yang selalu bergerak rapi
serta profesional di belakang nya. Mereka tidak
pernah mengecewakan dalam melakukan apa
yang di instruksikan oleh sang Presdir.
Sosok Agra begitu menonjol di antara barisan
orang-orang gagah dan perlente itu. Kelompok
ini hanya akan muncul di saat tertentu saja.
Dan mereka akan datang satu bulan sekali
untuk memberikan laporannya.
"Kalian pastikan semuanya berjalan sesuai
dengan planning dan prosedur yang sudah
aku tetapkan..!"
Titah Agra menyerahkan tablet pada Bara yang
baru saja selesai di cek nya sambil berjalan.
"Baik Presdir.. kami akan memastikan semua
nya berjalan sesuai instruksi anda..!"
Sambut Erik sebagai ketua team. Team khusus
itu terdiri dari 8 pria dan 2 wanita profesional.
Rombongan orang-orang penting itu berjalan
beriringan melewati koridor panjang dimana
para karyawan terlihat lalu lalang dengan
segala aktifitas padat nya yang tiada henti.
"Baiklah.. sekarang kalian kembali ke tempat
masing-masing. Erik kamu kembali ke lokasi
acara, pastikan semuanya rampung hari ini..!"
"Baik Tuan laksanakan..!"
Erik dan team nya membungkuk begitu Agra
tiba di depan lift khusus yang akan membawa
nya naik ke ruangan nya. Dan mereka semua
menghela napas panjang saat pintu lift yang
membawa sang pimpinan tertutup.
Agra dan Bara keluar dari lift khusus di lantai
teratas tempat ruangan nya berada. Dengan
gagah dia berjalan tenang menuju ruangannya.
Tiba di ruangan sekretaris para wanita seksi
dan cantik itu langsung berdiri di tempat masing
masing seraya membungkuk menyambut nya
dengan sapaan khas yang lembut namun tegas.
Agra menatap Tanisha yang hari ini terlihat
begitu..wooww..setelannya tampak luar biasa
minim. Alis Agra bertaut dalam, wajah nya
terlihat semakin dingin.
"Tanisha.. bawakan saya makan siang..!"
Titahnya yang membuat wajah cantik wanita
itu langsung berbinar senang. Bara tampak
hanya menyeringai tipis. Sedang sekretaris
yang lain berubah muram sedikit terkejut.
"Baik Presdir.. segera..!"
Sahut Tanisha dengan senyum lembut nya.
Agra melangkah kembali menuju ruangan
nya di iringi pandangan para sekretaris nya.
"Sepertinya kepala sekretaris sedang ketiban
durian hari ini.! biasanya juga Pak Bara lah
yang selalu menyiapkan makan siang Presdir.!"
Ketus salah seorang sekretaris dengan wajah
yang terlihat jelas tidak terima.
"Ya benar.. kita paling kebagian menyiapkan
kalau Pak Bara tidak ada di tempat..!"
"Itu juga di bawah pengawasan mbak Elsa ya..!"
Sambung yang lain dengan berpaling muka.
Tanisha tersenyum manis penuh percaya diri
seraya membenahi pakaiannya. Hari ini dia
mengenakan setelan rok mini di atas lutut
di padu atasan lengan pendek dengan model
yang terbuka di bagian belahan dadanya, plus
blazer manis yang membuat penampilan nya
terlihat seksi dan berkelas.
"Kelas kalian dan kelasku itu jauh berbeda..
Jadi, jangan bermimpi untuk bersaing dengan
seorang Tanisha..Kalian bukan level ku..!"
Ketus Tanisha sambil kemudian melangkah
anggun meninggalkan para sekretaris yang
hanya bisa memerah menahan kesal.
Agra duduk kembali di kursi kebesarannya
sambil membuka jas yang di pakai nya lalu
melonggarkan dasinya. Sebenarnya sekarang
ini dia tidak betah memakai jas berlama-lama
dan lebih terasa nyaman memakai jaket. 3 jam
waktu nya tersita untuk pertemuan membuat
pikirannya kini tertuju pada sosok kekasih hati
yang berada jauh dari jangkauan nya.
Tidak lama Bara masuk ke dalam ruangan
kemudian menyimpan dokumen rahasia yang
sudah di susun nya dengan lengkap di hadapan
Agra yang sedang merebahkan kepalanya di
sandaran kursi.
"Tuan..ini semua laporan yang anda inginkan.!
tidak ada yang terlewat. !"
Agra meraih dokumen itu, kemudian membuka
dan melihat nya secara seksama. Dia tampak
puas dengan hasilnya.
"Lumayan..! Mikhayla ternyata merekrut antek
yang cukup menjanjikan.! semua bos nya
sudah jatuh di tangannya.!"
Desis Agra dengan senyum miring, Bara
mengeluarkan sesuatu dari balik jas nya
kemudian meletakkan nya di atas meja.
"Semua bukti penting sudah tersimpan Tuan.
Cukup di sayangkan, padahal wanita itu berasal
"Kau harus tahu Bara, sekarang ini kehormatan hanyalah di jadikan tabir untuk menutupi prilaku
buruk segelintir orang yang menghalalkan segala
cara untuk meraih ambisi nya !"
Bara mengangguk, setuju dengan ucapan Tuan
yang sangat di segani nya itu. Bagi Bara, selain
sebagai atasan, Agra juga merupakan panutan
nya, selama ini bos nya itu selalu bertindak dan
melakukan segala sesuatu sesuai koridor hukum
yang berlaku, persis seperti sang pendahulu nya
Tuan Raksapati Hadiningrat.
Agra kembali meneliti isi berkas tersebut, lalu
berpaling pada alat kecil di hadapan nya.
"Mikhayla menyepelekan perasaanku terhadap
Kiran. Dia pikir aku akan jatuh dengan mudah,
dia belum mengenalku dengan baik rupanya.!"
"Nona Mikhayla terlalu percaya diri Tuan..Dia
bahkan tidak menyadari sedang berhadapan
dengan siapa, ambisinya terlalu tinggi.!"
"Hemm.. nama besarnya membuat dia lupa
dengan satu fakta bahwa aku bisa meretas
informasi apapun yang aku inginkan..!"
"Benar Tuan..Dia sudah menggali kuburannya
sendiri.!"
"Baiklah..Kau boleh keluar sekarang..!"
"Baik Tuan.. saya permisi.!"
Bara kembali membungkuk dalam kemudian
berlalu keluar dari ruangan. Agra merebahkan
kembali tubuhnya ke sandaran kursi, bayangan
wajah cantik nan menggoda Kiran terus saja
bermain di pelupuk matanya membuat dia
merindukan kehadiran istrinya itu.
Sesungguhnya wanita yang di rindukan Agra
saat ini baru saja tiba di pintu utama gedung
perusahaan Bintang Group. Ada sedikit rasa
gugup yang di rasakan Kiran saat ini, untuk
pertama kalinya setelah menyandang gelar
sebagai Nona Muda Hadiningrat dia kembali berkunjung ke gedung ini. Dan..kali ini, Kiran
tidak datang sendiri, dia datang bersama
dengan ayah mertua tersayang..
Tuan Hasimoto memutuskan untuk datang
ke kantor putranya ini ingin melihat langsung
seberapa besar kekuasaan putranya itu hingga
dia lebih memilih berada di jalur ini. Dia juga
melarang Zack untuk melaporkan kedatangan
nya ke tempat ini.
Zack menghentikan mobilnya tepat di depan
loby utama yang terlihat begitu megah dengan
undakan tangga tinggi menghiasi bagian depan
nya hingga mampu menggetarkan lutut setiap
orang yang baru datang ke gedung ini.
Beberapa mobil mewah berplat nomor khusus
warna hitam berhenti di belakang mobil Zack.
Dalam gerakan cepat dan rapi puluhan orang
berseragam hitam dengan tampang datar dan
dingin itu langsung mengambil posisi berjajar
di kanan kiri jalan yang akan di lalui oleh sang
Bos Besar beserta menantunya.
Para penjaga dan security yang ada di tempat
itu sempat bengong sesaat melihat kedatangan rombongan besar ini. Wajah mereka langsung
memucat saat melihat sosok Zack lah yang
berada di balik semua ini. Akhirnya mereka pun mengambil posisi siaga bergabung dengan
barisan pasukan berwajah datar tadi masih di
liputi tanda tanya besar, sebenarnya siapa yang
datang hingga pengamanan bisa seheboh ini.??
Tuan Hasimoto membawa pasukan sendiri
saat datang ke negara ini. Ada 10 orang anak
buah pilihannya yang selalu menemani dirinya
pergi kemana pun dan mereka semua memiliki
tampang serta fisik yang mumpuni. Umurnya
juga rata-rata di bawah 30 tahunan.
Pengamanan sudah siap, Kiran hanya bisa
menarik napas berat melihat apa yang terjadi
di depan matanya itu yang menurutnya agak
sedikit berlebihan.
"Kenapa harus seperti ini Ayah..? Kita bukan
pergi ke medan perang, kita hanya datang ke
kantor Agra, di sini juga sudah banyak penjaga.!"
Keluh Kiran sambil merapihkan tampilan nya.
Tuan Hasimoto terkekeh pelan sambil melihat
kearah menantunya yang sedang cemberut itu.
"Bahaya akan selalu mengintai ayah mu ini
dimana pun..Jadi harus selalu waspada..!"
"Bukankah ayah seorang jagoan.?"
"Hahaa.. jagoan turunnya selalu belakangan..!"
"Dasar aneh, ayah sama saja dengan Agra.!"
Decak Kiran sambil meraih boks makan siang
yang sudah di siapkan nya, khusus di buatnya
untuk Agra dan ayah mertuanya. Tuan Hasimoto
kembali terkekeh, dia mengelus rambut Kiran.
"Darah itu kuat nak.! Ayo..kita turun sekarang..!"
Ujar nya sambil kemudian turun dari mobil
disusul oleh Kiran. Para penjaga tampak
terkejut luar biasa melihat kemunculan Nona
Muda bersama dengan..Tuan Besar Hasimoto.!
Hampir semua orang yang bekerja di Bintang
Group mengenal siapa itu Tuan Hasimoto
walaupun tidak pernah melihatnya secara
langsung. Dan saat ini.. sosok gagah penuh
kharisma itu muncul di gedung ini.
"Selamat datang Tuan Besar.. Nona Muda.."
Sambut mereka serempak sambil membungkuk
rendah tidak berani lagi mengangkat muka.
Lutut mereka saat ini bergetar hebat, siapa
yang tidak tegang saat berada di hadapan
Sang ketua Klan Samurai Hiroki Hanzo..!
Tuan Hasimoto mengangkat tangannya dengan tampan datar dan dingin, dia memegang tangan
Kiran kemudian mulai melangkah dengan tenang
masuk ke dalam bangunan megah tersebut.
Kehebohan langsung terjadi di ruangan utama
loby karena saat ini semua resepsionis dan
para karyawan mengambil posisi di setiap
sudut ruangan untuk menyambut kedatangan
kedua orang penting pemilik perusahaan ini.
Semua orang terkesima melihat kehadiran
kedua ayah dan menantu itu. Saat ini Kiran
tampil memukau dan mempesona dengan
balutan gaun cantik warna pastel dengan
polesan wajah natural serta rambut yang
tertata di gulung rapi dan manis. Matanya
yang indah tampak bercahaya membuat
setiap orang seakan terbius. Kalau tidak
sadar bahwa wanita cantik jelita ini milik
Presdir mereka, mungkin banyak karyawan
yang akan terhanyut dalam pesonanya.
Namun siapa yang akan berani macam-macam
padanya kalau saat ini dia berjalan bersama
seorang pria paruh baya yang sangat di segani
di mata dunia. Keduanya berjalan tenang
dengan aura kehadiran yang sangat kuat
serta menggetarkan sekaligus menyilaukan.
Bara berlari dari arah ruangan lain dengan
tampang wajah yang sangat terkejut.
"Tuan Besar.. Nona Muda.. selamat datang..
Kenapa anda tidak mengabari kami..!"
Sambut Bara dengan suara terbata serta napas
tersengal karena baru saja tiba. Tuan Hasimoto
menatap Bara dengan seringai kecil.
"Tidak perlu berlebihan Asisten..! Bawa aku
ke ruangan bos mu..!"
"Baik Tuan.. mari ikuti saya..!"
"Kita pakai jalur biasa saja..! aku ingin melihat
ruangan kerja para sekretaris..!"
Tuan Hasimoto dan Bara melongo mendengar
ucapan Kiran yang sedikit ketus. Tidak lama
kedua orang itu mengulum sedikit senyum
setelah memahami situasi.
"Baik Nona Muda.. sesuai keinginan anda..!"
Sahut Bara sambil kemudian membimbing
langkah Tuan Hasimoto dan Kiran. Zack yang
membawakan kotak makan siang mengawal
mereka di belakang, sedangkan para pengawal
kini hanya bisa mengantar sampai di sana saja.
Sementara itu di lantai teratas...
Tanisha baru saja kembali ke ruangan kerja
nya dengan membawa kotak makan siang
untuk Sang Presdir pujaan dengan wajah
yang berbinar bahagia. Para sekretaris lain
yang sedang istirahat sehabis makan siang
tampak menatap gerah kearah Tanisha yang
kini sengaja duduk dulu di kursi kerjanya
untuk merapihkan penampilannya.
"Huuh... Presdir kita keburu kelaparan kalau
begini.! apa dia tidak tahu kalau Tuan Agra
tidak pernah mentolerir keterlambatan..!"
Sindir salah seorang dengan menatap sinis
kearah Tanisha yang terlihat acuh saja.
"Dia kan orang baru, belum faham betul siapa
pimpinan kita, lihat saja nanti apa yang akan
terjadi..!"
Sahut yang satu lagi dengan menyebikkan
bibir merah apel nya.
"Terserah kalian mau bicara apa.! bisa jatuh
pasaran ku kalau melayani mulut usil kalian.!"
Ketus Tanisha sambil berdiri, merapihkan
atasnya agar terlihat lebih menggoda, para
sekretaris berdecak sebal sambil kembali
pada kegiatan semula, melakukan touch up
untuk riasan wajah nya.
"Anda terlalu percaya diri Nona Tanisha..!"
Geram salah satu sekretaris yang paling
senior di antara yang lain.Tanisha tersenyum
manis, kemudian meraih kotak makan tadi
lalu melirik pada barisan bawahnya.
"Aku memang pantas percaya diri..! tidak ada
pria yang pernah menolak pesonaku..!"
Ucapnya penuh percaya diri sambil melengoskan wajah dan mulai melangkah. Namun tidak lama
dia menghentikan langkahnya saat melihat para
bawahan nya itu serempak berdiri dengan wajah
yang terlihat tegang sekaligus terpukau kearah
pintu masuk ruangan dimana saat ini mereka
melihat kedatangan orang-orang penting yang
sedang berjalan tenang beriringan dengan aura
kehadiran yang mampu membuat lutut mereka
lemas dan bergetar.
"Nona Muda Hadiningrat..."
Desis salah seorang dengan pandangan yang
tidak lepas dari sosok cantik jelita yang kini
sedang berjalan anggun di kawal oleh para
pria gagah dan berwibawa..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....