
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Ingin rasanya waktu berhenti saat ini juga, hanya
untuk mereka berdua. Khayalan Tanisha terbang
ke langit tertinggi. Kalau bisa ingin sekali dirinya
menyergap bibir seksi itu dan menikmati sepuas
nya untuk menghilangkan dahaga jiwanya yang
kini seakan membuat nya hampir tidak mampu
mengendalikan diri nya. Dalam waktu sekejap
dia telah jatuh cinta pada pesona bos nya itu.
"Kalau kamu tidak bisa mengendalikan diri ,
sebaiknya belajar bersikap terlebih dahulu.!"
Ucap Agra dengan suara yang sangat dingin dan
tatapan mata yang menembus jantung seraya membawa tubuh Tanisha untuk berdiri. Dengan
wajah yang sudah memerah seluruhnya Tanisha
cepat-cepat menegakkan badannya. Tubuhnya
saat ini terasa lemas, Agra membenahi dasinya.
"Maafkan kecerobohan saya Presdir..!"
Tanisha membungkuk dalam. Agra menatap
nya datar, namun ada reaksi sedikit samar dari
wajahnya yang super dingin.
"Lain kali jangan pernah mengulanginya lagi,
bersikaplah profesional. Aku tidak pernah
mentolerir kecerobohan sekecil apapun
yang terjadi di hadapan ku..!"
"Baik Presdir.. sekali lagi maafkan saya..!"
"Berapa lama kamu bekerja di bidang ini.? aku
tidak ingin bawahan ku bekerja tidak sesuai
dengan standar kompetensi.!"
"Tiga tahun Presdir..! semua ada dalam CV
saya.. beserta surat rekomendasi dari pihak
perusahaan terdahulu dan agen saya.!"
"Baiklah.. bekerja lah dengan profesional.!"
"Baik Presdir.. terimakasih.!"
Tanisha kembali membungkuk rendah,Tuhan..
bagaimana dirinya bisa bersikap tenang kalau
di hadapkan pada pesona sedahsyat ini. Dia
benar-benar tidak menduga kalau bos nya akan
se gentle ini. Siapa yang kuat menahan diri
untuk tidak jatuh hati pada pria model begini.
Agra mulai melangkah tenang keluar dari
ruangannya. Tanisha mengikutinya masih
dengan perasaan yang mengawang. Para
sekretaris lain terlihat menatap iri kearah
Tanisha yang kini akan menjadi pendamping
Bos besar nya itu di setiap kegiatan pentingnya.
Mereka berdua akhirnya turun ke lantai 25
dimana ruangan meeting khusus berada.
Sambil berjalan Agra meraih ponsel dari
saku jas nya dan melakukan panggilan.
"Assalamualaikum sayang..!"
Terdengar sambutan dari sebrang sana.
"Waalaikumsalam.. dimana kamu.? apa sudah
di perjalanan ke butik Michelle..?"
"Iya sayang..aku sudah di jalan nih, kenapa..
apa ada sesuatu yang penting.?"
Agra tersenyum tipis, hatinya terasa tenang saat
mendengar suara wanita yang setiap detik selalu
memenuhi pikirannya. Sementara Tanisha yang
ada di belakang nya terlihat bereaksi, jelas sekali
dia mendengar kalau bos nya itu berbicara dengan sangat lembut. Apa dia sedang berbicara dengan
istri beruntung nya itu.? wajah Tanisha sedikit
memerah dengan perasaan tidak nyaman.
"Nanti siang datang lah ke restauran biasa, kita
makan siang di sana, sekalian aku ada pertemuan
di tempat itu setelah makan siang..!"
"Baiklah sayang.. sesuai permintaan mu.! Aku
akan kesana nanti setelah semua nya beres."
"Apa kamu sedang memikirkan ku sekarang ?"
Tidak ada sahutan dari sana, Agra menautkan
alisnya dengan tampang tidak suka.
"Kiran.. pikiran mu ada dimana saat ini .?"
"Tentu saja di hatimu sayang.. kenapa kamu
harus bertanya lagi.?"
Bibir Agra terangkat sedikit dengan mata yang
tampak berbinar. Tanisha mengepalkan tangan
nya kuat mendengar obrolan Agra. Bukan nya
dia bermaksud menguping, tapi mau tidak mau
pembicaraan di telepon itu terdengar jelas oleh
nya yang kini berjalan di belakang bos nya itu.
"Baiklah..hati-hati..kalau urusan nya sudah
beres langsung saja pergi ke restaurant itu,
tunggu aku di sana oke..?!"
"Baiklah..aku tunggu di sana ya..!"
Agra menutup telponnya, wajah nya terlihat
cerah dan penuh semangat. Hati Tanisha kini
di penuhi oleh perasaan resah dan tidak enak
sekaligus penasaran dengan wanita beruntung
yang sudah berhasil menjadi istri seorang cucu
tunggal keluarga Hadiningrat itu. Namun entah
kenapa ada keyakinan dalam hatinya kalau
wanita itu hanyalah sedang beruntung saja.
Agra masuk ke dalam ruang pertemuan di sambut
hormat oleh jajaran dewan direksi dan para staf
khusus yang memegang jabatan penting dalam
perusahaan nya dengan membungkuk serempak.
"Selamat siang Presdir.. selamat datang.."
Agra mengangkat tangannya, kemudian dia
memberi isyarat agar semuanya kembali pada
posisi semula. Untuk beberapa saat para peserta
meeting tampak menatap terpesona pada sang
sekretaris baru Presdir mereka yang saat ini
sedang menyiapkan segala keperluan bos nya
dengan gaya yang sangat anggun dan elegan.
Bara langsung berdehem mengingatkan semua
orang agar kembali fokus pada pertemuan nya.
Mereka tampak menundukkan kepala dengan
rasa malu sekaligus penasaran.
"Baiklah.. kita mulai saja pertemuan kali ini
karena aku sedang tidak punya banyak waktu.."
Agra mulai berbicara dengan suara yang sangat
tegas dan intonasi yang kuat hingga membuat
semua peserta meeting memfokuskan perhatian
nya pada sosok sang pimpinan.
"Acara tahun ini harus berjalan sesuai dengan
konsep yang telah kita susun sebelum nya. Dan
tidak boleh ada kekurangan pada pelaksanaannya karena acara ini sangat penting untuk menarik investor serta modal asing ataupun peluang bisnis bagi perusahaan-perusahaan yang tergabung
dengan corporasi kita !"
Tegas Agra di sambut anggukan antusias dari
semua peserta meeting. Tanisha hanya terdiam
di liputi kekaguman menyaksikan bagaimana bos
nya itu berbicara penuh dengan wibawa hingga
semua bawahannya seakan begitu kecil dan
rendah saat berada di hadapannya.
****** ******
Hari ini jadwal Kiran adalah datang ke butik nya
Michelle untuk melakukan pengukuran. Waktu
nya memang sedikit mendesak, hanya tersisa
satu minggu lagi sampai saatnya acara resepsi
di gelar. Tidak akan ada acara besar-besaran,
hanya untuk kalangan tertentu saja berkonsep
Privat Party . Dan acaranya juga akan di adakan
di istana Hadiningrat, tepatnya di bangunan
tengah istana megah tersebut. Hal itu sesuai
dengan keinginan Kiran dan Eyang Putri.
"Kita sudah sampai Nona Muda..!"
Zack menghentikan mobilnya saat mereka tiba
di depan loby utama Michelle Boutique. Kiran
merapihkan rambutnya sedikit, beberapa orang
security langsung datang menghampiri mobil
nya kemudian membukakan pintu. Zack keluar
duluan, matanya tampak menatap waspada
saat melihat ada pergerakan mencurigakan.
Dia bersama 4 pengawal langsung mengambil
posisi mengamankan jalan ketika tiba-tiba saja
datang sekumpulan wartawan menyerbu kearah
kemunculan Kiran dari dalam mobil yang sontak
membeku di tempat, apa-apaan ini.? kenapa ada
wartawan di tempat ini, dan mereka.?
Jepretan dan kilatan lensa kamera kini tidak terelakkan lagi, menghujani keseluruhan sosok
Kiran dari ujung rambut sampai ujung kaki di
sertai berondongan pertanyaan yang tiada henti
di lontarkan oleh para pencari berita tersebut.
Saat ini Kiran mengenakkan dress cantik di
atas lutut dengan model yang sangat menarik
menampilkan lekuk pinggang nya yang kecil
dan bagian-bagian penting tubuh nya yang
memiliki ukuran pas di semua bagian.Sungguh
saat ini dia bagaikan seorang barbie hidup
dengan rupa yang sangat cantik jelita serta
daya tarik luar biasa yang membuat kamera
wartawan tiada henti mengabadikan nya.
"Nona Muda..apakah anda datang kesini dalam
rangka pemesanan gaun pengantin ?"
"Benar Nona..tolong beritahu kami kapan acara
resepsi pernikahan kalian akan di gelar.?"
"Apakah Tuan Agra akan datang kesini ? apa
kami bisa mengambil gambar kalian berdua.?"
"Nona Kiran apa benar anda sudah merebut
Tuan Agra dari tangan Nona Mikhayla.?"
"Iya benar Nona..yang kami dengar rencana
perjodohan mereka, batal gara-gara kehadiran
anda di sisi Tuan Bimantara..!"
Kiran hanya bisa terdiam tanpa reaksi apapun
sambil mencoba menghindar jepretan kamera.
Apa yang barusan mereka katakan.? merebut,
uuhh.. terserah lah, dia tidak mau peduli.!
"Nona Muda tolong bicaralah.. beritahu kami
yang sebenarnya, apa itu semua benar.?
"Ya Nona..tolong beri kami sedikit pernyataan
dan klarifikasinya..!"
Itulah antara lain pertanyaan yang terlontar dari
mulut manis para pewarta tersebut. Zack kini
mencoba mengangkat tangan untuk menahan
kilatan kamera yang terus mengarah ke wajah
Kiran hingga dia mulai terlihat tidak nyaman.
Zack memberi isyarat pada bawahan nya untuk
segera masuk ke dalam ruangan. Para pengawal
maju menghalau para wartawan dengan gerakan
yang sama sekali tidak bisa di lawan oleh mereka.
"Nona Muda.. tolong berikan sedikit pernyataan
saja pada kami, hanya sebentar saja..!"
Teriak para wartawan sambil tiada henti
mencoba keluar dari halauan para pengawal.
Tapi penjagaan semakin lama semakin ketat.
"Ayo Nona.. mari kita masuk.!"
Zack maju membimbing langkah Kiran yang kini
mulai berjalan masuk dengan langkah cepat,
sampai di dalam Michelle terlihat menyambut
kedatangannya dengan setengah berlari.
"Ohh sorry aku terlambat turun cantik..ayo ikut
aku, kita harus memakai jalan cepat. Mereka
semua sudah menunggu kedatangan mu dari
tadi, entah bagaimana mereka bisa tahu kalau
kau akan datang ke tempat ini..!"
Cerocos Michelle sambil menggandeng tangan
Kiran berjalan masuk ke dalam lift khusus yang
akan membawa mereka langsung ke lantai atas.
Zack setia mengikuti Nona nya dari belakang.
Cukup lama juga Kiran berada di ruangan kantor
Michelle, membicarakan detail gaun yang akan
segera di buat. Dia memilih gaun yang tidak
terlalu ribet, simpel namun terkesan exclusive.
Selama pembicaraan berlangsung Michelle
tiada henti memandangi wajah cantik Kiran
yang semakin lama di pandang semakin
membius matanya. Dia benar-benar kagum
pada hasil karya ciptaan Tuhan yang satu ini.
"Baiklah.. semua nya sudah selesai jadi aku
permisi ya Michelle.. sampai jumpa nanti.!"
Kiran berpamitan pada Michelle setelah semua
urusan nya selesai.
"Oke cantik.. kita akan kebut pembuatan nya.
Kau akan menjadi ratu tercantik nanti saat
mengenakkan nya..!"
"Oke aku tunggu hasilnya ya.."
Michelle mengantar Kiran sampai dia masuk
ke dalam lift yang akan membawa nya ke area
parkir khusus di basement untuk menghindari
para wartawan yang masih saja menunggunya
di loby utama.
Kiran menarik napas lega saat mobil yang
di kendarai Zack sudah meluncur aman jauh
dari kawasan butik milik Michelle.
"Kenapa para wartawan itu bisa tiba-tiba ada
di sana Zack.?"
Kiran bertanya sambil mengecek ponselnya.
"Sepertinya mereka sengaja mengikuti sejak
keluar dari istana Nona..!"
"Huuh..ini sedikit mengganggu ku. Aku tidak
terbiasa dengan semua ini .!"
"Apa Nona benar-benar merasa terganggu.?"
"Tentu saja, aku tidak menyukai nya sama sekali.!"
"Baik, kalau begitu kami akan mengantisipasi
hal ini sebaik mungkin !"
"Hemm.. baiklah, itu yang ku harapkan.!"
Zack tersenyum tipis, baru kali ini Nona nya
itu mengajukan permohonan pada nya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah
jam akhirnya mobil yang di bawa Zack tiba di loby
restauran mewah yang pernah di datangi Kiran
dan Agra di hari pertama pertemuan mereka di
kota ini. Kiran tersenyum manis saat mengingat
kembali hari itu, dimana sederet kejanggalan
sudah terpampang begitu nyata di depan mata,
namun dengan polos nya dia tidak pernah
menaruh curiga sedikitpun akan hal itu.
Manager restauran langsung menyambut Kiran
di depan pintu masuk seraya membungkukan
badan bersama beberapa pelayan yang berjaga
di pintu utama.
"Selamat datang Nona Muda Hadiningrat..!"
Sambut sang manager. Kiran tampak terdiam
sebentar, namun kemudian dia membalasnya
dengan menunduk sedikit. Mau tidak mau dia
memang harus mulai membiasakan diri dengan
semua kebiasaan yang cukup risih ini.
"Terimakasih..!"
Sahut nya, kemudian mulai melangkah masuk
di bimbing sang manager di kawal ketat oleh
Zack dan para pengawal. Tiba di sebuah koridor
Kiran menghentikan langkahnya saat tanpa
sengaja berpapasan dengan rombongan para
wanita seumuran dengan nya yang baru saja
keluar dari sebuah ruangan regular.
"Kiran....!!"
Seru para wanita itu dengan mata yang melebar
dan menatap tidak percaya karena bisa bertemu
di tempat ini. Mereka semua menyerbu kearah
Kiran ingin merangkul nya, namun dengan cepat
para pengawal menghadang mengurung tubuh
Kiran agar tidak tersentuh.
Para wanita yang berjumlah 5 orang itu kini
membelalakkan matanya terkejut melihat ketat
nya pengawalan terhadap Kiran. Mereka semua
sudah tahu kabar tentang pernikahan Kiran
dengan sang konglomerat muda, cucu tunggal keluarga Hadiningrat. Dan itu adalah kabar
yang hampir membuat mereka gila karena
tidak bisa mempercayai nya.
"Tolong.. jangan halangi mereka..! mereka itu
teman-teman saya.!"
Titah Kiran sedikit kesal karena dia juga sama
senang nya dengan mereka semua. Sudah cukup
lama mereka tidak bertemu dan kumpul bareng.
"Tapi Nona..kami tidak ingin mengambil resiko.!"
