Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
72. Malam Istimewa


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Pagi ini cuaca dan suasana di lingkungan


istana Hadiningrat terasa berbeda. Di penuhi


aura kebahagiaan dan keceriaan serta semangat


yang tinggi. Mentari pagi sudah menampakkan


dirinya di ufuk timur membiaskan cahaya indah


penuh kehangatan dan kenyamanan.


Hari ini akan di mulai persiapan untuk acara


resepsi pernikahan Tuan dan Nona Muda


Hadiningrat. Oleh karena itu semua pelayan


dan pekerja yang sudah mendapat tugas dan


mandat untuk mengurus semua keperluan


hari ini sudah mulai bergerak menjalankan


tugas nya masing-masing.


Suasana yang di penuhi oleh kebahagiaan ini


seolah semakin bertambah sukacita dengan


kabar kehamilan sang Nona Muda. Semua


orang yang bekerja di tempat ini turut merasa


bahagia dan berdoa untuk kebaikan keluarga


bangsawan yang sangat dermawan ini.


Pagi ini seperti biasa semua pelayan dan


pekerja bergerak pada rutinitas nya masing-


masing dengan rapi penuh dengan dedikasi.


Sementara di kamar pribadi istana utama...


Setelah sholat subuh berjamaah Kiran kembali


membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Menyembunyikan dirinya dalam rengkuhan


dan perlindungan tubuh tegap suaminya.Pagi


ini Agra sengaja membiarkan Kiran lepas dari cengkraman hasrat nya mengingat kondisi


tubuh Kiran yang masih belum stabil.


Kiran tersentak bangun dari tidurnya saat rasa


tidak nyaman akibat gejolak di dalam perutnya memaksa dirinya untuk segera pergi ke kamar


mandi. Dengan susah payah dia keluar dari kungkungan Agra kemudian dengan cepat


berlari ke kamar mandi hingga tidak sadar


pada kondisinya yang saat ini sedang hamil.


Tanpa jeda dia langsung mengeluarkan isi


perutnya yang membuat dirinya tersiksa


karena rasanya begitu mual dan pusing.


Keringat dingin kini telah membanjiri dahi


nya membuat wajahnya tampak memucat.


Agra melompat dari atas tempat tidur dengan


bertelanjang dada, berlari cepat kearah kamar


mandi saat mendengar suara kesakitan Kiran.


Dia terkesiap saat melihat Kiran sedang berjuang sendiri mengeluarkan semua gejolak dari dalam perutnya akibat efek morning sickness.


Dengan cepat dia merangkul tubuh Kiran


membantu nya sebisa mungkin dengan


memijat halus tengkuk nya. Setelah terasa


sedikit membaik Kiran kemudian berkumur


lalu Agra membasuh wajah nya perlahan.


"Kenapa tidak membangunkan ku sayang..!"


Sesal Agra seraya mengangkat tubuh lemas


Kiran ke dalam pangkuannya. Mata Kiran kini


terpejam rapat mencoba untuk menenangkan


diri meredam segala rasa tidak nyaman yang


sedang mendera tubuhnya. Agra melangkah


keluar dari kamar mandi menuju tempat tidur.


"Bawa aku ke balkon sayang, aku ingin


menghirup udara segar. !"


Agra menghentikan langkahnya, menatap


wajah Kiran yang kini merebahkan kepala


di dada bidang nya, tangan nya melingkar


kuat di leher kokoh Agra.


"Baiklah.. sesuai keinginan mu sayang.."


Agra mencium pelipis Kiran sambil berjalan


kearah balkon depan kamarnya dimana dari


sana seluruh pemandangan di area depan


istana akan terpantau semua nya.


Perlahan Agra mendudukkan dirinya dengan


posisi masih memangku tubuh Kiran. Dia


menatap lekat wajah cantik Kiran yang pagi


ini terlihat begitu bersinar walau sedikit pucat.


"Apa rasanya sangat sakit sayang..? kau


terlihat sangat menderita..!"


Kiran mendongakan kepala, keduanya kini


saling menatap kuat.


"Tidak perlu khawatir sayang..ini adalah hal


wajar dan biasa terjadi pada setiap wanita


hamil. Kalau tidak begini tidak akan terasa


nikmat nya sebuah kehamilan.."


Lirih Kiran seraya mengelus lembut wajah


sempurna suaminya yang masih saja terlihat


cemas dan tidak tenang.


"Tapi kau terlihat sangat tersiksa sayang..


aku tidak tega melihat nya.!"


"Jangan cemas, semuanya akan baik-baik


saja nanti..ini hanya di awal saja sayang.."


Agra mengangkat dagu Kiran, tatapannya


semakin dalam. Bibir mereka kini saling


memagut lembut, manis dan hangat. Rasa


mual itu kini perlahan sirna di ganti dengan


hasrat aneh yang membuat ciuman Kiran


semakin lama semakin memanas.


Namun Kiran mencoba untuk menguasai


dirinya karena sadar kondisi nya saat ini


masih sedikit lemas dan agak riskan kalau


harus berlanjut ke pergumulan panas yang


biasa nya selalu terjadi di pagi hari.


Ciuman mereka terlepas saat napas kedua


nya mulai tersengal. Sorot mata Agra tampak


mendamba, tapi Kiran menggeleng pelan.


Wajah Agra terlihat kecewa, namun dia juga


tidak bisa memaksa. Dia kembali memeluk


erat tubuh Kiran dalam pangkuan nya. Saat


ini dirinya harus meredam gejolak hasratnya


yang hampir saja tidak terkendali. Mau tidak


mau dia harus menunda keinginan nya


mengingat kondisi Kiran saat ini.


"Maaf sayang.. badanku masih lemas..!"


Lirih Kiran seraya merebahkan kembali kepala


nya di dada bidang Agra yang mampu memberi


kenyamanan dan ketenangan batin padanya.


Tangannya mengelus lembut dada polos itu


membuat Agra semakin menguatkan dirinya


agar tidak hilang kendali.


Beberapa saat kemudian...


"Minumlah sayang..!"


Kiran membuka mata lalu melihat kearah


gelas air putih yang tiba-tiba saja sudah ada


di tangan Agra. Dia menegakkan badannya


kemudian melihat ke sekitar nya, wajah nya


sedikit memerah saat menyadari di tempat


itu kini sudah ada Tata dan dua pelayan lain.


Kiran meminum air putih tadi masih berada


di pangkuan Agra. Entah kenapa dia rasanya


tidak ingin lepas dari pelukan suaminya itu.


"Nona.. anda harus sarapan lebih pagi. Ini


adalah makanan yang sudah di siapkan


oleh Nyonya Besar..!"


Tata menunjukkan hidangan lengkap di atas


meja bundar yang baru saja selesai di siapkan


oleh para pelayan. Kiran menegakkan badan,


melihat kearah meja. Wajah nya langsung


bereaksi aneh melihat hidangan tersebut


yang lagi-lagi terlihat tidak biasa. Akhirnya


dia turun dari pangkuan Agra. Mereka kini


saling pandang dengan sorot mata yang


sama-sama tidak terbaca.


"Makanlah.. Eyang lebih tahu apa yang kamu


butuhkan saat ini..!"


Agra meraih mangkuk kecil berisi makanan


berupa bubur sayuran tersebut. Kiran menatap


diam makanan itu mencoba meyakinkan diri.


"Ayo..di coba saja dulu, kalau tidak suka


jangan di teruskan.!"


Saran Agra sambil mendekatkan sendok


berisi bubur tersebut ke mulut Kiran.


"Kalau begitu saya permisi Tuan.. Nona..!"


Tata dan dua pelayan tadi membungkuk lalu


pergi dari tempat itu. Kiran kembali menatap


makanan itu, dan akhirnya dia terpaksa juga


memakan hidangan itu. Namun anehnya kini


dia tidak merasakan mual ataupun hal tidak


enak lainnya seperti yang semalam di derita


nya. Agra tampak tersenyum puas melihat


Kiran menghabiskan semua makanan nya


lewat tangannya langsung.


-------- -------


Sekitar jam 11 siang....


Kondisi Kiran saat ini sudah jauh lebih baik.


Dia sudah tidak lagi merasakan mual dan


pusing. Tubuh nya kini benar-benar bugar


setelah dia menyantap sarapan tadi pagi.


Sepertinya Eyang Putri memang seseorang


yang sarat akan ilmu dan pengalaman.


"Kau yakin sudah merasa baikan..? aku tidak


akan ke kantor kalau kondisimu tidak stabil.!"


Agra menatap lekat wajah Kiran yang entah


kenapa siang ini begitu berbeda. Dia terlihat


sangat cerah dan berseri. Kiran tersenyum


lembut, tangannya kini bergerak cekatan


memasangkan dasi di leher Agra.


"Aku sudah baikan sayang.. bahkan sangat


baik, tubuh ku juga rasa nya ringan sekali.!"


Bibir Agra tersenyum penuh arti. Dia menarik


pinggang ramping Kiran, membelit nya kuat


hingga Kiran berjingkat dengan wajah yang


kini hampir bersentuhan.


"Kalau begitu.. apa kita bisa bermain dulu


sebentar sebelum aku pergi..?"


Wajah Kiran langsung tegang, dia menggeleng


kuat sambil memundurkan wajahnya.


"Sayang..kau sudah kesiangan. A-aku juga


masih sedikit lemas, dan banyak hal yang


harus di lakukan.!"


"Bukankah kau bilang sudah baik-baik saja


sayang..? lalu kenapa sekarang beralasan.?"


"A-aku..harus ke paviliun belakang. Eyang


menyuruhku untuk datang. Akan ada tamu


yang datang berkunjung.!"


"Aku tidak menerima alasan..!"


"Sayang..aku mohon.! usia kehamilanku masih


berada di tahap awal, kita harus mengurangi


sedikit kegiatan intim sampai kondisiku ini


jauh lebih baik..!"


Agra terhenyak, menatap wajah Kiran penuh


dengan rasa tidak terima.


"Tidak ! aku tidak akan bisa melakukan itu.!


Aku tidak bisa menahan keinginan ku untuk


memiliki dirimu..!"


"Tapi ini untuk kebaikan ku dan calon anak


kita sayang.. usianya masih sangat rawan."


"Aku akan melakukannya dengan hati-hati.


Tidak akan mengganggu perkembangan nya."


Kiran terdiam, keduanya saling pandang kuat.


Tangan Kiran kembali bergerak merapihkan


dasi dan jas Agra yang sudah terpasang rapi.


"Baiklah.. kita akan lihat kondisiku nanti.Tapi


tidak dengan sekarang. Kau harus segera ke


kantor, bukankah banyak hal yang harus kau


urus untuk acara nanti malam.?"


Agra menarik napas berat kecewa. Tangan


nya mengelus lembut wajah Kiran yang saat


ini benar-benar membuat jiwanya meronta.


"Apa yang kau miliki sayang..?"


Kiran menatap Agra bingung. Mata mereka


bertaut dalam.


"Kenapa semakin hari aku semakin takut


kehilangan mu.! kau membuatku gila Kiran.!"


Kiran tertegun, dia meraup wajah tampan


Agra yang saat ini terlihat begitu menawan.


"Aku adalah milikmu seutuhnya sayang..!


Tidak ada yang perlu kau takutkan.."


Agra merengkuh tubuh Kiran ke dalam pelukan


nya. Keduanya terdiam saling memeluk erat.


Agra menciumi puncak kepala Kiran.


"Istirahatlah.. persiapkan dirimu untuk nanti


malam. Aku akan berangkat dari kantor. Kau


akan berangkat bersama dengan Zack..!"


Kiran mengangguk dengan sedikit ragu.


"Apa aku harus datang juga.? tapi untuk apa.?"


Agra mengernyitkan alis, tidak suka mendengar


ucapan Kiran. Dia melepaskan pelukannya.


"Tentu saja kau harus hadir. Aku ingin dunia


tahu bahwa kau adalah istriku..!"


Wajah Kiran tampak bersemu merah, kemudian


menunduk dengan perasaan masih saja ragu.


"Kau adalah seseorang yang sangat mulia


dan berharga. Sedang aku hanyalah wanita


biasa yang tidak memiliki apa-apa..!"


Agra mengangkat wajah Kiran, membelai


lembut wajah nya dengan tatapan teduh penuh


cinta yang langsung melelehkan hati Kiran.


"Kau boleh lah wanita biasa. Tapi satu yang


pasti kau adalah pemilik jiwa dan ragaku.!"


Kiran tersenyum lembut sambil kemudian


memeluk erat tubuh gagah suaminya itu..


****** ******


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam


di sebuah gedung mewah nan megah tempat


di selenggarakan nya Gala Dinner bertajuk


Meet Night yang di adakan oleh perusahaan


raksasa Bintang Group..Acara ini rutin di selenggarakan tiap tahunnya dengan tujuan


untuk merayakan keberhasilan perusahaan


dalam kurun waktu satu tahun.


Semua pimpinan anak perusahaan di wajib


kan untuk hadir. Dan acara inipun di hadiri


oleh banyak perusahaan besar namun dalam


kapasitas terbatas hanya untuk kalangan


tertentu saja yang pernah menjalin hubungan


kerjasama dengan pihak Bintang Group..


Suasana di dalam gedung yang sudah di


sulap menjadi tempat pesta super modern


dan canggih itu tampak gemerlap oleh


permainan lighting yang sangat memukau.


Para tamu yang baru datang langsung saja


terpukau oleh keindahan dan kemegahan


area pesta tersebut. Kali ini konsep pesta


nya adalah standing party.


Seperti biasa penjagaan yang di terapkan


adalah prosedur kelas satu, super intensive,


baik itu di area luar gedung terlebih lagi di


bagian dalam. Puluhan penjaga ber jas hitam


tampak bersiaga penuh di setiap sudut area


tempat acara berlangsung.


Saat ini hampir semua tamu sudah hadir.


Mereka tidak ingin terlambat sedikit pun


mengingat yang punya acara ini adalah


orang yang sangat berpengaruh. Dalam


kesempatan ini pun beberapa pimpinan


perusahaan besar turut hadir. Diantaranya


pimpinan perusahaan Moolay Group..juga


AM Corporation.. Dua perusahaan besar


itu adalah salah satu perusahaan rekanan


dari Bintang Group..


Kemunculan Tuan Tampan juga Si Raja Bisnis


di tempat ini sempat membuat suasana heboh


terlebih bagi para tamu wanita yang rata-rata


adalah pengusaha ternama. Dalam acara ini


memang tidak harus membawa pasangan


karena acara ini murni urusan bisnis semata.


Oleh karena itu Aham dan Dirga pun tidak


menggandeng bidadari mereka. Hanya para


asisten dan sekretaris lah yang kini menemani


para tamu itu datang ke tempat ini.


Kedua orang penting itu langsung di sambut


oleh hampir semua tamu yang telah hadir.


Mereka semua begitu hormat dan segan pada


kedua nya yang tampak menonjol di antara


tamu-tamu yang lainnya.


"Tuan Moolay.. senang berjumpa dengan


anda di tempat ini..!"


Aham berjabat tangan dengan Dirga yang


tampak tersenyum tenang membalas jabatan


tangan Aham. Keduanya saling menepuk


punggung tangan penuh keakraban.


"Saya juga senang bisa bertemu anda di sini.


Kelihatannya anda selalu tampil menawan


di setiap kesempatan hahaa..!"


Kedua orang itu tertawa senang membuat


semua tamu yang ada di sana bengong karena


ini adalah sesuatu hal yang cukup ajaib bisa


mendengar tawa kedua orang yang terkenal


sangat dingin dan angkuh itu.


"Tentu saja anda lebih mempesona dari saya,


karena anda adalah senior saya..!"


Balas Aham membuat tawa mereka berlanjut.


Lee dan Leo terlihat saling lirik dengan mimik


wajah di penuhi rasa tidak percaya.


"Bagaimana kabarnya istri dan putri cantik


mu Tuan Abraham.?"


Dirga terlihat antusias membicarakan soal


keluarga mereka. Aham tampak tersenyum


tenang dengan wajah sedikit berbinar.


"Alhamdulillah..mereka berdua dalam keadaan


baik. Putri saya adalah berlian yang sangat


berharga dalam kehidupan saya sekarang..!"


"Ohh..jadi ibunya sekarang ini tidak cukup


penting bagi anda. ?"


Aham kembali tertawa kecil menggeleng


jengah mendengar ledekan Dirga.


"Kalau ibunya tidak perlu di sebutkan lagi..


karena dia adalah napas dan kehidupan saya


Tuan Moolay..!"


Dirga mengangguk setuju dengan ucapan


Aham.


"Persis ! bagi kita..istri dan anak ibarat darah


dan daging kita, keduanya terhubung dengan


kita, akan selalu menjadi penyemangat hidup


kita..!"


"Betul Tuan Moolay..! Ngomong-ngomong


putra anda pasti sudah besar sekarang.? Dia


pasti sangat tampan bukan.? "


"Hemm..dia sudah mulai sekolah usia dini


sekarang. Tentu saja.. ketampanan putraku


akan mengalahkan dirimu nanti..!"


Tawa mereka kembali terdengar, bahkan kali


ini lebih nyaring. Lee dan Leo lagi-lagi hanya


bisa menatap diam bos mereka dengan sorot


mata sedikit syok. Malam ini benar-benar luar


biasa, bisa membuat kedua gunung es itu


mencair seketika. Perbincangan mereka kini


berlanjut pada urusan bisnis, urusan dunia.!


Sampai dengan kegaduhan kini terjadi dari


arah pintu masuk karena sang Tuan rumah


muncul di sana. Semua tamu tidak terkecuali


langsung mengambil posisi berdiri di kanan


kiri jalan yang akan di lalui oleh Agra.


Malam ini Agra tampil gagah dan memukau


dalam balutan setelan jas mengkilap yang


terlihat begitu pas membungkus sosok tinggi


tegap nya dengan aura bangsawan yang sangat menyilaukan. Sosoknya begitu istimewa dan


tidak terbantahkan. Selain memiliki daya tarik


luar biasa bagi lawan jenis nya Agra juga


memiliki aura berbeda yang bisa membuat


semua orang tunduk dan segan saat berada


di dekatnya, kharismanya luar biasa kuat.


"Selamat malam Presdir...!"


Sambut para tamu sambil membungkuk


rendah dengan wajah tegang karena Agra


masih terlihat berdiri di tempat, mengedarkan pandangan ke seluruh area pesta. Kemudian


dia mengangkat tangannya sedikit memberi


isyarat agar mereka kembali menegakkan badan.


Tidak lama dia mulai berjalan tenang dan


gagah di selubungi aura kehadiran yang


sangat menggetarkan. Langkahnya pasti


di iringi oleh 10 orang staf pribadi nya yang


juga berpenampilan memukau. Bara setia


mendampingi Tuan nya dengan wajah datar


tanpa ekspresi.


Selama Agra berjalan.. tidak ada yang berani


bergerak dari tempatnya. Mereka semua tetap


menundukkan kepala penuh hormat. Sedang


Aham dan Dirga kini berdiri tenang di area


utama menanti kedatangan sang Tuan Rumah


yang cukup membuat mata mereka berdua


tidak berkedip. Ini adalah kali pertama mereka


berdua bisa melihat penampakan sosok Tuan


Agra Bintang yang terkenal misterius itu.


Selama ini setiap kali ada pertemuan atau


undangan, Agra tidak pernah tampil secara


langsung, sebab dia akan di wakili oleh 10


orang staf khusus nya itu. Oleh karena itu


sosok Agra tidak begitu di ketahui publik


seakan hanya menjadi sebuah mitos saja


tentang keberadaan nya.


Sampai dengan kemarin pada saat prosesi


penjemputan, barulah dia menampakkan diri


nya di hadapan dunia. Dan hal itu membuat


geger komunitas kelas atas mengetahui fakta


bahwa Bimantara Agra Bintang adalah sosok


pria yang luar biasa tampan di balik sikap


dingin dan perlakuan acuh tak acuh nya.!


Agra berhenti di area utama pesta yang hanya


akan di masuki oleh para tamu kelas VVIP saja.


Matanya kini menatap kearah kehadiran 4 tamu


penting, dua diantara nya adalah Dirga dan


Aham. Lee dan Leo langsung membungkuk


hormat di hadapan Agra dengan lutut sedikit


gemetar melihat tatapan intimidasi Agra


mampu mengeluarkan aura yang cukup


melemaskan lutut. Kedua asisten itu sampai


berdecak heran dengan sosok istimewa ini.


"Selamat malam..Tuan Bimantara..!"


Dirga dan Aham hampir bersamaan dengan


dua tamu lainnnya menyambut kedatangan


Agra dengan menundukkan kepala sedikit


di sambut antusias oleh Agra dengan sama-


sama menundukkan kepala nya.


"Selamat malam..Tuan Moolay.. selamat


malam Tuan Mahendra..! Terimakasih anda


berdua telah menyempatkan diri untuk hadir


di acara ini..!"


Sambut Agra sambil berjabat tangan dengan


kedua tamu terhormat itu. Mereka tampak


tersenyum santun penuh keakraban. Agra


berpaling pada dua tamu lainnya yang


berasal dari luar negri yang sudah sangat


akrab dengan Dirga maupun Aham karena


kedua tamu itu adalah investor besar..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC......