Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
33. Bertemu Nyobes


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Pagi yang hangat telah kembali menyapa bumi


dengan setia. Sinar mentari kini mulai menyebar menerangi seluruh kawasan istana Hadiningrat


yang sangat megah dan menakjubkan.


Semua pelayan dan pekerja istana sudah terlihat


sibuk sedari pagi buta dengan beragam aktifitas


serta tugas masing-masing yang berbeda. Ada


ratusan pegawai yang bekerja dan mengabdikan


diri di istana ini. Semua terlihat begitu semangat


dan antusias melaksanakan tugas nya masing-


masing. Bahkan banyak di antaranya sambil


bersenandung riang. Bekerja di tempat ini


memang tiada duanya, nyaman, aman, dan


tentunya sejahtera.


Saat matahari mulai menerpa jendela kamar


pribadi yang terletak di lantai 4 istana utama,


tirai penutup semua kaca pun terbuka secara


otomatis dan semua lampu yang ada di kamar


itu padam dengan sendirinya.


Kiran membuka matanya perlahan saat cahaya


matahari kini mulai menghangatkan suasana


di dalam kamar. Matanya langsung tertuju pada


sosok gagah yang kini sedang mengurung diri


nya. Lengan kokoh Agra melingkari tubuhnya


dengan kuat. Senyum lembut terukir di sudut


bibir indah Kiran.


Perlahan dia mengelus lembut wajah tampan


Agra yang begitu menawan tersinari mentari


pagi. Begitu sempurna nya Tuhan mencipta


semua bagian di wajah suaminya ini. Tidak


ada cela sedikit pun yang terdapat di sana.


"Agraa...hanya dalam waktu 20 hari kau sudah mengukir kenangan manis dan pahit dalam


cerita kehidupan ku..! bersamamu aku merasa


begitu nyaman dan damai..!"


Lirih Kiran dengan pandangan yang semakin


terfokus pada wajah Agra yang masih terlelap


dalam tidur tenangnya.


"Rasanya aku tidak akan sanggup berjauhan


darimu.Tapi..bagaimana kalau keadaan


memaksa kita untuk berpisah..apa aku akan


sanggup menjalani hidup ku tanpamu."


Kiran mencoba menelaah seluruh isi hatinya


dengan pandangan tidak lepas dari wajah


tampan Agra. Tidak di ragukan lagi, dia kini


sudah mengukir indah nama laki-laki ini jauh


di dalam lubuk hatinya.


Perasaan Kiran tiba-tiba menjadi sangat resah


saat mengingat persoalan nya dengan Nathan.


Semua kenyamanan ini bisa saja hancur dalam


sekejap mata. Tidak ! dia tidak ingin itu terjadi.


Kiran mendekatkan bibirnya, dengan wajah


yang sedikit memerah dia mengecup lembut


bibir Agra seraya memejamkan mata menahan


rasa malu. Setelah itu dia segera mengangkat


lengan Agra yang mengurung tubuhnya.


Dengan susah payah akhirnya dia bisa keluar


dari kurungan tubuh Agra. Perlahan dia mulai


menapakkan kakinya di lantai, namun sesaat kemudian matanya tampak terkesima, tubuh


nya mematung di tempat saat menyadari


dimana kini dirinya berada. Dia menutup


mulutnya, merasa takjub dengan apa yang


tersuguh di depan matanya.


"Masa Allah..ada dimana aku sekarang.."


Gumam Kiran sambil berjalan pelan memutar


tubuh nya melihat ke seluruh ruangan kamar.


Kiran berjalan ke satu sisi bagian kamar yang


berdinding kaca bulat besar hingga dia bisa


melihat separuh bagian wilayah istana yang


sangat indah itu. Dia seakan sedang berada


di menara atau balon udara.


"Ya Tuhan..indah banget tempat ini.."


Kiran kembali bergumam lirih seraya mengusap


dadanya mencoba untuk menenangkan diri.


Istana Hadiningrat...


