Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
2. Permohonan


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Pintu kamar Kiran terus saja di ketuk dari luar


tiada henti. Cukup sudah.! tidak ada lagi air


mata yang musti keluar mulai detik ini.! bathin


Kiran seraya menghembuskan napasnya pelan


mencoba membuang semua rasa sesak yang


masih saja memenuhi dadanya.


Dengan tubuh yang terasa lemas dia berjalan


kearah pintu, kemudian membukanya. Wajah


sang ibu tampak cemas saat melihat putri


sambung nya itu bermata sembab, hidungnya


sedikit memerah, Kiran yang biasanya selalu


ceria, menebar senyum penuh keceriaan di


setiap kesempatan kini terlihat kacau.!


"Ada apa Kiran sayang ? dari tadi siang kamu


tidak pernah keluar dari kamar.?"


Nyonya Amelia mengelus lembut wajah Kiran


yang langsung merangkul dan memeluk erat


tubuh ibunya itu.


"Ada apa sebenarnya ? apa kamu sedang ada


masalah dengan bos mu itu.? dari tadi dia ada


di ruang tamu menunggumu sayang."


Tubuh Kiran sedikit menegang. Mau apalagi


pria brengsek itu datang kesini.? Dia segera


melepaskan pelukannya kemudian menatap


wajah teduh sang ibu.


"Apa ibu bisa bilang padanya kalau Kiran sedang


tidak ingin di ganggu saat ini.?"


Pinta nya namun sedikit ragu. Nyonya Amelia


tersenyum lembut seraya memegang tangan


Kiran dan mengusapnya lembut.


"Menurut ibu sebaiknya kamu temui dia,


selesaikan baik-baik kalau kalian ada masalah,


jangan menghindarinya, itu bukanlah solusi."


Saran Nyonya Amelia dengan bijak. Kiran nampak


terdiam menimbang-nimbang, sampai akhirnya


dia mengangguk pelan.


"Baiklah Kiran turun sekarang."


Lirihnya, Nyonya Amelia tersenyum lembut


seraya mengelus rambut Kiran penuh sayang.


"Jangan terbawa emosi."


Dia mengingatkan sambil melangkah pergi


dari hadapan Kiran.


Akhirnya mau tidak mau Kiran turun ke lantai


bawah langsung menuju ke ruang tamu. Nathan tampak langsung menegakkan badan nya begitu melihat kemunculan wanita yang di cintainya itu.


Matanya tampak berbinar, di tatapnya lekat wajah cantik Kiran yang saat ini terlihat sedikit pucat


dan tidak bersemangat itu.


Kiran memilih duduk di seberang Nathan dengan wajah datar tak berminat.


"Apa masih ada yang ingin anda sampaikan Tuan


Nathan ? surat resign akan saya kirim besok."


Suara Kiran terdengar dingin dan acuh membuat


hati Nathan terasa sakit. Dia beranjak dari kursi


nya mendekat kearah Kiran yang sontak bergeser menjauh. Wajah Nathan terlihat mulai memerah karena tidak terima dengan semua kebekuan Kiran.


"Kiran..aku mohon maafkan aku.! aku janji tidak


akan pernah lagi bermain api di luar sana. Aku


sangat mencintaimu, aku tak bisa jauh darimu.!"


Kiran melirik cepat, menatap jengah wajah Nathan


yang terlihat sangat serius dengan ucapannya.


Dia tersenyum getir masih menatap kearah laki-


laki yang sudah menghancurkan kepercayaan nya


itu. Kemudian menggelengkan kepalanya pelan.


"Apa kau tahu, kau sudah menghinaku dengan


semua pengkhianatan mu itu.? apa kau bisa


bayangkan bagaimana perasaan ku saat ini.?"


Suara Kiran terdengar tertekan dan berat. Nathan


menundukan kepalanya seraya menggeleng.


"Aku mengerti perasaan mu Kiran.."


"Kalau begitu kamu juga pasti mengerti, bahwa


saat ini aku hanya butuh ketenangan, aku butuh


waktu untuk menata kembali hatiku yang sudah


kamu hancurkan.! jadi aku mohon jangan lagi


kamu datang dan memohon padaku, karena itu


semua akan berakhir sia-sia saja.!"


Tegas Kiran sambil kemudian berdiri, bersamaan


di pintu masuk muncul Aryella yang baru saja


datang. Gadis bertubuh tinggi semampai itu


terlihat menatap kedua orang di hadapannya itu dengan sorot mata di penuhi kecemburuan tapi


juga ada sedikit rasa malu terhadap kakak tirinya.


Kiran menatap wajah Aryella sambil tersenyum


miring. Sementara Nathan terlihat semakin


merasa tertekan karena sepertinya Kiran saat


ini masih di penuhi oleh emosi.


Kiran menghampiri Aryella yang terlihat


berpaling muka tidak berani mengadu tatap


dengan mata indah kakak tirinya yang seolah


sedang menghakimi dirinya.


"Aku minta, hentikan semua keliaranmu ini


sebelum terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.!"


Desis Kiran seraya menatap tajam wajah adik


nya itu yang kini melirik cepat saat mendengar


ucapan Kiran.


"Aku tidak menyesali semua yang telah terjadi,


karena aku mencintai Tuan Nathan.!"


Kiran terhenyak sesaat, wajahnya terlihat sedikit


pias. Nathan tampak menundukan kepalanya.


"Kenapa kamu tidak pernah bilang padaku.?


Kenapa malah meraihnya di belakang ku.?"


Mata kedua kakak beradik itu beradu panas.


Aryella kembali memalingkan wajahnya.


"Memangnya kamu rela melepasnya untukku


kalau aku memintanya baik-baik ?"


Kiran kembali tersenyum tipis sambil menarik


napas berat. Nathan tampak hanya bisa melihat


kedua wanita yang sudah membuat pusing kepala


nya itu. Namun tatapannya tidak lepas dari wajah


Kiran yang sekilas melirik kearahnya.


"Kalau kalian berjodoh aku bisa apa.?"


Aryella terdiam, sementara Nathan tampak


semakin terpuruk.


"Aku sungguh kecewa padamu, kau sudah


mengkhianati seluruh keluarga dengan kelakuan


kotormu di luar sana, tolong..lihatlah ibu yang


sangat percaya padamu.!"


Ucap Kiran dengan suara pelan. Aryella menatap


tajam wajah Kiran seolah memberi ancaman


agar Kakaknya itu tidak berani buka mulut.


Kiran lagi-lagi hanya tersenyum getir.


"Aku permisi Tuan Nathan, semoga kalian bisa


segera mengakhiri semua dosa ini.! "


Ucap Kiran sambil kemudian melangkah pergi.


"Kiran..aku mohon dengarkan aku dulu..Kiran...!".


Seruan Nathan tidak di gubris oleh Kiran yang


terus berlalu ke lantai atas. Aryella menghampiri


Nathan dan memeluknya erat.


"Sudahlah Nathan..semua sudah terjadi.! dia itu


memang tidak cocok untukmu..!"


Nathan mendorong tubuh Aryella seraya menatap


tajam wajah gadis itu yang terlihat kecewa.


"Semua ini gara-gara kamu.! aku jadi kehilangan


Kiran ku, kau tahu, aku sangat mencintai nya.!"


"Tapi Nathan sayang.. bagaimana dengan aku


"Kau..! di mataku dirimu tidak lebih dari wanita


lain di luar sana yang berani melakukan apapun


hanya untuk mendapatkan ku.!"


Dengus Nathan sambil kemudian melangkah


keluar dari dalam rumah dengan wajah yang


di penuhi oleh kemarahan sekaligus rasa


kecewa atas semua yang terjadi.


******* *******


Setelah makan malam Kiran menemui Tuan


Zein di ruang kerjanya, kemudian mengutarakan


niatnya pada ayahnya itu.


Tuan Zein nampak terkejut setengah mati saat


mendengar permohonan putrinya itu. Dia menatap tidak percaya kearah putrinya yang terlihat sangat serius dengan apa yang di sampaikan nya barusan.


"Apa kau serius dengan ucapan mu barusan


Kiran, kau tidak sedang bercanda kan.?"


Tanya Tuan Zein berusaha untuk meyakinkan diri.


Apa yang terjadi, kenapa putri kesayangannya ini


tiba-tiba saja ingin pergi ke tempat yang sangat


jauh itu.? dan tempat itu bukanlah tempat yang


cocok untuk di kunjungi oleh putrinya itu.


"Tidak Ayah.. Kiran sangat serius.! tolong ijinkan


Kiran pergi ke sana.!"


"Tapi perkebunan kita itu sekarang.."


Tuan Zein terhenyak dalam diam. Bagaimana dia


mengatakan hal sebenarnya pada Kiran kalau


tempat itu sudah beralih tangan sekarang.


"Bukankah beberapa bulan lagi perkebunan kita


itu akan mendekati masa panen.? peran Kiran


akan sangat di butuhkan saat ini untuk menangani


masalah penjualan nya. Kiran tidak mau kita harus


kembali mengalami kerugian seperti masa-masa


kemarin.!"


Susul Kiran terlihat sangat antusias. Tuan Zein semakin di buat bingung. Alasan apa yang harus


dia lontarkan pada putrinya ini.


"Kiran..kau tahu tempat itu bukanlah tempat yang


cocok untukmu.! di sana tidak aman nak.!"


"Bukankah di sana banyak penjaga Ayah.? Kiran


bahkan masih ingat waktu kecil Pak Badar selalu


menjaga dan melindungi Kiran. Lagipula sekarang


kan jaman nya sudah berubah Yah, di sana pun


tentunya mengikuti perkembangan zaman.!"


"Kiran..! ayah tidak berani mengambil resiko


dengan mengirimmu ke tempat itu !"


"Ayah..Kiran mohon.! Kiran sangat ingin kesana.


Kiran butuh menenangkan diri di sana.! Kiran


tidak ingin bertemu dengan Nathan dulu. Kiran


sedang ada masalah dengan nya, Kiran mohon


ayah.. ijinkanlah Kiran pergi..!"


Tuan Zein tampak terdiam, jadi rupanya putri


nya itu sedang ada masalah pribadi. Selama


ini dia memang tidak pernah bisa menolak


setiap keinginan putrinya itu. Tapi apakah


dengan mengirim nya ke tempat itu adalah


tindakan yang benar ? lagipula perkebunan


miliknya itu kini sudah beralih tangan.


"Ayah..Kiran mohon..ijinkan Kiran pergi..! dan


ini hanya antara kita berdua saja yang tahu."


Kiran kembali memohon seraya memeluk


erat Tuan Zein dari samping. Laki-laki paruh


baya itu semakin tidak tega melihatnya. Dia


mengelus lembut puncak kepala putrinya itu.


"Baiklah..ayah akan mengatur semuanya.."


Akhirnya Tuan Zein memutuskan. Wajah Kiran


tampak berbinar. Dia semakin mempererat


pelukannya tidak lupa mendaratkan kecupan


lembut di pipi sang ayah.


"Terimakasih Yah.. besok juga Kiran sudah


harus berangkat. ! Kiran janji panen tahun ini


pasti akan berhasil di tangan Kiran, kita tidak


akan mengalami kerugian lagi..!"


Ucap Kiran setelah melepaskan pelukan nya.


Tuan Zein menatap lekat wajah cantik putrinya di


penuhi keraguan dan sedikit was-was. Dia harus


segera berkoordinasi dengan semua staf dan


orang-orang kepercayaannya di tempat itu.


Setelah kepergian Kiran dari ruang kerja, dengan


sedikit ragu Tuan Zein mencoba menghubungi


nomor seseorang.


"Hallo Tuan Bara.? apa saya bisa berbicara dengan


Tuan Bimantara, ini sangat mendesak..!"


"Apa anda tahu ini jam berapa Tuan Zein..?"


"Saya tahu Tuan Bara..saya mohon maaf.."


"Ada apa, cepat katakan.?"


Tuan Zein membeku saat tiba-tiba suara yang


dia dengar telah berubah menjadi sebuah suara


bariton yang berkharisma. Dia menelan salivanya


dengan susah payah karena gugup.


"Tuan Presdir.. saya mohon maaf sudah berani


menganggu waktu istirahat anda.!"


"Jangan bertele-tele, cepat katakan intinya.!"


"Be-begini Tuan..putri saya Kiran..!"


"Kiran..."


Tuan Zein kembali membeku saat suara di sebrang


sana memotong ucapan nya dengan cepat. Dia


semakin merasa gugup.


"Lanjutkan.!"


Perintah suara di sebrang sana.


"Baik Tuan, putri saya Kiran.. tiba-tiba saja


meminta untuk pergi ke perkebunan, dia ingin


menangani masa panen sekarang.! tapi saya


belum mengatakan semuanya pada putri saya."


Tuan Zein menjeda ucapannya mencoba untuk


mengambil napas. Tidak ada tanggapan dari


sebrang sana, namun Tuan Zein merasakan


ada aura mencekam yang kini terasa dari


keheningan suara di sebrang sana.


"Jadi Tuan..saya mohon ijinkan putri saya untuk


bekerja pada anda, sampai akhir masa panen."


"Atur saja semuanya seperti biasa.! pastikan


putrimu itu bekerja dengan baik.!"


"Baik Tuan.. terimakasih banyak.!"


"Jangan beritahu dulu putrimu yang sebenarnya.


Biarkan dia bekerja sepenuh hati, aku yakin dia


tidak menginginkan kerugian kembali menimpa


panen kali ini..!"


Tegas suara di sebrang sana membuat Tuan


Zein merenung sejenak.


"Baik Tuan, sekali lagi saya ucapkan terimakasih


banyak atas segala kemurahan hati anda."


Tidak ada jawaban dari sebrang sana, sambungan


telepon pun sudah terputus.


Tuan Zein menarik napas panjang. Keraguan


dan kecemasan kini menggelayuti hatinya, apakah


dia benar-benar akan membiarkan putrinya pergi


ke tempat itu.! Apakah Kiran akan mampu


menjalani hari-harinya di tempat yang jauh dari


hingar bingar dan keramaian kota besar.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....