Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
59. Terkena Racun


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Sudah 2 jam lebih Kiran tak sadarkan diri,


dan belum juga menunjukkan tanda-tanda


akan pulih. Bibirnya tampak sedikit membiru


dengan suhu tubuh yang semakin lama


semakin menurun. Kulit tubuhnya kini terlihat


sudah sepucat kapas. Agra mendeteksi ada


sesuatu yang tidak beres telah terjadi pada


istrinya itu. Ketakutan dan kecemasan kini


mulai merasuki jiwanya akan satu hal yang


sedari awal berusaha untuk di antisipasinya.


Agra menggeleng panik, mencoba menepis


segala kemungkinan yang kini mengganggu


pikirannya. Dua orang dokter sedang berusaha


untuk menangani kondisi Kiran. Namun hasil


nya tetap sama, Kiran tidak juga mendapatkan


kembali kesadarannya.


Tidak ! itu tidak mungkin ! ayahnya tidak akan


setega itu menghancurkan dirinya hanya demi


ego diri dan mempertahankan kehormatannya.


Tapi melihat kondisi Kiran saat ini, keyakinan


itu perlahan memudar. Dia tahu benar ayah nya


adalah ahli racun dan obat yang sangat handal.!


Tapi mungkinkah ayahnya bisa sekejam itu.?


Bara dan Zack tetap setia menemani di dalam


kamar dengan kecemasan yang sama. Keadaan


kulit Kiran kini sudah berubah menjadi seputih


salju, suhu tubuhnya semakin menurun, Dokter


sampai harus memasang selang infus untuk membantu asupan cairan ke dalam tubuh Kiran. Namun kesadaran belum juga menyapanya.


Semuanya semakin menunjukkan gejala


kearah yang di takutkan oleh Agra.


Bara kembali memanggil dokter lain untuk


memeriksa keadaan Kiran. Kali ini Dokter ahli


racun lah yang sengaja di datangkan. Saat ini


dokter itu sedang mengecek intens kondisi Kiran dengan sangat detail dan penuh kehati-hatian.


"Bagaimana...apa yang terjadi dengannya?


kenapa dia belum siuman juga.?"


Agra bertanya tidak sabar pada Dokter itu. Ada


butiran keringat di dahi sang Dokter yang semakin


membuat hati Agra melemah. Perasaannya kini


semakin tidak enak, tubuhnya sedikit lemas.


"Tu-Tuan...maaf.. terjadi sesuatu yang sangat


serius dengan tubuh Nona.."


Gemetar Dokter itu berucap dengan wajah yang


terlihat tegang dan pucat. Dia menunduk pasrah


di hadapan Agra yang entah sudah sekelam apa


wajahnya saat ini.


"Apa maksudmu..?"


Mata Agra menatap kuat wajah pucat Kiran.


Dia menggeleng panik, hatinya terasa semakin


sakit, tidak ! itu tidak boleh terjadi padanya.!


"No-nona...terkena racun yang sangat langka


Tuan..!"


Bruk !


Kepalan tinju Agra menghantam lantai kamar


seiring tubuhnya yang jatuh luruh ke lantai. Dia bersimpuh di samping tubuh Kiran yang terbaring


lemah dengan tatapan mata yang kosong. Apa


yang di takutkan nya kini benar-benar terjadi.!


Pria tua itu benar-benar telah meracuni istrinya.


Bara dan Zack ikut lemas, tubuh mereka pun


langsung goyah. Mereka telah gagal menjaga


dan melindungi Nona Muda nya.


"Racun apa yang menyerangnya..?"


Agra menggeram dengan tatapan yang jatuh


mengunci wajah Kiran yang kini berubah, dia


terlihat tenang, matanya terpejam rapat, tidak


ada reaksi apapun, seolah sudah tak bernyawa.


"Saya tidak bisa memastikan nya Tuan, sebaik


nya kita panggil sensei untuk memastikannya..!"


"Zack..kau hubungi Takeda..bawa semua ahli


pengobatan ke sini..!"


"Baik Tuan..!"


"Bara..kau hubungi sensei Kagawa..suruh dia


datang sekarang juga..!"


"Baik Tuan..!"


Maka detik itu pula keadaan di area bilik Agra


menjadi sibuk luar biasa di selimuti aura yang


sangat mencekam. Semua bergerak sesuai


dengan arahan dan tugas masing-masing.


Beberapa waktu kemudian sensei Kagawa tiba.


Dia adalah pria tua yang masih terlihat sehat


dan bugar di usia nya sekarang. Matanya jernih


dengan tatapan yang penuh dengan ketenangan.


Dialah guru Agra yang telah membimbing dan


mengajarinya segala ilmu yang kini di milikinya.


Agra duduk seiza dari tadi. Tidak merubah posisi.


Wajahnya super dingin dengan sorot mata yang


sangat rumit, ada berbagai kecamuk dalam hati


nya. Kemarahan, kekecewaan, kesedihan dan


yang paling besar adalah rasa takut kehilangan.


Sensei Kagawa langsung mengecek kondisi


Kiran yang terbaring tak berdaya di atas futon


yang tergelar di tengah kamar. Wajahnya tetap


terlihat mempesona walaupun tidak ada rona


kehidupan yang kini mewarnai nya.


Mata sensei yang jernih menatap tenang wajah


Kiran yang seolah sedang tertidur lelap. Alisnya


tampak bertaut, dia menarik napas panjang.


Kemudian duduk bersila dengan posisi fokus


bersemedi. Kedua tangan rapat di dada dengan


kedua mata terpejam kuat.


Agra menunduk, jiwanya semakin melemah.


Apakah dia harus mengalah untuk kondisi ini.


Ini adalah yang di inginkan oleh pria tua itu.!


Dia benar-benar licik ! menjadikan Kiran sebagai


korban untuk mencapai ambisinya.!


Sensei membuka mata, menempelkan telapak


tangan kanan nya ke bagian leher pucat Kiran


dengan tubuh yang bergetar hebat. Dia sedang


menyalurkan tenaga ke tubuh Kiran mencoba


menetralisir racun dalam tubuh nya. Namun


hingga beberapa saat mencoba tubuh sensei


malah kehabisan kekuatannya. Kiran bergeming,


dia tetap pada kondisi semula, terlelap tenang.


"Racun nya sangat langka.. sepertinya ini


baru saja di ciptakan. Hanya ayahmu yang


bisa menolongnya saat ini..!"


Agra terkesiap, dia mendongakkan kepala.


"Apa tidak ada kemungkinan bagi kita untuk


menciptakan penawarnya.?"


"Tidak ada waktu untuk itu Hoshi sama..! racun


ini hanya memberi jangka waktu 24 jam saja


untuk bertahan, sebelum akhirnya menyerang


organ vital dan mengambil nyawanya...!"


Ucapan Sensei bagai ketuk palu hakim yang


langsung membuat semua orang terhenyak.


Agra kini benar-benar kehilangan tenaganya.


Dia beranjak dengan tubuh goyah mendekat


kearah Kiran, meraih tubuh lemah itu kedalam pangkuannya. Menatap wajahnya yang seputih


salju. Sensei dan semua orang yang ada di


dalam ruangan hanya bisa terdiam dan


menundukkan kepala pasrah. Tidak ada lagi


yang bisa mereka lakukan saat ini. Hanya ada


satu orang yang bisa menyelamatkan nyawa


Kiran, yakni orang yang sudah meracuninya.


"Tinggalkan aku sendiri..!"


Suara Agra terdengar sangat lemah. Hilang


sudah seorang Agra yang perkasa dan kuasa.


Dia kini hanyalah seorang suami yang sedang


patah arang, di telan kekalahan. Semua orang


bergerak senyap keluar ruangan meninggalkan


Agra yang sedang memeluk erat tubuh Kiran.


Cuaca di luar saat ini semakin tidak menentu.


Tiupan angin kencang membawa badai salju


yang melanda area istana hingga menimbulkan


kekacauan. Agra memeluk erat tubuh Kiran


yang membeku bagai sebuah patung es.


Matanya menatap redup wajah Kiran yang


sudah seperti mayat. Tangannya bergetar


mengelus lembut wajah istrinya itu dengan


kesakitan tiada tara yang kini melanda hati


nya merontokkan semua keangkuhan nya.


"Maafkan aku Kiran..telah memaksamu untuk


masuk ke dalam neraka ini. Aku tidak mampu


menjaga dan melindungi mu..!"


Lirih nya pelan dan bergetar, ada tetes air mata


yang jatuh dari kedua sudut matanya. Seorang


Agra kini meneteskan air mata kepahitan dan


kesakitan serta rasa putus asa dan penyesalan


karena merasa tidak mampu mempertahankan


komitmen nya untuk selalu berjalan di atas


semua keangkuhan dan arogansinya.


"Akan aku lakukan apapun untuk membuatmu


tetap hidup.. walaupun aku harus jatuh..! Aku


tidak peduli lagi dengan harga diri.. nyawamu


adalah harga diriku yang tersisa sekarang..!"


Bisiknya seraya mencium lembut kening Kiran.


Kemudian mengecup bibir nya yang membeku.


Tapi aroma manis itu anehnya masih tersisa


membuat Agra terhenyak. Matanya menatap


tertegun, ikatan bathin mereka terlalu kuat


hingga walau dalam keadaan tidak berdaya


sekalipun tubuh Kiran masih berusaha untuk


memberikan respon positif terhadap sentuhan


nya. Sorot mata Agra kini tampak sedikit hidup .


"Aku akan membawamu kembali sayang..aku


tidak akan membiarkan dirimu pergi.."


Agra kembali memeluk erat tubuh Kiran. Mata


nya terpejam kuat mencoba untuk menguatkan


hati dan jiwanya untuk mengambil keputusan.


"Hoshi... bagaimana keadaannya..!"


Bruk !


Nyonya Yuri yang tiba-tiba saja sudah ada di


dalam kamar jatuh bersimpuh di hadapan


Agra yang masih memeluk tubuh Kiran di


atas pangkuannya. Agra mendongakkan


kini berlinang air mata dengan tatapan mata


begitu terpukul melihat keadaan Kiran.


Perlahan Agra kembali membaringkan tubuh


lemah Kiran di atas futon, menyelimuti nya


dengan dua selimut tebal. Di tatapnya kembali


wajah kaku itu dengan sorot mata teduh.


"Seperti yang kau lihat..ini semua adalah hasil


perbuatan suamimu yang kejam..! istri ku yang


tidak berdosa telah menjadi korban nya..!"


Ujar Agra sambil beranjak, berdiri tegak masih


menatap wajah Kiran. Tangis Nyonya Yuri kini


pecah sudah. Dia menundukkan kepala sambil


menangis tersedu.


"Maafkan ibu Hoshi.. sesungguhnya ibu pun


sudah lelah dengan semua ini..! ibu hanya


tidak berdaya dengan perasaan cinta ini..!"


Isak nya masih dalam keadaan duduk dan


menunduk. Agra menatap ibunya, rasa sakit


dalam hatinya kini semakin bertambah. Dia


harus mengakhiri semua ini. Hitam putih


hubungan nya dengan sang ayah harus dia


tentukan sekarang. Apapun yang akan terjadi


nanti, itu adalah ketentuan dari Tuhan..


"Tolong jaga istriku..aku akan menemui laki-


laki itu sekarang..!"


Agra melangkah namun tangannya di cekal


oleh Nyonya Yuri dengan raut kecemasan


yang begitu nyata terlihat.


"Tolong kendalikan dirimu.! walau bagaimana


pun dia tetaplah ayahmu Hoshi..!".


Agra mendengus, melepaskan pegangan


tangan Nyonya Yuri, kembali melangkah


keluar dari kamar tanpa mantel yang


melindungi tubuhnya. Tangis Nyonya Yuri


semakin pecah. Mengapa semuanya jadi


semakin rumit seperti ini.?


------- ------


Waktu sudah menunjukan tepat pukul 12


malam. Saat ini kedua orang yang selalu berseberangan itu sudah saling berhadapan


di ruang khusus laboratorium istana. Bara,


Zack, Ryu dan 4 orang staf laboratorium


berada di sisi ruangan, menundukkan


kepala di liputi oleh ketegangan.


"Ternyata kau bukan ksatria sejati..kau tidak


lebih dari seorang pengecut dan pecundang..!"


Geram Agra menatap tajam kearah Ayah nya


yang saat ini terlihat menyeringai tipis.


"Ini tidak ada hubungannya dengan hal itu.


Aku hanya membuktikan ancaman ku..!"


"Kau sudah merencanakan semua ini.?"


"Dalam perang..peluang sekecil apapun harus


kita manfaatkan..apalagi itu kelemahan lawan.!"


Agra mendengus, rahangnya mengeras. Tinju


nya sudah terkepal dengan sempurna.


"Bagaimana kau bisa meracuni nya, padahal


aku sudah sangat hati-hati..!"


"Racun ini tidak akan terdeteksi oleh alat mu


secanggih apapun.! apalagi hanya lidahmu.!".


Raut wajah Agra semakin kelam, giginya kini


gemeletuk menahan ledakan amarah yang


semakin menguasai dirinya.


"Itu adalah racun jenis baru, reaksinya tidak


berlebih, tapi hasilnya sangat menakjubkan.


Kalau dalam 24 jam dia tidak mendapatkan


penawar, maka bisa di pastikan pernapasan


nya akan berhenti detik itu pula..!"


Agra sudah tidak bisa mengendalikan diri


lagi, tubuhnya bergetar hebat.


"Katakan..! apa maumu sekarang.?"


"Patuhi perintahku untuk menikahi Mikhayla..


maka penawar nya akan aku berikan sebelum


24 jam..! dan setelah itu ceraikan dia..!"


Brak !


Agra menendang meja laboratorium yang ada


di dekatnya hingga terbalik dan semua alat


yang ada di atasnya hancur berantakan.Semua


orang yang ada di ruangan itu terlonjak kaget.


Hanya Tuan Hasimoto yang tetap tenang tak


terpancing sedikitpun dengan emosi Agra.


Ada seringai tipis yang tercipta di sudut bibir


nya dengan tatapan tetap terfokus pada Agra.


"Baiklah..bukankah hanya itu yang kau inginkan.! Untuk menyelamatkan nyawa istriku, akan aku


melakukan apapun. Aku mengalah sekarang..!"


Semua orang terdiam, menudukkan kepala.


Memang sudah tidak ada yang bisa di lakukan


oleh Agra saat ini. Seringai senyum puas kini


tercipta di bibir Tuan Hasimoto.


"Tapi.. sebelum nya..aku akan mengajukan


syarat padamu..!"


Tuan Hasimoto tampak menautkan alisnya.


Menatap penasaran kearah Agra yang melipat


kedua tangannya di dada.


"Apa itu..? masih punya rencana lain kah.?"


Semua orang menatap kearah Agra sambil


menahan napas di penuhi ketegangan.


"Aku.. Bimantara Agra Bintang.. menantang


mu secara ksatria untuk berduel bebas..!"


Semua orang terperangah, terkejut setengah


mati. Tatapan Tuan Hasimoto kini sudah


berubah kelam, namun masih ada seringai


senyum samar yang terlihat.


"Baiklah..! aku terima tantangan mu Tuan


Hadiningrat..!"


"Duel ini sampai mati...!"


Tuan Hasimoto tampak terkejut, begitupun


yang lain, sampai mati.? yang benar saja. !


