Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
27. Terkejut


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Semua anggota keluarga Zein Mahesa saat ini


sudah berkumpul di ruang makan untuk makan malam. Kebetulan malam ini Samuel tidak ada


tugas. Dia ingin menghabiskan waktu bersama dengan Kiran untuk membalas rasa kangen


terhadap adik nya itu yang selama dua minggu


ini terpendam.


Waktu keberangkatan Kiran ke desa Samuel


tidak sempat bertemu dulu, saat itu kebetulan


dia sedang banyak sekali pasien yang harus di


tangani untuk menjalankan operasi.Samuel pun sempat menyalahkan Tuan Zein karena telah


mengijinkan adik kesayangan nya itu pergi ke


daerah terpencil yang cukup rawan.


Kiran duduk di samping Sam yang dari tadi terus


saja memanjakan dan menatap adiknya itu penuh kerinduan membuat Aryella mulai terbakar rasa cemburu. Dari kecil Samuel memang tampak lebih perhatian terhadap Kiran di banding pada Aryella.


Gadis itu hanya bisa menatap keduanya penuh


dengan kekesalan.


"Makanlah yang banyak..kau terlihat lebih kurus sekarang.!"


Samuel mengambilkan makanan kemudian di


taruh di piring Kiran yang menatap kakak tiri


nya itu dengan tersenyum lembut.


"Kak Sam..ini semua tidak akan muat di perutku.


Kau tahu bukan bagaimana cara makanku."


"Aku tahu, tapi saat ini kau membutuhkan asupan


gizi lebih untuk memulihkan kondisi tubuh mu."


"Kakak..di sana aku makan banyak setiap hari."


"Aku yakin kau makan seadanya di sana !"


Kiran hanya bisa menggeleng resah. Ingatan nya


kini kembali melayang pada sosok Agra. Hatinya


tiba-tiba saja terasa sakit, Kiran menghentikan makannya seraya memejamkan mata.


"Ada apa Kiran sayang.? apa makanannya tidak


enak.?"


Nyonya Amelia menatap Kiran dengan sorot mata penuh tanda tanya. Kiran melihat sekilas wajah


ibunya itu sambil menggeleng pelan, namun raut


wajahnya terlihat jelas kini kehilangan selera.


"Tidak Bu..Kiran hanya mengingat kenangan saat


di desa saja, Kiran ingat Mbak Rasmi."


Kiran berkilah sambil kembali menunduk gelisah.


Tuan Zein menatap Kiran penuh selidik, namun


dia berusaha untuk tidak terlalu peduli.


"Apa kamu mau kakak suapi ?"


Tawar Sam sambil menatap tenang wajah Kiran


yang langsung menggeleng kuat.


"Tidak usah Kak, Kiran bukan anak kecil lagi.!"


"Waktu kecil kamu sangat suka kalau kakak


menyuapimu.!"


Goda Sam membuat wajah Kiran bersemu merah


dan tersenyum malu.


"Itu kan dulu kak, sekarang Kiran sudah dewasa."


"Kau masih terlihat sama di mataku.! masih adik


kecilku yang manja.!"


"Kak Sam sudah..!"


Pipi Kiran semakin memerah, mereka berdua


saling menatap, Sam mengelus lembut rambut


Kiran yang tergerai indah.


"Cihh.! apa kalian sadar ini dimana.? pantaskah


di meja makan kalian mesra-mesraan seperti ini?"


Aryella tampak tidak tahan lagi melihat kedekatan


kedua kakaknya itu. Sam berpaling pada Aryella


kemudian menatap adik bungsunya itu sedikit


merasa bersalah namun ada juga rasa kesal.


"Kau tidak perlu iri padanya, dia baru saja kembali


dari tempat yang sangat jauh.!"


Desis Sam sambil kembali melanjutkan makan


nya. Aryella hanya bisa mendengus kesal.


"Alasan saja ! memangnya aku tidak tahu apa.."


"Sudah.! lanjutkan makan malam kalian.!"


Tuan Zein mengeluarkan suara nya membuat


semua anggota keluarga terdiam melanjutkan


makan malam mereka berusaha untuk tenang.


"Ayah sengaja mengumpulkan kalian semua di


sini untuk memberitahu satu hal."


Tuan Zein tampak berbicara serius setelah acara makan malam berakhir. Kiran mulai merasa tidak


nyaman, dia sudah bisa menebak apa yang akan


di sampaikan oleh ayah nya itu. Samuel terlihat


menatap Ayah sambung nya itu penuh rasa ingin


tahu, Aryella juga tidak kalah penasaran nya.


"Apa ada sesuatu yang penting ?"


Samuel tampak tidak sabar. Tuan Zein membagi


perhatian nya pada seluruh anggota keluarga.


"Sekarang ini usaha Ayah sedang dalam masalah


besar. 60 % saham perusahaan sudah di kuasai


oleh perusahaan Global Company milik keluarga


Wiranata.."


"Apa ? maksud ayah perusahaan milik keluarga


Nathan ?"


Aryella tampak terkejut dan mencoba meyakinkan


diri, dia menatap antusias wajah ayahnya. Samuel


juga tidak kalah terkejut nya. Hanya Kiran serta


nyonya Amelia yang terlihat terdiam, menunduk.


Ibu sambung Kiran tersebut sudah tahu apa yang terjadi pada Kiran, karena tadi siang setibanya di


rumah Kiran langsung mengatakan segalanya.


"Benar.. keluarganya Tuan Nathan..dan satu-satu


nya cara untuk menyelamatkan perusahaan agar


tidak di ambil alih oleh pihak global company


mereka mengajukan satu syarat pada Ayah.."


Tuan Zein menjeda ucapannya, wajahnya terlihat


berat, dia melihat kearah Kiran yang menunduk


dalam sambil meremas jemarinya.


"Apa yang mereka inginkan Yah ? "


Samuel menatap penasaran sekaligus muncul


kecemasan dalam hatinya.


"Tuan Nathan meminta adikmu Kiran untuk di


jadikan sebagai istrinya."


"Apa.??"


Sam dan Aryella berseru bersamaan. Wajah


mereka tampak terkejut bukan main.


"Itu tidak boleh terjadi.!"


Pekik Aryella tidak terima, wajahnya langsung


berubah memerah, tatapan nya kini mengarah


kepada Kiran yang menunduk


"Tapi itulah yang di inginkan Tuan Nathan..!"


Sergah Tuan Zein yang mulai terlihat keras. Dia


menatap tajam wajah putri bungsunya itu.


"Tidak bisa.! bukankah kak Kiran sudah tidak


punya hubungan apa-apa lagi dengan Nathan.?


lalu kenapa sekarang dia tiba-tiba meminta nya


untuk menjadi istrinya ? aku tidak terima.!"


Seru Aryella sambil berdiri menggebrak meja.


Semua orang tampak menatap terkejut melihat


sikap impulsif gadis cantik itu yang terlihat nyata


rasa tidak terimanya.


"Ada apa dengan mu Dhita.?"


Samuel menatap tidak suka kearah Aryella yang


biasa di panggil Dhita itu. Dia juga sebenarnya


sama tidak setuju nya dengan Aryella, namun


berusaha untuk bersikap tenang.


"Kenapa dia tidak memintaku saja untuk menjadi


istrinya, Aku yang lebih berhak untuk menjadi


pendamping Nathan, aku lebih sepadan dengan


nya, bukannya kak Kiran yang sudah jelas-jelas


pernah mencampakkan nya.!"


Semua orang terdiam mendengar penuturan


Aryella dengan segudang pertanyaan melihat


sikap ngotot gadis itu.


"Yang dia inginkan adalah Kiran..tapi kenapa


kamu sepertinya sangat keberatan.?"


Sam menatap Aryella penuh selidik, gadis itu


terlihat semakin memerah wajahnya dengan


tatapan tajam mengarah pada Kiran.


"Aku..aku hanya merasa kalau Nathan lebih


cocok berdampingan dengan ku..!"


"Aku sudah menolaknya.! kau jangan khawatir.


Lagipula aku tidak akan bisa menikah dengan


laki-laki lain selama statusku masih istri sah


dari suamiku.!"


Tegas Kiran mencoba untuk menguatnya dirinya.


Samuel dan Aryella tampak bengong dengan


keterkejutan luar biasa dan sorot mata tidak


percaya mendengar ucapan Kiran, suami.?


"Ayah memutuskan kita akan melakukan gugatan pembatalan pernikahanmu secepatnya.!"


Kiran tampak melebarkan matanya sambil menggeleng kuat.


"Kiran tidak akan melakukan nya Ayah, Kiran


tidak bisa menerima lamaran Nathan.!"


"Kiran..! hanya kau yang bisa menyelamatkan


kondisi perusahaan kita saat ini.!"


"Kita bisa membangun kembali perusahaan


Yah, hasil panen kemarin setidaknya bisa


menutup sebagian hutang perusahaan.!"


Tuan Zein tampak terhenyak, wajahnya kini


memucat, dia terlihat memegang dadanya.


"Itu tidak mungkin Nak.! Pokoknya kamu harus menuruti perintah Ayah.Tidak ada bantahan lagi.!"


Tegas Tuan Zein dengan wajah mengeras. Kiran


berdiri, menatap tajam wajah sang Ayah dengan


sorot mata penuh penolakan.


"Maaf Ayah..tapi Kiran tidak bisa.!"


Tolak Kiran sambil kemudian melangkah pergi.


"Kiran..ayah belum selesai bicara..kau..!"


tetap melangkah keluar ruangan, namun tidak


lama kemudian dia menghentikan langkahnya


saat terdengar teriakan nyonya Amelia. Kiran membalikan badannya, matanya membulat


saat melihat Tuan Zein saat ini terkulai lemas


dalam rangkulan Sam yang terlihat sedikit panik.


"Panggilkan ambulance..!"


Teriak Sam pada pelayan yang ada di ruangan itu.


******* *******


Satu hari berlalu setelah insiden pingsan nya


Tuan Zein saat makan malam. Saat ini dia harus mendapatkan perawatan super intensif di ruang


ICU rumah sakit tempat Sam bekerja akibat


penyakit jantung yang sudah lama di deritanya


tiba-tiba kambuh kembali.


Kiran merasa sangat bersalah atas apa yang


terjadi. Dia tidak pernah beranjak dari rumah


sakit, bersikeras untuk menemani ayahnya itu.


Setelah mendapatkan perawatan sehari semalam, akhirnya Tuan Zein siuman dan bisa di pindahkan


ke ruang perawatan kelas VVIP dengan


pengawasan yang sangat ketat.


Walaupun masih sangat lemah tapi Tuan Zein


sudah bisa berkomunikasi.


"Pergilah ke kantor.. untuk sementara waktu kau


harus menggantikan ayah di sana.."


Pinta Tuan Zein pada Kiran yang sedang berdiri


di sampingnya dengan tiada henti menggenggam


erat tangan pucat ayahnya itu. Kiran menatap


wajah sang ayah yang terlihat penuh permohonan. Kemudian berpaling menatap Nyonya Amelia


juga Sam yang mengangguk setuju.


"Ayah benar..tidak ada lagi yang bisa di andalkan


selain kamu. Hanya kau yang berada di jalur ini."


Ujar Sam seraya merangkul bahu Kiran yang hanya


bisa menarik napas panjang.


"Baiklah..hari ini juga Kiran akan ke kantor."


Sahut Kiran dengan suara yang sangat berat. Dia


sebenarnya tidak ingin meninggalkan ayahnya itu.


"Pergilah..ada ibu di sini yang menjaga ayah."


Nyonya Amelia meyakinkan Kiran yang akhirnya


mengangguk. Dia kembali menatap Tuan Zein


kemudian mencium punggung tangan nya. Tuan


Zein menatap wajah cantik putrinya itu dengan


sorot mata lemah.


"Pikirkanlah semuanya baik-baik nak. Saat ini


semuanya ada di tanganmu."


Ucap Tuan Zein, Kiran mengangguk pelan.


"Baiklah..Kiran akan siap-siap sekarang.!"


Dia merangkul Nyonya Amelia sebentar, setelah


itu berlalu keluar kamar bersama dengan Sam.


"Kakak..aku serahkan kesehatan ayah padamu.


Jangan sampai terjadi apapun padanya."


Ucap Kiran setelah mereka berada di luar ruangan.


Sam merangkul Kiran, mendekapnya erat seraya


memejamkan mata. Masih ada ganjalan dalam


hatinya saat ini tentang penyataan Kiran tempo


hari soal pernikahannya.


"Kau hutang penjelasan padaku soal statusmu.!"


Kiran melepaskan rangkulan kakak tirinya itu.


Keduanya saling pandang sebentar.


"Aku akan mengatakan nya nanti. Sekarang waktu


nya sangat darurat, jagalah ayah baik-baik."


"Baiklah.. pergilah.!"


Kiran melangkah pergi di ikuti pandangan Sam


yang terlihat menarik napas berat. Sesungguh


nya sampai saat ini hatinya masih saja belum


bisa melepaskan rasa itu, rasa sayang yang tidak


pada tempatnya. Bukan lagi perasaan sayang


seorang kakak terhadap adiknya, namun rasa


berbeda yang tiba-tiba tumbuh saat Kiran mulai


menginjak remaja. Tapi Sam tahu pasti bahwa


Kiran tidak akan bisa menerima perasaannya ini .


------- -------


Kiran masuk ke dalam ruang meeting di dampingi


oleh Lia sekretaris ayah nya. Semua staf direksi


serta para pegawai yang punya jabatan cukup strategis di perusahaan ZM Company serempak


berdiri lalu menundukan kepala sedikit kearah


Kiran seraya menatap ragu-ragu dengan sorot


mata penuh kekaguman dan terpesona melihat


kecantikan serta keanggunan putri Bos mereka


itu yang terlihat begitu memukau.


Kiran memberi isyarat tangan agar semua


peserta meeting kembali duduk di tempatnya masing-masing.


"Selamat siang semuanya.. terimakasih sudah


hadir di sini. Mohon maaf sebelumnya karena


meeting ini harus di adakan secara mendadak.


Saya hanya ingin mengumumkan satu hal penting


pada kalian semua bahwa mulai hari ini sampai dengan beberapa waktu ke depan saya akan menggantikan posisi ayah saya sebagai direktur utama di perusahaan ini.!"


Ucap Kiran dengan suara yang sangat tegas dan


lugas, pembawaan yang tenang serta profesional. Sangat terlihat jelas bahwa dia memiliki aura yang sangat kuat sebagai seorang pemimpin. Para


peserta meeting terlihat saling pandang satu


sama lain.


"Baiklah..mari kita lanjutkan meeting hari ini pada


materi pokok yang ingin saya bahas kali ini.!"


Kiran langsung to the point pada inti pertemuan


hari ini. Dia tidak ingin membuang waktu hanya


untuk berbasa-basi tidak jelas. Semua peserta


meeting pun terlihat semangat dan antusias


karena meeting kali ini di pimpin oleh seorang


direktur utama yang sangat mempesona baik


dari tampilan fisik, pembawaan maupun gaya


bicaranya yang begitu memikat dan memukau.


Dua jam kemudian...


Kiran baru saja selesai mengadakan meeting


dadakan dengan para staf direksi perusahaan


ZM Company menyangkut keberadaan dirinya


di perusahaan itu yang menggantikan posisi


ayahnya untuk sementara .


Dia kembali ke ruangannya bersama dengan


Lia sekretaris nya. Wanita 30 tahunan itu cukup


terkesima saat melihat pembawaan Kiran yang


terlihat sangat tenang dan meyakinkan ketika


berbicara di hadapan para peserta meeting


padahal ini adalah tatap muka pertamanya.


"Lia..tolong bawakan semua berkas keuangan


satu tahun terakhir ini, saya akan memeriksa


ulang semuanya.!"


Pinta Kiran tanpa mengalihkan fokusnya dari berkas-berkas di tangannya. Dia memeriksa dan membuka lembar demi lembar berkas hasil


meeting tadi. Kiran menemukan ada banyak hal


janggal yang dia lihat di dokumen departemen


keuangan perusahaan.


"Baik Bu.. saya akan menghubungi staf bagian


keuangan."


Sambut Lia sambil kemudian keluar dari ruangan.


Tidak lama kemudian muncul Sari sekretaris yang


satu lagi ke dalam ruangan di ikuti oleh seseorang. Kiran masih sibuk dengan segala pekerjaan nya.


"Permisi Bu Kiran..ada seseorang yang memaksa


ingin menemui anda, dia bilang bahwa beliau


adalah asisten pribadi anda.!"


Ucap Sari ragu-ragu sambil menundukkan kepala


dan melirik mencuri pandang pada seseorang


yang kini berdiri santai di belakang nya, orang itu


tampak sedang mengamati setiap detail ruangan


kantor yang sekarang di tempati oleh Kiran.


"Asisten.? saya tidak punya asisten Sari.. suruh


orang itu untuk pergi, saya sedang sangat sibuk


hari ini.!"


Tanpa mengalihkan perhatian nya dari berkas di


tangannya Kiran menyuruh Sari dan orang itu


untuk keluar ruangan. Dengan perasaan bingung


akhirnya Sari mengangguk.


"Baik Bu.. kalau begitu saya permisi.!"


Sari berbalik, menatap sekilas kearah laki-laki


tinggi tegap yang menyembunyikan sebagian wajahnya di balik topi yang menutupi bagian


atas wajahnya. Namun rahang kokoh dan bentuk wajahnya yang sempurna masih bisa terlihat separuhnya. Pria itu tampak santai, memakai


setelah jeans, kaos ketat serta jaket kulit.


Kaca mata hitam bertengger manis di hidung mancungnya menyembunyikan mata elang nya.


Dia tampak begitu gagah dan sangat menarik


membuat hati sekretaris muda itu bergetar hebat


hanya dalam sekali pandang saja.


"Maaf Tuan.. sepertinya anda hanya mengarang


saja, saya sudah bilang bahwa Bu Kiran tidak


punya asisten pribadi."


Ujar Sari sambil membimbing laki-laki itu agar


keluar dari ruangan. Pria itu tidak menggubris


Sari, dia membuka kaca mata yang di pakainya kemudian menatap tajam kearah Kiran yang


terlihat masih sibuk, namun ada kegelisahan


yang kini di rasakan Kiran. Jantungnya tiba-


tiba saja berdetak kencang tanpa sebab.


"Mulai saat ini dia akan memiliki nya..!"


Ucap pria itu sambil melangkah menghampiri


Kiran yang seketika menghentikan aktifitasnya


saat mendengar suara bariton pria itu. Matanya


langsung bertabrakan dengan mata elang pria


tadi yang kini berdiri di hadapan nya. Tatapan


nya tampak tidak percaya dengan apa yang di


lihatnya saat ini, bibirnya menganga terkejut.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*