
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Pagi ini cuaca dan suasana di lingkungan
istana Hadiningrat terasa berbeda. Di penuhi
aura kebahagiaan dan keceriaan serta semangat
yang tinggi. Mentari pagi sudah menampakkan
dirinya di ufuk timur membiaskan cahaya indah
penuh kehangatan dan kenyamanan.
Hari ini akan di mulai persiapan untuk acara
resepsi pernikahan Tuan dan Nona Muda
Hadiningrat. Oleh karena itu semua pelayan
dan pekerja yang sudah mendapat tugas dan
mandat untuk mengurus semua keperluan
hari ini sudah mulai bergerak menjalankan
tugas nya masing-masing.
Suasana yang di penuhi oleh kebahagiaan ini
seolah semakin bertambah sukacita dengan
kabar kehamilan sang Nona Muda. Semua
orang yang bekerja di tempat ini turut merasa
bahagia dan berdoa untuk kebaikan keluarga
bangsawan yang sangat dermawan ini.
Pagi ini seperti biasa semua pelayan dan
pekerja bergerak pada rutinitas nya masing-
masing dengan rapi penuh dengan dedikasi.
Sementara di kamar pribadi istana utama...
Setelah sholat subuh berjamaah Kiran kembali
membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Menyembunyikan dirinya dalam rengkuhan
dan perlindungan tubuh tegap suaminya.Pagi
ini Agra sengaja membiarkan Kiran lepas dari cengkraman hasrat nya mengingat kondisi
tubuh Kiran yang masih belum stabil.
Kiran tersentak bangun dari tidurnya saat rasa
tidak nyaman akibat gejolak di dalam perutnya memaksa dirinya untuk segera pergi ke kamar
mandi. Dengan susah payah dia keluar dari kungkungan Agra kemudian dengan cepat
berlari ke kamar mandi hingga tidak sadar
pada kondisinya yang saat ini sedang hamil.
Tanpa jeda dia langsung mengeluarkan isi
perutnya yang membuat dirinya tersiksa
karena rasanya begitu mual dan pusing.
Keringat dingin kini telah membanjiri dahi
nya membuat wajahnya tampak memucat.
Agra melompat dari atas tempat tidur dengan
bertelanjang dada, berlari cepat kearah kamar
mandi saat mendengar suara kesakitan Kiran.
Dia terkesiap saat melihat Kiran sedang berjuang sendiri mengeluarkan semua gejolak dari dalam perutnya akibat efek morning sickness.
Dengan cepat dia merangkul tubuh Kiran
membantu nya sebisa mungkin dengan
memijat halus tengkuk nya. Setelah terasa
sedikit membaik Kiran kemudian berkumur
lalu Agra membasuh wajah nya perlahan.
"Kenapa tidak membangunkan ku sayang..!"
Sesal Agra seraya mengangkat tubuh lemas
Kiran ke dalam pangkuannya. Mata Kiran kini
terpejam rapat mencoba untuk menenangkan
diri meredam segala rasa tidak nyaman yang
sedang mendera tubuhnya. Agra melangkah
keluar dari kamar mandi menuju tempat tidur.
"Bawa aku ke balkon sayang, aku ingin
menghirup udara segar. !"
Agra menghentikan langkahnya, menatap
wajah Kiran yang kini merebahkan kepala
di dada bidang nya, tangan nya melingkar
kuat di leher kokoh Agra.
"Baiklah.. sesuai keinginan mu sayang.."
Agra mencium pelipis Kiran sambil berjalan
kearah balkon depan kamarnya dimana dari
sana seluruh pemandangan di area depan
istana akan terpantau semua nya.
Perlahan Agra mendudukkan dirinya dengan
posisi masih memangku tubuh Kiran. Dia
menatap lekat wajah cantik Kiran yang pagi
ini terlihat begitu bersinar walau sedikit pucat.
"Apa rasanya sangat sakit sayang..? kau
terlihat sangat menderita..!"
Kiran mendongakan kepala, keduanya kini
saling menatap kuat.
"Tidak perlu khawatir sayang..ini adalah hal
wajar dan biasa terjadi pada setiap wanita
hamil. Kalau tidak begini tidak akan terasa
nikmat nya sebuah kehamilan.."
Lirih Kiran seraya mengelus lembut wajah
sempurna suaminya yang masih saja terlihat
cemas dan tidak tenang.
"Tapi kau terlihat sangat tersiksa sayang..
aku tidak tega melihat nya.!"
"Jangan cemas, semuanya akan baik-baik
saja nanti..ini hanya di awal saja sayang.."
Agra mengangkat dagu Kiran, tatapannya
semakin dalam. Bibir mereka kini saling
memagut lembut, manis dan hangat. Rasa
mual itu kini perlahan sirna di ganti dengan
hasrat aneh yang membuat ciuman Kiran
semakin lama semakin memanas.
Namun Kiran mencoba untuk menguasai
dirinya karena sadar kondisi nya saat ini
masih sedikit lemas dan agak riskan kalau
harus berlanjut ke pergumulan panas yang
biasa nya selalu terjadi di pagi hari.
Ciuman mereka terlepas saat napas kedua
nya mulai tersengal. Sorot mata Agra tampak
mendamba, tapi Kiran menggeleng pelan.
Wajah Agra terlihat kecewa, namun dia juga
tidak bisa memaksa. Dia kembali memeluk
erat tubuh Kiran dalam pangkuan nya. Saat
ini dirinya harus meredam gejolak hasratnya
yang hampir saja tidak terkendali. Mau tidak
mau dia harus menunda keinginan nya
mengingat kondisi Kiran saat ini.
"Maaf sayang.. badanku masih lemas..!"
Lirih Kiran seraya merebahkan kembali kepala
nya di dada bidang Agra yang mampu memberi
kenyamanan dan ketenangan batin padanya.
Tangannya mengelus lembut dada polos itu
membuat Agra semakin menguatkan dirinya
agar tidak hilang kendali.
Beberapa saat kemudian...
"Minumlah sayang..!"
Kiran membuka mata lalu melihat kearah
gelas air putih yang tiba-tiba saja sudah ada
di tangan Agra. Dia menegakkan badannya
kemudian melihat ke sekitar nya, wajah nya
sedikit memerah saat menyadari di tempat
itu kini sudah ada Tata dan dua pelayan lain.
Kiran meminum air putih tadi masih berada
di pangkuan Agra. Entah kenapa dia rasanya
tidak ingin lepas dari pelukan suaminya itu.
"Nona.. anda harus sarapan lebih pagi. Ini
adalah makanan yang sudah di siapkan
oleh Nyonya Besar..!"
Tata menunjukkan hidangan lengkap di atas
meja bundar yang baru saja selesai di siapkan
oleh para pelayan. Kiran menegakkan badan,
melihat kearah meja. Wajah nya langsung
bereaksi aneh melihat hidangan tersebut
yang lagi-lagi terlihat tidak biasa. Akhirnya
dia turun dari pangkuan Agra. Mereka kini
saling pandang dengan sorot mata yang
sama-sama tidak terbaca.
"Makanlah.. Eyang lebih tahu apa yang kamu
butuhkan saat ini..!"
Agra meraih mangkuk kecil berisi makanan
berupa bubur sayuran tersebut. Kiran menatap
diam makanan itu mencoba meyakinkan diri.
"Ayo..di coba saja dulu, kalau tidak suka
jangan di teruskan.!"
Saran Agra sambil mendekatkan sendok
berisi bubur tersebut ke mulut Kiran.
"Kalau begitu saya permisi Tuan.. Nona..!"
Tata dan dua pelayan tadi membungkuk lalu
pergi dari tempat itu. Kiran kembali menatap
makanan itu, dan akhirnya dia terpaksa juga
memakan hidangan itu. Namun anehnya kini
dia tidak merasakan mual ataupun hal tidak
enak lainnya seperti yang semalam di derita
nya. Agra tampak tersenyum puas melihat
Kiran menghabiskan semua makanan nya
lewat tangannya langsung.
-------- -------
Sekitar jam 11 siang....
Kondisi Kiran saat ini sudah jauh lebih baik.
Dia sudah tidak lagi merasakan mual dan
pusing. Tubuh nya kini benar-benar bugar
setelah dia menyantap sarapan tadi pagi.
Sepertinya Eyang Putri memang seseorang
yang sarat akan ilmu dan pengalaman.
"Kau yakin sudah merasa baikan..? aku tidak
akan ke kantor kalau kondisimu tidak stabil.!"
Agra menatap lekat wajah Kiran yang entah
kenapa siang ini begitu berbeda. Dia terlihat
sangat cerah dan berseri. Kiran tersenyum
lembut, tangannya kini bergerak cekatan
memasangkan dasi di leher Agra.
"Aku sudah baikan sayang.. bahkan sangat
baik, tubuh ku juga rasa nya ringan sekali.!"
Bibir Agra tersenyum penuh arti. Dia menarik
pinggang ramping Kiran, membelit nya kuat
hingga Kiran berjingkat dengan wajah yang
kini hampir bersentuhan.
"Kalau begitu.. apa kita bisa bermain dulu
sebentar sebelum aku pergi..?"
Wajah Kiran langsung tegang, dia menggeleng
kuat sambil memundurkan wajahnya.
"Sayang..kau sudah kesiangan. A-aku juga
masih sedikit lemas, dan banyak hal yang
harus di lakukan.!"
"Bukankah kau bilang sudah baik-baik saja
sayang..? lalu kenapa sekarang beralasan.?"
"A-aku..harus ke paviliun belakang. Eyang
menyuruhku untuk datang. Akan ada tamu
yang datang berkunjung.!"
"Aku tidak menerima alasan..!"
"Sayang..aku mohon.! usia kehamilanku masih
berada di tahap awal, kita harus mengurangi
sedikit kegiatan intim sampai kondisiku ini
jauh lebih baik..!"
Agra terhenyak, menatap wajah Kiran penuh
dengan rasa tidak terima.
"Tidak ! aku tidak akan bisa melakukan itu.!
Aku tidak bisa menahan keinginan ku untuk
memiliki dirimu..!"
"Tapi ini untuk kebaikan ku dan calon anak
kita sayang.. usianya masih sangat rawan."
"Aku akan melakukannya dengan hati-hati.
Tidak akan mengganggu perkembangan nya."
Kiran terdiam, keduanya saling pandang kuat.
Tangan Kiran kembali bergerak merapihkan
dasi dan jas Agra yang sudah terpasang rapi.
"Baiklah.. kita akan lihat kondisiku nanti.Tapi
tidak dengan sekarang. Kau harus segera ke
kantor, bukankah banyak hal yang harus kau
urus untuk acara nanti malam.?"
Agra menarik napas berat kecewa. Tangan
nya mengelus lembut wajah Kiran yang saat
ini benar-benar membuat jiwanya meronta.
"Apa yang kau miliki sayang..?"
Kiran menatap Agra bingung. Mata mereka
bertaut dalam.
"Kenapa semakin hari aku semakin takut
kehilangan mu.! kau membuatku gila Kiran.!"
Kiran tertegun, dia meraup wajah tampan
Agra yang saat ini terlihat begitu menawan.
"Aku adalah milikmu seutuhnya sayang..!
Tidak ada yang perlu kau takutkan.."
Agra merengkuh tubuh Kiran ke dalam pelukan
nya. Keduanya terdiam saling memeluk erat.
Agra menciumi puncak kepala Kiran.
"Istirahatlah.. persiapkan dirimu untuk nanti
malam. Aku akan berangkat dari kantor. Kau
akan berangkat bersama dengan Zack..!"
Kiran mengangguk dengan sedikit ragu.
"Apa aku harus datang juga.? tapi untuk apa.?"
Agra mengernyitkan alis, tidak suka mendengar
ucapan Kiran. Dia melepaskan pelukannya.
"Tentu saja kau harus hadir. Aku ingin dunia
tahu bahwa kau adalah istriku..!"
Wajah Kiran tampak bersemu merah, kemudian
menunduk dengan perasaan masih saja ragu.
"Kau adalah seseorang yang sangat mulia
dan berharga. Sedang aku hanyalah wanita
biasa yang tidak memiliki apa-apa..!"
Agra mengangkat wajah Kiran, membelai
lembut wajah nya dengan tatapan teduh penuh
cinta yang langsung melelehkan hati Kiran.
"Kau boleh lah wanita biasa. Tapi satu yang
pasti kau adalah pemilik jiwa dan ragaku.!"
Kiran tersenyum lembut sambil kemudian
memeluk erat tubuh gagah suaminya itu..
****** ******
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam
di sebuah gedung mewah nan megah tempat
di selenggarakan nya Gala Dinner bertajuk
Meet Night yang di adakan oleh perusahaan
raksasa Bintang Group..Acara ini rutin di selenggarakan tiap tahunnya dengan tujuan
untuk merayakan keberhasilan perusahaan
dalam kurun waktu satu tahun.
