Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
45. Masih Butuh Waktu


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Malam yang tenang menyelimuti kediaman


keluarga Mahesa. Saat ini sudah menjelang


tengah malam, namun Kiran tidak jua mampu


memejamkan matanya. Dia berdiri di balkon,


melipat kedua tangan di depan dadanya.


Udara dingin yang mulai menusuk kulit tidak


dirasakannya sama sekali karena dia sedang


larut dalam lamunannya.


Matanya tampak kosong menerawang jauh


mencoba menembus kegelapan. Pikirannya


saat ini sedang melayang pada sosok yang


sesaat lalu telah memberinya kejutan luar


biasa. Kejutan yang membuat dia benar-


benar merasa seperti sedang bermimpi.


"Agra..kenapa kamu tidak berterus terang


sedari awal, apakah begitu sulit bagimu


untuk jujur padaku.."


Lirihnya perih. Kekecewaan itu masih saja


memenuhi dadanya. Tapi rasa rindunya saat


ini lebih mendominasi perasaanya. Kiran


merasa berada di persimpangan jalan yang


sangat membingungkan membuat dirinya


berada dalam dilema berat.


"Bimantara Agra Bintang..kenapa aku tidak


pernah mencoba mencari tahu tentang dia


dari awal. Aku begitu terlena dengan semua


penyamaran nya yang sangat sempurna..!"


Kiran kembali mengingat seluruh moment


kebersamaan nya bersama Agra dari awal


mereka berjumpa. Dasar bodoh.! dari semula


kejanggalan itu memang sudah sangat terlihat,


dia saja yang tidak peka.! sosok Agra yang


begitu istimewa harusnya sudah cukup


membuat dia penasaran akan jati dirinya.


Kiran menghembuskan napas berat. Dia mulai menggigil merasakan hawa dingin yang kini menyentuh kulitnya. Matanya terpejam kuat


saat bayangan wajah super tampan itu kini


menjelma menggoda di pelupuk matanya.


Tubuhnya tiba-tiba memanas saat mengingat


kejadian semalam yang begitu indah, wajah


nya langsung saja memerah sendiri.


"Agraa..aku sungguh merindukanmu..tapi


kamu telah membuat ku sangat kecewa.."


Lirih Kiran semakin memejamkan matanya


di saat air mata mulai memaksa ingin keluar.


Rasa rindu dan kecewa dalam hatinya kini


seakan membuat jiwanya begitu tersiksa.


Kiran membuka mata, melirik keatas meja


kecil saat ponselnya kembali bergetar, dari


tadi Agra terus saja menghubungi nya.Dia


menatap layar ponsel nya, sebenarnya dia


ingin sekali menekan tombol hijau itu, tapi


separuh hatinya melarang dirinya untuk


menerima panggilan tersebut. Akhirnya


dia memilih mematikan ponselnya.


Kiran segera masuk ke dalam kamar, dia harus


mengistirahatkan seluruh jiwa dan raganya,


agar dirinya tidak terus menerus larut dalam


segala keterpurukan nya. Dia harus cepat


bangkit, besok pagi kesibukan menantinya.


Saat dia sudah bersiap naik ke atas tempat


tidur, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk dari


luar, Kiran menautkan alisnya, ini sudah


sangat malam, tapi kenapa masih ada


yang berniat menggangu nya.!


Dengan terpaksa dia berjalan kearah pintu,


sedikit ragu untuk membuka nya, terdiam


sebentar, namun ketukan itu kembali


terdengar. Dengan sedikit kesal akhirnya


Kiran membukanya.


Matanya membulat saat melihat sosok gagah


yang sedang jadi pusat segala isi pikirannya


kini tengah berdiri di depan pintu. Mata mereka


saling menatap kuat. Kiran bergerak cepat ingin


menutup pintu kamarnya kembali, tapi telapak


tangan Agra menghalanginya. Kiran melotot


kesal, keduanya saling bertahan dengan


keinginannya masing-masing, membuat


pintu jadi sasaran keegoisan mereka.


Dengan perasaan dongkol akhirnya Kiran


mengalah, dia membiarkan pintu itu terbuka, kemudian berdiri dengan melipat kedua tangan


di dada menatap wajah Agra penuh kekesalan.


"Apa kurang jelas semua yang aku katakan


tadi Tuan Bimantara..? saat ini aku sedang


tidak ingin di ganggu dulu..!"


"Pembicaraan kita belum selesai Kiran..!"


"Aku rasa semuanya sudah sangat jelas.


Jadi sebaiknya sekarang anda pulang Tuan.."


"Aku tidak punya tempat untuk pulang Nona..!"


Wajah Kiran berubah geli dan sinis. Sedang


Agra tampak datar seolah sangat serius.


"Ck..ck.. bukankah kau sangat kaya Tuan,


istana mu juga sangat megah..!"


"Istana itu milik istriku..bukan milikku..!"


Mata Kiran mengerjap, keduanya saling pandang


kuat, saat ini Agra terlihat masih mengenakkan


setelan yang tadi di pakainya, tampaknya dia


baru saja pulang dari pesta tadi.


"Apa maumu sebenarnya.?"


Wajah Kiran berubah keras, Agra menatap


tenang wajah jutek istrinya itu yang malah


semakin terlihat menggemaskan di matanya.


Dia maju mendekat membuat Kiran mundur.


"Aku datang untuk menjemputmu pulang !


kembali ke tempat yang seharusnya.!"


"Oya..? tempatku di sini Tuan, bersama dengan


kedua orang tuaku.!"


"Kau sudah menjadi istri seseorang Kiran, kau


harus ikut kemanapun suamimu pergi.!"


"Suami yang sudah menyembunyikan identitas


dirinya dari istrinya, apa layak untuk aku ikuti.!"


"Aku melakukan semua itu semata-mata hanya


untuk dirimu, untuk melindungi mu.!"


"Tapi aku tidak suka di bohongi Tuan..!"


Mata mereka semakin panas, wajah Kiran


tampak memerah, sedang Agra mencoba


untuk tetap tenang.


"Maafkan aku..Kiran.. semuanya kulakukan


karena aku sangat mencintaimu..!"


Kiran terdiam, masih menatap wajah Agra


penuh penghakiman.


"Itu alasan yang sangat konyol Tuan.!"


"Tapi itulah kenyataannya..!"


Tegas Agra dengan wajah yang sangat serius.


Kiran memalingkan wajahnya.


"Sekarang pulanglah..ikut bersamaku.!"


Kiran menggeleng lemah, menatap wajah Agra


dengan kekerasan hatinya.


"Agra..aku sudah bilang, aku ingin sendiri dulu,


aku butuh waktu untuk menenangkan diri,


untuk dapat menerima semua ini..!"


"Dan aku rasa kau sudah cukup tenang..!"


"Belum ! aku masih memerlukan waktu itu.!"


"Tapi Kiran, aku tidak bisa jauh darimu.!"


"Jangan lebay Tuan..aku ini hanyalah wanita


biasa yang tidak sepantasnya berada di dalam hatimu..!"


"Jangan mengingkari hatimu Kiran.! bukankah


kau juga sangat mencintaiku.!"


Mata mereka semakin panas. Kiran meraih


handel pintu.


"Kembalilah ke tempatmu Tuan, berikan aku


hak dan kebebasan untuk menentukan arah


pikiranku sendiri..! selamat malam..!"


Kiran menutup pintu, tapi Agra kembali mencoba


menghalanginya. Wajah Kiran tampak semakin


kesal. Dengan hentakkan kuat dia mendorong


dada Agra kemudian menutup keras pintu kamar


nya membuat Agra terdiam, menarik napas berat.


Dia meremas kepalanya merasa frustasi sendiri.


"Tuan Agra.. sepertinya Kiran masih butuh


waktu untuk merenungkan semua ini."


Ternyata, dari tadi Tuan Zein dan Nyonya Amelia


ada di sebelah Agra, hanya saja tidak di sadari


oleh Kiran, mereka berdua menunduk dalam.


Agra melirik kearah mereka.


"Aku tahu..! aku yang salah. Kita harus bicara.


Ada hal yang ingin aku perjelas.!"


"Baik Tuan, mari..kita bicara di ruang kerja saja."


Tuan Zein yang sebenarnya masih dalam kondisi


sedikit lemah itu mulai berjalan membimbing pria


muda yang notabenenya adalah menantunya itu.


------- -------


"Apakah ayahku pernah mendatangi mu waktu


kalian berada di negara xxx..?"


Tuan Zein nampak terkejut, wajahnya langsung


saja pucat pasi. Dia menundukkan kepalanya


tidak berani melihat kearah Agra yang sedang


duduk di hadapan nya.


"Aku minta berterus terang lah..tidak perlu takut.


Kau tahu, kepergian kembali kalian ke negara ini


membuatku memutuskan untuk tinggal di sini,


bersama dengan leluhur ibuku..!"


Tegas Agra dengan suara yang sangat berat.


Tuan Zein mencoba untuk menenangkan diri.


Dia menarik napas panjang, melihat sekilas


kearah Agra.


"Itu benar Tuan Muda..Ayah tuan mendatangi


kami dan menyuruh kami untuk membawa


Sachi pulang agar anda jauh darinya.!"


"Apa dia mengancam keselamatan Kiran.?"


Tuan Zein semakin terlihat menunduk. Wajah


nya juga semakin memucat campur tegang.


"Kami menyadari.. tidaklah pantas kalau Tuan


dekat dengan putri kami, jadi tidak ada yang


salah dengan apa yang di lakukan oleh ayah


Tuan muda.! "


" Jadi benar kalau dia mengancam kalian.?


terutama keselamatan Kiran..?"


Tiba-tiba Tuan Zein beranjak lalu bersimpuh


di hadapan Agra yang terkejut seketika.


"Tuan muda.. saya mohon lepaskan saja Kiran.


Tuan tidak pantas untuk bersanding dengan


nya. Anda terlalu terhormat untuk Kiran...!"


Agra sontak berdiri dengan tatapan menyala.


Tuan Zein masih duduk bersimpuh di bawah


nya dengan wajah di penuhi oleh kecemasan.


"Apa kau meragukan ketulusanku pada putri


mu.? aku bahkan rela keluar dari istana Hiroki


hanya untuk mencari Kiran..!"


"Saya tidak menduga kalau Tuan akan datang


dan mencari Sachi.. saya kira Tuan sudah lupa


akan semua kejadian masa kecil itu.."


"Kau pikir itu mudah untuk aku lakukan.?"


"Tuan.. saya mohon..lepaskan saja putri saya.


Kalau Ayah anda mengetahui semua ini saya


tidak bisa membayangkan apa yang akan


terjadi pada putri saya..!"


Agra menatap tajam laki-laki paruh baya yang


berstatus sebagai mertuanya itu.


"Keselamatan dan kebahagiaan Kiran adalah


tangung jawabku sekarang. Kau hanya perlu


memberi ku restu untuk menjadi suaminya.!"


Tuan Zein terdiam masih di liputi oleh rasa


was-was dan ketakutan akan berbagai hal


itu ayah dari menantunya.


"Tapi Tuan muda..akan lebih baik kalau Kiran


tidak berhubungan dengan kalian..!"


"Tuan Zein Mahesa..! apa kau lupa siapa aku


sekarang ? aku bukanlah anak lelaki umur 13


tahun lagi yang berada di bawah perintah Tuan


Hasimoto..! aku adalah cucu tunggal keluarga


Hadiningrat..!"


Tuan Zein terhenyak. Dia tidak bisa lagi berkata


ataupun memohon pada menantunya itu. Dia


sangat faham siapa itu Bimantara Agra Bintang.


"Baiklah Tuan..kalau begitu.. saya pasrahkan


semuanya kepada anda. Saya akan merestui


hubungan kalian, saya percaya Tuan akan


menjaga putri saya dengan baik.."


"Bangunlah..! jangan pernah sekalipun kau


merendahkan diri di depan siapapun..!"


Tuan Zein bangkit berdiri sedikit goyah. Agra


menghembuskan napas nya perlahan.


"Aku akan pulang sekarang. Biarkan Kiran


tenang dulu, aku sudah menempatkan banyak


penjaga untuk mengawasi rumah ini.!"


"Baik Tuan.."


Sahut Tuan Zein seraya menunduk sedikit. Agra melangkah keluar di ikuti oleh mertuanya itu


sampai ke halaman depan dimana saat ini ada


beberapa mobil mewah yang terparkir di sana


menunggu kemunculan Tuan Muda nya itu.


Tuan Zein menarik napas berat menatap nanar


kepergian rombongan Agra dan para pengawal


nya dari halaman rumah.


****** ******


Pagi hari yang cerah.....


Kiran turun dari lantai atas sudah siap dengan


setelan semi formalnya. Hari ini sepertinya mood


nya cukup baik, terbukti wajahnya terlihat cerah


dan bersinar. Kiran memang tidak pernah bisa


membiarkan dirinya terpuruk terlalu lama.


Tiba di ujung tangga dia berpapasan dengan


Aryella yang kelihatannya baru saja pulang.


Keduanya tampak saling menatap, Kiran melihat


saat ini Aryella bahkan masih mengenakan gaun


pesta semalam. Aryella tiba-tiba saja tertawa


renyah, menatap sinis wajah Kiran yang sedikit


bingung melihat reaksi adiknya itu.


"Ada apa dengan mu Aryella.? jam segini baru


pulang, darimana saja..?


"Haha..apa kau pikir dirimu sudah hebat karena


telah menjadi Nyonya Bimantara Agra Bintang.?


Kau bahkan tidak pantas menyandang gelar itu.!"


Ejek Aryella dengan tawa yang masih terdengar.


Wajah Kiran berubah memerah, tapi dia berusaha untuk tetap tenang.


"Pantas atau tidak, bukan kau yang menentukan.


Hanya suamiku dan keluarganya yang berhak


menilai semua itu ! "


"Cihh..! lalu kenapa sampai sekarang kamu


masih ada di rumah ini.?"


"Itu juga bukan urusanmu.!"


"Oowwh... kasihan sekali. Aku yakin keluarga


Hadiningrat tidak akan pernah sudi memiliki


menantu sekelas dirimu..! "


"Terserah apa katamu Aryella..! aku harus


pergi sekarang..!"


Ketus Kiran sambil beranjak tapi tangannya


di tarik oleh Aryella.


"Tunggu dulu dong kakakku sayang..kita belum


selesai bicara..!"


Kiran menepis pegangan tangan Aryella seraya


menatap tajam wajah Aryella yang terlihat


sangat kacau itu. Mulutnya juga bau alkohol.


"Apalagi Aryella..? aku sedang terburu-buru.!"


"Heh.! apa kau pikir suamimu itu benar-benar


mencintaimu.? apa kau pikir pria terhormat


sepertinya mau bersanding dengan wanita


kelas rendah seperti kita.? kenapa kamu tidak


berkaca baik-baik Kiran..? pantaskah dirimu


untuknya ? apa kau pantas bersaing dengan


Nona Mikhayla Alexandria..?"


Deg !


Jantung Kiran seakan tertabrak sesuatu. Hati


nya mencelos seketika, wajahnya sedikit pias.


Aryella tersenyum sinis setengah mengejek.


"Aryella.. adikku sayang.. kapankah kamu bisa


bersikap selayaknya seorang adik pada kakaknya.


Dengar ya..aku percaya sepenuhnya pada cinta


suamiku. Aku tahu aku memang tidak layak


untuknya, tapi cinta kami yang akan membuat


semuanya menjadi pantas.!"


"Haha cinta.? kau sangat percaya diri sekali ya.


Kau bahkan siap bersaing dengan seorang ratu kecantikan sekelas Mikayla..!"


"Jangankan seorang Mikhayla.. bahkan seratus


Mikhayla pun aku tidak takut, karena kenyataan


sudah berbicara, saat ini aku sudah menjadi


istrinya seorang Bimantara Agra Bintang..!"


Aryella mengetatkan rahangnya, matanya


menatap kesal kearah Kiran yang hanya bisa


tersenyum tenang.


"Adikku, cobalah untuk mencintai ku sedikit saja.


Itu adalah hal yang akan membuatku bahagia.


Dan belajarlah untuk bisa menerima semua


kenyataan serta ketentuan Tuhan..!"


Ucap Kiran sambil menepuk pelan bahu adik


nya itu. Dia mulai melangkah, namun kembali


berbalik.


"Asal kamu tahu, sebenci apapun kamu padaku.


Aku tetap menyayangimu.. sangat menyayangi


mu Aryella..!"


Ujar Kiran dengan tatapan teduh yang membuat


Aryella memalingkan mukanya namun matanya


tampak mengerjap beberapa kali. Kiran berlalu


keluar dari rumah, dia sampai membatalkan


niatnya untuk sarapan. Waktu sudah semakin


siang sementara hari ini dia harus menghadiri


rapat koordinasi semua perusahaan yang ada


di bawah komando Bintang Group.


Aryella menarik napas panjang, mencuri tatap


kepergian kakaknya itu. Ada setitik air mata


yang menetes di pipinya.


Sementara itu hari ini Kiran berangkat sendiri


dengan mengendari mobil kesayangan nya


setelah cukup lama tidak di gunakannya.


"Ya Hallo Lia.. tolong siapkan semua berkas


yang akan kita bawa ke acara rapat hari ini..!"


"Baik Bu.. sebaiknya ibu langsung berangkat


saja ke lokasi, saya menyusul sekarang.."


"Oke..kalau begitu saya langsung ke lokasi


saja ya..kita ketemu di sana.!"


"Baik Bu..sampai jumpa.."


Kiran mengakhiri pembicaraan teleponnya.Dia meletakkan kembali ponsel nya di atas tas yang


di bawanya yang tersimpan di jok sebelah.Namum sedetik kemudian dia memekik kaget seraya membanting setir kearah kiri ketika tiba-tiba


ada sebuah mobil yang datang dengan cepat


dari arah belakang lalu memepetnya.


"Allahuakbar..apa yang terjadi..!"


Kiran berusaha mengendalikan laju mobilnya


yang kini meluncur deras menuju ke pinggiran


trotoar. Dan setelah perjuangan serta kepanikan


luar biasa dia bisa menghentikan laju mobilnya.


Matanya membelalak karena ada dua mobil lain


yang kini saling kejar-kejaran dengan mobil yang


tadi memepetnya. Ada apa ini, apa yang terjadi ?


Belum pulih kekagetan Kiran tiba-tiba ada dua


buah mobil hitam yang datang mengurung


mobilnya di depan dan belakang. Kiran tersentak


kaget ketika beberapa orang berseragam hitam


dengan wajah yang tertutup topeng datang


memecah kaca mobil nya kemudian membuka


paksa pintu mobil setelah itu salah seorang


diantaranya menyeret Kiran keluar dari mobil.


"Hei.. siapa kalian.? apa yang kalian inginkan.!


Lepaskan aku...! lepas..!"


Teriak Kiran seraya berontak mencoba melepas


cengkraman orang itu di tangannya. Namun


orang itu tidak menggubris nya, dia tetap menarik tangan Kiran di bawa kearah mobilnya. Namum


di waktu bersamaan datang mobil sport mewah


ke tempat itu, membuat orang yang menyeret


Kiran langsung menghentikan langkahnya.


Satu sosok tinggi gagah dengan setelan andalan


nya, jaket hitam plus topi yang menutupi separuh


wajahnya muncul dari dalam mobil yang sontak


membuat lutut para penyerang Kiran bergetar.


"Agra..!"


Desis Kiran saat melihat sosok gagah tersebut


langsung menyerang orang-orang tadi. Dalam


waktu sekejap para penyerang itu lebih memilih


melarikan diri daripada babak belur. Sepertinya mereka tahu pasti siapa sosok itu dan


bagaimana kemampuan bela dirinya.


Agra mengibaskan jaketnya yang sedikit kotor.


Dia juga merapihkan letak topinya, setelah itu


mendekat kearah Kiran yang masih bengong


di tempat tanpa kata. Dengan gerakan cepat


Agra mengangkat tubuh Kiran ala bridal style


lalu melangkah kearah mobilnya.


"Bawakan tasnya..!"


Titah Agra pada Bara yang baru saja datang ke


tempat itu bersama dengan Zack. Kiran terdiam,


tak mampu mengeluarkan suara. Rasa rindunya


sudah membungkam mulutnya yang semula


ingin melontarkan protes.


Dengan hati-hati Agra mendudukkan Kiran


di jok depan. Tangan Kiran masih melingkar


kuat di leher Agra, mata mereka kini saling


menatap kuat, ada sorot mata penuh kerinduan


yang kini terpancar di kedua bola mata mereka.


"Aku tidak akan mengampuni mu sayang..


karena kau telah menyebabkan malamku


kacau..!"


Kiran menegang, dia memundurkan wajahnya


ketika wajah Agra maju mendesak.


"A-apa maksudmu..?"


Mata mereka terpaut dalam. Bibir Agra tampak


menyeringai tipis.


"Aku tidak bisa memejamkan mata..Aroma


tubuh mu membuatku terus membayangkan


keindahan tubuh mu..!"


Wajah Kiran langsung saja di penuhi semburat


merah, apa-apaan dia ini, tidak lihat situasi.!


"Dasarr pria mesum..!"


Desis Kiran jengah, dia melengoskan wajahnya


tapi Agra segera menariknya.


Cup !


Dia mendaratkan ciuman lembut di bibir ranum


Kiran yang langsung mendorong dadanya kesal.


Agra tersenyum miring kemudian dia melangkah


masuk ke balik kemudi. Untuk sesaat menatap


kearah Kiran yang memalingkan wajahnya ke


luar jendela. Bibir Agra tersenyum puas, dia


mulai melajukan mobilnya menuju ke gedung


megah Bintang Group.


Sepertinya sudah tiba saatnya bagi dia untuk


menarik istrinya itu ke dalam kehidupannya..


seutuhnya tanpa ada ganjalan lagi.. Dan..


sekarang Eyang putri akan kembali beraksi..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....