Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
36. Datang Malam-Malam


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Kiran berkemas, membereskan semua barang


yang akan di bawanya pulang. Laptop, tablet


dan beberapa berkas penting lainnya.


Tadi sore Agra berpamitan padanya untuk


pergi ke suatu tempat. Dia tidak mengatakan


secara jelas mau pergi kemana. Yang Kiran tahu


Agra memang selalu datang dan pergi seenak


nya. Dia juga tidak ingin mencari tahu apa saja


yang di lakukan oleh suaminya itu di luar sana.


Kiran melirik ponselnya yang ada di atas meja


saat benda pipih canggih itu tiba-tiba bergetar. Bibirnya langsung tersenyum cerah dengan


wajah bersemu merah saat melihat nama


'suami dadakan' tertera di layar ponselnya.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam..apa kau sudah bersiap


untuk pulang.?"


"Iya aku sedang berkemas sekarang, kamu


ada dimana ?"


"Aku masih ada urusan saat ini, jadi tidak bisa


datang menjemputmu."


Wajah Kiran yang tadi cerah kini berubah


mendung.Dia menjatuhkan dirinya di atas sofa.


"Memangnya kamu ada dimana.? jadi aku


harus pulang sendiri?"


"Aku sudah menyuruh Zack untuk menjemput


mu, sekarang dia sudah ada di parkiran."


"Zack..? dia ada di sini juga.?"


"Iya.. sekarang dia sudah ada di bawah, turun


lah kau akan aman bersamanya.!"


"Memangnya kamu ada urusan apa ?"


"Aku harus membereskan semua hal yang


bisa menjadi penghalang untuk kebersamaan


kita ke depan.!"


"Apa maksudmu.? Agra..aku minta jangan


melakukan sesuatu yang akan merugikan diri


sendiri, aku tidak mau terjadi apa-apa padamu."


"Kelihatan nya kau sangat mencemaskan aku..


kenapa tidak terus terang saja kalau kau sudah


jatuh cinta pada suamimu ini Nona.."


Wajah Kiran kembali memerah, dia menggigit


bibirnya menahan serbuan perasaan aneh yang


membuat jantungnya seakan mau meloncat.


"Aku memang mencemaskan mu..karena kamu


selalu melakukan tindakan tidak terduga.! aku


minta jangan bertindak bodoh.!"


Agra terkekeh pelan membuat Kiran berdecak


kesal sambil mengerucutkan bibirnya.


"Aku tidak akan berbuat sesuatu yang salah.


Pulanglah ke rumah yang kemarin..aku akan


segera menyusulmu..!"


"Aku tidak akan kembali ke sana sekarang.!


banyak pekerjaan yang harus aku bereskan


malam ini..!"


Tidak ada tanggapan dari Agra, tampaknya


dia tidak setuju dengan keputusan Kiran.


"Agra..apa kau mendengarkan aku.?"


"Jadi kamu tidak akan kembali ke rumah itu.?


Kau tidak berniat mengambil kembali barang


mu itu, benda itu tidak penting lagi bagimu.?"


"Agra..! kenapa kau bicara begitu.? benda itu


tidak ada hubungannya denganmu.? kenapa


kamu jadi berlebihan begini.?"


Kembali hening, tidak ada tanggapan. Kiran


menarik napas perlahan.


"Benda itu sangat berharga bagiku. Itu adalah


sebuah benda kenangan untukku.! "


Lirih Kiran dengan suara pelan karena memory


nya saat ini seakan kembali ke masa lalu.


"Lalu kenapa kamu tidak kembali ke rumah


itu sekarang ?"


"Agra..besok baru kita kembali kesana, lagipula


aku harus membawa pakaian ganti !"


"Itu tidak di perlukan Kiran.!"


Ketus Agra yang membuat Kiran terdiam heran.


"Itu rumah orang Agra..Kita tidak bisa seenak


nya saja berbuat sesuatu hal !"


"Baiklah..! terserah kau saja Nona.!"


"Agra.. dengarkan aku dulu..!"


Tut Tut Tut !


Sambungan telepon sudah terputus. Kiran


hanya bisa menghembuskan napas kasar


mendapati kenyataan suaminya itu merajuk.


Lagian kenapa juga Agra seolah memaksa


dirinya untuk kembali ke rumah itu !


Kiran segera menyampirkan tas kecil di bahu


dan menenteng tas laptop di tangan.


"Mari saya bawakan Bu..!"


Lia yang tiba-tiba saja sudah ada di dalam


ruangan langsung mengulurkan tangannya.


Kiran tersenyum lembut menyerahkan tas


tersebut ke tangan Lia. Keduanya akhirnya


keluar dari ruangan untuk turun menuju ke


parkiran. Suasana sudah sangat sepi karena


memang karyawan yang lain sudah pulang


sedari sore tadi.


"Selamat malam Nona.. saya di perintahkan


Tuan untuk menjemput anda.!"


Sambut Zack seraya menunduk hormat.


"Selamat malam Zack.. senang melihatmu


kembali di tempat ini.!"


Sahut Kiran seraya masuk ke dalam mobil


yang cukup mewah dan nyaman. Alisnya


sedikit terangkat, darimana Agra bisa selalu


menyiapkan kendaraan-kendaraan mewah


ini. Sungguh ini sesuatu yang menimbulkan


tanda tanya besar dalam hatinya.


Siapa sebenarnya kamu suamiku..


Lirih Kiran dalam hatinya saat mobil yang di


bawa oleh Zack mulai melaju meninggalkan


area gedung perusahaan ZM Company.


------ ------


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam


saat Kiran baru saja selesai membersihkan


diri dan menjalankan kewajiban nya.


"Nona Kiran..susu jahe nya mau di taruh


dimana?"


Tanya seorang pelayan setengah baya yang


baru saja masuk ke dalam kamar. Pelayan itu


merupakan pengasuh Kiran dari kecil dan sangat


menyayangi Nona nya itu yang memang sudah


sangat berbeda sedari kecil. Cantik, lincah, baik


serta ramah dan santun terhadap semua orang


termasuk para pelayan yang ada di rumah ini.


Kamar Kiran berukuran cukup luas, namun


kalau di bandingkan dengan kamar pribadi


Agra mungkin hanya seukuran kamar


mandinya saja.


"Di balkon saja mbak, sekalian cari angin."


Sambut Kiran dengan senyum lembutnya.


Pelayan tadi langsung beranjak ke balkon


menyimpan segelas susu jahe merah kesukaan


Kiran yang selalu di buatkan olehnya dan


spesial hanya untuk Nona kesayangan nya itu.


"Terimakasih ya mbak.."


"Sama-sama Nona, apa ada lagi yang Nona


inginkan, mbak akan segera membuatkan


nya spesial untuk Nona.."


"Sudah cukup kok mbak..aku sedang tidak


berselera untuk makan. sekali lagi terimakasih."


Sahut Kiran merasa tersanjung. Pelayan itu


tersenyum lalu mengangguk sedikit.


"Baiklah kalau begitu mbak permisi ya Non.."


"Baiklah.. selamat malam mbak Siti.."


"Selamat malam Nona yang cantik.."


Sahut pelayan tadi membuat Kiran kembali


tersenyum manis. Mbak Siti berlalu keluar kamar


sementara Kiran beranjak mengambil laptop di


atas meja kerjanya kemudian melangkah ke


balkon untuk menikmati susu jahe nya sambil mengecek kembali semua sisa pekerjaannya.


Kiran mulai menyeruput teh jahe nya seraya


mengamati laporan yang masuk.


Byurrr..!


Dia menyemburkan minuman dari mulutnya


dengan mata terbelalak sempurna. Apa ini.?


ada laporan tentang aliran dana besar yang


masuk ke rekening perusahaan nya.?


Kiran mencoba mengeceknya kembali untuk


meyakinkan diri. Wajahnya terlihat memucat


saat menyadari tidak ada kekeliruan di sana.


"Bintang Group..? kenapa perusahaan besar


itu tiba-tiba melibatkan diri dalam kekacauan


ini.? apa ayah sudah melakukan sesuatu.?"


Gumam Kiran masih belum mempercayai apa


yang di lihatnya. Dalam kekalutannya ponsel


nya kini bergetar dan nama sang ayah tertera


di sana, tepat seperti keinginannya.!


"Assalamualaikum ayah..bagaimana kabar


ayah hari ini.?"


"Waalaikumsalam..kabar ayah baik Nak, jauh


lebih baik dari kemarin.."


Sahut Tuan Zein di sebrang sana dengan nada


suara yang cukup membuat Kiran tenang.


"Apa yang ayah lakukan ? keadaan ayah sedang


sakit, tapi masih melakukan semua ikhtiar ini.!"


Serbu Kiran langsung pada intinya. Hening


sesaat, Kiran memejamkan matanya.


"Ada seseorang yang telah bersedia membantu


kita keluar dari semua masalah ini .Dia datang


sendiri menawarkan bantuan nya. Dan kita tidak


punya pilihan yang lebih baik selain ini."


"Tapi perusahaan kita sekarang akan ada di


bawah komando nya Yah, bukankah selama


ini Ayah tidak pernah mau bergabung dengan


perusahan Corporation manapun.!"


"Ini lebih baik Nak, daripada ayah akan terus


merasa bersalah karena telah mengorbankan


dirimu.! "


Kiran terdiam, semakin memejamkan mata


mencoba menahan serbuan air mata yang


kini memaksanya ingin keluar.


"Besok perwakilan Bintang Group akan datang


ke kantor untuk melakukan nota kerjasama.


Ayah sudah memberi kuasa penuh padamu


untuk menangani semuanya.!"


"Apa pihak Nathan akan datang juga.?"


"Tentu karena secara tidak langsung semua


ini berhubungan dengan mereka. Besok kita


akan menyelesaikan semua ini, sekarang kau


bisa tenang menjalani pernikahan mu.!"


"Ayah.. terimakasih banyak.."


Cairan bening itu luruh dengan derasnya.


Dia seakan menemukan satu kekuatan baru


untuk menjalani harinya ke depan, bersama


Agra tentunya. Percakapan ayah dan anak


itu berakhir. Dengan menguasap lembut air


matanya Kiran kembali meneruskan apa yang


tadi sedang di kerjakan nya. Dia juga mengirim


email kepada Lia untuk merevisi jadwal nya


esok hari. Semua nya akan berubah mulai


besok, Kiran akan fokus untuk membangun


perusahaan ini kearah yang lebih baik sebelum


ayahnya kembali bertugas.


Semilir angin malam semakin membawa hawa


dingin yang kini mulai menusuk kulit membuat


Kiran sedikit menggigil dan menguap, tapi dia


tidak jua beranjak dari balkon karena masih ada


hal yang harus di selesaikan nya. Tapi matanya


kini sudah mulai sedikit rapat. Kiran merebahkan


kepalanya di atas meja kecil berniat untuk sedikit


menghilangkan penat yang di rasakannya.


Sementara itu di ruang depan rumah, saat ini


beberapa pelayan sedang membeku di tempat


dengan mata yang terkesima maksimal melihat


kedatangan seorang tamu yang begitu memukau.


Tamu tersebut adalah seorang pria tinggi tegap, berparas teramat tampan, mengenakkan setelan


resmi yang terlihat sangat mahal dengan ukuran


yang sangat pas seakan di jahit khusus untuk


membalut tubuh gagahnya yang tampak begitu


menyilaukan mata.


"Saya suaminya Kiran..tolong tunjukan dimana


kamarnya.!"


Ucap tamu tersebut yang ternyata adalah Agra.


Dia mengamati sekeliling ruangan.


"Ma-maaf Tuan..anda suaminya Nona Kiran..?"


Mbak Siti segera sadar dari keterpesonaan


nya. Dia bertanya untuk meyakinkan diri.


"Benar.. buktinya ada di tangan asistenku.!"


Semua pelayan melirik kearah Bara yang


berdiri di belakang Agra bersama dengan


beberapa pengawal yang mampu membuat


lutut semua pelayan gemetar saat melihat


tampang dinginnya.


"Sekarang tunjukan dimana kamar Kiran.!"


Agra tampak tidak sabar lagi.


"Mari saya antar Tuan.."


Mbak Siti membungkuk sambil membimbing


Agra melangkah masuk ke ruang tengah lalu


naik ke lantai atas menuju kamar Kiran.


Agra kini sudah ada di balkon, menatap wajah


Kiran yang sedang terlelap dengan kepala yang


bersandar di meja. Luka di pelipis nya masih


sedikit meninggalkan bekas kemerahan. Agra


berjongkok di hadapan Kiran, memandang


wajah cantik alami istrinya itu seolah tiada


bosan, semakin lama memandangnya hatinya


semakin bergejolak.


"Kau sangat cantik bunga sakura ku.. masih


ingatkah kamu padaku.? kau bahkan tidak bisa


mengenaliku Kiran..aku anak laki-laki yang


telah kau selamatkan waktu itu bidadari ku.."


Lirih Agra dengan tatapan yang sangat dalam.


Sorot mata memuja dan penuh cinta terpancar


sepenuhnya dari kedua bola matanya. Tangan


nya merapikan anak rambut yang jatuh di pipi


kemerahan istrinya itu. Dengan perlahan dia


mengangkat tubuh Kiran ke dalam pangkuan


nya di bawa masuk ke dalam kamar. Kemudian


membaringkan nya di atas tempat tidur. Setelah


itu berdiri di sisi tempat tidur, menatap tenang


wajah Kiran yang tampak tertidur pulas.


Bara muncul kedalam kamar membawakan


beberapa plastik besar berisi pakaian ganti


Agra. Dia meletakkan pakaian itu di dalam


lemari pakaian Kiran.


"Tuan..ini pakaian ganti anda untuk malam


ini. Untuk besok sudah saya simpan dalam


lemari Nona. Mobil anda untuk besok pagi


sudah di siapkan di garasi."


Ucap Bara seraya menyimpan satu stel


pakaian santai di ujung tempat tidur.


"Hemm.. baiklah.!"


Sahut Agra, masih asyik memandangi wajah


Kiran yang tidak terganggu sedikitpun oleh


suasana yang ada, sepertinya kelelahan


membuat dia benar-benar terlelap hingga


tidak menyadari semua kegaduhan yang kini


terjadi di dalam kamarnya.


"Kalau begitu saya permisi Tuan Muda.."


"Hemm..hei Bara.!"


Bara urung melangkah, dia melihat kearah


Agra yang tampak merenung sejenak.


"Pastikan besok gadis itu di beri peringatan !


Aku tidak ingin ada sedikit pun nyamuk kecil


yang menggangu kenyamanan Kiran ku..!"


Bara tertegun, tapi kemudian dia mengangguk.


"Baik Tuan..kami akan mengaturnya.!"


Dia segera membungkuk setelah itu berlalu


keluar dari dalam kamar. Agra bergegas masuk


kedalam kamar mandi untuk membersihkan


dirinya.


------- -------


Adzan subuh berkumandang dengan nyaring


di sekitar kediaman keluarga Mahesa.Semua


pelayan bergegas bangun untuk segera


memulai rutinitas harian nya.


Kiran terjaga dari tidur lelapnya. Dia tampak


menggeliat halus kemudian membuka matanya perlahan. Detik berikutnya dia terkejut saat


menyadari tubuhnya kini ada dalam kurungan


satu sosok gagah yang menenggelamkan


hampir seluruh tubuh nya ke dalam pelukan


posesif nya. Kiran mendongakkan kepala dan..


"Aaa..Agraa...emhhh..."


Dia berteriak kencang namun kemudian mulut


nya di bungkam oleh telapak tangan Agra.


Kiran membulatkan matanya tidak percaya.


"Teriakkan mu bisa membuat para tetangga


melompat keluar rumah sayang.!"


Ketus Agra sambil melepaskan tangannya.


Kiran mencoba mengatur napasnya yang


tadi sempat tersendat. Dia menatap tajam


wajah Agra yang kembali memejamkan


mata, berusaha untuk melanjutkan tidurnya.


"Ba-bagaimana.. kamu bisa ada di kamar ini.?


Apa yang terjadi denganku? apa aku sedang


bermimpi saat ini.?"


"Kamu masih ada di alam nyata Nona.! sudah


ayo tidur lagi, aku masih mengantuk.!"


Agra menarik kembali tubuh Kiran kedalam


pelukannya membuat gadis itu berontak.


"Tunggu dulu.! jelaskan padaku bagaimana


caranya kamu ada di sini.!"


Agra membuka mata, menatap Kiran yang


terlihat melotot padanya. Bibir Agra terangkat


sedikit.


"Aku terbang kesini.! kau puas ?!"


"Agra..aku serius..! apa yang terjadi.?"


"Kau pikir aku bercanda.? ya tentu saja aku


masuk lewat balkon, lewat mana lagi.!"


Desis Agra masih menahan senyumnya. Kiran


melihat kearah pintu balkon yang tertutup


rapat.Dia mengingat kejadian semalam


sebelum tertidur, dia sedang ada di balkon itu.


"Jadi benar kamu masuk lewat sana.?"


Agra tidak tahan lagi, dia terkekeh pelan.


Tangannya kembali menarik tubuh lembut


Kiran kedalam pelukannya.


"Jadi kamu menyamakan suamimu ini dengan pencuri ? aku ini pria terhormat sayang..Aku


tidak pernah melakukan sesuatu lewat jalan belakang..!"


Bisik Agra di telinga Kiran yang membuat


wajah Kiran langsung memerah.


"Semalam aku datang.. pelayanmu sendiri yang mengantarku ke kamar ini. Tapi ternyata kau


sudah tidur tanpa menunggu ku terlebih dahulu.!"


Kiran mendongakkan kepala, menatap lekat


wajah tampan Agra.


"Aku tidak pernah berpikir bahwa kamu akan


datang kesini ! tidak ada yang tahu hubungan


kita di rumah ini..!"


"Sekarang mereka sudah tahu sayang.."


Kiran bengong, menatap Agra tidak percaya.


"Aku yang memberitahu mereka semua.!"


Bisik Agra lagi sambil kemudian mengecup


lembut bibir Kiran yang langsung mendorong


halus dada Agra. Tapi Agra menarik kembali


pinggang nya. Kiran meronta mencoba untuk


keluar dari pelukan Agra yang kini menatap


kesal kearahnya.


"Apa yang kamu lakukan, kenapa tidak diam?"


"Aku mau ke kamar mandi Agra..sudah saatnya


sholat subuh. Apa kau tidak sholat ?"


Keduanya saling pandang lekat. Tubuh mereka


kini menempel ketat, dada sintal Kiran merapat


di dada bidang Agra membuat napas mereka


mulai berkejaran. Wajah Agra mulai mendekat.


"Aku juga sholat..tapi masih ada waktu untuk


kita berdua berada pada posisi ini."


Desis Agra semakin mendekatkan bibirnya.


"A-Agraa...aku harus ke air dulu, tubuhku


penuh dengan keringat.!"


"Aku tidak peduli sayang.."


"Aku mohon.. biarkan aku membersihkan


tubuhku terlebih dahulu..!"


Mata Agra mengerjap, senyum tipis terukir


di sudut bibirnya.


"Apa kau sudah memutuskan sesuatu.?"


"M-maksud mu apa.?"


Kiran mulai menegang, dia semakin menarik


tubuhnya menjauh melihat mata Agra yang


mengedip nakal penuh arti.


"Kau akan memberikan hak ku hari ini.?"


"Dasar mesum..! sudah ahh lepaskan aku..!"


Kesal Kiran seraya mendorong keras dada


Agra yang terkekeh pelan sambil kemudian


membiarkan Kiran lepas dari kungkungan nya.


Gadis itu berdecak sebal sambil berlari ke kamar


mandi meninggalkan Agra yang menatapnya


dengan tak henti menyunggingkan senyum


puas karena sudah mengerjai istrinya itu..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC....