
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Gedung Megah Bintang Group...
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi saat
Agra menghentikan mobil mewah nya tepat di
depan pintu utama gedung megah perusahaan
miliknya di ikuti oleh rombongan mobil lainnya.
Para security juga penjaga yang ada di sekitar
lobby langsung berlari kearah tangga menuju
ruangan, kemudian berbaris rapi menjadi dua
bagian di sisi kanan kiri tangga tersebut. Ada
sekitar 14 penjaga yang kini membungkuk
menyambut kedatangan sang pemimpin
tertinggi perusahaan raksasa tersebut.
Agra melirik kearah Kiran yang masih terdiam
melihat sambutan yang super ketat ini, apakah
memang begini keseharian suaminya.?
"Mulai sekarang..kau harus siap dengan semua
protokol seperti ini sayang. Kau adalah Nyonya
Agra Bintang.."
Ucap Agra seperti mengerti keheranan Kiran.
Dia mencondongkan tubuhnya, merapihkan
pakaian Kiran yang sedikit terbuka di bagian
atasnya. Kiran menatap wajah Agra seolah
menguatkan dirinya untuk melalui semua ini.
"Apakah aku pantas menjadi bagian semua
ini, aku bahkan tidak mengerti apa-apa..!"
Lirih Kiran pelan, Agra menatap lekat wajah
cantik istrinya itu. Dia tersenyum lembut,
tangannya bergerak mengelus lembut wajah
bercahaya istrinya itu.
"Kau sangat pantas istriku..kau adalah wanita
pilihanku, dan kau akan terbiasa dengan
semua ini.!"
Mata Kiran berkaca-kaca, hatinya bergetar hebat
saat mendengar Agra mengucapkan kata istriku..
Dia meraih tangan Agra, di genggamnya kuat,
Agra mendekat lalu mengecup lembut kening
Kiran sangat lama. Setelah itu mengelus bibir
merah alami yang sangat menggoda itu.Namun
di sini bukanlah tempat yang tepat baginya
untuk mencicipi manisnya bibir itu.
"Ayo kita turun..ini adalah kali pertama aku
datang bersama dengan seorang wanita, dan
kau harus bangga untuk itu..!"
Kiran mendelik kesal, sedang Agra tersenyum
tipis. Kiran menarik napas panjang mencoba
untuk menguasai dirinya.
"Tapi ingat..kau harus kuat dengan reaksi yang
nanti bisa saja terjadi..!"
"Apa maksudmu..?"
Kiran tampak menegang sedikit was-was.
"Apa mereka akan menghakimi ku..?"
Agra langsung terkekeh geli mendengar ucapan
absurb Kiran. Dia menatap wajah istrinya itu
dengan sorot mata gemas.
"Siapa yang akan berani menyentuh istrinya
Agra bintang..? berarti cari perkara dia..!"
Desis Agra sambil tak henti mengulum senyum.
Kiran berdecak sebal, dia memalingkan wajahnya. Agra membuka otomatis pintu mobilnya membuat semua orang serempak membungkuk dalam
termasuk Bara, Zack dan para pengawal pribadi
nya yang kini sudah berbaris di sekitar mobil.
Tidak lama Agra keluar duluan dari mobil
kemudian dengan santai dia berjalan memutar tubuhnya kearah jok samping. Para penjaga
yang dari tadi membungkuk tampak tidak bisa
lagi menahan rasa penasarannya saat melihat
Tuan mereka datang dengan penampilan yang
lain dari biasanya itu. Dengan ragu mereka
mencoba mencuri tatap untuk meyakinkan
diri bahwa sosok itu adalah benar pimpinan
mereka. Dan mata mereka kini malah di buat
bengong saat melihat Agra mengulurkan
tangannya kearah seseorang yang baru saja
turun dari mobilnya.
Kiran keluar dari mobil, Agra menggengam
tangannya, mata mereka kembali bersitatap
sebentar sampai Agra mengedip meyakinkan
Kiran. Para penjaga langsung membungkuk
kembali di tengah rasa terkejut nya. Tuan Agra
datang bersama seorang wanita ? dan wanita
ini bukanlah Nona Mikhayla yang sudah di gadang-gadang sebagai calon tunangan nya.!
"Selamat datang Tuan..selamat datang Nona..!"
Sambut mereka begitu Agra melangkah tenang
menaiki tangga bersama dengan Kiran, mereka
berdua tampak begitu serasi dan sepadan, ada
aura yang sangat berbeda yang keluar dari kedua
nya di saat saling bergandengan tangan seperti
ini. Semacam keselarasan dan keseimbangan
yang dapat membuat semua orang merasa
begitu silau saat memandang keduanya.
Mereka berdua melangkah bersama, di iringi
oleh Bara, Zack dan para pengawal pribadi.
Tiba di ruang lobby utama ternyata barisan
resepsionis cantik dan mempesona kini sudah
siap menyambutnya bersama puluhan pegawai
yang kebetulan berkantor di gedung bagian
depan ini. Lagi-lagi mereka juga bereaksi
sama seperti para penjaga tadi, hanya bisa
bengong tidak percaya dengan apa yang di
lihatnya. Siapa wanita yang datang bersama
Tuan Agra nya mereka.? Bara mulai terlihat
kesal dengan ulah para pegawai tersebut.
"Apa tugas kalian di sini hanya untuk bengong.?
Dimana etika kerja kalian..?!"
Suara Bara membuat semua resepsionis dan
para pegawai langsung tersadar dan memucat.
"Maafkan kami..selamat datang Tuan..selamat
datang Nona.."
Serempak mereka seraya membungkuk dan
terus mengulangnya beberapa kali. Kiran hanya
bisa terdiam bingung melihat reaksi mereka.
Agra tersenyum miring menyaksikan semua
reaksi ini. Dia kembali menggandeng Kiran,
kali ini Agra melingkarkan tangannya di
pinggang ramping Kiran posesif.
"Agra..aku mohon jangan berlebihan.! banyak
orang yang melihat kita saat ini..!"
"Memangnya kenapa.? tidak akan ada yang
berani protes ! lagipula tidak ada yang salah
dengan kita.!"
"Tapi mereka tidak tahu hubungan kita..!"
"Mereka akan segera tahu, kau tenang saja.!"
Kiran menghentikan langkahnya, menatap
Agra yang juga menatapnya.
"Aku sangat menginginkan mu saat ini.!"
Bisik Agra di telinga Kiran yang membuat
wajah Kiran memerah seluruhnya.
"Dasar tidak tahu tempat..!"
Desis Kiran seraya menundukkan kepala menahan
rasa malu yang saat ini sudah menenggelamkan
dirinya ke dasar bumi. Sedang Agra terlihat acuh
saja. Semua pegawai yang melihat rombongan mereka dari jauh pun sudah langsung mengambil posisi berdiri di sisi ruangan seraya membungkuk.
Akhirnya mereka tiba di ruangan khusus dimana terdapat privat lift. Keduanya masuk ke dalam
lift tersebut, sementara Bara dan Zack hanya
bertugas mengantar mereka sampai di ruangan
itu saja karena lift tersebut hanya bisa di gunakan
oleh Agra dan Eyang putri saja, sebab lift ini akan langsung terhubung dengan ruang kerja Agra
tanpa harus keluar melalui lorong biasa.
Tiba di dalam lift Agra langsung mengangkat
tubuh Kiran di sandarkan ke dinding, Kiran
yang terkejut dengan tindakan spontan Agra
tampak membulatkan matanya ketika Agra
tanpa aba-aba langsung melancarkan ciuman
panas dan memburu yang sangat memaksa.
Mau tidak mau akhirnya Kiran melayani dan
membalas serangan buas Agra karena dirinya
pun sesungguhnya sangat merindukan sentuhan
hangat dan lembut dari suaminya ini. Keduanya
hanyut dalam panasnya ciuman yang sangat
menggelora terdorong oleh hasrat dan gairah
yang dari tadi sudah tertahan. Kiran langsung
saja terlena oleh buaian kelembutan sentuhan
suaminya ini, hingga rasa kecewa yang semalam
di rasakannya seolah lenyap tak bersisa.
Tubuh Kiran tertahan di dinding, Agra semakin mengangkat nya karena aksi liarnya kini sudah
turun ke bagian bawah, ke bagian pavorite nya,
dua gunung kembar yang sangat menggoda.
Kancing baju Kiran di tarik paksa hingga kini
berhamburan ke lantai.
"Akhh..Agra..apa yang kau lakukan.? sudah
hentikan..kau merusak pakaianku..!"
"Biarkan saja sayang..."
"Apa kau gila..lalu bagaimana nanti..aaa..Agra.!"
Kiran memekik saat Agra tanpa ampun menarik
paksa pakaian bagian atasnya bersamaan dengan
pintu lift yang terbuka. Agra mengangkat tubuh
Kiran keluar dari dalam lift lalu melangkah kearah
kamar pribadinya langsung. Untuk sesaat Kiran
tampak bengong, takjub dengan pemandangan
luar biasa di depan matanya. Sebuah ruang kerja
yang sangat megah dan mewah dengan desain
yang menggambarkan kecerdasan dan kemampuan tingkat tinggi dari sang penghuni ruangan ini.
Kiran baru tersadar ketika mereka sudah ada
di dalam kamar yang sangat besar dan mewah
dengan segala fasilitas komplit di dalamnya.
Agra membaringkan tubuh Kiran di atas tempat
tidur dan langsung menindihnya membuat Kiran
tegang seketika saat melihat mata Agra sudah
di penuhi oleh kabut gairah. Tampaknya dia sudah tidak bisa mengendalikan hasratnya lagi.
"A-Agra..apa yang akan kau lakukan..?"
Kiran menatap tegang kearah Agra yang kini
mulai melucuti semua pakaiannya. Dia mencoba meronta dan menahan gerakan tangan Agra
yang semakin tidak sabar hingga tanpa ampun
dia merobek rok mini yang di pakainya membuat
Kiran kembali memekik seraya melebarkan
matanya, kesal bukan main.! mau memakai
apa dirinya nanti ke pertemuan.?
"Aku akan meminta jatahku tadi malam karena
kamu sudah menahan nya.!"
Wajah Kiran semakin memerah, dia beringsut
mundur seraya menarik selimut yang ada di
sana untuk menutupi tubuh polos nya. Tapi
Agra segera menarik nya hingga kini dia bisa
leluasa memandangi tubuh indah itu.
"Agra.. bukankah sebentar lagi kita akan ada
rapat, mereka pasti sudah menunggu mu..!"
Kiran mencoba mengelak, menatap Agra yang
kini mulai melucuti seluruh pakaian yang di gunakannya, kini dia pun sudah dalam keadaan
polos. Kiran memejamkan mata seraya menelan salivanya berat saat membayangkan bagaimana perkasa nya tubuh bagian bawah suaminya itu. Darahnya mulai mendidih, tubuhnya langsung
saja memanas.
"Aku adalah bos nya sayang.. biarkan saja
mereka menunggu kita.."
Bisik Agra parau sambil kemudian mulai
menindih tubuh Kiran, memberikan sentuhan
demi sentuhan yang membuat Kiran tidak
melenguh kuat.
"Emmhh.. aakhh..Agra..."
Kiran mencengkeram kuat punggung Agra
saat suaminya itu mulai melakukan penyatuan
tubuh mereka, masih terasa begitu sakit.
Namun tidak lama keduanya sudah larut dalam pergumulan panas, di penuhi oleh gelora
hasrat yang semakin lama semakin membara.
Ruangan kamar pribadi yang baru pertama
kali di datangi oleh Kiran tersebut kini dipenuhi
dengan desahan dan erangan kenikmatan
yang mampu menghanyutkan keduanya ke
dalam samudra kasih sayang dan cinta yang
semakin lama semakin mendalam.
****** ******
Kurang lebih satu jam setengah mereka larut
dalam pergumulan panas nya. Sebenarnya Agra
masih belum puas, namun mengingat waktu
rapat sudah dia lewatkan setengah jam, akhir
nya dia terpaksa mengakhiri kesenangan nya.
Saat ini Kiran sedang memasangkan dasi di
leher Agra. Dia juga sudah berganti pakaian
dengan yang ada di lemari di dalam kamar itu.
"Aku sudah menyiapkan semua ini dari jauh-
jauh hari, karena aku yakin saat-saat seperti
ini akhirnya akan tiba juga, persis hari ini..!"
Itulah yang terlontar dari mulut Agra saat Kiran
bengong terpaku di depan lemari yang berisi
gaun-gaun dan setelan cantik pas ukurannya.
Akhir nya dia memilih satu setelan semi formal
warna soft yang sangat cantik dan anggun,
terlihat cocok saat melekat di tubuhnya.
Mata Kiran tampak terkesima melihat tampilan
Agra dalam balutan setelan resminya. Suami
nya itu terlihat sangat gagah dan menawan.
Ada perasaan tidak rela dalam hatinya di saat
dia menyadari ada banyak wanita di luar sana
yang akan turut menikmati pesona ketampanan suaminya itu.
Kiran menepuk halus bagian atas jas Agra
sebagai tanda bahwa dia sudah siap. Agra
menegakkan badannya, menatap wajah cantik
istrinya itu yang terlihat sedikit murung.
"Ada apa sayang.? apa ada yang menggangu
hatimu.?"
Agra mengangkat dagu Kiran memaksa mata
mereka untuk bertemu. Kiran menatap tajam
wajah Agra penuh keraguan.
"Apa kau bisa menurunkan kadar ketampanan
mu sedikit saja.? aku..aku tidak rela wajahmu
di nikmati wanita lain..!"
Agra bengong, terhenyak dalam diam. Namun
sesaat kemudian senyum lebar terukir di bibir
nya. Dengan cepat dia meraih tubuh Kiran ke
dalam rengkuhan nya, memeluknya erat.
"Apa kamu baru menyadari kalau dirimu
sangat takut kehilanganku.?"
Bisik Agra dengan senyum puas di bibirnya.
Kiran balik memeluk erat tubuh suaminya itu.
"Kamu terlalu tampan sayang..kamu juga
terlalu berharga.! bagaimana aku akan bisa
mempertahankan mu di sisiku..!"
Agra memejamkan matanya, kebahagiaan kini
seakan membuncah di dadanya.
"Kamu harus percaya padaku sayang..kau
adalah hal terindah dan sangat berharga yang
telah Tuhan beri untukku..!"
"Tapi Agra..aku masih merasa bahwa semua ini
hanyalah fatamorgana saja..! aku takut semua
ini akan berakhir suatu saat nanti..!"
"Sstttt..! jangan bicara lagi. Ucapan adalah doa.
Bukankah kau sangat percaya pada kebesaran
Tuhan..? percaya padaNya..dan percayalah
padaku..!"
Kiran terdiam, pelukannya semakin erat. Dia
menyusupkan wajahnya di dada bidang Agra.
"Aku mencintaimu suamiku..pengawalku..!"
Keduanya tersenyum, sekejap kemudian Agra
sudah ******* kuat bibir Kiran, keduanya
lagi-lagi terhanyut dalam buaian kelembutan
dan rasa manis dari ciuman yang penuh
dengan kemesraan dan saling memuja .
Sementara itu di ruang rapat besar yang ada
di lantai 25, suasana nya saat ini sudah mulai
riuh rendah oleh perbincangan para pimpinan
perusahaan yang hari ini di pastikan hadir
semuanya. Mereka sudah menempati kursi
masing-masing . Posisi nya melingkar dengan
jarak yang cukup jauh mengingat banyak nya
perusahaan yang tergabung di Bintang Group.
Di tengah-tengah meja bundar ada semacam
teknologi taman buatan yang tampak seperti
sebuah oase..membuat suasana begitu sejuk
dan nyaman, bikin betah berlama-lama berada
di tempat rapat tersebut. Sehingga walaupun
Sang Presdir sudah terlambat satu jam dari
jadwal yang sudah tertera namun tidak ada
satu pun dari mereka yang merasa keberatan.
Ruangan para sekretaris dan asisten pribadi
berada di sebelah nya yang hanya terhalang
dinding kaca tembus pandang namun kedap
suara. Sungguh ruangan pertemuan ini benar
benar mengedepankan konsep yang sangat
menjamin kenyamanan para pengguna nya .
Lia tampak sudah sangat resah menyadari
bos cantik nya belum juga tiba di tempat itu.
Saat ini hanya tinggal dua kursi di ruang rapat
tersebut yang belum terisi, dan itu berdekatan.
Kursi Presdir serta kursi sebelah kanannya.
"Apa Presdir masih ada di luar atau sedang
di perjalanan Tuan Erik..?"
Salah seorang Dirut mencoba bertanya pada
Erik yang baru saja selesai menyiapkan berkas
dan di simpan di depan meja Presdir.
"Beliau sudah menuju kesini sekarang. Mohon
bersiap saja untuk menyambutnya.."
Jawab Erik sambil berdiri tegak di samping kiri
tempat duduk Agra. Baru saja dia selesai bicara
suasana tiba-tiba gaduh di pintu masuk dimana
saat ini para sekretaris sedang membungkuk
dalam menyambut kemunculan Agra yang
datang menggandeng Kiran. Walau Kiran
mencoba untuk menolak tapi Agra malah
menatapnya penuh intimidasi.
Lia tampak bengong, melongo..tidak percaya
dengan apa yang kini di lihatnya. Bagaimana
bisa rupa Presdir Bintang Group sangat mirip
dengan asisten pribadi Nona Kiran ? ataukah
memang dia orang yang sama ? Kiran menatap
Lia memberi kode untuk tetap tenang.
Bukan hanya Lia yang bengong para sekretaris
lain pun sama terkejutnya melihat Tuan Agra
datang dengan menggandeng seorang wanita.
Dan wanita itu sangatlah cantik..! Agra masuk
ke dalam ruangan pertemuan tanpa melepas
genggaman tangan nya.
"Selamat datang Presdir..."
Sambut mereka serempak seraya membungkuk
dalam, namun sesaat kemudian setelah Agra
mengangkat tangannya mereka tampak terpaku
di tempat, melihat kearah keberadaan Kiran di
samping sang Presdir. Mereka memang sudah
mengenal Kiran sebagai putri dari Zein Mahesa,
rekanan baru di Bintang Group. Namun yang
membuat mereka bengong adalah karena Kiran
datang bersama dengan Agra , bahkan bukan
itu saja, genggaman tangan Agra tampak kuat
dan tidak terlepas.
"Selamat siang semuanya..selamat datang
pada acara rapat koordinasi ini. Mohon maaf
karena saya terlambat datang..dan terimakasih
karena kalian telah hadir di acara ini.!"
Agra membuka pertemuan nya. Kiran masih
berdiri di samping nya, lalu Bara dan Erik ada
di belakang mereka berdua.
"Sebelum kita memulai rapat ini. Ada satu hal
yang sangat penting ingin saya sampaikan di
sini..! tentang wanita yang ada di sebelahku ini.
Kalian tentu sudah mengenal nya bukan.?".
Agra menjeda ucapannya. Para peserta rapat
tampak saling pandang sedikit bingung.
"Ya..dia saat ini memegang jabatan sementara
di perusahaan ZM Company karena ayahnya
sedang kurang sehat.. namun ada hal lain
yang akan saya jelaskan..!"
Agra melirik kearah Kiran yang juga meliriknya
dengan tatapan penuh tanda tanya, apa gerangan
yang akan di sampaikan oleh suaminya itu ?
"Perlu kalian ketahui bahwa Nona Evanindhia Sashikirana ini.. adalah istriku..! "
Para tamu tampak terkejut setengah mati.
Mereka bengong di tempat dengan tatapan
tidak percaya.
"Istri Tuan Agra...?"
Ada beberapa orang yang berdesis mencoba
untuk mencari keyakinan. Bukan hanya mereka
yang terkejut, Kiran pun sama terkejutnya. Dia
menatap Agra tidak percaya kalau suaminya
itu akan mengumumkan hubungan mereka
pada acara pertemuan resmi seperti ini. Agra
mengedip pelan meyakinkan Kiran.
"Kami menikah kurang lebih satu bulan yang
lalu. Dan aku pastikan kalian semua akan
menjadi tamu penting pada pesta pernikahan
kami nanti..!"
Tegas Agra. Para tamu kini menunduk, setelah
yakin bahwa semua ini bukanlah intermezo
semata. Para direktris langsung saja mencuri
pandang kearah Kiran, ya.. harus mereka akui
wanita pilihan Tuan mereka memang sangat
cantik dengan daya tariknya yang luar biasa.
Dan kecantikannya itu bukanlah main-main.
Kecantikan alami yang sangat mempesona.
Akhirnya rapat berskala besar itu pun kini
berlangsung walau sebagian dari para tamu
tersebut masih berusaha meyakinkan diri atas
kabar mengejutkan yang baru saja di ungkap
pemimpin tertinggi mereka hingga banyak di
antaranya mencoba mencuri pandang kearah
Kiran yang kini tengah duduk dengan tenang
dan anggun penuh percaya diri. Saat ini Kiran
sedang terpesona pada sosok suaminya yang
sedang berbicara dengan tegas penuh wibawa
memimpin pertemuan penting ini..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC......