
*************
Tamu tersebut yang ternyata adalah Mikhayla
tampak langsung masuk setelah di sambut
oleh manager butik di ikuti oleh beberapa
pengunjung yang terlihat memintanya untuk
berfhoto bersama. Dengan sabar dan ramah
icon kecantikan itu melayani mereka yang
rata-rata adalah para wanita sosialita kelas
atas, bukanlah sembarang pengunjung.
Setelah memastikan Mikhayla tidak terlihat
lagi Nyonya Ambar mengajak Kiran keluar
dari mobil di sambut hormat oleh pemilik butik
yang buru-buru turun dari kantornya begitu
mendapat kabar bahwa tamu kehormatan
nya sudah ada di loby. Asisten pribadi Nyonya
Ambar sudah berkoordinasi terlebih dahulu
dengan pihak butik soal kunjungan Nyonya
Besarnya itu ke butik ini.
"Selamat datang Nyonya Besar..senang sekali
anda berkunjung kemari.."
Sambut pemilik butik tersebut, seorang pria
lemah gemulai dengan rupa dan penampilan
mendekati sempurna sebagai jelmaan wanita.
Dia membungkuk hormat dengan gaya yang
sangat luwes dan anggun. Senyumnya tampak
terkembang dengan sempurna. Nyonya Ambar
keluar dari mobil di ikuti oleh Kiran dari pintu
sebelahnya. Pemilik butik tersebut tampak
terdiam terpaku di tempat melihat kemunculan
Kiran yang langsung membantu Nyonya Ambar
untuk melangkah ke dalam loby.
"Hei.. Michelle..apa kau akan diam saja di situ.?"
Tegur Nyonya Ambar pada sang pemilik butik
yang masih terkesima melihat kearah Kiran.
Wanita jadi-jadian itu terlihat tersipu malu.
"Maaf Nyonya Besar..saya terkesima dengan
bidadari yang anda bawa hee..!"
Wanita itu atau Michelle melirik genit kearah
Kiran yang tampak tersenyum dengan wajah
yang bersemu merah.
"Jaga matamu itu, dia adalah cucuku..!"
"What..? cucu darimana datangnya..?"
Michelle sontak saja memekik manja sambil
mengerlingkan matanya. Kiran tidak kalah
terkejutnya mendengar ucapan Nyonya Ambar.
Wanita tua itu terkekeh pelan sambil menekan
tongkat nya ke lantai .
"Cucu ketemu gede..!"
Kilahnya dengan senyum miring. Kiran tertegun
sendiri, tidak percaya ternyata wanita tua kaku
ini bisa bersikap cair juga. Ataukah memang
aslinya seperti itu.? ahh entahlah..!
"Ohh.. begitu ya..natural banget sih cantiknya.
Kasih ke aku bisa gak Nyobes.?"
Goda Michelle seraya menggandeng tangan
Nyonya Ambar dengan gaya yang sangat manja.
"Bukankah selera mu sudah berubah sekarang?
Kau bahkan sangat tergila-gila pada cucu ku.!
Wajah Michelle langsung saja bersemu merah
sambil tersenyum malu-malu.
"Kalau cucumu jangan di tanya lagi , siapa
yang tidak tergila-gila pada pria macho seperti
nya, laki-laki pun banyak yang suka padanya
apalagi perempuan seperti aku.."
Nyonya Ambar kembali terkekeh geli dengan
omongan Michelle. Sementara Kiran hanya
terdiam tidak mengerti arah pembicaraan
mereka berdua.
"Sudah..! ayo antar kita ke ruangan nya.!"
Nyonya Ambar menarik tangan Kiran berjalan
masuk ke dalam bangunan di ikuti oleh wanita
pemilik butik tadi yang masih saja mencuri
pandang kearah Kiran. Michelle langsung
membawa Nyonya Ambar menuju ruangan
pribadi di lantai atas. Yang kebetulan sekali
satu lantai dengan ruangan Mikhayla, hanya
berbeda ruangan saja.
"Carikan gaun pesta yang tepat untuknya.!
Sekalian sama gaun malam paling eksklusif
yang kau punya.!"
Titah Nyonya Ambar setelah dia duduk dengan
tenang di sofa yang ada di ruangan itu. Kiran
tampak langsung terkejut, melihat kearah
Nyonya Ambar.
"Eyang..maaf..apa maksud eyang mencari
gaun untuk saya, untuk apa.?"
Nyonya Ambar hanya melirik sekilas kearah
Kiran, sedang Michelle masih mencerna apa
yang di titahkan oleh pelanggan elite nya itu.
"Bukankah besok kamu harus menghadiri
pesta ulang tahun perusahaan cucuku.?"
Deg !
Kiran membeku di tempat. Wajahnya berubah
sedikit pias. Ya..itu benar ! tapi kenapa nenek
tua ini harus repot-repot mencarikan gaun
untuknya segala.?
"Itu benar Eyang..tapi saya sudah punya di
rumah, tidak perlu membelinya lagi. Jadi
Saya pikir Eyang tidak perlu repot begini !"
"Nona Mahesa..! sudah ku bilang aku tidak
suka di bantah.!"
Kiran menundukkan kepalanya dalam. Michelle
hanya bisa bengong melihat perdebatan yang
terjadi itu, Hei.. siapa sebenarnya wanita ini.?
Bathin Michelle sambil menautkan alisnya.
"Baiklah kalau itu maunya Eyang.."
Lirih Kiran akhirnya pasrah. Nyonya Ambar
berpaling pada Michelle yang langsung faham
dia mengangguk kemudian berlalu keluar dari
ruangan. Kiran tampak gelisah, dia meremas
jemarinya yang bertautan. Sebenarnya apa
yang di inginkan oleh Nyonya besar ini.?
Kenapa dia tiba-tiba bersikap aneh seperti ini. !
Asisten pribadi Nyonya Ambar masuk ke dalam
ruangan langsung menghampiri majikan nya
lalu berbicara dengan suara rendah. Wajah
Nyonya Ambar terlihat berubah dingin sambil menekan tongkatnya ke lantai.
"Biarkan dia masuk !"
"Baik Nyonya.."
Asisten tadi langsung membungkuk setelah
itu dia berlalu pergi ke luar ruangan. Nyonya
Ambar melirik sekilas kearah Kiran yang
duduk dengan gelisah, nenek tua itu kembali
tersenyum miring melihat reaksi Kiran.
Tidak lama ke dalam ruangan muncul Mikhayla
dengan senyum yang sangat merekah. Dia
berjalan dengan anggun dan lemah gemulai
menghampiri Nyonya Ambar. Namun untuk
sesaat dia tampak terkejut melihat keberadaan
Kiran di ruangan itu. Kiran sendiri terlihat kaget
melihat kemunculan wanita super cantik itu.
Ingatannya kembali pada Agra yang pernah
mengatakan bahwa dia punya urusan dengan
wanita pemilik tubuh indah itu.
"Hallo Eyang..apa kabar.? senang sekali bisa
bertemu dengan anda di tempat ini.!"
Sapa Mikhayla dengan suara yang sangat
lembut seraya membungkuk hormat. Sikap
dan gestur tubuh nya nampak begitu halus
dan santun, anggun dan elegan. Nyonya
Ambar tersenyum tipis melambaikan tangan
tanda merespon positif sapaan wanita itu.
"Kebetulan sekali kau juga ada di tempat ini
Nona Alexandria.."
Sambut Nyonya Ambar, wajahnya kembali
datar tanpa ekspresi berlebihan.
"Hee iya Eyang..kebetulan saya mendapat
undangan kehormatan dari Bintang Group
untuk acara besar besok malam. Semua
orang pasti ingin tampil maksimal untuk
acara besok, begitupun dengan saya.."
Sahut Mikhayla seraya melirik kearah Kiran
yang terdiam berusaha untuk tidak ikut campur
urusan mereka. Ke dalam ruangan muncul
Michelle bersama beberapa pegawai nya yang
membawakan berbagai gaun hasil rancangan
nya juga beberapa gaun tidur.
"Ohh..hai Nona Alexandria..kau disini rupanya.
Apakah anda sudah mencoba gaun pesanan
mu itu.? aku membuatnya dengan keringat
dan darah loh..!"
Mikhayla tersenyum lembut kearah Michelle.
"Sudah kok.. semuanya perpect..! seperti biasa
selalu sesuai dengan keinginan ku..!"
"Pastinya donk.. siapa yang meragukan hasil
rancangan ku.. hahaa.. yuukk mari bidadari ku
kita coba gaun yang cocok untuk mu..!"
Michelle langsung menggandeng tangan Kiran
di bawa masuk ke sebuah fitting room. Kiran
melihat kearah Nyonya Ambar yang terlihat
mengangguk. Dia menunduk sedikit kearah
Nyonya Ambar dan Mikhayla. Setelah itu dia
melangkah mengikuti tarikan tangan Michelle.
"Siapa gadis itu Eyang..?"
Mikhayla tampak serius, tatapan nya terlihat
di penuhi oleh rasa penasaran. Sudah 2 kali
dia melihat keberadaan Kiran di dekat orang-
orang yang di harapkan akan menjadi bagian
dari hidupnya di masa depan.
"Dia orang yang sangat spesial. Kau akan tahu
tidak lama lagi. Dan ya..Nona Mikhayla segera
lah berkoordinasi dengan keluarga mu.. karena
ada kemungkinan rencana pertunangan kalian
tidak jadi di laksanakan.!"
"Apa..??"
Wajah cantik Mikhayla langsung saja memucat.
Tatapannya kini tercurah seluruhnya kearah
Nyonya Ambar yang berdiri kemudian berjalan
pelan kearah fitting room. Dia menolehkan
kepalanya, menatap Mikhayla dalam diam.
"Karena..apa yang di cari oleh cucuku selama
ini sudah dia temukan.! Maka dari itu mulai saat
ini relakan Agra, carilah penggantinya.! Aku yakin
kau bisa mendapatkan laki-laki manapun..!"
Ucapnya sambil kemudian melangkah masuk
ke ruangan sebelah meninggalkan Mikhayla
yang berdiri kaku di tempat nya. Tubuhnya
saat ini seakan terbakar. Tangannya terkepal
dengan kuat, wajahnya terlihat memerah.
"Tidak..! Aku tidak akan pernah bisa melepas
Agraa.. selama ini aku sudah sangat sabar
menantinya..Kita lihat saja, wanita seperti
apa yang mampu membuat Agra tidak
pernah sekalipun melirik keberadaan ku..!"
Desis Mikhayla sambil kemudian melangkah
kesal meninggalkan ruangan itu.
******* *******
Kiran duduk termenung di atas tempat tidur di
pernah di tinggali nya bersama Agra. Kamar
yang mampu membuat mata Kiran menatap
takjub saat memandangi seluruh keindahan
dan kemegahan nya. Saat ini dia sedang ada
di istana Hadiningrat, tepatnya di dalam
kamar pribadi Agra.
Saat ini pikirannya masih di hinggapi oleh
berbagai pertanyaan yang seakan tidak jua
menemukan ujung pangkalnya. Kenapa Nyonya
Ambar memaksanya untuk kembali menginap
di rumah ini. Akankah Agra tahu keberadaan
nya kini seandainya dia kembali.?
Kiran berjalan ke ujung ruangan dimana di sana
terdapat dinding kaca bundar menjulang tinggi
yang menampilkan pemandangan mempesona
dan memukau dari sebuah taman yang sangat
luas, langsung tembus ke dalam hutan buatan
di ujung kawasan.
Kiran mendongakkan kepala. Dia kembali hanya
mampu berdecak kagum melihat pemandangan
indah di depan matanya. Separuh atap dari kamar
ini tampak berupa kaca tebal tembus pandang
yang saat ini terbuka otomatis karena bulan
di langit sedang menampakan dirinya dengan
sempurna hingga cahaya nya yang indah jatuh menyinari kamar tersebut tepat di atas tempat
tidur. Sungguh ini pemandangan yang sangat
indah dan romantis membuat ingatan Kiran
kembali melayang pada kekasih hatinya.
Kiran tersentak ketika Tata dan dua pelayan lain
nya tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Hal yang
membuat Kiran bengong adalah karena saat ini
mereka mengenakkan pakaian tradisional.
"Nona..mari ikut saya.. ritual mandi bulannya
harus segera di mulai..!"
Ucap Tata seraya membungkuk dalam di
hadapan Kiran yang masih berdiri mematung.
"Ritual mandi bulan, apa itu Tata..?"
Alis Kiran bertaut dalam, dia benar-benar di
buat bingung dengan semua yang di inginkan
oleh Eyang Putri. Sejak tadi sore dirinya di
paksa harus mengikuti semua perintah nenek
asing itu, lalu saat dia datang ke rumah ini, tepat sebelum masuk ke rumah, di pintu utama dirinya
di sambut bak putri raja, di taburi bunga tujuh
rupa, lalu harus menginjak telor setelah itu
dia di selimuti oleh sebuah kain tenun sampai
dirinya tiba di kamar ini. Sungguh ini sangat
membingungkan sekaligus membuat dirinya
sedikit takut.
"Anda akan tahu nanti.. Nyonya Besar sendiri
yang akan memimpin ritual ini, mari Nona.!"
Dua orang pelayan yang datang bersama Tata
mendekat kemudian membungkuk hormat.
"Mohon maaf Nona muda.."
Lirih mereka sambil kemudian menyelimuti
tubuh Kiran memakai kain songket lalu dengan
sedikit ragu yang satunya menutupkan kain
hitam ke mata Kiran membuat gadis itu semakin
di buat terkejut dan takut.
"Apa-apaan ini.. kenapa mata saya harus di
tutup segala.? "
Protes Kiran, namun dia tetap berusaha patuh.
"Itu bagian dari ritualnya Nona.."
Jelas Tata sambil kemudian membimbing
Kiran untuk melangkah keluar dari kamar.
Sedang dua pelayan tadi masih tinggal di kamar karena ada hal yang harus mereka kerjakan.
Tiba di lantai dasar barisan pelayan yang sudah
berdiri menyambut kemunculannya langsung
membungkuk hormat di hadapan Kiran yang
tidak menyadarinya sama sekali atas apa yang
kini tengah berlaku. Kiran terus berjalan di ikuti
oleh sekitar 10 orang pelayan yang berpakaian
tradisional. Kiran semakin merasakan ketakutan
akan suasana yang sangat asing ini. Karena kini
mulai terdengar alunan musik tradisional yang
membuat dia merinding.
"Tata..kita mau kemana sebenarnya.? kenapa
ada musik seperti itu segala.?"
Kiran mencoba bertanya untuk mengusir rasa
takut yang semakin menghinggapi dirinya.
"Kita akan menuju paviliun khusus yang ada di
kediaman Nyonya Besar Nona.."
Sahut Tata sambil mempererat genggaman
tangannya karena kini mereka harus menuruni
tangga berbatu menuju lorong khusus yang
langsung terhubung dengan paviliun belakang.
Dan setelah berjalan sekitar 10 menit akhirnya
mereka tiba juga di tempat tujuan. Kiran di bawa
masuk ke sebuah ruangan berbentuk bundar
yang sekeliling nya di hiasi oleh rintik air yang
jatuh menyusuri tanaman rambat. Ruangan
ini seperti sebuah kolam rendam khusus yang
di peruntukkan bagi para putri kerajaan.
Tepat di tengah ruangan terdapat kolam rendam
berbentuk bulat yang tidak beratap sehingga
cahaya bulan jatuh seluruhnya ke tengah kolam.
Saat ini kolam rendam itu sudah di penuhi oleh
taburan bunga-bunga indah serta wewangian
yang sangat menenangkan sekaligus bisa
membangkitkan gairah dan hasrat bercinta.
"Kalian berjagalah di luar.. tunggu kedatangan
nya, jangan biarkan dia masuk sebelum ritual
selesai.!"
Titah Nyonya Ambar sambil menepiskan tangan.
"Baik Nyonya Besar.."
Sahut para pelayan tadi serempak. Kain penutup
mata Kiran di buka oleh Tata. Gadis itu tampak
terdiam dalam raut wajah bingung melihat
ke seluruh ruangan asing itu.
"Eyang..ada apa ini sebenarnya.? kenapa saya
harus melakukan semua ritual ini, untuk apa.?"
Kiran menatap tajam wajah Nyonya Ambar
menuntut jawaban pasti, tapi wanita tua itu
tampaknya tidak peduli, dia malah melirik
pada dua orang pelayan pribadinya.
"Buka pakaiannya, aku ingin melihat apa ada
sesuatu yang kurang dalam tubuhnya.!"
Titahnya membuat Kiran terkejut setengah
mati, dia mundur dengan menatap tajam pada
dua pelayan itu yang kini mendekat.
"Berhenti.! jangan maju, sebenarnya apa yang
Eyang inginkan.?"
"Aku hanya ingin membersihkan tubuh mu
dari hal-hal kotor yang bisa saja menempel
di tubuh mu itu. Aku tidak ingin memiliki
keturunan yang tercemar oleh kebusukkan
dunia.!"
