Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
32. Terpaksa Menginap


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Agra berjalan masuk lewat pintu khusus menuju


ke dalam rumah utama. Namun kini Kiran mulai


merasakan sesuatu yang janggal.


"Agra..kita mau kemana ? rumah siapa ini ?


kenapa kamu tidak membawaku ke mobil.?"


Agra terkesiap, dia menghentikan langkahnya.


Mata mereka bertemu, saling pandang dalam


diam. Otak Agra berpikir dengan cepat.


"Bawa aku pulang ke rumah ayah."


Pinta Kiran seraya kembali merebahkan kepala


nya di dada Agra.


"Bagaimana kalau kita menginap di sini malam


ini, besok pagi aku akan mengantar mu pulang."


Kiran mendongakkan kepala, wajahnya terlihat


tidak nyaman.


"Kenapa kita menginap di sini.? memangnya


rumah ini hotel, kau ini ada-ada saja.!"


Sudut bibir Agra terangkat kuat menahan geli


campur gemas melihat sikap polos nya Kiran.


"Kita sudah mendapatkan izin untuk menginap


di sini malam ini.!"


"Ini rumah orang..kita hanyalah orang asing di


sini, rasanya tidak pantas bagi kita untuk berada


di rumah semewah ini, aku ingin pulang saja !"


Lirih Kiran yang membuat jantung Agra terasa


teriris. Bagaimana cara dia memberitahu Kiran


tentang jati dirinya, ketakutan Agra akan reaksi


penolakan Kiran membuat dia tidak berani untuk


berterus terang saat ini, dia masih butuh waktu.


Agra melirik kearah Pak Hans yang kini sudah


memahami semua nya hanya dari tangkapan


percakapan mereka berdua saja. Dia tampak


mengangguk kearah Agra.


"Nona mohon maaf sebelumnya..saya mendapat


perintah langsung dari Nyonya besar bahwa untuk


malam ini Nona di sarankan menginap di sini.!"


Kiran menatap Pak Hans dan Agra bergantian.


Kepalanya tiba-tiba saja kembali terasa pening,


dia memejamkan matanya kuat membuat Agra


semakin mempererat dekapannya.


"Kau harus segera beristirahat.. sebaiknya kita


menginap saja di sini. Kamu juga belum bertemu dengan nya bukan ?"


Agra kembali menambahkan untuk menahan keinginan Kiran, akhirnya Kiran mengangguk


pasrah karena kondisinya tubuhnya juga tidak


memungkinkan bagi dia untuk kembali ke rumah.


"Baiklah terserah kau saja.. aku mau tidur di


mana pun asalkan bersama mu."


Ucap Kiran dengan samar karena rasa kantuk


kini sudah menderanya, dia seakan tidak bisa


lagi membuka matanya. Hati Agra menghangat,


jantung nya semakin tidak terkendali saat ini.


Apakah malam ini dia benar-benar bisa berada


di dekat istrinya ini.? setelah selama ini hanya


bisa bersamanya dalam jarak dan batas


tertentu saja.!


Agra tersenyum puas, dia kembali melangkah


menuju sebuah lift khusus yang akan membawa


nya langsung ke lantai paling atas dimana kamar pribadinya berada. Di belakang nya Pak Hans


beserta Dokter Rey setia mengikuti.


Dalam waktu kurang dari satu menit Agra sudah


berada di lantai 4 rumahnya yang hanya terdapat kamar pribadinya saja. Di sudut ruangan ada


tangga unik menuju langsung ke rooftop berisi


taman buatan yang sangat indah, cocok sebagai


tempat bersantai mencari angin dan ketenangan.


Di dua lantai ini tidak sembarang orang bisa


datang ke sana selain pelayan yang memang


sudah memiliki izin khusus.


Agra masuk ke dalam kamar super besar,


super mewah dan super canggih nya dengan


segala fasilitas lengkap serta furniture yang


serba lux. Untuk bisa masuk ke dalam kamar


ini perlu scan wajah terlebih dahulu.


Dengan hati-hati dia membaringkan tubuh


lemah Kiran di atas bed king size. Kemudian


duduk di samping nya, menatap tenang wajah


cantik Kiran yang terpejam rapat, sepertinya


obat tidur yang di minumnya kini sudah


benar-benar bekerja.


"Panggilkan Tata kesini.!"


Titah Agra yang langsung di angguki oleh Pak


Hans. Pria setengah baya itu beranjak menuju


ke sudut kanan ruangan mendekati telepon


khusus yang menempel di dinding. Dia segera


menghubungi wakil kepala pelayan.


"Rey berikan suntikan itu sekarang.!"


Agra berpaling pada Dokter Rey yang masih


berdiri mematung menikmati kemewahan


yang tersuguh di dalam kamar itu. Dokter Rey


segera mendekat, menyiapkan alat injeksi nya.


Agra mengusap lembut kening Kiran, matanya


menatap dingin luka perban di pelipis istrinya


itu. Mata Kiran tetap terpejam rapat seakan


enggan untuk terbuka, tapi tangannya masih


memegang kuat tangan Agra.


"Agra jangan pergi.. jangan meninggalkan ku."


Lirih Kiran saat dokter Rey mulai mengoleskan


cairan anestesi di pangkal lengan nya. Agra


meraih tubuh Kiran ke dalam dekapannya


berusaha memberinya kenyamanan.


"Aku disini Kiran..aku akan selalu bersamamu,


menjagamu selamanya.."


Bisik Agra lembut di telinga Kiran. Dokter Rey


dan Pak Hans melongo mematung melihat apa


yang di lakukan dan terucap dari bibir Agra.


Sepertinya dunia akan segera berakhir.!


"Apalagi yang kau tunggu.?"


Geram Agra menatap kesal kearah dokter Rey


yang terlonjak kaget dengan wajah memerah.


Dia menelan ludahnya kasar, lalu mendekat.


Kemudian segera melakukan penyuntikan cairan


obat khusus ke tangan Kiran membuat gadis itu


langsung meringis seraya membuka matanya


karena memang proses ini menimbulkan sedikit


rasa sakit yang cukup menggigit.


"Aaa...sakiiitt..apa ini Agraa.."


Gumam Kiran sambil mencengkram kuat


pergelangan tangan Agra menahan rasa sakit


yang menggigit di tangannya.


"Tahan sayang..ini hanya sebentar.."


Bisik Agra seraya mempererat dekapannya.


Kiran menyembunyikan wajahnya di dada Agra


dengan cengkraman tangan yang semakin


kuat. Pak Hans hanya bisa menatap Tuan dan


gadis nya itu dengan hati yang dipenuhi oleh


tanda tanya.


Setelah beberapa saat akhirnya rasa sakit itu


menghilang, Kiran kembali memejamkan mata


nya,rasa kantuk yang di rasakannya langsung


membawa dirinya ke dalam alam bawah sadar.


Dia terlelap dalam tidur tenangnya.


Perlahan Agra kembali membaringkan tubuh


Kiran dengan posisi senyaman mungkin. Dia


segera bangkit, berdiri di samping tempat


tidur, matanya tidak lepas mengamati keadaan


Kiran yang terlihat mulai tenang.


Tidak lama wakil kepala pelayan atau Tata


masuk ke dalam kamar, langsung menghadap


Agra yang masih berdiri di posisi yang sama.


"Tuan.. apa yang harus saya lakukan.?"


Tata menunduk dalam di hadapan Agra.


"Kalian bertiga dengarkan aku baik-baik. Aku


minta buang jauh-jauh pikiran buruk kalian


terhadap nya.!"


Agra membagi tatapan tajam terhadap tiga


orang kepercayaan di istana nya itu. Mereka


tampak semakin menunduk dalam.


"Karena..dia adalah istri sah ku.!"


"Istri Tuan.??"


Ketiga orang itu serempak berucap, terkejut


bukan main. Wajah mereka berubah pucat pasi. Benar-benar tidak bisa mempercayai apa yang


di dengarnya.


"Iya..dia adalah Evanindhia Sashikirana..


putrinya Zein Mahesa..istriku.! seperti yang


aku inginkan selama ini.!"


"Mohon maaf Tuan.. apakah Nona Kiran yang


selama ini anda cari-cari.?"


Pak Hans harus menuntaskan rasa penasaran


nya agar semuanya menjadi jelas. Agra menarik


napas panjang.


"Iya..dia adalah bunga sakura ku.! aku sudah


menemukannya.! aku menikahi nya karena


satu insiden tak terduga.!"


Ucapnya membuat ketiga orang itu semakin


terkejut. Ketiganya saling pandang dalam


diam, kemudian melirik kearah Kiran yang


sedang terlelap dengan tenang.


"Tata..kau gantilah pakaian nya dengan


yang sudah kau siapkan selama ini.!"


"Baik Tuan.."


Sambut Tata dengan senang hati. Mereka


bertiga terlihat sangat antusias mendapati


kenyataan ini. Karena apa yang di cari oleh


Tuan nya selama ini akhirnya di temukan


bahkan keduanya langsung di satukan dalam


satu ikatan pernikahan walaupun semua


nya terjadi di luar rencana.


------- -------


Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam..


Agra keluar dari dalam kamar ganti dengan


setelan santai nya. Rambut nya terlihat masih


sedikit basah dan berantakan. Dia beranjak


kearah meja kerja nya yang ada di sudut ruang


kamarnya menghadap jendela besar yang bisa


melihat keindahan taman depan istana nya


sekaligus memantau gerbang depan.


Agra berdiri di sisi kaca besar, melipat kedua


tangan di dadanya, merenungkan sesuatu.


Harus di mulai darimana dia memberitahu


tentang dirinya pada Kiran.? apakah sekarang


ini waktu yang tepat ? tidak ! untuk saat ini


Kiran tidak akan bisa menerima nya. Wanita


sedang berada dalam belitan masalah


perusahaan ayahnya, dan dirinya harus


semuanya agar Kiran bisa segera di tarik


kedalam kehidupan nya, seutuhnya.


Setelah cukup lama merenung, Agra beranjak


menuju tempat tidur, kemudian berdiri sebentar


di sisi ranjang. Matanya saat ini terpaku pada


sosok cantik jelita yang sedang meringkuk


lucu bak kucing manis yang kedinginan.


Agra merasakan ada sedikit ketegangan saat


melihat bagaimana indahnya tubuh Kiran yang


tersembunyi di balik gaun sutra panjang yang


sedikit menerawang hingga lekuk tubuh nya


yang begitu menggiurkan nampak jelas. Agra


menelan saliva nya berat. Ada dorongan hasrat


yang kini mulai naik menguasai tubuh nya saat


melihat Kiran mengubah posisi tubuh nya


menjadi terlentang. Darah nya mulai terbakar.


Agra menarik napas dalam-dalam mencoba


mengontrol hasratnya dan menguasai dirinya.


Dengan sedikit ragu dia naik ke atas tempat


tidur, membaringkan tubuhnya di samping


Kiran. Aroma wangi jasmine lembut yang


menguar dari tubuh Kiran membuat Agra


kembali kesulitan mengontrol dirinya.


"Kiran.. sampai kapan kamu akan menyiksaku


seperti ini..! mana bisa aku menahan diri saat


berada di dekatmu seperti ini !"


Desis Agra geram sendiri. Dia memiringkan


badannya menghadap kearah Kiran, kemudian


menarik tubuh halus lembut istrinya itu ke


dalam dekapan hangatnya dengan sangat hati-


hati, memeluknya erat seraya memejamkan


mata mencoba meredam segala hasrat yang


kini semakin naik dan meronta.


Tanpa ampun tubuh bagian bawahnya kini


sudah bangun dengan sempurna. Agra


merutuki diri sendiri karena tidak bisa


menahan hasratnya.


Dia membuka matanya, menatap lekat setiap


detail wajah cantik Kiran yang begitu sempurna dengan segala kelebihan dan daya tarik luar


biasa nya hingga mampu membuat dirinya


begitu memuja dan tergila-gila pada nya.


"Aku sangat mencintaimu Kiran..aku sudah


jatuh cinta bahkan di saat usiamu baru


menginjak 8 tahun..itu adalah satu hal gila


yang pernah terjadi di dalam hidupku..!"


Bisik Agra sambil kembali mendekap erat


tubuh Kiran, melingkarkan tangan kokohnya


di pinggang ramping gadis itu, semakin lama


semakin erat.


"Agraa...aku kesulitan bernapas..!"


Deg !


Jantung Agra serasa mau meloncat saat ini,


dia membuka mata, melonggarkan pelukan


nya, kemudian menatap Kiran yang sedang


mendongakkan kepala, kedua mata mereka


bertemu dalam sorot mata yang sama-sama


menahan sebuah gejolak perasaan.


"Kau bangun..apa yang kau rasakan sekarang.?"


Tangan Agra meraba kening Kiran yang kini


sudah bersuhu normal kembali.


"Aku merasa lebih baik sekarang. Sudah tidak


merasakan sakit apapun.!"


Lirih Kiran seraya tersenyum lembut membuat


hati Agra semakin tidak terkendali.


"Syukurlah kalau begitu..kau jangan pernah


lagi membuatku cemas."


"Maafkan aku.."


Agra mencium kening Kiran lama, setelah itu


keduanya saling pandang dalam diam. Ada


kabut hasrat yang masih menguasai diri Agra


membuat tubuh Kiran menegang.


"Kau darimana saja tadi siang..? kenapa tidak


datang menjemput ku.?"


Kiran mencoba mencairkan ketegangan.


"Aku ada urusan yang cukup penting. Maaf


karena aku kamu harus mengalami semua


ini.! "


"Aku yang harusnya minta maaf padamu.."


"Aku tidak akan mengampuni pria itu.!"


Kiran mengernyitkan alisnya, ada sejumput


pertanyaan yang dari tadi menggangu hatinya.


"Apa kau yang mengirim dua orang itu?"


"Iya.. mereka adalah bawahan ku.!"


"Siapa kau sebenarnya..?"


Jantung Agra kembali seakan tertumbuk benda


keras. Dia mengerjapkan matanya. Keduanya


saling menatap kuat, tangan Agra bergerak


mengelus lembut pelipis Kiran yang terluka.


"Apa kau tidak akan kecewa saat mengetahui


siapa aku sebenarnya.?"


Kiran terdiam, menatap lekat wajah tampan


Agra yang saat ini terlihat begitu mempesona. Bagaimana bisa seorang pengawal rendahan


memiliki rupa begini tampan.!


"Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan


dariku.? kau berbohong padaku.?"


Pertanyaan Kiran membuat Agra semakin


merasa tersudut, tatapan mata indah Kiran


membuat hatinya semakin dilema.


"Aku tidak pernah membohongi mu, yang


kamu tahu aku adalah pengawalmu dan


itulah kenyataannya.."


Ada seulas senyum yang tercipta di bibir


Kiran saat mengingat kenangan nya bersama


Agra selama di desa.


"Apa sekarang kau sudah bisa menerima ku


sebagai suamimu.?"


Wajah Kiran tiba-tiba saja memerah, tangan


Agra meraih dagu Kiran, mata mereka kembali


bertemu dalam hasrat yang sama-sama


melonjak naik.


"Agra..ada hal yang harus kita bicarakan


terlebih dahulu, ini sangat penting.!"


"Kau tidak perlu mengatakan apapun, aku


sudah tahu semuanya tentang laki-laki


brengsek itu.!"


Mata Kiran menatap tidak percaya, bibirnya


tampak terbuka sedikit, dan hal itu membuat


Agra tidak tahan lagi, dia segera menyambar


bibir ranum Kiran, ********** lembut penuh


dengan perasaan. Kiran terkejut sesaat, namun


tidak lama dia pun ikut larut, keduanya terhanyut dalam ciuman lembut dan manis yang semakin


lama semakin panas.


Agra semakin memperdalam ciumannya


dengan menekan dan menjelajah masuk


membuat Kiran membalasnya dengan sama panasnya. Keduanya semakin larut dalam


gairah yang semakin lama semakin membara, decakan erotis penuh kenikmatan mewarnai


suasana malam yang sepi dan dingin dalam


kamar super mewah itu.


Bibir Agra kini sudah mulai menjelajahi leher


jenjang Kiran, memberikan sentuhan lembut


di sana, menggigit kecil mencoba meninggalkan


jejak kepemilikan.Tangannya mulai bergerilya


di sekitar perut Kiran naik ke bagian dada


membuat tubuh Kiran kian menegang, namun


dia seolah tidak ingin berhenti dari semua


sensasi kenikmatan ini. Sentuhan lembut Agra membuat jiwanya melayang ke awan.


"Aakkhh..Agraa..."


Suara desahan lembut keluar dari mulut Kiran


saat tangan Agra menyentuh dua bukit kembar


nya, tubuh mereka semakin tegang, aliran darah


keduanya semakin terbakar. Perlahan tangan


Agra meraih benda sintal itu membuat Kiran


seperti tersengat aliran listrik. Dia segera


menahan tangan Agra, ciuman Agra di leher


Kiran terlepas, mata mereka bertemu. Kiran


menggeleng lemah dengan sedikit merasa


bersalah, saat ini dirinya memang belum bisa


menyerahkan segala kehormatan nya pada


Agra, bukan tidak mau, dia hanya belum siap.


"Apa kau tidak percaya padaku sayang..?"


Suara Agra terdengar sangat berat karena


masih mencoba meredam gejolak hasratnya.


"A-aku.. percaya sepenuhnya padamu..aku


hanya belum siap Agra..maaf..!"


Agra menghembuskan napas kasar, kemudian


melepaskan Kiran dari kurungannya. Wajah


nya terlihat kecewa, tapi dia juga mengerti


apa yang di ragukan Kiran, mungkin memang


belum saatnya mereka bersatu seutuhnya.


"Baiklah..aku mengerti..aku akan selalu sabar


menanti saatnya tiba..!"


Lirih Agra sambil kembali membelai wajah


bening mulus Kiran yang tersenyum gusar.


"Apa kau lapar.?"


Tanya Agra saat menyadari belum ada


makanan yang masuk ke perut istrinya itu.


"Tidak ! tubuhku baik-baik saja, kau tidak usah


khawatir seperti itu.!"


Sanggah Kiran sambil memegang tangan Agra


saat menyadari laki-laki itu bergerak untuk


turun dari tempat tidur.


"Tapi kau belum makan dari tadi siang Kiran.."


"Memangnya kita berada di mana Agra.? saat


ini kita sedang berada di rumah orang.!"


Agra terdiam, hatinya kembali terasa perih.


Kau ada di rumahku Kiran, rumahmu juga.!


Agra menarik napas pelan mencoba untuk


membuang ganjalan yang menyesakkan


dadanya.


"Baiklah.. kalau begitu kita tidur sekarang."


Ucap Agra sambil kembali merengkuh tubuh


Kiran kedalam pelukannya. Keduanya mencoba


untuk memejamkan mata walau percikan gairah


itu masih saja memanaskan aliran darah mereka. Perlahan tangan Kiran melingkar di punggung


kokoh Agra membuat pria itu sekuat tenaga


menekan segala hasrat dan keinginannya.


Malam semakin larut membawa setiap mahluk


yang sudah tenggelam kedalam alam bawah


sadarnya menuju dunia mimpi yang terkadang


membuat orang bisa mencapai apa yang tidak


bisa di raihnya dalam dunia nyata..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*