Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
10. Pondok Sewon


 


********


 


Mobil mulai menyusuri jalanan masuk ke dalam


kawasan perkebunan Grandnindia. Perkebunan


milik Tuan Zein yang luasnya hampir 20% dari


luas keseluruhan wilayah perkebunan yang ada


di daerah itu dan itu sangatlah luas. Butuh 2 hari


dua malam kalau mau mengelilingi seluruh


wilayah perkebunan ini.


Semua area perkebunan nya terdiri dari 4


wilayah bagian sebagaimana arah mata angin.


Ada Utara, selatan, timur dan barat. Dan yang


menjadi pusat perkebunan ini adalah wilayah


utara, berisi perkebunan kayu Agarwood juga


Eboni. Dan dua jenis kayu ini merupakan aset


yang sangat penting karena yang paling banyak


di buru serta di curi oleh para pembajak liar.


Siang malam anak buah Badar selalu berpatroli


untuk menjaga keamanan kawasan dari bahaya


pencurian yang biasanya semakin rawan di masa


menjelang panen seperti ini yang terjadi dalam


rentang waktu antara 6 sampai 8 tahun.


Kiran meringis melihat jalanan yang dilalui


berupa lumpur tebal. Sepertinya dirinya salah


kostum kali ini, bagaimana dia bisa berjalan


di tanah berlumpur seperti itu.


Agra sengaja membawa Kiran untuk berkeliling


terlebih dahulu ke seluruh wilayah Utara. Mobil


akhirnya berhenti di sebuah tempat di bawah


gegapnya pepohonan tinggi yang sangat subur.


"Kita sudah sampai Nona.."


Ucap Agra sambil membuka pintu untuk Kiran.


Gadis itu terlihat takjub melihat bagaimana


subur nya pepohonan berharga mahal itu.Tapi


memang mendekati masa panen ini daunnya


sudah mulai gugur tidak serindang biasanya.


Tidak sabar menuggu akhirnya Agra mengangkat


tubuh gadis itu untuk turun dari dalam mobil.


"Aku bisa sendiri.! main angkat seenaknya saja.!"


Protes Kiran sambil mendorong dada Agra yang


terlihat acuh melangkah pergi.


"Hei.. tunggu..!"


Kiran berseru mengejar Agra dengan sedikit


berjingjit karena jalanan becek yang harus di


laluinya. Ohh shit.! semakin Kiran berjalan jauh


ternyata tanah semakin becek dan berlumpur.


"Agraa..aku tidak bisa jalan..!"


Seru Kiran kesal karena pengawalnya itu terlihat


mengacuhkan dirinya, ada beberapa penjaga


perkebunan yang berlari menghampiri Agra dan


membungkuk di hadapannya.


Kiran menatap emosi kearah Agra yang terkesan


sengaja membiarkan dirinya kesulitan. Kini dia


terperangkap di dalam lumpur.


"Ohh Tuhan..kenapa bisa begini sih..!"


Gerutu Kiran masih mencoba melangkah tapi


kakinya sudah terkubur, sepatu boots nya entah


sudah tenggelam sedalam apa.


"Agraa.. bantu akuu..!"


Teriak Kiran tidak tahan lagi, dia juga mulai


paranoid terhadap binatang-binatang liar yang


bisa saja tiba-tiba nongol dan menyerangnya.


Agra menoleh kearahnya, menatapnya sedikit


geli melihat gadis itu terjebak di lumpur.


Para penjaga yang ada di sana tampak melongo melihat keberadaan Kiran di tempat itu. Mereka


baru menyadari nya karena posisi Kiran yang


cukup jauh tertinggal dari Agra.


Apakah dia Nona Kiran yang di ceritakan oleh


Badar.? Ataukah bidadari yang kesasar.?


Otak para penjaga berputar cepat menerka-


nerka masih menatap terkesima kearah Kiran.


"Turunkan pandangan Kalian.!"


Ancam Agra sambil membagi tatapan mematikan


pada para penjaga itu yang langsung menunduk


dalam tidak berani mengangkat muka lagi.


"Sekarang kembali ke posisi kalian.! laporkan


kalau ada sesuatu yang mencurigakan.!"


Titah Agra dengan suara tegasnya.


"Baik Tuan, kami permisi.!"


Serempak para penjaga sambil kemudian pergi


dari hadapan Agra sambil mencuri pandang


kearah keberadaan Kiran.


"Agraa..cepat tolong aku..aku takut ada ular


atau binatang buas lainnya.!"


Teriak Kiran mulai kehabisan kesabaran karena


rasa takut sudah menguasai dirinya. Pria itu


berjalan kearahnya. Setelah berdiri di hadapan


Kiran dia malah menatap diam kearah kaki


Kiran yang terbenam lalu menghembuskan


napasnya perlahan.


"Anda lihat sekarang kan Nona, apakah cara


berpakaian mu sudah benar atau belum !"


Decak Agra sedikit kesal, karuan saja emosi


Kiran semakin berkobar. Dia menatap tajam


wajah Agra yang terlihat benar-benar tidak


peduli pada kesulitan nya itu.!


"Apa kau hanya akan mengomeli aku terus.?


Mana aku tahu keadaanya akan se ekstrim ini.!"


Keluh Kiran sambil mengulurkan tangannya


meraih tangan Agra, peduli amat harga diri


yang penting dia bisa keluar dari lumpur


sialan ini ! omel Kiran dalam hati.


"Kenapa tidak di lepaskan saja sepatunya ?"


Saran Agra dengan wajah datarnya. Kiran


mendelik kesal kearah Agra dia semakin


kuat memegang tangan Agra yang terlihat


menahan diri dengan berpaling muka.


"Kakiku bisa kotor nanti..!"


"Itu sudah resiko Nona, kalau anda berani


datang ke tempat ini, maka harus berani


mengambil semua konsekuensinya.!"


Tegas Agra acuh. Kekesalan Kiran kini sudah


memuncak. Dia melepaskan kakinya dari dalam


sepatu boots nya yang tenggelam.


"Owhh.. bagaimana ini..!"


Kiran meringis ragu-ragu saat kakinya akan


mulai menapak di lumpur, Agra menatap nya


geli dengan menahan tawa yang seakan ingin meledak.


Sebelum kaki Kiran menginjak lumpur Agra


menyambar tubuh gadis itu mengangkatnya


ke dalam pangkuannya.Kiran memekik kaget


sesaat, dia melingkarkan tangannya di leher


pria itu.Tangan kanan Agra segera mencopot


sepatu dari kaki Kiran dan melemparnya asal.


"Hei.. kenapa di buang.?"


Pekik Kiran dipenuhi rasa tidak terima.


"Bukankah itu sudah tidak berguna lagi.!"


Sahut Agra sambil berjalan acuh kearah mobil.


Kiran menatap kesal wajah Agra yang kini ada di


hadapannya.


"Lalu aku pakai apa nanti, kenapa kamu selalu


seenaknya saja !"


"Anda bisa belajar bertelanjang kaki mulai


sekarang Nona, di sini semua lingkungan nya


berupa tanah, maka biasakan lah.!"


Debat Agra dengan entengnya. Kiran mendengus


kesal saat dia sudah mulai duduk di dalam mobil.


Agra bergerak mengambil botol air mineral besar


yang ada di jok belakang. Kemudian dia meraih


kedua kaki Kiran yang langsung terkejut dan


menjauhkan kakinya dari jangkauan Agra.


"Kamu mau apa, hei.. lepas.! apa yang akan


kamu lakukan.!"


Seru Kiran saat Agra kembali menarik kakinya


kearah luar mobil. Mata Kiran membulat tak


percaya saat melihat laki-laki itu membasuh


pergelangan kakinya yang kotor terkena lumpur.


Darah Kiran berdesir hebat, dia menatap tidak


percaya pada pria yang sedang menunduk


mencuci kedua kakinya itu dengan telaten.


Pria urakan yang sangat berantakan itu kini


menjatuhkan harga dirinya dengan membasuh


Apa ini ya Tuhan..siapa sebenarnya pria ini.?


Apakah Engkau sengaja mengirimnya untuk


mendampingi dirinya.? ataukah ini semua


hanya sekedar intermezo sesaat saja.!


Agra mengangkat wajahnya, ada butiran keringat


di pelipis nya, mereka berdua saling pandang


kuat. Jantung Kiran berdetak kencang seolah


sedang bertalu hebat. Tidak salah lagi pria yang


menjadi suaminya ini memang memiliki rupa


yang sangat sempurna.Tapi sepertinya dengan


sengaja dia menyembunyikan nya dari dunia.


Setelah selesai mencuci kaki Kiran Agra meraih sesuatu di jok belakang membuat tubuh Kiran bergeser menjauh. Tidak lama kemudian pria


itu kembali meraih kedua kaki Kiran yang kali


ini terdiam seperti tersihir oleh semua perlakuan


Agra yang sangat tidak terduga itu.


Perlahan pria itu mengusap lembut kaki Kiran


yang masih sedikit basah, tubuh Kiran semakin


panas dingin saat kulit nya bersentuhan dengan


tangan pria itu, darahnya seakan bergejolak.


Entah darimana datangnya, tiba-tiba saja Agra memakaikan sepasang sepatu boots yang


berukuran tinggi hingga bisa menutup setengah betisnya.


"Terimakasih.. seharusnya kamu tidak perlu


repot seperti ini, aku bisa melakukan nya


sendiri.!"


Lirih Kiran sambil menundukkan kepalanya.


Agra hanya menatap datar wajah Kiran sambil


kemudian menarik napas pelan lalu memutar badannya berjalan masuk ke balik kemudi.


Kiran benar-benar dibuat tidak percaya dengan


apa yang di lihatnya saat ini. Darimana pria ini


mendapatkan sepatu ini, bahkan dengan ukuran


yang sangat pas di kakinya. Atau jangan-jangan


itu milik kekasihnya, bisa saja kan.?


Mobil mulai melaju kembali meninggalkan area


perkebunan menuju ke kantor pusat.


----- -----


Akhirnya mobil menyusuri jalanan yang cukup


bagus dengan pemandangan yang berbeda.


Ada beberapa pos penjaga yang di lewati dan


ketika melihat kedatangan Agra orang-orang


yang ada di pos itu tampak membungkuk


hormat ke arahnya. Namun ada reaksi aneh


dari Agra ketika dia mencoba berbicara


dengan para penjaga itu.


Mobil berhenti di halaman depan sebuah


bangunan rumah seperti villla hanya saja


ukurannya lebih memanjang. Ada tulisan


Pondok Sewon di gerbang depan. Dan inilah


kantor pusat perkebunan Grandnindia.


"Masuklah bersama Badar.. Aku masih ada


urusan yang harus di selesaikan.!"


Titah Agra tanpa menoleh kearah Kiran, dan


gadis itu hanya melirik sekilas kearah nya.


Kiran turun dari mobil dengan wajah berbinar.


Waktu kecil dia juga pernah datang ke tempat


ini bersama ayahnya.


"Mari Nona..selamat datang di pondok."


Sambut Badar sambil membungkuk saat Kiran


tiba di dalam pondok. Lintang juga terlihat ikut


menyambutnya dengan menunduk sedikit.


Ada 3 orang pegawai wanita lainnya yang


memilki tugas untuk mengurusi pondok ini


juga menyiapkan makanan bagi seluruh


pegawai perkebunan.


Badar segera membimbing Kiran untuk masuk


ke dalam ruangan kantornya di bagian depan.


"Ini ruangan kerja anda Nona bersama dengan


Tuan Agra.."


Jelas Badar, Kiran tampak memperhatikan


seluruh isi ruangan yang sederhana itu. Hanya


ada dua meja kerja serta satu set sofa untuk


duduk dan beristirahat.


"Baiklah..ini cukup kok Om."


Ucap Kiran sambil melihat kearah luar jendela


yang bisa dengan jelas mengamati keadaan


di sekitar pondok.


"Mari saya antar ke kamar tempat istirahat."


Ucap Badar kemudian, keduanya kembali berjalan


menyusuri ruangan lain sampai tiba di area bagian


belakang pondok. Di sana ada tiga kamar pribadi


yang salah satunya di persiapkan untuk tempat


Kiran beristirahat ataupun menginap kalau mau.


Dan di mulai lah hari pertama Kiran di tempat


ini. Dia memulainya dengan memeriksa semua


pemberkasan selama 7 tahun terakhir ini.


Sampai Dzuhur menjelang Kiran masih tampak


sibuk dengan semua urusannya. Sementara


Agra, entah kemana perginya laki-laki itu.


Yang jelas setelah tadi Kiran turun dari mobil


pria itu langsung pergi bersama dengan Bara


dan beberapa orang staf perkebunan.


Kiran baru saja selesai sholat Dzuhur saat dia


mendengar suara ribut-ribut dari arah dapur.


Hati Kiran tiba-tiba saja tidak nyaman, ada


kegelisahan yang kini di rasakannya.


Dimana Agra?


"Ada apa ini ribut-ribut mbak.?"


Tiga orang wanita setengah baya itu tampak


terkejut saat melihat kemunculan Kiran di


ambang pintu. Mereka langsung mendekat


dan menunduk di hadapan Kiran.


"Ti-tidak..ada apa-apa kok Non.."


"Jangan bohong..coba katakan yang sebenarnya


pada saya, apa ada masalah serius.?"


Kiran menatap tajam wajah ibu-ibu itu.


"Nona.. ikut saya ke ruangan.!"


Ada suara Badar di belakang membuat Kiran


memutar badannya, wajah Badar tampak sedikit


tidak nyaman, tidak berani menatap Kiran.


Kiran menatap Badar sebentar kemudian


melangkah menuju ke ruang kerjanya di


ikuti pria bertubuh tinggi besar itu.


"Ada apa Om Badar ? apa ada masalah serius.?"


Badar masih terdiam sedikit ragu untuk berbicara.


Kiran semakin tidak sabar sekaligus penasaran.


"Apa Om tidak akan berbicara.?"


"Begini Nona..semalam terjadi pembalakan liar


di wilayah timur, wilayah Cendana..!"


"Apa.? kenapa bisa ? bukankah kalian sudah


menempatkan penjaga di setiap wilayah.?"


"Benar Nona, tapi sepertinya kali ini para


pembajak sudah mempersenjatai diri dengan


lebih siap dan lengkap.!"


"Lalu apa yang terjadi.?"


"Semua penjaga di wilayah timur terluka Nona.


Dan beberapa pohon kita berhasil mereka ambil."


"Apa ? mereka semua terluka.? lalu bagaimana


sekarang kondisi mereka.?"


Kiran tampak terkejut bukan main.


"Mereka sudah di tangani, sekarang sudah ada


di puskesmas.!"


"Apa kalian telat menanganinya.?"


"Kami baru menemukan mereka saat patroli


tadi pagi. Maafkan kami Nona.."


Ucap Badar sambil menunduk dalam dengan


wajah penuh rasa bersalah. Tubuh Kiran lemas,


dia menjatuhkan dirinya diatas sofa. Ada apa


ini, baru di hari pertama kerja dirinya sudah di


hadapkan pada masalah serius yang selama


ini menjadi kendala terberat di perkebunan ini.


"Agra ada dimana sekarang.?"


Tiba-tiba Kiran resah saat teringat pada pria


itu yang belum di lihatnya lagi dari tadi.


"Dia sedang menyisir lokasi kejadian Nona.".


Perasaan Kiran semakin gelisah, ada rasa


cemas yang kini di rasakannya mengingat


entah bagaimana kondisi wilayah tersebut


dan sekarang Agra sedang ada di tempat itu.


 


***********


 


TBC.....