Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
31. Istana Hadiningrat


 


**********


 


Gedung megah berlantai 50 Bintang Group...


Hari sudah menjelang malam. Saat ini Agra


baru saja selesai melakukan meeting tahunan bersama dengan seluruh jajaran direktur


utama perusahaan yang ada di bawah


komando Bintang Group.


Ruang meeting utama di gedung berlambang


bintang itu berada di lantai 25 dengan desain


dan arsitektur yang sangat megah serta


futuristik. Semua serba berkilau di penuhi


oleh tekhnologi canggih yang sangat


menakjubkan.


Ada sekitar 20 direktur utama yang hari ini


datang menghadiri acara pertemuan besar ini.


Meeting ini biasa di lakukan menjelang ulang


tahun Bintang Group yang akan di laksanakan


5 hari ke depan. Agra menekankan pada saat


acara besar nanti semua pemimpin perusahaan


harus hadir untuk melakukan lobi-lobi bisnis


serta harus mendapatkan hasil memuaskan.


Para direktur dan direktris yang hadir selalu saja terkesima pada sosok gagah Agra yang di penuhi


oleh aura bangsawan yang sangat menyilaukan.


Dia tampak begitu berkharisma, elegan dan


sangat terhormat dengan gestur tubuh serta


attitude yang begitu mumpuni.


"Pastikan semua acara berjalan dengan lancar.


Aku tidak ingin ada masalah sekecil apapun.!"


Tegas Agra pada jajaran manajemen yang di


tugaskan untuk menangani acara besar nanti.


"Baik Tuan, semuanya sudah dalam kendali.


Kami pastikan tidak akan ada kekurangan."


Sambut orang kepercayaan Agra yang menjadi


ketua team panitia.


"Baiklah.. pertemuan selesai, kalian boleh keluar


sekarang.!"


Titah Agra di sambut anggukan kepala para


bawahannya itu.


Agra berdiri, melonggarkan dasi dan membuka kancing jas nya, sepertinya dia cukup kegerahan


mengenakkan pakaian resmi itu setelah selama


2 minggu ini terbiasa berpakaian santai.


Beberapa Direktris memberanikan diri untuk


mencuri pandang sosok gagah yang begitu


istimewa itu. Hati wanita mana yang tidak


akan bergetar melihat wajah super tampan


yang terlihat acuh dan dingin itu.


Agra keluar dari ruang meeting. Dia berjalan


gagah penuh kharisma dengan aura kehadiran


yang sangat kuat di ikuti oleh barisan orang


orang penting yang memegang berbagai


perusahaan besar dan ternama yang bergerak


dalam berbagai bidang usaha dan bisnis.


Saat ini Agra merubah tampilan nya menjadi


dia yang sejatinya. Seorang Tuan Bimantara


Agra Bintang yang terhormat. Pria muda super


tampan berusia 28 tahun dengan segala


kelebihan dan keistimewaan yang dimilikinya.


Dia adalah sosok yang sangat di hormati dan


di segani oleh kalangan pengusaha besar


terlebih bagi para pengusaha yang berada


di bawah naungan nama besar Bintang Group.


Agra adalah keturunan asli bangsawan terhormat


klan Hadiningrat yang sangat kesohor karena


kedermawanan dan kekayaannya yang tidak


akan habis tujuh keturunan. Walaupun usianya


masih terbilang muda namun kemampuan nya


dalam hal berbisnis mampu membawa dirinya


ke puncak kesuksesan di usianya sekarang.


Bara mengangkat telepon masih mensejajari


langkah Tuan nya yang terlihat tidak sabar


ingin segera keluar dari gedung ini. saat ini


dia baru saja tiba di lobby utama gedung


megah berasitektur Eropa klasik modern itu.


"Tuan..ada masalah serius dengan Nona.."


Bara tampak ragu dan gemetar. Agra langsung


menghentikan langkahnya, melirik sekilas


kearah Bara yang menunduk cemas.


"Apa yang terjadi.?"


Wajah Agra langsung berubah sangat dingin.


Bara memberikan tablet kecil canggih ke tangan


Agra. Tatapan Agra tampak menyala melihat isi


rekaman CCTV yang ada di tablet itu. Rahangnya mengeras seketika membuat semua orang yang berdiri menunduk di belakang nya langsung


menciut nyalinya, lutut mereka gemetar.


"Bagaimana keadaan Kiran sekarang.?"


Suara Agra terdengar sangat dingin namun


ada kecemasan luar biasa di matanya walau


raut wajahnya di penuhi oleh kemarahan.


"Dia sudah ada di tempat yang seharusnya


Tuan. Untung saja lukanya tidak terlalu serius."


"Aku yang salah, membiarkan nya sendiri.!"


Desis Agra seraya melempar kembali tablet


itu ke tangan Bara.


"Sepertinya Zack terlambat mengirim pengawal


Tuan..!"


"Laki-laki itu harus membayar semua ini. Aku


tidak akan mengampuni nya.! nyawa Kiran ku


hampir saja melayang !"


Geram Agra dengan wajah yang semakin dingin.


Bara hanya bisa menunduk resah mengingat


Kiran adalah sosok paling penting dalam


hidup Tuan nya itu.


"Aku akan pulang sekarang.!"


"Baik Tuan, mobil nya sudah ada di depan."


Agra kembali melanjutkan langkah nya di ikuti


oleh Bara dan orang-orang nya. Semua pegawai


yang ada di lobby yang kelihatan nya bersiap


untuk pulang langsung serempak berdiri seraya


membungkuk dalam di sisi ruangan saat melihat kemunculan Bos besar mereka, membiarkan


Tuan mereka lewat tanpa gangguan.


"Hubungi Zack untuk mengatur ulang semua


sistem pengawalan terhadap Kiran.! Jangan


sampai hal seperti tadi terulang lagi.!"


Titah Agra sambil membuka jas dan dasi nya


di lempar ke tangan Bara. Dia melakukan


semua itu di depan para bawahannya tanpa


ragu. Dan orang-orang itu hanya bisa terdiam


sedikit bingung melihat yang di lakukan oleh


Tuan nya itu.


"Baik Tuan segera laksanakan.!"


Agra mendekati mobil sport mewah nya yang


kini sudah siap di depan lobby utama.


"Dan kau.. jangan muncul dulu di rumah


sebelum Kiran tahu jati diriku !"


Bara tampak terdiam menatap bingung kearah


Tuan nya yang kini sudah masuk kedalam mobil


nya. Agra memakai kembali topi dan kacamata


nya. Bara hanya bisa menarik napas berat saat


Tuannya itu mulai menyalakan mesin mobilnya.


Selama ini Agra memang lebih suka memakai


jalan utama untuk keluar masuk gedung megah


ini agar dia bisa mengontrol lingkungan kerja


para bawahannya karena dirinya tidak selalu


standby di kantor. Sangat berbeda dengan para


petinggi perusahaan besar lainnya yang lebih


suka menggunakan privat lift untuk keluar


masuk ruangan kerja mereka.


Tidak lama mobil sport mewah itu pun melesat


meninggalkan halaman gedung megah dan


mewah Bintang Group yang merupakan gedung


paling canggih yang ada di kota ini. Setelah


memastikan mobil Tuanya tidak terlihat lagi


Bara segera menghubungi Zack.


------- -------


Mobil sport mewah Agra baru saja tiba di depan


pintu utama istana megah yang berada di tengah


kawasan pribadi yang di kelilingi oleh taman dan


hutan lindung buatan. Kepala pelayan bersama


barisan pelayan berseragam hitam putih tampak


sudah bersiaga di depan pintu menyambut


kedatangan nya. Seorang pengawal dengan


sigap membukakan pintu mobil.


Semua orang langsung membungkuk hormat


begitu Agra keluar dari mobil. Dia langsung


melangkah terburu-buru masuk kedalam


bangunan utama istana megah ini.


"Selamat malam Tuan Muda.."


Sambut Pak Hans sang kepala pelayan seraya


menerima topi yang baru saja di berikan oleh


Agra dengan sorot mata sedikit heran melihat


apa yang di kenakkan Tuan Muda nya itu.Agra


berjalan acuh melewati barisan pelayan yang


rata-rata wanita dan masih sangat muda. Pak


Hans setia mendampingi langkah Tuan nya itu.


"Dimana kalian menempatkan gadis yang tadi


siang terluka dan di bawa ke rumah ini.?"


Tanya Agra masih berjalan masuk ke dalam


rumah utama istana ini. Pak Hans menautkan


alisnya semakin bingung.


"Masih ada di ruang perawatan Tuan Muda..


dia masih dalam masa pemulihan.!"


"Apa Rey sudah mengeceknya lagi ?"


"Dokter Rey baru saja tiba beberapa saat yang


lalu, sekarang sedang memeriksa nya."


"Hemm.. baiklah..!"


Agra segera melangkah cepat menuju ruang


perawatan yang ada di paviliun samping di


ikuti oleh Pak Hans yang semakin bingung.


Istana ini terdiri dari beberapa bangunan utama.


Ada istana utama yang terletak paling depan


dan merupakan tempat tinggal sang Tuan Muda.


Istana utama ini mengusung konsep modern


mewah dan megah dengan arsitektur kekinian berteknologi tinggi hingga bisa membuat orang


berdecak takjub saat berada di dalam nya.


Lalu ada paviliun samping yang berisi tempat kesehatan, arena olahraga yang sangat lengkap


dan modern serta ruang hiburan yang sangat


komplit dan canggih. Dan ada kolam renang


besar yang dapat menyerap sinar matahari


langsung dari atap yang terletak di tengah


bangunan megah paviliun samping ini yang


terlihat begitu mengagumkan karena pantulan


cahaya dari kaca-kaca mozaik yang berada di sekeliling kolam besar itu langsung mengarah


ke tengah kolam.


Kemudian ada paviliun tengah, biasa di pakai


untuk mengadakan acara besar di istana ini.


Tentu saja dengan keindahan dan kemegahan


nya yang berasitektur Eropa klasik.


Dan terakhir adalah paviliun belakang tempat


tinggal Nyonya Besar istana ini yang mengusung konsep klasik natural asli negara ini. Bangunan belakang ini benar-benar membuktikan kecintaan


dari si empunya tempat terhadap warisan budaya leluhur negara ini, sangat kental akan aura


moderat dan kebangsawanan nya.


Bangunan klasik itu di huni oleh Nyonya Besar


Ambarwati Hadiningrat, Nenek tercinta Tuan


Muda Bimantara Agra Bintang.


Ternyata..Kiran berada di istana Hadiningrat


saat ini. Dia berada di rumah suaminya sendiri


tanpa di sadari nya, dan mobil yang menabrak


nya tadi siang adalah mobil yang membawa


Nyonya Ambar saat dia di perjalanan pulang


menuju ke istana ini sehabis menghadiri acara


amal di salah satu yayasan nya.


Saat ini Kiran sedang di periksa kembali oleh


Dokter yang tadi siang menanganinya.Tangan


Kiran bergerak halus, Dokter dan para perawat


tampak menatap gadis cantik itu yang kini


mulai membuka matanya perlahan. Dia terlihat


memicingkan matanya mencoba menyesuaikan


cahaya yang masuk lewat retina matanya.


"Nona..anda sudah sadar, apakah anda bisa mendengar suara saya ?"


Dokter mencoba berinteraksi dengan Kiran


untuk mengetes tingkat kesadaran nya.Kiran


menatap Dokter dan perawat serta wakil


kepala pelayan yang setia menungguinya itu


secara bergantian.


"Dokter.. dimana saya, apa yang terjadi.?"


Lirih Kiran dengan suara yang sangat pelan.


Wajah orang-orang yang ada di tempat itu


tampak berubah lega.


"Anda ada di istana Hadiningrat Nona..Nyonya


Besar yang membawa anda kemari.."


Jawab Dokter itu, alis Kiran tampak bertaut.


Dia memandang ke sekitar ruangan asing itu.


"Istana Hadiningrat..? kenapa saya bisa ada


di tempat ini.?"


Kiran tampaknya masih dalam mode bingung.


Dia kembali memejamkan matanya karena rasa


pusing masih di rasakan nya saat ini.


"Tadi siang anda tidak sengaja tertabrak mobil


yang membawa Nyonya Besar Nona.."


Kiran terdiam, dia baru mengingat semua nya


saat ini. Tangannya bergerak meraba pelipis


nya yang terbalut perban tipis.


"Kepala anda mengalami luka ringan Nona..


Tapi akan segera pulih dalam waktu dua hari.!"


Dokter Rey kembali memberi penjelasan. Kiran


tampak terkejut, tidak ! dia harus segera kembali


ke kantor saat ini juga. Bagaimana kalau Agra mencarinya.?


"Tidak.! Saya harus keluar dari tempat ini


Dokter..suami saya pasti sedang menunggu


saya saat ini."


Dia mencoba bangkit, dokter dan perawat tampak panik, wakil kepala pelayan maju mendekat lalu


menahan tubuh Kiran yang mencoba turun.


"Nona..anda tidak boleh banyak bergerak dulu.


Kondisi anda belum pulih sepenuhnya."


Ucap Wakil kepala pelayan seraya mengusap


lembut kening Kiran yang masih menyisakan


demam dengan suhu tubuh yang cukup tinggi.


Kiran kembali merebahkan tubuhnya karena


ternyata dia tidak bertenaga sama sekali.


"Dokter.. demamnya masih ada.!"


"Sepertinya dia memerlukan kehadiran orang


yang ada di dalam igauan nya.!"


"Gadis ini selalu menyebut nama seseorang


selama dia tidak sadarkan diri."


Ucap salah seorang perawat. Dokter dan wakil


kepala pelayan saling pandang.


"Mungkin dia adalah orang yang cukup penting


bagi gadis ini."


Sahut Dokter itu sambil kembali mengecek


tekanan darah Kiran. Dalam keadaan itu tiba-


tiba saja semua pelayan yang ada di ruangan


itu serempak membungkuk dalam saat melihat kemunculan Agra kedalam ruangan dengan


raut wajah yang sudah tidak terbaca seperti


apa saat ini.


Agra segera menghampiri Kiran yang sedang


terbaring lemah seraya memejamkan matanya.


"Kiran sayang.. Maafkan aku sudah membiarkan


semua ini terjadi..!"


Agra langsung merengkuh tubuh lemah Kiran


kedalam dekapannya, memeluknya erat seraya


menciumi puncak kepalanya. Kiran yang masih


terkejut dengan kemunculan Agra di tempat


ini tampak hanya bisa terdiam bengong .


"A- Agraa...kenapa kamu bisa ada di tempat ini.?"


Lirih Kiran setelah dia yakin bahwa laki-laki


yang saat ini sedang mendekapnya erat adalah


suaminya. Dia balik memeluk erat tubuh


Agra yang semakin mempererat pelukannya.


"Sudah aku bilang.. dimana pun kamu berada


aku akan bisa menemukan mu sayang.."


Bisik Agra. Air mata Kiran mulai berjatuhan


saat dia mengingat apa yang terjadi tadi siang.


"Maafkan aku Agra..aku sangat tidak layak ada


di dekatmu saat ini. Aku tidak bisa menjaga


kehormatan ku untukmu..hiks hiks..!"


Lirih Kiran dengan nada penyesalan yang sangat


dalam membuat rahang Agra kembali mengeras. Namun pelukannya kini malah semakin erat.


"Kau masih tetap suci di mataku sayang.."


Bisik Agra seraya kembali menciumi puncak


kepala Kiran tanpa melepas pelukan nya.Mereka berdua seakan tidak sadar saat ini sedang berada


di ruangan yang penuh dengan makhluk lain.


Saat ini Dokter Rey, para perawat, Pak Hans,


wakil kepala pelayan serta para pelayan yang


ada di tempat itu hanya bisa melongo tidak


percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.


Tuan Muda Agra Bintang yang sangat mereka


dewakan memeluk seorang gadis tanpa ragu ?


bahkan sangat jelas terlihat raut wajah nya di


penuhi oleh kecemasan. Ini seperti sebuah


keajaiban bagi mereka !


Pak Hans tersadar duluan dari keterkejutan


nya.Tapi ada satu pertanyaan penting yang


kini bersarang di kepalanya, apakah gadis itu


yang selama ini di cari oleh Tuan Mudanya.?


"Kalian keluar sekarang..!"


Perintah Pak Hans kepada para pelayan yang


tampak tersentak dari kekagetannya. Mereka


segera mengangguk kemudian berlalu keluar


dari ruangan itu. Semua orang berusaha untuk


menguasai diri mereka dari keterkejutan nya.


Agra melonggarkan pelukannya, mencium


kening Kiran dengan alis terangkat kuat.


"Rey..apa saja yang kau lakukan dari siang.?"


Geram Agra seraya meraba kening Kiran yang


terdiam bingung melihat sikap berani Agra


pada dokter yang tadi menangani nya.


"Ma-maaf Tuan.. saya akan segera memberi


obat pereda demam pada Nona."


Sahut Dokter Rey seraya menundukkan kepala


dengan lutut gemetar. Agra menatap tajam


Dokter itu dengan raut wajah tidak puas.


"Pastikan besok dia sudah harus pulih lagi.!"


"Agra.. aku tidak apa-apa..! aku sudah merasa


lebih baik sekarang !"


Lirih Kiran seraya menggengam tangan Agra


yang langsung menatapnya lembut.


"Badanmu masih panas Kiran..dia tidak bisa


menangani mu dengan baik.!"


"Agra..aku tidak butuh Dokter saat ini, yang


aku butuhkan adalah dirimu.."


Hati Agra rontok seketika, tatapannya kini


semakin dalam, mengunci wajah cantik Kiran


yang terlihat mulai berdarah kembali.


"Baiklah..kalau begitu, mulai malam ini kita


akan menghabiskan waktu bersama.!"


Bisik Agra dengan senyum tipis penuh arti


sambil kemudian mengangkat tubuh Kiran ke


dalam pangkuan nya dengan sangat hati-hati.


Tangan Kiran melingkar kuat di leher kokoh


Agra dengan wajah bersemu merah.


"Ikuti aku ke kamar, kau harus memberinya


suntikan pemulihan.!"


Titah Agra pada dokter Rey sebelum akhirnya


dia melangkah keluar dari ruangan itu sambil menggendong Kiran yang menyandarkan kepala


nya dalam rengkuhan dada bidang Agra. Rasa


sakit yang tadi di rasakannya kini terasa hilang


begitu saja tergantikan oleh rasa nyaman dan


aman yang menyejukkan jiwanya..


 


***********


 


TBC....