Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
64. Di Buru Wartawan


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Ingin rasanya waktu berhenti saat ini juga, hanya


untuk mereka berdua. Khayalan Tanisha terbang


ke langit tertinggi. Kalau bisa ingin sekali dirinya


menyergap bibir seksi itu dan menikmati sepuas


nya untuk menghilangkan dahaga jiwanya yang


kini seakan membuat nya hampir tidak mampu


mengendalikan diri nya. Dalam waktu sekejap


dia telah jatuh cinta pada pesona bos nya itu.


"Kalau kamu tidak bisa mengendalikan diri ,


sebaiknya belajar bersikap terlebih dahulu.!"


Ucap Agra dengan suara yang sangat dingin dan


tatapan mata yang menembus jantung seraya membawa tubuh Tanisha untuk berdiri. Dengan


wajah yang sudah memerah seluruhnya Tanisha


cepat-cepat menegakkan badannya. Tubuhnya


saat ini terasa lemas, Agra membenahi dasinya.


"Maafkan kecerobohan saya Presdir..!"


Tanisha membungkuk dalam. Agra menatap


nya datar, namun ada reaksi sedikit samar dari


wajahnya yang super dingin.


"Lain kali jangan pernah mengulanginya lagi,


bersikaplah profesional. Aku tidak pernah


mentolerir kecerobohan sekecil apapun


yang terjadi di hadapan ku..!"


"Baik Presdir.. sekali lagi maafkan saya..!"


"Berapa lama kamu bekerja di bidang ini.? aku


tidak ingin bawahan ku bekerja tidak sesuai


dengan standar kompetensi.!"


"Tiga tahun Presdir..! semua ada dalam CV


saya.. beserta surat rekomendasi dari pihak


perusahaan terdahulu dan agen saya.!"


"Baiklah.. bekerja lah dengan profesional.!"


"Baik Presdir.. terimakasih.!"


Tanisha kembali membungkuk rendah,Tuhan..


bagaimana dirinya bisa bersikap tenang kalau


di hadapkan pada pesona sedahsyat ini. Dia


benar-benar tidak menduga kalau bos nya akan


se gentle ini. Siapa yang kuat menahan diri


untuk tidak jatuh hati pada pria model begini.


Agra mulai melangkah tenang keluar dari


ruangannya. Tanisha mengikutinya masih


dengan perasaan yang mengawang. Para


sekretaris lain terlihat menatap iri kearah


Tanisha yang kini akan menjadi pendamping


Bos besar nya itu di setiap kegiatan pentingnya.


Mereka berdua akhirnya turun ke lantai 25


dimana ruangan meeting khusus berada.


Sambil berjalan Agra meraih ponsel dari


saku jas nya dan melakukan panggilan.


"Assalamualaikum sayang..!"


Terdengar sambutan dari sebrang sana.


"Waalaikumsalam.. dimana kamu.? apa sudah


di perjalanan ke butik Michelle..?"


"Iya sayang..aku sudah di jalan nih, kenapa..


apa ada sesuatu yang penting.?"


Agra tersenyum tipis, hatinya terasa tenang saat


mendengar suara wanita yang setiap detik selalu


memenuhi pikirannya. Sementara Tanisha yang


ada di belakang nya terlihat bereaksi, jelas sekali


dia mendengar kalau bos nya itu berbicara dengan sangat lembut. Apa dia sedang berbicara dengan


istri beruntung nya itu.? wajah Tanisha sedikit


memerah dengan perasaan tidak nyaman.


"Nanti siang datang lah ke restauran biasa, kita


makan siang di sana, sekalian aku ada pertemuan


di tempat itu setelah makan siang..!"


"Baiklah sayang.. sesuai permintaan mu.! Aku


akan kesana nanti setelah semua nya beres."


"Apa kamu sedang memikirkan ku sekarang ?"


Tidak ada sahutan dari sana, Agra menautkan


alisnya dengan tampang tidak suka.


"Kiran.. pikiran mu ada dimana saat ini .?"


"Tentu saja di hatimu sayang.. kenapa kamu


harus bertanya lagi.?"


Bibir Agra terangkat sedikit dengan mata yang


tampak berbinar. Tanisha mengepalkan tangan


nya kuat mendengar obrolan Agra. Bukan nya


dia bermaksud menguping, tapi mau tidak mau


pembicaraan di telepon itu terdengar jelas oleh


nya yang kini berjalan di belakang bos nya itu.


"Baiklah..hati-hati..kalau urusan nya sudah


beres langsung saja pergi ke restaurant itu,


tunggu aku di sana oke..?!"


"Baiklah..aku tunggu di sana ya..!"


Agra menutup telponnya, wajah nya terlihat


cerah dan penuh semangat. Hati Tanisha kini


di penuhi oleh perasaan resah dan tidak enak


sekaligus penasaran dengan wanita beruntung


yang sudah berhasil menjadi istri seorang cucu


tunggal keluarga Hadiningrat itu. Namun entah


kenapa ada keyakinan dalam hatinya kalau


wanita itu hanyalah sedang beruntung saja.


Agra masuk ke dalam ruang pertemuan di sambut


hormat oleh jajaran dewan direksi dan para staf


khusus yang memegang jabatan penting dalam


perusahaan nya dengan membungkuk serempak.


"Selamat siang Presdir.. selamat datang.."


Agra mengangkat tangannya, kemudian dia


memberi isyarat agar semuanya kembali pada


posisi semula. Untuk beberapa saat para peserta


meeting tampak menatap terpesona pada sang


sekretaris baru Presdir mereka yang saat ini


sedang menyiapkan segala keperluan bos nya


dengan gaya yang sangat anggun dan elegan.


Bara langsung berdehem mengingatkan semua


orang agar kembali fokus pada pertemuan nya.


Mereka tampak menundukkan kepala dengan


rasa malu sekaligus penasaran.


"Baiklah.. kita mulai saja pertemuan kali ini


karena aku sedang tidak punya banyak waktu.."


Agra mulai berbicara dengan suara yang sangat


tegas dan intonasi yang kuat hingga membuat


semua peserta meeting memfokuskan perhatian


nya pada sosok sang pimpinan.


"Acara tahun ini harus berjalan sesuai dengan


konsep yang telah kita susun sebelum nya. Dan


tidak boleh ada kekurangan pada pelaksanaannya karena acara ini sangat penting untuk menarik investor serta modal asing ataupun peluang bisnis bagi perusahaan-perusahaan yang tergabung


dengan corporasi kita !"


Tegas Agra di sambut anggukan antusias dari


semua peserta meeting. Tanisha hanya terdiam


di liputi kekaguman menyaksikan bagaimana bos


nya itu berbicara penuh dengan wibawa hingga


semua bawahannya seakan begitu kecil dan


rendah saat berada di hadapannya.


****** ******


Hari ini jadwal Kiran adalah datang ke butik nya


Michelle untuk melakukan pengukuran. Waktu


nya memang sedikit mendesak, hanya tersisa


satu minggu lagi sampai saatnya acara resepsi


di gelar. Tidak akan ada acara besar-besaran,


hanya untuk kalangan tertentu saja berkonsep


Privat Party . Dan acaranya juga akan di adakan


di istana Hadiningrat, tepatnya di bangunan


tengah istana megah tersebut. Hal itu sesuai


dengan keinginan Kiran dan Eyang Putri.


"Kita sudah sampai Nona Muda..!"


Zack menghentikan mobilnya saat mereka tiba


di depan loby utama Michelle Boutique. Kiran


merapihkan rambutnya sedikit, beberapa orang


security langsung datang menghampiri mobil


nya kemudian membukakan pintu. Zack keluar


duluan, matanya tampak menatap waspada


saat melihat ada pergerakan mencurigakan.


Dia bersama 4 pengawal langsung mengambil


posisi mengamankan jalan ketika tiba-tiba saja


datang sekumpulan wartawan menyerbu kearah


kemunculan Kiran dari dalam mobil yang sontak


membeku di tempat, apa-apaan ini.? kenapa ada


wartawan di tempat ini, dan mereka.?


Jepretan dan kilatan lensa kamera kini tidak terelakkan lagi, menghujani keseluruhan sosok


Kiran dari ujung rambut sampai ujung kaki di


sertai berondongan pertanyaan yang tiada henti


di lontarkan oleh para pencari berita tersebut.


Saat ini Kiran mengenakkan dress cantik di


atas lutut dengan model yang sangat menarik


menampilkan lekuk pinggang nya yang kecil


dan bagian-bagian penting tubuh nya yang


memiliki ukuran pas di semua bagian.Sungguh


saat ini dia bagaikan seorang barbie hidup


dengan rupa yang sangat cantik jelita serta


daya tarik luar biasa yang membuat kamera


wartawan tiada henti mengabadikan nya.


"Nona Muda..apakah anda datang kesini dalam


rangka pemesanan gaun pengantin ?"


"Benar Nona..tolong beritahu kami kapan acara


resepsi pernikahan kalian akan di gelar.?"


"Apakah Tuan Agra akan datang kesini ? apa


kami bisa mengambil gambar kalian berdua.?"


"Nona Kiran apa benar anda sudah merebut


Tuan Agra dari tangan Nona Mikhayla.?"


"Iya benar Nona..yang kami dengar rencana


perjodohan mereka, batal gara-gara kehadiran


anda di sisi Tuan Bimantara..!"


Kiran hanya bisa terdiam tanpa reaksi apapun


sambil mencoba menghindar jepretan kamera.


Apa yang barusan mereka katakan.? merebut,


uuhh.. terserah lah, dia tidak mau peduli.!


"Nona Muda tolong bicaralah.. beritahu kami


yang sebenarnya, apa itu semua benar.?


"Ya Nona..tolong beri kami sedikit pernyataan


dan klarifikasinya..!"


Itulah antara lain pertanyaan yang terlontar dari


mulut manis para pewarta tersebut. Zack kini


mencoba mengangkat tangan untuk menahan


kilatan kamera yang terus mengarah ke wajah


Kiran hingga dia mulai terlihat tidak nyaman.


Zack memberi isyarat pada bawahan nya untuk


segera masuk ke dalam ruangan. Para pengawal


maju menghalau para wartawan dengan gerakan


yang sama sekali tidak bisa di lawan oleh mereka.


"Nona Muda.. tolong berikan sedikit pernyataan


saja pada kami, hanya sebentar saja..!"


Teriak para wartawan sambil tiada henti


mencoba keluar dari halauan para pengawal.


Tapi penjagaan semakin lama semakin ketat.


"Ayo Nona.. mari kita masuk.!"


Zack maju membimbing langkah Kiran yang kini


mulai berjalan masuk dengan langkah cepat,


sampai di dalam Michelle terlihat menyambut


kedatangannya dengan setengah berlari.


"Ohh sorry aku terlambat turun cantik..ayo ikut


aku, kita harus memakai jalan cepat. Mereka


semua sudah menunggu kedatangan mu dari


tadi, entah bagaimana mereka bisa tahu kalau


kau akan datang ke tempat ini..!"


Cerocos Michelle sambil menggandeng tangan


Kiran berjalan masuk ke dalam lift khusus yang


akan membawa mereka langsung ke lantai atas.


Zack setia mengikuti Nona nya dari belakang.


Cukup lama juga Kiran berada di ruangan kantor


Michelle, membicarakan detail gaun yang akan


segera di buat. Dia memilih gaun yang tidak


terlalu ribet, simpel namun terkesan exclusive.


Selama pembicaraan berlangsung Michelle


tiada henti memandangi wajah cantik Kiran


yang semakin lama di pandang semakin


membius matanya. Dia benar-benar kagum


pada hasil karya ciptaan Tuhan yang satu ini.


"Baiklah.. semua nya sudah selesai jadi aku


permisi ya Michelle.. sampai jumpa nanti.!"


Kiran berpamitan pada Michelle setelah semua


urusan nya selesai.


"Oke cantik.. kita akan kebut pembuatan nya.


Kau akan menjadi ratu tercantik nanti saat


mengenakkan nya..!"


"Oke aku tunggu hasilnya ya.."


Michelle mengantar Kiran sampai dia masuk


ke dalam lift yang akan membawa nya ke area


parkir khusus di basement untuk menghindari


para wartawan yang masih saja menunggunya


di loby utama.


Kiran menarik napas lega saat mobil yang


di kendarai Zack sudah meluncur aman jauh


dari kawasan butik milik Michelle.


"Kenapa para wartawan itu bisa tiba-tiba ada


di sana Zack.?"


Kiran bertanya sambil mengecek ponselnya.


"Sepertinya mereka sengaja mengikuti sejak


keluar dari istana Nona..!"


"Huuh..ini sedikit mengganggu ku. Aku tidak


terbiasa dengan semua ini .!"


"Apa Nona benar-benar merasa terganggu.?"


"Tentu saja, aku tidak menyukai nya sama sekali.!"


"Baik, kalau begitu kami akan mengantisipasi


hal ini sebaik mungkin !"


"Hemm.. baiklah, itu yang ku harapkan.!"


Zack tersenyum tipis, baru kali ini Nona nya


itu mengajukan permohonan pada nya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah


jam akhirnya mobil yang di bawa Zack tiba di loby


restauran mewah yang pernah di datangi Kiran


dan Agra di hari pertama pertemuan mereka di


kota ini. Kiran tersenyum manis saat mengingat


kembali hari itu, dimana sederet kejanggalan


sudah terpampang begitu nyata di depan mata,


namun dengan polos nya dia tidak pernah


menaruh curiga sedikitpun akan hal itu.


Manager restauran langsung menyambut Kiran


di depan pintu masuk seraya membungkukan


badan bersama beberapa pelayan yang berjaga


di pintu utama.


"Selamat datang Nona Muda Hadiningrat..!"


Sambut sang manager. Kiran tampak terdiam


sebentar, namun kemudian dia membalasnya


dengan menunduk sedikit. Mau tidak mau dia


memang harus mulai membiasakan diri dengan


semua kebiasaan yang cukup risih ini.


"Terimakasih..!"


Sahut nya, kemudian mulai melangkah masuk


di bimbing sang manager di kawal ketat oleh


Zack dan para pengawal. Tiba di sebuah koridor


Kiran menghentikan langkahnya saat tanpa


sengaja berpapasan dengan rombongan para


wanita seumuran dengan nya yang baru saja


keluar dari sebuah ruangan regular.


"Kiran....!!"


Seru para wanita itu dengan mata yang melebar


dan menatap tidak percaya karena bisa bertemu


di tempat ini. Mereka semua menyerbu kearah


Kiran ingin merangkul nya, namun dengan cepat


para pengawal menghadang mengurung tubuh


Kiran agar tidak tersentuh.


Para wanita yang berjumlah 5 orang itu kini


membelalakkan matanya terkejut melihat ketat


nya pengawalan terhadap Kiran. Mereka semua


sudah tahu kabar tentang pernikahan Kiran


dengan sang konglomerat muda, cucu tunggal keluarga Hadiningrat. Dan itu adalah kabar


yang hampir membuat mereka gila karena


tidak bisa mempercayai nya.


"Tolong.. jangan halangi mereka..! mereka itu


teman-teman saya.!"


Titah Kiran sedikit kesal karena dia juga sama


senang nya dengan mereka semua. Sudah cukup


lama mereka tidak bertemu dan kumpul bareng.


"Tapi Nona..kami tidak ingin mengambil resiko.!"


"Zack..! tolong suruh mereka menjauh !"


Kiran menatap kesal kearah Zack yang mau tidak


mau akhirnya memberi isyarat untuk mundur


pada anak buahnya.


"Ohh..Kiraannn..kita kangen banget sama


kamu..!"


"Sama..aku juga kangen banget sama kalian..!"


Kehebohan itu tidak bisa di hindari. Mereka


semua tampak berangkulan dengan Kiran


bergantian satu persatu sambil tiada henti


berseru, memekik histeris dan berbicara tidak


jelas. Kemudian mereka semua duduk di kursi


yang ada di dekat sana, dan berlanjut pada


obrolan seru yang entah apa saja topik


pembahasan nya.


Zack, manager restauran serta para pengawal


tampak hanya bisa bengong seperti orang bodoh.


Berdiri di sisi ruangan sambil menatap kearah


Nona Muda yang sedang larut dalam keseruan


dengan wajah berbinar di penuhi kebahagiaan.


Dalam beberapa saat orang-orang itu malah ikut


larut, memandangi wajah cantik jelita sang Nona


yang mampu menggetarkan hati siapa saja.


Namun semua kesenangan itu tiba-tiba saja


terhenti saat dari arah ruangan lain muncul


sosok yang membuat Kiran menghentikan


tawa riang nya. Dia bangkit berdiri dari duduk


nya, tatapan nya lurus ke depan beradu dengan


mata panas sosok super cantik tersebut yang


kini semakin mendekat.


Dan tanpa basa-basi sosok super cantik tadi


yang tiada lain adalah Mikhayla langsung


mengangkat tangannya ke udara membuat


semua orang terkesiap terlebih bagi Zack dan


para pengawal. Namun dengan cepat Kiran


menangkap tangan Mikhayla, lalu menekan


dan memutar nya hingga membuat Mikhayla


meringis melebarkan matanya.


"Apa anda tidak bisa bersikap sopan sedikit


saja Miss beauty..? tidak malu kah anda dengan


nama besar yang anda sandang saat ini.?"


Kiran berucap dengan tatapan yang sangat tajam hingga membuat Mikhayla mengerjapkan mata.


Dia mencoba menarik tangan nya namun Kiran menguncinya dengan kuat hingga kini Mikhayla


seakan mati kutu.


"Aku tidak perlu bersikap sopan pada wanita


yang tidak tahu malu seperti mu.! kau sudah


merebut calon suamiku..! dimana letak harga


dirimu Nona Mahesa..?"


Kiran tersenyum tenang, menatap kuat wajah


Mikhayla yang kini sudah memerah seluruh


nya karena menahan serbuan emosi. Dengan


sedikit kencang dia melepaskan pegangannya


di tangan Mikhayla hingga membuat dia sedikit terhuyung ke belakang.


"Aku tidak pernah merebut nya darimu. Dia


sendiri yang datang padaku.! Kalau kau bisa


kenapa tidak kau coba untuk mengambil nya


kembali dariku Nona Mikhayla.!"


Wajah Mikhayla semakin memerah, tidak tahan dengan emosinya dia kembali mengangkat


tangannya ingin mengulang tamparan yang


tadi gagal, namun sedetik kemudian matanya membulat saat tangan nya di cekal kuat oleh


satu sosok tinggi tegap dengan aura wajah


yang sudah sedingin salju.


"A-Agraa...!"


Desis Mikhayla dengan tatapan terkejut nya.


Sosok Agra kini sudah berdiri di hadapan nya


melindungi dan mengurung tubuh Kiran ke


dalam dekapan satu tangan nya, sementara


tangan kanan nya mengunci tangan Mikhayla.


Semua orang bergetar, menundukkan kepala


saat menyadari kedatangan pria perkasa itu.


Sedang teman-teman Kiran hanya bisa syok


ternganga melihat keberadaan Tuan Muda


Hadiningrat yang tidak di sangka-sangka


akan datang ke tempat itu..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC....