
**********
Hari ini suasana di gedung ZM Company rasanya
cukup berbeda, semua karyawan tampak lebih
sibuk dari biasanya. Kiran mengadakan meeting
dadakan untuk membahas tentang aliran dana
yang masuk dari pihak Bintang Group juga
tentang kemungkinan pengalihan sistem
kepemilikan saham perusahaan yang sekarang
secara tidak langsung sudah terikat dengan
perusahaan raksasa tersebut.
Sekitar jam 10 staf perusahaan kembali dibuat
sibuk dengan kedatangan pihak Bintang Group
yang di wakili oleh direktur keuangan dan
beberapa orang pengacara serta staf khusus
di bagian penanaman modal. Mereka semua
tampil begitu rapi, elegan dan berkelas dengan
segala ketenangan dan ketegasan yang terlihat
dari sikap dan caranya berbicara.
"Selamat datang Tuan-tuan.. silahkan.."
Kiran menyambut kedatangan mereka semua
seraya membungkuk sedikit dan mengatupkan
tangan. Untuk sesaat para perwakilan tersebut
tampak terkesima melihat penampilan Dirut
cantik itu. Namun kemudian mereka kembali
bersikap tenang.
"Terimakasih Nona Mahesa.."
Balas Direktur keuangan, dia adalah seorang
pria kira-kira berumur 40 tahunan yang berwajah oriental dengan penampilan yang sangat rapi
dan menarik. Mereka semua duduk di ruang pertemuan tersebut. Kiran tampak duduk anggun
dan tegas di kursi utama di dampingi oleh staf
khusus serta dua orang pengacara.
Tidak lama kegaduhan kembali terjadi manakala
Nathan datang dengan wajah yang sudah sangat
dingin menahan segala emosi yang terpendam
sejak kemarin. Maksud hati hari ini dia ingin
segera meresmikan hubungan nya dengan Kiran
eehh malah di hadapkan pada kenyataan bahwa
pihaknya harus berhadapan dengan perusahaan
raksasa yang tidak akan bisa di sentuhnya
karena mereka memiliki garis batas tersendiri.
Dua keluarga besar yang selalu bersebrangan.
Mata Nathan langsung bertabrakan dengan
mata indah Kiran yang berdiri menyambut nya
di ikuti oleh yang lainnya.
"Selamat datang Tuan Wiranata.."
Sambut Kiran dengan suara tegas dan tenang.
Tatapan Nathan semakin tajam dengan hati
yang berkecamuk dan bergejolak melihat
penampilan Kiran saat ini yang begitu memukau.
Hatinya panas bukan main ketika melihat
banyaknya makhluk laki-laki di ruangan itu.
Nathan segera menghampiri Kiran dan tanpa
basa basi dia menarik tangan gadis itu di bawa
berjalan ke luar ruangan. Kiran yang terkejut
dan tidak menduga tindakan Nathan akan
seberani itu di depan tamu lainnya hanya bisa
mengikuti langkah Nathan yang membawanya
masuk ke ruangan sebelah.
Nathan langsung memojokkan tubuh Kiran
ke dinding ruangan dan memerangkap nya.
"Nathan..apa yang kamu lakukan.? tolong
jaga sikap dan etika mu.! "
"Aku tidak peduli Kiran..! jadi sekarang kalian
sudah berani bermain di belakang ku.? apa
kau tahu, dengan masuk ke dalam lingkaran kekuasaan perusahaan itu, sama saja kalian
telah menghancurkan diri sendiri.! kalian
tidak memiliki apapun lagi..!"
Desis Nathan dengan tatapan menyala di
penuhi oleh api amarah dan kekecewaan.
Kiran membalas tatapan Nathan, tangannya
di pakai untuk menekan dada laki-laki itu
yang semakin maju merapat.
"Setidaknya ini jauh lebih baik bagiku Tuan
Nathan ! "
"Kau tidak tahu sudah masuk kedalam lubang
raksasa yang akan menarikmu lebih dalam
dan ayahmu hanya akan jadi pesuruh Kiran.!"
"Aku tahu itu, tapi setidaknya aku tidak harus
menerima pemaksaan gila seperti yang kau
lakukan.! kami masih punya sedikit harga diri.!"
"Hahaa.. harga diri kau bilang.? itu semua
di dapat kalau kita berdiri sendiri.!"
" Ayahku tidak akan mengambil keputusan
yang salah."
"Kiran..! kenapa kamu lakukan ini ? aku hanya bermaksud untuk membuat keluarga mu senang. Semua modal yang aku tanamkan akan aku
berikan secara cuma-cuma."
"Tapi kebebasanku tergadaikan.! apa itu yang
kau sebut sebagai kesenangan.?"
"Aku sangat mencintaimu Kiran..aku akan
menjadikan dirimu sebagai ratu di istanaku !
wanita satu-satunya dalam hidupku, lalu
apanya yang merugikan mu.?"
"Tapi aku tidak bisa menerima semua itu.!"
Mata Nathan semakin menyala, dia menarik
dagu Kiran, kedua mata mereka saling menatap
panas, dengan sorot mata yang bertentangan.
"Kita saling mencintai Kiran sayang.. kenapa
kamu malah mempersulit keadaan.!"
Desis Nathan mendekatkan wajahnya membuat
Kiran mundur dan memalingkan mukanya.
"Kenapa kamu tidak sadar juga Nathan kalau
sekarang ini aku sudah menjadi milik orang lain.
Aku sudah bersuami, aku sudah menikah.!"
"Dan aku tetap tidak perduli dengan hal itu,
karena aku tahu hatimu masih milikku. Aku
tahu kamu belum di sentuh oleh laki-laki itu..!"
Deg !
Jantung Kiran seakan tertembus sembilu. Dia
seperti di sadarkan oleh sebuah kenyataan
bahwa dirinya memang belum menyerahkan
jiwa raga nya sepenuhnya pada Agra.
"I-itu bukan urusanmu..! lepaskan aku..!"
"Jelas sekali itu urusanku.! karena dengan
begitu sudah jelas terbaca bahwa kamu belum
bisa menerima pria itu sepenuhnya sebagai
suamimu Kiran..Kau masih bertahan dengan
harapan bisa hidup bahagia bersamaku..!"
"Kau salah besar Tuan Nathan..! kalau aku
masih berharap padamu, aku tidak akan lari
darimu dan melakukan semua ini..!"
Desis Kiran dengan tatapan yang di penuhi
keyakinan. Dia mendorong kuat tubuh Nathan
yang tiba-tiba melakukan gerakan cepat ingin
menyergap bibir Kiran, namun dengan gerakan
cepat pula Kiran menendang tulang kering
Nathan hingga dia mundur terhuyung.
Kiran melangkah menjauh menuju pintu. Dia
berbalik sebentar, melihat kearah Nathan.
"Tuan Nathan ! anda adalah tamu yang sangat
tidak tahu sopan santun.! semua nya akan berakhir hari ini juga ! dan aku ingatkan padamu.. jangan
lagi mengusik kehidupan rumah tangga ku.!"
Geram Kiran dengan tatapan nyalang kearah
Nathan yang berusaha menegakkan badannya.
Kiran bergegas keluar dengan membanting
keras pintu ruangan membuat Nathan tertegun sebentar sambil mengepalkan tangannya kuat.
Akhirnya pertemuan penting itupun berlangsung.
Dengan wajah yang senantiasa di selimuti kabut
emosi dan tidak bersahabat Nathan terpaksa
menandatangani semua berkas pengembalian
dana dari pihak Bintang Group.
Tanpa banyak kata lagi dia segera keluar dari
dalam ruang pertemuan bahkan tanpa permisi
terlebih dulu, hanya jajaran bawahannya saja
yang terlihat pamit dan membungkuk sopan
pada semua orang dengan wajah sedikit tidak
enak atas tindakan tidak sopan bos nya.
"Nona Mahesa..ini adalah dokument penting
yang bisa anda pelajari. Banyak keistimewaan
yang telah di berikan oleh perusahaan kami
terhadap perusahaan anda.!"
Ucap salah seorang staf ahli dari Bintang Group
seraya menyerahkan satu dokumen penting ke
hadapan Kiran yang langsung meraih nya. Dia
membuka dan melihat isi dari dokumen tersebut.
Alisnya tampak bertaut dalam.
"Apa ini tidak salah Tuan..?"
Tanya Kiran karena merasa tidak yakin dengan
isi draft perjanjian yang tertera di dokumen itu .
"Tidak Nona.. Presdir sendiri yang mengesahkan
berkas dokumen itu. Beliau memberikan satu hak
istimewa kepada perusahaan ini.!"
"Presdir sendiri yang membuat ini.?"
Staf ahli tadi mengangguk yakin. Kiran terdiam
merasa sedikit bingung. Isi dari dokumen itu
menyatakan bahwa ZM Company tidak terikat
kontrak baku yang mengikat kebebasan untuk
mengembangkan diri. Jadi perusahaan nya
tetap memiliki kebebasan untuk mengatur
sendiri segala urusan anggaran dan kebijakan
perusahaan. Jadi pada prinsipnya tidak ada
hal yang berubah dalam segi apapun.
"Apa saya bisa bertemu dengan Presdir secara
langsung.?"
Tanya Kiran seraya melihat nama Presdir dari
Bintang Group .. Bimantara AB.!
"Sepertinya untuk waktu dekat ini beliau
sedang sangat sibuk Nona. Beliau tidak
selalu ada di tempat.!"
Wajah Kiran tampak sedikit kecewa, dia hanya
ingin mengucapkan terimakasih padanya.
"Tapi anda bisa bertemu beliau pada saat acara
ulang tahun perusahaan Nona..!"
Sambung staf yang lain, wajah Kiran tampak
cerah kembali. Dia mengangguk antusias.
"Baiklah kalau begitu..itu lebih baik..!"
Sambut nya dengan senyum manis. Akhirnya
pertemuan itupun selesai sudah. Kiran bisa
bernapas dengan lega sekarang, setidaknya
satu masalah besar telah di lewatinya.
------- ------
Kiran baru saja selesai makan siang yang di
bawakan langsung ke ruangannya ketika Lia
tiba-tiba masuk ke dalam dengan wajah di
penuhi oleh kepanikan.
"Bu..di bawah ada team khusus dari kepolisian
ingin bertemu dengan anda.! mereka datang
Kiran tampak terkejut dengan wajah yang di
liputi oleh tanda tanya.
"Agra..apa yang dia lakukan.. ayo kita turun.!"
"Baik Bu.."
Kiran bergegas keluar ruangan di ikuti oleh Lia
sementara Sari tetap melanjutkan pekerjaan nya
karena ada banyak hal yang harus di kerjakan.
Keadaan lobby tampak gaduh dan riuh saat
beberapa aparat berjaga ketat di pintu keluar
gedung. Para karyawan perusahaan terlihat berkerumun di beberapa sudut ruangan sambil melihat kearah keberadaan satu kelompok
aparat yang beberapa diantaranya adalah
team khusus dari pihak komisi xx..
Wajah-wajah para karyawan nampak di liputi
ketegangan sekaligus tanda tanya melihat
seriusnya situasi yang saat ini tercipta.
Saat ini Agra tampak berdiri tenang di tengah
para aparat yang sedang berbicara serius
dengannya, namun sangat terlihat bahwa
mereka semua begitu segan dan hormat pada
sosok Agra yang lagi-lagi menyembunyikan
wajahnya di balik topi dan kacamata hitam nya.
Tidak lama terlihat kemunculan Kiran yang
baru saja keluar dari dalam lift. Agra menatap
tenang kearah kedatangan istrinya tersebut.
Kiran pun balas menatap kearah Agra dengan mencoba berbicara lewat isyarat mata dan
Agra hanya memberi kode untuk tetap tenang
seraya mengedipkan sudut matanya yang
sontak membuat wajah Kiran bersemu merah.
Dia segera menghampiri ketua team dari
kepolisian tersebut.
"Selamat siang Nona Mahesa..kami mendapat
laporan resmi untuk menangani masalah penyelewengan dana di perusahaan ini.
Ini adalah surat perintah penangkapan nya."
Sambut sang ketua team. Wajah Kiran sontak
saja berubah pucat, dia membuka surat kuasa
tersebut kemudian melihatnya secara detail.
"Saya permisi sebentar Pak.."
Kiran membungkuk sedikit kearah ketua team
lalu berbalik kearah Agra, menarik tangan pria
itu di bawa berjalan menjauh lalu masuk ke
dalam satu ruangan khusus yang ada di sana.
Agra hanya tersenyum tipis melihat istrinya itu tampaknya sedang dalam mode kesal dan emosi.
Dengan patuh dan santai dia mengikuti tarikan
tangan Kiran di saksikan oleh puluhan pasang
mata yang hanya bisa bengong saja. Terlebih
bagi para aparat yang mengenali jati diri Agra
sesungguhnya.
"Apa ini.? kenapa kamu bertindak sendiri tanpa
memberitahu aku terlebih dahulu.? bagaimana
kalau semua ini menimbulkan masalah baru di perusahaan.?"
Cecar Kiran dengan wajah yang merah padam,
dia mengangkat kertas kuasa itu ke hadapan
muka Agra yang hanya mengulum senyumnya.
"Aku tidak mungkin salah laporan Nona..semua
sudah sesuai dengan prosedur.!"
Ucap Agra santai sambil melipat kedua tangan
di dadanya dan memiringkan tubuhnya, gaya
yang sangat khas dari seorang Agra sang
pengawal pribadi urakan. Bibirnya tidak henti mengulum senyum melihat reaksi kemarahan
Kiran yang berapi-api.
"Agra..kamu bertindak tanpa persetujuan ku.!
apa kamu pikir kamu itu sudah hebat.? kamu
bisa melakukan apapun sesuka hatimu.?"
Kiran tampak mencak-mencak, matanya yang
indah melebar sempurna karena kesal. Dan
hal itu malah membuat Agra semakin gemas.
"Tentu saja..aku memang hebat Nona, aku juga
bisa melakukan apapun seperti katamu tadi.!"
"Agra..aku serius..! tindakanmu ini bisa saja
berbuntut panjang, kita tidak punya bukti kuat,
tapi kenapa kamu berani melaporkan kasus
nya secepat ini.! apa yang kamu pikirkan.?"
"Aku selalu memikirkan dirimu Kiran..setiap
saat, setiap waktu, bahkan setiap detik..!"
Kiran menggeleng gerah mendengar gombalan
Agra yang tidak tepat waktu. Agra merangsek
maju membuat Kiran mundur perlahan, kedua
mata mereka saling mengunci satu sama lain.
"Aku tidak pernah sembarangan bertindak
Nona. Semuanya sudah aku perhitungkan
dengan matang. Kau tidak perlu khawatir
semua bukti sudah ada di tangan yang tepat.!"
Desis Agra masih maju memepet tubuh Kiran
hingga kini terpojok di dinding ruangan. Dengan
gerakan cepat kedua tangan Kiran di angkat
lalu di kunci di tembok. Kiran membulatkan
matanya melihat yang di lakukan Agra.
"A-Agraa.. apa yang kau lakukan..? lepaskan
tanganku, orang-orang itu pasti menunggu
kita, aku harus segera kesana..aakkhh.."
Ucapan Kiran menggantung di udara ketika
tiba-tiba bibir Agra menyentuh lehernya,
memberikan kecupan lembut dan hangat.
Tubuh Kiran berjingkat, dadanya terangkat
karena tubuh nya mulai memanas saat bibir
Agra semakin liar bermain di lehernya putih
nya, menggigit kecil meninggalkan jejak di
sana. Semakin lama semakin turun ke bawah.
"Akkhh...Agra.. tolong hentikan..kita harus
segera keluar..emmhhh..."
Kiran mendesah lembut saat bibir Agra tanpa
ampun menyusup di antara belahan dadanya
yang indah. Dia hanya bisa menggelinjang
hebat tidak tahan dengan sentuhan lembut
bibir Agra yang semakin lama semakin liar.
Tubuhnya kini sudah semakin terbakar, aliran
darahnya seakan tersumbat. Kiran hanya bisa
memejamkan mata saat perlahan kancing
baju bagian atasnya di buka oleh satu tangan
Agra sementara satu tangan lain masih tetap
mengunci kedua tangan Kiran di atas kepalanya.
"Agra... sudah.. hentikan semua ini..ahhh
Agraaa..."
Kiran tidak tahan lagi saat bibir Agra kini sudah
mulai menyentuh bagian atas dada sintalnya.
Wajahnya kini merah padam. Tubuhnya tegang
sempurna, namun rasa nikmat yang asing itu
kini sudah menguasai seluruh aliran darahnya
membuat dia tidak ingin melepaskan diri dari
semua sensasi memabukkan ini.Agra semakin menggila, dia menciumi kedua benda sintal
bagaikan buah persik yang masih sangat segar
dan ranum itu. Napas mereka kini sudah kian memburu. Tubuh Kiran lemas seluruhnya.
Sentuhan lembut suaminya ini sudah membuat jiwanya meronta menginginkan satu hal lebih
karena kini tubuh bagian bawahnya sudah basah.
Saat tangan nya terlepas dari cengkraman Agra
dengan gerakan terburu-buru Kiran meraup
wajah Agra yang tadi semakin menggila dengan
menggigit puncak gunung kembar nya. Mata
mereka bertemu dengan kabut gairah yang
sudah sama-sama memuncak. Tanpa komando
kedua nya langsung saling memagut dan larut
dalam ciuman panas yang di penuhi oleh
gelora hasrat dan keinginan saling memiliki.
Agra membawa tubuh Kiran di dudukkan di
atas meja dengan ciuman yang tidak pernah
terlepas. Tangannya pun bergerilya meraih
kedua bukit kembar Kiran dan meremasnya
kuat membuat Kiran semakin kewalahan
mengendalikan hasratnya yang kian meronta.
Tok Tok Tok !
"Bu Kiran.. mohon maaf menggangu. Para tamu
ingin segera memulai proses nya.."
Kiran dan Agra langsung terperanjat, ciuman
panas mereka terlepas paksa. Keduanya saling
pandang berusaha untuk mengontrol diri dan
napas masing-masing yang masih memburu.
"I-iya Lia..sebentar lagi saya keluar.."
Sahut Kiran berusaha menormalkan suara
nya yang tetap saja bergetar.
"Baik Bu..kalau begitu saya permisi.."
Sahut Lia dari luar. Kiran menarik napas berat.
Agra tersenyum tipis, keduanya kembali saling
pandang lekat.
"Baiklah.. sekarang kita bereskan semua sumber
kekacauan di perusahaan Ayahmu ini. Setelah
itu barulah kita memikirkan masa depan kita.."
Bisik Agra sambil kemudian kembali *******
lembut bibir Kiran yang basah dan merah sedikit bengkak. Kiran mendelik kesal. Dengan telaten
Agra kembali merapihkan pakaian Kiran yang
sempat kusut, namun sebelum mengancingkan
bajunya lagi-lagi dia mengecup lembut bagian
atas kedua bukit kembar Kiran membuat wajah
Kiran kini sudah semerah tomat.
Keadaan lobby perusahaan kini riuh dan gaduh
tidak terkendali saat para aparat kepolisian tadi
menangkap dan menyeret paksa 5 orang yang
bekerja di bagian keuangan. Terdiri dari manager,
wakil, bendahara dan dua orang staf lainnya.
Mereka berlima langsung di borgol karena tadi
sempat berusaha melarikan diri hingga terjadi
adegan kejar-kejaran dan terpaksa ketua team
mengeluarkan tembakan peringatan untuk bisa
menghentikan aksi perlawanan orang-orang itu.
Kiran menatap kelima orang-orang itu yang kini
berlutut dan menunduk di tengah ruangan loby
di tonton oleh para karyawan yang berdecak
kesal, menghujat dan mencaci mereka.
"Saya harap..kalian bisa merenung dan
bertaubat selama berada dalam kurungan.!"
Ucap Kiran dengan suara yang sangat dingin.
Mereka hanya bisa tertunduk lesu, benar-benar
tidak menyangka kalau kehadiran putri bos nya
itu membawa kehancuran bagi karir mereka.
"Silahkan bawa mereka Pak dan terimakasih."
"Baik Nona..kami akan segera memproses nya
sesuai dengan hukum yang berlaku. Kalau
begitu kami permisi..!"
Tegas ketua team sambil membungkuk dalam
di hadapan Agra dan Kiran setelah itu dia
memerintahkan bawahannya untuk menyeret
para tersangka keluar dari loby di giring masuk
ke dalam mobil tahanan..
***********
TBC....