Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
38. Menginginkan Lebih


 


**********


 


Hari ini suasana di gedung ZM Company rasanya


cukup berbeda, semua karyawan tampak lebih


sibuk dari biasanya. Kiran mengadakan meeting


dadakan untuk membahas tentang aliran dana


yang masuk dari pihak Bintang Group juga


tentang kemungkinan pengalihan sistem


kepemilikan saham perusahaan yang sekarang


secara tidak langsung sudah terikat dengan


perusahaan raksasa tersebut.


Sekitar jam 10 staf perusahaan kembali dibuat


sibuk dengan kedatangan pihak Bintang Group


yang di wakili oleh direktur keuangan dan


beberapa orang pengacara serta staf khusus


di bagian penanaman modal. Mereka semua


tampil begitu rapi, elegan dan berkelas dengan


segala ketenangan dan ketegasan yang terlihat


dari sikap dan caranya berbicara.


"Selamat datang Tuan-tuan.. silahkan.."


Kiran menyambut kedatangan mereka semua


seraya membungkuk sedikit dan mengatupkan


tangan. Untuk sesaat para perwakilan tersebut


tampak terkesima melihat penampilan Dirut


cantik itu. Namun kemudian mereka kembali


bersikap tenang.


"Terimakasih Nona Mahesa.."


Balas Direktur keuangan, dia adalah seorang


pria kira-kira berumur 40 tahunan yang berwajah oriental dengan penampilan yang sangat rapi


dan menarik. Mereka semua duduk di ruang pertemuan tersebut. Kiran tampak duduk anggun


dan tegas di kursi utama di dampingi oleh staf


khusus serta dua orang pengacara.


Tidak lama kegaduhan kembali terjadi manakala


Nathan datang dengan wajah yang sudah sangat


dingin menahan segala emosi yang terpendam


sejak kemarin. Maksud hati hari ini dia ingin


segera meresmikan hubungan nya dengan Kiran


eehh malah di hadapkan pada kenyataan bahwa


pihaknya harus berhadapan dengan perusahaan


raksasa yang tidak akan bisa di sentuhnya


karena mereka memiliki garis batas tersendiri.


Dua keluarga besar yang selalu bersebrangan.


Mata Nathan langsung bertabrakan dengan


mata indah Kiran yang berdiri menyambut nya


di ikuti oleh yang lainnya.


"Selamat datang Tuan Wiranata.."


Sambut Kiran dengan suara tegas dan tenang.


Tatapan Nathan semakin tajam dengan hati


yang berkecamuk dan bergejolak melihat


penampilan Kiran saat ini yang begitu memukau.


Hatinya panas bukan main ketika melihat


banyaknya makhluk laki-laki di ruangan itu.


Nathan segera menghampiri Kiran dan tanpa


basa basi dia menarik tangan gadis itu di bawa


berjalan ke luar ruangan. Kiran yang terkejut


dan tidak menduga tindakan Nathan akan


seberani itu di depan tamu lainnya hanya bisa


mengikuti langkah Nathan yang membawanya


masuk ke ruangan sebelah.


Nathan langsung memojokkan tubuh Kiran


ke dinding ruangan dan memerangkap nya.


"Nathan..apa yang kamu lakukan.? tolong


jaga sikap dan etika mu.! "


"Aku tidak peduli Kiran..! jadi sekarang kalian


sudah berani bermain di belakang ku.? apa


kau tahu, dengan masuk ke dalam lingkaran kekuasaan perusahaan itu, sama saja kalian


telah menghancurkan diri sendiri.! kalian


tidak memiliki apapun lagi..!"


Desis Nathan dengan tatapan menyala di


penuhi oleh api amarah dan kekecewaan.


Kiran membalas tatapan Nathan, tangannya


di pakai untuk menekan dada laki-laki itu


yang semakin maju merapat.


"Setidaknya ini jauh lebih baik bagiku Tuan


Nathan ! "


"Kau tidak tahu sudah masuk kedalam lubang


raksasa yang akan menarikmu lebih dalam


dan ayahmu hanya akan jadi pesuruh Kiran.!"


"Aku tahu itu, tapi setidaknya aku tidak harus


menerima pemaksaan gila seperti yang kau


lakukan.! kami masih punya sedikit harga diri.!"


"Hahaa.. harga diri kau bilang.? itu semua


di dapat kalau kita berdiri sendiri.!"


" Ayahku tidak akan mengambil keputusan


yang salah."


"Kiran..! kenapa kamu lakukan ini ? aku hanya bermaksud untuk membuat keluarga mu senang. Semua modal yang aku tanamkan akan aku


berikan secara cuma-cuma."


"Tapi kebebasanku tergadaikan.! apa itu yang


kau sebut sebagai kesenangan.?"


"Aku sangat mencintaimu Kiran..aku akan


menjadikan dirimu sebagai ratu di istanaku !


wanita satu-satunya dalam hidupku, lalu


apanya yang merugikan mu.?"


"Tapi aku tidak bisa menerima semua itu.!"


Mata Nathan semakin menyala, dia menarik


dagu Kiran, kedua mata mereka saling menatap


panas, dengan sorot mata yang bertentangan.


"Kita saling mencintai Kiran sayang.. kenapa


kamu malah mempersulit keadaan.!"


Desis Nathan mendekatkan wajahnya membuat


Kiran mundur dan memalingkan mukanya.


"Kenapa kamu tidak sadar juga Nathan kalau


sekarang ini aku sudah menjadi milik orang lain.


Aku sudah bersuami, aku sudah menikah.!"


"Dan aku tetap tidak perduli dengan hal itu,


karena aku tahu hatimu masih milikku. Aku


tahu kamu belum di sentuh oleh laki-laki itu..!"


Deg !


Jantung Kiran seakan tertembus sembilu. Dia


seperti di sadarkan oleh sebuah kenyataan


bahwa dirinya memang belum menyerahkan


jiwa raga nya sepenuhnya pada Agra.


"I-itu bukan urusanmu..! lepaskan aku..!"


"Jelas sekali itu urusanku.! karena dengan


begitu sudah jelas terbaca bahwa kamu belum


bisa menerima pria itu sepenuhnya sebagai


suamimu Kiran..Kau masih bertahan dengan


harapan bisa hidup bahagia bersamaku..!"


"Kau salah besar Tuan Nathan..! kalau aku


masih berharap padamu, aku tidak akan lari


darimu dan melakukan semua ini..!"


Desis Kiran dengan tatapan yang di penuhi


keyakinan. Dia mendorong kuat tubuh Nathan


yang tiba-tiba melakukan gerakan cepat ingin


menyergap bibir Kiran, namun dengan gerakan


cepat pula Kiran menendang tulang kering


Nathan hingga dia mundur terhuyung.


Kiran melangkah menjauh menuju pintu. Dia


berbalik sebentar, melihat kearah Nathan.


"Tuan Nathan ! anda adalah tamu yang sangat


tidak tahu sopan santun.! semua nya akan berakhir hari ini juga ! dan aku ingatkan padamu.. jangan


lagi mengusik kehidupan rumah tangga ku.!"


Geram Kiran dengan tatapan nyalang kearah


Nathan yang berusaha menegakkan badannya.


Kiran bergegas keluar dengan membanting


keras pintu ruangan membuat Nathan tertegun sebentar sambil mengepalkan tangannya kuat.


Akhirnya pertemuan penting itupun berlangsung.


Dengan wajah yang senantiasa di selimuti kabut


emosi dan tidak bersahabat Nathan terpaksa


menandatangani semua berkas pengembalian


dana dari pihak Bintang Group.


Tanpa banyak kata lagi dia segera keluar dari


dalam ruang pertemuan bahkan tanpa permisi


terlebih dulu, hanya jajaran bawahannya saja


yang terlihat pamit dan membungkuk sopan


pada semua orang dengan wajah sedikit tidak


enak atas tindakan tidak sopan bos nya.


"Nona Mahesa..ini adalah dokument penting


yang bisa anda pelajari. Banyak keistimewaan


yang telah di berikan oleh perusahaan kami


terhadap perusahaan anda.!"


Ucap salah seorang staf ahli dari Bintang Group


seraya menyerahkan satu dokumen penting ke


hadapan Kiran yang langsung meraih nya. Dia


membuka dan melihat isi dari dokumen tersebut.


Alisnya tampak bertaut dalam.


"Apa ini tidak salah Tuan..?"


Tanya Kiran karena merasa tidak yakin dengan


isi draft perjanjian yang tertera di dokumen itu .


"Tidak Nona.. Presdir sendiri yang mengesahkan


berkas dokumen itu. Beliau memberikan satu hak


istimewa kepada perusahaan ini.!"


"Presdir sendiri yang membuat ini.?"


Staf ahli tadi mengangguk yakin. Kiran terdiam


merasa sedikit bingung. Isi dari dokumen itu


menyatakan bahwa ZM Company tidak terikat


kontrak baku yang mengikat kebebasan untuk


mengembangkan diri. Jadi perusahaan nya


tetap memiliki kebebasan untuk mengatur


sendiri segala urusan anggaran dan kebijakan


perusahaan. Jadi pada prinsipnya tidak ada


hal yang berubah dalam segi apapun.


"Apa saya bisa bertemu dengan Presdir secara


langsung.?"


Tanya Kiran seraya melihat nama Presdir dari


Bintang Group .. Bimantara AB.!


"Sepertinya untuk waktu dekat ini beliau


sedang sangat sibuk Nona. Beliau tidak


selalu ada di tempat.!"


Wajah Kiran tampak sedikit kecewa, dia hanya


ingin mengucapkan terimakasih padanya.


"Tapi anda bisa bertemu beliau pada saat acara


ulang tahun perusahaan Nona..!"


Sambung staf yang lain, wajah Kiran tampak


cerah kembali. Dia mengangguk antusias.


"Baiklah kalau begitu..itu lebih baik..!"


Sambut nya dengan senyum manis. Akhirnya


pertemuan itupun selesai sudah. Kiran bisa


bernapas dengan lega sekarang, setidaknya


satu masalah besar telah di lewatinya.


------- ------


Kiran baru saja selesai makan siang yang di


bawakan langsung ke ruangannya ketika Lia


tiba-tiba masuk ke dalam dengan wajah di


penuhi oleh kepanikan.


"Bu..di bawah ada team khusus dari kepolisian


ingin bertemu dengan anda.! mereka datang


Kiran tampak terkejut dengan wajah yang di


liputi oleh tanda tanya.


"Agra..apa yang dia lakukan.. ayo kita turun.!"


"Baik Bu.."


Kiran bergegas keluar ruangan di ikuti oleh Lia


sementara Sari tetap melanjutkan pekerjaan nya


karena ada banyak hal yang harus di kerjakan.


Keadaan lobby tampak gaduh dan riuh saat


beberapa aparat berjaga ketat di pintu keluar


gedung. Para karyawan perusahaan terlihat berkerumun di beberapa sudut ruangan sambil melihat kearah keberadaan satu kelompok


aparat yang beberapa diantaranya adalah


team khusus dari pihak komisi xx..


Wajah-wajah para karyawan nampak di liputi


ketegangan sekaligus tanda tanya melihat


seriusnya situasi yang saat ini tercipta.


Saat ini Agra tampak berdiri tenang di tengah


para aparat yang sedang berbicara serius


dengannya, namun sangat terlihat bahwa


mereka semua begitu segan dan hormat pada


sosok Agra yang lagi-lagi menyembunyikan


wajahnya di balik topi dan kacamata hitam nya.


Tidak lama terlihat kemunculan Kiran yang


baru saja keluar dari dalam lift. Agra menatap


tenang kearah kedatangan istrinya tersebut.


Kiran pun balas menatap kearah Agra dengan mencoba berbicara lewat isyarat mata dan


Agra hanya memberi kode untuk tetap tenang


seraya mengedipkan sudut matanya yang


sontak membuat wajah Kiran bersemu merah.


Dia segera menghampiri ketua team dari


kepolisian tersebut.


"Selamat siang Nona Mahesa..kami mendapat


laporan resmi untuk menangani masalah penyelewengan dana di perusahaan ini.


Ini adalah surat perintah penangkapan nya."


Sambut sang ketua team. Wajah Kiran sontak


saja berubah pucat, dia membuka surat kuasa


tersebut kemudian melihatnya secara detail.


"Saya permisi sebentar Pak.."


Kiran membungkuk sedikit kearah ketua team


lalu berbalik kearah Agra, menarik tangan pria


itu di bawa berjalan menjauh lalu masuk ke


dalam satu ruangan khusus yang ada di sana.


Agra hanya tersenyum tipis melihat istrinya itu tampaknya sedang dalam mode kesal dan emosi.


Dengan patuh dan santai dia mengikuti tarikan


tangan Kiran di saksikan oleh puluhan pasang


mata yang hanya bisa bengong saja. Terlebih


bagi para aparat yang mengenali jati diri Agra


sesungguhnya.


"Apa ini.? kenapa kamu bertindak sendiri tanpa


memberitahu aku terlebih dahulu.? bagaimana


kalau semua ini menimbulkan masalah baru di perusahaan.?"


Cecar Kiran dengan wajah yang merah padam,


dia mengangkat kertas kuasa itu ke hadapan


muka Agra yang hanya mengulum senyumnya.


"Aku tidak mungkin salah laporan Nona..semua


sudah sesuai dengan prosedur.!"


Ucap Agra santai sambil melipat kedua tangan


di dadanya dan memiringkan tubuhnya, gaya


yang sangat khas dari seorang Agra sang


pengawal pribadi urakan. Bibirnya tidak henti mengulum senyum melihat reaksi kemarahan


Kiran yang berapi-api.


"Agra..kamu bertindak tanpa persetujuan ku.!


apa kamu pikir kamu itu sudah hebat.? kamu


bisa melakukan apapun sesuka hatimu.?"


Kiran tampak mencak-mencak, matanya yang


indah melebar sempurna karena kesal. Dan


hal itu malah membuat Agra semakin gemas.


"Tentu saja..aku memang hebat Nona, aku juga


bisa melakukan apapun seperti katamu tadi.!"


"Agra..aku serius..! tindakanmu ini bisa saja


berbuntut panjang, kita tidak punya bukti kuat,


tapi kenapa kamu berani melaporkan kasus


nya secepat ini.! apa yang kamu pikirkan.?"


"Aku selalu memikirkan dirimu Kiran..setiap


saat, setiap waktu, bahkan setiap detik..!"


Kiran menggeleng gerah mendengar gombalan


Agra yang tidak tepat waktu. Agra merangsek


maju membuat Kiran mundur perlahan, kedua


mata mereka saling mengunci satu sama lain.


"Aku tidak pernah sembarangan bertindak


Nona. Semuanya sudah aku perhitungkan


dengan matang. Kau tidak perlu khawatir


semua bukti sudah ada di tangan yang tepat.!"


Desis Agra masih maju memepet tubuh Kiran


hingga kini terpojok di dinding ruangan. Dengan


gerakan cepat kedua tangan Kiran di angkat


lalu di kunci di tembok. Kiran membulatkan


matanya melihat yang di lakukan Agra.


"A-Agraa.. apa yang kau lakukan..? lepaskan


tanganku, orang-orang itu pasti menunggu


kita, aku harus segera kesana..aakkhh.."


Ucapan Kiran menggantung di udara ketika


tiba-tiba bibir Agra menyentuh lehernya,


memberikan kecupan lembut dan hangat.


Tubuh Kiran berjingkat, dadanya terangkat


karena tubuh nya mulai memanas saat bibir


Agra semakin liar bermain di lehernya putih


nya, menggigit kecil meninggalkan jejak di


sana. Semakin lama semakin turun ke bawah.


"Akkhh...Agra.. tolong hentikan..kita harus


segera keluar..emmhhh..."


Kiran mendesah lembut saat bibir Agra tanpa


ampun menyusup di antara belahan dadanya


yang indah. Dia hanya bisa menggelinjang


hebat tidak tahan dengan sentuhan lembut


bibir Agra yang semakin lama semakin liar.


Tubuhnya kini sudah semakin terbakar, aliran


darahnya seakan tersumbat. Kiran hanya bisa


memejamkan mata saat perlahan kancing


baju bagian atasnya di buka oleh satu tangan


Agra sementara satu tangan lain masih tetap


mengunci kedua tangan Kiran di atas kepalanya.


"Agra... sudah.. hentikan semua ini..ahhh


Agraaa..."


Kiran tidak tahan lagi saat bibir Agra kini sudah


mulai menyentuh bagian atas dada sintalnya.


Wajahnya kini merah padam. Tubuhnya tegang


sempurna, namun rasa nikmat yang asing itu


kini sudah menguasai seluruh aliran darahnya


membuat dia tidak ingin melepaskan diri dari


semua sensasi memabukkan ini.Agra semakin menggila, dia menciumi kedua benda sintal


bagaikan buah persik yang masih sangat segar


dan ranum itu. Napas mereka kini sudah kian memburu. Tubuh Kiran lemas seluruhnya.


Sentuhan lembut suaminya ini sudah membuat jiwanya meronta menginginkan satu hal lebih


karena kini tubuh bagian bawahnya sudah basah.


Saat tangan nya terlepas dari cengkraman Agra


dengan gerakan terburu-buru Kiran meraup


wajah Agra yang tadi semakin menggila dengan


menggigit puncak gunung kembar nya. Mata


mereka bertemu dengan kabut gairah yang


sudah sama-sama memuncak. Tanpa komando


kedua nya langsung saling memagut dan larut


dalam ciuman panas yang di penuhi oleh


gelora hasrat dan keinginan saling memiliki.


Agra membawa tubuh Kiran di dudukkan di


atas meja dengan ciuman yang tidak pernah


terlepas. Tangannya pun bergerilya meraih


kedua bukit kembar Kiran dan meremasnya


kuat membuat Kiran semakin kewalahan


mengendalikan hasratnya yang kian meronta.


Tok Tok Tok !


"Bu Kiran.. mohon maaf menggangu. Para tamu


ingin segera memulai proses nya.."


Kiran dan Agra langsung terperanjat, ciuman


panas mereka terlepas paksa. Keduanya saling


pandang berusaha untuk mengontrol diri dan


napas masing-masing yang masih memburu.


"I-iya Lia..sebentar lagi saya keluar.."


Sahut Kiran berusaha menormalkan suara


nya yang tetap saja bergetar.


"Baik Bu..kalau begitu saya permisi.."


Sahut Lia dari luar. Kiran menarik napas berat.


Agra tersenyum tipis, keduanya kembali saling


pandang lekat.


"Baiklah.. sekarang kita bereskan semua sumber


kekacauan di perusahaan Ayahmu ini. Setelah


itu barulah kita memikirkan masa depan kita.."


Bisik Agra sambil kemudian kembali *******


lembut bibir Kiran yang basah dan merah sedikit bengkak. Kiran mendelik kesal. Dengan telaten


Agra kembali merapihkan pakaian Kiran yang


sempat kusut, namun sebelum mengancingkan


bajunya lagi-lagi dia mengecup lembut bagian


atas kedua bukit kembar Kiran membuat wajah


Kiran kini sudah semerah tomat.


Keadaan lobby perusahaan kini riuh dan gaduh


tidak terkendali saat para aparat kepolisian tadi


menangkap dan menyeret paksa 5 orang yang


bekerja di bagian keuangan. Terdiri dari manager,


wakil, bendahara dan dua orang staf lainnya.


Mereka berlima langsung di borgol karena tadi


sempat berusaha melarikan diri hingga terjadi


adegan kejar-kejaran dan terpaksa ketua team


mengeluarkan tembakan peringatan untuk bisa


menghentikan aksi perlawanan orang-orang itu.


Kiran menatap kelima orang-orang itu yang kini


berlutut dan menunduk di tengah ruangan loby


di tonton oleh para karyawan yang berdecak


kesal, menghujat dan mencaci mereka.


"Saya harap..kalian bisa merenung dan


bertaubat selama berada dalam kurungan.!"


Ucap Kiran dengan suara yang sangat dingin.


Mereka hanya bisa tertunduk lesu, benar-benar


tidak menyangka kalau kehadiran putri bos nya


itu membawa kehancuran bagi karir mereka.


"Silahkan bawa mereka Pak dan terimakasih."


"Baik Nona..kami akan segera memproses nya


sesuai dengan hukum yang berlaku. Kalau


begitu kami permisi..!"


Tegas ketua team sambil membungkuk dalam


di hadapan Agra dan Kiran setelah itu dia


memerintahkan bawahannya untuk menyeret


para tersangka keluar dari loby di giring masuk


ke dalam mobil tahanan..


 


***********


 


TBC....