Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
74. Masuk Perangkap


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Wanita yang satu kini maju dengan tatapan


penuh intimidasi. Sorot matanya menyiratkan


kemarahan dan kekesalan yang sudah tidak


bisa lagi di tahannya.


"Ternyata aku salah mengirimmu ke tempat


itu. Kau juga tidak becus bekerja. Kau malah


jatuh ke dalam pesonanya.!"


"Siapa yang tidak akan jatuh hati pada laki-laki


sehebat Tuan Agra. Kau pikir aku ini wanita


tidak normal apa.?"


"Kau pikir dirimu cukup layak untuk nya hehh?


Apa kau pikir bisa mengalahkan ku.?"


"Dia sudah memberi sinyal positif padaku.


Selama ini aku tidak pernah gagal merayu


dan menaklukan laki-laki manapun.!"


"Hooh..yaa..aku tahu, maka nya kau kutarik


untuk menjalankan misi ku ini.! Tapi ternyata


kau malah menusukku dari belakangan.!"


"Sorry..karena aku menginginkan Tuan Agra


untukku sendiri, tidak akan ku serahkan dia


padamu.!"


"Cukup ! kamu tahu benar bahwa Agra adalah


milikku.! kau hanya kacung yang aku suruh


untuk membawanya padaku.!"


"Itu kemarin.! sebelum aku tahu bahwa pria


yang kau inginkan adalah sosok yang sangat


sempurna..! sekarang aku menginginkannya


melebihi apapun.!"


"Tanisha..! aku ingatkan padamu.! jangan


main-main di belakang ku, karena aku punya


banyak kartu As yang bisa menjatuhkan


dirimu hanya dalam sekejap mata.!"


Gertak wanita yang satu yang ternyata adalah


Mikhayla. Dan wanita satu lagi adalah Tanisha.


Wajah Tanisha kini berubah sedikit pucat tapi


juga terlihat geram, dia menatap tajam wajah


Mikhayla yang terlihat merah terbakar emosi.


"Kau pikir dirimu lebih baik dariku Miss beauty,


Ciihh..kau bahkan lebih busuk dariku.!"


Geram Tanisha sambil kemudian beranjak


mau melangkah, namun tiba-tiba tangannya


di tarik lalu di cengkram oleh Mikhayla.


"Kalau kau berani berkhianat aku tidak akan segan-segan menghancurkan mu..!"


"Lepaskan aku..! kau pikir aku takut padamu?


Aku juga tidak akan tinggal diam..!"


"Ohh..jadi kau mau aku menelepon atasan


mu sekarang juga.?"


Tanisha tampak terkejut, wajahnya semakin


terlihat pucat namun juga terbakar amarah.


"Kau wanita yang sangat licik.!"


Mikhayla memperkuat cengkraman tangan


nya, matanya menyala penuh emosi.


"Dengarkan aku baik-baik..lakukan semuanya


dengan rapih, dia di kelilingi oleh orang-orang


yang sudah ahli dalam segala hal. Tapi aku


sudah menyiapkan obat yang paling canggih.


Mereka tidak akan bisa mendeteksinya.!"


Tanisha menatap geram wajah Mikhayla.


Dia menepis pegangan tangan wanita itu.


"Setelah kau puas.. berikan dia padaku.!"


Desis Tanisha yang di balas senyum miring


Mikhayla.


"Kalau malam ini berhasil, dia tidak akan bisa


lepas dariku..! dia akan kecanduan dengan


tubuhku..! dan tidak akan menginginkan


yang lain untuk memuaskan hasratnya.!"


"Cihh..! dasar wanita ular..! kau sangat licik


dan juga murahan.!"


Plak.!


Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus


Tanisha yang langsung merunduk memegangi


pipinya yang terasa sedikit panas. Dia menatap


Mikhayla dengan emosi yang meluap-luap.


"Jangan berani-berani menghinaku. Aku ini


pengusaha terkenal dengan nama besar dan


kehormatan sebagai wanita tercantik di dunia.


Sedang kau.. hanya tikus kecil.!"


Hina Mikhayla sambil menyebikkan bibirnya


kemudian melangkah pergi dari hadapan


Tanisha yang menggertakan giginya dan


mengepalkan tangannya kuat.


"Mikhayla..kita lihat saja.. siapa yang akan


hancur duluan.! dan aku pastikan bahwa


Tuan Agra hanya akan menjadi milikku..!"


Desis Tanisha sambil kembali mengusap


pipinya yang masih menyisakan panas.


Pesta terus berlanjut....


Acara pokok terus berjalan, kini panitia sedang


mengumumkan penghargaan bagi perusahaan


yang memperoleh penghargaan karena mampu


meningkatkan standar kompetensi dan nama


baik nya dengan lonjakan saham serta investasi


di perusahaan nya.


Agra kembali naik keatas panggung untuk


memberikan penghargaan secara langsung


kepada 6 pemimpin perusahaan yang berhasil


mendapatkan penghargaan ini. Suara tepuk


tangan seluruh tamu kini mewarnai suasana


kemeriahan acara penghargaan khusus ini.


Dan pesta yang sesungguhnya kini di mulai.


Para tamu di persilahkan untuk mencicipi


hidangan makan malam yang sudah tersedia.


Berbagai hidangan istimewa dan super mewah


telah di siapkan dengan sangat baik oleh pihak


panitia yang memegang acara ini.


Sambil mencicipi hidangan istimewa, para tamu


saling berbincang dan melakukan pembicaraan


bisnis dengan sesama pengusaha. Kiran tampak


setia mendampingi Agra yang terus di datangi


oleh para tamu sekedar ingin menyapanya.


Dan sekarang.. lobi-lobi bisnis pun di mulai.


Para tamu mulai serius mencari ladang uang


dengan melakukan pembicaraan seputar


dunia usaha. Sekarang ini peran asisten


dan sekretaris mulai di butuhkan.


Tanisha kini sudah berada di samping Agra,


mendampingi nya menerima para klien yang


akan menjalin kerjasama dengan dirinya.


Perhatian Agra beralih sejenak pada Kiran


yang mulai terlihat kelelahan.


"Apa kau lelah sayang..?"


Agra menatap Kiran yang mundur kemudian


duduk di kursi yang dengan sigap langsung di sediakan oleh Zack saat melihat gelagat tidak


beres terjadi pada Nona Muda nya.


"Kepalaku sedikit pusing.! kakiku juga pegal.."


Agra mendekat, lalu berjongkok di hadapan


Kiran membuat para rekan bisnis yang sedang


melakukan pembicaraan dengan nya terdiam,


hanya bisa menatap sang Presdir tanpa berani mengganggu. Agra melepas sepatu dari kaki


Kiran yang melebarkan matanya, terkejut


dengan apa yang di lakukan Agra karena


suaminya itu langsung memijat halus telapak


kakinya di letakkan di atas pahanya. Karuan


saja hal itu membuat semua orang melongo,


bengong di tempat. Tidak percaya pada apa


yang di lihatnya. Terlebih Tanisha, dia terlihat menggeleng tidak terima dengan semua


kenyataan yang ada di depan matanya.


"A-apa yang kau lakukan sayang..?"


Kiran mencoba menarik kedua kakinya dari


atas paha Agra, tapi Agra tetap menahannya


di sertai tatapan tajam penuh ancaman.


"Kakimu bisa kram kalau di biarkan..!"


"Tapi tidak perlu begini sayang..Aku baik-baik


saja. Sebentar lagi juga biasa lagi..!"


"Jangan membantah ku Kiran, aku tidak mau


kakimu terluka nanti..!


"Ya Allah.. sayang aku beneran tidak apa-apa.


Sudah lepaskan kakiku..!"


"Apa kau bisa diam Nyonya Agra..?"


Bibir Kiran langsung terkunci rapat, mata


mereka saling menatap kuat. Kiran menarik


napas berat, tidak ada pilihan baginya selain membiarkan Agra melakukan apapun sesuka


nya. Namun wajahnya kini mulai memerah


karena pijatan halus tangan Agra malah


menimbulkan getaran halus yang merambat


ke seluruh aliran darahnya membuat tubuh


nya memanas. Agra tersenyum tipis saat


menyadari Kiran mulai memanas. Mata


mereka semakin terpaut dalam.


"Agra sudah cukup.! kita sedang ada di tempat terbuka..! tidak baik jadi tontonan orang.!"


Agra mendengus, akhirnya dia mengakhiri


pijatannya. Sementara orang-orang masih


terpaku di tempat nya.


"Sebaiknya kau istirahat sekarang. Aku tidak


mau kau kelelahan..! ingat sekarang ini kau


sedang berbadan dua. !"


Desis Agra sambil kemudian mengangkat


tubuh Kiran ke dalam pangkuannya. Sontak


saja semua orang kembali bengong di tempat


melihat apa yang di lakukan oleh nya. Wajah


Kiran kini sudah semerah tomat, malu bukan


main.! Agra tetaplah Agra..yang tidak pernah


melihat situasi atau kondisi apapun kalau


menyangkut seorang Kiran. Tapi kali ini Kiran


mencoba untuk tidak menginterupsi apa yang


di lakukan oleh suaminya itu melihat situasi.


Dia hanya bisa melingkarkan tangannya di


leher kokoh Agra seraya merebahkan kepala


di dada bidang suaminya itu.


Dirga dan Aham yang berada cukup jauh dari


mereka hanya bisa menatap sambil tersenyum


tipis melihat apa yang di lakukan oleh Agra.


Mereka seolah berkaca pada diri sendiri


karena sering melakukan hal seperti itu juga.


"Permisi semuanya..seperti nya pembicaraan


kita tunda dulu sebentar.! saya akan kembali secepatnya..!"


Agra membagi pandangan pada semua tamu


yang tadi sedang berbincang dengan nya.


"Baik Presdir.. silahkan..!"


Sambut mereka serempak sambil kemudian


membungkuk hormat.


"Zack.. ikuti aku..!"


Agra berpaling pada Zack yang terlihat maju


kemudian meraih sepatu dan tas Kiran dari


atas kursi. Agra melirik kearah Tanisha yang


sedang menatapnya dengan sorot mata tidak


terbaca, sangat kompleks. Yang jelas dia tidak


terima melihat perlakuan istimewa sang bos


pada istrinya itu.


"Tanisha..kau temani para tamu..!"


Titah Agra dengan tatapan tajam yang


langsung membuat lutut Tanisha gemetar.


"Baik Presdir sesuai perintah..!"


Sahut Tanisha sambil menunduk. Agra kini


berjalan tenang menuju ruang belakang di


ikuti oleh Zack dan para pengawal. Sedang


Bara dan team khusus saat ini sedang sibuk


melayani pembicaraan para klien dan rekan


bisnis yang ingin menjalin kerjasama dengan


Bintang Group.


****** ******


Suasana pesta semakin malam semakin


minuman istimewa yang di sediakan oleh


pihak panitia. Dan pembicaraan bisnis pun


sudah lebih meningkat pada hal kerjasama.


Agra sudah kembali ke area pesta setelah


mengamankan Kiran ke tempat istirahat.


Keadaan nya kini terlihat mulai gerah karena


dari tadi tiada henti melakukan pembicaraan


dengan para klien. Lain lagi dengan Tanisha


yang terlihat sangat bersemangat karena


tidak ada sosok Kiran di samping bos nya itu.


Jadilah kini dia pendamping Agra satu-satu


nya membuat Mikhayla dan para wanita lain


nya menatap iri sekaligus kesal padanya.


Malam semakin larut.. Pesta kini menuju


puncaknya. Agra duduk melonggarkan dasi


dan membuka kancing bagian atas jas nya.


"Apa Presdir mau saya ambilkan makanan


atau minuman.? kelihatannya anda sangat


lelah..!"


Tanisha berdiri di hadapan Agra yang terlihat


sedang meregangkan otot-otot lehernya.


Agra mendongak, menatap tajam wajah


cantik Tanisha, malam ini sekertaris nya itu


mengenakkan gaun pendek selutut dengan


model yang sedikit terbuka bagian pinggir


pahanya juga bagian dadanya yang terekspos separuh. Wanita ini terlihat sangat menggoda


hingga cukup mampu menarik perhatian para


klien yang terbiasa bermain mata.


"Ambilkan aku minuman.! Non alkohol.!"


Titah Agra sambil kembali meregangkan


otot lehernya.


"Baik Presdir.. tunggu sebentar.!"


Sahut Tanisha sambil membungkuk, hatinya


saat ini berteriak histeris saking senangnya.


Tapi dia berusaha bersikap setenang mungkin


agar tidak menimbulkan kecurigaan. Secepat


nya dia berlalu ke ruang belakang.


"Apa yang kau bawa..?"


Tanisha terlonjak kaget melihat kemunculan


Bara yang tiba-tiba sudah ada di hadapannya


saat dia baru saja kembali mengambil minuman.


"Eumm..ini minuman untuk Presdir Mas Bara.


Beliau meminta saya membawakan nya.!"


Bara menatap tajam wajah Tanisha yang


terlihat tenang memasang senyum cantiknya.


Tatapannya kini beralih pada dua minuman


yang ada di tangan wanita itu.


"Yang mana minuman untuk Tuan Agra.?"


Tanisha mengangkat minuman di tangan


kanan nya yang langsung di ambil oleh Bara.


Wajah Tanisha tampak bereaksi tidak suka.


"Kenapa Mas Bara menyamakan saya dengan


musuh Presdir..? saya sekretaris nya Mas.!"


"Bukan dirimu, tapi minuman ini. Semua hal


bisa terjadi di keramaian seperti ini.!"


Tegas Bara sambil mengecek minuman itu.


Tanisha menahan napas mencoba untuk


tetap bersikap tenang. Bara menatap diam


minuman itu, kemudian menyerahkan nya


kembali ke tangan Tanisha yang menarik


napas lega.


"Pastikan Presdir tidak makan dan minum


sembarangan.! aku masih banyak urusan.!"


Titah Bara sambil kemudian berlalu pergi


dari hadapan Tanisha yang mengangguk


seraya tersenyum lebar setelah itu kembali


melangkah menghampiri Agra.


"Presdir..ini minuman anda..!"


Agra menerima minuman itu, perlahan mulai


meneguknya dengan tenang dan gaya yang


sangat elegan. Saat ini dia sedang kembali


berbincang dengan kliennya. Tanisha pun


ikut menyesap minumannya karena dari tadi


dia juga belum sempat minum. Sudut mata


indah nya tampak menatap lekat wajah


tampan Agra yang semakin membuat jiwa


nya meronta dari jarak dekat seperti ini.


Sebentar lagi kau akan jadi milikku sayang...


Kita akan menghabiskan malam panjang


bersama..


Bathin Tanisha dengan tatapan yang semakin


dalam di penuhi dengan hayalan indah.


Agra kembali melanjutkan pembicaraan


dengan kliennya untuk beberapa saat


sampai akhirnya dia mundur memegangi


kepalanya.


"Tuan..apa anda baik-baik saja..?"


Klien Agra tampak maju mendekat, khawatir


saat melihat wajah Agra kini mulai memerah.


"Saya baik-baik saja. Saya rasa kita akhiri saja


pembicaraan nya sampai di sini.!"


Ucap Agra sambil mengangkat tangannya.


"Baik Tuan..kita akan lanjutkan nanti sesuai


jadwal yang anda tetapkan. Saya permisi.!


Nona Tanisha sampai jumpa.!"


Klien tadi membungkuk dalam, kemudian


melirik sekilas kearah Tanisha yang sedang


menunduk hormat padanya.


"Apa yang terjadi Presdir..?"


Tanisha mencoba mendekat, Agra menatap


lekat wajah Tanisha dengan sorot mata yang


kini sudah berbeda. Tanisha langsung panas


dingin sambil menjerit bahagia dalam hati.


Ikan masuk perangkap.! bathin nya senang.


"Telepon manager Star Hotel..siapkan kamar


pribadiku sekarang juga.!"


"Ba-baik Presdir..!"


Tanisha segera melakukan panggilan telepon


pada manager hotel milik Agra. Reaksi Agra


tampaknya semakin tidak terkendali. Dia kini


berjalan mondar mandir.


"Kau.. ikut denganku.!"


Tanisha menganga menatap Agra yang kini


membuka jas nya. Karuan saja tubuh gagah


nya yang hanya terbungkus kemeja pas body


kini terpampang nyata di depan matanya.


"A-apa Presdir akan keluar sekarang..?"


Agra menatap tajam wajah Tanisha dengan


kabut hasrat yang kini semakin menanjak


membuat Tanisha semakin melambung.


Hampir saja dia menjerit dan berjingkrak


kalau tidak melihat situasi.


"Jangan banyak tanya, ikut aku sekarang.!


Aku harus mendinginkan suhu tubuh ku.!"


"Ta-tapi Presdir.. saya.."


"Kau akan membantu ku mendinginkan


nya. Kita pergi sekarang juga.!"


"Tapi Presdir..saya tidak mengerti maksud


anda?"


Tanisha mencoba meyakinkan dirinya.


Agra mendekat kearah Tanisha dengan


tatapan mata yang mampu membuat


jantung wanita itu seakan meloncat keluar.


"Bukankah ini yang kau inginkan.? aku


akan memberikan apa yang kau mau.!"


Bisik Agra dengan suara yang sangat berat


membuat Tanisha kehilangan kendali.


Keduanya kini melangkah keluar dari area


pesta di ikuti oleh para pengawal yang seolah


tidak faham dengan apa yang tengah menimpa


Tuan mereka saat ini.


Sampai di loby gedung Agra langsung masuk


ke dalam mobil super mewah nya di ikuti oleh


Tanisha. Keduanya duduk di dua sisi berbeda.


Dan tidak lama mobil pun mulai meluncur meninggalkan tempat tersebut.


Selama di perjalanan Agra tampak gelisah.


Dia membuka dasi nya lalu kancing kemeja


bagian atasnya membuat Tanisha semakin


tidak menguasai dirinya. Dan ada hal aneh


yang kini mulai di rasakan oleh Tanisha..


Dia mulai merasakan tubuhnya panas dan


gerah. Apa yang terjadi dengan dirinya.?


Kenapa dia juga merasakan gelagat tidak


beres ini.? seharusnya hal ini kan cuma


di rasakan oleh Agra saja.


Setengah jam kemudian mereka sampai di


hotel. Manager hotel langsung menyambut


kedatangan Agra bersama para staf hotel


lainnya. Mereka semua berjalan mengiringi


langkah Agra yang terlihat semakin kacau.


"Kalian tidak perlu mengikuti..aku sendiri


yang akan mengantar Presdir ke kamar.!"


Tegas Tanisha pada para pengawal saat


mereka tiba di depan lift.


"Baik Nona..kami akan menunggu di sini.!"


Sahut salah seorang pengawal. Agra yang


terlihat sudah kepayahan mengendalikan


hasratnya cepat-cepat masuk ke dalam lift


begitu pintu terbuka. Tanisha mengikutinya


dengan tubuh yang mulai gemetar menahan


serbuan gairah yang kini sudah membakar


seluruh aliran darahnya.


Tidak lama mereka sudah masuk ke dalam


kamar pribadi Agra yang ada di lantai teratas


hotel ini. Agra langsung menjatuhkan dirinya


ke atas tempat tidur dengan posisi terlentang.


Mata Tanisha yang sudah di penuhi oleh


kabut gairah menatap lekat sosok gagah


yang selalu di impikannya siang malam itu.


Agra membuka mata saat Tanisha mulai


mendekat kearahnya. Keduanya saling


pandang dengan sorot mata yang sudah


sama-sama menginginkan pelepasan.


"Presdir.. malam ini aku adalah milikmu..!"


Lirih Tanisha semakin maju mendekat dengan


gerakan tubuh sensual dan wajah yang sudah


sangat memerah. Namun sebelum dia dapat


menyentuh Agra pintu kamar dibuka dari luar.


Dan tiba-tiba saja sosok Mikhayla masuk ke


dalam lalu menyeret tubuh Tanisha dibawa


ke dekat pintu keluar.


"Kau pergi dari sini.! Dia milikku sekarang..! "


Tanisha yang sudah dalam pengaruh obat


tampak limbung, namun tatapan nya kini


berubah beringas terdorong oleh serbuan


berbagai napsu yang kini menguasai dirinya.


"Enak saja..! aku yang sudah membawanya


kesini. Jadi dia adalah milikku..!"


"Kau hanyalah suruhan ku..! misi mu selesai


sampai di sini, sekarang keluar..!"


"Tidak bisa, aku membutuhkan nya saat ini


untuk melepas dahagaku..!"


"Tanisha..! aku bilang keluar sekarang..!"


"Kalian berdua bisa melayani ku di sini..!"


Kedua wanita cantik itu terperanjat, menoleh


ke asal suara. Mata mereka langsung melebar


saat melihat sosok Agra tengah berdiri tidak


jauh dari tempat mereka dengan keadaan yang


membuat darah mereka langsung mendidih...


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....