
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Kiran berkemas, membereskan semua barang
yang akan di bawanya pulang. Laptop, tablet
dan beberapa berkas penting lainnya.
Tadi sore Agra berpamitan padanya untuk
pergi ke suatu tempat. Dia tidak mengatakan
secara jelas mau pergi kemana. Yang Kiran tahu
Agra memang selalu datang dan pergi seenak
nya. Dia juga tidak ingin mencari tahu apa saja
yang di lakukan oleh suaminya itu di luar sana.
Kiran melirik ponselnya yang ada di atas meja
saat benda pipih canggih itu tiba-tiba bergetar. Bibirnya langsung tersenyum cerah dengan
wajah bersemu merah saat melihat nama
'suami dadakan' tertera di layar ponselnya.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam..apa kau sudah bersiap
untuk pulang.?"
"Iya aku sedang berkemas sekarang, kamu
ada dimana ?"
"Aku masih ada urusan saat ini, jadi tidak bisa
datang menjemputmu."
Wajah Kiran yang tadi cerah kini berubah
mendung.Dia menjatuhkan dirinya di atas sofa.
"Memangnya kamu ada dimana.? jadi aku
harus pulang sendiri?"
"Aku sudah menyuruh Zack untuk menjemput
mu, sekarang dia sudah ada di parkiran."
"Zack..? dia ada di sini juga.?"
"Iya.. sekarang dia sudah ada di bawah, turun
lah kau akan aman bersamanya.!"
"Memangnya kamu ada urusan apa ?"
"Aku harus membereskan semua hal yang
bisa menjadi penghalang untuk kebersamaan
kita ke depan.!"
"Apa maksudmu.? Agra..aku minta jangan
melakukan sesuatu yang akan merugikan diri
sendiri, aku tidak mau terjadi apa-apa padamu."
"Kelihatan nya kau sangat mencemaskan aku..
kenapa tidak terus terang saja kalau kau sudah
jatuh cinta pada suamimu ini Nona.."
Wajah Kiran kembali memerah, dia menggigit
bibirnya menahan serbuan perasaan aneh yang
membuat jantungnya seakan mau meloncat.
"Aku memang mencemaskan mu..karena kamu
selalu melakukan tindakan tidak terduga.! aku
minta jangan bertindak bodoh.!"
Agra terkekeh pelan membuat Kiran berdecak
kesal sambil mengerucutkan bibirnya.
"Aku tidak akan berbuat sesuatu yang salah.
Pulanglah ke rumah yang kemarin..aku akan
segera menyusulmu..!"
"Aku tidak akan kembali ke sana sekarang.!
banyak pekerjaan yang harus aku bereskan
malam ini..!"
Tidak ada tanggapan dari Agra, tampaknya
dia tidak setuju dengan keputusan Kiran.
"Agra..apa kau mendengarkan aku.?"
"Jadi kamu tidak akan kembali ke rumah itu.?
Kau tidak berniat mengambil kembali barang
mu itu, benda itu tidak penting lagi bagimu.?"
"Agra..! kenapa kau bicara begitu.? benda itu
tidak ada hubungannya denganmu.? kenapa
kamu jadi berlebihan begini.?"
Kembali hening, tidak ada tanggapan. Kiran
menarik napas perlahan.
"Benda itu sangat berharga bagiku. Itu adalah
sebuah benda kenangan untukku.! "
Lirih Kiran dengan suara pelan karena memory
nya saat ini seakan kembali ke masa lalu.
"Lalu kenapa kamu tidak kembali ke rumah
itu sekarang ?"
"Agra..besok baru kita kembali kesana, lagipula
aku harus membawa pakaian ganti !"
"Itu tidak di perlukan Kiran.!"
Ketus Agra yang membuat Kiran terdiam heran.
"Itu rumah orang Agra..Kita tidak bisa seenak
nya saja berbuat sesuatu hal !"
"Baiklah..! terserah kau saja Nona.!"
"Agra.. dengarkan aku dulu..!"
Tut Tut Tut !
Sambungan telepon sudah terputus. Kiran
hanya bisa menghembuskan napas kasar
mendapati kenyataan suaminya itu merajuk.
Lagian kenapa juga Agra seolah memaksa
dirinya untuk kembali ke rumah itu !
Kiran segera menyampirkan tas kecil di bahu
dan menenteng tas laptop di tangan.
"Mari saya bawakan Bu..!"
Lia yang tiba-tiba saja sudah ada di dalam
ruangan langsung mengulurkan tangannya.
Kiran tersenyum lembut menyerahkan tas
tersebut ke tangan Lia. Keduanya akhirnya
keluar dari ruangan untuk turun menuju ke
parkiran. Suasana sudah sangat sepi karena
memang karyawan yang lain sudah pulang
sedari sore tadi.
"Selamat malam Nona.. saya di perintahkan
Tuan untuk menjemput anda.!"
Sambut Zack seraya menunduk hormat.
"Selamat malam Zack.. senang melihatmu
kembali di tempat ini.!"
Sahut Kiran seraya masuk ke dalam mobil
yang cukup mewah dan nyaman. Alisnya
sedikit terangkat, darimana Agra bisa selalu
menyiapkan kendaraan-kendaraan mewah
ini. Sungguh ini sesuatu yang menimbulkan
tanda tanya besar dalam hatinya.
Siapa sebenarnya kamu suamiku..
Lirih Kiran dalam hatinya saat mobil yang di
bawa oleh Zack mulai melaju meninggalkan
area gedung perusahaan ZM Company.
------ ------
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam
saat Kiran baru saja selesai membersihkan
diri dan menjalankan kewajiban nya.
"Nona Kiran..susu jahe nya mau di taruh
dimana?"
Tanya seorang pelayan setengah baya yang
baru saja masuk ke dalam kamar. Pelayan itu
merupakan pengasuh Kiran dari kecil dan sangat
menyayangi Nona nya itu yang memang sudah
sangat berbeda sedari kecil. Cantik, lincah, baik
serta ramah dan santun terhadap semua orang
termasuk para pelayan yang ada di rumah ini.
Kamar Kiran berukuran cukup luas, namun
kalau di bandingkan dengan kamar pribadi
Agra mungkin hanya seukuran kamar
mandinya saja.
"Di balkon saja mbak, sekalian cari angin."
Sambut Kiran dengan senyum lembutnya.
Pelayan tadi langsung beranjak ke balkon
menyimpan segelas susu jahe merah kesukaan
Kiran yang selalu di buatkan olehnya dan
spesial hanya untuk Nona kesayangan nya itu.
"Terimakasih ya mbak.."
"Sama-sama Nona, apa ada lagi yang Nona
inginkan, mbak akan segera membuatkan
nya spesial untuk Nona.."
"Sudah cukup kok mbak..aku sedang tidak
berselera untuk makan. sekali lagi terimakasih."
Sahut Kiran merasa tersanjung. Pelayan itu
tersenyum lalu mengangguk sedikit.
"Baiklah kalau begitu mbak permisi ya Non.."
"Baiklah.. selamat malam mbak Siti.."
"Selamat malam Nona yang cantik.."
Sahut pelayan tadi membuat Kiran kembali
tersenyum manis. Mbak Siti berlalu keluar kamar
sementara Kiran beranjak mengambil laptop di
atas meja kerjanya kemudian melangkah ke
balkon untuk menikmati susu jahe nya sambil mengecek kembali semua sisa pekerjaannya.
Kiran mulai menyeruput teh jahe nya seraya
mengamati laporan yang masuk.
Byurrr..!
Dia menyemburkan minuman dari mulutnya
dengan mata terbelalak sempurna. Apa ini.?
ada laporan tentang aliran dana besar yang
masuk ke rekening perusahaan nya.?
Kiran mencoba mengeceknya kembali untuk
meyakinkan diri. Wajahnya terlihat memucat
saat menyadari tidak ada kekeliruan di sana.
"Bintang Group..? kenapa perusahaan besar
itu tiba-tiba melibatkan diri dalam kekacauan
ini.? apa ayah sudah melakukan sesuatu.?"
Gumam Kiran masih belum mempercayai apa
yang di lihatnya. Dalam kekalutannya ponsel
nya kini bergetar dan nama sang ayah tertera
di sana, tepat seperti keinginannya.!
"Assalamualaikum ayah..bagaimana kabar
ayah hari ini.?"
"Waalaikumsalam..kabar ayah baik Nak, jauh
lebih baik dari kemarin.."
Sahut Tuan Zein di sebrang sana dengan nada
suara yang cukup membuat Kiran tenang.
"Apa yang ayah lakukan ? keadaan ayah sedang
sakit, tapi masih melakukan semua ikhtiar ini.!"
Serbu Kiran langsung pada intinya. Hening
sesaat, Kiran memejamkan matanya.
"Ada seseorang yang telah bersedia membantu
kita keluar dari semua masalah ini .Dia datang
sendiri menawarkan bantuan nya. Dan kita tidak
punya pilihan yang lebih baik selain ini."
"Tapi perusahaan kita sekarang akan ada di
bawah komando nya Yah, bukankah selama
ini Ayah tidak pernah mau bergabung dengan
perusahan Corporation manapun.!"
"Ini lebih baik Nak, daripada ayah akan terus
merasa bersalah karena telah mengorbankan
dirimu.! "
Kiran terdiam, semakin memejamkan mata
mencoba menahan serbuan air mata yang
kini memaksanya ingin keluar.
"Besok perwakilan Bintang Group akan datang
ke kantor untuk melakukan nota kerjasama.
Ayah sudah memberi kuasa penuh padamu
untuk menangani semuanya.!"
"Apa pihak Nathan akan datang juga.?"
"Tentu karena secara tidak langsung semua
ini berhubungan dengan mereka. Besok kita
akan menyelesaikan semua ini, sekarang kau
bisa tenang menjalani pernikahan mu.!"
"Ayah.. terimakasih banyak.."
Cairan bening itu luruh dengan derasnya.
Dia seakan menemukan satu kekuatan baru
untuk menjalani harinya ke depan, bersama
Agra tentunya. Percakapan ayah dan anak
itu berakhir. Dengan menguasap lembut air
matanya Kiran kembali meneruskan apa yang
tadi sedang di kerjakan nya. Dia juga mengirim
email kepada Lia untuk merevisi jadwal nya
esok hari. Semua nya akan berubah mulai
besok, Kiran akan fokus untuk membangun
perusahaan ini kearah yang lebih baik sebelum
ayahnya kembali bertugas.
Semilir angin malam semakin membawa hawa
dingin yang kini mulai menusuk kulit membuat
Kiran sedikit menggigil dan menguap, tapi dia
tidak jua beranjak dari balkon karena masih ada
hal yang harus di selesaikan nya. Tapi matanya
kini sudah mulai sedikit rapat. Kiran merebahkan
kepalanya di atas meja kecil berniat untuk sedikit
menghilangkan penat yang di rasakannya.
Sementara itu di ruang depan rumah, saat ini
beberapa pelayan sedang membeku di tempat
dengan mata yang terkesima maksimal melihat
kedatangan seorang tamu yang begitu memukau.
Tamu tersebut adalah seorang pria tinggi tegap, berparas teramat tampan, mengenakkan setelan
resmi yang terlihat sangat mahal dengan ukuran
yang sangat pas seakan di jahit khusus untuk
membalut tubuh gagahnya yang tampak begitu
menyilaukan mata.
"Saya suaminya Kiran..tolong tunjukan dimana
kamarnya.!"
Ucap tamu tersebut yang ternyata adalah Agra.
Dia mengamati sekeliling ruangan.
"Ma-maaf Tuan..anda suaminya Nona Kiran..?"
Mbak Siti segera sadar dari keterpesonaan
nya. Dia bertanya untuk meyakinkan diri.
"Benar.. buktinya ada di tangan asistenku.!"
Semua pelayan melirik kearah Bara yang
berdiri di belakang Agra bersama dengan
beberapa pengawal yang mampu membuat
lutut semua pelayan gemetar saat melihat
tampang dinginnya.
"Sekarang tunjukan dimana kamar Kiran.!"
Agra tampak tidak sabar lagi.
"Mari saya antar Tuan.."
Mbak Siti membungkuk sambil membimbing
Agra melangkah masuk ke ruang tengah lalu
naik ke lantai atas menuju kamar Kiran.
Agra kini sudah ada di balkon, menatap wajah
Kiran yang sedang terlelap dengan kepala yang
bersandar di meja. Luka di pelipis nya masih
sedikit meninggalkan bekas kemerahan. Agra
berjongkok di hadapan Kiran, memandang
wajah cantik alami istrinya itu seolah tiada
bosan, semakin lama memandangnya hatinya
semakin bergejolak.
"Kau sangat cantik bunga sakura ku.. masih
ingatkah kamu padaku.? kau bahkan tidak bisa
mengenaliku Kiran..aku anak laki-laki yang
telah kau selamatkan waktu itu bidadari ku.."
Lirih Agra dengan tatapan yang sangat dalam.
Sorot mata memuja dan penuh cinta terpancar
sepenuhnya dari kedua bola matanya. Tangan
nya merapikan anak rambut yang jatuh di pipi
kemerahan istrinya itu. Dengan perlahan dia
mengangkat tubuh Kiran ke dalam pangkuan
nya di bawa masuk ke dalam kamar. Kemudian
membaringkan nya di atas tempat tidur. Setelah
itu berdiri di sisi tempat tidur, menatap tenang
wajah Kiran yang tampak tertidur pulas.
Bara muncul kedalam kamar membawakan
beberapa plastik besar berisi pakaian ganti
Agra. Dia meletakkan pakaian itu di dalam
lemari pakaian Kiran.
"Tuan..ini pakaian ganti anda untuk malam
ini. Untuk besok sudah saya simpan dalam
lemari Nona. Mobil anda untuk besok pagi
sudah di siapkan di garasi."
Ucap Bara seraya menyimpan satu stel
pakaian santai di ujung tempat tidur.
"Hemm.. baiklah.!"
Sahut Agra, masih asyik memandangi wajah
Kiran yang tidak terganggu sedikitpun oleh
suasana yang ada, sepertinya kelelahan
membuat dia benar-benar terlelap hingga
tidak menyadari semua kegaduhan yang kini
terjadi di dalam kamarnya.
"Kalau begitu saya permisi Tuan Muda.."
"Hemm..hei Bara.!"
Bara urung melangkah, dia melihat kearah
Agra yang tampak merenung sejenak.
"Pastikan besok gadis itu di beri peringatan !
Aku tidak ingin ada sedikit pun nyamuk kecil
yang menggangu kenyamanan Kiran ku..!"
Bara tertegun, tapi kemudian dia mengangguk.
"Baik Tuan..kami akan mengaturnya.!"
Dia segera membungkuk setelah itu berlalu
keluar dari dalam kamar. Agra bergegas masuk
kedalam kamar mandi untuk membersihkan
dirinya.
------- -------
Adzan subuh berkumandang dengan nyaring
di sekitar kediaman keluarga Mahesa.Semua
pelayan bergegas bangun untuk segera
memulai rutinitas harian nya.
Kiran terjaga dari tidur lelapnya. Dia tampak
menggeliat halus kemudian membuka matanya perlahan. Detik berikutnya dia terkejut saat
menyadari tubuhnya kini ada dalam kurungan
satu sosok gagah yang menenggelamkan
hampir seluruh tubuh nya ke dalam pelukan
posesif nya. Kiran mendongakkan kepala dan..
"Aaa..Agraa...emhhh..."
Dia berteriak kencang namun kemudian mulut
nya di bungkam oleh telapak tangan Agra.
Kiran membulatkan matanya tidak percaya.
"Teriakkan mu bisa membuat para tetangga
melompat keluar rumah sayang.!"
Ketus Agra sambil melepaskan tangannya.
Kiran mencoba mengatur napasnya yang
tadi sempat tersendat. Dia menatap tajam
wajah Agra yang kembali memejamkan
mata, berusaha untuk melanjutkan tidurnya.
"Ba-bagaimana.. kamu bisa ada di kamar ini.?
Apa yang terjadi denganku? apa aku sedang
bermimpi saat ini.?"
"Kamu masih ada di alam nyata Nona.! sudah
ayo tidur lagi, aku masih mengantuk.!"
Agra menarik kembali tubuh Kiran kedalam
pelukannya membuat gadis itu berontak.
"Tunggu dulu.! jelaskan padaku bagaimana
caranya kamu ada di sini.!"
Agra membuka mata, menatap Kiran yang
terlihat melotot padanya. Bibir Agra terangkat
sedikit.
"Aku terbang kesini.! kau puas ?!"
"Agra..aku serius..! apa yang terjadi.?"
"Kau pikir aku bercanda.? ya tentu saja aku
masuk lewat balkon, lewat mana lagi.!"
Desis Agra masih menahan senyumnya. Kiran
melihat kearah pintu balkon yang tertutup
rapat.Dia mengingat kejadian semalam
sebelum tertidur, dia sedang ada di balkon itu.
"Jadi benar kamu masuk lewat sana.?"
Agra tidak tahan lagi, dia terkekeh pelan.
Tangannya kembali menarik tubuh lembut
Kiran kedalam pelukannya.
"Jadi kamu menyamakan suamimu ini dengan pencuri ? aku ini pria terhormat sayang..Aku
tidak pernah melakukan sesuatu lewat jalan belakang..!"
Bisik Agra di telinga Kiran yang membuat
wajah Kiran langsung memerah.
"Semalam aku datang.. pelayanmu sendiri yang mengantarku ke kamar ini. Tapi ternyata kau
sudah tidur tanpa menunggu ku terlebih dahulu.!"
Kiran mendongakkan kepala, menatap lekat
wajah tampan Agra.
"Aku tidak pernah berpikir bahwa kamu akan
datang kesini ! tidak ada yang tahu hubungan
kita di rumah ini..!"
"Sekarang mereka sudah tahu sayang.."
Kiran bengong, menatap Agra tidak percaya.
"Aku yang memberitahu mereka semua.!"
Bisik Agra lagi sambil kemudian mengecup
lembut bibir Kiran yang langsung mendorong
halus dada Agra. Tapi Agra menarik kembali
pinggang nya. Kiran meronta mencoba untuk
keluar dari pelukan Agra yang kini menatap
kesal kearahnya.
"Apa yang kamu lakukan, kenapa tidak diam?"
"Aku mau ke kamar mandi Agra..sudah saatnya
sholat subuh. Apa kau tidak sholat ?"
Keduanya saling pandang lekat. Tubuh mereka
kini menempel ketat, dada sintal Kiran merapat
di dada bidang Agra membuat napas mereka
mulai berkejaran. Wajah Agra mulai mendekat.
"Aku juga sholat..tapi masih ada waktu untuk
kita berdua berada pada posisi ini."
Desis Agra semakin mendekatkan bibirnya.
"A-Agraa...aku harus ke air dulu, tubuhku
penuh dengan keringat.!"
"Aku tidak peduli sayang.."
"Aku mohon.. biarkan aku membersihkan
tubuhku terlebih dahulu..!"
Mata Agra mengerjap, senyum tipis terukir
di sudut bibirnya.
"Apa kau sudah memutuskan sesuatu.?"
"M-maksud mu apa.?"
Kiran mulai menegang, dia semakin menarik
tubuhnya menjauh melihat mata Agra yang
mengedip nakal penuh arti.
"Kau akan memberikan hak ku hari ini.?"
"Dasar mesum..! sudah ahh lepaskan aku..!"
Kesal Kiran seraya mendorong keras dada
Agra yang terkekeh pelan sambil kemudian
membiarkan Kiran lepas dari kungkungan nya.
Gadis itu berdecak sebal sambil berlari ke kamar
mandi meninggalkan Agra yang menatapnya
dengan tak henti menyunggingkan senyum
puas karena sudah mengerjai istrinya itu..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC....