Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
65. Makan Siang Spesial


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Agra menatap tajam wajah Mikhayla yang kini


terlihat sedikit memucat. Dia melirik pada Zack


agar mengamankan area tempat itu dari orang


yang tidak berkepentingan. Zack mengangguk,


dia segera berpaling pada teman-teman Kiran


yang baru saja tersadar dari rasa terkejutnya.


Mereka kini saling pandang menatap berat


kearah Kiran yang hanya bisa terdiam dalam


dekapan kuat Agra sambil menggeleng pelan.


"Kiran.. kami pergi duluan, sampai jumpa..!"


Pamit mereka dengan berat hati kemudian


cepat-cepat keluar dari ruangan. Perasaan


mereka saat ini seakan masih mengawang,


belum percaya bisa melihat langsung sosok


Tuan Muda Hadiningrat, yang ternyata begitu


luar biasa tampan. Dan yang paling membuat


mereka terkejut adalah menyaksikan sendiri


bagaimana posesif nya sang pemilik Bintang


Group tersebut terhadap Kiran, istrinya.!


Kiran yang masih berada dalam dekapan satu


tangan Agra hanya bisa menatap berat kepergian


teman temannya itu tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Lepaskan tanganku Agraa..!"


Mikhayla berusaha menarik lepas tangannya


yang kini masih di kunci oleh Agra. Dua orang


bodyguard nya pun tidak bisa berbuat banyak


karena kalah jumlah melihat para pengawal


Agra yang jauh lebih banyak.


"Dengan perbuatan mu yang seperti tadi, kau


telah menjatuhkan harga dirimu sendiri Nona


Alexandria..!"


Desis Agra seraya mendorong kuat tangan


Mikhayla hingga tubuh nya kembali terhuyung


ke belakang. Mikhayla mengusap pergelangan


tangan nya yang memerah seraya menatap


Agra dan Kiran dengan rasa sakit, benci dan


malu yang kini bercampur menjadi satu.


"Apa kalian pikir aku akan diam saja melihat


kalian telah mempermalukan kedua orang


tuaku. Aku tidak bisa terima semua itu.!"


Geram Mikhayla sambil memandangi Kiran


dan Agra bergantian. Kiran menarik dirinya


dari dekapan Agra, kemudian berdiri tegak


di hadapan Mikhayla.


"Nona Mikhayla..dunia tidak sebatas hanya


urusan kesepakatan saja ! Tidak semua hal


bisa berjalan sesuai rencana kita. Ketentuan


Tuhan lah yang mutlak terjadi, itu berlaku


untuk urusan hati dan jodoh.!"


"Enak sekali ya bicaramu..! Kamu hanyalah


wanita beruntung saja.! tidak lebih dari itu.!"


"Tentu saja, aku memang sangat beruntung.


Bisa mendapatkan suami sesempurna dia.


Aku tidak pernah memungkiri hal itu.!"


Kiran berucap dengan menatap tenang wajah


Mikhayla yang kini semakin memerah.


"Kalian telah menjatuhkan bara api padaku.


Aku mencintaimu dengan tulus Agra, tapi kau


lebih memilih wanita sederhana seperti dia.


Ingat aku tidak pernah menerima kekalahan.!"


Ancam Mikhayla dengan tatapan yang di penuhi


oleh api kemarahan dan kekecewaan. Agra yang


dari tadi diam dan hanya memperhatikan kini


maju seraya menggandeng tangan Kiran.


"Aku harap kamu berhenti sekarang juga Nona


Mikhayla.! Ryu akan datang sebagai pengganti


ku, jadi belajarlah untuk menerima takdir mu.!"


"Yang aku inginkan hanya lah dirimu. Tidak


ada yang lain Agra, tidak bisa tergantikan !"


"Ryu adalah pria yang cukup sepadan dengan


mu, jangan mematok harga diri yang terlalu


tinggi sedangkan dirimu yang sesungguhnya


tidaklah begitu bernilai..!"


Desis Agra membuat Mikhayla tampak sedikit terkesiap, dia benar-benar merasa terpojok dan


terhina dengan ucapan Agra barusan.


"Kau sudah begitu menghinaku Tuan Agra.?


Aku adalah wanita dengan segala kehormatan


dan harga diri yang layak di banggakan.!"


