
**********
Tuntas sudah ujian Kiran untuk masuk kedalam
keluarga Hadiningrat. Eyang putri terlihat puas
dengan hasil masakan cucu menantunya itu.
Walupun tidak banyak menu yang di buat, tapi
semuanya adalah makanan lokal yang memiliki
cita rasa tinggi. Para pelayan benar-benar kagum
pada sosok Kiran, walaupun dia terlihat sebagai
gadis modern pada umumnya namun ternyata
Nona Muda mereka itu tidak pernah melupakan kodratnya sebagai seorang perempuan yang
punya keistimewaan tersendiri yakni harus
bisa melayani suami di dalam segala bidang.
Begitu beres acara makan malam Eyang putri
menyuruh Kiran untuk datang ke kamarnya.
Sementara Agra tampak mendapat panggilan
telepon yang kelihatan nya cukup penting. Dan
setelah mengakhiri pembicaraan teleponnya
dia kembali menghampiri Kiran yangmasih
duduk di kursi nya.
"Sayang.. pergilah ke kamar Eyang..aku akan
pergi dulu keluar, ada perlu sebentar."
Kiran menautkan alisnya, menatap sedikit berat
kearah Agra yang tampak bersiap karena saat ini
Pak Hans sedang memakaikan mantel padanya.
"Mau kemana ? apa ada sesuatu yang penting?"
Agra meraih tubuh Kiran ke dalam pelukannya.
Menciumi puncak kepalanya berulangkali.
"Tidak terlalu penting, tapi aku sendiri yang
harus datang mengurusnya.!"
"Apa ada masalah serius.?"
"Tidak ada sayang.. hanya masalah kerjaan."
"Kenapa harus malam-malam begini..!"
"Besok sore kita harus terbang ke xxx.. jadi aku
akan membereskan masalah yang tersisa.!"
Kiran merebahkan wajah nya seraya mengusap
lembut belahan dada bidang Agra yang langsung
saja memejamkan mata merasakan desiran halus yang merambat ke seluruh aliran darahnya.
"Baiklah kalau begitu, hati-hati ya.."
"Kalau sudah selesai aku akan segera pulang.
Kau bersiap saja untuk nanti malam..!"
Bisik Agra pelan di telinga Kiran yang langsung
menjauhkan tubuhnya dengan wajah yang kini
sudah di penuhi semburat merah.
"Dasar mesum..! sudah sana.. jangan pulang
terlalu malam..aku takut di kamar sendirian.!"
"Aku tidak akan lama..mana mungkin aku tega
meninggalkan mu sendirian lama-lama.."
Agra mencium kening Kiran cukup lama, lalu
mengecup lembut bibirnya. Setelah itu barulah
dia melangkah pergi di antar oleh Pak Hans.
Tidak lama Kiran bersama Tata pergi menuju
kamar tidur Eyang putri.
Eyang putri mengajak Kiran untuk duduk di
atas tempat tidur. Di sana ada beberapa kotak
perhiasan yang bertumpuk.
"Ambilah..ini semua sekarang adalah milikmu.
Harusnya yang menyerahkan ini padamu adalah
ibunya Agra..!"
Eyang Putri menyerahkan semua kotak cantik
itu ke hadapan Kiran yang menatap bingung.
"Apa ini Eyang..? Kiran tidak perlu semua ini."
Kiran mendorong kotak-kotak itu ke hadapan
Eyang putri.
"Itu adalah hak mu.. ambilah..kau tidak boleh
menolaknya..!"
Titah Eyang putri dengan tatapan intimidasi
nya yang langsung menciutkan nyali Kiran.
Dengan sedikit ragu dia meraih kembali
kotak-kotak tersebut.
"Baiklah kalau Eyang memaksa.."
"Bukalah..kau harus melihatnya.!"
Kiran mengangguk, kemudian dia membuka
kotak yang paling atas. Dan dia hanya bisa
melebarkan matanya melihat satu set berlian
cantik dari mulai kalung, cincin serta anting.
Semuanya terlihat indah dan memukau.
"Eyang..ini cantik sekali.. semuanya terlihat
sangat indah. Apakah ini tidak berlebihan?"
"Kau pantas mendapatkan nya. Simpanlah
baik-baik..semua ini milikmu sekarang..!"
"Terimakasih banyak Eyang..Sebenarnya Kiran
tidak mengharapkan semua ini..kasih sayang
dan cinta kalian sudah lebih dari apapun.!"
Lirih Kiran masih menatap kagum pada semua perhiasan cantik itu. Eyang putri merebahkan
tubuhnya di bantu oleh Kiran.
"Apa Eyang mau di buatkan sesuatu..?"
Kiran duduk di ujung kaki Eyang putri seraya
memijat nya lembut. Eyang putri menggeleng,
matanya kini mulai terpejam. Tiba-tiba ponsel
Kiran bergetar dan nama sang ayah tertera di
sana. Kiran melirik ragu kearah Eyang putri
yang masih memejamkan matanya.
"Assalamualaikum Ayah.."
"Waalaikumsalam Nak..maaf ayah mengganggu
malam-malam begini, tapi ini darurat..!"
Deg !
Perasaan Kiran langsung tidak enak. Dia bangkit
dari duduknya menjauhi posisi eyang putri.
"Tidak apa-apa ayah, Kiran juga belum tidur.
Ada apa ayah, apa ada sesuatu yang terjadi.?"
Kiran mencoba menekan suaranya supaya
tidak menggangu ketenangan Eyang putri.
"Adikmu Aryella masuk rumah sakit.. barusan
dia mencoba mengakhiri hidupnya..!"
"Apa..? innalilahi.. sekarang ada dimana.?"
"Sekarang sudah ada di star hospital.."
"Baiklah..Kiran akan kesana sekarang..!"
Kiran mengakhiri pembicaraan nya. Wajahnya
kini terlihat pucat dan panik.
"Ada apa Kiran.? apa terjadi sesuatu pada salah
satu keluargamu.?"
Kiran menatap bingung kearah Eyang putri
yang kini sedang menatapnya tajam.
"Iya Eyang..Aryella masuk rumah sakit.."
"Kalau begitu pergilah kesana..kau harus ada
di sana sekarang.!"
"Tapi Eyang..Agra sedang pergi..Aku harus
memberitahu dia dulu.."
"Tidak apa, Eyang memberimu izin untuk
pergi. Kau akan diantar Mondy kesana. Tata..
kamu hubungi Mondy untuk bersiap.!"
"Baik Nyonya..!"
Sahut Tata sambil kemudian dia cepat-cepat
menghubungi supir pribadi Eyang putri. Kiran
tampak sedikit bimbang karena Agra sedang
tidak ada di rumah. Dia mencoba menghubungi
nomor Agra untuk memberitahu kepergiannya.
Tapi hingga dua kali di hubungi tidak juga di
respon. Kemana sih dia, kenapa telpon nya tidak
di angkat.? Kiran tidak punya banyak waktu.
"Pergilah sekarang..kalau soal Agra biar Eyang
nanti yang bicara dengannya."
Kiran menatap Eyang putri, lalu mengangguk.
"Terimakasih banyak Eyang.. kalau begitu
Kiran permisi.."
Kiran mencium kening Eyang putri lembut
setelah itu dia cepat-cepat keluar dari kamar.
------ ------
Kiran baru saja tiba di ruang Emergency Star
Hospital. Semua staf rumah sakit terlihat gugup
dan salah tingkah melihat kehadiran istri pemilik
rumah sakit ini. Namun dia seakan tidak perduli
sama sekali dengan semua sikap hormat mereka.
"Ayah..ibu.. bagaimana keadaan Aryella.?"
Tanya Kiran seraya duduk merangkul ibunya.
Nyonya Amelia duduk lemas dengan derai air
mata yang tiada henti keluar.
"Dia masih di tangani dokter di dalam.. Sam
juga ada di dalam..!"
Sahut Tuan Zein dengan wajah di penuhi oleh
rasa cemas dan kekhawatiran.
"Apa yang terjadi sebenarnya.?"
Kiran menatap ayah dan ibunya itu bergantian.
"Semuanya salah ibu.. Aryella jadi terjerumus
begini karena ibu jarang memperhatikan nya."
"Apa maksud ibu..? sebenarnya ada apa.?"
Tuan Zein menggeleng lemah sementara Nyonya
Amelia menunduk sedih merasa terpukul.
"Kiran.. adikmu Aryella.. hamil.."
"Apa..? Aryella hamil..?"
Kiran menutup mulutnya tak percaya. Nyonya
Amelia mengangguk lemah.
"Astagfirullah.. Aryella.."
Kiran menutup wajahnya di penuhi rasa tidak
percaya dengan kabar ini. Apa yang selama ini
dia takutkan ternyata terjadi juga.
"Apa dia bilang siapa orang yang harus tangung
jawab atas kehamilan nya ?"
Kiran kembali menatap kedua orang tuanya itu. Mereka menggeleng lemah putus asa.
"Dia malah memilih jalan buntu ini daripada
mengatakan siapa orang nya.!"
Lirih Tuan Zein sambil mendudukkan dirinya
di sebrang Kiran dan Nyonya Amelia. Raut
wajahnya terlihat menyimpan begitu banyak
beban, untung saja penyakit jantung nya tidak
kambuh lagi.
"Nathan..aku yakin laki-laki brengsek itu yang
harus bertanggung jawab atas semua ini.!"
Desis Kiran dengan wajah memerah. Tuan
Zein dan Nyonya Amelia terkejut, bersamaan
di ambang pintu muncul Sam dengan wajah
yang di penuhi keringat.
"Pendarahan nya sudah bisa di hentikan. Dia
akan segera di pindahkan ke ruang perawatan."
Terang Sam sebelum keluarga nya itu bertanya.
Mereka menarik napas lega. Kiran bangkit dari
duduknya, menatap kedua orang tuanya yang
juga sedang menatapnya.
"Ayah dan ibu.. jangan tinggalkan Aryella.! Kiran
akan keluar dulu..ada sedikit urusan.!"
"Kamu mau kemana nak..? ini sudah malam.
Lagipula nanti suamimu pasti akan kesini
mencarimu..!"
"Kiran tidak akan lama kok yah..!"
"Tapi Kiran..kamu mau kemana sebenarnya.?"
"Ada masalah yang harus di luruskan di sini.!"
Ucap Kiran seraya memeluk ibunya sebentar
setelah itu tanpa kata lagi dia melangkah keluar
dari ruang Emergency tersebut.
Kiran meminta Mondy untuk mengantar nya ke
sebuah club malam. Dia yakin orang yang ingin
di datanginya ada di tempat ini. Karena ini adalah
tempat yang sering menjadi pelampiasan emosi
ataupun kekesalannya.
"Nona Muda..anda yakin akan masuk ke dalam.?"
Tanya Mondy seraya melihat kearah spion tengah
dimana saat ini Kiran sedang memakai masker
juga blazer panjangnya. Saat ini mereka berada
di parkiran khusus.
"Aku yakin Mondy..kau ikut denganku dan kalian
berdua ikuti saja aku dari belakang, jangan terlalu dekat kalau tidak mendesak..!"
pengawal wanita super maskulin nya. Mereka
bertiga sudah satu paket dengan Mondy.
"Tapi Nona..saya rasa ini bukan tempat yang
cocok untuk anda, saya takut Tuan Muda tahu.."
Sergah Mondy dengan raut wajah sedikit ragu.
Kiran merapatkan blazer nya.
"Aku tahu, tapi orang yang aku cari sedang ada
di tempat ini. Aku tidak punya cukup waktu..!"
Ucap Kiran sambil kemudian keluar setelah dua
pengawal tadi turun duluan membukakan pintu.
Akhirnya Kiran yang di kawal oleh Mondy mulai
masuk ke dalam club malam paling mewah di
kota ini. Para pengunjung yang datang ke club
ini rata-rata orang kalangan berduit yang sudah
bingung cara menghamburkan uang.
Dia masuk tanpa hambatan setelah Mondy
memperlihatkan sebuah kartu emas pada para
petugas di pintu masuk. Mereka tampak melihat
kearah Kiran yang hanya bisa di lihat dari mata
nya saja yang indah bercahaya. Namun dari hal
itupun kecantikan alami wajah Kiran sudah
terbingkai dengan jelas membuat mata para
penjaga mengerjap terpesona. Namun Mondy
segera mengirimkan tatapan ancaman hingga
membuat mereka mengangkat tangan.
Di sebuah ruangan VVIP private...
Ada beberapa orang pria dengan setelah resmi
sedang menikmati minuman mahal di temani
oleh para wanita berpakaian minim yang hanya
menutup sedikit bagian sensitif nya saja. Para
pria itu bukanlah sembarang orang. Mereka
rata-rata pengusaha muda sukses di bidang
usaha masing-masing. Dan paras mereka pun
rata-rata menawan.
"Hei..Tuan Nathan..kau sudah terlalu banyak
minum malam ini. Apa gerangan yang sudah
membuat mu segila ini.? setahuku kau tidak
pernah seperti ini sebelumnya..!"
Cegah salah seorang pria seraya mengambil
botol dari tangan pria yang sedang minum tiada
henti, dia terlihat sangat kacau. Mata nya kini
sudah mulai merah. Nathan..ya pria itu adalah
Nathan, dia sudah biasa datang ke tempat ini
di saat pikirannya kacau balau.
"Dia sudah pergi dariku..dan laki-laki berkuasa
itu telah mengambilnya..aku kehilangan dirinya sekarang , dia tidak akan kembali padaku..!"
Racau Nathan sambil menatap gelas kecil
di tangannya dengan wajah di miringkan.
"Apa dia kekasihmu yang hilang itu.? aku jadi
penasaran secantik apa orang nya hingga bisa
membuat dirimu segila ini.. Bukankah kau bisa
mendapatkan wanita manapun sesuka mu..?"
"Kau benar..aku bisa mendapatkan wanita
manapun, wanita secantik apapun..tapi dia
berbeda, dia itu sangat murni..!"
"Bagaimana kalau dia di gantikan dengan
Nona Mikhayla Alexandria..apa kau masih
memilih nya ?"
"Hahaa.. Mikhayla..wanita ku ini tidak bisa di bandingkan dengan siapapun..dia itu berbeda.!
dan Mikhayla..dia hanyalah sampah jualan,
tidak berharga sama sekali di mataku..!"
Decak Nathan masih menatap gelas di depan
nya. Namun tiba-tiba matanya mengerjap ragu.
Menggisiknya beberapa kali, dia sangat yakin
dengan postur tubuh indah ini. Tidak ada dua
nya, tidak bisa di samakan dengan siapapun.
"Kiran...kau di sini..?"
Desis Nathan sambil kemudian mengangkat
wajahnya. Sosok tinggi ramping dengan bentuk
tubuh yang sangat indah kini tengah berjalan
kearahnya. Para pria lain nampak terdiam di
tempat duduk masing-masing menatap kearah
kedatangan Kiran yang di ikuti oleh Mondy.
"Kiran... kenapa kau datang kesini.?"
Raut wajah Nathan terlihat jelas tidak suka. Dia
langsung menyingkirkan wanita penghibur yang
duduk merapat padanya. Lalu dia melirik kearah teman-teman nya yang masih bereaksi biasa saja sampai Kiran membuka masker penutup wajah
nya barulah mereka tampak melongo terkesima.
Termasuk juga para wanita penghibur.
Bukankah dia adalah gadis beruntung yang
telah di persunting oleh cucu tunggal keluarga Hadiningrat.? itulah kira-kira isi hati para wanita penghibur. Sedang isi pikiran para pria lain lagi,
bahkan ada beberapa di antaranya yang langsung
menundukkan kepala, karena ternyata mereka
adalah pimpinan beberapa perusahaan yang
ada di bawah komando Bintang Group.
"Kita harus bicara tentang Aryella sekarang.!"
Tegas Kiran dengan tatapan tajam menusuk.
Nathan langsung berdiri, matanya yang merah
tampak semakin menatap tidak suka. Dia maju
kearah Kiran kemudian dalam sekali gerakan
menarik tangan nya di bawa berjalan ke sudut ruangan. Kiran mencoba melepaskan pegangan
tangan Nathan yang terasa begitu kuat.
"Lepaskan Nathan..kita harus bicara sekarang.!"
Kiran menepis pegangan tangan Nathan, kini
keduanya saling menatap kuat. Jelas sekali ada gejolak cinta dan kerinduan bercampur dengan kekecewaan yang tersirat dari pancaran mata
Nathan, sangat rumit dan kompleks.
"Kenapa kamu datang ke tempat ini..? ini
bukan tempat yang cocok untuk mu Kiran..!"
"Jangan mengalihkan pembicaraan Nathan.
Aku datang kesini untuk Aryella..!"
"Apa yang ingin kau sampaikan padaku ?"
"Kau harus bertanggung jawab atas kehamilan
nya Nathan, dia adalah anakmu !"
"Hoohh..jadi dia mengadu pada semua orang
tentang kehamilan nya itu ? memalukan..!!"
Desis Nathan dengan senyum miring mengejek.
Kiran mengetatkan rahangnya menahan ledakan
emosi yang seolah tidak terbendung.
"Apa yang kau lakukan padanya hingga dia
nekad mengakhiri hidupnya.? "
Nathan nampak terkejut sesaat tapi kemudian
mendengus kesal, kembali menatap wajah Kiran
yang memerah di bakar amarah.
"Aku tidak menginginkan kehadiran mereka
berdua dalam hidupku, jadi aku menolaknya.!"
Kiran terhenyak, menatap Nathan tidak percaya
kalau laki-laki itu bisa sejahat ini.
"Kalau kau merasa jadi laki-laki sejati, penuhi
kewajiban mu pada darah daging mu sendiri
Nathan, itu adalah hasil perbuatan hina kalian.!"
Tatapan Nathan semakin menyala dan Kiran
tidak kalah panasnya.
"Itu bukan anakku Kiran.! entah darah siapa
lagi yang tercampur di sana.!"
"Nathan..! jaga lidahmu.! sehina apapun
adikku dia tidak pernah mengobral tubuh
nya selain padamu..!".
Bentak Kiran dengan tangan terangkat dan
hanya tertahan di udara. Nathan tersenyum
pahit melihat kerasnya sikap Kiran saat ini.
"Itu adalah kesalahannya sendiri, aku tidak
pernah menginginkan keturunan dari wanita
manapun selain dari dirimu Kiran..!"
"Nathan.. sadarlah..ku mohon.. cobalah untuk
menerima kenyataan. Aku.. sekarang adalah
istri Bimantara Agra Bintang..aku miliknya.!"
Wajah Nathan semakin mengeras, tangannya
terkepal dengan kuat. Dalam sekali gerakan
dia menarik pinggang ramping Kiran hingga
kini tubuh mereka merapat. Kiran meronta,
mencoba mendorong kuat dada Nathan.
"Hooh kelihatannya kau sangat menikmati
peranmu sebagai Nona Muda Hadiningrat
Kiran..kau sudah benar-benar melupakan ku..!"
"Tentu saja karena apa yang aku cari selama
ini sudah aku temukan..dia adalah segalanya
bagiku..aku sangat mencintainya.!".
"Tidak Kiran..kau tidak bisa melakukan ini
padaku..aku akan mengambil kembali dirimu
dari laki-laki itu..!"
Bentak Nathan seraya menyeret tubuh Kiran
ke arah sofa. Tapi Mondy bergerak cepat, maju
menyerang Nathan. Kiran akhirnya terlepas, dia mundur ke pinggir ruangan. Kini perkelahian seru
pun terjadi antara Nathan dan Mondy serta dua
orang pengawal yang tadi ada di luar. Namun tidak
lama beberapa pengawal Nathan pun berdatangan
dan pertarungan berlangsung semakin sengit.
Mondy serta dua pengawal Kiran kini mulai
terdesak dan berjatuhan. Nathan menghampiri
Kiran yang mundur ke sisi ruangan. Para pria
yang tadi ada di dalam ruangan tampak nya tidak
bisa berbuat banyak karena mereka tahu siapa Nathan, pria itu cukup handal dalam ilmu bela diri.
"Ayo ikut denganku..!"
"Berhenti Nathan.! aku datang kesini hanya ingin
berbicara denganmu, bukan mencari masalah.!"
Nathan menatap kuat wajah cantik Kiran yang
semakin membuat jiwanya meronta.
"Sudah kubilang..aku tidak peduli padanya..!"
"Dia mencintaimu Nathan.! cobalah untuk
menerimanya..!"
"Tapi aku mencintaimu Kiran..! dan itu mutlak.!"
Desis Nathan sambil kemudian dalam sekali
gerakan dia mengangkat tubuh Kiran ala bridal
style di bawa keluar ruangan. Kiran menjerit
meronta ingin melepaskan diri namun Nathan
seakan tidak peduli dia berjalan cepat menuju
ke dalam lift khusus yang ada di ujung koridor.
Sedang Mondy dan dua orang pengawal tadi
kini sudah tergeletak di atas lantai dengan
kondisi tak sadarkan diri.
"Turunkan aku Nathan..kamu sudah kelewat
batas, aku tidak bisa membayangkan apa yang
akan terjadi padamu kalau suamiku datang ke
tempat ini..!"
Gertak Kiran saat mereka ada di dalam lift.
Nathan tertawa keras mendengar ancaman
Kiran yang terdengar menggelikan itu.
"Hahaa kau pikir aku tidak tahu kemampuan
suami mu itu.Dia itu hanya bisa duduk di balik komputer.. Dia bukanlah tandingan ku Kiran..
Kau belum tahu siapa aku..!"
Nathan keluar dari dalam lift masih dengan
posisi mengangkat tubuh Kiran yang tiada
henti meronta dan memukuli dada nya.
"Kita ke villa biru sekarang..!"
Titah Nathan pada sopir dan para pengawalnya
yang langsung mengangguk serempak.
"Nathan.. lepaskan aku..biarkan aku pergi..!"
"Jangan banyak bicara sayang..! itu hanya akan
membuatmu lelah..!"
Desis Nathan seraya mendudukkan Kiran yang
terus saja berontak dan berteriak minta tolong.
Tidak ada pilihan lain Nathan menotok titik saraf
khusus di tengkuk Kiran yang membuat dia
langsung jatuh terkulai, kehilangan kesadaran.
"Maaf sayang..aku terpaksa melakukan nya.."
Bisik Nathan seraya menyandarkan tubuh Kiran
di dadanya. Tidak lama mobil pun mulai melaju meninggalkan area club. Dan Akhirnya Nathan membawa Kiran pergi dari club itu.
**********
TBC.....