Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
26. Terpuruk


 


**********


 


Saat ini Kiran baru saja selesai membersihkan


diri di dalam kamar yang semalam di tinggali


nya. Dia terpaksa berganti pakaian dengan yang


sudah tersedia di ruang ganti. Kiran menggeleng


resah saat melihat berbagai macam gaun telah


tertata rapi di dalam lemari besar itu. Apa yang sebenarnya ada dalam benak mantan kekasih


nya itu.


Setelah selesai bersiap dia menatap pantulan


dirinya di cermin besar.Gaun cantik di bawah


lutut dengan model simpel dan warna yang


anggun kini telah membalut tubuh indahnya.


Wajahnya di biarkan polos dengan rambut


tergerai bebas.


Kiran menarik napas berat, memejamkan mata


mencoba mencari bayangan wajah seseorang


di pelupuk matanya. Ada cairan bening yang tiba-


tiba saja menetes saat bayangan itu menjelma


dengan begitu nyata dalam ingatannya.


Tuhan..kenapa semuanya jadi begini.? Apa


yang terjadi sekarang ini sungguh di luar


rencananya. Apa yang harus di lakukan nya


sekarang.? dia bahkan tidak memiliki nomor


kontak Agra. Tapi..tunggu dulu, bukankah dia


bisa memintanya pada Badar.


Kiran segera meraih ponsel dari dalam tas kecil


nya kemudian mencoba menghubungi Badar. Nomornya tidak bisa di hubungi, dia mencoba


lagi namun tetap tidak terhubung. Setelah 3 kali mencoba akhirnya Kiran menyerah, dia tahu


pasti keadaan signal di tempat itu.


"Agra.. maafkan aku..Ini semua terjadi di luar


kehendak ku.."


Gumam Kiran lirih. Hatinya terasa begitu pedih.


Ada perasaan yang sangat menyiksanya saat


ini, perasaan ingin bertemu dan melihat sosok


Agra. Kiran tidak yakin dengan apa yang di


rasakannya ini, tapi hatinya begitu nyata,.dia


sangat merindukan sosok suaminya itu.


Nathan..! kenapa laki-laki itu masih terus saja


membayangi hidupnya. Kenapa dia tidak bisa


langsung lepas dari mantan kekasihnya itu.


Setelah memastikan semua siap Kiran keluar


dari kamar dengan menenteng tas miliknya.


Walaupun wajahnya terlihat lelah dan kurang bersemangat namun hal itu tidak mengurangi


pesona kecantikannya yang dapat membius


setiap mata yang memandang nya.


Nathan yang sudah menunggu di depan pintu


tampak menatap lembut penuh cinta. Untuk


sesaat keduanya saling pandang, namun tidak


lama Kiran melengos kan wajahnya, kemudian


melangkah di ikuti oleh laki-laki tampan itu.


Para pelayan yang kebetulan melihatnya tampak mencuri pandang kearah Kiran dengan tatapan


begitu terpesona akan kecantikan gadis yang


telah di bawa oleh Tuannya itu, mereka yakin


bahwa gadis yang sangat cantik itu adalah


calon istri Tuan mereka.


"Aku akan berangkat sendiri..!"


Ketus Kiran saat dia menuruni tangga menuju


lantai bawah. Nathan segera menggenggam


tangan Kiran dan menahan langkahnya. Kiran


mencoba menepis pegangan tangan Nathan,


menatapnya tajam dengan sorot mata penuh kekesalan yang saat ini seakan telah menelan


dirinya. Namun pria itu malah sengaja makin


mempererat genggaman tangannya.


"Kita berangkat bersama, saat ini kau ada dalam kuasaku, kau tidak berhak membantah.!"


Desis Nathan balik menatap tajam wajah Kiran


yang terlihat semakin kesal sekaligus tertekan.


Dia kembali menepis pegangan tangan Nathan


seraya melangkah.


"Kita sarapan dulu..Aku tidak mau terjadi apa-


apa pada tubuhmu.! dirimu sangat berharga


bagiku.!"


"Tidak ! aku tidak berselera.!"


"Aku akan memaksamu.!"


Tegas Nathan seraya menarik paksa tangan


Kiran menuju ruang makan. Akhirnya mau tidak


mau Kiran terpaksa mengikuti langkah pria itu.


------ ------


Mobil sport mewah Nathan tiba di depan lobby


kantor perusahaan Tuan Zein yang cukup megah. Beberapa security langsung membukakan pintu


mobil tersebut seraya menunduk hormat.Kedua


nya turun kemudian melangkah masuk .


Begitu sampai di ruang utama lobby barisan resepsionis langsung menyambut kedatangan


Kiran. Mereka terlihat begitu senang melihat kedatangan putri pemilik perusahaan ini apalagi


dia datang bersama dengan Tuan Muda keluarga Wiranata yang cukup terkenal akan ketampanan


dan kekayaan keluarga besarnya. Mereka berdua terlihat begitu serasi dan cocok satu sama lain.


"Selamat pagi Nona Kiran..Tuan Nathan.."


Sambut seorang resepsionis cantik sambil


menunduk dan sekilas mencuri pandang kearah


Nathan yang terlihat datar dan angkuh.


"Selamat pagi..apa Ayah ada di ruangannya.?"


"Ada Nona.. silahkan langsung naik saja ke


ruangan beliau.."


"Baiklah.. terimakasih."


Kiran langsung melangkah mengacuhkan


Nathan yang hanya bisa menghembuskan


napas sedikit kesal campur kecewa.


Saat berada di dalam lift Nathan berusaha


untuk menggandeng tangan Kiran.


"Nathan..tolong jaga sikapmu.!"


Ketus Kiran sambil menarik kuat tangannya


seraya memalingkan wajah. Namum Nathan


malah memepet dirinya ke dinding lift hingga


Kiran mundur, mendorong dada Nathan yang


merangsek maju mengurung dirinya.


"Aku ingin dunia tahu bahwa kau adalah milik


ku Kiran.! tidak boleh ada laki-laki lain yang


menatap mu dengan seenaknya seperti yang


terjadi di bawah tadi.!"


Desis Nathan seraya mengangkat wajah Kiran


yang menatapnya jengah.


"Ohh..kau bersikap seolah aku ini adalah sesuatu


yang bisa kamu milikki begitu saja. Tapi dengan


mudahnya kau menghancurkan kepercayaan ku selama ini..!"


"Aku sudah bilang padamu, walau ragaku bisa


bersama wanita lain tapi tidak dengan hatiku.!"


Ucap Nathan dengan suara yang sangat berat.


Tatapannya begitu dalam mengunci bibir ranum


merah alaminya Kiran. Darahnya berdesir hebat


ingin sekali dia menyergap bibir indah itu.Nathan


mendekatkan bibirnya membuat Kiran geram.


"Nathan.. cukup ! hentikan semua ini..!"


Dia berusaha mendorong tubuh tegap Nathan


yang saat ini semakin merapat padanya.


"Siapa yang bisa bertahan dekat dengan mu


tanpa melakukan apapun Kiran sayang.."


Bisik Nathan di telinga Kiran seraya menghirup


aroma wangi menenangkan yang menguar dari


tubuh gadis itu, jiwanya semakin meronta.


"Nathan.. sikapmu ini semakin membuatku


muak padamu..!"


Nathan terdiam seketika, tatapannya semakin


tajam dengan wajah yang berubah dingin. Dia


meraih dagu indah Kiran, mata mereka bertemu


dengan tatapan yang sama panasnya.


"Kita akan segera menikah Kiran.. Aku pastikan


kau akan menjadi milikku pada akhirnya.!"


Dengus Nathan, Kiran terlihat gerah dengan rasa


percaya diri pria itu, dia tersenyum tipis.


"Aku akan mengatakan segalanya di depan ayah,


kau tidak akan bisa memaksakan kehendakmu


lagi padaku.!"


Geram Kiran sambil mendorong kuat dada Nathan


hingga dirinya bisa lepas dari kungkungan nya


bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Kiran


bergegas keluar kemudian melangkah cepat


menuju ruangan ayah nya.


Dua orang sekretaris menyambut kedatangan


nya. Kiran segera mengetuk pintu ruangan lalu


mendorongnya pelan.


Namun setelah ada di dalam dia tampak terdiam sesaat ketika melihat ada Tuan Herland Wiranata, ayahnya Nathan di tempat itu. Pria paruh baya itu


di dampingi asistennya sedang berbincang serius dengan Tuan Zein.


Kiran menundukkan kepalanya sedikit ke arah


Tuan Herland yang terlihat menatap kemunculan


gadis itu dengan sorot mata penuh ketenangan.


"Kiran.. akhirnya kamu pulang nak.."


"Ayah..Kiran kangen sama ayah.."


Kiran langsung berhambur kedalam pelukan


sang ayah, keduanya saling berangkulan hangat berusaha melepas semua beban rindu. Nathan


dan ayahnya terdiam memperhatikan interaksi


antara ayah dan anak tersebut.


Cukup lama Kiran berada dalam dekapan hangat


sang ayah, mencoba menghempas semua rasa


sesal dan ganjalan yang ada di hatinya atas


semua hal yang telah di alaminya selama dia


berada di desa Girilaya.


"Kiran..Tuan Wiranata sengaja datang ke kantor


Ujar Tuan Zein setelah mereka melepas pelukan.


Kiran tersenyum lembut seraya menunduk sopan kearah Tuan Wiranata yang terlihat membalas nya


dengan mengangguk tenang dan tersenyum ramah.


Setelah berbasa-basi sebentar akhirnya Kiran


duduk di samping sang ayah, sedangkan Nathan duduk di sebrang nya dengan tatapan tidak lepas


dari wajah cantik Kiran.


Tuan Zein melanjutkan pembicaraan yang tadi


sempat tertunda dengan Tuan Wiranata. Kiran


hanya bisa terdiam mendengarkan walaupun


hati dan pikirannya tidak bisa fokus sama sekali.


Jiwanya saat ini melayang pada satu sosok yang entah sedang melakukan apa saat ini .


"Jadi Tuan Zein.. menurut saya sebaiknya kita


segera saja meresmikan hubungan mereka.!"


Tuan Herland kali ini langsung pada tujuannya.


Kiran tampak terkejut, menatap sang ayah minta


penjelasan atas semua yang terjadi. Tuan Zein


menarik napas berat, dia sangat paham dengan


apa yang tersirat dari tatapan mata putrinya.


"Maafkan ayah nak.. selama ini ayah memang


tidak pernah bercerita padamu.!"


"Ada apa sebenarnya ayah ? kenapa ayah tidak


pernah terbuka pada Kiran tentang semua ini.?


apakah yang di katakan Nathan benar adanya ?"


Tuan Zein melirik sekilas kearah Nathan yang


sedang duduk dengan gaya elegan, wajahnya


terlihat begitu tenang sedikit angkuh.


"Itu benar sayang.. perusahaan kita mengalami


kemunduran beberapa tahun terakhir ini. Pihak


bank sudah mengakuisi sebagian aset penting


yang kita miliki. untuk mengembalikan nya, ayah menjual separuh saham perusahaan kepada


Tuan Herland..jadi sekarang ini kita tidak punya apa-apa lagi..!"


Kiran terhenyak, wajahnya langsung memucat.


Dia menatap tidak percaya wajah ayah nya yang


terlihat sangat tertekan.


"Dan..kau tahu sayang..untuk mengembalikan


kondisi stabil perusahaan ayahmu.. tidak ada


pilihan lain lagi selain kamu menerima lamaran


ku, kau harus menjadi istriku.!"


Tegas Nathan yang membuat Kiran semakin


tidak percaya dengan semua yang terjadi. Dia


menggeleng kuat, menggengam tangan Tuan


Zein penuh harap bahwa semua ini tidak benar.


"Tidak, ini tidak benar kan Yah.?"


Tuan Zein mengelus wajah Kiran penuh rasa


penyesalan.


"Sayangnya ayah sudah tidak mampu untuk


mengembalikan semua dana yang sudah di


di keluarkan Tuan Wiranata.."


Kiran menunduk lemas. Tubuhnya terasa


lunglai saat ini. Apa ini artinya dia sudah di


jadikan sebagai tumbal untuk menyelamatkan perusahaan ayah nya dari kehancuran ?


"Nak Kiran..kami akan memberikan waktu yang


cukup untuk mu memikirkan semuanya. "


Tuan Herland akhir nya mengeluarkan suara.


Kiran mengangkat wajahnya perlahan, membagi


pandangannya pada Nathan dan ayah nya itu.


"Maaf sebelumnya, tapi sepertinya aku tidak bisa


mengabulkan keinginan mu Tuan Nathan.!"


Ucapnya kemudian dengan tatapan tajam yang langsung menghujam wajah Nathan membuat


semua orang tampak terkejut.


"Kamu tidak punya kekuatan untuk menolak hal


ini Kiran.! aku menginginkan mu menjadi istriku.!"


"Kenapa kamu tidak menikahi Aryella saja.?"


Wajah Nathan berubah kelam, terlihat jelas rasa


tidak sukanya saat mendengar ucapan Kiran


barusan, dia benar-benar merasa terganggu.


"Yang aku inginkan hanya dirimu.! tidak bisa di


gantikan dengan siapapun.!"


"Tapi aku sungguh tidak bisa Nathan.!"


"Kau tidak punya hak untuk membantah.!"


"Aku sudah menikah Nathan.!"


Semua orang terhenyak dalam diam. Tatapan


Kiran tampak yakin dengan segala ucapannya


barusan. Tuan Wiranata terlihat sedikit tidak


nyaman dengan pernyataan Kiran.


"Kau bisa mengajukan pembatalan pernikahan.!"


"Apa.?? apa maksudmu Nathan.?"


Wajah Kiran terlihat balik terkejut, tidak percaya


akan reaksi santai Nathan yang tampaknya tidak


terpengaruh dengan pernyataan dirinya.


"Ayahmu sudah mengatakan semua nya. Kau di


paksa menikah dengan pengawalmu karena hal


yang tidak terduga.!"


"Ayah..apa ini.? kenapa ayah melakukan semua


ini, bukankah ayah tahu kalau aku sudah menikah


dengan orang lain.?"


Kiran menggeleng kuat, menghakimi ayahnya


yang dianggap tidak memperdulikan status nya


saat ini. Bukankah ayah nya sendiri yang sudah


memberi restu pada dirinya untuk menikah


dengan Agra.


"Ayah memang menerima telepon dari Badar.!


dia mengatakan semua itu hanya sementara.!"


"Tunggu dulu, bukankah ayah pernah berbicara langsung dengan orang nya.? dengan suamiku itu.?"


Kiran mencecar Tuan Zein karena tidak terima


dengan sikap ayah nya yang seakan menolak


semua yang telah terjadi. Tuan Zein tampak


menggeleng pelan.


"Ayah tidak pernah berbicara langsung dengan


orang nya ! hanya dengan wali hakim saja. Dan


Badar hanya mengatakan bahwa kamu di paksa


menikah dengan pengawal yang telah dia kirim


untuk menjemput mu di bandara.!"


Kiran melongo..Jadi Agra bukanlah pengawal


yang di siapkan oleh ayahnya.? apa-apaan ini ?


Kenapa semuanya menjadi rumit begini.?


"Bu..bukankah Agra adalah pengawal yang telah


ayah kirim untuk menjagaku selama di desa.?"


Kiran mencoba meyakinkan diri, suaranya kian


terdengar ragu dan semakin tertekan.


"Tidak.! ayah tidak pernah mengirim siapapun.


Ayah menyerahkan segalanya pada Badar.!"


Kiran memejamkan mata, jelas sudah sekarang.


Ayahnya benar-benar tidak mengenal siapa itu


Agra, lalu bagaimana dia bisa mencari informasi


tentang suaminya itu. Ya Tuhan..cobaan apalagi


ini..! kenapa semuanya jadi semakin rumit.!


Dengan mencoba bersikap tenang, Kiran kini


memusatkan perhatian nya pada Nathan dan


Tuan Herland.


"Maaf Om..sepertinya saat ini Kiran butuh waktu


untuk menenangkan diri dulu dan memikirkan


semuanya dengan baik..!"


Tuan Herland tersenyum, menatap tenang wajah


cantik gadis yang sangat di gilai oleh putranya itu.


"Baiklah Nak Kiran..kau memang butuh waktu


untuk menerima semua ini. Kami harap kabar


baik akan segera datang secepat nya, semua


keputusan ada di tangan nak Kiran.!"


Kiran terdiam semakin merasa terpuruk. Namun


dia tetap berusaha untuk menguatkan dirinya.


Tatapannya kini jatuh menghujam wajah tampan


Nathan yang terlihat mengulum senyumnya.


"Aku hanya ingin menegaskan sesuatu padamu


Tuan Nathan..pernikahan ku sah di mata agama


maupun negara, jadi tidak bisa di gugat begitu


saja ! aku permisi..!"


Kiran bergegas bangkit dari duduknya kemudian


menunduk sebentar setelah itu dia melangkah


pergi keluar ruangan. Nathan segera mengejar


nya namun Kiran tidak menggubris nya. Hati dan


perasaanya saat ini begitu kompleks. Antara


kecewa, kesal juga sakit hati menyatu menjadi


satu membuat air matanya tiba-tiba saja mengalir deras membasahi wajahnya.


Kiran langsung turun ke lantai bawah menuju


parkiran khusus dimana di sana supir pribadi


ayahnya selalu standby.


"Nona Kiran..? anda sudah kembali.?"


Tanya driver itu dengan wajah sumringah.


"Iya pak, tolong antarkan saya ke rumah..!"


Sahut Kiran seraya masuk ke dalam mobil.


"Baik Nona."


Sopir itu tampak sedikit bingung namun


kemudian dia berlari masuk ke balik kemudi


setelah itu bergegas melajukan mobilnya.


Kiran memejamkan matanya, mencoba untuk


menenangkan hati dan pikirannya. Ya Allah..


baru kembali ke kota namun dirinya sudah di hadapkan pada masalah yang sangat pelik.


Bagaimana mungkin dia menerima lamaran


pria lain di saat dirinya sudah berstatus sebagai


istri seseorang. Seseorang yang saat ini sedang


membuat hatinya begitu resah karena rasa rindu


nya semakin lama semakin menyiksa.


 


**********


 


TBC.....