
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Dua hari menjelang resepsi...
Kiran baru saja selesai melaksanakan ibadah
sholat subuh. Wajahnya tampak bercahaya
dengan aura yang sangat berbeda. Untung
nya pagi ini dia tidak mengalami mual atau
pun muntah. Kondisinya benar-benar fit. Dia
segera berganti pakaian dengan yang lebih
resmi sedikit namun tetap santai. Wajah
Kiran tiba-tiba memanas saat mengingat
yang terjadi semalam di rooftop dimana
dirinya dan Agra bercinta dengan liar di
tempat terbuka, benar-benar memalukan.!
Tapi juga cukup mengesankan..!
Dia menatap pantulan dirinya di cermin besar
yang ada di ruang ganti pakaian. Saat ini dia mengenakkan dress cantik di bawah lutut
warna salem, rambutnya di biarkan tergerai
bebas karena masih setengah basah. Kiran
menghela napas panjang, sekarang ini dia
harus menguatkan hati dan jiwanya karena
mulai pagi ini dirinya akan menjalani tradisi
pingitan yang mengharuskan nya terpisah
dari Agra. Dia akan di kurung di ruang khusus
agar bisa terhindar dari dunia luar terutama
pertemuan dengan sang pujaan hati.
Kiran menatap Agra yang masih berada di
atas tempat tidur dengan bertelanjang dada.
Wajahnya yang menyiratkan kepuasan karena
segala hasratnya sudah tersalurkan terlihat
semakin mempesona membuat hati Kiran
bertambah berat untuk berpisah dengan nya.
"Sayang.. apakah aku akan bisa menjalani
hariku tanpa melihatmu.."
Lirih Kiran dengan serbuan perasaan yang
membuat dadanya terasa sesak. Dia naik ke
atas tempat tidur, merebahkan kepalanya di
dada bidang Agra, mendengarkan irama detak
jantung nya yang mampu membuat dirinya
tenang dan tentram. Tangannya melingkari
punggung kokoh suaminya itu, memeluknya
erat, enggan berpisah. Tidak sadar ada kristal
bening yang turun menyusuri pipi mulus nya.
"Nona..anda harus pergi ke belakang sekarang
sebelum matahari terbit.."
Kiran menghapus air matanya, melirik kearah
Tata dan 4 pelayan yang sudah berdiri di ruang
depan sejak 15 menit yang lalu.
"Tata..aku tidak tahu, apakah kami akan
sanggup untuk melewati semua ini.."
Kiran berucap getir masih memandang lekat
wajah Agra yang terlihat tenang, terlelap dalam
tidur nyenyak nya tanpa menyadari apa yang
sedang terjadi saat ini. Dia tidak tahu sama
sekali kalau Kiran akan di jemput sepagi ini.
"Anda harus sabar dan ikhlas dalam menjalani semuanya Nona..agar terasa lebih mudah melewatinya."
Tata menyahut dengan suara yang sangat
pelan karena takut membangunkan Sang
pangeran yang sedang tertidur. Kalau dia
sampai terbangun maka bisa dipastikan
bahwa dirinya akan kesulitan membawa
sang Putri pergi.
Kiran mendaratkan ciuman lembut dan
mesra di bibir seksi Agra, kemudian di
kedua pipinya.
"Sampai ketemu nanti sayang..aku akan
sangat merindukanmu.."
Bisiknya kemudian dengan berat hati. Dia
beranjak dari tempat tidur. Tata mendekat
memakaikan mantel putih ke tubuh Kiran
yang masih menatap berat kearah Agra.
"Mari Nona.. sebentar lagi matahari terbit."
Tata kembali mengingatkan. Kiran menarik
napas berat, memejamkan matanya kuat.
Cairan bening itu kembali berjatuhan dan
kali ini lebih deras lagi.
Akhirnya dengan berat hati dia melangkah
pergi keluar dari kamar meninggalkan Agra
yang masih saja terlelap dalam tidurnya.
Kiran langsung di giring masuk kedalam
rumah khusus seluas apartemen yang di
lengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti
kolam renang, dan home teather. Di sana
sudah menunggu Nyonya Amelia yang akan
menemani Kiran di ruangan ini selama dia
menjalani proses pingitan ini.
------ ------
Istana Hadiningrat dua hari ini akan di warnai
dengan kesibukan luar biasa karena persiapan
untuk gelaran resepsi nanti akan segera di
mulai. Pihak WO yang dipercaya menangani
acara ini sudah mulai melakukan langkah
awal pemasangan berbagai dekorasi di area
ruang tengah bangunan dalam istana yang
luasnya melebihi Ballroom itu. Tempat ini
juga menyambung dengan taman belakang
yang akan di jadikan sebagai area outdoor
nya saat resepsi nanti.
Semua persiapan di lakukan hari ini juga
hingga suasana di dalam istana terlihat
sangat sibuk. Hilir mudik beberapa orang
terlihat di halaman samping istana dimana
semua kegiatan akan terpusat di sana.
Semua orang luar yang akan masuk ke
istana harus melalui proses pemeriksaan
ketat di pintu masuk.
"Kalian membawanya tanpa izin dulu padaku.
Setidaknya bangunkan aku..!"
Bentakan Agra membahana di ruang makan
istana utama. Pagi ini tampak nya emosi Tuan
muda sedang tidak terkendali. Para pelayan
memilih diam agar tidak terkena dampaknya.
Pak Hans dan Tata menunduk di hadapannya.
Bara dan Zack yang sudah ada di rumah itu
tampak terdiam dalam bingung.
"Mohon maaf Tuan Muda..tapi Nona harus
sudah ada di ruang pengasingan sebelum
matahari terbit.."
Tata memaksakan diri berucap dengan suara
yang sangat pelan. Agra menarik napas kasar,
ini sesuatu yang sangat berat, harus terpisah
dengan Kiran untuk dua hari ke depan.
"Seharusnya semua ini tidak perlu lagi di
lakukan.! Kalian telah menculiknya dariku.!"
Geram Agra sambil kemudian meneguk air
putih dengan kasar, lalu beranjak dari duduk
nya kemudian melangkah dengan tampang
yang sangat dingin membekukan .
"Kalian.. ikut aku ke ruang kontrol..!"
Agra melirik kearah Bara dan Zack yang
sontak mengangguk dan mengikutinya,
mereka bertiga melangkah keluar dari
ruang makan meninggalkan Pak Hans
dan Tata yang menguasai dada lega.
Sampai di ruang kontrol Agra bersama dua
bawahan setianya itu langsung saja berkutat
dengan segala kegiatan rahasianya. Setengah
jam kemudian wajah Sang Tuan Muda tampak sumringah karena di layar ponselnya kini sudah
ada sosok kekasih hati. Dia bisa mengakses
semua gerak gerik Kiran yang berada di ruang pengasingan selama 24 jam penuh.
Agra tersenyum tipis saat melihat Kiran sedang
melakukan luluran di ruang belakang yang ada
taman mata air bersama kedua orang tuanya
dan beberapa pelayan serta para profesional.
Dia menarik napas berat dengan tatapan yang
tiada henti mengarah pada sosok pujaan hati.
Setidaknya rekaman CCTV rahasia ini bisa
menjadi pelampiasan kerinduannya.
"Kita berangkat ke kantor sekarang..!"
Agra beranjak dari tempat duduknya kemudian
keluar dari ruang kontrol untuk langsung pergi
ke kantornya.
"Tuan..anda harus sarapan dulu.."
Bara mengingatkan sambil mengikuti langkah
Agra dari belakang.
"Aku tidak berselera..! "
Ketus Agra membuat Bara terdiam bingung.
"Tingkatkan penjagaan di pintu gerbang..!"
Titah Agra pada Zack yang di beri tugas untuk
memimpin pengamanan di istananya.
"Baik Tuan..kami sudah meningkatkan sistem
kontrol di beberapa sektor dan titik..!"
"Hemm.. baiklah.. Mungkin Ayahku hari ini
akan kembali kesini..!"
Ujar Agra, Zack mengangguk sambil kemudian
menutupkan pintu mobil seraya membungkuk.
Ternyata Tuan Hasimoto telah kembali terbang
ke negaranya di hari kedua dia ada di tempat
ini, tapi Nyonya Yuri di biarkan tetap tinggal.
****** *******
Mobil sport mewah warna merah metalik tiba
di depan gerbang utama istana di ikuti oleh dua
mobil hitam lainnya di belakang. Para penjaga langsung datang menghampiri sang pengemudi
mobil mewah tersebut yang membuka kaca
mobilnya sedikit.
"Selamat siang Tuan.. Mohon maaf anda mau
bertemu dengan siapa.?"
Sambut salah seorang penjaga menegakkan
badan dengan sikap siaga sambil mengawasi
dua orang yang ada di dalam mobil tersebut.
"Aku Nathan Wiranata bersama istriku Aryella
datang untuk bertemu dengan Nona Muda
rumah ini.."
Jawab sang pengemudi yang ternyata adalah
Nathan. Penjaga itu menatap sekilas pada
sosok wanita cantik di samping pengemudi.
"Sebentar Tuan..kami harus melakukan
verifikasi menyeluruh terlebih dahulu..!"
Penjaga tadi berlalu pergi sambil melakukan
panggilan telepon.
"Kenapa harus seketat ini sih penjagaan nya.?
Ataukah memang seperti ini..?"
Keluh Aryella dengan perasaan sedikit tegang.
Nathan melirik kearah Aryella yang hari ini
terlihat cantik dan segar dengan gaun manis
tertutup serta polesan wajah natural. Ternyata
Aryella sudah memutuskan berhenti berkarir
dari dunia modeling. Dia ingin fokus menjadi
seorang istri bagi Nathan walau sampai hari
ini sikapnya masih terlihat sama, datar saja.
Namun setidaknya dia mau menerima dan
mengakui dirinya sebagai istrinya.
Namun hari ini ada yang sedikit berbeda dari
sikap Nathan, dia memaksa untuk mengantarkan
dirinya ke istana ini, walau Aryella yakin alasan
sebenarnya Nathan mau mengantarnya ke
tempat ini karena ingin bertemu dengan Kiran.
"Memang seperti ini biasanya. Tapi seperti
nya sekarang semua penjagaan di tingkatkan..!"
Sahut Nathan, keduanya saling pandang
dalam diam.
"Kamu terlihat sangat cantik hari ini.!"
Ujar Nathan dengan tatapan yang terlihat
semakin lekat membuat wajah Aryella kini
di penuhi semburat merah. Jantungnya seakan
mau melompat keluar. Nathan bilang dirinya
cantik..? Huft..perasaan Aryella langsung
mengawang, namun dia berusaha untuk
tetap tenang dan mengendalikan dirinya.
"Dasar gombal..!"
Desis Aryella memalingkan wajahnya ke arah
luar jendela sementara Nathan tersenyum tipis .
"Tuan..anda di persilahkan masuk, tapi mohon
maaf para pengawal anda tidak bisa masuk..!"
Penjaga tadi sudah berdiri di depan pintu.
"Tidak apa-apa..Aku juga tidak akan lama,
hanya mengantarkan istriku saja..!"
kembali mobilnya memasuki gerbang utama.
Aryella tampak melongo melihat bagaimana
megah, mewah dan luasnya istana Hadiningrat
ini. Jadi..selama ini Kiran hidup dan tinggal di
istana sekeren ini..?? Tuhan.. Aryella hanya
bisa menggeleng takjub.
Mobil Nathan langsung di arahkan menuju
paviliun belakang. Aryella tiada henti berdecak
kagum melihat semua pemandangan luar
biasa ini. Istana ini luasnya entah berapa
hektar, di tambah bangunan mesjid megah
yang menjulang indah di tengah kawasan.
"Sudah.. jangan terlalu norak..!"
Nathan mengingatkan dengan wajah sedikit
tidak suka melihat keterpesonaan yang
terlihat jelas di raut wajah istrinya itu
saat mereka sampai di parkiran khusus.
"Tempat ini indah banget Nathan..siapa
yang tidak terpesona saat melihatnya..!"
"Tapi kau tidak perlu senorak itu. Ingat, kau
adalah istri seorang Nathan Wiranata..!"
Aryella langsung melirik, menatap Nathan
penuh rasa tidak percaya. Sudah berkali-kali
Nathan mengulang kata istri untuk dirinya.
"Sorry..aku memang belum pernah melihat
tempat seindah ini di negara kita..!"
"Aku bisa membuatkan nya untukmu kalau
kau mau..!"
"Tidak perlu..! memang aku ini siapa di mata
kamu Tuan Nathan..!"
"Bisakah kamu mengubah panggilan terhadap
ku..? aku bukan orang lain sekarang..!"
Aryella terhenyak, menatap Nathan yang juga
sedang menatapnya.
"A-apa maksudmu..? memang nya aku harus memanggil mu dengan sebutan apa.?"
"Aryella..aku suamimu sekarang..!"
Ketus Nathan dengan wajah yang terlihat
kesal namun juga merajuk. Mata Aryella
sedikit berbinar campur heran, sebenarnya
ada apa dengan Nathan hari ini.?
"Ada apa denganmu.? Apa kau mau aku
memanggil mu dengan sebutan yang
lebih pribadi begitu..?"
"Kau bisa melakukannya bukan..?"
Keduanya saling pandang kuat, Aryella
menggeleng pelan tidak percaya.
"Nathan..bahkan selama ini kita berdua tidur
terpisah..lalu kenapa sekarang kamu mau
aku memanggil mu dengan sebutan yang
lebih intim.?"
"Mulai malam ini kau pindah ke kamarku..!"
"Apa..? eemhh...!"
Nathan membungkam mulut Aryella karena
teriakan gadis itu mengalihkan perhatian
beberapa orang yang sedang hilir mudik di
halaman samping istana.
"Apa kau tidak bisa mengontrol suaramu
itu.? suaramu jelek sekali, telingaku bisa
rusak karenanya.!"
Geram Nathan sambil melepaskan tangan
nya dari mulut Aryella yang masih menganga
tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"A-apa yang kau katakan tadi benar...?"
Aryella berusaha meyakinkan diri, menatap
lekat wajah tampan Nathan yang sedang
melepas sabuk pengaman.
"Itu kalau kau mau, kalau tidak juga terserah
kamu, aku tidak akan memaksa.!"
Aryella meraih wajah Nathan lalu tanpa basa
basi dia langsung menyergap bibir laki-laki
itu, ********** rakus dengan gerakan yang
mampu menyedot hasrat Nathan hingga dia
langsung membalas aksi panas Aryella.
Untuk beberapa lama keduanya larut dalam
ciuman panas dan lembut yang sudah cukup
lama tidak pernah mereka lakukan lagi.
"Aku akan berusaha memuaskan hasratmu
dengan semua keahlian ku sayang..Jadi aku
minta jangan pernah bermain perempuan
lagi di luar sana..!"
Desis Aryella setelah mereka melepas ciuman
nya karena kehabisan napas. Keduanya masih
saling menatap sambil mengatur napas.
"Aku sudah tidak pernah melakukannya lagi
sejak kita menikah..!"
Bisik Nathan dengan tatapan teduh penuh
kabut gairah. Wajah Aryella semakin berbinar.
"Aku tahu akan sedikit sulit bagimu membuka
hati untukku, tapi setidaknya keberadaan ku
cukup berarti di sisimu..!"
Lirih Aryella sambil kembali ******* lembut
bibir Nathan. Dalam sekejap dia melupakan
niatnya untuk berlaku dingin terhadap Nathan
hanya karena mendengar ucapan laki-laki
itu barusan, ini benar-benar kacau.!
"Selama ini tidak ada yang bisa menandingi
keliaranmu..!"
Bisik Nathan di telinga Aryella yang langsung
mendorong halus dada pria itu seraya mendelik
kesal, semburat merah kini memenuhi wajahnya. Nathan tersenyum miring sambil mengangkat
wajah Aryella di dekatkan ke hadapannya.
"Puaskan aku malam ini sebagai percobaan
pertama menjalankan perannu sebagai istriku
Aryella sayang..."
Nathan kembali berbisik halus dengan tatapan
yang semakin dalam. Keduanya saling menatap
kuat, bibir Nathan tersenyum penuh arti, Aryella
segera menepis tangan Nathan, memalingkan
wajah kearah luar kemudian merapihkan gaunnya.
"Kita lihat saja nanti malam Tuan Nathan..!"
Ucap Aryella sambil kemudian meraih tasnya.
Nathan membuka pintu mobil otomatis.Tata
dan dua pelayan segera menghampiri Aryella
lalu membungkuk di hadapannya.
"Nona Aryella.. selamat datang..! Mari.. saya
akan mengantar anda menemui Nona Muda."
Ujar Tata sambil mundur memberi jalan.
Aryella menatap Tata dan para pelayan.
"Apa suamiku bisa masuk juga..?"
"Tentu Nona..tapi mohon maaf Tuan tidak
bisa menemui Nona Muda..Dia sedang
dalam proses pingitan, tidak di perkenankan
bertemu dengan pria manapun..!"
"Ohh.. begitu ya.."
Aryella menoleh kearah Nathan yang masih
ada di dalam mobil.
"Masuklah..aku akan pergi ke kantor sekarang.
Nanti malam aku akan menjemputmu lagi..!"
Ujar Nathan sambil mengedipkan mata.
"Baiklah kalau begitu.. hati-hati ya, sampai
jumpa nanti malam..!"
Aryella berdiri di samping mobil menatap
kearah Nathan yang mulai menyalakan
mesin dan menutup kembali pintu mobil
namun mata mereka masih saling menatap.
"Mari ikuti saya Nona.."
Tata mengulurkan tangan membimbing
Aryella yang masih menatap kepergian mobil
Nathan hingga menghilang di balik taman,
akhirnya Aryella melangkah mengikuti Tata
menuju paviliun belakang.
Kiran yang baru saja selesai makan siang
dengan menu pilihan tampak sumringah
melihat kemunculan Aryella.
"Aryella.. akhirnya kamu datang juga.."
Keduanya saling berpelukan erat melepas
rasa kangen di dada.
"Maaf..aku baru selesai mengurus semua
sisa kontrak kerjaku jadi baru hari ini bisa
datang kesini..!"
Sahut Aryella. Setelah cukup lama akhirnya
mereka.saling melepaskan diri.
"Ibu.. perkenalkan..dia adalah Aryella.. adik
bungsuku.."
Kiran memperkenalkan Aryella pada Nyonya
Yuri yang tersenyum lembut kearah Aryella
yang sedang terpesona melihat kecantikan
ibu mertua kakak nya itu. Pantas saja putra
nya begitu tampan ternyata ibunya begini
cantik dan memukau.
"Selamat siang Nyonya.. senang berkenalan
dengan anda.."
Sapa Aryella seraya menundukan kepalanya
sedikit dengan gestur tubuh yang halus dan
anggun.
"Tidak perlu terlalu formal, kau adalah adik
dari menantuku, berarti kau juga putriku.."
Sambut Nyonya Yuri sambil kemudian dia
merangkul hangat tubuh Aryella yang terkejut
sesaat tidak menyangka akan mendapatkan
sambutan seramah ini, namun tidak lama dia
membalas rangkulan Nyonya Yuri.
Setelah lepas dari pelukan Nyonya Yuri, Aryella langsung berhambur ke dalam pelukan ibunya
yang dari tadi sudah berkaca-kaca. Sejak putri bungsunya itu menikah lalu di boyong ke rumah Nathan mereka berdua memang jarang bertemu.
"Baiklah..ibu saya mohon ijin minta waktu
berdua saja dengan Aryella.."
Kiran menggengam tangan Aryella. Nyonya
Yuri mengangguk.
"Pergilah..kami juga akan ke kamar Eyang
Putri untuk membicarakan hal penting lainnya.."
Ujar Nyonya Yuri sambil melirik kearah Nyonya
Amelia yang mengangguk kemudian mereka
berdua berlalu pergi.
"Kakaakk... istana ini sangat indaaahh....!"
Kiran langsung menutup mulut Aryella lalu
membawanya masuk ke dalam kamar pribadi
yang ada di samping ruangan tadi.
"Ini fantastis sekali kak..kamu benar-benar
beruntung mendapatkan Tuan Agra sebagai
suamimu..! Dia adalah laki-laki yang sangat
sempurna.."
Cerocos Aryella sambil menjatuhkan dirinya
diatas tempat tidur berukurang besar dengan
harum aroma wangi bunga dimana-mana.
Kiran duduk bersila di samping Aryella.
"Alhamdulillah.. Tuhan begitu baik padaku.
Aku mendapatkan suami yang sempurna
plus paket komplit keluarganya yang juga
sangat menyayangi ku..!"
"Kau memang pantas mendapatkan semua
ini karena kau adalah wanita pilihan. Justru
suami mu lah yang beruntung mendapatkan
wanita sebaik dirimu.."
Keduanya saling pandang dengan senyum
manis yang sama-sama terkembang.
"Kau terlalu berlebihan Aryella.."
"Itulah kenyataannya kak. Oya..sampai lupa..
selamat ya..atas kehamilan mu..Aku ikut
bahagia dan mendoakan yang terbaik untuk
kalian berdua.."
"Iya.. terimakasih adikku sayang..Aamiin..!"
Kiran mengelus perut datarnya dengan mata
berbinar indah.
"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Nathan?
Aku yakin sekarang ini hubungan kalian sudah berkembang kearah yang lebih baik kan..?"
"Aku harap begitu. Walaupun butuh waktu,
tapi aku harap niat baikku untuk memperbaiki
diri akan berbuah manis ke depannya."
"Insyaallah.. semuanya tidak akan sia-sia
selama kamu tulus menjalaninya.."
Keduanya kembali saling berpelukan erat
di penuhi oleh harapan dan kebahagiaan..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....