Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
35. Syok


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Kiran bangkit dari rebahan nya, kemudian duduk


tegak masih menatap Aryella penuh selidik.


"Kenapa.? apa kau tidak suka aku datang kesini?


Bukankah aku juga punya hak yang sama untuk


datang ke kantor ini.?"


Protes Aryella dengan nada yang sangat ketus.


Kiran menggeleng pelan melihat sikap jutek nya


Aryella.


"Ada apa datang kesini ? apa ada sesuatu yang


kamu butuhkan ?"


Tanya Kiran. Hatinya tiba-tiba saja merasa resah


melihat fokus pandangan adiknya itu tidak jua


lepas dari sosok suaminya.


"Aku ingin bicara empat mata dengan mu soal


Nathan !"


Wajah Kiran berubah tidak nyaman. Dia melirik


sekilas kearah Agra yang juga sedang melihat


kearahnya. Kiran beranjak dari duduknya lalu


menarik tangan Aryella.


"Ikut aku, kita bicara di sana.!"


"Hei.. kenapa kita harus bicara di sana, kenapa


tidak di hadapan suamimu saja, biar dia tahu


sekalian. !"


Tolak Aryella, matanya masih tetap menatap


tenang wajah Agra. Kiran terhenyak, jadi Aryella


sudah tahu siapa Agra.? hatinya semakin tidak nyaman.


"Ini urusan kita, dia tidak ada hubungannya


dengan semua ini. !"


Kiran memaksa menarik tangan Aryella di


bawa berjalan ke dekat sofa ruang tamu.


Gadis itu berdecak sebal sambil kemudian menjatuhkan bokong nya di atas sofa.


"Apa yang ingin kau bicarakan ?"


Tanya Kiran yang kini duduk di sebelah


Aryella, menatap tajam wajah cantik gadis


itu yang lagi-lagi memfokuskan perhatiannya


pada sosok Agra walau mereka berada pada


jarak yang cukup jauh.


"Aryella..apa sebenarnya yang kau lihat ?"


Kiran tidak tahan, dia meraup wajah adiknya


itu di hadapkan kearahnya. Kini kedua mata


mereka saling menatap kuat.


"Kau boleh mengambil Nathan kembali.!


sebagai gantinya berikan suamimu itu padaku.!"


"Apa ??"


Kiran membulatkan matanya, terkejut setengah


mati. Menyerahkan Agra untuk Aryella.?


"Apa otakmu sudah tidak waras.?"


Seru Kiran saking kesalnya, Agra tampak melirik


kearah nya, menatap Kiran dalam diam. Namun


dia mulai mengetatkan rahangnya. top


"Nathan sudah tidak menarik lagi bagiku. Dia


memang memiliki segalanya, tapi suamimu


itu lebih menarik di banding dengan nya.!"


Ucap Aryella dengan tidak tahu malunya.


Tatapannya kembali jatuh pada sosok Agra.


Kiran menggelengkan kepalanya, tidak


percaya akan sikap Aryella.


"Bukankah kamu sangat mencintai Nathan?


lalu kenapa sekarang tiba-tiba menginginkan


suamiku, apa kau pikir dia barang yang bisa


di gilir begitu saja ?"


"Ya..aku mungkin mencintainya, tapi dia tidak


pernah memandang ku sama sekali.! dia hanya


menginginkan tubuhku saja.!"


Kiran kembali menggeleng kalut, dia benar-


benar merasa gagal menjadi seorang kakak


karena telah membiarkan adiknya ini terjerumus


ke dalam pergaulan bebas.


"Apa kau menjual kehormatan mu pada banyak


laki-laki.? "


Aryella menatap kesal wajah Kiran, tampaknya


dia merasa sedikit tersinggung.


"Tentu saja tidak, hanya Nathan yang sudah


berhasil mendapatkan ku.!"


"Ya Tuhan Aryella.. kenapa kamu melakukan


semua ini, apa kau tidak punya sedikit saja


rasa bersalah pada ayah dan ibu..!"


Lirih Kiran seraya mengurut keningnya resah.


Aryella hanya menatapnya jengah.


"Kau saja yang terlalu kolot, kamu juga terlalu


naif, jaman sekarang kehormatan sebagai


seorang perawan sejati sudah tidak ada lagi !"


"Cukup ! kamu benar-benar sudah kelewat


batas. Apa kamu pikir semua yang kamu


inginkan akan selalu kamu dapatkan.?"


Geram Kiran dengan hati yang sudah di telan


bulat-bulat oleh emosi dan kekecewaan atas


sikap adiknya itu yang malah semakin kacau.


"Tentu saja..dari kecil apa yang aku inginkan


selalu aku dapatkan, apa yang kau miliki akan


selalu aku dapatkan.!"


"Kali ini itu tidak akan terjadi..! kau boleh


mendapatkan Nathan, tapi tidak dengannya.!"


Tegas Kiran sambil melirik kearah Agra yang


saat ini tampak sedang berdiri menelepon


seseorang di dekat jendela.


"Ohh..apa kau sudah jatuh cinta padanya.?


Secepat itukah kamu melupakan perasaanmu


pada mantan kekasih mu itu.?"


"Itu urusanku, tidak ada hubungannya dengan


mu, sekarang sebaiknya kamu pergi dari sini.!"


Usir Kiran sambil menunjuk kearah pintu.


Aryella tampak menatap tajam wajah Kiran.


"Aku juga punya hak untuk ada di tempat ini.!"


"Sekarang aku yang memimpin perusahaan ini,


jadi kau.. keluar sekarang.! dan ingat jangan


pernah bermimpi untuk mendapatkan suamiku!


Karena aku tidak akan pernah merelakannya.!"


"Hahaa..apa kau meragukan kemampuan ku


dalam menjerat pria yang aku inginkan.? kau


lupa ? Nathan adalah bukti nyata !"


"Aryella..! kesabaranku ada batasnya.!"


Seru Kiran seraya berdiri dengan tatapan yang


kini berubah garang. Aryella meraih tas nya, lalu


ikut berdiri di hadapan Kiran. Keduanya saling pandang mengadu kekuatan.


"Nathan akan datang lusa untuk menentukan


tanggal pernikahan..! jadi kau harus segera


mengurus perpisahan mu dengan nya. Setelah


itu aku akan mengambil nya darimu.!"


"Keluar kamu..! aku bilang keluar..!"


Pekik Kiran tidak tahan lagi. Aryella mendengus


kesal, tatapannya kembali menyapu sosok


gagah Agra yang masih berdiri tenang di dekat


jendela, dia masih melakukan pembicaraan.


"Kau harus segera mengurus perceraian mu


dengannya kalau tidak ingin ayah mati sia-sia !


Dan aku pastikan akan segera menaklukkannya.!"


Desis Aryella sambil melirik kearah Agra


dengan senyum narsis nya, setelah itu dia menghentakkan kakinya keluar dari dalam


ruangan. Kiran menutup wajahnya dengan


perasaan yang kini tidak menentu.


Apakah benar yang tadi di katakan Aryella


bahwa Nathan akan segera mengambil langkah


cepat, apa yang terjadi sebenarnya? dia harus


segera mencari tahu dengan mendatangi ayah


nya di rumah sakit.


Kiran tersentak ketika tiba-tiba Agra memeluk


nya dari belakang, melingkarkan lengan


kokohnya di perut datar nya.


"Kau jangan terlalu banyak berpikir.. semua


akan berjalan sesuai dengan keinginan kita.!"


Bisik Agra sambil mengecup lembut tengkuk


Kiran yang langsung berjingkat, dia melirik dan


menatap resah wajah tampan Agra yang kini


menenggelamkan kepalanya di bahu Kiran.


"Agra.. apa yang akan kita lakukan sekarang.?"


"Apa yang kau inginkan.? katakanlah..maka


itu yang akan terjadi. !"


"Apa maksudmu ? aku sama sekali tidak punya


kekuatan untuk menyelamatkan diri ! lalu apa


yang akan terjadi pada hubungan kita."


Ucap Kiran lemah, Agra melepaskan pelukan


nya, dia menarik tangan Kiran untuk duduk


kembali di sofa. Kiran menarik napas berat


seraya menundukkan kepalanya. Agra duduk


di sampingnya, kemudian mengangkat wajah


Kiran dengan tatapan yang semakin dalam.


"Apa yang kau harapkan dari hubungan kita.?"


Tanya Agra serius membuat Kiran terhenyak


dalam diam, dia menatap kedalaman mata


elang Agra mencoba menembus batas.


"Katakanlah Kiran.. yakinkan aku untuk tetap


memperjuangkan mu..! "


Imbuh Agra membuat Kiran semakin tidak kuasa untuk berkata. Harus berdiri dimanakah dia kini.?


antara perusahaan keluarganya, juga isi hatinya


yang tidak ingin melepaskan suaminya ini.


"Apa kau akan melepaskan hubungan ini.?"


"Tidak ! tentu saja tidak..!"


Debat Kiran seraya menggeleng kuat. Tatapan


Agra kini semakin tajam hingga rasanya tubuh


Kiran lemas seketika.


"Lalu apa yang kau inginkan.?"


"Aku tidak ingin berpisah dengan mu Agra..aku


sudah merasa nyaman bersamamu.!"


"Apa kau rela membiarkan ayahmu terpuruk?


Kau akan merelakan perusahaan ini jatuh ke


tangan laki-laki itu demi aku.?"


Kiran langsung memeluk erat tubuh Agra. Air


matanya mulai berjatuhan tidak tertahan kan.


"Aku tidak bisa kehilangan mu Agra..Aku akan


merelakan semuanya untuk mempertahankan


dirimu di sisiku.!"


Deg !


Jantung Agra bergelombang hebat. Tubuhnya membeku di tempat, pelukannya di tubuh Kiran


hampir saja terlepas. Apakah dia sedang


bermimpi saat ini.?


"Kalau begitu tidak ada keraguan lagi bagiku


untuk terus memperjuangkan mu.! "


Kiran melepaskan pelukannya, Agra mengusap


pelan air mata yang meleleh di pipi istrinya itu.


"Tetaplah bersamaku.. apapun yang terjadi.!"


Ucapnya lagi seraya mengecup lembut kening


Kiran. Keduanya memejamkan mata, mencoba


untuk memantapkan hati dan jiwanya.


****** ******


pemulihan saja. Sam tidak pernah lepas untuk


selalu mengontrol dan mengecek kondisi ayah


nya itu setiap dia ada waktu. Dan Nyonya Amelia


tidak pernah sekalipun meninggalkan suaminya


itu. Dia selalu setia mendampingi nya.


Saat ini Sam sedang kembali mengecek kondisi


jantung Tuan Zein ketika tiba-tiba ada kegaduhan


di luar ruangan. Ada beberapa orang yang sedang


berbicara di depan pintu. Sam saling pandang


dengan Nyonya Amelia.


"Kenapa bisa ada keributan di luar Bu.?"


Tuan Zein mengeluarkan suara nya merasa


sedikit terganggu.


"Entahlah.. ibu juga tidak mengerti."


Sahut Nyonya Amelia. Di tengah kebingungan


pintu ruangan di buka dari luar. Dan satu sosok


pria tinggi tegap muncul di ambang pintu,


menatap lurus kearah Tuan Zein yang sedang bersandar di punggung ranjang .


Sosok itu yang tiada lain adalah Agra tampak


membuka topi penutup kepala nya membuat


Sam dan Tuan Zein terkejut bukan main.


"Tuan Bimantara..."


Desis Tuan Zein yang langsung terlihat pias.


Sementara Sam dan Nyonya Amelia sontak membungkuk hormat di hadapan pemilik


rumah sakit tempatnya bekerja tersebut.


"Selamat datang Tuan Bimantara.."


Sambut Sam dengan suara sedikit bergetar


karena dirinya benar-benar tidak menyangka


akan mendapat kunjungan tidak terduga ini.


Agra mengangkat tangannya sedikit seraya


mendekat kearah Tuan Zein yang berusaha


untuk menegakkan badannya di bantu oleh


Sam. Laki-laki paruh baya itu mencoba untuk


memberi sambutan baik sebisa mungkin.


"Jangan memaksakan dirimu..!"


Cegah Agra dengan suara beratnya. Tuan Zein


menundukkan kepalanya sedikit dengan senyum


samar di telan kegugupan.Pintu ruangan kembali


di tutup dari luar, para dokter dan perawat yang


tadi datang menemani Agra yang di pimpin oleh


Dokter Rey tampak berjaga di luar ruangan.


Yang ada di ruangan itu kini hanya tinggal Agra


di dampingi oleh Bara dan dua orang bawahan


nya yang biasa menangani masalah keuangan


bersama dengan ketiga orang anggota keluarga istrinya tersebut. Agra mengamati layar monitor elektrokardiogram yang menunjukan kerja


jantungTuan Zein.


"Bagaimana keadaannya.? "


Tanya nya pada Sam yang sedikit tersentak.


"Sejauh ini sudah semakin membaik Tuan.."


Sahut Sam masih tidak berani mengangkat


kepalanya. Tatapan Agra kini mengarah pada


sosok Tuan Zein yang masih terlihat lemah.


"Kau harus memantaunya terus.!"


"Tentu Tuan.."


Agra melirik kearah Bara dan yang langsung


mengangguk dan mengangkat tangannya pada


dua orang ahli tadi. Mereka maju ke hadapan


Tuan Zein, menyerahkan satu dokumen tebal


ke pangkuannya, Tuan Zein terlihat bingung.


"Apa ini Tuan, apa kami melakukan kesalahan?


saya rasa urusan perkebunan sudah selesai."


Tuan Zein memberanikan diri untuk bertanya


dengan perasan tidak enak.


"Jadi dana hasil penjualan perkebunan tidak


cukup untuk menutup semua hutang mu


pada pihak Global Company Tuan Zein.?"


Ujar Agra seraya menatap tajam wajah pias


Tuan Zein yang langsung tersentak dan


mengangkat wajahnya melihat sekilas kearah


Agra yang terlihat begitu dingin.


"Mo-mohon maaf Tuan..tapi itu adalah urusan


internal perusahaan kami yang tidak bisa di


di buka begitu saja di luar.!"


"Aku sudah menyelidiki semua kebocoran


dana yang ada di perusahan mu.! kau sudah


membiarkan kejahatan mengakar sampai


sejauh ini.!"


Tuan Zein menganga, dia tidak mengerti dari


mana Tuan pemilik Bintang Group itu tahu


semua ini.


"Da-dari mana anda mendapat akses untuk


mengetahui semua ini.?"


"Kiran..aku adalah asisten pribadi nya saat ini.!"


"Apa.??"


Ketiga anggota keluarga Mahesa berseru kaget.


Agra mendengus kesal, tatapan nya semakin


menghujam wajah Tuan Zein.


"Kenapa kau harus mengorbankan putrimu


untuk menyelamatkan perusahaan mu yang


sudah kacau balau itu.!"


Wajah Tuan Zein tampak pucat pasi. Nyonya


Amelia dan Sam tidak kalah pucatnya, kenapa


Tuan yang terhormat ini tiba-tiba membahas


masalah pribadi keluarga nya.


"Tu-Tuan..itu adalah masalah keluarga kami.


Jadi saya rasa anda tidak ada hubungan nya


dengan semua ini."


"Tentu saja itu semua menjadi urusanku.!"


Tuan Zein dan kedua keluarganya bertambah


bingung, bagaimana bisa semua ini menjadi


urusan Tuan Bimantara.? asisten pribadi Kiran,


ini pasti hanya omong kosong saja kan.?


"Mohon maaf Tuan.. tapi saya tidak mengerti


maksud anda, bagaimana bisa semua ini


menjadi urusan anda, bukankah urusan


perkebunan sudah selesai ?"


Bara maju mendekat kearah Tuan Zein, dia


menyerahkan buku nikah Agra dan Kiran ke


hadapan Tuan Zein tepat di atas dokumen tadi.


"Karena aku adalah suami putrimu..!"


Tegas Agra dengan nada penuh penekanan


setengah menahan emosi. Ketiga anggota


keluarga Mahesa tersebut terlihat bengong,


tidak mampu mengeluarkan suara sedikitpun.


Terkejut tak terkira, Tuan Bimantara suaminya


Kiran, bagaimana bisa.?


Dengan bergetar dan wajah yang pucat pasi


Tuan Zein membuka buku nikah di tangannya.


Matanya melebar mendapati fakta yang sangat


mengejutkan ini. Sam dan Nyonya Amelia


mendekat, ikut melihat semua bukti itu.


Ketiganya kini hanya bisa melongo saja.


"Ja-jadi..pengawal yang menikah dengan putri


saya di desa adalah anda..? tapi bagaimana


bisa semua ini terjadi Tuan..?"


"Aku pergi mengikuti putrimu ke perkebunan


itu. Menjadi pengawalnya di sana, karena tempat


itu bukanlah tempat yang cocok untuknya.!"


Tuan Zein semakin syok, menjadi pengawal


Kiran.? apa ini sebuah lelucon.?


"Apa kau tidak pernah benar-benar peduli pada


Kiran, hingga tidak ada keinginan sekalipun


untuk mengecek data pernikahan ku dengan


nya, kau hanya mempercayai informasi yang


di sampaikan oleh Badar..!"


Cecar Agra dengan wajah yang terlihat semakin


dingin. Tuan Zein menundukkan kepalanya


dalam, Sam mundur dengan tatapan yang


masih belum percaya semua kenyataan ini,


sementara Nyonya Amelia langsung terduduk


lemah di kursi nya.


"Maaf Tuan.. saya memang ayah yang tidak


bertanggung jawab.! saya bahkan meminta


Kiran untuk membatalkan pernikahan kalian.


Sekali lagi maafkan saya..!"


"Kiran belum tahu siapa aku sebenarnya..!


yang dia tahu aku adalah pengawalnya. Aku


minta tutup mulut kalian sampai aku sendiri


yang akan memberitahu semuanya.!"


Ketiga orang itu hanya bisa mengangguk di


tengah ketidakpercayaan atas apa yang mereka


dengar, jadi Kiran tidak tahu kalau orang yang


menjadi suaminya adalah sosok yang sangat


terhormat dan terpandang ?


"Selanjutnya kau pelajari dokumen itu, biarkan


Kiran yang mengurus semuanya. Dan ingat..


Semua ini aku lakukan semata-mata hanya


untuk nya, untuk Kiran.. istriku .!"


Dengus Agra sambil kemudian dia memutar


tubuhnya, melangkah dengan gagah keluar


dari ruangan itu. Ketiga anggota keluarga


Mahesa menatap kepergian Tuan Terhormat


itu masih dalam mode syok luar biasa.


"Apa kita sedang bermimpi Ayah.?"


Sam bertanya dengan pandangan kosong.


"Bagaimana bisa Tuan Bimantara yang sangat


terhormat itu menjadi pengawal pribadi nya


Kiran.? apa yang terjadi sebenarnya.?"


Gumam Tuan Zein. Dia berpaling pada dokumen


yang ada di tangannya, membuka nya dengan


perlahan. Dan setelah melihatnya secara


seksama tubuhnya kini terkulai lemas.


"Ada apa Yah..? apa yang terjadi..?"


Sam dan Nyonya Amelia tampak khawatir


dia segera menyandarkan tubuh Tuan Zein


dengan posisi senyaman mungkin. Lelaki


paruh baya itu tampak memejamkan mata,


mencoba mengatur ritme pernapasannya.


Sam segera meraih dokumen tadi kemudian


membukanya.Dia juga tidak kalah syok nya.


"Tuan Agra mengembalikan semua dana yang


telah di pinjamkan oleh pihak global company?


Apa ini tidak salah ? dan dia melakukan ini


semua hanya untuk Kiran kita.?"


Gumam Sam seraya menjatuhkan dirinya di


atas kursi.


"Ya Tuhan.. terimakasih karena Engkau telah


mengirimkan seorang penolong pada keluarga


kami..dan semua ini berkat Kiran.."


Lirih Nyonya Amelia sambil menitikkan air


mata haru. Ketiganya terdiam mencoba untuk


menenangkan diri dan berusaha mempercayai


bahwa semua ini bukanlah sekedar mimpi..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC....