Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
53. Kacau


 


**********


 


Tuntas sudah ujian Kiran untuk masuk kedalam


keluarga Hadiningrat. Eyang putri terlihat puas


dengan hasil masakan cucu menantunya itu.


Walupun tidak banyak menu yang di buat, tapi


semuanya adalah makanan lokal yang memiliki


cita rasa tinggi. Para pelayan benar-benar kagum


pada sosok Kiran, walaupun dia terlihat sebagai


gadis modern pada umumnya namun ternyata


Nona Muda mereka itu tidak pernah melupakan kodratnya sebagai seorang perempuan yang


punya keistimewaan tersendiri yakni harus


bisa melayani suami di dalam segala bidang.


Begitu beres acara makan malam Eyang putri


menyuruh Kiran untuk datang ke kamarnya.


Sementara Agra tampak mendapat panggilan


telepon yang kelihatan nya cukup penting. Dan


setelah mengakhiri pembicaraan teleponnya


dia kembali menghampiri Kiran yangmasih


duduk di kursi nya.


"Sayang.. pergilah ke kamar Eyang..aku akan


pergi dulu keluar, ada perlu sebentar."


Kiran menautkan alisnya, menatap sedikit berat


kearah Agra yang tampak bersiap karena saat ini


Pak Hans sedang memakaikan mantel padanya.


"Mau kemana ? apa ada sesuatu yang penting?"


Agra meraih tubuh Kiran ke dalam pelukannya.


Menciumi puncak kepalanya berulangkali.


"Tidak terlalu penting, tapi aku sendiri yang


harus datang mengurusnya.!"


"Apa ada masalah serius.?"


"Tidak ada sayang.. hanya masalah kerjaan."


"Kenapa harus malam-malam begini..!"


"Besok sore kita harus terbang ke xxx.. jadi aku


akan membereskan masalah yang tersisa.!"


Kiran merebahkan wajah nya seraya mengusap


lembut belahan dada bidang Agra yang langsung


saja memejamkan mata merasakan desiran halus yang merambat ke seluruh aliran darahnya.


"Baiklah kalau begitu, hati-hati ya.."


"Kalau sudah selesai aku akan segera pulang.


Kau bersiap saja untuk nanti malam..!"


Bisik Agra pelan di telinga Kiran yang langsung


menjauhkan tubuhnya dengan wajah yang kini


sudah di penuhi semburat merah.


"Dasar mesum..! sudah sana.. jangan pulang


terlalu malam..aku takut di kamar sendirian.!"


"Aku tidak akan lama..mana mungkin aku tega


meninggalkan mu sendirian lama-lama.."


Agra mencium kening Kiran cukup lama, lalu


mengecup lembut bibirnya. Setelah itu barulah


dia melangkah pergi di antar oleh Pak Hans.


Tidak lama Kiran bersama Tata pergi menuju


kamar tidur Eyang putri.


Eyang putri mengajak Kiran untuk duduk di


atas tempat tidur. Di sana ada beberapa kotak


perhiasan yang bertumpuk.


"Ambilah..ini semua sekarang adalah milikmu.


Harusnya yang menyerahkan ini padamu adalah


ibunya Agra..!"


Eyang Putri menyerahkan semua kotak cantik


itu ke hadapan Kiran yang menatap bingung.


"Apa ini Eyang..? Kiran tidak perlu semua ini."


Kiran mendorong kotak-kotak itu ke hadapan


Eyang putri.


"Itu adalah hak mu.. ambilah..kau tidak boleh


menolaknya..!"


Titah Eyang putri dengan tatapan intimidasi


nya yang langsung menciutkan nyali Kiran.


Dengan sedikit ragu dia meraih kembali


kotak-kotak tersebut.


"Baiklah kalau Eyang memaksa.."


"Bukalah..kau harus melihatnya.!"


Kiran mengangguk, kemudian dia membuka


kotak yang paling atas. Dan dia hanya bisa


melebarkan matanya melihat satu set berlian


cantik dari mulai kalung, cincin serta anting.


Semuanya terlihat indah dan memukau.


"Eyang..ini cantik sekali.. semuanya terlihat


sangat indah. Apakah ini tidak berlebihan?"


"Kau pantas mendapatkan nya. Simpanlah


baik-baik..semua ini milikmu sekarang..!"


"Terimakasih banyak Eyang..Sebenarnya Kiran


tidak mengharapkan semua ini..kasih sayang


dan cinta kalian sudah lebih dari apapun.!"


Lirih Kiran masih menatap kagum pada semua perhiasan cantik itu. Eyang putri merebahkan


tubuhnya di bantu oleh Kiran.


"Apa Eyang mau di buatkan sesuatu..?"


Kiran duduk di ujung kaki Eyang putri seraya


memijat nya lembut. Eyang putri menggeleng,


matanya kini mulai terpejam. Tiba-tiba ponsel


Kiran bergetar dan nama sang ayah tertera di


sana. Kiran melirik ragu kearah Eyang putri


yang masih memejamkan matanya.


"Assalamualaikum Ayah.."


"Waalaikumsalam Nak..maaf ayah mengganggu


malam-malam begini, tapi ini darurat..!"


Deg !


Perasaan Kiran langsung tidak enak. Dia bangkit


dari duduknya menjauhi posisi eyang putri.


"Tidak apa-apa ayah, Kiran juga belum tidur.


Ada apa ayah, apa ada sesuatu yang terjadi.?"


Kiran mencoba menekan suaranya supaya


tidak menggangu ketenangan Eyang putri.


"Adikmu Aryella masuk rumah sakit.. barusan


dia mencoba mengakhiri hidupnya..!"


"Apa..? innalilahi.. sekarang ada dimana.?"


"Sekarang sudah ada di star hospital.."


"Baiklah..Kiran akan kesana sekarang..!"


Kiran mengakhiri pembicaraan nya. Wajahnya


kini terlihat pucat dan panik.


"Ada apa Kiran.? apa terjadi sesuatu pada salah


satu keluargamu.?"


Kiran menatap bingung kearah Eyang putri


yang kini sedang menatapnya tajam.


"Iya Eyang..Aryella masuk rumah sakit.."


"Kalau begitu pergilah kesana..kau harus ada


di sana sekarang.!"


"Tapi Eyang..Agra sedang pergi..Aku harus


memberitahu dia dulu.."


"Tidak apa, Eyang memberimu izin untuk


pergi. Kau akan diantar Mondy kesana. Tata..


kamu hubungi Mondy untuk bersiap.!"


"Baik Nyonya..!"


Sahut Tata sambil kemudian dia cepat-cepat


menghubungi supir pribadi Eyang putri. Kiran


tampak sedikit bimbang karena Agra sedang


tidak ada di rumah. Dia mencoba menghubungi


nomor Agra untuk memberitahu kepergiannya.


Tapi hingga dua kali di hubungi tidak juga di


respon. Kemana sih dia, kenapa telpon nya tidak


di angkat.? Kiran tidak punya banyak waktu.


"Pergilah sekarang..kalau soal Agra biar Eyang


nanti yang bicara dengannya."


Kiran menatap Eyang putri, lalu mengangguk.


"Terimakasih banyak Eyang.. kalau begitu


Kiran permisi.."


Kiran mencium kening Eyang putri lembut


setelah itu dia cepat-cepat keluar dari kamar.


------ ------


Kiran baru saja tiba di ruang Emergency Star


Hospital. Semua staf rumah sakit terlihat gugup


dan salah tingkah melihat kehadiran istri pemilik


rumah sakit ini. Namun dia seakan tidak perduli


sama sekali dengan semua sikap hormat mereka.


"Ayah..ibu.. bagaimana keadaan Aryella.?"


Tanya Kiran seraya duduk merangkul ibunya.


Nyonya Amelia duduk lemas dengan derai air


mata yang tiada henti keluar.


"Dia masih di tangani dokter di dalam.. Sam


juga ada di dalam..!"


Sahut Tuan Zein dengan wajah di penuhi oleh


rasa cemas dan kekhawatiran.


"Apa yang terjadi sebenarnya.?"


Kiran menatap ayah dan ibunya itu bergantian.


"Semuanya salah ibu.. Aryella jadi terjerumus


begini karena ibu jarang memperhatikan nya."


"Apa maksud ibu..? sebenarnya ada apa.?"


Tuan Zein menggeleng lemah sementara Nyonya


Amelia menunduk sedih merasa terpukul.


"Kiran.. adikmu Aryella.. hamil.."


"Apa..? Aryella hamil..?"


Kiran menutup mulutnya tak percaya. Nyonya


Amelia mengangguk lemah.


"Astagfirullah.. Aryella.."


Kiran menutup wajahnya di penuhi rasa tidak


percaya dengan kabar ini. Apa yang selama ini


dia takutkan ternyata terjadi juga.


"Apa dia bilang siapa orang yang harus tangung


jawab atas kehamilan nya ?"


Kiran kembali menatap kedua orang tuanya itu. Mereka menggeleng lemah putus asa.


"Dia malah memilih jalan buntu ini daripada


mengatakan siapa orang nya.!"


Lirih Tuan Zein sambil mendudukkan dirinya


di sebrang Kiran dan Nyonya Amelia. Raut


wajahnya terlihat menyimpan begitu banyak


beban, untung saja penyakit jantung nya tidak


kambuh lagi.


"Nathan..aku yakin laki-laki brengsek itu yang


harus bertanggung jawab atas semua ini.!"


Desis Kiran dengan wajah memerah. Tuan


Zein dan Nyonya Amelia terkejut, bersamaan


di ambang pintu muncul Sam dengan wajah


yang di penuhi keringat.


"Pendarahan nya sudah bisa di hentikan. Dia


akan segera di pindahkan ke ruang perawatan."


Terang Sam sebelum keluarga nya itu bertanya.


Mereka menarik napas lega. Kiran bangkit dari


duduknya, menatap kedua orang tuanya yang


juga sedang menatapnya.


"Ayah dan ibu.. jangan tinggalkan Aryella.! Kiran


akan keluar dulu..ada sedikit urusan.!"


"Kamu mau kemana nak..? ini sudah malam.


Lagipula nanti suamimu pasti akan kesini


mencarimu..!"


"Kiran tidak akan lama kok yah..!"


"Tapi Kiran..kamu mau kemana sebenarnya.?"


"Ada masalah yang harus di luruskan di sini.!"


Ucap Kiran seraya memeluk ibunya sebentar


setelah itu tanpa kata lagi dia melangkah keluar


dari ruang Emergency tersebut.


Kiran meminta Mondy untuk mengantar nya ke


sebuah club malam. Dia yakin orang yang ingin


di datanginya ada di tempat ini. Karena ini adalah


tempat yang sering menjadi pelampiasan emosi


ataupun kekesalannya.


"Nona Muda..anda yakin akan masuk ke dalam.?"


Tanya Mondy seraya melihat kearah spion tengah


dimana saat ini Kiran sedang memakai masker


juga blazer panjangnya. Saat ini mereka berada


di parkiran khusus.


"Aku yakin Mondy..kau ikut denganku dan kalian


berdua ikuti saja aku dari belakang, jangan terlalu dekat kalau tidak mendesak..!"


pengawal wanita super maskulin nya. Mereka


bertiga sudah satu paket dengan Mondy.


"Tapi Nona..saya rasa ini bukan tempat yang


cocok untuk anda, saya takut Tuan Muda tahu.."


Sergah Mondy dengan raut wajah sedikit ragu.


Kiran merapatkan blazer nya.


"Aku tahu, tapi orang yang aku cari sedang ada


di tempat ini. Aku tidak punya cukup waktu..!"


Ucap Kiran sambil kemudian keluar setelah dua


pengawal tadi turun duluan membukakan pintu.


Akhirnya Kiran yang di kawal oleh Mondy mulai


masuk ke dalam club malam paling mewah di


kota ini. Para pengunjung yang datang ke club


ini rata-rata orang kalangan berduit yang sudah


bingung cara menghamburkan uang.


Dia masuk tanpa hambatan setelah Mondy


memperlihatkan sebuah kartu emas pada para


petugas di pintu masuk. Mereka tampak melihat


kearah Kiran yang hanya bisa di lihat dari mata


nya saja yang indah bercahaya. Namun dari hal


itupun kecantikan alami wajah Kiran sudah


terbingkai dengan jelas membuat mata para


penjaga mengerjap terpesona. Namun Mondy


segera mengirimkan tatapan ancaman hingga


membuat mereka mengangkat tangan.


Di sebuah ruangan VVIP private...


Ada beberapa orang pria dengan setelah resmi


sedang menikmati minuman mahal di temani


oleh para wanita berpakaian minim yang hanya


menutup sedikit bagian sensitif nya saja. Para


pria itu bukanlah sembarang orang. Mereka


rata-rata pengusaha muda sukses di bidang


usaha masing-masing. Dan paras mereka pun


rata-rata menawan.


"Hei..Tuan Nathan..kau sudah terlalu banyak


minum malam ini. Apa gerangan yang sudah


membuat mu segila ini.? setahuku kau tidak


pernah seperti ini sebelumnya..!"


Cegah salah seorang pria seraya mengambil


botol dari tangan pria yang sedang minum tiada


henti, dia terlihat sangat kacau. Mata nya kini


sudah mulai merah. Nathan..ya pria itu adalah


Nathan, dia sudah biasa datang ke tempat ini


di saat pikirannya kacau balau.


"Dia sudah pergi dariku..dan laki-laki berkuasa


itu telah mengambilnya..aku kehilangan dirinya sekarang , dia tidak akan kembali padaku..!"


Racau Nathan sambil menatap gelas kecil


di tangannya dengan wajah di miringkan.


"Apa dia kekasihmu yang hilang itu.? aku jadi


penasaran secantik apa orang nya hingga bisa


membuat dirimu segila ini.. Bukankah kau bisa


mendapatkan wanita manapun sesuka mu..?"


"Kau benar..aku bisa mendapatkan wanita


manapun, wanita secantik apapun..tapi dia


berbeda, dia itu sangat murni..!"


"Bagaimana kalau dia di gantikan dengan


Nona Mikhayla Alexandria..apa kau masih


memilih nya ?"


"Hahaa.. Mikhayla..wanita ku ini tidak bisa di bandingkan dengan siapapun..dia itu berbeda.!


dan Mikhayla..dia hanyalah sampah jualan,


tidak berharga sama sekali di mataku..!"


Decak Nathan masih menatap gelas di depan


nya. Namun tiba-tiba matanya mengerjap ragu.


Menggisiknya beberapa kali, dia sangat yakin


dengan postur tubuh indah ini. Tidak ada dua


nya, tidak bisa di samakan dengan siapapun.


"Kiran...kau di sini..?"


Desis Nathan sambil kemudian mengangkat


wajahnya. Sosok tinggi ramping dengan bentuk


tubuh yang sangat indah kini tengah berjalan


kearahnya. Para pria lain nampak terdiam di


tempat duduk masing-masing menatap kearah


kedatangan Kiran yang di ikuti oleh Mondy.


"Kiran... kenapa kau datang kesini.?"


Raut wajah Nathan terlihat jelas tidak suka. Dia


langsung menyingkirkan wanita penghibur yang


duduk merapat padanya. Lalu dia melirik kearah teman-teman nya yang masih bereaksi biasa saja sampai Kiran membuka masker penutup wajah


nya barulah mereka tampak melongo terkesima.


Termasuk juga para wanita penghibur.


Bukankah dia adalah gadis beruntung yang


telah di persunting oleh cucu tunggal keluarga Hadiningrat.? itulah kira-kira isi hati para wanita penghibur. Sedang isi pikiran para pria lain lagi,


bahkan ada beberapa di antaranya yang langsung


menundukkan kepala, karena ternyata mereka


adalah pimpinan beberapa perusahaan yang


ada di bawah komando Bintang Group.


"Kita harus bicara tentang Aryella sekarang.!"


Tegas Kiran dengan tatapan tajam menusuk.


Nathan langsung berdiri, matanya yang merah


tampak semakin menatap tidak suka. Dia maju


kearah Kiran kemudian dalam sekali gerakan


menarik tangan nya di bawa berjalan ke sudut ruangan. Kiran mencoba melepaskan pegangan


tangan Nathan yang terasa begitu kuat.


"Lepaskan Nathan..kita harus bicara sekarang.!"


Kiran menepis pegangan tangan Nathan, kini


keduanya saling menatap kuat. Jelas sekali ada gejolak cinta dan kerinduan bercampur dengan kekecewaan yang tersirat dari pancaran mata


Nathan, sangat rumit dan kompleks.


"Kenapa kamu datang ke tempat ini..? ini


bukan tempat yang cocok untuk mu Kiran..!"


"Jangan mengalihkan pembicaraan Nathan.


Aku datang kesini untuk Aryella..!"


"Apa yang ingin kau sampaikan padaku ?"


"Kau harus bertanggung jawab atas kehamilan


nya Nathan, dia adalah anakmu !"


"Hoohh..jadi dia mengadu pada semua orang


tentang kehamilan nya itu ? memalukan..!!"


Desis Nathan dengan senyum miring mengejek.


Kiran mengetatkan rahangnya menahan ledakan


emosi yang seolah tidak terbendung.


"Apa yang kau lakukan padanya hingga dia


nekad mengakhiri hidupnya.? "


Nathan nampak terkejut sesaat tapi kemudian


mendengus kesal, kembali menatap wajah Kiran


yang memerah di bakar amarah.


"Aku tidak menginginkan kehadiran mereka


berdua dalam hidupku, jadi aku menolaknya.!"


Kiran terhenyak, menatap Nathan tidak percaya


kalau laki-laki itu bisa sejahat ini.


"Kalau kau merasa jadi laki-laki sejati, penuhi


kewajiban mu pada darah daging mu sendiri


Nathan, itu adalah hasil perbuatan hina kalian.!"


Tatapan Nathan semakin menyala dan Kiran


tidak kalah panasnya.


"Itu bukan anakku Kiran.! entah darah siapa


lagi yang tercampur di sana.!"


"Nathan..! jaga lidahmu.! sehina apapun


adikku dia tidak pernah mengobral tubuh


nya selain padamu..!".


Bentak Kiran dengan tangan terangkat dan


hanya tertahan di udara. Nathan tersenyum


pahit melihat kerasnya sikap Kiran saat ini.


"Itu adalah kesalahannya sendiri, aku tidak


pernah menginginkan keturunan dari wanita


manapun selain dari dirimu Kiran..!"


"Nathan.. sadarlah..ku mohon.. cobalah untuk


menerima kenyataan. Aku.. sekarang adalah


istri Bimantara Agra Bintang..aku miliknya.!"


Wajah Nathan semakin mengeras, tangannya


terkepal dengan kuat. Dalam sekali gerakan


dia menarik pinggang ramping Kiran hingga


kini tubuh mereka merapat. Kiran meronta,


mencoba mendorong kuat dada Nathan.


"Hooh kelihatannya kau sangat menikmati


peranmu sebagai Nona Muda Hadiningrat


Kiran..kau sudah benar-benar melupakan ku..!"


"Tentu saja karena apa yang aku cari selama


ini sudah aku temukan..dia adalah segalanya


bagiku..aku sangat mencintainya.!".


"Tidak Kiran..kau tidak bisa melakukan ini


padaku..aku akan mengambil kembali dirimu


dari laki-laki itu..!"


Bentak Nathan seraya menyeret tubuh Kiran


ke arah sofa. Tapi Mondy bergerak cepat, maju


menyerang Nathan. Kiran akhirnya terlepas, dia mundur ke pinggir ruangan. Kini perkelahian seru


pun terjadi antara Nathan dan Mondy serta dua


orang pengawal yang tadi ada di luar. Namun tidak


lama beberapa pengawal Nathan pun berdatangan


dan pertarungan berlangsung semakin sengit.


Mondy serta dua pengawal Kiran kini mulai


terdesak dan berjatuhan. Nathan menghampiri


Kiran yang mundur ke sisi ruangan. Para pria


yang tadi ada di dalam ruangan tampak nya tidak


bisa berbuat banyak karena mereka tahu siapa Nathan, pria itu cukup handal dalam ilmu bela diri.


"Ayo ikut denganku..!"


"Berhenti Nathan.! aku datang kesini hanya ingin


berbicara denganmu, bukan mencari masalah.!"


Nathan menatap kuat wajah cantik Kiran yang


semakin membuat jiwanya meronta.


"Sudah kubilang..aku tidak peduli padanya..!"


"Dia mencintaimu Nathan.! cobalah untuk


menerimanya..!"


"Tapi aku mencintaimu Kiran..! dan itu mutlak.!"


Desis Nathan sambil kemudian dalam sekali


gerakan dia mengangkat tubuh Kiran ala bridal


style di bawa keluar ruangan. Kiran menjerit


meronta ingin melepaskan diri namun Nathan


seakan tidak peduli dia berjalan cepat menuju


ke dalam lift khusus yang ada di ujung koridor.


Sedang Mondy dan dua orang pengawal tadi


kini sudah tergeletak di atas lantai dengan


kondisi tak sadarkan diri.


"Turunkan aku Nathan..kamu sudah kelewat


batas, aku tidak bisa membayangkan apa yang


akan terjadi padamu kalau suamiku datang ke


tempat ini..!"


Gertak Kiran saat mereka ada di dalam lift.


Nathan tertawa keras mendengar ancaman


Kiran yang terdengar menggelikan itu.


"Hahaa kau pikir aku tidak tahu kemampuan


suami mu itu.Dia itu hanya bisa duduk di balik komputer.. Dia bukanlah tandingan ku Kiran..


Kau belum tahu siapa aku..!"


Nathan keluar dari dalam lift masih dengan


posisi mengangkat tubuh Kiran yang tiada


henti meronta dan memukuli dada nya.


"Kita ke villa biru sekarang..!"


Titah Nathan pada sopir dan para pengawalnya


yang langsung mengangguk serempak.


"Nathan.. lepaskan aku..biarkan aku pergi..!"


"Jangan banyak bicara sayang..! itu hanya akan


membuatmu lelah..!"


Desis Nathan seraya mendudukkan Kiran yang


terus saja berontak dan berteriak minta tolong.


Tidak ada pilihan lain Nathan menotok titik saraf


khusus di tengkuk Kiran yang membuat dia


langsung jatuh terkulai, kehilangan kesadaran.


"Maaf sayang..aku terpaksa melakukan nya.."


Bisik Nathan seraya menyandarkan tubuh Kiran


di dadanya. Tidak lama mobil pun mulai melaju meninggalkan area club. Dan Akhirnya Nathan membawa Kiran pergi dari club itu.


 


**********


 


TBC.....