Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
14. Pergi Ke Pasar


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Tiga hari yang sangat berat bagi seorang Kiran.


Tinggal di tempat asing yang tidak di kenalnya


sama sekali. Semula dia hanya membayangkan


bagaimana indah dan alaminya tempat ini.


Namun yang dia dapatkan bukan hanya melulu


soal keindahan tetapi juga hal lain yang tidak


pernah di duga nya sama sekali.


Pagi ini Kiran memutuskan untuk tidak pergi ke perkebunan. Dia ingin memulihkan kondisi psikis


nya dulu akibat trauma atas kejadian mengerikan kemarin. Hari ini dia akan pergi ke pasar saja


untuk mencari sedikit hiburan dan cuci mata. Dia


juga penasaran dengan kondisi perekonomian di daerah ini, ingin melihatnya secara langsung ke lapangan.


Kiran turun ke lantai bawah dengan wajah yang


terlihat berseri apalagi dengan pakaian yang di


kenakannya. Kali ini dia memakai setelan manis.


Celana model hareem pants di padukan dengan atasan blouse lengan pendek pas body di balut cardigan warna pastel di lengkapi sneaker putih.


Terlihat sangat cocok dan serasi melekat di tubuh


indahnya yang sangat menggoda, walau berbalut pakaian tertutup sekalipun keindahan itu tetap


saja nampak dengan jelas.


Rambut nya di biarkan tergerai indah hingga dia kembali terlihat bak seorang barbie hidup. Mata


lebar nya yang indah terlihat berbinar dengan


penuh semangat.


Namun senyum di bibir ranum nya tiba-tiba


saja menghilang saat dia sampai di ruang


makan.


Matanya tampak menatap tajam kearah Agra


yang sedang sarapan di temani dan di layani


oleh si gadis manis..Lintang..kenapa gadis itu


pagi-pagi begini sudah ada di villa ! apa dia


memang sengaja untuk menemui Agra?


Kiran berusaha untuk menguasai hatinya


yang tiba-tiba saja terasa jengkel dan kesal.


"Selamat pagi Nona Kiran..apa anda mau


sarapan juga ? saya sengaja membawakan


makanan yang banyak untuk Tuan Agra."


Tawar Lintang dengan senyum manisnya.Agra


dan Bara langsung menoleh kearah Kiran yang


sedang melangkah perlahan. Mata Agra tampak menatap tajam melihat penampilan Kiran.


"Tidak, terimakasih Lintang..! apakah kamu


sengaja membawakan sarapan kesini untuk


Tuan Agra ?"


Tidak tahan rasanya akhirnya kata-kata itu


keluar juga dari mulut Kiran. Wajah Lintang


tampak bersemu merah dia melirik kearah


Agra yang terlihat datar dan acuh, pria itu


tetap fokus pada sarapannya.


"Iya Nona..Mbak Rasmi kurang begitu faham


makanan orang kota, jadi saya menawarkan


diri untuk membantu membuatkan nya."


"Ohh.. sepertinya kamu pintar masak juga ya.?"


Tanya Kiran sambil melihat sekilas kearah Agra


yang terlihat sangat menikmati sarapan nya.


Perasannya tiba-tiba saja tidak nyaman. Dia


bahkan menyadari sesuatu, sebagai wanita


yang berstatus istri Agra, apa yang sudah coba


dia lakukan untuk laki-laki itu, tidak ada !


"Tidak juga Nona.. hanya mencoba-coba saja


semampu saya. Tapi saya cukup tahu berbagai


jenis makanan yang bisa dicicipi oleh Tuan Agra."


Jawab Lintang dengan raut wajah yang terlihat


sangat berbinar, kembali mencuri pandang kearah Agra. Hati Kiran semakin merasa tidak nyaman


saat melihat tatapan penuh damba gadis itu.


"Tapi sepertinya Tuan Agra sangat menikmati


makanan buatanmu tuh.!"


Ujar Kiran sambil duduk di sebrang dengan


tatapan yang semakin tajam sekaligus kesal


pada Agra karena tampaknya pria itu tidak


memperdulikan keberadaan nya.


"Nona Kiran..kalau anda penasaran kenapa


tidak ikut sarapan saja sekalian, makanannya


masih banyak yang tersisa.!"


Bara ikut berbicara seolah mengompori. Agra


melirik tajam kearah Bara yang langsung


melengos berusaha berpaling.


"Tidak, saya ada janji sama Bani mau jalan-


jalan ke pasar.! kalau begitu saya permisi.!


silahkan lanjutkan sarapannya.!"


Kiran langsung berdiri dan melangkah seraya


menyampirkan tas nya di bahu, tapi langkahnya terhenti ketika melewati Agra karena tangan


nya di pegang kuat oleh pria itu.


"Kau tidak boleh pergi kemanapun tanpa


pengawalan.!"


Ujar Agra tanpa melihat kearah Kiran membuat


gadis itu semakin kesal.


"Lepaskan tanganku ! aku hanya pergi ke pasar


saja Tuan, bukan masuk ke dalam hutan belantara.!"


Desis Kiran sambil berusaha menarik tangan


nya dari genggaman Agra. Lintang tampak


memperhatikan keduanya dengan tatapan


tidak nyaman.


"Tunggu aku selesai sarapan, kau tidak akan


pergi kemana pun tanpa aku.!"


"Tidak.! aku akan pergi bersama Bani.! kau


pergi saja ke perkebunan bersama Lintang.!"


Sergah Kiran sambil menarik kencang tangan


nya hingga akhirnya terlepas, namun karena


terlalu kencang tubuh nya terhuyung ke arah


samping, dengan gerakan cepat Agra menarik


kembali tangannya hingga tubuh Kiran kini


jatuh di pangkuan Agra.


Kedua tangan Kiran berada di pundak Agra,


mata mereka saling menatap kuat. Lintang dan


Bara tampak melongo melihat keduanya.


Namun setelah beberapa saat Kiran cepat-cepat


berdiri dan menegakkan badannya dengan


wajah yang sudah memerah seluruhnya.


"Aku hanya akan pergi sebentar saja, mbak


Rasmi juga ikut pergi bersamaku.!"


Ucap Kiran kemudian sambil melangkah pergi


dari ruangan itu. Agra hanya bisa mengetatkan


rahang nya tanpa bisa mencegah kepergian


gadis itu.


Akhirnya tidak bisa di cegah Kiran memaksa


pergi ke pasar dengan menaiki motor matic


yang di bawa oleh Bani walaupun remaja


tanggung itu sebenarnya takut terhadap


kemarahan Agra nantinya. Namun dia juga


tidak bisa apa-apa selain menuruti keinginan


Nona nya itu.


Selama di perjalanan banyak sekali warga yang


berpapasan dengan mereka dan terlihat sangat


terpesona padanya. Bani tampak senang dan


bangga saat semua orang menatap iri padanya


karena bisa boncengan dengan bidadari secantik Kiran. Sementara Rasmi menyusul mereka di


belakang dengan naik ojek.


Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah


jam akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.


"Hati-hati Nona.. tempatnya agak becek.!"


Rasmi mengingatkan seraya membimbing Kiran


turun dari parkiran. Sontak saja kehadiran nya


menimbulkan keriuhan bagi pengunjung lain.


Kiran lupa bahwa keadaan fisiknya yang sangat


menonjol di tempat terpencil seperti ini akan


selalu menyita perhatian semua orang.


Sebenarnya bukan tidak ada wanita secantik


Kiran di daerah ini, bahkan yang lebih eksotis


pun banyak, tapi Kiran memiliki daya tarik lebih


dengan kulitnya yang bercahaya dan sangat


berbeda dari orang kebanyakan. Juga matanya


yang indah seakan menjadi magnet tersendiri


bagi semua orang untuk memusatkan perhatian


pada dirinya. Dia itu sangat menarik di lihat dari


sudut manapun.


Kiran mengikuti kemana Rasmi melangkah,


tangannya tidak lepas dari genggaman wanita


40 tahun itu karena ada kekhawatiran di hati


Rasmi saat ini. Sedang Bani mengikuti mereka


di belakang.


Kiran berniat membeli bahan makanan yang


cukup agar dirinya bisa membuatkan makanan


Lintang.


Haahh..ini kedengarannya seperti lelucon.!


Kiran meringis sendiri saat mengingat semua


ini dia lakukan untuk laki-laki yang sudah sah


menjadi suaminya itu. Ya..dia pikir tidak ada


salahnya dengan itu, toh ini juga sudah jadi


kewajiban nya sekarang.


"Nona..di pasar ini barang nya terbatas, tidak


sekomplit di kota atau di supermarket.."


Rasmi menatap ragu kearah Kiran yang terlihat


merenung saat barang yang di inginkan nya


tidak ada di pasar itu.


"Ya sudah seadanya saja mbak.."


Rasmi mengangguk, mereka kembali berjalan


lebih masuk ke dalam pasar.


Kehebohan semakin lama semakin terjadi.


Semua orang baik itu pedagang maupun


pengunjung tampak bengong di tempat saat


melihat kemunculan Kiran. Tidak ada yang tidak terkesima melihatnya, terlebih lagi bagi para


pedagang yang di datangi Kiran, mereka tampak gugup maksimal saat melayaninya.


Setelah cukup lama Rasmi mengajak Kiran


untuk keluar dari dalam pasar yang keadaan


nya cukup kotor dan tidak tertata rapi itu.


Kiran harus berjingjit beberapa kali saat dia


melewati area yang berlobang dan di genangi


air yang menimbulkan bau tidak sedap. Namun tampaknya aktifitas perekonomian di tempat ini berjalan cukup lancar sebagaimana mestinya.


"Nona..kalau sudah tidak ada lagi yang ingin


di beli sebaiknya kita segera pulang sekarang.


Saya takut Tuan Agra marah."


Kiran melirik cepat kearah Rasmi yang terlihat


sangat resah dan melihat keadaan sekitar.


"Ada apa sih mbak, kok kelihatannya khawatir


banget, apa ada sesuatu yang salah.?"


Rasmi menggeleng pelan terlihat semakin resah


saat melihat semua mata terutama laki-laki kini


tertuju pada Nona Muda nya. Bani juga terlihat


sama cemasnya.


"Tidak apa-apa Nona, hanya saja keamanan di


pasar ini sedikit kurang terjamin, masih banyak


preman pasar di tempat ini. Dan mereka semua


adalah bawahannya Tuan Edgar.."


Ujar Rasmi dengan wajah semakin gelisah.


Kiran mengernyitkan alisnya.


"Edgar.. laki-laki yang tempo hari datang.?"


"Benar Nona, saya khawatir mereka akan


datang menganggu kita.."


Belum Rasmi selesai berbicara tiba-tiba kearah


keberadaan mereka datang beberapa laki-laki


berpenampilan berantakan dengan mata yang


merah serta pemukul di tangan.


"Gawat..mereka datang Bu..ini terlalu banyak,


Bani tidak akan bisa menghadapinya."


Bani tampak sedikit meringis, dia segera maju


ke hadapan Kiran yang menatap kedatangan


para preman pasar itu dengan sorot mata mulai


tegang. Ada penyesalan dalam hatinya karena


tidak mendengarkan ucapan Agra tadi.


Rasmi dan Bani berdiri di hadapan Kiran, sekuat


tenaga mereka menekan rasa takut demi untuk


melindungi Nona nya. Bani memang memiliki


kemampuan bela diri karena dia adalah putra


Badar, seseorang yang cukup di takuti di daerah


ini, tapi kalau lawannya sebanyak ini.?


"Mau apa kalian.? tolong jangan coba-coba


ganggu kami ya !"


Gertak Bani sambil memasang kuda-kuda saat


para preman itu sudah ada di hadapan mereka.


Mata mereka langsung saja melahap seluruh


diri Kiran dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Hahaa..hei bocah.. minggir kamu kalau masih


ingin hidup, cepat minggir.!"


Kepala preman mengibaskan tangannya


seraya menatap tajam wajah Bani memberi


peringatan.


"Tidak.! kalian yang pergi dari sini.!"


"Ohh..punya nyali juga rupanya nih bocah.!"


Kepala preman tadi maju mendesak sambil


mengeluarkan pisau belati dari saku jaket


kemudian memainkannya.


Kiran mundur dengan wajah mulai memucat.


Dalam keadaan ini otaknya hanya di penuhi


satu nama yang di harapkan bisa datang saat


ini juga untuk mengeluarkan nya dari situasi


yang sangat rawan ini.


"Serahkan gadis itu pada kami..baru kalian


bisa pergi dengan aman.!"


"Tidak akan, kalian pergi dari sini, atau kami


akan berteriak agar semua warga datang ke


sini dan mengeroyok kalian semua.!"


Bantah Rasmi sambil mundur memegang


tangan Kiran tapi para preman lain kini sudah


mengurung mereka.


"Tidak akan ada yang berani menolong kalian.


Siapa yang berani melawan Tuan Edgar..kami


hanya ingin membawa nona cantik itu untuk


kami persembahkan pada Tuan Edgar..dia pasti


akan memberi hadiah yang sangat besar..!"


Ucap kepala preman sambil tertawa menggema


di ikuti oleh anak buahnya. Salah seorang preman


tadi maju merangsek, tapi Bani menyerangnya


dan terjadi perkelahian beberapa saat hingga


akhirnya Bani jatuh tersungkur, hidungnya


berdarah.


"Bani..!"


Kiran dan Rasmi serempak menjerit histeris


melihat Bani babak belur. Rasmi kalap dia


menyerang preman tadi dengan menendang


dan memukul namun preman lain langsung


saja menarik tangannya ke belakang dan


mengunci gerakan nya. Kedua ibu dan anak


itu kini sudah tidak bisa lagi bergerak.


Mata mereka menatap cemas kearah Kiran


yang kini mundur ketakutan saat kepala preman


merangsek maju dengan tatapan mata liarnya


seolah menelanjangi diri Kiran .


"Berhenti.!Jangan macam-macam kalian, kita


tidak punya urusan.! stop..jangan maju..!"


Sentak Kiran dengan suara bergetar dan wajah


di penuhi oleh ketegangan. Kepala preman itu


menyeringai sadis dengan menjilatkan lidahnya.


"Ckk..ck.ck..benar-benar cantik luar biasa.


Dari mana datang nya mahluk cantik ini..!"


Gumamnya sambil kemudian semakin maju.


"Tolooong..tolong kami.."


Rasmi berteriak minta tolong pada orang-orang


yang ada di sana. Sebenarnya mereka dari tadi


melihat semua kejadian itu tapi tidak ada yang


berani maju karena takut akan akibatnya nanti.


Kiran berdecak ironi melihat orang-orang hanya


bisa terdiam bingung melihat semua kejadian


ini, sangat menyedihkan.!


"Ayo ikut kami Nona..maka semuanya akan


baik-baik saja.!"


"Tidak.! tolong jangan menggangguku..!"


"Menurut lah Nona cantik agar kami tidak perlu


melukaimu karena itu tidak akan di sukai oleh


Tuan Edgar.!"


Kiran semakin mundur dan kini punggungnya


membentur badan motor. Seringai senyum


licik terlihat dari si kepala preman.


"Bawa dia..!"


Perintahnya pada anak buahnya yang langsung


mengangguk semangat, dua orang kemudian


maju merangsek ingin mencekal Kiran, namun


sebelum itu terjadi beberapa preman yang lain


tiba-tiba saja berteriak kencang bersamaan


dengan tubuh mereka yang melayang ke udara satu-satu terlempar dan jatuh tersungkur..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....