
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Wanita yang satu kini maju dengan tatapan
penuh intimidasi. Sorot matanya menyiratkan
kemarahan dan kekesalan yang sudah tidak
bisa lagi di tahannya.
"Ternyata aku salah mengirimmu ke tempat
itu. Kau juga tidak becus bekerja. Kau malah
jatuh ke dalam pesonanya.!"
"Siapa yang tidak akan jatuh hati pada laki-laki
sehebat Tuan Agra. Kau pikir aku ini wanita
tidak normal apa.?"
"Kau pikir dirimu cukup layak untuk nya hehh?
Apa kau pikir bisa mengalahkan ku.?"
"Dia sudah memberi sinyal positif padaku.
Selama ini aku tidak pernah gagal merayu
dan menaklukan laki-laki manapun.!"
"Hooh..yaa..aku tahu, maka nya kau kutarik
untuk menjalankan misi ku ini.! Tapi ternyata
kau malah menusukku dari belakangan.!"
"Sorry..karena aku menginginkan Tuan Agra
untukku sendiri, tidak akan ku serahkan dia
padamu.!"
"Cukup ! kamu tahu benar bahwa Agra adalah
milikku.! kau hanya kacung yang aku suruh
untuk membawanya padaku.!"
"Itu kemarin.! sebelum aku tahu bahwa pria
yang kau inginkan adalah sosok yang sangat
sempurna..! sekarang aku menginginkannya
melebihi apapun.!"
"Tanisha..! aku ingatkan padamu.! jangan
main-main di belakang ku, karena aku punya
banyak kartu As yang bisa menjatuhkan
dirimu hanya dalam sekejap mata.!"
Gertak wanita yang satu yang ternyata adalah
Mikhayla. Dan wanita satu lagi adalah Tanisha.
Wajah Tanisha kini berubah sedikit pucat tapi
juga terlihat geram, dia menatap tajam wajah
Mikhayla yang terlihat merah terbakar emosi.
"Kau pikir dirimu lebih baik dariku Miss beauty,
Ciihh..kau bahkan lebih busuk dariku.!"
Geram Tanisha sambil kemudian beranjak
mau melangkah, namun tiba-tiba tangannya
di tarik lalu di cengkram oleh Mikhayla.
"Kalau kau berani berkhianat aku tidak akan segan-segan menghancurkan mu..!"
"Lepaskan aku..! kau pikir aku takut padamu?
Aku juga tidak akan tinggal diam..!"
"Ohh..jadi kau mau aku menelepon atasan
mu sekarang juga.?"
Tanisha tampak terkejut, wajahnya semakin
terlihat pucat namun juga terbakar amarah.
"Kau wanita yang sangat licik.!"
Mikhayla memperkuat cengkraman tangan
nya, matanya menyala penuh emosi.
"Dengarkan aku baik-baik..lakukan semuanya
dengan rapih, dia di kelilingi oleh orang-orang
yang sudah ahli dalam segala hal. Tapi aku
sudah menyiapkan obat yang paling canggih.
Mereka tidak akan bisa mendeteksinya.!"
Tanisha menatap geram wajah Mikhayla.
Dia menepis pegangan tangan wanita itu.
"Setelah kau puas.. berikan dia padaku.!"
Desis Tanisha yang di balas senyum miring
Mikhayla.
"Kalau malam ini berhasil, dia tidak akan bisa
lepas dariku..! dia akan kecanduan dengan
tubuhku..! dan tidak akan menginginkan
yang lain untuk memuaskan hasratnya.!"
"Cihh..! dasar wanita ular..! kau sangat licik
dan juga murahan.!"
Plak.!
Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus
Tanisha yang langsung merunduk memegangi
pipinya yang terasa sedikit panas. Dia menatap
Mikhayla dengan emosi yang meluap-luap.
"Jangan berani-berani menghinaku. Aku ini
pengusaha terkenal dengan nama besar dan
kehormatan sebagai wanita tercantik di dunia.
Sedang kau.. hanya tikus kecil.!"
Hina Mikhayla sambil menyebikkan bibirnya
kemudian melangkah pergi dari hadapan
Tanisha yang menggertakan giginya dan
mengepalkan tangannya kuat.
"Mikhayla..kita lihat saja.. siapa yang akan
hancur duluan.! dan aku pastikan bahwa
Tuan Agra hanya akan menjadi milikku..!"
Desis Tanisha sambil kembali mengusap
pipinya yang masih menyisakan panas.
Pesta terus berlanjut....
Acara pokok terus berjalan, kini panitia sedang
mengumumkan penghargaan bagi perusahaan
yang memperoleh penghargaan karena mampu
meningkatkan standar kompetensi dan nama
baik nya dengan lonjakan saham serta investasi
di perusahaan nya.
Agra kembali naik keatas panggung untuk
memberikan penghargaan secara langsung
kepada 6 pemimpin perusahaan yang berhasil
mendapatkan penghargaan ini. Suara tepuk
tangan seluruh tamu kini mewarnai suasana
kemeriahan acara penghargaan khusus ini.
Dan pesta yang sesungguhnya kini di mulai.
Para tamu di persilahkan untuk mencicipi
hidangan makan malam yang sudah tersedia.
Berbagai hidangan istimewa dan super mewah
telah di siapkan dengan sangat baik oleh pihak
panitia yang memegang acara ini.
Sambil mencicipi hidangan istimewa, para tamu
saling berbincang dan melakukan pembicaraan
bisnis dengan sesama pengusaha. Kiran tampak
setia mendampingi Agra yang terus di datangi
oleh para tamu sekedar ingin menyapanya.
Dan sekarang.. lobi-lobi bisnis pun di mulai.
Para tamu mulai serius mencari ladang uang
dengan melakukan pembicaraan seputar
dunia usaha. Sekarang ini peran asisten
dan sekretaris mulai di butuhkan.
Tanisha kini sudah berada di samping Agra,
mendampingi nya menerima para klien yang
akan menjalin kerjasama dengan dirinya.
Perhatian Agra beralih sejenak pada Kiran
yang mulai terlihat kelelahan.
"Apa kau lelah sayang..?"
Agra menatap Kiran yang mundur kemudian
duduk di kursi yang dengan sigap langsung di sediakan oleh Zack saat melihat gelagat tidak
beres terjadi pada Nona Muda nya.
"Kepalaku sedikit pusing.! kakiku juga pegal.."
Agra mendekat, lalu berjongkok di hadapan
Kiran membuat para rekan bisnis yang sedang
melakukan pembicaraan dengan nya terdiam,
hanya bisa menatap sang Presdir tanpa berani mengganggu. Agra melepas sepatu dari kaki
Kiran yang melebarkan matanya, terkejut
dengan apa yang di lakukan Agra karena
suaminya itu langsung memijat halus telapak
kakinya di letakkan di atas pahanya. Karuan
saja hal itu membuat semua orang melongo,
bengong di tempat. Tidak percaya pada apa
yang di lihatnya. Terlebih Tanisha, dia terlihat menggeleng tidak terima dengan semua
kenyataan yang ada di depan matanya.
"A-apa yang kau lakukan sayang..?"
Kiran mencoba menarik kedua kakinya dari
atas paha Agra, tapi Agra tetap menahannya
di sertai tatapan tajam penuh ancaman.
"Kakimu bisa kram kalau di biarkan..!"
"Tapi tidak perlu begini sayang..Aku baik-baik
saja. Sebentar lagi juga biasa lagi..!"
"Jangan membantah ku Kiran, aku tidak mau
kakimu terluka nanti..!
"Ya Allah.. sayang aku beneran tidak apa-apa.
Sudah lepaskan kakiku..!"
"Apa kau bisa diam Nyonya Agra..?"
Bibir Kiran langsung terkunci rapat, mata
mereka saling menatap kuat. Kiran menarik
napas berat, tidak ada pilihan baginya selain membiarkan Agra melakukan apapun sesuka
nya. Namun wajahnya kini mulai memerah
karena pijatan halus tangan Agra malah
menimbulkan getaran halus yang merambat
ke seluruh aliran darahnya membuat tubuh
nya memanas. Agra tersenyum tipis saat
menyadari Kiran mulai memanas. Mata
mereka semakin terpaut dalam.
"Agra sudah cukup.! kita sedang ada di tempat terbuka..! tidak baik jadi tontonan orang.!"
Agra mendengus, akhirnya dia mengakhiri
pijatannya. Sementara orang-orang masih
terpaku di tempat nya.
"Sebaiknya kau istirahat sekarang. Aku tidak
mau kau kelelahan..! ingat sekarang ini kau
sedang berbadan dua. !"
Desis Agra sambil kemudian mengangkat
tubuh Kiran ke dalam pangkuannya. Sontak
saja semua orang kembali bengong di tempat
melihat apa yang di lakukan oleh nya. Wajah
Kiran kini sudah semerah tomat, malu bukan
main.! Agra tetaplah Agra..yang tidak pernah
melihat situasi atau kondisi apapun kalau
menyangkut seorang Kiran. Tapi kali ini Kiran
mencoba untuk tidak menginterupsi apa yang
di lakukan oleh suaminya itu melihat situasi.
Dia hanya bisa melingkarkan tangannya di
leher kokoh Agra seraya merebahkan kepala
di dada bidang suaminya itu.
Dirga dan Aham yang berada cukup jauh dari
mereka hanya bisa menatap sambil tersenyum
tipis melihat apa yang di lakukan oleh Agra.
Mereka seolah berkaca pada diri sendiri
karena sering melakukan hal seperti itu juga.
"Permisi semuanya..seperti nya pembicaraan
kita tunda dulu sebentar.! saya akan kembali secepatnya..!"
Agra membagi pandangan pada semua tamu
yang tadi sedang berbincang dengan nya.
"Baik Presdir.. silahkan..!"
Sambut mereka serempak sambil kemudian
membungkuk hormat.
"Zack.. ikuti aku..!"
Agra berpaling pada Zack yang terlihat maju
kemudian meraih sepatu dan tas Kiran dari
atas kursi. Agra melirik kearah Tanisha yang
sedang menatapnya dengan sorot mata tidak
terbaca, sangat kompleks. Yang jelas dia tidak
terima melihat perlakuan istimewa sang bos
pada istrinya itu.
"Tanisha..kau temani para tamu..!"
Titah Agra dengan tatapan tajam yang
langsung membuat lutut Tanisha gemetar.
"Baik Presdir sesuai perintah..!"
Sahut Tanisha sambil menunduk. Agra kini
berjalan tenang menuju ruang belakang di
ikuti oleh Zack dan para pengawal. Sedang
Bara dan team khusus saat ini sedang sibuk
melayani pembicaraan para klien dan rekan
bisnis yang ingin menjalin kerjasama dengan
Bintang Group.
****** ******
Suasana pesta semakin malam semakin
minuman istimewa yang di sediakan oleh
pihak panitia. Dan pembicaraan bisnis pun
sudah lebih meningkat pada hal kerjasama.
Agra sudah kembali ke area pesta setelah
mengamankan Kiran ke tempat istirahat.
Keadaan nya kini terlihat mulai gerah karena
dari tadi tiada henti melakukan pembicaraan
dengan para klien. Lain lagi dengan Tanisha
yang terlihat sangat bersemangat karena
tidak ada sosok Kiran di samping bos nya itu.
Jadilah kini dia pendamping Agra satu-satu
nya membuat Mikhayla dan para wanita lain
nya menatap iri sekaligus kesal padanya.
Malam semakin larut.. Pesta kini menuju
puncaknya. Agra duduk melonggarkan dasi
dan membuka kancing bagian atas jas nya.
"Apa Presdir mau saya ambilkan makanan
atau minuman.? kelihatannya anda sangat
lelah..!"
Tanisha berdiri di hadapan Agra yang terlihat
sedang meregangkan otot-otot lehernya.
Agra mendongak, menatap tajam wajah
cantik Tanisha, malam ini sekertaris nya itu
mengenakkan gaun pendek selutut dengan
model yang sedikit terbuka bagian pinggir
pahanya juga bagian dadanya yang terekspos separuh. Wanita ini terlihat sangat menggoda
hingga cukup mampu menarik perhatian para
klien yang terbiasa bermain mata.
"Ambilkan aku minuman.! Non alkohol.!"
Titah Agra sambil kembali meregangkan
otot lehernya.
"Baik Presdir.. tunggu sebentar.!"
Sahut Tanisha sambil membungkuk, hatinya
saat ini berteriak histeris saking senangnya.
Tapi dia berusaha bersikap setenang mungkin
agar tidak menimbulkan kecurigaan. Secepat
nya dia berlalu ke ruang belakang.
"Apa yang kau bawa..?"
Tanisha terlonjak kaget melihat kemunculan
Bara yang tiba-tiba sudah ada di hadapannya
saat dia baru saja kembali mengambil minuman.
"Eumm..ini minuman untuk Presdir Mas Bara.
Beliau meminta saya membawakan nya.!"
Bara menatap tajam wajah Tanisha yang
terlihat tenang memasang senyum cantiknya.
Tatapannya kini beralih pada dua minuman
yang ada di tangan wanita itu.
"Yang mana minuman untuk Tuan Agra.?"
Tanisha mengangkat minuman di tangan
kanan nya yang langsung di ambil oleh Bara.
Wajah Tanisha tampak bereaksi tidak suka.
"Kenapa Mas Bara menyamakan saya dengan
musuh Presdir..? saya sekretaris nya Mas.!"
"Bukan dirimu, tapi minuman ini. Semua hal
bisa terjadi di keramaian seperti ini.!"
Tegas Bara sambil mengecek minuman itu.
Tanisha menahan napas mencoba untuk
tetap bersikap tenang. Bara menatap diam
minuman itu, kemudian menyerahkan nya
kembali ke tangan Tanisha yang menarik
napas lega.
"Pastikan Presdir tidak makan dan minum
sembarangan.! aku masih banyak urusan.!"
Titah Bara sambil kemudian berlalu pergi
dari hadapan Tanisha yang mengangguk
seraya tersenyum lebar setelah itu kembali
melangkah menghampiri Agra.
"Presdir..ini minuman anda..!"
Agra menerima minuman itu, perlahan mulai
meneguknya dengan tenang dan gaya yang
sangat elegan. Saat ini dia sedang kembali
berbincang dengan kliennya. Tanisha pun
ikut menyesap minumannya karena dari tadi
dia juga belum sempat minum. Sudut mata
indah nya tampak menatap lekat wajah
tampan Agra yang semakin membuat jiwa
nya meronta dari jarak dekat seperti ini.
Sebentar lagi kau akan jadi milikku sayang...
Kita akan menghabiskan malam panjang
bersama..
Bathin Tanisha dengan tatapan yang semakin
dalam di penuhi dengan hayalan indah.
Agra kembali melanjutkan pembicaraan
dengan kliennya untuk beberapa saat
sampai akhirnya dia mundur memegangi
kepalanya.
"Tuan..apa anda baik-baik saja..?"
Klien Agra tampak maju mendekat, khawatir
saat melihat wajah Agra kini mulai memerah.
"Saya baik-baik saja. Saya rasa kita akhiri saja
pembicaraan nya sampai di sini.!"
Ucap Agra sambil mengangkat tangannya.
"Baik Tuan..kita akan lanjutkan nanti sesuai
jadwal yang anda tetapkan. Saya permisi.!
Nona Tanisha sampai jumpa.!"
Klien tadi membungkuk dalam, kemudian
melirik sekilas kearah Tanisha yang sedang
menunduk hormat padanya.
"Apa yang terjadi Presdir..?"
Tanisha mencoba mendekat, Agra menatap
lekat wajah Tanisha dengan sorot mata yang
kini sudah berbeda. Tanisha langsung panas
dingin sambil menjerit bahagia dalam hati.
Ikan masuk perangkap.! bathin nya senang.
"Telepon manager Star Hotel..siapkan kamar
pribadiku sekarang juga.!"
"Ba-baik Presdir..!"
Tanisha segera melakukan panggilan telepon
pada manager hotel milik Agra. Reaksi Agra
tampaknya semakin tidak terkendali. Dia kini
berjalan mondar mandir.
"Kau.. ikut denganku.!"
Tanisha menganga menatap Agra yang kini
membuka jas nya. Karuan saja tubuh gagah
nya yang hanya terbungkus kemeja pas body
kini terpampang nyata di depan matanya.
"A-apa Presdir akan keluar sekarang..?"
Agra menatap tajam wajah Tanisha dengan
kabut hasrat yang kini semakin menanjak
membuat Tanisha semakin melambung.
Hampir saja dia menjerit dan berjingkrak
kalau tidak melihat situasi.
"Jangan banyak tanya, ikut aku sekarang.!
Aku harus mendinginkan suhu tubuh ku.!"
"Ta-tapi Presdir.. saya.."
"Kau akan membantu ku mendinginkan
nya. Kita pergi sekarang juga.!"
"Tapi Presdir..saya tidak mengerti maksud
anda?"
Tanisha mencoba meyakinkan dirinya.
Agra mendekat kearah Tanisha dengan
tatapan mata yang mampu membuat
jantung wanita itu seakan meloncat keluar.
"Bukankah ini yang kau inginkan.? aku
akan memberikan apa yang kau mau.!"
Bisik Agra dengan suara yang sangat berat
membuat Tanisha kehilangan kendali.
Keduanya kini melangkah keluar dari area
pesta di ikuti oleh para pengawal yang seolah
tidak faham dengan apa yang tengah menimpa
Tuan mereka saat ini.
Sampai di loby gedung Agra langsung masuk
ke dalam mobil super mewah nya di ikuti oleh
Tanisha. Keduanya duduk di dua sisi berbeda.
Dan tidak lama mobil pun mulai meluncur meninggalkan tempat tersebut.
Selama di perjalanan Agra tampak gelisah.
Dia membuka dasi nya lalu kancing kemeja
bagian atasnya membuat Tanisha semakin
tidak menguasai dirinya. Dan ada hal aneh
yang kini mulai di rasakan oleh Tanisha..
Dia mulai merasakan tubuhnya panas dan
gerah. Apa yang terjadi dengan dirinya.?
Kenapa dia juga merasakan gelagat tidak
beres ini.? seharusnya hal ini kan cuma
di rasakan oleh Agra saja.
Setengah jam kemudian mereka sampai di
hotel. Manager hotel langsung menyambut
kedatangan Agra bersama para staf hotel
lainnya. Mereka semua berjalan mengiringi
langkah Agra yang terlihat semakin kacau.
"Kalian tidak perlu mengikuti..aku sendiri
yang akan mengantar Presdir ke kamar.!"
Tegas Tanisha pada para pengawal saat
mereka tiba di depan lift.
"Baik Nona..kami akan menunggu di sini.!"
Sahut salah seorang pengawal. Agra yang
terlihat sudah kepayahan mengendalikan
hasratnya cepat-cepat masuk ke dalam lift
begitu pintu terbuka. Tanisha mengikutinya
dengan tubuh yang mulai gemetar menahan
serbuan gairah yang kini sudah membakar
seluruh aliran darahnya.
Tidak lama mereka sudah masuk ke dalam
kamar pribadi Agra yang ada di lantai teratas
hotel ini. Agra langsung menjatuhkan dirinya
ke atas tempat tidur dengan posisi terlentang.
Mata Tanisha yang sudah di penuhi oleh
kabut gairah menatap lekat sosok gagah
yang selalu di impikannya siang malam itu.
Agra membuka mata saat Tanisha mulai
mendekat kearahnya. Keduanya saling
pandang dengan sorot mata yang sudah
sama-sama menginginkan pelepasan.
"Presdir.. malam ini aku adalah milikmu..!"
Lirih Tanisha semakin maju mendekat dengan
gerakan tubuh sensual dan wajah yang sudah
sangat memerah. Namun sebelum dia dapat
menyentuh Agra pintu kamar dibuka dari luar.
Dan tiba-tiba saja sosok Mikhayla masuk ke
dalam lalu menyeret tubuh Tanisha dibawa
ke dekat pintu keluar.
"Kau pergi dari sini.! Dia milikku sekarang..! "
Tanisha yang sudah dalam pengaruh obat
tampak limbung, namun tatapan nya kini
berubah beringas terdorong oleh serbuan
berbagai napsu yang kini menguasai dirinya.
"Enak saja..! aku yang sudah membawanya
kesini. Jadi dia adalah milikku..!"
"Kau hanyalah suruhan ku..! misi mu selesai
sampai di sini, sekarang keluar..!"
"Tidak bisa, aku membutuhkan nya saat ini
untuk melepas dahagaku..!"
"Tanisha..! aku bilang keluar sekarang..!"
"Kalian berdua bisa melayani ku di sini..!"
Kedua wanita cantik itu terperanjat, menoleh
ke asal suara. Mata mereka langsung melebar
saat melihat sosok Agra tengah berdiri tidak
jauh dari tempat mereka dengan keadaan yang
membuat darah mereka langsung mendidih...
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....