
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Sudah 2 jam lebih Kiran tak sadarkan diri,
dan belum juga menunjukkan tanda-tanda
akan pulih. Bibirnya tampak sedikit membiru
dengan suhu tubuh yang semakin lama
semakin menurun. Kulit tubuhnya kini terlihat
sudah sepucat kapas. Agra mendeteksi ada
sesuatu yang tidak beres telah terjadi pada
istrinya itu. Ketakutan dan kecemasan kini
mulai merasuki jiwanya akan satu hal yang
sedari awal berusaha untuk di antisipasinya.
Agra menggeleng panik, mencoba menepis
segala kemungkinan yang kini mengganggu
pikirannya. Dua orang dokter sedang berusaha
untuk menangani kondisi Kiran. Namun hasil
nya tetap sama, Kiran tidak juga mendapatkan
kembali kesadarannya.
Tidak ! itu tidak mungkin ! ayahnya tidak akan
setega itu menghancurkan dirinya hanya demi
ego diri dan mempertahankan kehormatannya.
Tapi melihat kondisi Kiran saat ini, keyakinan
itu perlahan memudar. Dia tahu benar ayah nya
adalah ahli racun dan obat yang sangat handal.!
Tapi mungkinkah ayahnya bisa sekejam itu.?
Bara dan Zack tetap setia menemani di dalam
kamar dengan kecemasan yang sama. Keadaan
kulit Kiran kini sudah berubah menjadi seputih
salju, suhu tubuhnya semakin menurun, Dokter
sampai harus memasang selang infus untuk membantu asupan cairan ke dalam tubuh Kiran. Namun kesadaran belum juga menyapanya.
Semuanya semakin menunjukkan gejala
kearah yang di takutkan oleh Agra.
Bara kembali memanggil dokter lain untuk
memeriksa keadaan Kiran. Kali ini Dokter ahli
racun lah yang sengaja di datangkan. Saat ini
dokter itu sedang mengecek intens kondisi Kiran dengan sangat detail dan penuh kehati-hatian.
"Bagaimana...apa yang terjadi dengannya?
kenapa dia belum siuman juga.?"
Agra bertanya tidak sabar pada Dokter itu. Ada
butiran keringat di dahi sang Dokter yang semakin
membuat hati Agra melemah. Perasaannya kini
semakin tidak enak, tubuhnya sedikit lemas.
"Tu-Tuan...maaf.. terjadi sesuatu yang sangat
serius dengan tubuh Nona.."
Gemetar Dokter itu berucap dengan wajah yang
terlihat tegang dan pucat. Dia menunduk pasrah
di hadapan Agra yang entah sudah sekelam apa
wajahnya saat ini.
"Apa maksudmu..?"
Mata Agra menatap kuat wajah pucat Kiran.
Dia menggeleng panik, hatinya terasa semakin
sakit, tidak ! itu tidak boleh terjadi padanya.!
"No-nona...terkena racun yang sangat langka
Tuan..!"
Bruk !
Kepalan tinju Agra menghantam lantai kamar
seiring tubuhnya yang jatuh luruh ke lantai. Dia bersimpuh di samping tubuh Kiran yang terbaring
lemah dengan tatapan mata yang kosong. Apa
yang di takutkan nya kini benar-benar terjadi.!
Pria tua itu benar-benar telah meracuni istrinya.
Bara dan Zack ikut lemas, tubuh mereka pun
langsung goyah. Mereka telah gagal menjaga
dan melindungi Nona Muda nya.
"Racun apa yang menyerangnya..?"
Agra menggeram dengan tatapan yang jatuh
mengunci wajah Kiran yang kini berubah, dia
terlihat tenang, matanya terpejam rapat, tidak
ada reaksi apapun, seolah sudah tak bernyawa.
"Saya tidak bisa memastikan nya Tuan, sebaik
nya kita panggil sensei untuk memastikannya..!"
"Zack..kau hubungi Takeda..bawa semua ahli
pengobatan ke sini..!"
"Baik Tuan..!"
"Bara..kau hubungi sensei Kagawa..suruh dia
datang sekarang juga..!"
"Baik Tuan..!"
Maka detik itu pula keadaan di area bilik Agra
menjadi sibuk luar biasa di selimuti aura yang
sangat mencekam. Semua bergerak sesuai
dengan arahan dan tugas masing-masing.
Beberapa waktu kemudian sensei Kagawa tiba.
Dia adalah pria tua yang masih terlihat sehat
dan bugar di usia nya sekarang. Matanya jernih
dengan tatapan yang penuh dengan ketenangan.
Dialah guru Agra yang telah membimbing dan
mengajarinya segala ilmu yang kini di milikinya.
Agra duduk seiza dari tadi. Tidak merubah posisi.
Wajahnya super dingin dengan sorot mata yang
sangat rumit, ada berbagai kecamuk dalam hati
nya. Kemarahan, kekecewaan, kesedihan dan
yang paling besar adalah rasa takut kehilangan.
Sensei Kagawa langsung mengecek kondisi
Kiran yang terbaring tak berdaya di atas futon
yang tergelar di tengah kamar. Wajahnya tetap
terlihat mempesona walaupun tidak ada rona
kehidupan yang kini mewarnai nya.
Mata sensei yang jernih menatap tenang wajah
Kiran yang seolah sedang tertidur lelap. Alisnya
tampak bertaut, dia menarik napas panjang.
Kemudian duduk bersila dengan posisi fokus
bersemedi. Kedua tangan rapat di dada dengan
kedua mata terpejam kuat.
Agra menunduk, jiwanya semakin melemah.
Apakah dia harus mengalah untuk kondisi ini.
Ini adalah yang di inginkan oleh pria tua itu.!
Dia benar-benar licik ! menjadikan Kiran sebagai
korban untuk mencapai ambisinya.!
Sensei membuka mata, menempelkan telapak
tangan kanan nya ke bagian leher pucat Kiran
dengan tubuh yang bergetar hebat. Dia sedang
menyalurkan tenaga ke tubuh Kiran mencoba
menetralisir racun dalam tubuh nya. Namun
hingga beberapa saat mencoba tubuh sensei
malah kehabisan kekuatannya. Kiran bergeming,
dia tetap pada kondisi semula, terlelap tenang.
"Racun nya sangat langka.. sepertinya ini
baru saja di ciptakan. Hanya ayahmu yang
bisa menolongnya saat ini..!"
Agra terkesiap, dia mendongakkan kepala.
"Apa tidak ada kemungkinan bagi kita untuk
menciptakan penawarnya.?"
"Tidak ada waktu untuk itu Hoshi sama..! racun
ini hanya memberi jangka waktu 24 jam saja
untuk bertahan, sebelum akhirnya menyerang
organ vital dan mengambil nyawanya...!"
Ucapan Sensei bagai ketuk palu hakim yang
langsung membuat semua orang terhenyak.
Agra kini benar-benar kehilangan tenaganya.
Dia beranjak dengan tubuh goyah mendekat
kearah Kiran, meraih tubuh lemah itu kedalam pangkuannya. Menatap wajahnya yang seputih
salju. Sensei dan semua orang yang ada di
dalam ruangan hanya bisa terdiam dan
menundukkan kepala pasrah. Tidak ada lagi
yang bisa mereka lakukan saat ini. Hanya ada
satu orang yang bisa menyelamatkan nyawa
Kiran, yakni orang yang sudah meracuninya.
"Tinggalkan aku sendiri..!"
Suara Agra terdengar sangat lemah. Hilang
sudah seorang Agra yang perkasa dan kuasa.
Dia kini hanyalah seorang suami yang sedang
patah arang, di telan kekalahan. Semua orang
bergerak senyap keluar ruangan meninggalkan
Agra yang sedang memeluk erat tubuh Kiran.
Cuaca di luar saat ini semakin tidak menentu.
Tiupan angin kencang membawa badai salju
yang melanda area istana hingga menimbulkan
kekacauan. Agra memeluk erat tubuh Kiran
yang membeku bagai sebuah patung es.
Matanya menatap redup wajah Kiran yang
sudah seperti mayat. Tangannya bergetar
mengelus lembut wajah istrinya itu dengan
kesakitan tiada tara yang kini melanda hati
nya merontokkan semua keangkuhan nya.
"Maafkan aku Kiran..telah memaksamu untuk
masuk ke dalam neraka ini. Aku tidak mampu
menjaga dan melindungi mu..!"
Lirih nya pelan dan bergetar, ada tetes air mata
yang jatuh dari kedua sudut matanya. Seorang
Agra kini meneteskan air mata kepahitan dan
kesakitan serta rasa putus asa dan penyesalan
karena merasa tidak mampu mempertahankan
komitmen nya untuk selalu berjalan di atas
semua keangkuhan dan arogansinya.
"Akan aku lakukan apapun untuk membuatmu
tetap hidup.. walaupun aku harus jatuh..! Aku
tidak peduli lagi dengan harga diri.. nyawamu
adalah harga diriku yang tersisa sekarang..!"
Bisiknya seraya mencium lembut kening Kiran.
Kemudian mengecup bibir nya yang membeku.
Tapi aroma manis itu anehnya masih tersisa
membuat Agra terhenyak. Matanya menatap
tertegun, ikatan bathin mereka terlalu kuat
hingga walau dalam keadaan tidak berdaya
sekalipun tubuh Kiran masih berusaha untuk
memberikan respon positif terhadap sentuhan
nya. Sorot mata Agra kini tampak sedikit hidup .
"Aku akan membawamu kembali sayang..aku
tidak akan membiarkan dirimu pergi.."
Agra kembali memeluk erat tubuh Kiran. Mata
nya terpejam kuat mencoba untuk menguatkan
hati dan jiwanya untuk mengambil keputusan.
"Hoshi... bagaimana keadaannya..!"
Bruk !
Nyonya Yuri yang tiba-tiba saja sudah ada di
dalam kamar jatuh bersimpuh di hadapan
Agra yang masih memeluk tubuh Kiran di
atas pangkuannya. Agra mendongakkan
kini berlinang air mata dengan tatapan mata
begitu terpukul melihat keadaan Kiran.
Perlahan Agra kembali membaringkan tubuh
lemah Kiran di atas futon, menyelimuti nya
dengan dua selimut tebal. Di tatapnya kembali
wajah kaku itu dengan sorot mata teduh.
"Seperti yang kau lihat..ini semua adalah hasil
perbuatan suamimu yang kejam..! istri ku yang
tidak berdosa telah menjadi korban nya..!"
Ujar Agra sambil beranjak, berdiri tegak masih
menatap wajah Kiran. Tangis Nyonya Yuri kini
pecah sudah. Dia menundukkan kepala sambil
menangis tersedu.
"Maafkan ibu Hoshi.. sesungguhnya ibu pun
sudah lelah dengan semua ini..! ibu hanya
tidak berdaya dengan perasaan cinta ini..!"
Isak nya masih dalam keadaan duduk dan
menunduk. Agra menatap ibunya, rasa sakit
dalam hatinya kini semakin bertambah. Dia
harus mengakhiri semua ini. Hitam putih
hubungan nya dengan sang ayah harus dia
tentukan sekarang. Apapun yang akan terjadi
nanti, itu adalah ketentuan dari Tuhan..
"Tolong jaga istriku..aku akan menemui laki-
laki itu sekarang..!"
Agra melangkah namun tangannya di cekal
oleh Nyonya Yuri dengan raut kecemasan
yang begitu nyata terlihat.
"Tolong kendalikan dirimu.! walau bagaimana
pun dia tetaplah ayahmu Hoshi..!".
Agra mendengus, melepaskan pegangan
tangan Nyonya Yuri, kembali melangkah
keluar dari kamar tanpa mantel yang
melindungi tubuhnya. Tangis Nyonya Yuri
semakin pecah. Mengapa semuanya jadi
semakin rumit seperti ini.?
------- ------
Waktu sudah menunjukan tepat pukul 12
malam. Saat ini kedua orang yang selalu berseberangan itu sudah saling berhadapan
di ruang khusus laboratorium istana. Bara,
Zack, Ryu dan 4 orang staf laboratorium
berada di sisi ruangan, menundukkan
kepala di liputi oleh ketegangan.
"Ternyata kau bukan ksatria sejati..kau tidak
lebih dari seorang pengecut dan pecundang..!"
Geram Agra menatap tajam kearah Ayah nya
yang saat ini terlihat menyeringai tipis.
"Ini tidak ada hubungannya dengan hal itu.
Aku hanya membuktikan ancaman ku..!"
"Kau sudah merencanakan semua ini.?"
"Dalam perang..peluang sekecil apapun harus
kita manfaatkan..apalagi itu kelemahan lawan.!"
Agra mendengus, rahangnya mengeras. Tinju
nya sudah terkepal dengan sempurna.
"Bagaimana kau bisa meracuni nya, padahal
aku sudah sangat hati-hati..!"
"Racun ini tidak akan terdeteksi oleh alat mu
secanggih apapun.! apalagi hanya lidahmu.!".
Raut wajah Agra semakin kelam, giginya kini
gemeletuk menahan ledakan amarah yang
semakin menguasai dirinya.
"Itu adalah racun jenis baru, reaksinya tidak
berlebih, tapi hasilnya sangat menakjubkan.
Kalau dalam 24 jam dia tidak mendapatkan
penawar, maka bisa di pastikan pernapasan
nya akan berhenti detik itu pula..!"
Agra sudah tidak bisa mengendalikan diri
lagi, tubuhnya bergetar hebat.
"Katakan..! apa maumu sekarang.?"
"Patuhi perintahku untuk menikahi Mikhayla..
maka penawar nya akan aku berikan sebelum
24 jam..! dan setelah itu ceraikan dia..!"
Brak !
Agra menendang meja laboratorium yang ada
di dekatnya hingga terbalik dan semua alat
yang ada di atasnya hancur berantakan.Semua
orang yang ada di ruangan itu terlonjak kaget.
Hanya Tuan Hasimoto yang tetap tenang tak
terpancing sedikitpun dengan emosi Agra.
Ada seringai tipis yang tercipta di sudut bibir
nya dengan tatapan tetap terfokus pada Agra.
"Baiklah..bukankah hanya itu yang kau inginkan.! Untuk menyelamatkan nyawa istriku, akan aku
melakukan apapun. Aku mengalah sekarang..!"
Semua orang terdiam, menudukkan kepala.
Memang sudah tidak ada yang bisa di lakukan
oleh Agra saat ini. Seringai senyum puas kini
tercipta di bibir Tuan Hasimoto.
"Tapi.. sebelum nya..aku akan mengajukan
syarat padamu..!"
Tuan Hasimoto tampak menautkan alisnya.
Menatap penasaran kearah Agra yang melipat
kedua tangannya di dada.
"Apa itu..? masih punya rencana lain kah.?"
Semua orang menatap kearah Agra sambil
menahan napas di penuhi ketegangan.
"Aku.. Bimantara Agra Bintang.. menantang
mu secara ksatria untuk berduel bebas..!"
Semua orang terperangah, terkejut setengah
mati. Tatapan Tuan Hasimoto kini sudah
berubah kelam, namun masih ada seringai
senyum samar yang terlihat.
"Baiklah..! aku terima tantangan mu Tuan
Hadiningrat..!"
"Duel ini sampai mati...!"
Tuan Hasimoto tampak terkejut, begitupun
yang lain, sampai mati.? yang benar saja. !
"Tidak akan ada ritual pernikahan..hanya akan
ada ritual pemakaman setelah ini..! demi Tuhan
cintaku pada istriku tidak akan pernah bisa aku
bagi Tuan Hasimoto yang terhormat..!"
Tegas Agra dengan tatapan harimau nya. Semua
orang terhenyak, tubuh mereka lemas. Agra
mendengus, dia memutar tubuhnya, melangkah
pasti keluar dari ruang laboratorium itu.
Zack dan Bara masih tertinggal, mereka syok
luar biasa dengan sikap yang di ambil oleh
Tuan nya itu. Tuan Hasimoto tampak masih
berdiri mematung di tempat nya.
Bara dan Zack membungkuk kearah Tuan Besar
kemudian berbalik dan melangkah pergi dari
ruangan itu. Ryu masih terlihat memucat, dia
menatap Tuan Hasimoto yang mendudukkan
dirinya di atas kursi di belakangan nya.
"Paman..mau sampai kapan lagi..?"
Ryu mendekat lalu berdiri di hadapan Tuan
Hasimoto yang menatap kosong ke depan.
"Aku sudah melihatnya sendiri sekarang..!"
Ujarnya sambil kemudian berdiri, setelah itu
melangkah masuk ke dalam ruangan lain.
Ryu ikut melangkah mengikuti pamannya itu.
Sementara itu Agra kembali ke biliknya dalam
keadaan tubuh yang kini hampir membeku.
Nyonya Yuri langsung menghampiri Agra,
membuka kemeja nya yang basah oleh salju
kemudian memakaikan sweater hangat ke
tubuh nya, menyelimuti nya dengan selimut.
Dia sudah menggelar futon yang lain ntuk
tempat Agra beristirahat.
"Tidurlah..kau harus istirahat sekarang..!"
Lirihnya sambil mengelus wajah tampan
putranya itu yang benar-benar dingin. Mata
Agra meredup. Tiba-tiba dia memeluk erat
tubuh mungil ibunya itu. Nyonya Yuri balik
memeluk erat tubuh Agra sambil menepuk
halus punggungnya.
"Ini sangat berat bagiku Bu..! cintaku yang
terlalu besar padanya, malah membawanya
pada situasi sulit seperti ini..!"
"Sekarang kau bisa merasakan.. bagaimana
situasi sulit yang ibu rasakan dulu..!"
Agra mengganguk, itu benar.. mungkin kondisi
ini sama persis seperti ibunya dulu.
"Jangan khawatir.. semuanya akan baik-baik
saja besok..! yakinlah pada Tuhan..tidak ada
sesuatu apapun yang terjadi tanpa kehendak
dan rencana dariNya.."
Keduanya saling melepaskan pelukan. Nyonya
Yuri kembali mengelus rambut dan wajah Agra.
"Istirahatlah..dia memerlukanmu saat ini..!"
Agra melirik kearah Kiran yang masih terbaring
dengan kondisi yang sama, terdiam, tenang,
dengan wajah dan kulit sepucat kapas.
"Ibu akan keluar sekarang.."
Nyonya Yuri menatap Kiran sebentar, setelah
itu dia berlalu keluar kamar di iringi rombongan
pelayan yang selalu setia mengikuti kemana
dia melangkah.
Agra mendekat kearah tempat tidur. Kemudian
masuk kebalik selimut yang menutupi tubuh
Kiran. Suhu tubuh Kiran masih terasa sangat
dingin. Agra meraih tubuh lemah itu ke dalam
pelukannya. Menciumi puncak kepalanya.
Lalu turun ke keningnya setelah itu *******
lembut bibir kakunya. Hatinya benar-benar
perih, melihat kondisi Kiran seperti mayat
hidup seperti ini dan dia tidak bisa berbuat
apa-apa. Agra memejamkan matanya.
Malam ini bisa saja menjadi malam terakhir
kebersamaan dirinya dengan Kiran. Karena
pertarungan besok akan mempertaruhkan
nyawa nya. Demi mendapatkan penawar itu
dia rela melepaskan apapun yang di milikinya...
Termasuk juga dengan nyawanya sendiri..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....