Dia memang sering sekali mendengar tentang


tempat ini dari cerita teman-teman kuliahnya


yang berasal dari kalangan elite. Mereka sangat mengagumi istana ini. Hanya saja Kiran tidak


pernah tertarik untuk mengorek lebih jauh


tentang kehidupan para kalangan jetset, karena baginya hal itu hanya akan menimbulkan rasa


iri dan dengki ujung-ujung nya tidak terima atas


apa yang telah Tuhan beri.


Dia juga pernah mendengar sekilas bahwa


keluarga ini merupakan bangsawan yang


berada di strata sosial paling tinggi dengan


kerajaan bisnis nya yang merambah di segala


bidang dan sekarang ini sedang berada di


puncak kejayaan berkat cucu tunggalnya.


Tidak ingin terus larut dalam rasa takjub


nya Kiran bergegas mencari kamar mandi.


Dia kembali hanya bisa melongo melihat


semua fasilitas kelas wahid yang ada di kamar


mandi tersebut. Sebenarnya dirinya juga


berasal dari keluarga konglomerat yang hidup


serba mewah dan berkecukupan, namun apa


yang di ada di rumahnya ternyata tidak ada


apa-apanya jika di bandingkan dengan apa


yang ada di tempat ini.


Akhirnya Kiran mencoba membersihkan diri


dengan berendam memakai fasilitas jacuzzi


whirfool untuk melepas semua rasa penat


serta ketegangan pada otot-otot tubuhnya.


Sungguh..dia hampir saja terlena dengan


semua kenyamanan yang di dapatkan dari


kamar mandi yang sangat memanjakan


tubuhnya ini, rasanya dia tidak ingin beranjak.


Sementara itu...


Sejak pagi Tata sudah berjaga di depan pintu


kamar pribadi Tuan Muda nya sebab tepat


pukul 8 pintu kamar biasanya sudah bisa di


akses. Dia mendapat perintah semalam bahwa


pagi-pagi sekali harus membawakan sarapan


serta obat untuk Nona Muda nya.


Ya.. sekarang rumah utama ini sudah memilki


seorang Nona Muda..Tata tersenyum sendiri


saat mengingat hal itu. Namun ada sejumput


pertanyaan yang kini hinggap di kepala nya.


Apakah Nyonya Besar sudah tahu semua ini.?


Lalu apa yang akan terjadi pada Nona Muda


nya, mengingat bagaimana karakter Nyonya


Besarnya itu, dia adalah sosok yang sangat


perfeksionis dan selektif.


Tepat pukul 8 tombol Kuning di samping pintu


besi itu berbunyi bip dan lampu monitor nya


berubah hijau. Tata bersama seorang pelayan


yang membawa troli makanan masuk ke dalam


kamar dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan kegaduhan.


Tata segera menuju ke ruangan samping yang


langsung tembus ke balkon tanpa harus lewat


ke ruang tidur utama. Dengan cekatan pelayan


tadi menghidangkan makanan di atas meja


marmer bulat yang ada di tempat itu.


"Pastikan semuanya steril..!"


Tata mengingatkan seraya mengamati setiap


makanan yang ada di meja. Pelayan tadi


tampak mengangguk faham.


Setelah semua siap mereka kembali masuk ke


dalam ruangan. Namun saat tiba di ruang santai


Tata dan pelayan yang bersamanya berpapasan dengan Kiran yang baru saja keluar dari kamar


mandi. Rambutnya masih terlihat sedikit basah.


Kulitnya yang putih bening dan berkilau nampak


indah terkena sinar matahari pagi.


Mata mereka bertiga bertemu saling terkejut.


Pelayan tadi tampak terkesima mendapati


pemandangan luar biasa dan tidak terduga ini.


Ada wanita di dalam kamarnya Tuan Muda.?


Apa dirinya tidak salah lihat.? jelas sekali mata


nya melihat ada bidadari cantik di kamar ini.!


"Jaga pandangan mu dan juga mulutmu itu.!"


Ancam Tata seraya melirik tajam kearah


pelayan tadi yang masih menganga lebar,


pelayan itu tampaknya masih sangat syok.


"Kau dengar aku tidak.?"


Tata menggeram mulai emosi melihat pelayan


tadi masih terpana.


"Maafkan saya wakil kepala.!"


Pelayan itu tersadar dan langsung bersimpuh


di hadapan Kiran yang menatapnya heran. Dia


kembali berpaling pada Tata yang langsung


membungkuk dalam.


"Anda sudah bangun Nona, selamat pagi.."


Sambut Tata dengan suara yang sangat khas,


pelan namun tegas.


"Selamat pagi juga..maaf..anda ini siapa.?


tolong suruh dia untuk bangun.!"


Pinta Kiran sambil kembali menatap kearah


pelayan tadi yang masih bersimpuh.


"Panggil saja saya Tata Nona..saya adalah


wakil kepala pelayan di istana ini."


"Ohh..iya Tata tolong suruh dia bangun. Saya


hanya tamu di sini, jangan bersikap berlebihan


seperti itu."


Ucap Kiran dengan tersenyum ramah dan suara


yang sangat lembut menyejukkan. Tata melirik


kearah pelayan tadi yang masih bersimpuh.


"Bangunlah..Nona sudah menyuruhmu !"


Dengan ragu dan tetap menunduk pelayan itu


kembali berdiri seraya menunduk dalam.


"Ohh iya Tata..senang sekali melihat mu..saya


ingin mengucapkan terimakasih banyak karena


kami sudah diperlakukan dengan sangat baik di


rumah ini, sekali lagi terimakasih."


Tata tertegun sebentar, dia memang sudah


tahu apa yang terjadi pada Tuan Muda nya


yang belum membuka jati dirinya pada Kiran.


"Itu sudah menjadi kewajiban saya Nona.."


"Sebelum kami pamit, bisakah anda membawa


saya bertemu dengan Nyonya Besar.?"


Tata tampak terkejut, dia terdiam bingung.


"Baik Nona saya akan mengantar anda, tapi


sebaiknya anda sarapan terlebih dahulu..anda


harus kembali minum obat."


"Baiklah.. kalau begitu saya akan keluar dari


kamar ini setelah sarapan pagi."


"Kiran.. dimana kamu..?"


dari arah ruang utama di kamar itu. Kiran dan


Tata serta pelayan tadi tampak terperanjat.


Belum lagi mereka lepas dari kekagetannya


Agra sudah muncul di ruangan itu, matanya


langsung terfokus pada diri Kiran yang tampak


begitu menggoda pagi ini.


"Kenapa kamu tidak membangunkan ku..kau


tidak boleh berjalan dulu..!"


Ketus Agra sambil kemudian mengangkat


tubuh Kiran ke dalam pangkuannya membuat


Tata dan pelayan tadi hanya bisa terdiam dan


menundukkan kepalanya.


Tuhan.. apakah ini benar-benar Tuan Muda


Agra Bintang..? bathin pelayan tadi di tengah


ketidakpercayaan nya atas semua yang di


lihatnya saat ini.


"Agra.. apa-apaan kau ini, apa kau tidak lihat


ada orang di sini, turunkan aku.!"


Kiran mencoba meronta ingin turun, tapi Agra


merengkuh pinggangnya kuat hingga Kiran


tidak bisa lagi berkutik, akhirnya dia melilitkan tangannya di leher Agra.


"Tidak.! kau tidak boleh beraktifitas dulu sayang."


"Aku sudah baik-baik saja Agra..!"


"Kau masih belum pulih sepenuhnya Kiran..!"


Wajah Kiran kini sudah semerah tomat karena


tidak tahan dengan rasa malunya. Agra melirik


kearah Tata.


"Aka kau sudah membawakan sarapan yang


aku minta semalam ?"


"Sudah Tuan..!"


Jawab Tata masih menunduk dalam, begitu


pun dengan pelayan tadi. Kiran menggeleng


resah melihat sikap Agra yang di nilainya


sangat arogan itu, ini di rumah orang Tuan..


kenapa main perintah seenaknya saja.!


"Baiklah..kalian boleh keluar sekarang..!"


"Baik Tuan..kami permisi."


Agra membawa Kiran melangkah masuk ke


ruang utama sementara Tata dan pelayan


tadi langsung keluar dari kamar.


Agra membawa Kiran masuk ke ruang walk


in closet. Dia mengambil satu stel pakaian


yang semalam sengaja sudah di siapkan oleh


Tata agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Kau gantilah pakaianmu, setelah itu kita akan


sarapan lalu menemui Nyonya rumah ini."


Titah Agra dengan tatapan yang sangat lembut.


Kiran hanya menatap diam pakaian yang kini


sudah ada di tangannya, darimana datangnya


pakaian ini.? Agra mengecup lembut kening


Kiran setelah itu berlalu masuk kamar mandi.


Kiran menautkan alisnya, baju ini terlihat sangat


indah dan merupakan produk butik ternama.


Semua ini rasanya sangat janggal, apakah saat


ini dirinya berada di dunia halusinasi.!


------ ------


Begitu selesai sarapan Agra keluar dari kamar pribadinya dengan menggandeng Kiran. Hari ini


dia kembali menjadi seorang Agra sang pengawal pribadi Nona Sashikirana. Berpakaian preman,


namun tetap tampil menawan, justru malah


terlihat lebih maskulin dan menggemaskan.


"Pakailah kembali topi mu..aku tidak ingin


para pelayan yang ada di tempat ini melihat


mu dengan pandangan liar.!"


Ucap Kiran seraya memakaikan kembali topi


untuk menutupi sebagian wajah Agra sebelum


mereka masuk ke dalam lift khusus.


"Terlihat sekali kalau kau takut kehilangan ku.


Apa kau sudah jatuh cinta padaku Nona Kiran.?"


Goda Agra sambil menatap Kiran dengan


seringai senyum kecil di bibirnya.


"Jangan terlalu percaya diri Tuan Agra..aku


hanya merasa risih saja melihatnya !"


Ketus Kiran sambil kemudian masuk ke dalam


lift begitu pintunya terbuka. Dengan santai


Agra masuk masih menyunggingkan senyum


menggodanya. Kiran melirik , menatap jengah


kearah Agra.


"Memangnya kenapa kalau aku cemburu.?


bukankah aku punya hak untuk itu.?"


Kesal Kiran sambil mengerucutkan bibirnya


membuat Agra tidak tahan.


"Tentu saja, itu adalah hak paten mu sayang.!"


Cup !


Tanpa permisi Agra langsung mengecup bibir


itu membuat Kiran melebarkan matanya.


"Agraa..apa kau bisa menjaga sikapmu, kita


ini ada di tempat orang.!"


Kesal Kiran seraya memalingkan wajahnya


yang bersemu merah. Sedang Agra tampak


santai saja, mengulas senyum tipis, puas.


"Kau yang memancing ku melakukan itu.!"


"Iihh..kau ini ya..!"


"Kita sudah sampai, ayo keluar..!"


Agra menarik tangan Kiran begitu pintu lift


terbuka, Kiran hanya bisa mengikuti nya.


"Mari ikuti saya Tuan.. Nona..!"


Sambut Tata begitu melihat kemunculan


Agra dan Kiran yang baru saja keluar dari lift.


Ponsel Agra berdering, Bara menghubungi


nya. Agra melirik kearah Kiran yang masih


berdiri di samping nya, menatapnya.


"Apa kau bisa pergi duluan.? aku akan menerima


panggilan dulu sebentar.!"


"Tapi Agraa.. aku..!"


"Wakil kepala pelayan akan mengantar mu.!


aku janji tidak akan lama. Aku akan segera


menyusul mu.!"


Kiran tampak ragu, tapi akhirnya mengangguk


perlahan. Agra mendekat, kemudian mengecup


kening Kiran sekilas.


"Pergilah bersamanya.."


Titah Agra seraya melirik kearah Tata.


"Mari Nona.. ikuti saya.."


Tata mengulurkan tangannya dengan sopan membimbing langkah Kiran yang masih terlihat


menolehkan kepalanya hingga sosok Agra tidak


kelihatan lagi. Dia mulai fokus berjalan bersama


dengan Tata menuju paviliun belakang untuk


menemui Nyonya Besar.


Kiran tampak begitu takjub melihat semua


kemegahan dan keindahan bangunan yang


di laluinya selama menuju ke paviliun belakang.


Hatinya sedikit ragu dan gugup mengingat dia


akan menemui salah satu orang yang memiliki


kehormatan dan nama besar di kalangan elite.


Dia menghentikan langkahnya begitu sampai


di taman belakang dimana saat ini Nyonya


Ambarwati sedang menikmati sarapan pagi.


Wanita yang sudah cukup sepuh itu tampak


berpenampilan rapi, dengan sanggul besar


dan pakaian tradisional nya. Di sekeliling nya


berdiri rapi beberapa pelayan wanita dengan menundukkan kepala, senantiasa bersiaga


jikalau ada sesuatu yang di titahkan oleh


Nyonya Besar nya itu.


"Mari Nona..anda bisa menemui Nyonya


besar sekarang."


Tata kembali mengingatkan Kiran yang kini


semakin merasakan kegugupan, jantung nya


pun tiba-tiba saja berdetak tidak beraturan.


Dengan perlahan dan bersikap tenang Kiran


kembali melangkah. Saat ini dia mengenakan


gaun terusan di bawah lutut yang sangat cantik


dan anggun. Terlihat begitu cocok membalut


tubuh indahnya dengan wajah di biarkan polos,


hanya menggunakan pelembab bibir saja.


Rambutnya tergerai bebas, semula Kiran berniat


untuk mengikatnya, namun dia mengurungkan


niatnya ketika menyadari banyak tanda merah


yang menghiasi leher jenjangnya itu akibat aksi


liar Agra semalam.


"Selamat pagi Nyonya..."


Sapa Kiran dengan suara yang sangat lembut.


Dia berdiri anggun di hadapan Nyonya Ambar.


Membungkukan badan nya sedikit dengan


gestur tubuh yang luwes dan halus.


Wanita berumur 70 tahunan yang masih terlihat


segar dan bugar itu melihat kearah berdirinya


Kiran, menatapnya dalam diam tanpa ekspresi.


Kembali acuh menyeruput teh hijau nya.


"Maaf kalau saya mengganggu waktu sarapan


anda.."


"Siapa dia.? kenapa orang asing di biarkan


masuk ke rumah ini !"


Deg !


Jantung Kiran seakan tertumbuk benda keras.


Wajahnya terlihat sedikit memucat. Tata maju


lebih dekat pada Nyonya Ambar.


"Dia gadis yang kemarin tertabrak Nyonya Besar."


Ucap Tata dengan suara yang sangat pelan.


"Lalu.. kenapa dia kesini.? siapa yang memberi


nya izin datang kesini.!"


Kiran semakin merasa tidak enak hati.


"Maafkan saya Nyonya karena telah lancang


menganggu kenyamanan anda.."


Lirihnya pelan dengan kepala yang semakin


tertunduk. Nyonya Ambar memalingkan wajah


nya kearah kolam, kembali menyeruput teh nya.


"Ada perlu apa, cepat katakan.! Aku tidak


terbiasa menerima tamu tidak di undang.!"


Ketus Nyonya Ambar dengan suara yang


terdengar begitu kesal. Kiran menarik napas


perlahan mencoba menenangkan diri dan


mengontrol emosi nya.


"Saya hanya ingin berterimakasih karena


Nyonya telah sudi memberikan pertolongan


kepada saya hingga saat ini saya baik-baik


saja , terimakasih banyak..!"


"Kalau begitu kau boleh pergi sekarang.!"


Deg.!


Jantung Kiran kembali terguncang hebat. Dia


mengangkat wajahnya sedikit, tidak di sangka


kedua mata mereka bertemu, saling menatap


dan bertarung di udara..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*