Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
77. Di Pingit


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Dua hari menjelang resepsi...


Kiran baru saja selesai melaksanakan ibadah


sholat subuh. Wajahnya tampak bercahaya


dengan aura yang sangat berbeda. Untung


nya pagi ini dia tidak mengalami mual atau


pun muntah. Kondisinya benar-benar fit. Dia


segera berganti pakaian dengan yang lebih


resmi sedikit namun tetap santai. Wajah


Kiran tiba-tiba memanas saat mengingat


yang terjadi semalam di rooftop dimana


dirinya dan Agra bercinta dengan liar di


tempat terbuka, benar-benar memalukan.!


Tapi juga cukup mengesankan..!


Dia menatap pantulan dirinya di cermin besar


yang ada di ruang ganti pakaian. Saat ini dia mengenakkan dress cantik di bawah lutut


warna salem, rambutnya di biarkan tergerai


bebas karena masih setengah basah. Kiran


menghela napas panjang, sekarang ini dia


harus menguatkan hati dan jiwanya karena


mulai pagi ini dirinya akan menjalani tradisi


pingitan yang mengharuskan nya terpisah


dari Agra. Dia akan di kurung di ruang khusus


agar bisa terhindar dari dunia luar terutama


pertemuan dengan sang pujaan hati.


Kiran menatap Agra yang masih berada di


atas tempat tidur dengan bertelanjang dada.


Wajahnya yang menyiratkan kepuasan karena


segala hasratnya sudah tersalurkan terlihat


semakin mempesona membuat hati Kiran


bertambah berat untuk berpisah dengan nya.


"Sayang.. apakah aku akan bisa menjalani


hariku tanpa melihatmu.."


Lirih Kiran dengan serbuan perasaan yang


membuat dadanya terasa sesak. Dia naik ke


atas tempat tidur, merebahkan kepalanya di


dada bidang Agra, mendengarkan irama detak


jantung nya yang mampu membuat dirinya


tenang dan tentram. Tangannya melingkari


punggung kokoh suaminya itu, memeluknya


erat, enggan berpisah. Tidak sadar ada kristal


bening yang turun menyusuri pipi mulus nya.


"Nona..anda harus pergi ke belakang sekarang


sebelum matahari terbit.."


Kiran menghapus air matanya, melirik kearah


Tata dan 4 pelayan yang sudah berdiri di ruang


depan sejak 15 menit yang lalu.


"Tata..aku tidak tahu, apakah kami akan


sanggup untuk melewati semua ini.."


Kiran berucap getir masih memandang lekat


wajah Agra yang terlihat tenang, terlelap dalam


tidur nyenyak nya tanpa menyadari apa yang


sedang terjadi saat ini. Dia tidak tahu sama


sekali kalau Kiran akan di jemput sepagi ini.


"Anda harus sabar dan ikhlas dalam menjalani semuanya Nona..agar terasa lebih mudah melewatinya."


Tata menyahut dengan suara yang sangat


pelan karena takut membangunkan Sang


pangeran yang sedang tertidur. Kalau dia


sampai terbangun maka bisa dipastikan


bahwa dirinya akan kesulitan membawa


sang Putri pergi.


Kiran mendaratkan ciuman lembut dan


mesra di bibir seksi Agra, kemudian di


kedua pipinya.


"Sampai ketemu nanti sayang..aku akan


sangat merindukanmu.."


Bisiknya kemudian dengan berat hati. Dia


beranjak dari tempat tidur. Tata mendekat


memakaikan mantel putih ke tubuh Kiran


yang masih menatap berat kearah Agra.


"Mari Nona.. sebentar lagi matahari terbit."


Tata kembali mengingatkan. Kiran menarik


napas berat, memejamkan matanya kuat.


Cairan bening itu kembali berjatuhan dan


kali ini lebih deras lagi.


Akhirnya dengan berat hati dia melangkah


pergi keluar dari kamar meninggalkan Agra


yang masih saja terlelap dalam tidurnya.


Kiran langsung di giring masuk kedalam


rumah khusus seluas apartemen yang di


lengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti


kolam renang, dan home teather. Di sana


sudah menunggu Nyonya Amelia yang akan


menemani Kiran di ruangan ini selama dia


menjalani proses pingitan ini.


------ ------


Istana Hadiningrat dua hari ini akan di warnai


dengan kesibukan luar biasa karena persiapan


untuk gelaran resepsi nanti akan segera di


mulai. Pihak WO yang dipercaya menangani


acara ini sudah mulai melakukan langkah


awal pemasangan berbagai dekorasi di area


ruang tengah bangunan dalam istana yang


luasnya melebihi Ballroom itu. Tempat ini


juga menyambung dengan taman belakang


yang akan di jadikan sebagai area outdoor


nya saat resepsi nanti.


Semua persiapan di lakukan hari ini juga


hingga suasana di dalam istana terlihat


sangat sibuk. Hilir mudik beberapa orang


terlihat di halaman samping istana dimana


semua kegiatan akan terpusat di sana.


Semua orang luar yang akan masuk ke


istana harus melalui proses pemeriksaan


ketat di pintu masuk.


"Kalian membawanya tanpa izin dulu padaku.


Setidaknya bangunkan aku..!"


Bentakan Agra membahana di ruang makan


istana utama. Pagi ini tampak nya emosi Tuan


muda sedang tidak terkendali. Para pelayan


memilih diam agar tidak terkena dampaknya.


Pak Hans dan Tata menunduk di hadapannya.


Bara dan Zack yang sudah ada di rumah itu


tampak terdiam dalam bingung.


"Mohon maaf Tuan Muda..tapi Nona harus


sudah ada di ruang pengasingan sebelum


matahari terbit.."


Tata memaksakan diri berucap dengan suara


yang sangat pelan. Agra menarik napas kasar,


ini sesuatu yang sangat berat, harus terpisah


dengan Kiran untuk dua hari ke depan.


"Seharusnya semua ini tidak perlu lagi di


lakukan.! Kalian telah menculiknya dariku.!"


Geram Agra sambil kemudian meneguk air


putih dengan kasar, lalu beranjak dari duduk


nya kemudian melangkah dengan tampang


yang sangat dingin membekukan .


"Kalian.. ikut aku ke ruang kontrol..!"


Agra melirik kearah Bara dan Zack yang


sontak mengangguk dan mengikutinya,


mereka bertiga melangkah keluar dari


ruang makan meninggalkan Pak Hans


dan Tata yang menguasai dada lega.


Sampai di ruang kontrol Agra bersama dua


bawahan setianya itu langsung saja berkutat


dengan segala kegiatan rahasianya. Setengah


jam kemudian wajah Sang Tuan Muda tampak sumringah karena di layar ponselnya kini sudah


ada sosok kekasih hati. Dia bisa mengakses


semua gerak gerik Kiran yang berada di ruang pengasingan selama 24 jam penuh.


Agra tersenyum tipis saat melihat Kiran sedang


melakukan luluran di ruang belakang yang ada


taman mata air bersama kedua orang tuanya


dan beberapa pelayan serta para profesional.


Dia menarik napas berat dengan tatapan yang


tiada henti mengarah pada sosok pujaan hati.


Setidaknya rekaman CCTV rahasia ini bisa


menjadi pelampiasan kerinduannya.


"Kita berangkat ke kantor sekarang..!"


Agra beranjak dari tempat duduknya kemudian


keluar dari ruang kontrol untuk langsung pergi


ke kantornya.


"Tuan..anda harus sarapan dulu.."


Bara mengingatkan sambil mengikuti langkah


Agra dari belakang.


"Aku tidak berselera..! "


Ketus Agra membuat Bara terdiam bingung.


"Tingkatkan penjagaan di pintu gerbang..!"


Titah Agra pada Zack yang di beri tugas untuk


memimpin pengamanan di istananya.


"Baik Tuan..kami sudah meningkatkan sistem


kontrol di beberapa sektor dan titik..!"


"Hemm.. baiklah.. Mungkin Ayahku hari ini


akan kembali kesini..!"


Ujar Agra, Zack mengangguk sambil kemudian


menutupkan pintu mobil seraya membungkuk.


Ternyata Tuan Hasimoto telah kembali terbang


ke negaranya di hari kedua dia ada di tempat


ini, tapi Nyonya Yuri di biarkan tetap tinggal.


****** *******


Mobil sport mewah warna merah metalik tiba


di depan gerbang utama istana di ikuti oleh dua


mobil hitam lainnya di belakang. Para penjaga langsung datang menghampiri sang pengemudi


mobil mewah tersebut yang membuka kaca


mobilnya sedikit.


"Selamat siang Tuan.. Mohon maaf anda mau


bertemu dengan siapa.?"


Sambut salah seorang penjaga menegakkan


badan dengan sikap siaga sambil mengawasi


dua orang yang ada di dalam mobil tersebut.


"Aku Nathan Wiranata bersama istriku Aryella


datang untuk bertemu dengan Nona Muda


rumah ini.."


Jawab sang pengemudi yang ternyata adalah


Nathan. Penjaga itu menatap sekilas pada


sosok wanita cantik di samping pengemudi.


"Sebentar Tuan..kami harus melakukan


verifikasi menyeluruh terlebih dahulu..!"


Penjaga tadi berlalu pergi sambil melakukan


panggilan telepon.


"Kenapa harus seketat ini sih penjagaan nya.?


Ataukah memang seperti ini..?"


Keluh Aryella dengan perasaan sedikit tegang.


Nathan melirik kearah Aryella yang hari ini


terlihat cantik dan segar dengan gaun manis


tertutup serta polesan wajah natural. Ternyata


Aryella sudah memutuskan berhenti berkarir


dari dunia modeling. Dia ingin fokus menjadi


seorang istri bagi Nathan walau sampai hari


ini sikapnya masih terlihat sama, datar saja.


Namun setidaknya dia mau menerima dan


mengakui dirinya sebagai istrinya.


Namun hari ini ada yang sedikit berbeda dari


sikap Nathan, dia memaksa untuk mengantarkan


dirinya ke istana ini, walau Aryella yakin alasan


sebenarnya Nathan mau mengantarnya ke


tempat ini karena ingin bertemu dengan Kiran.


"Memang seperti ini biasanya. Tapi seperti


nya sekarang semua penjagaan di tingkatkan..!"


Sahut Nathan, keduanya saling pandang


dalam diam.


"Kamu terlihat sangat cantik hari ini.!"


Ujar Nathan dengan tatapan yang terlihat


semakin lekat membuat wajah Aryella kini


di penuhi semburat merah. Jantungnya seakan


mau melompat keluar. Nathan bilang dirinya


cantik..? Huft..perasaan Aryella langsung


mengawang, namun dia berusaha untuk


tetap tenang dan mengendalikan dirinya.


"Dasar gombal..!"


Desis Aryella memalingkan wajahnya ke arah


luar jendela sementara Nathan tersenyum tipis .


"Tuan..anda di persilahkan masuk, tapi mohon


maaf para pengawal anda tidak bisa masuk..!"


Penjaga tadi sudah berdiri di depan pintu.


"Tidak apa-apa..Aku juga tidak akan lama,


hanya mengantarkan istriku saja..!"


kembali mobilnya memasuki gerbang utama.


Aryella tampak melongo melihat bagaimana


megah, mewah dan luasnya istana Hadiningrat


ini. Jadi..selama ini Kiran hidup dan tinggal di


istana sekeren ini..?? Tuhan.. Aryella hanya


bisa menggeleng takjub.


Mobil Nathan langsung di arahkan menuju


paviliun belakang. Aryella tiada henti berdecak


kagum melihat semua pemandangan luar


biasa ini. Istana ini luasnya entah berapa


hektar, di tambah bangunan mesjid megah


yang menjulang indah di tengah kawasan.


"Sudah.. jangan terlalu norak..!"


Nathan mengingatkan dengan wajah sedikit


tidak suka melihat keterpesonaan yang


terlihat jelas di raut wajah istrinya itu


saat mereka sampai di parkiran khusus.


"Tempat ini indah banget Nathan..siapa


yang tidak terpesona saat melihatnya..!"


"Tapi kau tidak perlu senorak itu. Ingat, kau


adalah istri seorang Nathan Wiranata..!"


Aryella langsung melirik, menatap Nathan


penuh rasa tidak percaya. Sudah berkali-kali


Nathan mengulang kata istri untuk dirinya.


"Sorry..aku memang belum pernah melihat


tempat seindah ini di negara kita..!"


"Aku bisa membuatkan nya untukmu kalau


kau mau..!"


"Tidak perlu..! memang aku ini siapa di mata


kamu Tuan Nathan..!"


"Bisakah kamu mengubah panggilan terhadap


ku..? aku bukan orang lain sekarang..!"


Aryella terhenyak, menatap Nathan yang juga


sedang menatapnya.


"A-apa maksudmu..? memang nya aku harus memanggil mu dengan sebutan apa.?"


"Aryella..aku suamimu sekarang..!"


Ketus Nathan dengan wajah yang terlihat


kesal namun juga merajuk. Mata Aryella


sedikit berbinar campur heran, sebenarnya


ada apa dengan Nathan hari ini.?


"Ada apa denganmu.? Apa kau mau aku


memanggil mu dengan sebutan yang


lebih pribadi begitu..?"


"Kau bisa melakukannya bukan..?"


Keduanya saling pandang kuat, Aryella


menggeleng pelan tidak percaya.


"Nathan..bahkan selama ini kita berdua tidur


terpisah..lalu kenapa sekarang kamu mau


aku memanggil mu dengan sebutan yang


lebih intim.?"


"Mulai malam ini kau pindah ke kamarku..!"


"Apa..? eemhh...!"


Nathan membungkam mulut Aryella karena


teriakan gadis itu mengalihkan perhatian


beberapa orang yang sedang hilir mudik di


halaman samping istana.


"Apa kau tidak bisa mengontrol suaramu


itu.? suaramu jelek sekali, telingaku bisa


rusak karenanya.!"


Geram Nathan sambil melepaskan tangan


nya dari mulut Aryella yang masih menganga


tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"A-apa yang kau katakan tadi benar...?"


Aryella berusaha meyakinkan diri, menatap


lekat wajah tampan Nathan yang sedang


melepas sabuk pengaman.


"Itu kalau kau mau, kalau tidak juga terserah


kamu, aku tidak akan memaksa.!"


Aryella meraih wajah Nathan lalu tanpa basa


basi dia langsung menyergap bibir laki-laki


itu, ********** rakus dengan gerakan yang


mampu menyedot hasrat Nathan hingga dia


langsung membalas aksi panas Aryella.


Untuk beberapa lama keduanya larut dalam


ciuman panas dan lembut yang sudah cukup


lama tidak pernah mereka lakukan lagi.


"Aku akan berusaha memuaskan hasratmu


dengan semua keahlian ku sayang..Jadi aku


minta jangan pernah bermain perempuan


lagi di luar sana..!"


Desis Aryella setelah mereka melepas ciuman


nya karena kehabisan napas. Keduanya masih


saling menatap sambil mengatur napas.


"Aku sudah tidak pernah melakukannya lagi


sejak kita menikah..!"


Bisik Nathan dengan tatapan teduh penuh


kabut gairah. Wajah Aryella semakin berbinar.


"Aku tahu akan sedikit sulit bagimu membuka


hati untukku, tapi setidaknya keberadaan ku


cukup berarti di sisimu..!"


Lirih Aryella sambil kembali ******* lembut


bibir Nathan. Dalam sekejap dia melupakan


niatnya untuk berlaku dingin terhadap Nathan


hanya karena mendengar ucapan laki-laki


itu barusan, ini benar-benar kacau.!


"Selama ini tidak ada yang bisa menandingi


keliaranmu..!"


Bisik Nathan di telinga Aryella yang langsung


mendorong halus dada pria itu seraya mendelik


kesal, semburat merah kini memenuhi wajahnya. Nathan tersenyum miring sambil mengangkat


wajah Aryella di dekatkan ke hadapannya.


"Puaskan aku malam ini sebagai percobaan


pertama menjalankan perannu sebagai istriku


Aryella sayang..."


Nathan kembali berbisik halus dengan tatapan


yang semakin dalam. Keduanya saling menatap


kuat, bibir Nathan tersenyum penuh arti, Aryella


segera menepis tangan Nathan, memalingkan


wajah kearah luar kemudian merapihkan gaunnya.


"Kita lihat saja nanti malam Tuan Nathan..!"


Ucap Aryella sambil kemudian meraih tasnya.


Nathan membuka pintu mobil otomatis.Tata


dan dua pelayan segera menghampiri Aryella


lalu membungkuk di hadapannya.


"Nona Aryella.. selamat datang..! Mari.. saya


akan mengantar anda menemui Nona Muda."


Ujar Tata sambil mundur memberi jalan.


Aryella menatap Tata dan para pelayan.


"Apa suamiku bisa masuk juga..?"


"Tentu Nona..tapi mohon maaf Tuan tidak


bisa menemui Nona Muda..Dia sedang


dalam proses pingitan, tidak di perkenankan


bertemu dengan pria manapun..!"


"Ohh.. begitu ya.."


Aryella menoleh kearah Nathan yang masih


ada di dalam mobil.


"Masuklah..aku akan pergi ke kantor sekarang.


Nanti malam aku akan menjemputmu lagi..!"


Ujar Nathan sambil mengedipkan mata.


"Baiklah kalau begitu.. hati-hati ya, sampai


jumpa nanti malam..!"


Aryella berdiri di samping mobil menatap


kearah Nathan yang mulai menyalakan


mesin dan menutup kembali pintu mobil


namun mata mereka masih saling menatap.


"Mari ikuti saya Nona.."


Tata mengulurkan tangan membimbing


Aryella yang masih menatap kepergian mobil


Nathan hingga menghilang di balik taman,


akhirnya Aryella melangkah mengikuti Tata


menuju paviliun belakang.


Kiran yang baru saja selesai makan siang


dengan menu pilihan tampak sumringah


melihat kemunculan Aryella.


"Aryella.. akhirnya kamu datang juga.."


Keduanya saling berpelukan erat melepas


rasa kangen di dada.


"Maaf..aku baru selesai mengurus semua


sisa kontrak kerjaku jadi baru hari ini bisa


datang kesini..!"


Sahut Aryella. Setelah cukup lama akhirnya


mereka.saling melepaskan diri.


"Ibu.. perkenalkan..dia adalah Aryella.. adik


bungsuku.."


Kiran memperkenalkan Aryella pada Nyonya


Yuri yang tersenyum lembut kearah Aryella


yang sedang terpesona melihat kecantikan


ibu mertua kakak nya itu. Pantas saja putra


nya begitu tampan ternyata ibunya begini


cantik dan memukau.


"Selamat siang Nyonya.. senang berkenalan


dengan anda.."


Sapa Aryella seraya menundukan kepalanya


sedikit dengan gestur tubuh yang halus dan


anggun.


"Tidak perlu terlalu formal, kau adalah adik


dari menantuku, berarti kau juga putriku.."


Sambut Nyonya Yuri sambil kemudian dia


merangkul hangat tubuh Aryella yang terkejut


sesaat tidak menyangka akan mendapatkan


sambutan seramah ini, namun tidak lama dia


membalas rangkulan Nyonya Yuri.


Setelah lepas dari pelukan Nyonya Yuri, Aryella langsung berhambur ke dalam pelukan ibunya


yang dari tadi sudah berkaca-kaca. Sejak putri bungsunya itu menikah lalu di boyong ke rumah Nathan mereka berdua memang jarang bertemu.


"Baiklah..ibu saya mohon ijin minta waktu


berdua saja dengan Aryella.."


Kiran menggengam tangan Aryella. Nyonya


Yuri mengangguk.


"Pergilah..kami juga akan ke kamar Eyang


Putri untuk membicarakan hal penting lainnya.."


Ujar Nyonya Yuri sambil melirik kearah Nyonya


Amelia yang mengangguk kemudian mereka


berdua berlalu pergi.


"Kakaakk... istana ini sangat indaaahh....!"


Kiran langsung menutup mulut Aryella lalu


membawanya masuk ke dalam kamar pribadi


yang ada di samping ruangan tadi.


"Ini fantastis sekali kak..kamu benar-benar


beruntung mendapatkan Tuan Agra sebagai


suamimu..! Dia adalah laki-laki yang sangat


sempurna.."


Cerocos Aryella sambil menjatuhkan dirinya


diatas tempat tidur berukurang besar dengan


harum aroma wangi bunga dimana-mana.


Kiran duduk bersila di samping Aryella.


"Alhamdulillah.. Tuhan begitu baik padaku.


Aku mendapatkan suami yang sempurna


plus paket komplit keluarganya yang juga


sangat menyayangi ku..!"


"Kau memang pantas mendapatkan semua


ini karena kau adalah wanita pilihan. Justru


suami mu lah yang beruntung mendapatkan


wanita sebaik dirimu.."


Keduanya saling pandang dengan senyum


manis yang sama-sama terkembang.


"Kau terlalu berlebihan Aryella.."


"Itulah kenyataannya kak. Oya..sampai lupa..


selamat ya..atas kehamilan mu..Aku ikut


bahagia dan mendoakan yang terbaik untuk


kalian berdua.."


"Iya.. terimakasih adikku sayang..Aamiin..!"


Kiran mengelus perut datarnya dengan mata


berbinar indah.


"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Nathan?


Aku yakin sekarang ini hubungan kalian sudah berkembang kearah yang lebih baik kan..?"


"Aku harap begitu. Walaupun butuh waktu,


tapi aku harap niat baikku untuk memperbaiki


diri akan berbuah manis ke depannya."


"Insyaallah.. semuanya tidak akan sia-sia


selama kamu tulus menjalaninya.."


Keduanya kembali saling berpelukan erat


di penuhi oleh harapan dan kebahagiaan..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....