Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
30. Tertabrak


 


**********


 


Pertemuan akhirnya selesai. Waktu sudah mulai


merayap sore. Kiran bersama Lia keluar dari


ruang pertemuan sementara klien nya sudah


pamit duluan karena ada urusan penting lain


yang sedang menunggunya.


"Lia kamu tidak apa-apa kan kembali ke kantor


sendiri.? saya masih ada urusan lain."


"Tidak apa-apa Bu, kebetulan saya bawa mobil sendiri.!"


"Baiklah kalau begitu..sampai ketemu di kantor."


"Baik bu..saya permisi duluan."


Lia menunduk sebentar setelah itu berlalu


kearah berbeda dengan Kiran yang melangkah


menuju lift khusus yang akan membawanya


ke privat parking di basement.


Kiran berdiri tenang menunggu lift terbuka,


hati dan pikirannya kembali melayang pada


sosok Agra. Baru sebentar tidak melihatnya


tapi hatinya sudah terasa begitu hampa, apa


artinya ini Tuhan..apakah hatinya sudah


jatuh kedalam pesona pria aneh itu.?


Lamunan Kiran tiba-tiba buyar saat ponselnya


berdering, alisnya bertaut melihat nomor tidak


di kenal kini sedang menghubungi nya.Dengan


sedikit ragu Kiran menyentuh tombol hijau lalu mendekatkan ponselnya ke telinga.


"Hallo.."


"Kiran..aku ada urusan mendadak, jadi tidak


bisa menunggumu sampai selesai."


"Agraa..? kau ada dimana sekarang.?"


"Aku ada di suatu tempat..! nanti malam aku


akan menjemputmu lagi di kantor.! sekarang


turunlah ke bawah, ada sopir yang menunggu


mu di sana.!"


"Ohh..apa urusanmu itu sangat penting.?"


Ada nada kekecewaan yang tersirat dari suara


Kiran, hening sebentar, tidak ada sahutan.


"Tidak sepenting dirimu.."


Wajah Kiran memerah seketika, jantungnya


langsung saja bergelombang.


"Dasar gombal..!"


Desis Kiran menggigit bibirnya sendiri seraya


memejamkan mata mencoba menetralkan


detak jantung nya yang semakin tidak karuan.


"Aku tahu saat ini kau sedang memikirkan ku.!


kau tidak bisa jauh dariku kan.."


"Agraa... sudah.! itu tidak benar.!"


Potong Kiran dengan wajah yang semakin


memerah. Jiwanya semakin meronta.


"Baiklah..begitu urusanku selesai aku akan


segera datang menjemputmu Nona Kiran.."


"Baiklah..aku tunggu kamu di kantor.!"


"Jaga dirimu baik-baik..!"


Sambungan telepon terputus membuat Kiran


hanya bisa menatap Nanar layar ponselnya.


Walau ada sedikit gurat kekecewaan, namun


bibirnya tersenyum tipis karena akhirnya dia


bisa memilki nomor Agra.


Dengan senyum yang tiada henti tersungging


dari bibir indahnya Kiran tampak asyik sendiri


menyimpan nomor Agra di ponselnya. Dia


memikirkan nama yang cocok untuk nya


' Suami Dadakan' sepertinya cukup cocok.


Bibirnya kembali tersenyum puas.


Kiran tersentak ketika tiba-tiba tangannya di


tarik paksa masuk ke dalam lift yang terbuka.


Dia membulatkan matanya saat melihat siapa


orang yang telah menarik paksa dirinya. Pintu


lift tertutup kembali dengan cepat membuat


mata Kiran semakin melebar. Dia mencoba


meraih tombol lift tapi sosok itu menghalangi


nya lalu menyeret tubuh nya ke dinding.


"Nathan..apa yang kau lakukan.?"


Geram Kiran mendorong keras tubuh pria itu


yang kini langsung mengurung dirinya di


dinding lift. Lengan kokohnya memerangkap


kedua sisi tubuh Kiran. Keduanya saling


pandang kuat mencoba mengeluarkan


segala ganjalan yang ada dalam hati


masing-masing.


"Dua hari ini aku pergi ke luar kota. Apa kau


tahu aku sangat tersiksa karena tidak bisa melihatmu.!"


Kiran memepetkan tubuhnya ke dinding lift


karena Nathan semakin merangsek maju. Mata mereka bertemu panas, ada gejolak kerinduan


yang terlihat dari sorot mata Nathan yang kini


membakar jiwanya. Saat ini dia tidak bisa lagi


mengontrol dirinya.


"Lalu kenapa kamu ada di tempat ini.?"


Tanya Kiran dengan tatapan yang semakin tidak nyaman, tangannya di pakai untuk menekan


dada kekar Nathan. Tatapan pria itu semakin mengunci wajah cantik Kiran seakan ingin menerkamnya saat ini juga.


"Aku sengaja menyusul mu kesini Kiran..aku


tahu kamu ada pertemuan di tempat ini."


"Kamu benar-benar tidak masuk akal.!"


"Kamu yang sudah membuatku seperti ini.!"


"Nathan..aku mohon hentikan semua sikap


konyol mu ini, semuanya tidak akan pernah


berubah sama sekali.!"


"Akan kulakukan apapun untuk bisa memiliki


dirimu lagi Kiran..!"


"Tapi itu tidak mungkin Nathan. Kita tidak


akan bisa bersama lagi.!"


"Kau sangat membenci semua yang telah


terjadi, itu membuktikan kalau kamu masih


sangat mencintaiku Kiran."


Tangan kiri Nathan melingkari pinggang kecil


Kiran kemudian menarik tubuh nya lebih


merapat.Tubuh Kiran menegang, bergetar


hebat di penuhi kecemasan.Wajah Nathan


kini semakin mendekat.


"Nathan lepaskan aku..!"


Desis Kiran tidak tahan lagi karena tubuh


mereka kini semakin merapat hingga dada


sintalnya menempel ketat di dada Nathan


membuat darah pria itu mendidih seketika.


Tangan kanan Nathan meraih dagu Kiran,


bibir sensual yang sangat menggoda itu kini


berada di hadapannya. Hasrat Nathan semakin


membara. Matanya mengunci bibir Kiran


dengan tatapan yang sangat bergairah.


"Aku sangat merindukanmu Kiran sayang.."


Dengan gerakan cepat Nathan menyergap


bibir ranum Kiran yang terkejut seketika dan


langsung meronta mendorong keras tubuh


Nathan, cairan bening kini mulai berjatuhan.


Tapi Nathan kembali mencoba memagut


bibir merah itu, gerakan Kiran terkunci dia


benar-benar tidak berdaya kini.


Kiran hanya bisa memejamkan mata seraya


menjerit dalam hati saat pria itu *******


kuat bibirnya. Darah Nathan semakin terbakar


saat dia merasakan manis dan lembut nya


bibir Kiran. Ini benar-benar gila ! daya tarik


seksual yang keluar dari tubuh Kiran membuat


Nathan menggila, dia tidak akan pernah bisa melupakan sensasi nikmat nya bibir ini.!


Sekuat tenaga Kiran mengatupkan bibirnya.


Dengan sisa kekuatan nya Kiran menendang


kuat kaki Nathan hingga ciuman itu akhirnya


bisa terlepas. Nathan mundur beberapa


langkah membuat kungkungan nya terlepas.


Wajah Kiran merah padam, tatapannya


menyala di penuhi oleh emosi yang kini


sudah menguasai dirinya, bathin nya perih


bukan main.


"Kenapa kamu melakukan ini padaku Nathan..?"


Seru Kiran di tengah isak tangisnya seraya


mengusap kasar bibirnya. Air matanya jatuh


bagai air terjun. Dia benci semua keadaan ini, bagaimana kalau Agra tahu semua ini.!


"Kenapa aku tidak boleh melakukannya Kiran.?


Aku ini laki-laki normal, aku memiliki hasrat


dan keinginan untuk di salurkan.!"


Mata Nathan terlihat di penuhi oleh kabut samar, antara napsu dan juga kemarahan yang tertahan


di dadanya. Tapi juga ada sedikit rasa bersalah


melihat tangisan Kiran.


"Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi Nathan.! dan yang harus kamu ingat..sekarang


ini aku sudah menjadi istri seseorang.! hanya


suamiku yang memiliki hak penuh atas diriku.!"


"Aku tidak perduli semua itu Kiran..kau adalah


milikku.! dan akan selalu seperti itu.!"


"Kamu benar-benar sudah kehilangan akal


sehatmu Nathan.!"


"Ya..aku gila karena mu Kiran.!"


Nathan kembali maju, tapi Kiran menatapnya


tajam penuh intimidasi.


"Berhenti Nathan.! atau aku akan berteriak.!"


Pekik Kiran membuat Nathan menghentikan


langkah nya, dia menatap Kiran masih berusaha


untuk meredam gejolak hasratnya.


"Dengan perbuatan mu barusan..aku semakin


membencimu Nathan.! aku benci sama kamu.!"


Seru Kiran seakan kehilangan kendali, Nathan


terhenyak, wajahnya berubah gusar.


"Kiran sayang dengarkan aku.. sungguh aku


tidak bermaksud merendahkan mu..aku..!"


"Cukup..! jangan bicara lagi..!"


Teriak Kiran seraya menutup wajahnya. Nathan


semakin gusar, dia menatap menyesal kearah


Kiran yang kini menangis tersedu.


Pintu lift bergetar kuat, ada tendangan keras


dari arah luar. Tidak lama pintu besi itu pun


terbuka paksa dari luar. Ada dua orang pria


tinggi kekar yang kini menatap tajam kearah


Nathan. Kiran melirik kearah dua orang pria


itu dengan perasaan was-was.


"Jangan khawatir Nona..anda aman sekarang.!"


Ucap salah seorang dari pria kekar tadi sambil


maju merangsek kehadapan Nathan.


harus pulang bersamaku.! Kiran..!"


Nathan berteriak saat melihat Kiran bergegas


keluar dari lift. Namun dua orang pria kekar


tadi kini menghadang langkah nya kemudian


mencengkram kuat kerah bajunya.


"Siapa kalian.? apa kalian tidak tahu siapa aku.!


berani sekali melawan seorang Nathan Wiranata.!


Nathan menepis keras cengkraman pria yang


satunya dengan tatapan penuh kemarahan.


"Anda sudah berani menyentuh milik Tuan kami.


Itu benar-benar tidak bisa di maafkan !"


Buk buk !


Akhirnya perkelahian pun tidak terelakkan lagi.


Nathan melawan dua orang pria itu yang kini


berusaha menyerang dan melukainya. Namun


bukan Nathan namanya kalau harus tumbang


begitu saja. Dia bukanlah sosok pria tampan


yang hanya bermodal tampang saja, namun


ilmu bela dirinya pun cukup mumpuni.


Tidak lama dua pengawal Nathan datang kesana


membuat perkelahian semakin seru dan sengit.


Nathan bisa keluar dari pertarungan yang hanya membuat dirinya gerah saja. Dia tampak kesal,


mengibaskan jas nya yang kusut, mendengus


geram kearah dua pria kekar tadi.


Dia segera melangkah pergi dari tempat itu


untuk menyusul Kiran yang saat ini sedang


berlari kearah lain.


Kiran berlari sekuat tenaga menyusuri koridor


hotel langsung keluar lewat pintu samping. Saat


ini rasanya dirinya tidak punya muka lagi untuk bertemu dengan Agra. Apa yang harus dia


katakan nanti di hadapannya.?


"Agra..maafkan aku..aku tidak bisa menjaga diri


dan kehormatan ku..aku sangat memalukan !"


Lirih Kiran di tengah sedu sedannya sambil tiada


henti mengusap air mata yang jatuh bercucuran membasahi wajah cantiknya. Dia berjalan cepat


keluar area hotel untuk menyetop taksi di pinggir


jalan yang biasa nya berada di sebrang hotel.


Kiran berlari menyebrang jalan dengan pikiran


yang tidak menentu. Dia mengabaikan prosedur


keselamatan diri, tidak melihat kedua arah jalan hingga tidak sadar dari arah kanan datang sebuah mobil mewah yang sedang melaju cukup cepat.


"Aaa...."


Kiran membulatkan matanya sempurna saat


mobil itu melesat cepat kearahnya dengan


suara decitan rem yang sangat keras.


Tubuh Kiran ambruk di tengah jalan dalam


keadaan tidak sadarkan diri. Darah mengucur


deras dari kedua pelipisnya.


Pengemudi mobil bergegas keluar dan berlari


menghampiri Kiran. Orang-orang yang ada di


sekitar jalan itu pun kini mengerubungi tubuh


Kiran yang bermandikan darah.


Sopir mobil mewah itu tampak sedikit gugup.


Dia segera melangkah kearah jok belakang,


mencoba berbicara pelan sambil menundukkan


kepalanya pada penghuni mobil tersebut yang


terlihat sedang duduk tenang merebahkan


tubuhnya ke sandaran jok seraya memejamkan


mata, benar-benar santai, tidak terpengaruh


sama sekali oleh kegaduhan yang terjadi di


luar mobilnya.


"Cepat bawa masuk ke dalam mobil..!"


Hanya itu kata yang keluar dari mulut nya.


"Baik.."


Sahut Sopir tadi sambil kembali membungkuk


dalam kemudian melangkah kearah Kiran.


"Bapak-bapak tolong bantu saya memindahkan


nya ke mobil. Kami akan membawanya sendiri


ke rumah sakit.!"


Pinta sopir tadi sambil meraih kepala Kiran ke


dalam pangkuan nya. Sopir itu adalah seorang


wanita berusia 30 tahunan.Tampaknya dia


cukup kesulitan kalau harus mengangkat tubuh


Kiran sendirian.


Tanpa banyak tanya dua orang pria yang ada di


tempat itu segera membantu sopir tadi untuk


mengangkat tubuh Kiran di masukkan ke dalam


mobil mewah tersebut.


Tubuh Kiran di dudukkan bersandar lebih rendah


ke belakang, kemudian sopir tadi memasangkan sabuk pengaman ke tubuhnya. Penghuni mobil


tadi melirik kearah Kiran, menatapnya dalam


diam tanpa reaksi berlebihan.


Pintu mobil tertutup otomatis saat sopir itu


kembali ke balik kemudi kemudian mulai


melajukan mobilnya dengan perasaan cemas


akan keadaan Kiran.


------- -------


Istana besar bergaya Eropa klasik itu berada di


sebuah kawasan milik pribadi yang di kelilingi


oleh taman serta hutan buatan yang cukup luas.


Ada danau, ada lapangan golf serta taman


bunga yang sangat indah memanjakan mata.


Istana bercat putih ini pun memiliki sistem dan


prosedur keamanan yang sangat ketat serta


terintegrasi dari satu kawasan ke kawasan lain


nya mengingat luas dan megahnya tempat ini.


Di sebuah ruangan khusus selayaknya ruang


perawatan kelas VVIP di rumah sakit mewah


saat ini keadaannya sedang sangat sibuk.


Seorang Dokter pribadi serta 2 orang perawat


tampak sedang menangani pasien tabrakan


dengan kondisi yang cukup mengkhawatirkan.


Darah terus saja keluar dari pelipisnya. Pasien


itu tiada lain adalah Kiran. Ternyata gadis itu


di bawa ke istana ini oleh penghuni mobil tadi.


Sopir yang membawa Kiran tadi terlihat ada


di dalam ruang perawatan itu bersama dengan


2 orang lainnya. Seorang wanita juga seorang


pria setengah baya. Wajah mereka terlihat


sedikit cemas melihat kondisi Kiran belum


juga berhenti mengeluarkan darah.


Ada seorang pelayan berseragam hitam putih


masuk kedalam ruangan itu.


"Ada apa.?"


Tanya pria setengah baya tadi pada pelayan itu


yang kini menunduk di hadapannya.


"Maaf kepala pelayan..Nyonya Besar memanggil


anda ke kamarnya."


Pria itu tampak menegakkan badannya. Dia


melirik kearah wanita di sampingnya.


"Kau awasi penanganan ini aku akan menemui


Nyonya dulu.!"


"Baik..!"


Sambut wanita itu seraya mengangguk sedikit.


Kepala pelayan tadi langsung pergi keluar dari


ruangan steril itu.


Setelah melakukan penanganan darurat dan


cepat selama kurang lebih 2 jam akhirnya


pendarahan bisa di hentikan dan keadaan


Kiran saat ini sudah stabil. Hanya saja kulit


gadis itu terlihat sangat pucat tanpa rona


karena cukup banyak mengeluarkan darah.


"Bagaimana keadaannya Dokter, tidak ada


luka serius kan.?"


Tanya wanita berseragam formal tadi, usia


nya sekitar 40 tahunan. Penampilannya rapi


dan sedikit maskulin untuk ukuran wanita


dewasa, sangat menarik dan cukup elegan.


Dia merupakan wakil kepala pelayan di istana


super megah ini.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan..dia


hanya tinggal memulihkan kondisinya,


untung saja tidak ada luka dalam."


Jawab Dokter itu yang merupakan Dokter


pribadi di istana ini. Wanita tadi mengangguk


dengan ekspresi wajah lega. Dia menatap


wajah Kiran yang tetap terlihat mempesona


walau dalam keadaan pucat sekalipun. Saat


ini Kiran sudah berganti pakaian karena yang


di pakainya tadi berlumuran darah.


"Apa dia bisa di pindahkan ke kamar biasa


atau biarkan saja dulu di ruangan ini.?"


Kembali wanita itu bertanya dengan tatapan


tidak lepas dari wajah pucat Kiran.


"Untuk sementara biarkan saja dulu di ruangan


ini sampai habis cairan infus nya."


"Baiklah kalau begitu.."


Dokter tadi tampak merapihkan semua peralatan


medis pribadinya kemudian menyampirkan tas


ke bahunya.


"Saya harus kembali ke rumah sakit sekarang,


nanti malam kesini lagi untuk melihat kondisi


nya. Perawat akan terus mengawasi nya,


mungkin nanti malam dia baru siuman."


Ujar Dokter itu sambil kemudian melangkah


keluar dari ruang perawatan di ikuti oleh


wanita tadi.


"Agraa..."


Kiran bergumam lirih membuat para perawat


yang sedang merapikan peralatan tampak


meliriknya, menatapnya dalam diam. Mereka


saling pandang dengan alis terangkat kuat.


Agra..?? apakah yang di gumamkan oleh gadis


ini Tuan Agra Bintang.?


Mereka mengangkat bahunya bersamaan,


kembali pada kesibukannya merapihkan


alat-alat medis yang baru saja di bersihkan.


"Agraa.. maafkan aku..."


Kembali Kiran mengigau pelan. Dua perawat


itu menghentikan aktifitas nya, mendekat ke


arah Kiran, kemudian meraba kening gadis itu.


Mereka tampak terkejut, demam.??..


 


**********


 


TBC.....