Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
68. Berkunjung


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Ruangan istirahat di paviliun belakang...


Mereka bertiga duduk saling berhadapan dengan suasana tegang sedikit mencekam. Eyang Putri


duduk di kursi singel dengan wajah datar dan


tatapan tajam hingga membuat kedua orang


di hadapannya hanya bisa menundukkan kepala.


Tidak ada lagi seorang Takayama Hasimoto..


Sang ketua Klan samurai besar, yang ada hanya


lah seorang menantu yang penuh dengan dosa


serta penyesalan.


Nyonya Yuri tiada henti meneteskan air mata


dengan kepala tertunduk dalam. Tangannya


di genggam erat oleh sang suami berusaha


untuk saling menguatkan.


"Jadi..baru sekarang kesadaran itu datang.?


Setelah menantu kalian datang mengingatkan.


Mungkin kalau tidak, kalian hanya akan datang


ketika keranda membawaku ke peristirahatan


terakhir..! ketika aku sudah tidak bernyawa.!"


Suara Eyang Putri terdengar berat. Isak tangis


Nyonya Yuri kini semakin menjadi. Dia bangkit


kemudian bersimpuh kembali di depan Eyang


putri seraya merebahkan kepala di pangkuan


wanita tua itu.


"Mami.. kumohon.. jangan bicara seperti itu.


Dunia boleh kejam pada kita, tapi ikatan darah


tidak akan bisa terputus begitu saja. Selama


ini kami hidup dalam penyesalan.!"


Lirih Nyonya Yuri dengan suara yang terbata-


bata karena terhalang oleh tangis yang kini


semakin menjadi. Ada tetesan cairan bening


yang kini mulai keluar dari sudut mata keriput


Eyang Putri. Dia sudah tidak bisa lagi bersikap


angkuh dan dingin saat ini.


"Sesungguhnya sudah lama kami ingin datang.


Tapi kami tidak memiliki keberanian. Kami


terlalu malu untuk memperlihatkan diri di


hadapan Mami..! maafkan kami.. semoga


penyesalan ini belum terlambat..!"


Ujar Tuan Hasimoto yang ikut berjongkok di


hadapan mertuanya itu. Kedua tangan Eyang


Putri kini di pegang oleh kedua orang itu.Hati


Eyang putri semakin melemah. Dia menatap


teduh anak dan menantunya itu.


"Bangunlah.. kalian berdua harus istirahat.


Ada banyak hal yang harus kalian lakukan di


sini.! Aku sudah sangat tua.. tidak seharusnya


rasa kecewa ini di simpan terus..!"


Tuan Hasimoto mendongakkan kepala begitu


pun dengan Nyonya Yuri.


"Apakah Mami masih memberi kesempatan


pada kami untuk memperbaiki kesalahan.?"


Tuan Hasimoto menatap haru meyakinkan


diri akan semua yang di dengarnya. Eyang


Putri menepuk bahu kokoh menantunya itu


yang sampai saat ini masih saja terlihat


begitu gagah dan mempesona.


"Aku ingin hidup tenang dan bahagia sebelum


akhirnya Tuhan mengakhiri masa hidupku.!"


"Mami.. maafkan Yuri..!"


Nyonya Yuri berseru sambil memeluk erat


tubuh renta ibunya. Mereka berdua saling


memeluk erat dengan tangis yang sama-


sama tidak tertahan. Tuan Hasimoto berdiri


tegak, menarik napas lega memperhatikan


kedua ibu dan anak yang sedang larut dalam


keharuan itu. Baginya tidak ada kata terlambat


untuk segala sesuatu yang lebih baik.


Dan di balik pintu ruangan, dua sosok yang


dari tadi mencoba menguping kini tampak


menarik napas lega lalu saling berpelukan.


"Alhamdulillah.. semua nya berjalan sesuai


dengan apa yang kita harapkan sayang..!"


Lirih Kiran masih berada di dalam pelukan


Agra yang mengusap lembut rambut nya.


"Baiklah.. semuanya baik-baik saja, jadi aku


akan ke kantor sekarang. Ingat kamu harus


banyak istirahat, jangan terlalu lelah oke..?!"


Ujar Agra sambil melonggarkan pelukannya


kemudian mencium kening Kiran lama. Para


pelayan yang ada di ruangan itu tertunduk


diam. Kiran mendaratkan ciuman lembut di


bibir Agra membuat wajah tampan Agra


memerah. Keduanya saling pandang lekat,


kemudian saling memberi kecupan mesra


di bibir, setelah itu barulah Agra berangkat


ke kantor dengan sedikit enggan, tapi karena


ada pertemuan penting, mau tidak mau dia


harus pergi juga..


****** ******


Kantor Megah Bintang Group...


Meeting direksi baru saja selesai. Besok malam


akan di adakan acara gala dinner yang bertajuk


Meet Night.. untuk semua anak perusahaan yang


ada di bawah komando Bintang Group. Sekaligus


pertemuan gabungan untuk beberapa perusahaan


rekanan serta perusahaan besar lainnya. Acara


ini cukup penting karena akan di hadiri oleh para


investor asing baik dari dalam maupun luar negeri.


Selain itu juga acara ini sangat di tunggu-tunggu


karena akan ada acara penghargaan khusus bagi


perusahaan yang berhasil mencapai kesuksesan


dalam kurun waktu satu tahun terakhir.


Agra keluar dari ruang meeting bersama para


staf kepercayaan nya yang selalu bergerak rapi


serta profesional di belakang nya. Mereka tidak


pernah mengecewakan dalam melakukan apa


yang di instruksikan oleh sang Presdir.


Sosok Agra begitu menonjol di antara barisan


orang-orang gagah dan perlente itu. Kelompok


ini hanya akan muncul di saat tertentu saja.


Dan mereka akan datang satu bulan sekali


untuk memberikan laporannya.


"Kalian pastikan semuanya berjalan sesuai


dengan planning dan prosedur yang sudah


aku tetapkan..!"


Titah Agra menyerahkan tablet pada Bara yang


baru saja selesai di cek nya sambil berjalan.


"Baik Presdir.. kami akan memastikan semua


nya berjalan sesuai instruksi anda..!"


Sambut Erik sebagai ketua team. Team khusus


itu terdiri dari 8 pria dan 2 wanita profesional.


Rombongan orang-orang penting itu berjalan


beriringan melewati koridor panjang dimana


para karyawan terlihat lalu lalang dengan


segala aktifitas padat nya yang tiada henti.


"Baiklah.. sekarang kalian kembali ke tempat


masing-masing. Erik kamu kembali ke lokasi


acara, pastikan semuanya rampung hari ini..!"


"Baik Tuan laksanakan..!"


Erik dan team nya membungkuk begitu Agra


tiba di depan lift khusus yang akan membawa


nya naik ke ruangan nya. Dan mereka semua


menghela napas panjang saat pintu lift yang


membawa sang pimpinan tertutup.


Agra dan Bara keluar dari lift khusus di lantai


teratas tempat ruangan nya berada. Dengan


gagah dia berjalan tenang menuju ruangannya.


Tiba di ruangan sekretaris para wanita seksi


dan cantik itu langsung berdiri di tempat masing


masing seraya membungkuk menyambut nya


dengan sapaan khas yang lembut namun tegas.


Agra menatap Tanisha yang hari ini terlihat


begitu..wooww..setelannya tampak luar biasa


minim. Alis Agra bertaut dalam, wajah nya


terlihat semakin dingin.


"Tanisha.. bawakan saya makan siang..!"


Titahnya yang membuat wajah cantik wanita


itu langsung berbinar senang. Bara tampak


hanya menyeringai tipis. Sedang sekretaris


yang lain berubah muram sedikit terkejut.


"Baik Presdir.. segera..!"


Sahut Tanisha dengan senyum lembut nya.


Agra melangkah kembali menuju ruangan


nya di iringi pandangan para sekretaris nya.


"Sepertinya kepala sekretaris sedang ketiban


durian hari ini.! biasanya juga Pak Bara lah


yang selalu menyiapkan makan siang Presdir.!"


Ketus salah seorang sekretaris dengan wajah


yang terlihat jelas tidak terima.


"Ya benar.. kita paling kebagian menyiapkan


kalau Pak Bara tidak ada di tempat..!"


"Itu juga di bawah pengawasan mbak Elsa ya..!"


Sambung yang lain dengan berpaling muka.


Tanisha tersenyum manis penuh percaya diri


seraya membenahi pakaiannya. Hari ini dia


mengenakan setelan rok mini di atas lutut


di padu atasan lengan pendek dengan model


yang terbuka di bagian belahan dadanya, plus


blazer manis yang membuat penampilan nya


terlihat seksi dan berkelas.


"Kelas kalian dan kelasku itu jauh berbeda..


Jadi, jangan bermimpi untuk bersaing dengan


seorang Tanisha..Kalian bukan level ku..!"


Ketus Tanisha sambil kemudian melangkah


anggun meninggalkan para sekretaris yang


hanya bisa memerah menahan kesal.


Agra duduk kembali di kursi kebesarannya


sambil membuka jas yang di pakai nya lalu


melonggarkan dasinya. Sebenarnya sekarang


ini dia tidak betah memakai jas berlama-lama


dan lebih terasa nyaman memakai jaket. 3 jam


waktu nya tersita untuk pertemuan membuat


pikirannya kini tertuju pada sosok kekasih hati


yang berada jauh dari jangkauan nya.


Tidak lama Bara masuk ke dalam ruangan


kemudian menyimpan dokumen rahasia yang


sudah di susun nya dengan lengkap di hadapan


Agra yang sedang merebahkan kepalanya di


sandaran kursi.


"Tuan..ini semua laporan yang anda inginkan.!


tidak ada yang terlewat. !"


Agra meraih dokumen itu, kemudian membuka


dan melihat nya secara seksama. Dia tampak


puas dengan hasilnya.


"Lumayan..! Mikhayla ternyata merekrut antek


yang cukup menjanjikan.! semua bos nya


sudah jatuh di tangannya.!"


Desis Agra dengan senyum miring, Bara


mengeluarkan sesuatu dari balik jas nya


kemudian meletakkan nya di atas meja.


"Semua bukti penting sudah tersimpan Tuan.


Cukup di sayangkan, padahal wanita itu berasal


"Kau harus tahu Bara, sekarang ini kehormatan hanyalah di jadikan tabir untuk menutupi prilaku


buruk segelintir orang yang menghalalkan segala


cara untuk meraih ambisi nya !"


Bara mengangguk, setuju dengan ucapan Tuan


yang sangat di segani nya itu. Bagi Bara, selain


sebagai atasan, Agra juga merupakan panutan


nya, selama ini bos nya itu selalu bertindak dan


melakukan segala sesuatu sesuai koridor hukum


yang berlaku, persis seperti sang pendahulu nya


Tuan Raksapati Hadiningrat.


Agra kembali meneliti isi berkas tersebut, lalu


berpaling pada alat kecil di hadapan nya.


"Mikhayla menyepelekan perasaanku terhadap


Kiran. Dia pikir aku akan jatuh dengan mudah,


dia belum mengenalku dengan baik rupanya.!"


"Nona Mikhayla terlalu percaya diri Tuan..Dia


bahkan tidak menyadari sedang berhadapan


dengan siapa, ambisinya terlalu tinggi.!"


"Hemm.. nama besarnya membuat dia lupa


dengan satu fakta bahwa aku bisa meretas


informasi apapun yang aku inginkan..!"


"Benar Tuan..Dia sudah menggali kuburannya


sendiri.!"


"Baiklah..Kau boleh keluar sekarang..!"


"Baik Tuan.. saya permisi.!"


Bara kembali membungkuk dalam kemudian


berlalu keluar dari ruangan. Agra merebahkan


kembali tubuhnya ke sandaran kursi, bayangan


wajah cantik nan menggoda Kiran terus saja


bermain di pelupuk matanya membuat dia


merindukan kehadiran istrinya itu.


Sesungguhnya wanita yang di rindukan Agra


saat ini baru saja tiba di pintu utama gedung


perusahaan Bintang Group. Ada sedikit rasa


gugup yang di rasakan Kiran saat ini, untuk


pertama kalinya setelah menyandang gelar


sebagai Nona Muda Hadiningrat dia kembali berkunjung ke gedung ini. Dan..kali ini, Kiran


tidak datang sendiri, dia datang bersama


dengan ayah mertua tersayang..


Tuan Hasimoto memutuskan untuk datang


ke kantor putranya ini ingin melihat langsung


seberapa besar kekuasaan putranya itu hingga


dia lebih memilih berada di jalur ini. Dia juga


melarang Zack untuk melaporkan kedatangan


nya ke tempat ini.


Zack menghentikan mobilnya tepat di depan


loby utama yang terlihat begitu megah dengan


undakan tangga tinggi menghiasi bagian depan


nya hingga mampu menggetarkan lutut setiap


orang yang baru datang ke gedung ini.


Beberapa mobil mewah berplat nomor khusus


warna hitam berhenti di belakang mobil Zack.


Dalam gerakan cepat dan rapi puluhan orang


berseragam hitam dengan tampang datar dan


dingin itu langsung mengambil posisi berjajar


di kanan kiri jalan yang akan di lalui oleh sang


Bos Besar beserta menantunya.


Para penjaga dan security yang ada di tempat


itu sempat bengong sesaat melihat kedatangan rombongan besar ini. Wajah mereka langsung


memucat saat melihat sosok Zack lah yang


berada di balik semua ini. Akhirnya mereka pun mengambil posisi siaga bergabung dengan


barisan pasukan berwajah datar tadi masih di


liputi tanda tanya besar, sebenarnya siapa yang


datang hingga pengamanan bisa seheboh ini.??


Tuan Hasimoto membawa pasukan sendiri


saat datang ke negara ini. Ada 10 orang anak


buah pilihannya yang selalu menemani dirinya


pergi kemana pun dan mereka semua memiliki


tampang serta fisik yang mumpuni. Umurnya


juga rata-rata di bawah 30 tahunan.


Pengamanan sudah siap, Kiran hanya bisa


menarik napas berat melihat apa yang terjadi


di depan matanya itu yang menurutnya agak


sedikit berlebihan.


"Kenapa harus seperti ini Ayah..? Kita bukan


pergi ke medan perang, kita hanya datang ke


kantor Agra, di sini juga sudah banyak penjaga.!"


Keluh Kiran sambil merapihkan tampilan nya.


Tuan Hasimoto terkekeh pelan sambil melihat


kearah menantunya yang sedang cemberut itu.


"Bahaya akan selalu mengintai ayah mu ini


dimana pun..Jadi harus selalu waspada..!"


"Bukankah ayah seorang jagoan.?"


"Hahaa.. jagoan turunnya selalu belakangan..!"


"Dasar aneh, ayah sama saja dengan Agra.!"


Decak Kiran sambil meraih boks makan siang


yang sudah di siapkan nya, khusus di buatnya


untuk Agra dan ayah mertuanya. Tuan Hasimoto


kembali terkekeh, dia mengelus rambut Kiran.


"Darah itu kuat nak.! Ayo..kita turun sekarang..!"


Ujar nya sambil kemudian turun dari mobil


disusul oleh Kiran. Para penjaga tampak


terkejut luar biasa melihat kemunculan Nona


Muda bersama dengan..Tuan Besar Hasimoto.!


Hampir semua orang yang bekerja di Bintang


Group mengenal siapa itu Tuan Hasimoto


walaupun tidak pernah melihatnya secara


langsung. Dan saat ini.. sosok gagah penuh


kharisma itu muncul di gedung ini.


"Selamat datang Tuan Besar.. Nona Muda.."


Sambut mereka serempak sambil membungkuk


rendah tidak berani lagi mengangkat muka.


Lutut mereka saat ini bergetar hebat, siapa


yang tidak tegang saat berada di hadapan


Sang ketua Klan Samurai Hiroki Hanzo..!


Tuan Hasimoto mengangkat tangannya dengan tampan datar dan dingin, dia memegang tangan


Kiran kemudian mulai melangkah dengan tenang


masuk ke dalam bangunan megah tersebut.


Kehebohan langsung terjadi di ruangan utama


loby karena saat ini semua resepsionis dan


para karyawan mengambil posisi di setiap


sudut ruangan untuk menyambut kedatangan


kedua orang penting pemilik perusahaan ini.


