Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
7. Tiba Di Villa


 


***********


 


Tamat sudah karir para perampok itu di tangan


seorang pria dengan tampang urakan itu.


Seringai senyum sinis tersungging dari bibir


tipis Agra yang kini maju mendekat ke hadapan


para perampok yang sudah tidak berdaya itu.


Agra berjongkok, bertumpu di satu kaki sambil


menggeleng mengejek kepala perampok yang


terlihat menunduk ketakutan.


"Bagaimana.. apakah kalian masih penasaran


padaku.? kalau masih punya nyali ayo berdiri.!"


Tantang Agra sambil menepuk pundak kepala


perampok yang langsung meringis.


"Ti-tidak Tuan, kami tidak berani.! kami kapok.!


Ampuni kami Tuan, kami mohon.."


Desis kepala perampok sambil menunduk


memuntahkan darah dari mulutnya.


Agra bangkit, berdiri menjulang di hadapan para perampok itu yang terlihat semakin ketakutan


saat melihat pria itu meraih pentungan kemudian


di letakkan di bahu nya dengan posisi siap


menghajar mereka habis-habisan.


"Apa aku perlu menggunakan alat ini untuk


menutup riwayat kalian.?"


"Ampuni kami Tuan.! kami mohon ampuni nyawa


kami.! Kami tidak akan menggangu anda lagi.


Bahkan kami siap mengabdi pada anda.!"


Ucap pemimpin perampok dengan gemetaran


seraya duduk bersimpuh di hadapan Agra dengan


posisi kedua tangan menyembah memohon


pengampunan untuk nyawa mereka. Agra tampak


berdiri santai masih menatap orang-orang tak


berguna itu satu persatu. Pentungan tadi di


mainkan di tangan kanannya.


Kemudian ujung pentungan itu di gunakan


untuk menekan bahu kepala perampok yang


semakin kalangkabut ketakutan.


"Baiklah, kali ini aku ampuni nyawa kalian.! tapi


sekali lagi kalian mencari masalah, maka riwayat


kalian akan tamat.!"


Desis Agra dengan suara bariton nya yang sangat


mengintimidasi membuat tubuh para perampok


itu semakin gemetar hebat menahan rasa takut


sekaligus rasa sakit di seluruh badan.


"Ba-baik Tuan..kami akan berhenti mulai saat


ini juga.! kami taubat Tuan..!"


"Bagus..! carilah pekerjaan yang layak tanpa


harus menaruhkan nyawa orang juga nyawa


kalian sendiri.!"


"Baik Tuan..Terimakasih atas kemurahan hati


anda. Kapanpun anda butuh tenaga kami, maka


kami siap melayani anda sepenuh hati.!"


"Siapa namamu.?"


"Godam Tuan..!"


"Baiklah..aku ada di perkebunan Grandnindia.!"


"Baik Tuan, kami tahu tempat nya.!"


"Sekarang kalian boleh pergi.!"


"Terimakasih Tuan, kami permisi.!"


Akhirnya dengan susah payah para perampok


itu pergi dari hadapan Agra yang masih berdiri


sambil tersenyum miring seraya memainkan


pentungan di tangannya dengan gaya bad boy


yang sangat kental.


Dia membalikkan badannya, tatapannya kini


bertabrakan dengan mata Kiran yang terlihat


masih sedikit syok. Agra berjalan santai menuju


kearah mobil, tidak terlihat sama sekali kalau


dia habis melakukan pertarungan seru barusan.


Dari tadi Kiran terus memperhatikan interaksi


antara Agra dan para perampok itu. Sebenarnya


dia masih sedikit syok saat melihat bagaimana


cepatnya Agra membereskan sampah jalanan


itu. Dia itu benar-benar manusia kan.? bukan


hantu atau mahluk asing.? kok bisa secepat itu


gerakannya dalam mengatasi para perampok


tadi.?


Mata Kiran masih menatap tidak percaya saat


sosok Agra sudah kembali duduk di balik kemudi. Keduanya tampak saling pandang sesaat sampai


akhirnya tanpa basa basi lagi pria itu kembali


melajukan mobilnya dengan tenang.


"Ka-kamu..tidak apa-apa ? tidak terluka kan ?"


Tanya Kiran ragu-ragu setelah dia menguasai


kembali dirinya. Agra meliriknya sekilas.


"Anda lihat sendiri kan kalau saya baik-baik saja


Nona, kenapa masih bertanya.?"


Hahh..? dasar laki-laki aneh.! di tanya baik-baik


kok malah terkesan tidak suka.! Kiran merutuki


Agra di dalam hatinya.


"Aku kan hanya bertanya Tuan Agra..kalau tidak


suka ya tidak usah di jawab.!"


Ketus Kiran berubah kesal bukan main, padahal


tadi dia sempat mencemaskan nya. Ada segaris


senyum tipis di sudut bibir Agra.


"Mereka hanyalah cacing-cacing kelaparan.!


mencari makan dengan menaruhkan nyawa


nya sendiri, sangat menyedihkan.!"


Desis Agra yang membuat Kiran langsung saja


melirik kearahnya. Kiran berusaha mencerna


perkataan Agra yang terdengar berkesan itu.


"Masih banyak pekerjaan yang bisa mereka


lakukan selain merampas hak orang lain.!"


Sahut Kiran menanggapi perkataan Agra.


"Otak mereka hanya sebatas bisa menyambung


nyawa dengan cara pintas.!"


"Apa di daerah ini masih banyak orang-orang


seperti mereka tadi.?"


Tanya Kiran dengan nada yang mulai tidak


nyaman. Agra kembali melirik kearahnya.


Keduanya saling pandang sesaat.


"Hampir di setiap sudut tempat ada.!"


"Apa ?? yang benar saja.??"


Kiran terlihat membulatkan matanya terkejut


sekaligus syok. Agra tersenyum tipis melihat


reaksi Kiran yang berlebihan.


"Tentu saja tidak Nona, hanya ada di beberapa


titik saja.!"


Kilah Agra berusaha menenangkan dengan


menahan tawanya. Kiran menatap tajam wajah


Agra yang di anggapnya sudah menakut-nakuti


dirinya, dia melengos sebal. Namun tidak lama


kemudian dia kembali melirik kearah Agra yang


kembali fokus ke jalanan sebab kini sudah


mulai memasuki kawasan pemukiman.


Diam-diam Kiran memperhatikan laki-laki yang


sudah sah menjadi suaminya itu. Ada tetesan


keringat di dahinya, rambut nya juga berantakan


basah oleh keringat, terlihat seksi dan menarik.


Ingin rasanya Kiran mengusap keringat itu.


Loh..apa-apaan ini, kenapa dia jadi mengagumi


laki-laki aneh itu sih.! Kiran menggelengkan


kepala nya membuang semua keliaran isi pikiran


nya yang tidak bisa lepas dari sosok nyentrik


di sebelahnya itu.


Agra bergerak melepaskan jaket yang di pakai


nya karena dia mulai merasa kegerahan akibat


perkelahian tadi.


"Hei..kamu mau apa.?"


Kiran menatap curiga sambil meringis menjauh.


"Memangnya Nona pikir saya mau apa.?"


Sahut Agra melirik gerah kearah Kiran. Dia meneruskan gerakannya membuka jaket dengan


satu tangan. Kiran mengamati gerakan lelaki itu


yang tampaknya sedikit kesulitan.


"Biar aku bantu.!"


Ucapnya ragu sambil mengulurkan tangannya


hanya melihatnya sekilas. Akhirnya jaket itu kini


terlepas, menyisakan tubuh gagah Agra yang


hanya terbungkus kaos hitam pas body. Agra


melempar jaketnya ke jok belakang.


Wajah Kiran sempat memerah saat melihat


bagaimana tegapnya tubuh pengawal sekaligus


suaminya itu. Aroma maskulin yang sangat


menenangkan kini menguar dari tubuh laki-laki


itu. Kiran sempat menautkan alisnya heran,


saat mencium aroma maskulin mewah bisa


menguar dari tubuh suaminya itu.


Bagaimana bisa pria sekelas penjaga kebun


milik keluarganya mampu memiliki parfum


semahal ini. Karena Kiran tahu pasti jenis


parfum apa yang kini memenuhi indra


penciuman nya itu.


"Kita sudah memasuki kawasan desa Girilaya


Nona sebentar lagi sampai."


Terang Agra tanpa menoleh kearah Kiran


membuat Kiran tersentak dari lamunannya.


"Alhamdulillah.. akhirnya sampai juga."


Lirih Kiran seraya memperhatikan keadaan


sekitar yang di lalui nya.


Desa Girilaya tempat villa keluarga Tuan Zein


berada adalah sebuah desa yang sangat indah


dan masih sangat asri serta alami. Di desa ini


juga terdapat sebuah air terjun yang sangat


eksotis dengan keindahan panorama alam di


sekitarnya yang memanjakan mata.


Dan letak Villla keluarga nya tidak jauh dari air


terjun itu, bahkan dari atas lantai 2 rumahnya keberadaan air terjun itu bisa terlihat dengan


jelas dan nyata. Kiran benar-benar tidak sabar


ingin segera tiba di villla kemudian menikmati


semua keindahan alam di sekitar tempat itu.


Penduduk asli desa ini sangat ramah dan terbuka


kepada para pendatang karena sebagian besar


perkebunan milik pihak swasta ada di wilayah


desa ini termasuk juga perkebunan milik Tuan


Zein yang kini sudah berpindah tangan tanpa


di ketahui oleh Kiran.


Mata pencaharian penduduk nya sebagian


besar adalah sebagai buruh perkebunan yang


mengais rejeki dari mengurusi ladang ataupun memetik hasil perkebunan yang terdiri sawit,


karet dan banyak lagi jenis perkebunan lainnya.


Perkebunan Tuan Zein terdiri dari kayu Cendana,


kayu jati dan berbagai jenis kayu berkualitas


lainnya yang selama ini ada di bawah pimpinan


Badar sebagai orang kepercayaan Tuan Zein.


Akhirnya setelah perjalanan panjang yang sangat


melelahkan mereka tiba juga di halaman Villa


yang terlihat masih sangat terawat dengan baik.


Selama ini Villa itu di huni oleh Badar laki-laki


berumur 45 tahunan bersama Rasmi istrinya.


Mereka juga memiliki seorang anak laki-laki


berumur 15 tahunan bernama Bani.


Kedatangan mereka di sambut oleh barisan


orang-orang kepercayaan Tuan Zein.


Ada Badar, Rasmi, Bani , dua orang bawahan


Badar, serta seorang pria muda seumuran


Agra yang terlihat berpenampilan sedikit rapi


dan berbeda dari yang lainnya.


Mereka semua terlihat terdiam di tempat, tidak


mampu bergerak, begitu terkesima saat melihat


kemunculan Kiran dari dalam mobil.


"Ya Allah..Nona Kiran cantik banget.."


Gumam Bani dengan polosnya. Semua orang


langsung tersadar begitu mendengar gumaman


Bani dan spontan memukul kepala anak muda


itu supaya dia segera tersadar.


"Selamat datang Nona Kiran..Maaf saya tidak


bisa langsung menjemput anda kemarin."


Sambut Badar sambil membungkuk hormat di


hadapan Kiran dan Agra yang terlihat berdiri


tenang di dekat pintu mobil.


"Tidak apa Om Badar..yang penting sekarang


kan Kiran sudah sampai di sini dengan selamat."


Sahut Kiran seraya tersenyum lembut membuat


semua mata kembali terkesima. Mbak Rasmi


segera mendekat lalu menunduk di hadapan


Kiran di ikuti oleh Bani dan dua orang lainnya.


"Selamat datang di desa kami Nona Kiran.."


Sambut mereka kompak masih menundukkan


kepala tidak berani menatap wajah yang sangat


menyilaukan mata itu.


"Terimakasih atas sambutan kalian semua. Saya senang banget bisa berada di sini."


Ucap Kiran dengan suara lembut nya yang


mampu menentramkan jiwa.Pria yang berbeda


tadi ikut mendekat kearah Kiran lalu menunduk


sedikit di hadapannya.


"Selamat datang Nona Kiran..perkenalkan saya


Bara, asisten pribadi Tuan Agra..!"


Ucap pria itu mengenalkan dirinya sebagai Bara


sang asisten pribadi Agra. Kiran membalas nya


dengan menunduk sedikit seraya menautkan alis


nya karena bingung. Asisten pribadi.? sebenarnya siapa Agra di sini.?


"Mari Nona.. silahkan masuk.! anda harus segera


istirahat, mbak sengaja sudah masak banyak,


spesial loh untuk menyambut kedatangan Nona."


Mbak Rasmi segera membimbing Kiran untuk


masuk ke dalam Villa, Kiran mengangguk seraya kembali tersenyum lembut. Namun sebelum melangkah masuk Kiran melirik kearah Agra


yang masih terlihat betah dengan posisi nya


semula, bersandar di badan mobil dengan


tatapan datar ke arah dirinya.


Akhirnya Kiran masuk bersama dengan Rasmi


dan Bani meninggalkan para pria dewasa yang


kini terlihat mulai di selimuti ketegangan saat


melihat raut muka Agra berubah dingin.


"Kenapa Tuan tidak menghubungi kami kalau


mengalami kesulitan di jalan."


Ucap Badar pelan sambil menundukkan kepala


dalam di hadapan Agra yang masih dalam mode


beku. Sebagai bawahan Badar merasa sangat


tidak berguna karena tidak bisa melindungi majikannya itu dari kesulitan yang di alaminya.


Namun dia juga tidak bisa apa-apa karena semua sudah di atur sendiri oleh Agra.


"Semuanya masih bisa aku tangani sendiri.!


Yang penting mulai sekarang jangan biarkan


dia mengalami kesulitan apapun selama tinggal


di tempat ini.!"


"Baik Tuan, kami mengerti.!"


"Kembalilah ke perkebunan.! pastikan semua


nya aman dan terkendali.! jangan lengah.!"


Titah Agra dengan suara yang sangat tegas.


"Baik Tuan, kalau begitu kami permisi."


Sahut Badar, dia menunduk sebentar di ikuti


oleh dua orang bawahannya kemudian masuk


ke dalam mobil Jeep nya setelah itu pergi menuju


ke perkebunan karena sudah waktunya keliling.


"Jadi Tuan sudah menikahi Nona Kiran.?"


Bara berdiri tenang di samping Agra yang


terlihat menatap lurus ke depan.


"Hemm.. semuanya di luar dugaan. "


"Sepertinya Tuhan sudah mengatur semuanya


dengan baik.!"


"Gadis itu tidak akan bisa menerima semua


ini dengan mudah.!"


"Tapi pernikahan kalian sudah sah secara hukum


agama maupun negara Tuan."


Agra menarik napas panjang, kemudian mulai


melangkah masuk ke dalam villa di ikuti oleh


Bara yang hanya bisa mengangkat bahunya.


 


**********


 


TBC.....