Semua pimpinan anak perusahaan di wajib
kan untuk hadir. Dan acara inipun di hadiri
oleh banyak perusahaan besar namun dalam
kapasitas terbatas hanya untuk kalangan
tertentu saja yang pernah menjalin hubungan
kerjasama dengan pihak Bintang Group..
Suasana di dalam gedung yang sudah di
sulap menjadi tempat pesta super modern
dan canggih itu tampak gemerlap oleh
permainan lighting yang sangat memukau.
Para tamu yang baru datang langsung saja
terpukau oleh keindahan dan kemegahan
area pesta tersebut. Kali ini konsep pesta
nya adalah standing party.
Seperti biasa penjagaan yang di terapkan
adalah prosedur kelas satu, super intensive,
baik itu di area luar gedung terlebih lagi di
bagian dalam. Puluhan penjaga ber jas hitam
tampak bersiaga penuh di setiap sudut area
tempat acara berlangsung.
Saat ini hampir semua tamu sudah hadir.
Mereka tidak ingin terlambat sedikit pun
mengingat yang punya acara ini adalah
orang yang sangat berpengaruh. Dalam
kesempatan ini pun beberapa pimpinan
perusahaan besar turut hadir. Diantaranya
pimpinan perusahaan Moolay Group..juga
AM Corporation.. Dua perusahaan besar
itu adalah salah satu perusahaan rekanan
dari Bintang Group..
Kemunculan Tuan Tampan juga Si Raja Bisnis
di tempat ini sempat membuat suasana heboh
terlebih bagi para tamu wanita yang rata-rata
adalah pengusaha ternama. Dalam acara ini
memang tidak harus membawa pasangan
karena acara ini murni urusan bisnis semata.
Oleh karena itu Aham dan Dirga pun tidak
menggandeng bidadari mereka. Hanya para
asisten dan sekretaris lah yang kini menemani
para tamu itu datang ke tempat ini.
Kedua orang penting itu langsung di sambut
oleh hampir semua tamu yang telah hadir.
Mereka semua begitu hormat dan segan pada
kedua nya yang tampak menonjol di antara
tamu-tamu yang lainnya.
"Tuan Moolay.. senang berjumpa dengan
anda di tempat ini..!"
Aham berjabat tangan dengan Dirga yang
tampak tersenyum tenang membalas jabatan
tangan Aham. Keduanya saling menepuk
punggung tangan penuh keakraban.
"Saya juga senang bisa bertemu anda di sini.
Kelihatannya anda selalu tampil menawan
di setiap kesempatan hahaa..!"
Kedua orang itu tertawa senang membuat
semua tamu yang ada di sana bengong karena
ini adalah sesuatu hal yang cukup ajaib bisa
mendengar tawa kedua orang yang terkenal
sangat dingin dan angkuh itu.
"Tentu saja anda lebih mempesona dari saya,
karena anda adalah senior saya..!"
Balas Aham membuat tawa mereka berlanjut.
Lee dan Leo terlihat saling lirik dengan mimik
wajah di penuhi rasa tidak percaya.
"Bagaimana kabarnya istri dan putri cantik
mu Tuan Abraham.?"
Dirga terlihat antusias membicarakan soal
keluarga mereka. Aham tampak tersenyum
tenang dengan wajah sedikit berbinar.
"Alhamdulillah..mereka berdua dalam keadaan
baik. Putri saya adalah berlian yang sangat
berharga dalam kehidupan saya sekarang..!"
"Ohh..jadi ibunya sekarang ini tidak cukup
penting bagi anda. ?"
Aham kembali tertawa kecil menggeleng
jengah mendengar ledekan Dirga.
"Kalau ibunya tidak perlu di sebutkan lagi..
karena dia adalah napas dan kehidupan saya
Tuan Moolay..!"
Dirga mengangguk setuju dengan ucapan
Aham.
"Persis ! bagi kita..istri dan anak ibarat darah
dan daging kita, keduanya terhubung dengan
kita, akan selalu menjadi penyemangat hidup
kita..!"
"Betul Tuan Moolay..! Ngomong-ngomong
putra anda pasti sudah besar sekarang.? Dia
pasti sangat tampan bukan.? "
"Hemm..dia sudah mulai sekolah usia dini
sekarang. Tentu saja.. ketampanan putraku
akan mengalahkan dirimu nanti..!"
Tawa mereka kembali terdengar, bahkan kali
ini lebih nyaring. Lee dan Leo lagi-lagi hanya
bisa menatap diam bos mereka dengan sorot
mata sedikit syok. Malam ini benar-benar luar
biasa, bisa membuat kedua gunung es itu
mencair seketika. Perbincangan mereka kini
berlanjut pada urusan bisnis, urusan dunia.!
Sampai dengan kegaduhan kini terjadi dari
arah pintu masuk karena sang Tuan rumah
muncul di sana. Semua tamu tidak terkecuali
langsung mengambil posisi berdiri di kanan
kiri jalan yang akan di lalui oleh Agra.
Malam ini Agra tampil gagah dan memukau
dalam balutan setelan jas mengkilap yang
terlihat begitu pas membungkus sosok tinggi
tegap nya dengan aura bangsawan yang sangat menyilaukan. Sosoknya begitu istimewa dan
tidak terbantahkan. Selain memiliki daya tarik
luar biasa bagi lawan jenis nya Agra juga
memiliki aura berbeda yang bisa membuat
semua orang tunduk dan segan saat berada
di dekatnya, kharismanya luar biasa kuat.
"Selamat malam Presdir...!"
Sambut para tamu sambil membungkuk
rendah dengan wajah tegang karena Agra
masih terlihat berdiri di tempat, mengedarkan pandangan ke seluruh area pesta. Kemudian
dia mengangkat tangannya sedikit memberi
isyarat agar mereka kembali menegakkan badan.
Tidak lama dia mulai berjalan tenang dan
gagah di selubungi aura kehadiran yang
sangat menggetarkan. Langkahnya pasti
di iringi oleh 10 orang staf pribadi nya yang
juga berpenampilan memukau. Bara setia
mendampingi Tuan nya dengan wajah datar
tanpa ekspresi.
Selama Agra berjalan.. tidak ada yang berani
bergerak dari tempatnya. Mereka semua tetap
menundukkan kepala penuh hormat. Sedang
Aham dan Dirga kini berdiri tenang di area
utama menanti kedatangan sang Tuan Rumah
yang cukup membuat mata mereka berdua
tidak berkedip. Ini adalah kali pertama mereka
berdua bisa melihat penampakan sosok Tuan
Agra Bintang yang terkenal misterius itu.
Selama ini setiap kali ada pertemuan atau
undangan, Agra tidak pernah tampil secara
langsung, sebab dia akan di wakili oleh 10
orang staf khusus nya itu. Oleh karena itu
sosok Agra tidak begitu di ketahui publik
seakan hanya menjadi sebuah mitos saja
tentang keberadaan nya.
Sampai dengan kemarin pada saat prosesi
penjemputan, barulah dia menampakkan diri
nya di hadapan dunia. Dan hal itu membuat
geger komunitas kelas atas mengetahui fakta
bahwa Bimantara Agra Bintang adalah sosok
pria yang luar biasa tampan di balik sikap
dingin dan perlakuan acuh tak acuh nya.!
Agra berhenti di area utama pesta yang hanya
akan di masuki oleh para tamu kelas VVIP saja.
Matanya kini menatap kearah kehadiran 4 tamu
penting, dua diantara nya adalah Dirga dan
Aham. Lee dan Leo langsung membungkuk
hormat di hadapan Agra dengan lutut sedikit
gemetar melihat tatapan intimidasi Agra
mampu mengeluarkan aura yang cukup
melemaskan lutut. Kedua asisten itu sampai
berdecak heran dengan sosok istimewa ini.
"Selamat malam..Tuan Bimantara..!"
Dirga dan Aham hampir bersamaan dengan
dua tamu lainnnya menyambut kedatangan
Agra dengan menundukkan kepala sedikit
di sambut antusias oleh Agra dengan sama-
sama menundukkan kepala nya.
"Selamat malam..Tuan Moolay.. selamat
malam Tuan Mahendra..! Terimakasih anda
berdua telah menyempatkan diri untuk hadir
di acara ini..!"
Sambut Agra sambil berjabat tangan dengan
kedua tamu terhormat itu. Mereka tampak
tersenyum santun penuh keakraban. Agra
berpaling pada dua tamu lainnya yang
berasal dari luar negri yang sudah sangat
akrab dengan Dirga maupun Aham karena
kedua tamu itu adalah investor besar..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC......