
************
Hari yang cerah untuk jiwa yang tenang...
Semerbak aroma wangi bunga segar menyebar
ke seluruh ruangan di dalam kamar tidur megah
yang berada di lantai 4 istana utama Hadiningrat.
Sinar mentari pagi mulai masuk melalui atap
ventilasi khusus yang jatuh tepat di atas tempat
tidur besar nan mewah hingga membiaskan
cahaya kemilau penuh kehangatan..
Cahaya mentari yang jatuh dari atap tersebut
menyinari langsung dua sosok terkasih yang
masih terlelap saling memeluk erat. Tubuh
mereka kini sama-sama polos, hanya tertutupi
selimut tebal nan halus. Kulit mereka saling
menempel satu sama lain. Dan aroma feromon
sisa bercinta menjelang pagi tadi masih tercium
dengan sangat kuat di atas tempat tidur.
Kiran menggeliat, membuka matanya perlahan.
Pandangan nya langsung jatuh pada sosok sang
suami gagah perkasa nya yang kini berada di
hadapannya, mengurung dirinya, melingkarkan
lengan kokohnya di pinggangnya, meraih kepala
nya untuk tetap berada dalam kekuasaannya.
Bibir Kiran tersenyum lembut, semburat merah
memenuhi kedua pipinya saat dia mengingat
bagaimana menggilanya Agra menikmati tubuh
nya hingga kini dia merasakan seluruh tulang
nya seakan luluh lantak.
"Aaww...sakit banget..!"
Lirih Kiran saat dia mencoba menggerakkan
badannya, terutama bagian bawah tubuhnya.
Agra memang terlalu perkasa, hingga selalu
saja menyisakan luka setiap sehabis bercinta.
Kiran mendumel sendiri atas penderitaan nya.
Tapi semua luka ini sangat sepadan dengan
kenikmatan yang di dapatkannya yang tidak
akan bisa di gantikan dengan apapun.!
Kiran menatap lekat wajah lelah Agra yang
malah terlihat semakin mempesona di saat
tertidur seperti ini.
"Semakin hari aku semakin mengagumi mu.
Entah sudah sedalam apakah cintaku saat ini.
Aku sudah tenggelam di dalamnya sayang.."
Gumam Kiran seraya mengelus lembut wajah
Agra menelusuri seluruh detail wajah teramat
tampan itu dan memandang nya tiada bosan.
Bibirnya tiada henti mengukir senyum semanis
madu penuh rasa syukur atas anugerah Tuhan
yang tak terhingga ini. Entah karma baik apa
yang telah di lakukannya di kehidupan masa
lampau hingga dia bisa mendapatkan suami
sesempurna Agra .
"Jangan terlalu larut dalam kekaguman mu
sayang..nanti kau bisa menjadi pemuja ku.."
Kiran terkejut mendengar ucapan Agra namun
yang dia lihat matanya masih saja terpejam.
"Aku memang memujamu..dan aku rasa tidak
ada yang salah dengan itu.."
"Aku hanyalah makhluk Tuhan..tidak semesti
nya kau berlebihan padaku.."
"Semua sesuai porsinya sayang..Tidak ada yang
melebihi batas kecintaan ku terhadap Tuhan.."
Agra membuka mata, keduanya saling pandang
lekat, mencoba untuk menyampaikan rasa lewat
pandangan mata yang sama-sama mendamba.
"Apa sekarang kau sudah siap bertemu kedua
orang tuaku?"
Deg !
Jantung Kiran serasa berhenti berdetak, riuk
wajahnya langsung berubah tegang sedikit
bimbang. Agra menarik kembali tubuh halus
lembut istrinya itu kedalam dekapannya.
"Jangan tegang begitu sayang.. apapun yang
terjadi aku akan selalu ada bersamamu.!"
Bisik Agra seraya menjilat halus daun telinga
Kiran yang menjauhkan dirinya.
"Bagaimana kalau mereka tidak bisa menerima
kehadiran ku di sisimu..? apa yang harus aku
lakukan.?"
Keduanya kembali saling pandang lekat. Bibir
Agra mengulas senyum tipis .
"Kau hanya perlu bertahan di sisiku, selalu
berada di dekat ku..!"
"Apakah mereka yang sudah merencanakan
perjodohanmu dengan Mikhayla.?"
Agra terdiam saat nama Mikhayla di sebut.
Raut wajah Kiran semakin terlihat tidak tenang.
"Sayang..apa kau sudah menerima perjodohan
itu ? apa kalian sudah menentukan tanggal.?"
Agra masih terdiam membuat Kiran tidak tahan.
Dia meraup wajah Agra, menatapnya kuat.
"Katakan padaku..apa kalian berdua berencana
untuk segera bertunangan lalu menikah.?"
"Apa yang akan terjadi kalau itu benar.?"
Wajah Kiran memucat, tidak ! itu tidak mungkin.
Kiran menggeleng kuat, menarik dirinya dari
pelukan Agra yang masih menatapnya kuat.
"Tidak.! kau tidak boleh melakukan ini padaku.
Aku sudah percaya sepenuhnya padamu..!"
Lirih Kiran dengan suara sedikit gemetar, dia
melepaskan dirinya dari rengkuhan Agra lalu
menyibak selimut, meraih kimono kemudian
berusaha memakainya hingga tangan Agra
menarik dan melemparnya jauh .
"Agra..apa yang kau lakukan..?"
Kiran mendelik kesal sambil beringsut ke tepi
tempat tidur. Namun dia memekik ketika Agra
meraih tubuh nya kemudian mengangkat nya
lalu berjalan masuk ke kamar mandi.
"Turunkan aku.. ternyata kau sama saja dengan
yang lainnya. Tidak tahan melihat wanita cantik
seperti Mikhayla..!"
Ketus Kiran sambil meronta tapi Agra mengunci
pinggang nya hingga dia tidak bisa lagi bergerak.
Tubuh polos mereka kini sudah berada di dalam
ruang shower. Agra masih menahan Kiran di
atas pangkuannya. Kaki Kiran melingkar kuat
di pinggang Agra, tangannya melilit di lehernya.
Keduanya saling pandang lekat. Agra menekan
tombol pengatur suhu dan air.
"Apa kau pikir aku laki-laki murahan sayang..?"
Bisik Agra sambil ******* lembut bibir ranum
Kiran yang masih sedikit bengkak akibat ulahnya
tadi pagi. Kiran memalingkan wajahnya kesal.
"Hei..aku sedang bicara padamu Kiran..!"
Tegur Agra dengan senyum tertahan nya, rasa
nya dia sudah tidak kuat lagi kalau harus terus
menjahili istrinya itu. Kiran kembali menatap
Agra dengan wajah di tekuk kesal.
"Kau sama saja dengan laki-laki lain..!"
"Tentu saja..! siapa yang tidak tertarik pada
wanita cantik..apalagi secantik..!"
"Iihh..kau ini benar-benar menyebalkan.!
turunkan aku sekarang..!"
"Tapi tidak semua wanita cantik semenarik
dirimu sayang..kau yang teristimewa..!"
"Dasar pembual..sudah turunkan aku..!"
Geram Kiran sambil memaksa turun dari atas
pangkuan Agra, namun kini yang terjadi malah
membuat dia tegang dengan wajah memerah.
Tubuh bagian bawah Agra saat ini sudah tegang
sempurna, langsung menyentuh bagian sensitif
tubuh Kiran yang kini merapat ke tubuh Agra
karena Agra menarik pinggangnya kuat.
"Aku tidak mungkin bisa menduakan mu Kiran.
Kalau mau, itu sudah lama aku lakukan..!"
Wajah Kiran semakin memerah, dia berusaha
menjauhkan dirinya dari rengkuhan Agra yang
semakin menekan bagian bawah tubuhnya ke
dalam bagian inti tubuh Kiran.
"Aakhh..Agra..jangan lagi..aku masih lelah..
aku juga masih sakit..aakhh..!"
"Kau harus bertanggung jawab karena sudah
membangunkan nya sayang...!"
"Tapi aku masih lelah sayang..ahhh..Agraa..."
Kiran menggeram sambil memukul pelan dada
Agra saat dia memaksa masuk hingga membuat
nya meringis memejamkan matanya. Air shower mengucur hangat menyirami tubuh mereka saat
Agra mulai mengerakkan tubuhnya. Bibirnya kini sudah berada di kedua bukit kembar Kiran yang
hanya bisa menengadahkan kepalanya sambil
mendesah lembut saat rasa nikmat itu kembali menjalari seluruh tubuhnya, membawa dirinya
terbang ke awan hingga membuat dia tidak
tahan lagi, mengerang nikmat dan melenguh
panjang saat Agra semakin intens melancarkan
aksi liarnya. Kiran menjerit kecil dan meremas
kuat rambut Agra yang berada di dadanya saat
laki-laki itu semakin menghentak gerakannya
lebih cepat dan liar. Gairah mereka semakin
lama semakin terbakar saat Kiran naik kembali
ke pangkuan Agra dan melilitkan kakinya di
pinggang suaminya. Mereka berdua kini larut
dalam olahraga air yang menguras tenaga.
------- ------
di dalam kamar dengan tiada henti memadu
kasih sampai tubuh Kiran lemas dan memucat.
Agra seakan tiada bosan terus saja menjamah
dan menggerayangi tubuh istrinya itu dengan
semua sentuhan lembut dan membuai nya.
Setelah sholat dzuhur akhirnya mereka turun
untuk makan siang karena waktu sarapan pagi
Pak Hans mengantarnya ke dalam kamar. Kini
keduanya sudah ada di meja makan minimalis
modern yang hanya ada dua kursi saja. Semua
sengaja di buat seperti itu oleh Agra. Dia tidak
ingin ada orang ketiga diantara mereka.
"Lain kali aku hanya akan makan masakanmu..!"
Keluh Agra seraya mulai menyuapi Kiran yang
menggeleng pelan menatap wajah Agra.
"Ayo makan atau kau mau aku melakukan hal
lain di sini.?"
Kiran mengerucutkan bibirnya sambil akhirnya
menerima suapan suaminya itu. Namun tidak
lama gantian dia yang menyuapi Agra. Tata
dan para pelayan yang ada di sana hanya bisa
menunduk di penuhi rasa tidak percaya akan
sikap posesif Tuan Muda nya yang terlihat
begitu berlebih kepada istrinya. Dalam hati
mereka rasa iri itu tentu saja ada, bagaimana
Kiran bisa seberuntung ini dalam hidupnya.
"Sayang..aku akan ke rumah sakit dulu melihat
keadaan Aryella sebelum nanti kita pergi.."
Kiran berucap seraya menyuapkan salad buah
ke mulut Agra setelah mereka selesai makan
menu utama. Agra yang sedang memainkan
ponselnya melirik kearah Kiran.
"Jangan terlalu lama di sana..Kau juga harus
pergi bersama dengan Zack..!"
"Baiklah Tuan ku.. apapun perintah mu akan
aku patuhi sekarang.."
Cup !
Agra mendaratkan ciuman lembut di bibir Kiran
yang sontak memundurkan wajahnya, melirik
malu kearah Tata dan para pelayan.
"Aku akan ke kantor sekarang untuk mengurus
semuanya agar tidak ada masalah selama kita
pergi..!"
Agra meminum air putih setelah itu mengusap
bibirnya dengan serbet putih. Kiran melakukan
hal yang sama. Lalu keduanya berjalan saling
bergandengan tangan keluar dari ruang makan
dan berpisah di halaman dengan pergi kearah
masing-masing. Kiran pergi ke rumah sakit
untuk memastikan keadaan Aryella saat ini.
Tiba di sana lagi-lagi suasana di dalam lobby
rumah sakit langsung sibuk dan gaduh melihat
kedatangan Nona Muda Hadiningrat. Semua
dokter, perawat dan staf rumah sakit terlihat
berbaris rapi menyambut kehadiran Nyonya
Bimantara Agra Bintang tersebut.
"Selamat siang Nona Muda..!"
Serempak mereka seraya membungkukan
badannya membuat Kiran membalasnya
dengan membungkuk sedikit. Zack berdiri
tegak di belakangnya mengawasi setiap
pergerakan yang ada di sekitar Nona nya itu.
"Terimakasih semua atas sambutannya..lain
kali kalian tidak perlu melakukan semua ini.!"
Sambut Kiran dengan melempar senyum manis
kearah para pengabdi tersebut. Semua orang
tampak terpukau melihat penampilan Kiran saat
ini. Hari ini Kiran tampak memukau dengan dress cantik diatas lutut yang sedikit ketat namun di
padu dengan blazer panjang hingga dia tampak
semakin mempesona. Rambutnya di gulung
manis dengan polesan tipis di wajahnya yang
membuat dia semakin terlihat cantik jelita.
"Mari Nona..saya akan mengantar anda..!"
Dokter Rey sebagai dokter kepala di rumah sakit
ini langsung membimbing Kiran menuju ruang perawatan Aryella. Di ruangan atas itu memang
hanya ada 5 kamar VVIP yang biasanya di huni
oleh kalangan berdompet tebal saja. Akhirnya
Kiran sampai juga di dalam ruangan besar dan
mewah tersebut.
Nyonya Amelia langsung memeluk Kiran di
liputi kecemasan karena dia sudah mendengar
peristiwa tadi malam dari Tuan Zein yang saat
ini sedang berada di kantor nya. Dia juga bilang
sedang kedatangan tamu penting yang ingin
membicarakan hal serius menyangkut masa
depan Aryella dan anak yang di kandung nya.
"Kiran baik-baik saja Bu..tidak perlu cemas.."
Lirih Kiran seraya mencium lembut pipi ibunya
itu dengan tersenyum manis. Nyonya Amelia
mengusap air matanya seraya menatap wajah
Kiran meyakinkan diri bahwa putrinya itu benar
baik-baik saja. Kiran berpaling pada Aryella
lalu menghampirinya, keduanya saling melihat
dengan tatapan yang sama-sama kompleks.
"Siapa yang menyuruhmu untuk mendatangi
laki-laki brengsek itu..!"
Ketus Aryella sambil memalingkan wajahnya
berusaha menyembunyikan tekanan perasaan
yang kini seakan begitu membebaninya. Kiran mendekat, meraih tangan Aryella yang terpasang selang infus, lalu di pergelangan tangan kirinya
ada bekas luka yang kini sudah tertutup perban.
"Aryella.. laki-laki itu harus bertanggung jawab
atas semua yang terjadi padamu.! ini semua
hasil perbuatan nya..!"
"Tidak..! ini semua memang karena aku bodoh.
Ini murni kesalahanku.! "
"Aku tahu..tapi tetap saja laki-laki itupun harus
ikut menanggung semua ini..!"
"Aku bodoh..! aku tidak pernah mendengar apa
yang kau katakan..! semua ini adalah hukuman
untukku yang durhaka..!"
"Sudah cukup Aryella..tidak ada gunanya lagi
menyesali semuanya..!"
"Semuanya terjadi karena aku tidak pernah bisa melihatmu lebih baik dariku, aku merasa iri
dengan semua keberuntungan mu..!"
"Tidak Aryella..aku tahu bukan itu yang ada di
dalam hatimu, aku yakin kamu hanya salah
langkah saja, aku tahu kamu menyayangiku.!"
Kiran meraih tubuh Aryella kedalam dekapan
nya, memeluknya erat. Dan tiba-tiba saja Aryella
menangis tersedu dalam pelukan Kiran seraya
membalas pelukan kakaknya itu.
"Aku hanya iri padamu yang sempurna dalam
semua hal. Tapi aku juga sangat menyayangi
mu, aku tidak rela kalau kamu jatuh di pelukan
pria yang tidak sepadan dengan mu..!"
"Aryella...kamu tidak harus mengorbankan diri
sampai seperti ini..!"
"Semula Aku hanya ingin menjauhkan mu dari
laki-laki brengsek itu. Tapi aku malah jatuh
pada pesonanya dan terjerat terlalu dalam..!"
Kiran dan Aryella semakin larut dalam luapan
emosi dan kekesalan serta ganjalan hati yang
selama ini seolah menjadi tabir gelap di antara
hubungan persaudaraan keduanya.
Setelah beberapa lama....
Kiran duduk di kursi samping ranjang pasien
sedang menyuapi Aryella buah-buahan segar
yang tadi di kupas sendiri olehnya. Nyonya
Amelia berada tidak jauh dari mereka. Wajah
nya terlihat di penuhi kebahagiaan saat
melihat kedua bersaudara itu akur.
"Aku tidak bisa lama-lama di sini..! nanti malam
kami akan terbang ke negara xxx...!"
Aryella dan Nyonya Amelia saling pandang
terkejut, keduanya tampak khawatir.
"Apa kau akan di perkenalkan pada orang
tuanya Tuan Agra..?"
Tanya Aryella, Kiran mengangguk ragu. Dia
menatap keduanya bergantian.
"Sebenarnya aku sedikit ragu, mengingat kami
berbeda tempat dan aturan. Dan Aku tahu mereka tidak akan bisa menerimaku dengan mudah.!"
Aryella meraih tangan Kiran, menggengamnya
kuat, keduanya saling pandang.
"Aku yakin.. walaupun awalnya akan sedikit
sulit, namun pada akhirnya mereka akan bisa
menerimamu juga.."
Ucap Aryella meyakinkan. Kiran menarik napas
berat kemudian mengangguk.
"Iya..semoga saja..Aku hanya harus yakin pada
kekuatan cinta kami..!"
"Aku yakin Tuan Agra tidak akan membiarkan
hal buruk apapun terjadi padamu..dia sangat
mencintaimu. Kau adalah segalanya buat dia."
Kiran tersenyum sambil mengangguk, mereka
kembali berangkulan. Tidak lama setelah itu
Kiran berpamitan kepada kedua keluarganya
itu karena untuk beberapa waktu mereka tidak
akan bisa bertemu dulu, dan dia sendiri tidak
tahu apa yang akan di hadapinya nanti di sana
mengingat betapa tidak suka nya mertuanya
itu terhadap dirinya, entah karena apa..!
****** ******
TBC......