
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Malam yang tenang menyelimuti kediaman
keluarga Mahesa. Saat ini sudah menjelang
tengah malam, namun Kiran tidak jua mampu
memejamkan matanya. Dia berdiri di balkon,
melipat kedua tangan di depan dadanya.
Udara dingin yang mulai menusuk kulit tidak
dirasakannya sama sekali karena dia sedang
larut dalam lamunannya.
Matanya tampak kosong menerawang jauh
mencoba menembus kegelapan. Pikirannya
saat ini sedang melayang pada sosok yang
sesaat lalu telah memberinya kejutan luar
biasa. Kejutan yang membuat dia benar-
benar merasa seperti sedang bermimpi.
"Agra..kenapa kamu tidak berterus terang
sedari awal, apakah begitu sulit bagimu
untuk jujur padaku.."
Lirihnya perih. Kekecewaan itu masih saja
memenuhi dadanya. Tapi rasa rindunya saat
ini lebih mendominasi perasaanya. Kiran
merasa berada di persimpangan jalan yang
sangat membingungkan membuat dirinya
berada dalam dilema berat.
"Bimantara Agra Bintang..kenapa aku tidak
pernah mencoba mencari tahu tentang dia
dari awal. Aku begitu terlena dengan semua
penyamaran nya yang sangat sempurna..!"
Kiran kembali mengingat seluruh moment
kebersamaan nya bersama Agra dari awal
mereka berjumpa. Dasar bodoh.! dari semula
kejanggalan itu memang sudah sangat terlihat,
dia saja yang tidak peka.! sosok Agra yang
begitu istimewa harusnya sudah cukup
membuat dia penasaran akan jati dirinya.
Kiran menghembuskan napas berat. Dia mulai menggigil merasakan hawa dingin yang kini menyentuh kulitnya. Matanya terpejam kuat
saat bayangan wajah super tampan itu kini
menjelma menggoda di pelupuk matanya.
Tubuhnya tiba-tiba memanas saat mengingat
kejadian semalam yang begitu indah, wajah
nya langsung saja memerah sendiri.
"Agraa..aku sungguh merindukanmu..tapi
kamu telah membuat ku sangat kecewa.."
Lirih Kiran semakin memejamkan matanya
di saat air mata mulai memaksa ingin keluar.
Rasa rindu dan kecewa dalam hatinya kini
seakan membuat jiwanya begitu tersiksa.
Kiran membuka mata, melirik keatas meja
kecil saat ponselnya kembali bergetar, dari
tadi Agra terus saja menghubungi nya.Dia
menatap layar ponsel nya, sebenarnya dia
ingin sekali menekan tombol hijau itu, tapi
separuh hatinya melarang dirinya untuk
menerima panggilan tersebut. Akhirnya
dia memilih mematikan ponselnya.
Kiran segera masuk ke dalam kamar, dia harus
mengistirahatkan seluruh jiwa dan raganya,
agar dirinya tidak terus menerus larut dalam
segala keterpurukan nya. Dia harus cepat
bangkit, besok pagi kesibukan menantinya.
Saat dia sudah bersiap naik ke atas tempat
tidur, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk dari
luar, Kiran menautkan alisnya, ini sudah
sangat malam, tapi kenapa masih ada
yang berniat menggangu nya.!
Dengan terpaksa dia berjalan kearah pintu,
sedikit ragu untuk membuka nya, terdiam
sebentar, namun ketukan itu kembali
terdengar. Dengan sedikit kesal akhirnya
Kiran membukanya.
Matanya membulat saat melihat sosok gagah
yang sedang jadi pusat segala isi pikirannya
kini tengah berdiri di depan pintu. Mata mereka
saling menatap kuat. Kiran bergerak cepat ingin
menutup pintu kamarnya kembali, tapi telapak
tangan Agra menghalanginya. Kiran melotot
kesal, keduanya saling bertahan dengan
keinginannya masing-masing, membuat
pintu jadi sasaran keegoisan mereka.
Dengan perasaan dongkol akhirnya Kiran
mengalah, dia membiarkan pintu itu terbuka, kemudian berdiri dengan melipat kedua tangan
di dada menatap wajah Agra penuh kekesalan.
"Apa kurang jelas semua yang aku katakan
tadi Tuan Bimantara..? saat ini aku sedang
tidak ingin di ganggu dulu..!"
"Pembicaraan kita belum selesai Kiran..!"
"Aku rasa semuanya sudah sangat jelas.
Jadi sebaiknya sekarang anda pulang Tuan.."
"Aku tidak punya tempat untuk pulang Nona..!"
Wajah Kiran berubah geli dan sinis. Sedang
Agra tampak datar seolah sangat serius.
"Ck..ck.. bukankah kau sangat kaya Tuan,
istana mu juga sangat megah..!"
"Istana itu milik istriku..bukan milikku..!"
Mata Kiran mengerjap, keduanya saling pandang
kuat, saat ini Agra terlihat masih mengenakkan
setelan yang tadi di pakainya, tampaknya dia
baru saja pulang dari pesta tadi.
"Apa maumu sebenarnya.?"
Wajah Kiran berubah keras, Agra menatap
tenang wajah jutek istrinya itu yang malah
semakin terlihat menggemaskan di matanya.
Dia maju mendekat membuat Kiran mundur.
"Aku datang untuk menjemputmu pulang !
kembali ke tempat yang seharusnya.!"
"Oya..? tempatku di sini Tuan, bersama dengan
kedua orang tuaku.!"
"Kau sudah menjadi istri seseorang Kiran, kau
harus ikut kemanapun suamimu pergi.!"
"Suami yang sudah menyembunyikan identitas
dirinya dari istrinya, apa layak untuk aku ikuti.!"
"Aku melakukan semua itu semata-mata hanya
untuk dirimu, untuk melindungi mu.!"
"Tapi aku tidak suka di bohongi Tuan..!"
Mata mereka semakin panas, wajah Kiran
tampak memerah, sedang Agra mencoba
untuk tetap tenang.
"Maafkan aku..Kiran.. semuanya kulakukan
karena aku sangat mencintaimu..!"
Kiran terdiam, masih menatap wajah Agra
penuh penghakiman.
"Itu alasan yang sangat konyol Tuan.!"
"Tapi itulah kenyataannya..!"
Tegas Agra dengan wajah yang sangat serius.
Kiran memalingkan wajahnya.
"Sekarang pulanglah..ikut bersamaku.!"
Kiran menggeleng lemah, menatap wajah Agra
dengan kekerasan hatinya.
"Agra..aku sudah bilang, aku ingin sendiri dulu,
aku butuh waktu untuk menenangkan diri,
untuk dapat menerima semua ini..!"
"Dan aku rasa kau sudah cukup tenang..!"
"Belum ! aku masih memerlukan waktu itu.!"
"Tapi Kiran, aku tidak bisa jauh darimu.!"
"Jangan lebay Tuan..aku ini hanyalah wanita
biasa yang tidak sepantasnya berada di dalam hatimu..!"
"Jangan mengingkari hatimu Kiran.! bukankah
kau juga sangat mencintaiku.!"
Mata mereka semakin panas. Kiran meraih
handel pintu.
"Kembalilah ke tempatmu Tuan, berikan aku
hak dan kebebasan untuk menentukan arah
pikiranku sendiri..! selamat malam..!"
Kiran menutup pintu, tapi Agra kembali mencoba
menghalanginya. Wajah Kiran tampak semakin
kesal. Dengan hentakkan kuat dia mendorong
dada Agra kemudian menutup keras pintu kamar
nya membuat Agra terdiam, menarik napas berat.
Dia meremas kepalanya merasa frustasi sendiri.
"Tuan Agra.. sepertinya Kiran masih butuh
waktu untuk merenungkan semua ini."
Ternyata, dari tadi Tuan Zein dan Nyonya Amelia
ada di sebelah Agra, hanya saja tidak di sadari
oleh Kiran, mereka berdua menunduk dalam.
Agra melirik kearah mereka.
"Aku tahu..! aku yang salah. Kita harus bicara.
Ada hal yang ingin aku perjelas.!"
"Baik Tuan, mari..kita bicara di ruang kerja saja."
Tuan Zein yang sebenarnya masih dalam kondisi
sedikit lemah itu mulai berjalan membimbing pria
muda yang notabenenya adalah menantunya itu.
------- -------
"Apakah ayahku pernah mendatangi mu waktu
kalian berada di negara xxx..?"
Tuan Zein nampak terkejut, wajahnya langsung
saja pucat pasi. Dia menundukkan kepalanya
tidak berani melihat kearah Agra yang sedang
duduk di hadapan nya.
"Aku minta berterus terang lah..tidak perlu takut.
Kau tahu, kepergian kembali kalian ke negara ini
membuatku memutuskan untuk tinggal di sini,
bersama dengan leluhur ibuku..!"
Tegas Agra dengan suara yang sangat berat.
Tuan Zein mencoba untuk menenangkan diri.
Dia menarik napas panjang, melihat sekilas
kearah Agra.
"Itu benar Tuan Muda..Ayah tuan mendatangi
kami dan menyuruh kami untuk membawa
Sachi pulang agar anda jauh darinya.!"
"Apa dia mengancam keselamatan Kiran.?"
Tuan Zein semakin terlihat menunduk. Wajah
nya juga semakin memucat campur tegang.
"Kami menyadari.. tidaklah pantas kalau Tuan
dekat dengan putri kami, jadi tidak ada yang
salah dengan apa yang di lakukan oleh ayah
Tuan muda.! "
" Jadi benar kalau dia mengancam kalian.?
terutama keselamatan Kiran..?"
Tiba-tiba Tuan Zein beranjak lalu bersimpuh
di hadapan Agra yang terkejut seketika.
"Tuan muda.. saya mohon lepaskan saja Kiran.
Tuan tidak pantas untuk bersanding dengan
nya. Anda terlalu terhormat untuk Kiran...!"
Agra sontak berdiri dengan tatapan menyala.
Tuan Zein masih duduk bersimpuh di bawah
nya dengan wajah di penuhi oleh kecemasan.
"Apa kau meragukan ketulusanku pada putri
mu.? aku bahkan rela keluar dari istana Hiroki
hanya untuk mencari Kiran..!"
"Saya tidak menduga kalau Tuan akan datang
dan mencari Sachi.. saya kira Tuan sudah lupa
akan semua kejadian masa kecil itu.."
"Kau pikir itu mudah untuk aku lakukan.?"
"Tuan.. saya mohon..lepaskan saja putri saya.
Kalau Ayah anda mengetahui semua ini saya
tidak bisa membayangkan apa yang akan
terjadi pada putri saya..!"
Agra menatap tajam laki-laki paruh baya yang
berstatus sebagai mertuanya itu.
"Keselamatan dan kebahagiaan Kiran adalah
tangung jawabku sekarang. Kau hanya perlu
memberi ku restu untuk menjadi suaminya.!"
Tuan Zein terdiam masih di liputi oleh rasa
was-was dan ketakutan akan berbagai hal
itu ayah dari menantunya.
"Tapi Tuan muda..akan lebih baik kalau Kiran
tidak berhubungan dengan kalian..!"
"Tuan Zein Mahesa..! apa kau lupa siapa aku
sekarang ? aku bukanlah anak lelaki umur 13
tahun lagi yang berada di bawah perintah Tuan
Hasimoto..! aku adalah cucu tunggal keluarga
Hadiningrat..!"
Tuan Zein terhenyak. Dia tidak bisa lagi berkata
ataupun memohon pada menantunya itu. Dia
sangat faham siapa itu Bimantara Agra Bintang.
"Baiklah Tuan..kalau begitu.. saya pasrahkan
semuanya kepada anda. Saya akan merestui
hubungan kalian, saya percaya Tuan akan
menjaga putri saya dengan baik.."
"Bangunlah..! jangan pernah sekalipun kau
merendahkan diri di depan siapapun..!"
Tuan Zein bangkit berdiri sedikit goyah. Agra
menghembuskan napas nya perlahan.
"Aku akan pulang sekarang. Biarkan Kiran
tenang dulu, aku sudah menempatkan banyak
penjaga untuk mengawasi rumah ini.!"
"Baik Tuan.."
Sahut Tuan Zein seraya menunduk sedikit. Agra melangkah keluar di ikuti oleh mertuanya itu
sampai ke halaman depan dimana saat ini ada
beberapa mobil mewah yang terparkir di sana
menunggu kemunculan Tuan Muda nya itu.
Tuan Zein menarik napas berat menatap nanar
kepergian rombongan Agra dan para pengawal
nya dari halaman rumah.
****** ******
Pagi hari yang cerah.....
Kiran turun dari lantai atas sudah siap dengan
setelan semi formalnya. Hari ini sepertinya mood
nya cukup baik, terbukti wajahnya terlihat cerah
dan bersinar. Kiran memang tidak pernah bisa
membiarkan dirinya terpuruk terlalu lama.
Tiba di ujung tangga dia berpapasan dengan
Aryella yang kelihatannya baru saja pulang.
Keduanya tampak saling menatap, Kiran melihat
saat ini Aryella bahkan masih mengenakan gaun
pesta semalam. Aryella tiba-tiba saja tertawa
renyah, menatap sinis wajah Kiran yang sedikit
bingung melihat reaksi adiknya itu.
"Ada apa dengan mu Aryella.? jam segini baru
pulang, darimana saja..?
"Haha..apa kau pikir dirimu sudah hebat karena
telah menjadi Nyonya Bimantara Agra Bintang.?
Kau bahkan tidak pantas menyandang gelar itu.!"
Ejek Aryella dengan tawa yang masih terdengar.
Wajah Kiran berubah memerah, tapi dia berusaha untuk tetap tenang.
"Pantas atau tidak, bukan kau yang menentukan.
Hanya suamiku dan keluarganya yang berhak
menilai semua itu ! "
"Cihh..! lalu kenapa sampai sekarang kamu
masih ada di rumah ini.?"
"Itu juga bukan urusanmu.!"
"Oowwh... kasihan sekali. Aku yakin keluarga
Hadiningrat tidak akan pernah sudi memiliki
menantu sekelas dirimu..! "
"Terserah apa katamu Aryella..! aku harus
pergi sekarang..!"
Ketus Kiran sambil beranjak tapi tangannya
di tarik oleh Aryella.
"Tunggu dulu dong kakakku sayang..kita belum
selesai bicara..!"
Kiran menepis pegangan tangan Aryella seraya
menatap tajam wajah Aryella yang terlihat
sangat kacau itu. Mulutnya juga bau alkohol.
"Apalagi Aryella..? aku sedang terburu-buru.!"
"Heh.! apa kau pikir suamimu itu benar-benar
mencintaimu.? apa kau pikir pria terhormat
sepertinya mau bersanding dengan wanita
kelas rendah seperti kita.? kenapa kamu tidak
berkaca baik-baik Kiran..? pantaskah dirimu
untuknya ? apa kau pantas bersaing dengan
Nona Mikhayla Alexandria..?"
Deg !
Jantung Kiran seakan tertabrak sesuatu. Hati
nya mencelos seketika, wajahnya sedikit pias.
Aryella tersenyum sinis setengah mengejek.
"Aryella.. adikku sayang.. kapankah kamu bisa
bersikap selayaknya seorang adik pada kakaknya.
Dengar ya..aku percaya sepenuhnya pada cinta
suamiku. Aku tahu aku memang tidak layak
untuknya, tapi cinta kami yang akan membuat
semuanya menjadi pantas.!"
"Haha cinta.? kau sangat percaya diri sekali ya.
Kau bahkan siap bersaing dengan seorang ratu kecantikan sekelas Mikayla..!"
"Jangankan seorang Mikhayla.. bahkan seratus
Mikhayla pun aku tidak takut, karena kenyataan
sudah berbicara, saat ini aku sudah menjadi
istrinya seorang Bimantara Agra Bintang..!"
Aryella mengetatkan rahangnya, matanya
menatap kesal kearah Kiran yang hanya bisa
tersenyum tenang.
"Adikku, cobalah untuk mencintai ku sedikit saja.
Itu adalah hal yang akan membuatku bahagia.
Dan belajarlah untuk bisa menerima semua
kenyataan serta ketentuan Tuhan..!"
Ucap Kiran sambil menepuk pelan bahu adik
nya itu. Dia mulai melangkah, namun kembali
berbalik.
"Asal kamu tahu, sebenci apapun kamu padaku.
Aku tetap menyayangimu.. sangat menyayangi
mu Aryella..!"
Ujar Kiran dengan tatapan teduh yang membuat
Aryella memalingkan mukanya namun matanya
tampak mengerjap beberapa kali. Kiran berlalu
keluar dari rumah, dia sampai membatalkan
niatnya untuk sarapan. Waktu sudah semakin
siang sementara hari ini dia harus menghadiri
rapat koordinasi semua perusahaan yang ada
di bawah komando Bintang Group.
Aryella menarik napas panjang, mencuri tatap
kepergian kakaknya itu. Ada setitik air mata
yang menetes di pipinya.
Sementara itu hari ini Kiran berangkat sendiri
dengan mengendari mobil kesayangan nya
setelah cukup lama tidak di gunakannya.
"Ya Hallo Lia.. tolong siapkan semua berkas
yang akan kita bawa ke acara rapat hari ini..!"
"Baik Bu.. sebaiknya ibu langsung berangkat
saja ke lokasi, saya menyusul sekarang.."
"Oke..kalau begitu saya langsung ke lokasi
saja ya..kita ketemu di sana.!"
"Baik Bu..sampai jumpa.."
Kiran mengakhiri pembicaraan teleponnya.Dia meletakkan kembali ponsel nya di atas tas yang
di bawanya yang tersimpan di jok sebelah.Namum sedetik kemudian dia memekik kaget seraya membanting setir kearah kiri ketika tiba-tiba
ada sebuah mobil yang datang dengan cepat
dari arah belakang lalu memepetnya.
"Allahuakbar..apa yang terjadi..!"
Kiran berusaha mengendalikan laju mobilnya
yang kini meluncur deras menuju ke pinggiran
trotoar. Dan setelah perjuangan serta kepanikan
luar biasa dia bisa menghentikan laju mobilnya.
Matanya membelalak karena ada dua mobil lain
yang kini saling kejar-kejaran dengan mobil yang
tadi memepetnya. Ada apa ini, apa yang terjadi ?
Belum pulih kekagetan Kiran tiba-tiba ada dua
buah mobil hitam yang datang mengurung
mobilnya di depan dan belakang. Kiran tersentak
kaget ketika beberapa orang berseragam hitam
dengan wajah yang tertutup topeng datang
memecah kaca mobil nya kemudian membuka
paksa pintu mobil setelah itu salah seorang
diantaranya menyeret Kiran keluar dari mobil.
"Hei.. siapa kalian.? apa yang kalian inginkan.!
Lepaskan aku...! lepas..!"
Teriak Kiran seraya berontak mencoba melepas
cengkraman orang itu di tangannya. Namun
orang itu tidak menggubris nya, dia tetap menarik tangan Kiran di bawa kearah mobilnya. Namum
di waktu bersamaan datang mobil sport mewah
ke tempat itu, membuat orang yang menyeret
Kiran langsung menghentikan langkahnya.
Satu sosok tinggi gagah dengan setelan andalan
nya, jaket hitam plus topi yang menutupi separuh
wajahnya muncul dari dalam mobil yang sontak
membuat lutut para penyerang Kiran bergetar.
"Agra..!"
Desis Kiran saat melihat sosok gagah tersebut
langsung menyerang orang-orang tadi. Dalam
waktu sekejap para penyerang itu lebih memilih
melarikan diri daripada babak belur. Sepertinya mereka tahu pasti siapa sosok itu dan
bagaimana kemampuan bela dirinya.
Agra mengibaskan jaketnya yang sedikit kotor.
Dia juga merapihkan letak topinya, setelah itu
mendekat kearah Kiran yang masih bengong
di tempat tanpa kata. Dengan gerakan cepat
Agra mengangkat tubuh Kiran ala bridal style
lalu melangkah kearah mobilnya.
"Bawakan tasnya..!"
Titah Agra pada Bara yang baru saja datang ke
tempat itu bersama dengan Zack. Kiran terdiam,
tak mampu mengeluarkan suara. Rasa rindunya
sudah membungkam mulutnya yang semula
ingin melontarkan protes.
Dengan hati-hati Agra mendudukkan Kiran
di jok depan. Tangan Kiran masih melingkar
kuat di leher Agra, mata mereka kini saling
menatap kuat, ada sorot mata penuh kerinduan
yang kini terpancar di kedua bola mata mereka.
"Aku tidak akan mengampuni mu sayang..
karena kau telah menyebabkan malamku
kacau..!"
Kiran menegang, dia memundurkan wajahnya
ketika wajah Agra maju mendesak.
"A-apa maksudmu..?"
Mata mereka terpaut dalam. Bibir Agra tampak
menyeringai tipis.
"Aku tidak bisa memejamkan mata..Aroma
tubuh mu membuatku terus membayangkan
keindahan tubuh mu..!"
Wajah Kiran langsung saja di penuhi semburat
merah, apa-apaan dia ini, tidak lihat situasi.!
"Dasarr pria mesum..!"
Desis Kiran jengah, dia melengoskan wajahnya
tapi Agra segera menariknya.
Cup !
Dia mendaratkan ciuman lembut di bibir ranum
Kiran yang langsung mendorong dadanya kesal.
Agra tersenyum miring kemudian dia melangkah
masuk ke balik kemudi. Untuk sesaat menatap
kearah Kiran yang memalingkan wajahnya ke
luar jendela. Bibir Agra tersenyum puas, dia
mulai melajukan mobilnya menuju ke gedung
megah Bintang Group.
Sepertinya sudah tiba saatnya bagi dia untuk
menarik istrinya itu ke dalam kehidupannya..
seutuhnya tanpa ada ganjalan lagi.. Dan..
sekarang Eyang putri akan kembali beraksi..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....