"Dari awal aku sudah menolakmu. Harusnya


kau junjung tinggi harga dirimu itu.!"


Mikhayla mengepalkan tangannya kuat. Mata


nya kini beradu panas dengan mata Agra.


"Aku tidak akan menyerah begitu saja Tuan


Bimantara ! kau pikir aku akan diam saja.?"


"Jangan di teruskan, karena semua rencana


mu sudah ada dalam memory otak ku..!"


Mikhayla mengetatkan rahangnya. Agra tampak


menyeringai tipis, mencondongkan tubuhnya.


"Aku ingatkan padamu Mikhayla.. sebelum


dirimu menyesal, sebaiknya kamu mundur


sekarang atau aku tidak akan melihat kau


adalah seorang wanita terhormat..!"


Tegas Agra membuat Mikhayla terhenyak, diam


untuk beberapa saat. Agra menarik Kiran untuk melangkah dari hadapan Mikhayla yang tampak


memejamkan mata seraya menarik napas berat.


"Kau sudah benar-benar membuat hatiku


hancur Agra..!"


Desis Mikhayla sambil kemudian melangkah


pergi kearah lain. Kiran menghentikan langkah,


menoleh kebelakang melihat kearah Mikhayla.


"Apa yang kau lihat.?"


Kiran menarik napas panjang, menatap wajah


Agra yang terlihat acuh dan dingin.


"Apa benar Ryu akan menggantikan dirimu


sebagai calon suami Mikhayla..?"


"Hemm.. sepertinya itu cukup sepadan.!"


"Tapi aku rasa semuanya tidak akan berjalan


sesuai rencana.!"


"Yang penting ayah menepati janji nya pada


kedua orang tua wanita itu. Sudahlah tidak


perlu membahas ini lagi..!"


Desis Agra sambil kemudian mengangkat


tubuh Kiran ke dalam pangkuannya dengan


wajah yang masih saja terlihat dingin.


"Hei Agra.. apa yang kau lakukan.? turunkan


aku.! Kita ada di tempat umum.!"


Seru Kiran sambil berontak ingin turun dari


pangkuan Agra yang malah semakin kuat


mendekap tubuhnya.


"Lantas kenapa , apa ada yang salah.?"


"Banyak orang yang melihat kita sekarang,


aku malu sayang.. sudah turunkan aku.!"


"Biarkan saja, tidak usah memperdulikan


mereka.! Kau hanya harus melihatku.!"


"Tapi aku tidak bisa begitu.!"


"Sudah.! jangan banyak protes.!"


Sahut Agra acuh sambil terus saja melangkah


menuju ke dalam ruangan yang biasa di gunakan olehnya setiap kali datang ke restauran ini. Zack,


manager restauran dan para pengawal tampak pura-pura tidak melihat saja.! Mana berani


mereka menginterupsi kesenangan sang Bos !


Sampai di dalam ruangan Agra mendudukkan


Kiran di atas sofa. Kiran langsung merapihkan


rambut dan pakaiannya dengan wajah menahan


malu saat melihat ada beberapa pelayan yang


berdiri di dekat meja, baru saja selesai menata


hidangan makan siang. Di atas meja kini sudah tersedia berbagai menu makan siang.


"Kalian boleh keluar sekarang..!"


Titah Agra yang masih berdiri membuat mereka sontak membungkuk dalam lalu pergi dengan


senyap. Agra menatap tajam wajah Kiran yang


langsung beringsut ke ujung sofa, menatap


bingung kearah Agra yang kelihatannya


sedang dalam mode memanas.


"Ada apa sayang..? ada yang salah dengan ku?"


"Kenapa kamu harus berpakaian seperti ini ?


Apa kau sengaja melakukan nya.? kau mau


mempertontonkan dirimu pada dunia luar.?"


Kiran semakin bingung, dia melihat tampilan


dirinya. Rasanya semua masih wajar, masih


tertutup walau sedikit pas di tubuh nya. Dia


menggeleng tidak mengerti.


"A-apa maksudmu..? aku rasa ini masih dalam


batas normal saja kok, tidak ada yang salah.!"


Agra mengurung tubuh Kiran, meletakkan


kedua tangannya di kedua sisi sandaran sofa.


Kiran memundurkan tubuhnya hingga kini


membentur ujung sofa.


"Dengan penampilan mu yang seperti ini kau


bisa saja mengundang syahwat laki-laki Kiran.


Dan aku tidak rela mata jahil mereka dengan


bebasnya menikmati keindahan fisikmu..!"


Bisik Agra yang kini semakin maju mendekat.


Kiran menatap lekat wajah tampan Agra yang


sudah mulai memerah dan Kiran tahu pasti


apa yang kini di inginkan oleh suaminya itu.


"Maaf..tapi aku tidak bermaksud apa-apa.


Aku hanya merasa nyaman saja memakainya."


"Aku yang tidak nyaman melihatnya Kiran.!"


Dengus Agra sambil menjatuhkan dirinya di


samping Kiran seraya meraih tubuh Kiran ke


dalam dekapan nya, memeluknya erat dan


menghujani wajah nya dengan ciuman yang


tiada henti. Kiran mencoba mengelak dengan mendorong dadanya yang kokoh.


"Sudah sayang.. bukankah kita kesini mau


makan siang.? "


"Nanti saja makan siang nya, kau harus aku


hukum dulu karena telah membuatku kesal."


"Aku kan sudah minta maaf sayang.."


Lirih Kiran sambil menatap Agra yang kini menyusupkan wajahnya di ceruk leher Kiran


menghirup aroma wangi jasmine lembut yang


sangat menenangkan namun juga membuat


hasrat Agra perlahan naik. Kiran berpaling dan memperhatikan menu makan siang yang ada


di meja. Kepalanya tiba-tiba saja terasa sedikit


pusing dengan perasaan tidak enak.


"Kenapa makanan nya harus sebanyak ini


sayang..aku pusing melihatnya.!"


keluh Kiran sambil menghindari serbuan bibir


liar Agra yang kini sudah mulai bermain nakal


di lehernya. Agra menghentikan aksinya sejenak, kemudian melihat sekilas keatas meja, Kiran


mencoba menjauh sedikit.


"Kalau begitu nanti saja makannya, biarkan aku


bermain dulu sebentar.!"


Kiran menatap jengah wajah Agra yang kini


kembali mendekat, merangsek maju.


"Apa yang mau kau lakukan..? hei.. sayang


mau apa kamu..Agra.. emhhh..!"


Agra sudah membungkam bibirnya dengan


menciumnya kuat, ********** rakus. Kiran


mencoba menolak namun Agra semakin liar


dia menekan dan memperdalam ciumannya.


panasnya. Tubuhnya jatuh terbaring di atas


sofa membuat Agra semakin memanas.


"Sayang..sudah.. hentikan ! kita sedang berada


di tempat umum, tidak pantas melakukan ini.!"


Kiran berucap sedikit bergetar saat bibir Agra


kini sudah turun menciumi leher jenjangnya.


Agra mendongak, menatap lembut wajah Kiran.


"Apa kau tahu kalau aku merindukanmu setiap


waktu sayang..Kau sudah membuatku tidak


bisa menahan diri, hari ini kau sudah memakai


pakaian yang salah..!"


"Apa yang salah..aku masih berpakaian sopan


sayang.. aakkhh Agra jangan.. hentikan..!"


"Kau selalu membuatku tidak tahan Kiran..!"


Desis Agra sambil membuka kancing atasan


Kiran yang membulatkan matanya saat Agra


menyusupkan wajah nya dan bermain buas


di dua bukit kembarnya dengan ******* dan


menggigit nya gemas. Suaminya ini memang


sangat menyukai bermain lama-lama di dua


benda sintal milik nya itu. Kiran memejamkan


mata, tapi masih mencoba untuk menguasai


diri dan sebisa mungkin mengontrol hasratnya mengingat ini bukanlah tempat yang tepat.


"Aakhh Agra.. hentikan.! kenapa sih kamu


selalu melakukan ini tanpa melihat tempat


dan situasi eemhh sayang sudah aakhh..!"


Kiran mendesah panjang sambil meremas


rambut Agra saat permainan Agra di dadanya


semakin lama semakin membuat dirinya tidak


bisa menahan diri hingga membuat tubuhnya


kini serasa terbakar. Agra bangkit menindih


tubuh Kiran ingin meningkatkan permainan


nya, namun suara panggilan di ponselnya


membuat dia menghentikan aksi liarnya.


"Owhh shit Bara ! mengganggu saja.!"


Umpat Agra saat melihat nomor yang tertera


di layar. Kiran menegakkan badannya dengan


mencoba mengatur napasnya yang memburu.


Wajahnya kini sudah memerah seluruhnya.


Agra kembali mendekat dengan tatapan


yang masih di selubungi kabut gairah.


"Sayang..aku mohon hentikan.! bukankah


kau ada pertemuan nanti.? aku juga belum


sembahyang dzuhur..!"


Cegah Kiran saat melihat Agra ingin kembali


melanjutkan aksinya. Agra menarik napas


berat, wajahnya terlihat kecewa. Tangan nya


bergerak merapihkan kembali pakaian Kiran


yang sudah tidak karuan.


"Baiklah.. kita akan melanjutkan nya nanti


di rumah. Sekarang kita makan dulu baru


nanti sembahyang..!"


Ujar nya sambil mengelus lembut wajah


Kiran, menatapnya lekat penuh cinta. Kiran merapihkan kembali rambutnya yang tadi


berantakan sedang Agra mendekat kearah


meja, kemudian mengambil beberapa menu


makanan di taruhnya di atas piring, Kiran


hanya melihat dan memperhatikan nya.


"Ayo..kita akan makan sepiring berdua agar


kamu tidak bingung memakan nya.!"


Ucap Agra sambil kemudian menyendok


makanan tersebut lalu di dekatkan ke mulut


Kiran yang menatapnya sambil menggeleng.


"Ayo makan.. atau kau mau aku mengulang


yang barusan..?"


Ancam Agra membuat Kiran melebarkan


mata seraya mengerucutkan bibirnya.


"Baiklah, tidak perlu mengancam segala.!


Tapi kau dulu yang makan ya.."


Kiran membalikan posisi sendok ke mulut


Agra yang mau tidak mau menuruti nya.


Akhirnya kini Kiran lah yang balik menyuapi


Agra, mereka menikmati makan siang nya


sepiring berdua. Tapi Kiran lebih banyak


menjeda makan nya karena selera makan


nya entah kenapa tiba-tiba saja hilang.


Tidak lama di pintu masuk muncul Bara dan


Tanisha yang baru saja tiba di restauran ini


karena Agra memang pergi duluan ke tempat


ini. Untuk sesaat Tanisha tampak terdiam


menatap kearah Kiran yang masih menyuapi


Agra dengan telaten. Wajah Tanisha langsung


saja memerah melihat pemandangan yang


cukup menyakitkan matanya itu.


"Shit ! ternyata wanita beruntung ini benar-


benar cantik bukan main.!"


Bathin Tanisha sambil mendekat kearah Agra


dan Kiran berada mengikuti langkah Bara di


depannya. Tanisha kembali meyakinkan diri


dengan mencoba memandang keseluruhan


diri Kiran. Dadanya semakin terasa sesak saat menyadari bahwa istri Bos nya itu memang


memiliki banyak keistimewaan, dan dirinya


bukan lah apa-apa di banding dirinya.!


"Selamat siang Nona Muda..!"


Sapa Bara seraya membungkuk di hadapan


Agra dan Kiran yang langsung melihat kearah


mereka berdua. Tanisha juga membungkuk


dengan sedikit mencuri pandang kearah Agra


yang terlihat sedang meneguk air putih.


"Selamat siang Bara..!"


Balas Kiran seraya menatap kearah Tanisha


yang sedang menunduk dalam.


"Perkenalkan Nona..dia adalah Tanisha..


kepala sekretaris baru di kantor.!"


Bara memperkenalkan Tanisha pada Kiran


yang tampak sedikit menautkan alisnya


melihat penampilan sekretaris baru itu.


"Selamat siang Nona Muda.. senang sekali


bisa berjumpa dengan anda. !"


Tanisha tersenyum manis seraya kembali


membungkuk dengan gaya yang sangat luwes.


"Ohh hai.. selamat siang Tanisha.!"


Sahut Kiran dengan tersenyum lembut. Agra


melirik, mengamati raut wajah istrinya itu


yang kelihatannya datar saja tanpa ekspresi


berlebihan. Bibirnya terangkat sedikit.


"Apa kalian sudah makan siang.?"


Kiran menatap Bara dan Tanisha bergantian.


Keduanya kembali membungkuk bersamaan.


"Sudah Nona Muda..!"


Sahut mereka kompak. Kiran melihat kedua


orang itu dengan sedikit berpikir, lalu mengulas


senyum tipis di bibir indahnya.


"Baiklah.. kalian kompak juga ya..!"


Lirih Kiran dengan mengulum senyum. Bara


dan Tanisha sontak saja saling melirik lalu


kembali menunduk.


Agra mengakhiri makan siangnya dengan


tersenyum tipis. Dia meraih serbet kemudian mengusap mulutnya. Lalu berpaling pada


Kiran yang juga mengakhiri makan nya yang


tidak begitu berselera. Raut wajah Kiran kini


berubah aneh, ada rasa tidak nyaman yang


di rasakannya, namun dia berusaha untuk


meredamnya. Agra menautkan alisnya saat


menyadari ada reaksi aneh di wajah istrinya.


"Apa yang terjadi sayang.? apa kau merasa


tidak enak badan.?"


Tanya Agra sambil memberikan air putih yang


langsung di teguk oleh Kiran. Tanisha menatap


tidak percaya pada interaksi intim bos nya itu.


"Hanya sedikit tidak nyaman saja sayang.!"


Jawab Kiran sambil kemudian berkemas, dia


harus segera pergi ke mushola karena waktu


sudah semakin merayap siang.


"Kau membawa apa yang aku minta.?"


Agra menatap kearah Tanisha yang sontak


mengangguk seraya maju kehadapan Agra.


"Sesuai dengan permintaan anda Presdir.."


Sahut Tanisha seraya mengulurkan sebuah


blazer panjang warna krem ke hadapan Agra


yang langsung mengambil nya. Tanpa sengaja


kulit mereka bersentuhan membuat Tanisha


sedikit terkejut dengan wajah memerah. Dan


hal itu tertangkap oleh pengamatan Kiran.Dia


melihat Tanisha langsung salah tingkah. Kiran


menatap wajah Tanisha dengan menautkan


alisnya, ada perasaan tidak nyaman yang kini


menggelayuti hatinya melihat bagaimana


gestur tubuh Tanisha terhadap Agra.


Dengan santai nya Agra memakaikan blazer


tersebut ke tubuh Kiran yang hanya bisa


terdiam menatap tenang wajah Agra.


"Kenapa aku harus memakainya..?"


Protes Kiran dengan mimik wajah tidak suka.


Agra tampak acuh saja, mengancingkan baju


itu dan mengikatkan tali pinggang nya.


"Apa kau tidak merasa gara-gara pakaian mu


ini kau bisa sakit ! Restauran ini cukup dingin,


kau bisa masuk angin karenanya.!"


Bisik Agra di telinga Kiran yang menatapnya


gerah dan menggelengkan kepala pelan.


"Kau ini selalu saja berlebihan.! Ayo kita harus


segera sembahyang..waktu nya keburu habis.!"


Ketus Kiran sambil kemudian bangkit berdiri


sambil melirik sekilas kearah Tanisha dengan


wajah yang benar-benar tidak nyaman saat


melihat sekretaris cantik itu sedang mencuri


pandang kearah suaminya. Tidak lama dia


melangkah pergi keluar dari ruangan itu.


Tanisha benar-benar di buat tidak percaya


dengan apa yang di lihatnya. Bos nya yang


terlihat sangat angkuh dan dingin di luar tapi


bisa bersikap lembut dan sangat memanjakan


istrinya. Wanita itu benar-benar beruntung.!


Tanisha bisa melihat dengan jelas kalau sang


Presdir begitu sayang dan perhatian sekali


pada istrinya.


"Kalian siapkan semuanya untuk pertemuan


nanti.! aku tidak akan lama.!"


Titah Agra pada Bara dan Tanisha yang masih


saja mematung dengan pikiran yang kosong.


"Baik Tuan..!"


Sahut Bara, Agra melangkah tenang menyusul


kepergian Kiran di iringi tatapan berat Tanisha.


Bagaimanapun caranya dia harus membuat


bos nya itu bertekuk lutut padanya.!


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....