Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
40. Ritual Aneh


 


*************


 


Tamu tersebut yang ternyata adalah Mikhayla


tampak langsung masuk setelah di sambut


oleh manager butik di ikuti oleh beberapa


pengunjung yang terlihat memintanya untuk


berfhoto bersama. Dengan sabar dan ramah


icon kecantikan itu melayani mereka yang


rata-rata adalah para wanita sosialita kelas


atas, bukanlah sembarang pengunjung.


Setelah memastikan Mikhayla tidak terlihat


lagi Nyonya Ambar mengajak Kiran keluar


dari mobil di sambut hormat oleh pemilik butik


yang buru-buru turun dari kantornya begitu


mendapat kabar bahwa tamu kehormatan


nya sudah ada di loby. Asisten pribadi Nyonya


Ambar sudah berkoordinasi terlebih dahulu


dengan pihak butik soal kunjungan Nyonya


Besarnya itu ke butik ini.


"Selamat datang Nyonya Besar..senang sekali


anda berkunjung kemari.."


Sambut pemilik butik tersebut, seorang pria


lemah gemulai dengan rupa dan penampilan


mendekati sempurna sebagai jelmaan wanita.


Dia membungkuk hormat dengan gaya yang


sangat luwes dan anggun. Senyumnya tampak


terkembang dengan sempurna. Nyonya Ambar


keluar dari mobil di ikuti oleh Kiran dari pintu


sebelahnya. Pemilik butik tersebut tampak


terdiam terpaku di tempat melihat kemunculan


Kiran yang langsung membantu Nyonya Ambar


untuk melangkah ke dalam loby.


"Hei.. Michelle..apa kau akan diam saja di situ.?"


Tegur Nyonya Ambar pada sang pemilik butik


yang masih terkesima melihat kearah Kiran.


Wanita jadi-jadian itu terlihat tersipu malu.


"Maaf Nyonya Besar..saya terkesima dengan


bidadari yang anda bawa hee..!"


Wanita itu atau Michelle melirik genit kearah


Kiran yang tampak tersenyum dengan wajah


yang bersemu merah.


"Jaga matamu itu, dia adalah cucuku..!"


"What..? cucu darimana datangnya..?"


Michelle sontak saja memekik manja sambil


mengerlingkan matanya. Kiran tidak kalah


terkejutnya mendengar ucapan Nyonya Ambar.


Wanita tua itu terkekeh pelan sambil menekan


tongkat nya ke lantai .


"Cucu ketemu gede..!"


Kilahnya dengan senyum miring. Kiran tertegun


sendiri, tidak percaya ternyata wanita tua kaku


ini bisa bersikap cair juga. Ataukah memang


aslinya seperti itu.? ahh entahlah..!


"Ohh.. begitu ya..natural banget sih cantiknya.


Kasih ke aku bisa gak Nyobes.?"


Goda Michelle seraya menggandeng tangan


Nyonya Ambar dengan gaya yang sangat manja.


"Bukankah selera mu sudah berubah sekarang?


Kau bahkan sangat tergila-gila pada cucu ku.!


Wajah Michelle langsung saja bersemu merah


sambil tersenyum malu-malu.


"Kalau cucumu jangan di tanya lagi , siapa


yang tidak tergila-gila pada pria macho seperti


nya, laki-laki pun banyak yang suka padanya


apalagi perempuan seperti aku.."


Nyonya Ambar kembali terkekeh geli dengan


omongan Michelle. Sementara Kiran hanya


terdiam tidak mengerti arah pembicaraan


mereka berdua.


"Sudah..! ayo antar kita ke ruangan nya.!"


Nyonya Ambar menarik tangan Kiran berjalan


masuk ke dalam bangunan di ikuti oleh wanita


pemilik butik tadi yang masih saja mencuri


pandang kearah Kiran. Michelle langsung


membawa Nyonya Ambar menuju ruangan


pribadi di lantai atas. Yang kebetulan sekali


satu lantai dengan ruangan Mikhayla, hanya


berbeda ruangan saja.


"Carikan gaun pesta yang tepat untuknya.!


Sekalian sama gaun malam paling eksklusif


yang kau punya.!"


Titah Nyonya Ambar setelah dia duduk dengan


tenang di sofa yang ada di ruangan itu. Kiran


tampak langsung terkejut, melihat kearah


Nyonya Ambar.


"Eyang..maaf..apa maksud eyang mencari


gaun untuk saya, untuk apa.?"


Nyonya Ambar hanya melirik sekilas kearah


Kiran, sedang Michelle masih mencerna apa


yang di titahkan oleh pelanggan elite nya itu.


"Bukankah besok kamu harus menghadiri


pesta ulang tahun perusahaan cucuku.?"


Deg !


Kiran membeku di tempat. Wajahnya berubah


sedikit pias. Ya..itu benar ! tapi kenapa nenek


tua ini harus repot-repot mencarikan gaun


untuknya segala.?


"Itu benar Eyang..tapi saya sudah punya di


rumah, tidak perlu membelinya lagi. Jadi


Saya pikir Eyang tidak perlu repot begini !"


"Nona Mahesa..! sudah ku bilang aku tidak


suka di bantah.!"


Kiran menundukkan kepalanya dalam. Michelle


hanya bisa bengong melihat perdebatan yang


terjadi itu, Hei.. siapa sebenarnya wanita ini.?


Bathin Michelle sambil menautkan alisnya.


"Baiklah kalau itu maunya Eyang.."


Lirih Kiran akhirnya pasrah. Nyonya Ambar


berpaling pada Michelle yang langsung faham


dia mengangguk kemudian berlalu keluar dari


ruangan. Kiran tampak gelisah, dia meremas


jemarinya yang bertautan. Sebenarnya apa


yang di inginkan oleh Nyonya besar ini.?


Kenapa dia tiba-tiba bersikap aneh seperti ini. !


Asisten pribadi Nyonya Ambar masuk ke dalam


ruangan langsung menghampiri majikan nya


lalu berbicara dengan suara rendah. Wajah


Nyonya Ambar terlihat berubah dingin sambil menekan tongkatnya ke lantai.


"Biarkan dia masuk !"


"Baik Nyonya.."


Asisten tadi langsung membungkuk setelah


itu dia berlalu pergi ke luar ruangan. Nyonya


Ambar melirik sekilas kearah Kiran yang


duduk dengan gelisah, nenek tua itu kembali


tersenyum miring melihat reaksi Kiran.


Tidak lama ke dalam ruangan muncul Mikhayla


dengan senyum yang sangat merekah. Dia


berjalan dengan anggun dan lemah gemulai


menghampiri Nyonya Ambar. Namun untuk


sesaat dia tampak terkejut melihat keberadaan


Kiran di ruangan itu. Kiran sendiri terlihat kaget


melihat kemunculan wanita super cantik itu.


Ingatannya kembali pada Agra yang pernah


mengatakan bahwa dia punya urusan dengan


wanita pemilik tubuh indah itu.


"Hallo Eyang..apa kabar.? senang sekali bisa


bertemu dengan anda di tempat ini.!"


Sapa Mikhayla dengan suara yang sangat


lembut seraya membungkuk hormat. Sikap


dan gestur tubuh nya nampak begitu halus


dan santun, anggun dan elegan. Nyonya


Ambar tersenyum tipis melambaikan tangan


tanda merespon positif sapaan wanita itu.


"Kebetulan sekali kau juga ada di tempat ini


Nona Alexandria.."


Sambut Nyonya Ambar, wajahnya kembali


datar tanpa ekspresi berlebihan.


"Hee iya Eyang..kebetulan saya mendapat


undangan kehormatan dari Bintang Group


untuk acara besar besok malam. Semua


orang pasti ingin tampil maksimal untuk


acara besok, begitupun dengan saya.."


Sahut Mikhayla seraya melirik kearah Kiran


yang terdiam berusaha untuk tidak ikut campur


urusan mereka. Ke dalam ruangan muncul


Michelle bersama beberapa pegawai nya yang


membawakan berbagai gaun hasil rancangan


nya juga beberapa gaun tidur.


"Ohh..hai Nona Alexandria..kau disini rupanya.


Apakah anda sudah mencoba gaun pesanan


mu itu.? aku membuatnya dengan keringat


dan darah loh..!"


Mikhayla tersenyum lembut kearah Michelle.


"Sudah kok.. semuanya perpect..! seperti biasa


selalu sesuai dengan keinginan ku..!"


"Pastinya donk.. siapa yang meragukan hasil


rancangan ku.. hahaa.. yuukk mari bidadari ku


kita coba gaun yang cocok untuk mu..!"


Michelle langsung menggandeng tangan Kiran


di bawa masuk ke sebuah fitting room. Kiran


melihat kearah Nyonya Ambar yang terlihat


mengangguk. Dia menunduk sedikit kearah


Nyonya Ambar dan Mikhayla. Setelah itu dia


melangkah mengikuti tarikan tangan Michelle.


"Siapa gadis itu Eyang..?"


Mikhayla tampak serius, tatapan nya terlihat


di penuhi oleh rasa penasaran. Sudah 2 kali


dia melihat keberadaan Kiran di dekat orang-


orang yang di harapkan akan menjadi bagian


dari hidupnya di masa depan.


"Dia orang yang sangat spesial. Kau akan tahu


tidak lama lagi. Dan ya..Nona Mikhayla segera


lah berkoordinasi dengan keluarga mu.. karena


ada kemungkinan rencana pertunangan kalian


tidak jadi di laksanakan.!"


"Apa..??"


Wajah cantik Mikhayla langsung saja memucat.


Tatapannya kini tercurah seluruhnya kearah


Nyonya Ambar yang berdiri kemudian berjalan


pelan kearah fitting room. Dia menolehkan


kepalanya, menatap Mikhayla dalam diam.


"Karena..apa yang di cari oleh cucuku selama


ini sudah dia temukan.! Maka dari itu mulai saat


ini relakan Agra, carilah penggantinya.! Aku yakin


kau bisa mendapatkan laki-laki manapun..!"


Ucapnya sambil kemudian melangkah masuk


ke ruangan sebelah meninggalkan Mikhayla


yang berdiri kaku di tempat nya. Tubuhnya


saat ini seakan terbakar. Tangannya terkepal


dengan kuat, wajahnya terlihat memerah.


"Tidak..! Aku tidak akan pernah bisa melepas


Agraa.. selama ini aku sudah sangat sabar


menantinya..Kita lihat saja, wanita seperti


apa yang mampu membuat Agra tidak


pernah sekalipun melirik keberadaan ku..!"


Desis Mikhayla sambil kemudian melangkah


kesal meninggalkan ruangan itu.


******* *******


Kiran duduk termenung di atas tempat tidur di


pernah di tinggali nya bersama Agra. Kamar


yang mampu membuat mata Kiran menatap


takjub saat memandangi seluruh keindahan


dan kemegahan nya. Saat ini dia sedang ada


di istana Hadiningrat, tepatnya di dalam


kamar pribadi Agra.


Saat ini pikirannya masih di hinggapi oleh


berbagai pertanyaan yang seakan tidak jua


menemukan ujung pangkalnya. Kenapa Nyonya


Ambar memaksanya untuk kembali menginap


di rumah ini. Akankah Agra tahu keberadaan


nya kini seandainya dia kembali.?


Kiran berjalan ke ujung ruangan dimana di sana


terdapat dinding kaca bundar menjulang tinggi


yang menampilkan pemandangan mempesona


dan memukau dari sebuah taman yang sangat


luas, langsung tembus ke dalam hutan buatan


di ujung kawasan.


Kiran mendongakkan kepala. Dia kembali hanya


mampu berdecak kagum melihat pemandangan


indah di depan matanya. Separuh atap dari kamar


ini tampak berupa kaca tebal tembus pandang


yang saat ini terbuka otomatis karena bulan


di langit sedang menampakan dirinya dengan


sempurna hingga cahaya nya yang indah jatuh menyinari kamar tersebut tepat di atas tempat


tidur. Sungguh ini pemandangan yang sangat


indah dan romantis membuat ingatan Kiran


kembali melayang pada kekasih hatinya.


Kiran tersentak ketika Tata dan dua pelayan lain


nya tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Hal yang


membuat Kiran bengong adalah karena saat ini


mereka mengenakkan pakaian tradisional.


"Nona..mari ikut saya.. ritual mandi bulannya


harus segera di mulai..!"


Ucap Tata seraya membungkuk dalam di


hadapan Kiran yang masih berdiri mematung.


"Ritual mandi bulan, apa itu Tata..?"


Alis Kiran bertaut dalam, dia benar-benar di


buat bingung dengan semua yang di inginkan


oleh Eyang Putri. Sejak tadi sore dirinya di


paksa harus mengikuti semua perintah nenek


asing itu, lalu saat dia datang ke rumah ini, tepat sebelum masuk ke rumah, di pintu utama dirinya


di sambut bak putri raja, di taburi bunga tujuh


rupa, lalu harus menginjak telor setelah itu


dia di selimuti oleh sebuah kain tenun sampai


dirinya tiba di kamar ini. Sungguh ini sangat


membingungkan sekaligus membuat dirinya


sedikit takut.


"Anda akan tahu nanti.. Nyonya Besar sendiri


yang akan memimpin ritual ini, mari Nona.!"


Dua orang pelayan yang datang bersama Tata


mendekat kemudian membungkuk hormat.


"Mohon maaf Nona muda.."


Lirih mereka sambil kemudian menyelimuti


tubuh Kiran memakai kain songket lalu dengan


sedikit ragu yang satunya menutupkan kain


hitam ke mata Kiran membuat gadis itu semakin


di buat terkejut dan takut.


"Apa-apaan ini.. kenapa mata saya harus di


tutup segala.? "


Protes Kiran, namun dia tetap berusaha patuh.


"Itu bagian dari ritualnya Nona.."


Jelas Tata sambil kemudian membimbing


Kiran untuk melangkah keluar dari kamar.


Sedang dua pelayan tadi masih tinggal di kamar karena ada hal yang harus mereka kerjakan.


Tiba di lantai dasar barisan pelayan yang sudah


berdiri menyambut kemunculannya langsung


membungkuk hormat di hadapan Kiran yang


tidak menyadarinya sama sekali atas apa yang


kini tengah berlaku. Kiran terus berjalan di ikuti


oleh sekitar 10 orang pelayan yang berpakaian


tradisional. Kiran semakin merasakan ketakutan


akan suasana yang sangat asing ini. Karena kini


mulai terdengar alunan musik tradisional yang


membuat dia merinding.


"Tata..kita mau kemana sebenarnya.? kenapa


ada musik seperti itu segala.?"


Kiran mencoba bertanya untuk mengusir rasa


takut yang semakin menghinggapi dirinya.


"Kita akan menuju paviliun khusus yang ada di


kediaman Nyonya Besar Nona.."


Sahut Tata sambil mempererat genggaman


tangannya karena kini mereka harus menuruni


tangga berbatu menuju lorong khusus yang


langsung terhubung dengan paviliun belakang.


Dan setelah berjalan sekitar 10 menit akhirnya


mereka tiba juga di tempat tujuan. Kiran di bawa


masuk ke sebuah ruangan berbentuk bundar


yang sekeliling nya di hiasi oleh rintik air yang


jatuh menyusuri tanaman rambat. Ruangan


ini seperti sebuah kolam rendam khusus yang


di peruntukkan bagi para putri kerajaan.


Tepat di tengah ruangan terdapat kolam rendam


berbentuk bulat yang tidak beratap sehingga


cahaya bulan jatuh seluruhnya ke tengah kolam.


Saat ini kolam rendam itu sudah di penuhi oleh


taburan bunga-bunga indah serta wewangian


yang sangat menenangkan sekaligus bisa


membangkitkan gairah dan hasrat bercinta.


"Kalian berjagalah di luar.. tunggu kedatangan


nya, jangan biarkan dia masuk sebelum ritual


selesai.!"


Titah Nyonya Ambar sambil menepiskan tangan.


"Baik Nyonya Besar.."


Sahut para pelayan tadi serempak. Kain penutup


mata Kiran di buka oleh Tata. Gadis itu tampak


terdiam dalam raut wajah bingung melihat


ke seluruh ruangan asing itu.


"Eyang..ada apa ini sebenarnya.? kenapa saya


harus melakukan semua ritual ini, untuk apa.?"


Kiran menatap tajam wajah Nyonya Ambar


menuntut jawaban pasti, tapi wanita tua itu


tampaknya tidak peduli, dia malah melirik


pada dua orang pelayan pribadinya.


"Buka pakaiannya, aku ingin melihat apa ada


sesuatu yang kurang dalam tubuhnya.!"


Titahnya membuat Kiran terkejut setengah


mati, dia mundur dengan menatap tajam pada


dua pelayan itu yang kini mendekat.


"Berhenti.! jangan maju, sebenarnya apa yang


Eyang inginkan.?"


"Aku hanya ingin membersihkan tubuh mu


dari hal-hal kotor yang bisa saja menempel


di tubuh mu itu. Aku tidak ingin memiliki


keturunan yang tercemar oleh kebusukkan


dunia.!"


"Keturunan..? a-apa maksud Eyang..?"


"Sudah ikuti saja semua ritual ini jangan


banyak protes.!"


"Tapi Eyang..ini tidak benar, apa-apaan ini?


Hei..apa yang kalian lakukan?"


Kiran berusaha meronta saat dua pelayan tadi


membuka seluruh pakaian nya kemudian


memakaikan kain kemben di tubuhnya. Dia


hanya bisa berdiri kaku sambil menyilang


tangan di dadanya saat Nyonya Ambar maju


menelisik seluruh tubuh indah Kiran.


Bibir keriput itu kini tersenyum puas. Dia


mulai meraih satu racikan rempah khusus


dari tangan Tata kemudian perlahan mulai


membalurnya ke seluruh tubuh Kiran yang


tidak tertutup kain kemben. Kiran hanya bisa


memejamkan mata di tengah kebingungan


atas apa yang kini tengah terjadi padanya.


"Ayo masuklah ke dalam kolam..aku akan


membersihkan rambutmu..!"


Titah Nyonya Ambar seraya menuntun tangan


Kiran menuju ke dalam kolam. Seolah tersihir


Kiran mengikuti apa yang di perintahkan oleh


nenek tua itu. Dia masuk dan merendam diri


nya sampai sebatas dada. Dia duduk di sebuah


baru persegi di pinggir kolam sementara


Nyonya Ambar mulai memakaikan rempah


khusus membaluri seluruh rambut indah Kiran.


"Malam ini sangat sempurna bagi kalian untuk


bersatu.. jangan kecewakan seluruh keluarga."


Gumam Nyonya Ambar sambil menggosok


pelan rambut Kiran yang terlihat hanya bisa


terdiam bengong. Dirinya saat ini sedang


berusaha meyakinkan diri bahwa ini semua


hanyalah mimpi, ini juga hanya halusinasi


nya saja, ini tidak lah nyata..


Agraa... dimana kamu..tolong keluarkan aku


dari semua mimpi buruk ini..


Jerit Kiran dalam hatinya. Dia tersentak saat


menyadari saat ini hanya tersisa dirinya saja


di dalam ruangan itu. Namun anehnya..kini


dia mulai merasakan tubuhnya begitu rileks,


nyaman, tenang , ringan dan..apa ini..? dia


mulai merasakan tubuhnya begitu hangat dan


sangat bergairah. Bayangan wajah tampan


Agra kini semakin menjelma dalam ingatan


nya, dia sangat mengharapkan kehadirannya.


Kiran bangkit berdiri, tubuh nya yang hanya


berbalut kemben kini terasa sangat ringan


dan bersemangat. Selain itu aroma tubuhnya


juga begitu harum dan membuai. Kulitnya


nampak berkilau indah di bawah sinar bulan


yang memancar langsung menyinari seluruh tubuhnya.


Kiran memejamkan mata mencoba mencari


bayangan wajah Agra yang sangat di harapkan


kehadirannya saat ini untuk melepaskan semua


dahaga jiwanya dan hasrat aneh yang kini mulai


membakar aliran darahnya.


"Agra.. datanglah..aku sangat merindukanmu..


Aku sangat mencintaimu.."


Lirih Kiran perih bersamaan dengan luruhnya


air mata bercampur dengan air bunga.


"Aku disini sayang..aku datang untukmu.."


Ada suara yang sangat berat di depannya.


Dan Kiran sangat mengenali suara itu, suara seseorang yang sangat di harapkan kehadiran


nya. Perlahan dia membuka matanya, menatap


lekat sosok gagah yang kini tengah berdiri di hadapannya.Tapi penampilan sosok ini sangat berbeda dari yang biasanya dia lihat. Dia terlihat


begitu gagah, bersinar terang, sangat tampan


dan penuh kharisma. Dia mengenakkan setelah


resmi yang sangat elegan dan memukau..


"Agra...kau kah itu.?"


Bergetar bibir Kiran mengucap nama itu karena


tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Sosok itu tampak tersenyum lembut membuat


tubuh Kiran lemas seketika dan pandangan nya


tiba-tiba saja kabur di ganti dengan kegelapan.


Secepat kilat sosok tadi melompat ke dalam


kolam menangkap tubuh Kiran yang terkulai


lemas tidak sadarkan diri..


 


*************


 


TBC....