"Zack..! tolong suruh mereka menjauh !"
Kiran menatap kesal kearah Zack yang mau tidak
mau akhirnya memberi isyarat untuk mundur
pada anak buahnya.
"Ohh..Kiraannn..kita kangen banget sama
kamu..!"
"Sama..aku juga kangen banget sama kalian..!"
Kehebohan itu tidak bisa di hindari. Mereka
semua tampak berangkulan dengan Kiran
bergantian satu persatu sambil tiada henti
berseru, memekik histeris dan berbicara tidak
jelas. Kemudian mereka semua duduk di kursi
yang ada di dekat sana, dan berlanjut pada
obrolan seru yang entah apa saja topik
pembahasan nya.
Zack, manager restauran serta para pengawal
tampak hanya bisa bengong seperti orang bodoh.
Berdiri di sisi ruangan sambil menatap kearah
Nona Muda yang sedang larut dalam keseruan
dengan wajah berbinar di penuhi kebahagiaan.
Dalam beberapa saat orang-orang itu malah ikut
larut, memandangi wajah cantik jelita sang Nona
yang mampu menggetarkan hati siapa saja.
Namun semua kesenangan itu tiba-tiba saja
terhenti saat dari arah ruangan lain muncul
sosok yang membuat Kiran menghentikan
tawa riang nya. Dia bangkit berdiri dari duduk
nya, tatapan nya lurus ke depan beradu dengan
mata panas sosok super cantik tersebut yang
kini semakin mendekat.
Dan tanpa basa-basi sosok super cantik tadi
yang tiada lain adalah Mikhayla langsung
mengangkat tangannya ke udara membuat
semua orang terkesiap terlebih bagi Zack dan
para pengawal. Namun dengan cepat Kiran
menangkap tangan Mikhayla, lalu menekan
dan memutar nya hingga membuat Mikhayla
meringis melebarkan matanya.
"Apa anda tidak bisa bersikap sopan sedikit
saja Miss beauty..? tidak malu kah anda dengan
nama besar yang anda sandang saat ini.?"
Kiran berucap dengan tatapan yang sangat tajam hingga membuat Mikhayla mengerjapkan mata.
Dia mencoba menarik tangan nya namun Kiran menguncinya dengan kuat hingga kini Mikhayla
seakan mati kutu.
"Aku tidak perlu bersikap sopan pada wanita
yang tidak tahu malu seperti mu.! kau sudah
merebut calon suamiku..! dimana letak harga
dirimu Nona Mahesa..?"
Kiran tersenyum tenang, menatap kuat wajah
Mikhayla yang kini sudah memerah seluruh
nya karena menahan serbuan emosi. Dengan
sedikit kencang dia melepaskan pegangannya
di tangan Mikhayla hingga membuat dia sedikit terhuyung ke belakang.
"Aku tidak pernah merebut nya darimu. Dia
sendiri yang datang padaku.! Kalau kau bisa
kenapa tidak kau coba untuk mengambil nya
kembali dariku Nona Mikhayla.!"
Wajah Mikhayla semakin memerah, tidak tahan dengan emosinya dia kembali mengangkat
tangannya ingin mengulang tamparan yang
tadi gagal, namun sedetik kemudian matanya membulat saat tangan nya di cekal kuat oleh
satu sosok tinggi tegap dengan aura wajah
yang sudah sedingin salju.
"A-Agraa...!"
Desis Mikhayla dengan tatapan terkejut nya.
Sosok Agra kini sudah berdiri di hadapan nya
melindungi dan mengurung tubuh Kiran ke
dalam dekapan satu tangan nya, sementara
tangan kanan nya mengunci tangan Mikhayla.
Semua orang bergetar, menundukkan kepala
saat menyadari kedatangan pria perkasa itu.
Sedang teman-teman Kiran hanya bisa syok
ternganga melihat keberadaan Tuan Muda
Hadiningrat yang tidak di sangka-sangka
akan datang ke tempat itu..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC....