Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
46. Pengumuman


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Gedung Megah Bintang Group...


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi saat


Agra menghentikan mobil mewah nya tepat di


depan pintu utama gedung megah perusahaan


miliknya di ikuti oleh rombongan mobil lainnya.


Para security juga penjaga yang ada di sekitar


lobby langsung berlari kearah tangga menuju


ruangan, kemudian berbaris rapi menjadi dua


bagian di sisi kanan kiri tangga tersebut. Ada


sekitar 14 penjaga yang kini membungkuk


menyambut kedatangan sang pemimpin


tertinggi perusahaan raksasa tersebut.


Agra melirik kearah Kiran yang masih terdiam


melihat sambutan yang super ketat ini, apakah


memang begini keseharian suaminya.?


"Mulai sekarang..kau harus siap dengan semua


protokol seperti ini sayang. Kau adalah Nyonya


Agra Bintang.."


Ucap Agra seperti mengerti keheranan Kiran.


Dia mencondongkan tubuhnya, merapihkan


pakaian Kiran yang sedikit terbuka di bagian


atasnya. Kiran menatap wajah Agra seolah


menguatkan dirinya untuk melalui semua ini.


"Apakah aku pantas menjadi bagian semua


ini, aku bahkan tidak mengerti apa-apa..!"


Lirih Kiran pelan, Agra menatap lekat wajah


cantik istrinya itu. Dia tersenyum lembut,


tangannya bergerak mengelus lembut wajah


bercahaya istrinya itu.


"Kau sangat pantas istriku..kau adalah wanita


pilihanku, dan kau akan terbiasa dengan


semua ini.!"


Mata Kiran berkaca-kaca, hatinya bergetar hebat


saat mendengar Agra mengucapkan kata istriku..


Dia meraih tangan Agra, di genggamnya kuat,


Agra mendekat lalu mengecup lembut kening


Kiran sangat lama. Setelah itu mengelus bibir


merah alami yang sangat menggoda itu.Namun


di sini bukanlah tempat yang tepat baginya


untuk mencicipi manisnya bibir itu.


"Ayo kita turun..ini adalah kali pertama aku


datang bersama dengan seorang wanita, dan


kau harus bangga untuk itu..!"


Kiran mendelik kesal, sedang Agra tersenyum


tipis. Kiran menarik napas panjang mencoba


untuk menguasai dirinya.


"Tapi ingat..kau harus kuat dengan reaksi yang


nanti bisa saja terjadi..!"


"Apa maksudmu..?"


Kiran tampak menegang sedikit was-was.


"Apa mereka akan menghakimi ku..?"


Agra langsung terkekeh geli mendengar ucapan


absurb Kiran. Dia menatap wajah istrinya itu


dengan sorot mata gemas.


"Siapa yang akan berani menyentuh istrinya


Agra bintang..? berarti cari perkara dia..!"


Desis Agra sambil tak henti mengulum senyum.


Kiran berdecak sebal, dia memalingkan wajahnya. Agra membuka otomatis pintu mobilnya membuat semua orang serempak membungkuk dalam


termasuk Bara, Zack dan para pengawal pribadi


nya yang kini sudah berbaris di sekitar mobil.


Tidak lama Agra keluar duluan dari mobil


kemudian dengan santai dia berjalan memutar tubuhnya kearah jok samping. Para penjaga


yang dari tadi membungkuk tampak tidak bisa


lagi menahan rasa penasarannya saat melihat


Tuan mereka datang dengan penampilan yang


lain dari biasanya itu. Dengan ragu mereka


mencoba mencuri tatap untuk meyakinkan


diri bahwa sosok itu adalah benar pimpinan


mereka. Dan mata mereka kini malah di buat


bengong saat melihat Agra mengulurkan


tangannya kearah seseorang yang baru saja


turun dari mobilnya.


Kiran keluar dari mobil, Agra menggengam


tangannya, mata mereka kembali bersitatap


sebentar sampai Agra mengedip meyakinkan


Kiran. Para penjaga langsung membungkuk


kembali di tengah rasa terkejut nya. Tuan Agra


datang bersama seorang wanita ? dan wanita


ini bukanlah Nona Mikhayla yang sudah di gadang-gadang sebagai calon tunangan nya.!


"Selamat datang Tuan..selamat datang Nona..!"


Sambut mereka begitu Agra melangkah tenang


menaiki tangga bersama dengan Kiran, mereka


berdua tampak begitu serasi dan sepadan, ada


aura yang sangat berbeda yang keluar dari kedua


nya di saat saling bergandengan tangan seperti


ini. Semacam keselarasan dan keseimbangan


yang dapat membuat semua orang merasa


begitu silau saat memandang keduanya.


Mereka berdua melangkah bersama, di iringi


oleh Bara, Zack dan para pengawal pribadi.


Tiba di ruang lobby utama ternyata barisan


resepsionis cantik dan mempesona kini sudah


siap menyambutnya bersama puluhan pegawai


yang kebetulan berkantor di gedung bagian


depan ini. Lagi-lagi mereka juga bereaksi


sama seperti para penjaga tadi, hanya bisa


bengong tidak percaya dengan apa yang di


lihatnya. Siapa wanita yang datang bersama


Tuan Agra nya mereka.? Bara mulai terlihat


kesal dengan ulah para pegawai tersebut.


"Apa tugas kalian di sini hanya untuk bengong.?


Dimana etika kerja kalian..?!"


Suara Bara membuat semua resepsionis dan


para pegawai langsung tersadar dan memucat.


"Maafkan kami..selamat datang Tuan..selamat


datang Nona.."


Serempak mereka seraya membungkuk dan


terus mengulangnya beberapa kali. Kiran hanya


bisa terdiam bingung melihat reaksi mereka.


Agra tersenyum miring menyaksikan semua


reaksi ini. Dia kembali menggandeng Kiran,


kali ini Agra melingkarkan tangannya di


pinggang ramping Kiran posesif.


"Agra..aku mohon jangan berlebihan.! banyak


orang yang melihat kita saat ini..!"


"Memangnya kenapa.? tidak akan ada yang


berani protes ! lagipula tidak ada yang salah


dengan kita.!"


"Tapi mereka tidak tahu hubungan kita..!"


"Mereka akan segera tahu, kau tenang saja.!"


Kiran menghentikan langkahnya, menatap


Agra yang juga menatapnya.


"Aku sangat menginginkan mu saat ini.!"


Bisik Agra di telinga Kiran yang membuat


wajah Kiran memerah seluruhnya.


"Dasar tidak tahu tempat..!"


Desis Kiran seraya menundukkan kepala menahan


rasa malu yang saat ini sudah menenggelamkan


dirinya ke dasar bumi. Sedang Agra terlihat acuh


saja. Semua pegawai yang melihat rombongan mereka dari jauh pun sudah langsung mengambil posisi berdiri di sisi ruangan seraya membungkuk.


Akhirnya mereka tiba di ruangan khusus dimana terdapat privat lift. Keduanya masuk ke dalam


lift tersebut, sementara Bara dan Zack hanya


bertugas mengantar mereka sampai di ruangan


itu saja karena lift tersebut hanya bisa di gunakan


oleh Agra dan Eyang putri saja, sebab lift ini akan langsung terhubung dengan ruang kerja Agra


tanpa harus keluar melalui lorong biasa.


Tiba di dalam lift Agra langsung mengangkat


tubuh Kiran di sandarkan ke dinding, Kiran


yang terkejut dengan tindakan spontan Agra


tampak membulatkan matanya ketika Agra


tanpa aba-aba langsung melancarkan ciuman


panas dan memburu yang sangat memaksa.


Mau tidak mau akhirnya Kiran melayani dan


membalas serangan buas Agra karena dirinya


pun sesungguhnya sangat merindukan sentuhan


hangat dan lembut dari suaminya ini. Keduanya


hanyut dalam panasnya ciuman yang sangat


menggelora terdorong oleh hasrat dan gairah


yang dari tadi sudah tertahan. Kiran langsung


saja terlena oleh buaian kelembutan sentuhan


suaminya ini, hingga rasa kecewa yang semalam


di rasakannya seolah lenyap tak bersisa.


Tubuh Kiran tertahan di dinding, Agra semakin mengangkat nya karena aksi liarnya kini sudah


turun ke bagian bawah, ke bagian pavorite nya,


dua gunung kembar yang sangat menggoda.


Kancing baju Kiran di tarik paksa hingga kini


berhamburan ke lantai.


"Akhh..Agra..apa yang kau lakukan.? sudah


hentikan..kau merusak pakaianku..!"


"Biarkan saja sayang..."


"Apa kau gila..lalu bagaimana nanti..aaa..Agra.!"


Kiran memekik saat Agra tanpa ampun menarik


paksa pakaian bagian atasnya bersamaan dengan


pintu lift yang terbuka. Agra mengangkat tubuh


Kiran keluar dari dalam lift lalu melangkah kearah


kamar pribadinya langsung. Untuk sesaat Kiran


tampak bengong, takjub dengan pemandangan


luar biasa di depan matanya. Sebuah ruang kerja


yang sangat megah dan mewah dengan desain


yang menggambarkan kecerdasan dan kemampuan tingkat tinggi dari sang penghuni ruangan ini.


Kiran baru tersadar ketika mereka sudah ada


di dalam kamar yang sangat besar dan mewah


dengan segala fasilitas komplit di dalamnya.


Agra membaringkan tubuh Kiran di atas tempat


tidur dan langsung menindihnya membuat Kiran


tegang seketika saat melihat mata Agra sudah


di penuhi oleh kabut gairah. Tampaknya dia sudah tidak bisa mengendalikan hasratnya lagi.


"A-Agra..apa yang akan kau lakukan..?"


Kiran menatap tegang kearah Agra yang kini


mulai melucuti semua pakaiannya. Dia mencoba meronta dan menahan gerakan tangan Agra


yang semakin tidak sabar hingga tanpa ampun


dia merobek rok mini yang di pakainya membuat


Kiran kembali memekik seraya melebarkan


matanya, kesal bukan main.! mau memakai


apa dirinya nanti ke pertemuan.?


"Aku akan meminta jatahku tadi malam karena


kamu sudah menahan nya.!"


Wajah Kiran semakin memerah, dia beringsut


mundur seraya menarik selimut yang ada di


sana untuk menutupi tubuh polos nya. Tapi


Agra segera menarik nya hingga kini dia bisa


leluasa memandangi tubuh indah itu.


"Agra.. bukankah sebentar lagi kita akan ada


rapat, mereka pasti sudah menunggu mu..!"


Kiran mencoba mengelak, menatap Agra yang


kini mulai melucuti seluruh pakaian yang di gunakannya, kini dia pun sudah dalam keadaan


polos. Kiran memejamkan mata seraya menelan salivanya berat saat membayangkan bagaimana perkasa nya tubuh bagian bawah suaminya itu. Darahnya mulai mendidih, tubuhnya langsung


saja memanas.


"Aku adalah bos nya sayang.. biarkan saja


mereka menunggu kita.."


Bisik Agra parau sambil kemudian mulai


menindih tubuh Kiran, memberikan sentuhan


demi sentuhan yang membuat Kiran tidak


melenguh kuat.


"Emmhh.. aakhh..Agra..."


Kiran mencengkeram kuat punggung Agra


saat suaminya itu mulai melakukan penyatuan


tubuh mereka, masih terasa begitu sakit.


Namun tidak lama keduanya sudah larut dalam pergumulan panas, di penuhi oleh gelora


hasrat yang semakin lama semakin membara.


Ruangan kamar pribadi yang baru pertama


kali di datangi oleh Kiran tersebut kini dipenuhi


dengan desahan dan erangan kenikmatan


yang mampu menghanyutkan keduanya ke


dalam samudra kasih sayang dan cinta yang


semakin lama semakin mendalam.


****** ******


Kurang lebih satu jam setengah mereka larut


dalam pergumulan panas nya. Sebenarnya Agra


masih belum puas, namun mengingat waktu


rapat sudah dia lewatkan setengah jam, akhir


nya dia terpaksa mengakhiri kesenangan nya.


Saat ini Kiran sedang memasangkan dasi di


leher Agra. Dia juga sudah berganti pakaian


dengan yang ada di lemari di dalam kamar itu.


"Aku sudah menyiapkan semua ini dari jauh-


jauh hari, karena aku yakin saat-saat seperti


ini akhirnya akan tiba juga, persis hari ini..!"


Itulah yang terlontar dari mulut Agra saat Kiran


bengong terpaku di depan lemari yang berisi


gaun-gaun dan setelan cantik pas ukurannya.


Akhir nya dia memilih satu setelan semi formal


warna soft yang sangat cantik dan anggun,


terlihat cocok saat melekat di tubuhnya.


Mata Kiran tampak terkesima melihat tampilan


Agra dalam balutan setelan resminya. Suami


nya itu terlihat sangat gagah dan menawan.


Ada perasaan tidak rela dalam hatinya di saat


dia menyadari ada banyak wanita di luar sana


yang akan turut menikmati pesona ketampanan suaminya itu.


Kiran menepuk halus bagian atas jas Agra


sebagai tanda bahwa dia sudah siap. Agra


menegakkan badannya, menatap wajah cantik


istrinya itu yang terlihat sedikit murung.


"Ada apa sayang.? apa ada yang menggangu


hatimu.?"


Agra mengangkat dagu Kiran memaksa mata


mereka untuk bertemu. Kiran menatap tajam


wajah Agra penuh keraguan.


"Apa kau bisa menurunkan kadar ketampanan


mu sedikit saja.? aku..aku tidak rela wajahmu


di nikmati wanita lain..!"


Agra bengong, terhenyak dalam diam. Namun


sesaat kemudian senyum lebar terukir di bibir


nya. Dengan cepat dia meraih tubuh Kiran ke


dalam rengkuhan nya, memeluknya erat.


"Apa kamu baru menyadari kalau dirimu


sangat takut kehilanganku.?"


Bisik Agra dengan senyum puas di bibirnya.


Kiran balik memeluk erat tubuh suaminya itu.


"Kamu terlalu tampan sayang..kamu juga


terlalu berharga.! bagaimana aku akan bisa


mempertahankan mu di sisiku..!"


Agra memejamkan matanya, kebahagiaan kini


seakan membuncah di dadanya.


"Kamu harus percaya padaku sayang..kau


adalah hal terindah dan sangat berharga yang


telah Tuhan beri untukku..!"


"Tapi Agra..aku masih merasa bahwa semua ini


hanyalah fatamorgana saja..! aku takut semua


ini akan berakhir suatu saat nanti..!"


"Sstttt..! jangan bicara lagi. Ucapan adalah doa.


Bukankah kau sangat percaya pada kebesaran


Tuhan..? percaya padaNya..dan percayalah


padaku..!"


Kiran terdiam, pelukannya semakin erat. Dia


menyusupkan wajahnya di dada bidang Agra.


"Aku mencintaimu suamiku..pengawalku..!"


Keduanya tersenyum, sekejap kemudian Agra


sudah ******* kuat bibir Kiran, keduanya


lagi-lagi terhanyut dalam buaian kelembutan


dan rasa manis dari ciuman yang penuh


dengan kemesraan dan saling memuja .


Sementara itu di ruang rapat besar yang ada


di lantai 25, suasana nya saat ini sudah mulai


riuh rendah oleh perbincangan para pimpinan


perusahaan yang hari ini di pastikan hadir


semuanya. Mereka sudah menempati kursi


masing-masing . Posisi nya melingkar dengan


jarak yang cukup jauh mengingat banyak nya


perusahaan yang tergabung di Bintang Group.


Di tengah-tengah meja bundar ada semacam


teknologi taman buatan yang tampak seperti


sebuah oase..membuat suasana begitu sejuk


dan nyaman, bikin betah berlama-lama berada


di tempat rapat tersebut. Sehingga walaupun


Sang Presdir sudah terlambat satu jam dari


jadwal yang sudah tertera namun tidak ada


satu pun dari mereka yang merasa keberatan.


Ruangan para sekretaris dan asisten pribadi


berada di sebelah nya yang hanya terhalang


dinding kaca tembus pandang namun kedap


suara. Sungguh ruangan pertemuan ini benar


benar mengedepankan konsep yang sangat


menjamin kenyamanan para pengguna nya .


Lia tampak sudah sangat resah menyadari


bos cantik nya belum juga tiba di tempat itu.


Saat ini hanya tinggal dua kursi di ruang rapat


tersebut yang belum terisi, dan itu berdekatan.


Kursi Presdir serta kursi sebelah kanannya.


"Apa Presdir masih ada di luar atau sedang


di perjalanan Tuan Erik..?"


Salah seorang Dirut mencoba bertanya pada


Erik yang baru saja selesai menyiapkan berkas


dan di simpan di depan meja Presdir.


"Beliau sudah menuju kesini sekarang. Mohon


bersiap saja untuk menyambutnya.."


Jawab Erik sambil berdiri tegak di samping kiri


tempat duduk Agra. Baru saja dia selesai bicara


suasana tiba-tiba gaduh di pintu masuk dimana


saat ini para sekretaris sedang membungkuk


dalam menyambut kemunculan Agra yang


datang menggandeng Kiran. Walau Kiran


mencoba untuk menolak tapi Agra malah


menatapnya penuh intimidasi.


Lia tampak bengong, melongo..tidak percaya


dengan apa yang kini di lihatnya. Bagaimana


bisa rupa Presdir Bintang Group sangat mirip


dengan asisten pribadi Nona Kiran ? ataukah


memang dia orang yang sama ? Kiran menatap


Lia memberi kode untuk tetap tenang.


Bukan hanya Lia yang bengong para sekretaris


lain pun sama terkejutnya melihat Tuan Agra


datang dengan menggandeng seorang wanita.


Dan wanita itu sangatlah cantik..! Agra masuk


ke dalam ruangan pertemuan tanpa melepas


genggaman tangan nya.


"Selamat datang Presdir..."


Sambut mereka serempak seraya membungkuk


dalam, namun sesaat kemudian setelah Agra


mengangkat tangannya mereka tampak terpaku


di tempat, melihat kearah keberadaan Kiran di


samping sang Presdir. Mereka memang sudah


mengenal Kiran sebagai putri dari Zein Mahesa,


rekanan baru di Bintang Group. Namun yang


membuat mereka bengong adalah karena Kiran


datang bersama dengan Agra , bahkan bukan


itu saja, genggaman tangan Agra tampak kuat


dan tidak terlepas.


"Selamat siang semuanya..selamat datang


pada acara rapat koordinasi ini. Mohon maaf


karena saya terlambat datang..dan terimakasih


karena kalian telah hadir di acara ini.!"


Agra membuka pertemuan nya. Kiran masih


berdiri di samping nya, lalu Bara dan Erik ada


di belakang mereka berdua.


"Sebelum kita memulai rapat ini. Ada satu hal


yang sangat penting ingin saya sampaikan di


sini..! tentang wanita yang ada di sebelahku ini.


Kalian tentu sudah mengenal nya bukan.?".


Agra menjeda ucapannya. Para peserta rapat


tampak saling pandang sedikit bingung.


"Ya..dia saat ini memegang jabatan sementara


di perusahaan ZM Company karena ayahnya


sedang kurang sehat.. namun ada hal lain


yang akan saya jelaskan..!"


Agra melirik kearah Kiran yang juga meliriknya


dengan tatapan penuh tanda tanya, apa gerangan


yang akan di sampaikan oleh suaminya itu ?


"Perlu kalian ketahui bahwa Nona Evanindhia Sashikirana ini.. adalah istriku..! "


Para tamu tampak terkejut setengah mati.


Mereka bengong di tempat dengan tatapan


tidak percaya.


"Istri Tuan Agra...?"


Ada beberapa orang yang berdesis mencoba


untuk mencari keyakinan. Bukan hanya mereka


yang terkejut, Kiran pun sama terkejutnya. Dia


menatap Agra tidak percaya kalau suaminya


itu akan mengumumkan hubungan mereka


pada acara pertemuan resmi seperti ini. Agra


mengedip pelan meyakinkan Kiran.


"Kami menikah kurang lebih satu bulan yang


lalu. Dan aku pastikan kalian semua akan


menjadi tamu penting pada pesta pernikahan


kami nanti..!"


Tegas Agra. Para tamu kini menunduk, setelah


yakin bahwa semua ini bukanlah intermezo


semata. Para direktris langsung saja mencuri


pandang kearah Kiran, ya.. harus mereka akui


wanita pilihan Tuan mereka memang sangat


cantik dengan daya tariknya yang luar biasa.


Dan kecantikannya itu bukanlah main-main.


Kecantikan alami yang sangat mempesona.


Akhirnya rapat berskala besar itu pun kini


berlangsung walau sebagian dari para tamu


tersebut masih berusaha meyakinkan diri atas


kabar mengejutkan yang baru saja di ungkap


pemimpin tertinggi mereka hingga banyak di


antaranya mencoba mencuri pandang kearah


Kiran yang kini tengah duduk dengan tenang


dan anggun penuh percaya diri. Saat ini Kiran


sedang terpesona pada sosok suaminya yang


sedang berbicara dengan tegas penuh wibawa


memimpin pertemuan penting ini..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC......