Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
24. Akhirnya


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Namun beberapa saat kemudian pasukan Edgar tampak gelagapan ketika tiba-tiba saja datang


pasukan bayangan hitam yang bergerak cepat


seperti ninja melumpuhkan lawan tanpa terlihat. Senjata di tangan mereka kini telah berpindah


tangan.


Mereka hanya bisa melongo di tengah kepanikan


dan kekagetan akan semua yang terjadi karena


begitu cepat di luar bayangan. Kini mereka sudah


ada di dalam kekuasaan pasukan bayangan itu.


"Angkat tangan kalian.. tempat ini sudah di


kepung.!"


Terdengar himbauan lewat pengeras suara.


Semua pasukan musuh terlihat semakin panik,


namun sudah tidak ada peluang lagi bagi


mereka melarikan diri karena kini dari setiap


sudut tempat tiba-tiba saja bermunculan prajurit militer dengan menodongkan senjata kearah


mereka. Tidak ada pilihan lain mereka serempak mengangkat tangan di kepala tanda menyerah.


Orang yang dari tadi berdiam diri di dalam mobil


terlihat panik. Dia segera keluar dan melihat ke


segala arah membaca situasi, namun matanya membelalak saat melihat dari arah jalan masuk


ada iringan mobil militer. Dia menggeleng kuat di


tengah kepanikan. Kenapa jadi begini.? siapa


yang menggerakkan aparat ke tempat ini.? Dan.. tunggu dulu..! sepertinya mereka adalah pasukan khusus dari markas besar. Lutut orang itu kini


gemetar sejadi jadinya saat melihat siapa yang


baru keluar dari mobil di barisan paling depan.


Dua pengawal orang itu yang tadi masih berani


mengokang senjata kini langsung berlutut


menyerah saat melihat kemunculan orang yang


baru keluar dari mobil itu. Bagaimana mereka


bisa melawan, lah itu atasan mereka sendiri.


"Tuan Abbas..menyerahlah baik-baik.!"


Perintah orang itu yang kini sudah berdiri tidak


jauh dari hadapan orang tadi yang tiada lain dan


tiada bukan adalah Tuan Abbas, sang penguasa daerah ini.


"Tunggu dulu.! ini pasti ada kekeliruan.! kalian


tidak ada urusan di tempat ini.!"


"Anda berhak untuk diam Tuan, sampai pengacara


datang ke kantor nanti. Jadi sebaiknya anda


bekerjasama dengan kami.!"


Tegas pemimpin pasukan tadi dengan sikap


dan suara yang sangat tenang dan berwibawa.


"Kalian tidak bisa menangkap ku begitu saja.


Ini adalah wilayahku, aku yang memilki kuasa


penuh atas daerah ini.!"


Tuan Abbas mencoba mengelak sambil melihat


ke sekeliling nya.


"Maaf sekali Tuan..kami memiliki surat perintah


penangkapan anda dari dua lembaga sekaligus.


Silahkan di lihat baik-baik.!"


Pemimpin pasukan mengeluarkan secarik kertas


di berikan pada Tuan Abbas yang tampak gemetar saat menerima dan membuka kertas tersebut. Dia menggeleng kuat mencoba menolak kenyataan ini.


"Tidak.! ini pasti ada kesalahpahaman.! kalian


tidak punya bukti apapun untuk menjerat ku !"


"Semua bukti sudah ada di tangan pihak yang


berwenang. Anda sudah terlalu lama bermain


main Tuan, selama ini kau menindas rakyat yang seharusnya berada di bawah perlindungan mu !"


Agra yang baru datang ke tempat itu berucap


dengan tegas dan lugas.Tuan Abbas tampak


menatap geram kearah kedatangan Agra. Rupa


nya ini dia orang nya yang sudah membawa


kesialan pada dirinya.


"Tuan Bimantara... terimakasih atas kerjasama


anda, maaf kami datang terlambat.!"


Sambut pemimpin pasukan seraya menunduk


hormat di hadapan Agra yang membuat Tuan


Abbas di buat terkejut dengan kejadian itu.


Agra hanya menepiskan tangan sedikit.


"Tidak apa-apa..anda membawa dokter dan


peralatan medis yang aku butuhkan.?"


Agra tampak melihat semua orang yang baru


datang dengan wajah tidak sabar.


"Semua sesuai instruksi anda Tuan.."


"Cepat suruh mereka masuk, di dalam banyak


sekali yang terluka..!"


"Baik Tuan..!"


Pemimpin pasukan itu langsung memberi


perintah pada dua orang yang membawa tas


hitam, mereka mengangguk langsung berlari


kearah pondok.


Semua pasukan Edgar dan orang-orang nya


Tuan Abbas kini sudah di amankan. Mereka


di giring masuk ke dalam mobil militer.


Agra kini berpaling pada Tuan Abbas yang


menunduk dalam keadaan terborgol.


"Jadi Tuan penguasa kejahatan yang sudah


anda lakukan pada akhir nya membawa mu


pada kehancuran.! "


Ucap Agra sambil berdiri tenang di hadapan


Tuan Abbas. Pria setengah baya itu tampak


mengangkat wajahnya, menatap tajam wajah


Agra penuh emosi.


"Siapa kamu sebenarnya ?"


Tanya Tuan Abbas menuntaskan rasa penasaran


yang mengganjal di hatinya. Agra tersenyum


miring sambil melirik kearah Bara yang langsung


mengeluarkan sesuatu dari dalam dompet nya


di berikan pada Tuan Abbas.


Mata pria itu tampak membulat tidak percaya.


Wajahnya terlihat semakin memucat. Kepalanya


kini tertunduk dalam.


"Kau sudah mencoba menghabisi ku dengan


berbagai cara.! tidak ku sangka orang yang


seharusnya menjadi pelindung malah menjadi


biang pencuri di daerah nya sendiri.!"


Geram Agra meluapkan segala kekesalannya.


Matanya menatap tajam wajah Tuan Abbas


yang kini hanya bisa tertunduk .


"Apa urusan anda di perkebunan ini Tuan.?"


Tanya Tuan Abbas sedikit ragu-ragu. Rahang


Agra tampak mengeras.


"Aku datang ke tempat ini untuk melindungi


milikku dari orang-orang serakah macam kalian.


Aku datang untuk melindungi istriku..Kiran..!"


Mata Tuan Abbas kembali melebar. Jadi kali


ini dia sudah salah berurusan dengan orang.


Dan akibatnya kehancuran kini menimpanya.


Beberapa prajurit tampak membawa Edgar yang


sudah siuman. Pria itu menatap tajam kearah


Agra dan Tuan Abbas. Dia di giring masuk ke


dalam mobil yang berbeda.


Dua orang prajurit pilihan segera menyeret Tuan Abbas di bawa masuk ke dalam mobil khusus.


Badar datang dengan langkah yang tertatih.


Wajahnya terlihat tidak percaya dengan apa


yang di lihatnya. Orang nomor satu di daerah


nya ternyata adalah pemimpin pencuri liar.


"Kumpulkan semua warga di landasan..mereka


harus tahu siapa pemimpin mereka selama ini.!"


Titah Agra pada para penjaga yang masih bugar


tidak menjadi korban penyerangan.


"Baik Tuan..!"


Sambut mereka semangat sambil kemudian


berlalu pergi. Pemimpin pasukan baru saja


kembali setelah dia melakukan inspeksi ke


seluruh wilayah untuk memastikan bahwa


tidak ada penjahat yang melarikan diri.


"Tuan Agra..kita akan kembali ke landasan.


Dua orang itu akan kami bawa ke markas.!"


Ucap pemimpin pasukan. Agra hanya mengangguk.


"Biarkan para dokter itu di sini dulu. Aku masih


memerlukan tenaga mereka !"


"Tentu Tuan.. mereka akan kembali setelah


semua tertangani.!"


Sahut pemimpin pasukan. Agra mengangguk


kemudian berlalu pergi menuju ke pondok untuk melihat kondisi Kiran sebelum dia pergi ke landasan dan memastikan bahwa semuanya berjalan lancar tanpa ada hambatan.


****** ******


Matahari saat ini sudah menampakkan diri di


ufuk timur. Suasana di sekitar pondok terlihat


sudah terang. Keadaan kini sudah kembali


normal karena pasukan bayangan hitam telah


bergerak cepat membersihkan sisa-sisa kejadian mengerikan dini hari tadi. Zack sendiri yang


langsung memimpin acara pembersihan itu.


Saat ini penebangan sudah di mulai sesuai


dengan rencana awal. Semua orang terlihat


cukup antusias walaupun masih tersisa rasa


trauma atas kejadian semalam.


Suara gemuruh mesin pemotong lumayan


menimbulkan sebuah trauma tersendiri bagi


orang-orang yang mengalami langsung


kejadian semalam. Namun kehadiran para


prajurit dan pasukan bayangan hitam sedikit


nya mampu memberikan rasa aman pada


mereka hingga semuanya bekerja dengan


sepenuh hati.


Kiran berdiri di depan pondok dengan tatapan


kosong. Tubuhnya saat ini berbalut mantel tebal.


Rambutnya digelung asal hingga wajahnya


terlihat semakin cantik dengan beberapa anak


rambut yang jatuh di pelipisnya. Namun saat


ini wajahnya terlihat sangat pucat tanpa rona.


Suhu tubuh nya juga tidak stabil. Dia masih


dalam masa trauma berat saat ini.


Dia menatap kosong kearah para pekerja yang


sedang sibuk dengan berbagai tugas dan bagian


kerja masing-masing. Tuntas sudah misinya di


ke dalam kehangatan kasih sayang orang tuanya.


Semua hal yang di alaminya di tempat ini akan


dia kenang sebagai pengalaman hidup yang


sangat berharga karena tidak akan mungkin


lupa ataupun hilang dari ingatannya begitu saja.


Sedangkan Agra saat ini berada di landasan.


Terlihat warga desa datang berduyun-duyun


ke tempat baru itu. Mereka hanya bisa bengong


melihat landasan baru itu. Dan lebih melongo


lagi saat mengetahui fakta bahwa pemimpin


daerah mereka menjadi tersangka dengan


berbagai bukti kejahatan. Sebelum menjadi


pengusaha Tuan Abbas cukup terkenal sebagai


seorang pengusaha yang bergerak di bidang


ekspor impor.


Di landasan itu sudah terparkir 5 buah helikopter.


Satu di antaranya adalah helikopter yang sengaja


di persiapkan untuk kepulangan Agra ke ibu kota.


"Kami permisi Tuan.. sampai ketemu di kota


nanti. Saya harap tidak akan ada masalah lagi


yang menggangu ketenangan anda di sini.!"


Ucap pemimpin pasukan sambil berjabat tangan dengan Agra yang hanya tersenyum tipis.


"Terimakasih sudah datang tepat waktu..!"


Sambut Agra , keduanya saling mengangguk


sopan. Akhirnya para tersangka di angkut


dengan menggunakan 4 helikopter menuju


ke ibukota langsung .


Semua orang kini fokus dengan penebangan di


hari pertama ini. Memerlukan kurang lebih satu


minggu untuk menyelesaikan semua nya dan


itu pun tidak bisa bersih semuanya.


Hari ini Kiran benar-benar terlihat berbeda.


Dia lebih banyak diam seperti kehilangan


separuh jiwanya. Dokter yang menanganinya


mengatakan trauma Kiran akibat percobaan


pelecehan terhadap dirinya cukup membekas


dan membuat dia sulit untuk keluar dari


bayang-bayang peristiwa itu .


Agra memutuskan untuk membawa Kiran pulang


ke Villa agar dia bisa terhindar dari bayangan


kelam kejadian semalam. Saat ini mereka sudah


berada di villa. Rasmi segera membuatkan


makanan kesukaan Kiran dan menghidangkan


nya di meja taman belakang karena saat ini


Kiran sedang duduk di ayunan seperti yang


selama ini selalu di lakukan nya.


Namun lagi-lagi dia terlihat diam tak bergairah


hanya bisa memandang ke arah perbukitan


dengan sorot mata kosong.


"Kiran..lihat aku..! semuanya sudah berakhir


sekarang. Kamu sudah menyelesaikan misi


mu, kita akan segera kembali ke kota."


Agra berjongkok di hadapan Kiran yang kini


mengalihkan perhatian nya pada sosok tampan


yang ada di hadapannya itu. Sesungguhnya dia


sudah kembali sepenuhnya pada dirinya. Dia


hanya butuh waktu menenangkan diri saja.


Agra menatap lembut wajah cantik Kiran yang


masih saja terlihat pucat. Keduanya kini saling


pandang lekat.


"Aku baik-baik saja..kau tidak perlu khawatir.


Aku hanya butuh istirahat dan menenangkan


diri.."


Lirih Kiran dengan suara yang sangat lembut.


Agra meraih tangan Kiran, menciumnya pelan


dengan tatapan yang semakin dalam.


"Baiklah..aku percaya padamu ! Aku akan segera


menyelesaikan semua pekerjaan. Kau istirahat


di sini.."


"Kau mau ke perkebunan lagi.?"


Kiran tampak menatap berat kearah Agra yang


kini berdiri kemudian mengangkat tubuh gadis


itu ke dalam pangkuannya. Kiran melingkarkan


tangan nya di leher kokoh Agra dengan tatapan


yang semakin kuat.


"Hanya sebentar saja..aku akan segera kembali


setelah memastikan semuanya berjalan baik.."


"Kenapa kamu tidak pernah bisa diam Agra ?


aku membutuhkan mu saat ini."


Agra terhenyak dia menghentikan langkahnya.


Keduanya kembali saling pandang kuat..Ada


kehangatan yang kini mengalir di hati Agra.


"Malam ini aku akan menemanimu..aku janji


tidak akan lama..!"


Ucapnya penuh Semangat. Dia berjalan masuk


ke dalam Villa di iringi tatapan semua orang


yang hanya bisa terdiam tanpa kata. Agra


segera membawa Kiran ke dalam kamar nya


untuk membiarkan gadis itu beristirahat.


"Aku pergi dulu, istirahat lah.."


Kiran memegang tangan Agra kuat, matanya


terlihat berat melepas kepergian suaminya itu.


Agra mendekat, mencium lembut kening Kiran


cukup lama, setelah itu mengecup bibirnya


sekilas.


"Aku ingin segera memilikimu seutuhnya..!


pikirkan bagaimana cara nya.!"


Bisiknya di telinga Kiran yang membuat wajah


gadis itu di penuhi semburat merah.


"Pergilah..dasar otak mesum..!"


Kiran mendorong pelan tubuh Agra yang hanya


bisa tersenyum tipis, tanpa permisi dia kembali


menyergap bibir ranum Kiran, ********** kuat


hingga gadis itu melebarkan matanya, setelah


itu dia berlalu acuh meninggalkan Kiran yang


hanya bisa menahan rasa kesal karena laki-laki


itu selalu saja mencuri ciuman di bibirnya. Tapi


ada senyum malu yang tergambar di wajahnya.


Malam mulai merayap..


Tubuh Kiran sepertinya memang butuh istirahat


penuh, terbukti baru jam 8 tapi dia sudah


kembali terlelap dalam tidur lelahnya setelah sebelumnya melaksanakan kewajiban nya


terlebih dahulu. Sementara Agra belum juga


kembali dari perkebunan, sepertinya masih ada


urusan yang harus di bereskan nya.


Di lantai bawah saat ini Rasmi dan Bani sedang


di kejutkan oleh kedatangan 4 orang laki-laki


tidak di kenal. Seorang diantaranya adalah pria


bertubuh tinggi tegap dengan paras yang sangat


tampan dan berbeda.


"Dimana Kiran.. aku akan membawanya pulang.!"


Tanya pria muda itu yang langsung naik ke lantai


atas namun di halangi oleh Rasmi yang terlihat


mulai panik dan ketakutan. Apalagi ini.?? sedang


Bani tampak di cekal dan di bungkam oleh salah


satu pria yang datang.


"Tuan..siapa kalian ini ? kenapa tiba-tiba datang


mencari nona saya..?"


"Tunjukkan saja di mana dia ?"


"Tidak bisa ! kalian orang asing tidak boleh


masuk sembarangan.!"


"Hei..aku hanya ingin menjemput wanita ku.!


dan kau tidak berhak melarang ku.!"


"Hei.. tuan..! tunggu dulu..! jangan naik..!"


Rasmi berteriak kencang saat sosok pria tampan


itu berlalu acuh naik ke lantai atas bersama


dengan salah satu temannya. Sementara Rasmi


di cekal dan di tahan di tangga oleh satu teman


pria itu. Rasmi terus berteriak histeris hingga


akhirnya mulutnya di bungkam oleh telapak


tangan pria yang mencekal nya.


Pria tampan tadi kini sudah ada di kamar Kiran.


Matanya tampak menatap keseluruhan diri Kiran penuh dengan kerinduan. Dia mendekat, duduk


di sisi tempat tidur, menatap lekat wajah cantik Kiran.Tangan nya perlahan bergerak mengelus


lembut wajah putih mulus gadis itu.


"Kau sudah menyiksaku selama 2 minggu ini


Kiran sayang.. akhirnya aku menemukan mu."


Bisiknya dengan tatapan yang begitu dalam.


Dia melirik kearah pria yang bersamanya,


memberi isyarat agar dia melakukan sesuatu.


Pria itu segera mengeluarkan alat injeksi dari


saku jaketnya, mengisinya dengan cairan bening


dari botol kecil, kemudian perlahan di bantu


pria tampan tadi dia mulai menyuntikkan


cairan itu ke pangkal lengan Kiran. Gadis itu


tampak meringis dan mendesah pelan


membuat darah pria tampan tadi mendidih.


Dia segera meraih tubuh halus lembut Kiran


kedalam pangkuannya.


Rasmi membulatkan matanya saat melihat


pria tampan tadi kini turun ke lantai bawah


dengan memangku tubuh Kiran yang sudah


berbalut mantel tebal. Tas kecil milik Kiran


ada di tangan pria satunya lagi.


Mereka berempat bergegas keluar dari rumah


setelah sebelumnya membius Rasmi dan Bani


terlebih dahulu hingga wanita itu hanya bisa


menatap lemah kepergian orang-orang yang membawa Nona nya sebelum akhirnya


kesadaran nya perlahan menghilang..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC....