Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
55. Sebenarnya Sayang


 


************


 


Hari yang cerah untuk jiwa yang tenang...


Semerbak aroma wangi bunga segar menyebar


ke seluruh ruangan di dalam kamar tidur megah


yang berada di lantai 4 istana utama Hadiningrat.


Sinar mentari pagi mulai masuk melalui atap


ventilasi khusus yang jatuh tepat di atas tempat


tidur besar nan mewah hingga membiaskan


cahaya kemilau penuh kehangatan..


Cahaya mentari yang jatuh dari atap tersebut


menyinari langsung dua sosok terkasih yang


masih terlelap saling memeluk erat. Tubuh


mereka kini sama-sama polos, hanya tertutupi


selimut tebal nan halus. Kulit mereka saling


menempel satu sama lain. Dan aroma feromon


sisa bercinta menjelang pagi tadi masih tercium


dengan sangat kuat di atas tempat tidur.


Kiran menggeliat, membuka matanya perlahan.


Pandangan nya langsung jatuh pada sosok sang


suami gagah perkasa nya yang kini berada di


hadapannya, mengurung dirinya, melingkarkan


lengan kokohnya di pinggangnya, meraih kepala


nya untuk tetap berada dalam kekuasaannya.


Bibir Kiran tersenyum lembut, semburat merah


memenuhi kedua pipinya saat dia mengingat


bagaimana menggilanya Agra menikmati tubuh


nya hingga kini dia merasakan seluruh tulang


nya seakan luluh lantak.


"Aaww...sakit banget..!"


Lirih Kiran saat dia mencoba menggerakkan


badannya, terutama bagian bawah tubuhnya.


Agra memang terlalu perkasa, hingga selalu


saja menyisakan luka setiap sehabis bercinta.


Kiran mendumel sendiri atas penderitaan nya.


Tapi semua luka ini sangat sepadan dengan


kenikmatan yang di dapatkannya yang tidak


akan bisa di gantikan dengan apapun.!


Kiran menatap lekat wajah lelah Agra yang


malah terlihat semakin mempesona di saat


tertidur seperti ini.


"Semakin hari aku semakin mengagumi mu.


Entah sudah sedalam apakah cintaku saat ini.


Aku sudah tenggelam di dalamnya sayang.."


Gumam Kiran seraya mengelus lembut wajah


Agra menelusuri seluruh detail wajah teramat


tampan itu dan memandang nya tiada bosan.


Bibirnya tiada henti mengukir senyum semanis


madu penuh rasa syukur atas anugerah Tuhan


yang tak terhingga ini. Entah karma baik apa


yang telah di lakukannya di kehidupan masa


lampau hingga dia bisa mendapatkan suami


sesempurna Agra .


"Jangan terlalu larut dalam kekaguman mu


sayang..nanti kau bisa menjadi pemuja ku.."


Kiran terkejut mendengar ucapan Agra namun


yang dia lihat matanya masih saja terpejam.


"Aku memang memujamu..dan aku rasa tidak


ada yang salah dengan itu.."


"Aku hanyalah makhluk Tuhan..tidak semesti


nya kau berlebihan padaku.."


"Semua sesuai porsinya sayang..Tidak ada yang


melebihi batas kecintaan ku terhadap Tuhan.."


Agra membuka mata, keduanya saling pandang


lekat, mencoba untuk menyampaikan rasa lewat


pandangan mata yang sama-sama mendamba.


"Apa sekarang kau sudah siap bertemu kedua


orang tuaku?"


Deg !


Jantung Kiran serasa berhenti berdetak, riuk


wajahnya langsung berubah tegang sedikit


bimbang. Agra menarik kembali tubuh halus


lembut istrinya itu kedalam dekapannya.


"Jangan tegang begitu sayang.. apapun yang


terjadi aku akan selalu ada bersamamu.!"


Bisik Agra seraya menjilat halus daun telinga


Kiran yang menjauhkan dirinya.


"Bagaimana kalau mereka tidak bisa menerima


kehadiran ku di sisimu..? apa yang harus aku


lakukan.?"


Keduanya kembali saling pandang lekat. Bibir


Agra mengulas senyum tipis .


"Kau hanya perlu bertahan di sisiku, selalu


berada di dekat ku..!"


"Apakah mereka yang sudah merencanakan


perjodohanmu dengan Mikhayla.?"


Agra terdiam saat nama Mikhayla di sebut.


Raut wajah Kiran semakin terlihat tidak tenang.


"Sayang..apa kau sudah menerima perjodohan


itu ? apa kalian sudah menentukan tanggal.?"


Agra masih terdiam membuat Kiran tidak tahan.


Dia meraup wajah Agra, menatapnya kuat.


"Katakan padaku..apa kalian berdua berencana


untuk segera bertunangan lalu menikah.?"


"Apa yang akan terjadi kalau itu benar.?"


Wajah Kiran memucat, tidak ! itu tidak mungkin.


Kiran menggeleng kuat, menarik dirinya dari


pelukan Agra yang masih menatapnya kuat.


"Tidak.! kau tidak boleh melakukan ini padaku.


Aku sudah percaya sepenuhnya padamu..!"


Lirih Kiran dengan suara sedikit gemetar, dia


melepaskan dirinya dari rengkuhan Agra lalu


menyibak selimut, meraih kimono kemudian


berusaha memakainya hingga tangan Agra


menarik dan melemparnya jauh .


"Agra..apa yang kau lakukan..?"


Kiran mendelik kesal sambil beringsut ke tepi


tempat tidur. Namun dia memekik ketika Agra


meraih tubuh nya kemudian mengangkat nya


lalu berjalan masuk ke kamar mandi.


"Turunkan aku.. ternyata kau sama saja dengan


yang lainnya. Tidak tahan melihat wanita cantik


seperti Mikhayla..!"


Ketus Kiran sambil meronta tapi Agra mengunci


pinggang nya hingga dia tidak bisa lagi bergerak.


Tubuh polos mereka kini sudah berada di dalam


ruang shower. Agra masih menahan Kiran di


atas pangkuannya. Kaki Kiran melingkar kuat


di pinggang Agra, tangannya melilit di lehernya.


Keduanya saling pandang lekat. Agra menekan


tombol pengatur suhu dan air.


"Apa kau pikir aku laki-laki murahan sayang..?"


Bisik Agra sambil ******* lembut bibir ranum


Kiran yang masih sedikit bengkak akibat ulahnya


tadi pagi. Kiran memalingkan wajahnya kesal.


"Hei..aku sedang bicara padamu Kiran..!"


Tegur Agra dengan senyum tertahan nya, rasa


nya dia sudah tidak kuat lagi kalau harus terus


menjahili istrinya itu. Kiran kembali menatap


Agra dengan wajah di tekuk kesal.


"Kau sama saja dengan laki-laki lain..!"


"Tentu saja..! siapa yang tidak tertarik pada


wanita cantik..apalagi secantik..!"


"Iihh..kau ini benar-benar menyebalkan.!


turunkan aku sekarang..!"


"Tapi tidak semua wanita cantik semenarik


dirimu sayang..kau yang teristimewa..!"


"Dasar pembual..sudah turunkan aku..!"


Geram Kiran sambil memaksa turun dari atas


pangkuan Agra, namun kini yang terjadi malah


membuat dia tegang dengan wajah memerah.


Tubuh bagian bawah Agra saat ini sudah tegang


sempurna, langsung menyentuh bagian sensitif


tubuh Kiran yang kini merapat ke tubuh Agra


karena Agra menarik pinggangnya kuat.


"Aku tidak mungkin bisa menduakan mu Kiran.


Kalau mau, itu sudah lama aku lakukan..!"


Wajah Kiran semakin memerah, dia berusaha


menjauhkan dirinya dari rengkuhan Agra yang


semakin menekan bagian bawah tubuhnya ke


dalam bagian inti tubuh Kiran.


"Aakhh..Agra..jangan lagi..aku masih lelah..


aku juga masih sakit..aakhh..!"


"Kau harus bertanggung jawab karena sudah


membangunkan nya sayang...!"


"Tapi aku masih lelah sayang..ahhh..Agraa..."


Kiran menggeram sambil memukul pelan dada


Agra saat dia memaksa masuk hingga membuat


nya meringis memejamkan matanya. Air shower mengucur hangat menyirami tubuh mereka saat


Agra mulai mengerakkan tubuhnya. Bibirnya kini sudah berada di kedua bukit kembar Kiran yang


hanya bisa menengadahkan kepalanya sambil


mendesah lembut saat rasa nikmat itu kembali menjalari seluruh tubuhnya, membawa dirinya


terbang ke awan hingga membuat dia tidak


tahan lagi, mengerang nikmat dan melenguh


panjang saat Agra semakin intens melancarkan


aksi liarnya. Kiran menjerit kecil dan meremas


kuat rambut Agra yang berada di dadanya saat


laki-laki itu semakin menghentak gerakannya


lebih cepat dan liar. Gairah mereka semakin


lama semakin terbakar saat Kiran naik kembali


ke pangkuan Agra dan melilitkan kakinya di


pinggang suaminya. Mereka berdua kini larut


dalam olahraga air yang menguras tenaga.


------- ------


di dalam kamar dengan tiada henti memadu


kasih sampai tubuh Kiran lemas dan memucat.


Agra seakan tiada bosan terus saja menjamah


dan menggerayangi tubuh istrinya itu dengan


semua sentuhan lembut dan membuai nya.


Setelah sholat dzuhur akhirnya mereka turun


untuk makan siang karena waktu sarapan pagi


Pak Hans mengantarnya ke dalam kamar. Kini


keduanya sudah ada di meja makan minimalis


modern yang hanya ada dua kursi saja. Semua


sengaja di buat seperti itu oleh Agra. Dia tidak


ingin ada orang ketiga diantara mereka.


"Lain kali aku hanya akan makan masakanmu..!"


Keluh Agra seraya mulai menyuapi Kiran yang


menggeleng pelan menatap wajah Agra.


"Ayo makan atau kau mau aku melakukan hal


lain di sini.?"


Kiran mengerucutkan bibirnya sambil akhirnya


menerima suapan suaminya itu. Namun tidak


lama gantian dia yang menyuapi Agra. Tata


dan para pelayan yang ada di sana hanya bisa


menunduk di penuhi rasa tidak percaya akan


sikap posesif Tuan Muda nya yang terlihat


begitu berlebih kepada istrinya. Dalam hati


mereka rasa iri itu tentu saja ada, bagaimana


Kiran bisa seberuntung ini dalam hidupnya.


"Sayang..aku akan ke rumah sakit dulu melihat


keadaan Aryella sebelum nanti kita pergi.."


Kiran berucap seraya menyuapkan salad buah


ke mulut Agra setelah mereka selesai makan


menu utama. Agra yang sedang memainkan


ponselnya melirik kearah Kiran.


"Jangan terlalu lama di sana..Kau juga harus


pergi bersama dengan Zack..!"


"Baiklah Tuan ku.. apapun perintah mu akan


aku patuhi sekarang.."


Cup !


Agra mendaratkan ciuman lembut di bibir Kiran


yang sontak memundurkan wajahnya, melirik


malu kearah Tata dan para pelayan.


"Aku akan ke kantor sekarang untuk mengurus


semuanya agar tidak ada masalah selama kita


pergi..!"


Agra meminum air putih setelah itu mengusap


bibirnya dengan serbet putih. Kiran melakukan


hal yang sama. Lalu keduanya berjalan saling


bergandengan tangan keluar dari ruang makan


dan berpisah di halaman dengan pergi kearah


masing-masing. Kiran pergi ke rumah sakit


untuk memastikan keadaan Aryella saat ini.


Tiba di sana lagi-lagi suasana di dalam lobby


rumah sakit langsung sibuk dan gaduh melihat


kedatangan Nona Muda Hadiningrat. Semua


dokter, perawat dan staf rumah sakit terlihat


berbaris rapi menyambut kehadiran Nyonya


Bimantara Agra Bintang tersebut.


"Selamat siang Nona Muda..!"


Serempak mereka seraya membungkukan


badannya membuat Kiran membalasnya


dengan membungkuk sedikit. Zack berdiri


tegak di belakangnya mengawasi setiap


pergerakan yang ada di sekitar Nona nya itu.


"Terimakasih semua atas sambutannya..lain


kali kalian tidak perlu melakukan semua ini.!"


Sambut Kiran dengan melempar senyum manis


kearah para pengabdi tersebut. Semua orang


tampak terpukau melihat penampilan Kiran saat


ini. Hari ini Kiran tampak memukau dengan dress cantik diatas lutut yang sedikit ketat namun di


padu dengan blazer panjang hingga dia tampak


semakin mempesona. Rambutnya di gulung


manis dengan polesan tipis di wajahnya yang


membuat dia semakin terlihat cantik jelita.


"Mari Nona..saya akan mengantar anda..!"


Dokter Rey sebagai dokter kepala di rumah sakit


ini langsung membimbing Kiran menuju ruang perawatan Aryella. Di ruangan atas itu memang


hanya ada 5 kamar VVIP yang biasanya di huni


oleh kalangan berdompet tebal saja. Akhirnya


Kiran sampai juga di dalam ruangan besar dan


mewah tersebut.


Nyonya Amelia langsung memeluk Kiran di


liputi kecemasan karena dia sudah mendengar


peristiwa tadi malam dari Tuan Zein yang saat


ini sedang berada di kantor nya. Dia juga bilang


sedang kedatangan tamu penting yang ingin


membicarakan hal serius menyangkut masa


depan Aryella dan anak yang di kandung nya.


"Kiran baik-baik saja Bu..tidak perlu cemas.."


Lirih Kiran seraya mencium lembut pipi ibunya


itu dengan tersenyum manis. Nyonya Amelia


mengusap air matanya seraya menatap wajah


Kiran meyakinkan diri bahwa putrinya itu benar


baik-baik saja. Kiran berpaling pada Aryella


lalu menghampirinya, keduanya saling melihat


dengan tatapan yang sama-sama kompleks.


"Siapa yang menyuruhmu untuk mendatangi


laki-laki brengsek itu..!"


Ketus Aryella sambil memalingkan wajahnya


berusaha menyembunyikan tekanan perasaan


yang kini seakan begitu membebaninya. Kiran mendekat, meraih tangan Aryella yang terpasang selang infus, lalu di pergelangan tangan kirinya


ada bekas luka yang kini sudah tertutup perban.


"Aryella.. laki-laki itu harus bertanggung jawab


atas semua yang terjadi padamu.! ini semua


hasil perbuatan nya..!"


"Tidak..! ini semua memang karena aku bodoh.


Ini murni kesalahanku.! "


"Aku tahu..tapi tetap saja laki-laki itupun harus


ikut menanggung semua ini..!"


"Aku bodoh..! aku tidak pernah mendengar apa


yang kau katakan..! semua ini adalah hukuman


untukku yang durhaka..!"


"Sudah cukup Aryella..tidak ada gunanya lagi


menyesali semuanya..!"


"Semuanya terjadi karena aku tidak pernah bisa melihatmu lebih baik dariku, aku merasa iri


dengan semua keberuntungan mu..!"


"Tidak Aryella..aku tahu bukan itu yang ada di


dalam hatimu, aku yakin kamu hanya salah


langkah saja, aku tahu kamu menyayangiku.!"


Kiran meraih tubuh Aryella kedalam dekapan


nya, memeluknya erat. Dan tiba-tiba saja Aryella


menangis tersedu dalam pelukan Kiran seraya


membalas pelukan kakaknya itu.


"Aku hanya iri padamu yang sempurna dalam


semua hal. Tapi aku juga sangat menyayangi


mu, aku tidak rela kalau kamu jatuh di pelukan


pria yang tidak sepadan dengan mu..!"


"Aryella...kamu tidak harus mengorbankan diri


sampai seperti ini..!"


"Semula Aku hanya ingin menjauhkan mu dari


laki-laki brengsek itu. Tapi aku malah jatuh


pada pesonanya dan terjerat terlalu dalam..!"


Kiran dan Aryella semakin larut dalam luapan


emosi dan kekesalan serta ganjalan hati yang


selama ini seolah menjadi tabir gelap di antara


hubungan persaudaraan keduanya.


Setelah beberapa lama....


Kiran duduk di kursi samping ranjang pasien


sedang menyuapi Aryella buah-buahan segar


yang tadi di kupas sendiri olehnya. Nyonya


Amelia berada tidak jauh dari mereka. Wajah


nya terlihat di penuhi kebahagiaan saat


melihat kedua bersaudara itu akur.


"Aku tidak bisa lama-lama di sini..! nanti malam


kami akan terbang ke negara xxx...!"


Aryella dan Nyonya Amelia saling pandang


terkejut, keduanya tampak khawatir.


"Apa kau akan di perkenalkan pada orang


tuanya Tuan Agra..?"


Tanya Aryella, Kiran mengangguk ragu. Dia


menatap keduanya bergantian.


"Sebenarnya aku sedikit ragu, mengingat kami


berbeda tempat dan aturan. Dan Aku tahu mereka tidak akan bisa menerimaku dengan mudah.!"


Aryella meraih tangan Kiran, menggengamnya


kuat, keduanya saling pandang.


"Aku yakin.. walaupun awalnya akan sedikit


sulit, namun pada akhirnya mereka akan bisa


menerimamu juga.."


Ucap Aryella meyakinkan. Kiran menarik napas


berat kemudian mengangguk.


"Iya..semoga saja..Aku hanya harus yakin pada


kekuatan cinta kami..!"


"Aku yakin Tuan Agra tidak akan membiarkan


hal buruk apapun terjadi padamu..dia sangat


mencintaimu. Kau adalah segalanya buat dia."


Kiran tersenyum sambil mengangguk, mereka


kembali berangkulan. Tidak lama setelah itu


Kiran berpamitan kepada kedua keluarganya


itu karena untuk beberapa waktu mereka tidak


akan bisa bertemu dulu, dan dia sendiri tidak


tahu apa yang akan di hadapinya nanti di sana


mengingat betapa tidak suka nya mertuanya


itu terhadap dirinya, entah karena apa..!


****** ******


TBC......