Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
28. Perjumpaan


 


************


 


Mata Kiran terlihat tidak berkedip menatap sosok


gagah yang kini sedang berdiri di hadapannya,


sedang menatapnya penuh cinta dan kerinduan


yang tidak bisa di sembunyikan nya.


"Tuan..mari saya antar keluar.!"


Sari mendekat kearah pria itu ingin membimbing


nya agar keluar ruangan.


"Kau boleh keluar sekarang.!"


Kiran segera menahan nya sambil kemudian


bangkit perlahan dengan tatapan tidak lepas


dari sosok di depannya. Sari menatap sekilas


kearah bos cantiknya itu dengan penuh tanda


tanya apalagi saat melihat reaksi Kiran saat ini.


Tapi kemudian dia mengangguk seraya berlalu


keluar ruangan.


"Apa kau tidak merindukan ku.?"


Senyum tipis terukir di bibir pria itu yang kini


merentangkan tangannya. Dengan derai air


mata Kiran melompat kedalam pelukan pria itu.


"Agraa... bagaimana kamu bisa ada di sini..!"


Tangis Kiran langsung pecah, keduanya saling


berpelukan erat dengan perasaan yang sama-


sama tidak terjabarkan, sangat kompleks.


"Dimana pun kamu berada aku pasti akan bisa


menemukanmu Nona Sashikirana.."


Desis pria itu yang tiada lain adalah Agra, dia


semakin mempererat pelukannya, menciumi


puncak kepala Kiran, menghirup aroma wangi


yang keluar dari rambutnya yang bisa membuat


jiwanya tenang seketika.


"Maafkan aku.. sungguh aku tidak bermaksud


meninggalkan mu begitu saja."


Lirih Kiran di tengah isak tangisnya sambil


menyusupkan wajahnya dalam rengkuhan


dada bidang suaminya itu. Ini seperti mimpi


bagi Kiran, laki-laki yang selama beberapa


hari ini tidak pernah lepas dari ingatannya


tiba-tiba saja ada di depan matanya.


"Tapi kenyataannya kau memang pergi tanpa


sepengetahuan ku Nona.."


"Itu bukan kemauanku.."


Kiran semakin menenggelamkan mukanya di


belahan dada bidang Agra yang menguarkan


aroma wangi maskulin yang sangat membuai


hingga membuat jiwa Kiran seakan melayang


tak menentu. Agra mencium kening Kiran cukup


lama, keduanya memejamkan mata mencoba meresapi segala rasa yang kini memenuhi jiwa mereka.


Setelah cukup lama menumpahkan air mata


nya Kiran menarik dirinya dari pelukan Agra,


keduanya kini saling pandang kuat berusaha


untuk menyampaikan rasa yang ada di hati


mereka. Tangan Agra bergerak menghapus


air mata di wajah Kiran yang masih terus


berjatuhan.


"Apa kau sengaja meninggalkan ku karena


ingin menghindari ku ?"


Suara Agra terdengar berat, tatapannya terasa


begitu menusuk hingga rasanya menembus


jantung Kiran membuat dia menggeleng kuat


dengan lelehan air mata yang terus saja keluar.


"Tidak sama sekali.! aku tidak bermaksud untuk


menghindari mu, semuanya di luar kehendak ku.!"


Lirih Kiran sambil menunduk. Agra mengangkat


wajah Kiran, keduanya kembali saling pandang


kuat, ada sorot mata kerinduan yang sama-sama


terpancar dari kedua bola mata mereka.


"Apa kau tahu, aku gila karena kehilanganmu.!


kau sudah merusak hariku Kiran.."


Hati Kiran bergetar hebat saat mendengar


ucapan Agra yang terkesan begitu dalam.


"Maaf aku tidak bisa menghubungi mu karena


tidak memiliki nomor kontak mu.!"


"Kau bisa menghubungi Badar.!"


"Aku sudah mencobanya, tapi tidak terhubung.


Aku sangat menyesali semua yang terjadi. Aku


bahkan belum pamit pada semua orang."


"Kau sudah membuat semua orang bingung


Kiran..kau pergi begitu saja..!"


Bisik Agra, mata mereka saling mengunci dan


bertaut dalam. Kiran tampak merasa sangat


bersalah mendengar penuturan Agra.


"Sekali lagi maaf.."


Lirih Kiran bergetar, tubuhnya kini mulai


tegang karena wajah Agra semakin mendekat. Bagaimana dia bisa tahan sekarang..laki-laki


yang selama tiga hari sudah menyiksa bathin


nya saat ini ada di hadapannya.


Agra membuka topi penutup wajah nya hingga


kini wajah tampan berkharisma itu terpampang


nyata di depan mata Kiran yang membuat hati


nya kembali bergetar hebat .


"Apa kau merindukan ku sayang.?"


Pertanyaan Agra membuat wajah Kiran bersemu


merah, hatinya semakin meronta saat mendengar


kata sayang yang terucap dari bibir laki-laki itu.


Apa yang ada di dalam hatinya saat ini, hingga


membuat jiwanya seakan sulit untuk di kontrol.


"Tidak..! a-aku hanya merasa bersalah karena


pergi darimu tanpa kejelasan.."


"Jangan bohong..aku tahu kau merindukan ku.!"


"Tidak, itu tidak benar.."


"Oya..? tapi aku melihatnya dengan jelas di matamu.!"


"Agra..itu tidak benar aa..!"


Dalam sekali gerakan Agra mengangkat tubuh


ramping Kiran di dudukkan diatas meja kerja


kemudian dia meraih pinggangnya, membelit


nya kuat hingga kini tubuh mereka merapat.


Jantung Kiran saat ini berpacu dengan kencang.


Matanya menatap dalam wajah tampan Agra


yang terlihat begitu sempurna.


Perlahan tangan Agra meraih dagu indah Kiran,


matanya kini sudah mengunci bibir ranum istri


nya itu yang sudah membuat jiwanya gelisah


selama beberapa hari ini.


"Kau sangat merindukan ku Kiran..karena aku


juga merasakannya.!"


Bisik Agra dengan suara sedikit serak, jantung


Kiran kian bergelombang. Belum juga dia dapat


menguasai dirinya, bibir Agra sudah menyergap bibirnya, ********** lembut dengan gerakan


yang sangat halus namun terkesan begitu kuat. Semakin lama ciuman itu semakin intens, Kiran


mulai membalas dengan sama panasnya


membuat Agra semakin menekan hingga


akhirnya ciumannya berubah liar dan memburu.


Tubuh Kiran lemas seketika, angannya langsung


melayang, laki-laki ini seolah memiliki magnet


kuat yang membuat dia tidak berdaya untuk


menolak segala perlakuannya. Dia juga tidak


ingin munafik, sesungguhnya dirinya pun sangat menginginkan sentuhan lembut suaminya ini.


Keduanya terhanyut dalam ciuman lembut dan


panas di penuhi oleh dorongan hasrat yang kini


mulai menguasai diri mereka. Ada keinginan


aneh yang kini mulai membakar aliran darah


Kiran, namun dia berusaha untuk menguasai


dirinya. Ciuman mereka terlepas sebentar


untuk mengambil oksigen kemudian berlanjut semakin panas dan membara.


Agra melepaskan pagutannya, namun kini bibir


nya mulai bergerilya ke tempat yang lebih intim.


Bibir Agra mulai turun memberikan sentuhan


lembut di sekitar leher jenjang Kiran membuat


darah Kiran semakin terbakar. Tanpa sadar


tangan nya meremas kuat rambut Agra karena


tidak tahan dengan dorongan hasrat yang kini


semakin menguasai dirinya. Namun di saat


aksi liar Agra semakin tidak terkendali Kiran


segera mendorong halus tubuh suaminya itu.


Keduanya saling pandang kuat dengan napas


yang masih memburu.


Agra kembali ******* lembut bibir Kiran sebelum


dia mengakhiri permainan panasnya.


"Kapan kau akan memberiku izin untuk memiliki


dirimu seutuhnya sayang..?"


Bisik Agra masih berusaha mengontrol dirinya.


Jemarinya mengusap lembut bibir merah Kiran


yang terlihat seksi dan menggairahkan akibat


aksinya tadi. Wajah Kiran sontak saja di penuhi semburat merah membuat Agra tidak tahan dia mencium pipi kemerahan itu bergantian, Kiran


kembali mendorong dada Agra sambil menutup


wajahnya dengan kedua tangannya. Rasa malu


kini sudah mengubur dirinya dalam-dalam.


Kenapa Agra harus bertanya begitu.??


"Agra.. sudah..! Ada yang ingin aku bicarakan


denganmu, serius.!"


Ucap Kiran, Agra tampak terdiam, menatap tajam


wajah Kiran yang terlihat serius.


"Baiklah..ayo kita bicara.! "


Agra memangku tubuh Kiran di bawa turun dari


atas meja, kemudian dia merapihkan pakaian


semi formal Kiran yang terlihat sedikit kusut


karena ulahnya barusan. Setelah itu dia meraih


tas milik Kiran di ujung meja, kemudian memakai kembali kacamata dan topinya.


Kiran hanya bisa melongo melihat apa yang di


lakukan oleh suaminya itu.


"Apa yang kau lakukan.?"


Tanya Kiran saat Agra menggengam tangan nya.


"Kita akan bicara sambil makan siang..!"


"Tapi satu jam lagi aku ada pertemuan..!"


"Kita akan langsung berangkat dari restauran.!"


"Agra tidak bisa begitu, aku..!"


"Kau perintahkan sekretaris mu untuk datang


menyusul kesana tepat waktu. "


Kiran hanya bisa menganga seraya mengikuti


langkah Agra keluar ruangan. Tiba di ruangan sekretaris, Lia dan Sari tampak menatap heran


kearah Kiran yang di tarik tangannya oleh Agra.


Ada apa ini, siapa pria dengan setelan preman


itu.? apa dia pria spesialnya bos baru mereka.?


Tapi.. kalau di lihat dari segi penampilan sangat


jauh berbeda dengan Tuan muda Wiranata yang


Agra kembali menyembunyikan separuh muka


nya di balik topi dan kacamatanya. Dia terlihat


acuh dan santai, tidak peduli pada tatapan


ketertarikan dua sekretaris istrinya itu.


"Lia..saya akan keluar sekarang. Nanti kamu


langsung menyusul ke tempat pertemuan saja.


Saya tunggu di sana ya."


Titah Kiran sambil menatap tajam dua sekretaris


nya yang terlihat sedang mencuri pandang kearah Agra dengan tatapan yang begitu terpesona.


"Ohh.. ba-baik Bu.. nanti saya menyusul kesana."


Sahut Lia gugup sambil menunduk, namun dia


kembali mencuri pandang kearah Agra membuat


Kiran geram sendiri.


"Ingat Lia, jangan sampai telat.!"


Ketus Kiran kesal melihat dua sekretaris nya itu


seakan sudah melupakan tata krama.


"Baik Bu Kiran.."


Lia mengangguk meyakinkan, Agra tampak tidak


sabar dia kembali menarik tangan Kiran membuat


dua sekretaris itu semakin di buat melongo saat


melihat Agra menggandeng Kiran meninggalkan


ruangan lantai teratas di gedung itu.


"Siapa sih pria itu.?".


Gumam Lia dengan tatapan tidak lepas dari dua


sosok itu yang semakin menjauh.


"Entahlah..tapi yang jelas, pria itu sangat berbeda.


Dia laki-laki istimewa yang susah di temukan di


zaman sekarang ini.!"


Sahut Sari dengan mata berbinar.


"Kamu benar, sayang nya dia itu pria nya bos kita.! Ternyata selera Bu Kiran cukup nyentrik juga ya.."


"Sudah sudah..! kita harus tutup mulut sekarang.


Itu adalah urusan bos kita.!"


Debat Sari sambil kembali ke meja kerjanya.


Mereka berdua melanjutkan kesibukan nya


yang tadi sempat tertunda.


Sementara pasangan itu saat ini sudah ada di


dalam lift. Agra kembali menarik tubuh indah


istrinya itu ke dalam dekapan hangat nya.


"Agra..ini di dalam lift.."


Desis Kiran, dia berusaha untuk menarik dirinya


dari rengkuhan kuat suaminya itu.


"Lalu kenapa.? tidak ada orang lain di sini."


Sahut Agra semakin mempererat pelukannya.


Tidak ada lagi sanggahan dari mulut Kiran, dia


terdiam dalam dekapan Agra, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.


Peduli amat dengan dunia, yang dia tahu saat ini dirinya sangat bahagia bisa berada dalam pelukan hangat laki-laki ini. Jiwanya terasa begitu tentram


dan damai ada dalam perlindungannya. Berbagai


peristiwa mengerikan pernah mereka alami


bersama hingga jiwa keduanya kini seolah


sudah terikat dan terhubung satu sama lain.


Namun ketika dia ingat perjanjian kesepakatan


antara Ayahnya dengan Nathan hatinya tiba-tiba


menjadi resah.Tidak ! dia tidak ingin kebahagiaan


ini hilang begitu saja, dia sudah merasa nyaman


saat ini bersama dengan sosok pengawalnya ini


yang notabenenya adalah suaminya. Dia benar-


benar tidak peduli status Agra walau dia hanya


seorang bodyguard sekalipun.


Tiba di parkiran khusus...


Kiran menatap diam sebuah mobil sport mewah


keluaran terbaru yang telah terparkir di basement.


Supir pribadi ayahnya yang tadi pagi mengantar


nya tampak berdiri menunduk di dekat mobilnya.


"Ayo masuk.."


Agra membukakan pintu mobil itu sambil berdiri


santai dengan wajah datarnya. Alis Kiran bertaut.


"Mobil siapa ini.? kenapa kamu bisa memakai


nya.? kau tidak mencurinya kan.?"


Wajah Agra berubah geli, menatap gemas kearah


Kiran yang masih berdiri mematung.


"Apa aku punya tampang sebagai pencuri.?"


Kesalnya, Kiran tersenyum tipis, menatap lembut


wajah Agra yang terlihat memalingkan wajahnya.


Sebenarnya dia tidak bermaksud merendahkan


suaminya itu, tapi mobil mewah ini.? bahkan


keluarga nya pun tidak akan berani membeli


nya karena itu akan menguras keuangan nya.


"Maaf..aku tidak bermaksud begitu..!"


"Aku ini suamimu Kiran, apa kamu tidak percaya


padaku.?"


"Tidak, bukan begitu Agra.."


"Kalau begitu masuklah, jangan banyak tanya.!"


"Tapi mobil ini.."


"Kau ini cerewet sekali, aku meminjamnya.!"


Dengus Agra sambil kemudian mengangkat


tubuh Kiran yang terkejut sesaat, dengan hati-


hati Agra mendudukkan Kiran, tapi dia belum


beranjak, wajah dan tubuh nya kini merapat


di hadapan Kiran yang menjauhkan dirinya.


Kedua mata mereka saling menatap kuat.


"Kelihatannya kau sangat suka di paksa.!"


Desis Agra sambil mendekatkan bibirnya.


"Agra.. sudah hentikan, ini di tempat terbuka.!"


"Memang nya kenapa.? aku bebas melakukan


apapun padamu !"


"Agraa..aku mohon..eemhh..!"


Agra sudah membungkam bibir Kiran dengan


memagut nya lembut membuat Kiran terkejut


melebarkan matanya. Agra segera melepaskan


ciuman liarnya dengan tersenyum tipis sambil


kemudian melangkah santai menuju ke balik


kemudi. Pintu tertutup otomatis bersamaan


dengan mesin mobil yang mulai menyala.


Kiran menatap sekilas kearah Agra dengan


perasaan dongkol, namun pria itu tampak acuh


saja mulai melajukan mobil mewahnya.


------ ------


Kiran kembali di buat heran saat Agra membawa


dirinya ke sebuah restauran mewah yang ada di


pusat kota. Restauran yang hanya bisa di datangi


oleh kalangan berdompet tebal saja.


"Apa kita tidak salah datang..?"


Kiran melangkah ragu saat Agra menggandeng


nya dengan langkah tegap dan tenang.


"Tidak..! sekali-sekali datang ke tempat seperti


ini tidak ada salahnya kan.?"


"Tapi Agra..aku tidak ingin kau menghamburkan


uang hanya untuk mengisi perut seperti ini.!"


Agra menghentikan langkahnya, menatap datar


wajah cantik istrinya itu. Cintanya kini sudah


semakin tidak terukur melihat sikap sederhana


wanita itu.


"Panen kita kemarin lumayan mendapat banyak keuntungan.Tidak ada salahnya bukan kalau kita merayakan nya sekarang."


Kiran menatap wajah Agra dengan segudang


rasa penasaran atas kelanjutan informasi


tentang perkebunannya.


"Baiklah..kita akan membicarakan semuanya


sekarang.!"


Kiran kembali melangkah sambil bergandengan


tangan dengan Agra. Saat ini dia seakan lupa


terhadap segala kerumitan hidupnya. Bersama


dengan suaminya ini , semua beban hidup


seolah terangkat tanpa sisa.


"Silahkan Tuan..kami sudah menyiapkan semua


nya sesuai dengan pesanan anda."


Sambut manager restauran sambil membungkuk


dalam di hadapan Agra tidak berani mengangkat


wajah walau sedikit. Kiran hanya bisa menautkan


alis melihat sikap berlebihan manager restauran


itu. Keduanya masuk ke dalam ruang VVIP. Kiran hanya bisa terdiam saat melihat bermacam


hidangan telah tersedia di meja.


Keduanya duduk berdampingan menghadap


meja. Kiran menatap bingung semua makanan


yang ada di hadapannya.


"Aku sudah sangat lapar Kiran.."


Agra duduk tumpang kaki, menatap tajam wajah


Kiran yang baru menyadari kalau dirinya dari tadi


hanya terdiam saja.


"Maafkan aku Tuan Agra..tapi apa ini tidak


berlebihan.?"


"Nikmati saja apa yang ada di hadapan kita saat


ini, jangan banyak berpikir.!"


"Baiklah.. terserah kau saja.!"


Sahut Kiran dengan tersenyum kecut. Dia mulai


bergerak mengambil makanan di taruh di piring


Agra, setelah itu mendekatkan ke hadapan nya.


Tapi pria itu bergeming, Kiran melirik, menatap


wajah Agra yang kini sudah tidak tertutupi topi


lagi. Agra tampak balik menatap nya dengan


senyum penuh arti.


"Dasar manja..!"


Ketus Kiran mulai menyendok makanan itu


kemudian di dekatkan ke mulut Agra yang


langsung menerimanya dengan senyum puas.


Namun tidak lama kemudian dia makan sendiri


karena Kiran hanya sibuk saja menyuapi dirinya


tanpa ada makanan yang masuk ke perutnya.


Tiba-tiba manager restauran masuk dengan


wajah tidak enak, dia terlihat bingung. Saat ini


ada kegaduhan di luar ruangan.


"Ada apa di luar.?"


Tanya Agra dengan wajah yang berubah sangat


dingin, rahang tegas nya tampak mengeras.


"Ma-maaf Tuan..di..di luar ada Nona Mikhayla


memaksa ingin bertemu dengan anda..!"


Jawab manager restauran gugup. Rahang Agra


semakin mengeras, tangannya terkepal kuat.


Dia melirik sekilas kearah Kiran yang saat ini


juga sedang menatapnya curiga.


"Mikhayla, siapa dia.?"


Tanya Kiran dengan tatapan penuh tanda tanya.


Hatinya tiba-tiba saja tidak nyaman melihat Agra


tampak kesal saat ini..


 


***********


 


TBC....