"Keturunan..? a-apa maksud Eyang..?"
"Sudah ikuti saja semua ritual ini jangan
banyak protes.!"
"Tapi Eyang..ini tidak benar, apa-apaan ini?
Hei..apa yang kalian lakukan?"
Kiran berusaha meronta saat dua pelayan tadi
membuka seluruh pakaian nya kemudian
memakaikan kain kemben di tubuhnya. Dia
hanya bisa berdiri kaku sambil menyilang
tangan di dadanya saat Nyonya Ambar maju
menelisik seluruh tubuh indah Kiran.
Bibir keriput itu kini tersenyum puas. Dia
mulai meraih satu racikan rempah khusus
dari tangan Tata kemudian perlahan mulai
membalurnya ke seluruh tubuh Kiran yang
tidak tertutup kain kemben. Kiran hanya bisa
memejamkan mata di tengah kebingungan
atas apa yang kini tengah terjadi padanya.
"Ayo masuklah ke dalam kolam..aku akan
membersihkan rambutmu..!"
Titah Nyonya Ambar seraya menuntun tangan
Kiran menuju ke dalam kolam. Seolah tersihir
Kiran mengikuti apa yang di perintahkan oleh
nenek tua itu. Dia masuk dan merendam diri
nya sampai sebatas dada. Dia duduk di sebuah
baru persegi di pinggir kolam sementara
Nyonya Ambar mulai memakaikan rempah
khusus membaluri seluruh rambut indah Kiran.
"Malam ini sangat sempurna bagi kalian untuk
bersatu.. jangan kecewakan seluruh keluarga."
Gumam Nyonya Ambar sambil menggosok
pelan rambut Kiran yang terlihat hanya bisa
terdiam bengong. Dirinya saat ini sedang
berusaha meyakinkan diri bahwa ini semua
hanyalah mimpi, ini juga hanya halusinasi
nya saja, ini tidak lah nyata..
Agraa... dimana kamu..tolong keluarkan aku
dari semua mimpi buruk ini..
Jerit Kiran dalam hatinya. Dia tersentak saat
menyadari saat ini hanya tersisa dirinya saja
di dalam ruangan itu. Namun anehnya..kini
dia mulai merasakan tubuhnya begitu rileks,
nyaman, tenang , ringan dan..apa ini..? dia
mulai merasakan tubuhnya begitu hangat dan
sangat bergairah. Bayangan wajah tampan
Agra kini semakin menjelma dalam ingatan
nya, dia sangat mengharapkan kehadirannya.
Kiran bangkit berdiri, tubuh nya yang hanya
berbalut kemben kini terasa sangat ringan
dan bersemangat. Selain itu aroma tubuhnya
juga begitu harum dan membuai. Kulitnya
nampak berkilau indah di bawah sinar bulan
yang memancar langsung menyinari seluruh tubuhnya.
Kiran memejamkan mata mencoba mencari
bayangan wajah Agra yang sangat di harapkan
kehadirannya saat ini untuk melepaskan semua
dahaga jiwanya dan hasrat aneh yang kini mulai
membakar aliran darahnya.
"Agra.. datanglah..aku sangat merindukanmu..
Aku sangat mencintaimu.."
Lirih Kiran perih bersamaan dengan luruhnya
air mata bercampur dengan air bunga.
"Aku disini sayang..aku datang untukmu.."
Ada suara yang sangat berat di depannya.
Dan Kiran sangat mengenali suara itu, suara seseorang yang sangat di harapkan kehadiran
nya. Perlahan dia membuka matanya, menatap
lekat sosok gagah yang kini tengah berdiri di hadapannya.Tapi penampilan sosok ini sangat berbeda dari yang biasanya dia lihat. Dia terlihat
begitu gagah, bersinar terang, sangat tampan
dan penuh kharisma. Dia mengenakkan setelah
resmi yang sangat elegan dan memukau..
"Agra...kau kah itu.?"
Bergetar bibir Kiran mengucap nama itu karena
tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Sosok itu tampak tersenyum lembut membuat
tubuh Kiran lemas seketika dan pandangan nya
tiba-tiba saja kabur di ganti dengan kegelapan.
Secepat kilat sosok tadi melompat ke dalam
kolam menangkap tubuh Kiran yang terkulai
lemas tidak sadarkan diri..
*************
TBC....