Semua orang terkesima melihat kehadiran


kedua ayah dan menantu itu. Saat ini Kiran


tampil memukau dan mempesona dengan


balutan gaun cantik warna pastel dengan


polesan wajah natural serta rambut yang


tertata di gulung rapi dan manis. Matanya


yang indah tampak bercahaya membuat


setiap orang seakan terbius. Kalau tidak


sadar bahwa wanita cantik jelita ini milik


Presdir mereka, mungkin banyak karyawan


yang akan terhanyut dalam pesonanya.


Namun siapa yang akan berani macam-macam


padanya kalau saat ini dia berjalan bersama


seorang pria paruh baya yang sangat di segani


di mata dunia. Keduanya berjalan tenang


dengan aura kehadiran yang sangat kuat


serta menggetarkan sekaligus menyilaukan.


Bara berlari dari arah ruangan lain dengan


tampang wajah yang sangat terkejut.


"Tuan Besar.. Nona Muda.. selamat datang..


Kenapa anda tidak mengabari kami..!"


Sambut Bara dengan suara terbata serta napas


tersengal karena baru saja tiba. Tuan Hasimoto


menatap Bara dengan seringai kecil.


"Tidak perlu berlebihan Asisten..! Bawa aku


ke ruangan bos mu..!"


"Baik Tuan.. mari ikuti saya..!"


"Kita pakai jalur biasa saja..! aku ingin melihat


ruangan kerja para sekretaris..!"


Tuan Hasimoto dan Bara melongo mendengar


ucapan Kiran yang sedikit ketus. Tidak lama


kedua orang itu mengulum sedikit senyum


setelah memahami situasi.


"Baik Nona Muda.. sesuai keinginan anda..!"


Sahut Bara sambil kemudian membimbing


langkah Tuan Hasimoto dan Kiran. Zack yang


membawakan kotak makan siang mengawal


mereka di belakang, sedangkan para pengawal


kini hanya bisa mengantar sampai di sana saja.


Sementara itu di lantai teratas...


Tanisha baru saja kembali ke ruangan kerja


nya dengan membawa kotak makan siang


untuk Sang Presdir pujaan dengan wajah


yang berbinar bahagia. Para sekretaris lain


yang sedang istirahat sehabis makan siang


tampak menatap gerah kearah Tanisha yang


kini sengaja duduk dulu di kursi kerjanya


untuk merapihkan penampilannya.


"Huuh... Presdir kita keburu kelaparan kalau


begini.! apa dia tidak tahu kalau Tuan Agra


tidak pernah mentolerir keterlambatan..!"


Sindir salah seorang dengan menatap sinis


kearah Tanisha yang terlihat acuh saja.


"Dia kan orang baru, belum faham betul siapa


pimpinan kita, lihat saja nanti apa yang akan


terjadi..!"


Sahut yang satu lagi dengan menyebikkan


bibir merah apel nya.


"Terserah kalian mau bicara apa.! bisa jatuh


pasaran ku kalau melayani mulut usil kalian.!"


Ketus Tanisha sambil berdiri, merapihkan


atasnya agar terlihat lebih menggoda, para


sekretaris berdecak sebal sambil kembali


pada kegiatan semula, melakukan touch up


untuk riasan wajah nya.


"Anda terlalu percaya diri Nona Tanisha..!"


Geram salah satu sekretaris yang paling


senior di antara yang lain.Tanisha tersenyum


manis, kemudian meraih kotak makan tadi


lalu melirik pada barisan bawahnya.


"Aku memang pantas percaya diri..! tidak ada


pria yang pernah menolak pesonaku..!"


Ucapnya penuh percaya diri sambil melengoskan wajah dan mulai melangkah. Namun tidak lama


dia menghentikan langkahnya saat melihat para


bawahan nya itu serempak berdiri dengan wajah


yang terlihat tegang sekaligus terpukau kearah


pintu masuk ruangan dimana saat ini mereka


melihat kedatangan orang-orang penting yang


sedang berjalan tenang beriringan dengan aura


kehadiran yang mampu membuat lutut mereka


lemas dan bergetar.


"Nona Muda Hadiningrat..."


Desis salah seorang dengan pandangan yang


tidak lepas dari sosok cantik jelita yang kini


sedang berjalan anggun di kawal oleh para


pria gagah dan berwibawa..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....