"Tidak akan ada ritual pernikahan..hanya akan


ada ritual pemakaman setelah ini..! demi Tuhan


cintaku pada istriku tidak akan pernah bisa aku


bagi Tuan Hasimoto yang terhormat..!"


Tegas Agra dengan tatapan harimau nya. Semua


orang terhenyak, tubuh mereka lemas. Agra


mendengus, dia memutar tubuhnya, melangkah


pasti keluar dari ruang laboratorium itu.


Zack dan Bara masih tertinggal, mereka syok


luar biasa dengan sikap yang di ambil oleh


Tuan nya itu. Tuan Hasimoto tampak masih


berdiri mematung di tempat nya.


Bara dan Zack membungkuk kearah Tuan Besar


kemudian berbalik dan melangkah pergi dari


ruangan itu. Ryu masih terlihat memucat, dia


menatap Tuan Hasimoto yang mendudukkan


dirinya di atas kursi di belakangan nya.


"Paman..mau sampai kapan lagi..?"


Ryu mendekat lalu berdiri di hadapan Tuan


Hasimoto yang menatap kosong ke depan.


"Aku sudah melihatnya sendiri sekarang..!"


Ujarnya sambil kemudian berdiri, setelah itu


melangkah masuk ke dalam ruangan lain.


Ryu ikut melangkah mengikuti pamannya itu.


Sementara itu Agra kembali ke biliknya dalam


keadaan tubuh yang kini hampir membeku.


Nyonya Yuri langsung menghampiri Agra,


membuka kemeja nya yang basah oleh salju


kemudian memakaikan sweater hangat ke


tubuh nya, menyelimuti nya dengan selimut.


Dia sudah menggelar futon yang lain ntuk


tempat Agra beristirahat.


"Tidurlah..kau harus istirahat sekarang..!"


Lirihnya sambil mengelus wajah tampan


putranya itu yang benar-benar dingin. Mata


Agra meredup. Tiba-tiba dia memeluk erat


tubuh mungil ibunya itu. Nyonya Yuri balik


memeluk erat tubuh Agra sambil menepuk


halus punggungnya.


"Ini sangat berat bagiku Bu..! cintaku yang


terlalu besar padanya, malah membawanya


pada situasi sulit seperti ini..!"


"Sekarang kau bisa merasakan.. bagaimana


situasi sulit yang ibu rasakan dulu..!"


Agra mengganguk, itu benar.. mungkin kondisi


ini sama persis seperti ibunya dulu.


"Jangan khawatir.. semuanya akan baik-baik


saja besok..! yakinlah pada Tuhan..tidak ada


sesuatu apapun yang terjadi tanpa kehendak


dan rencana dariNya.."


Keduanya saling melepaskan pelukan. Nyonya


Yuri kembali mengelus rambut dan wajah Agra.


"Istirahatlah..dia memerlukanmu saat ini..!"


Agra melirik kearah Kiran yang masih terbaring


dengan kondisi yang sama, terdiam, tenang,


dengan wajah dan kulit sepucat kapas.


"Ibu akan keluar sekarang.."


Nyonya Yuri menatap Kiran sebentar, setelah


itu dia berlalu keluar kamar di iringi rombongan


pelayan yang selalu setia mengikuti kemana


dia melangkah.


Agra mendekat kearah tempat tidur. Kemudian


masuk kebalik selimut yang menutupi tubuh


Kiran. Suhu tubuh Kiran masih terasa sangat


dingin. Agra meraih tubuh lemah itu ke dalam


pelukannya. Menciumi puncak kepalanya.


Lalu turun ke keningnya setelah itu *******


lembut bibir kakunya. Hatinya benar-benar


perih, melihat kondisi Kiran seperti mayat


hidup seperti ini dan dia tidak bisa berbuat


apa-apa. Agra memejamkan matanya.


Malam ini bisa saja menjadi malam terakhir


kebersamaan dirinya dengan Kiran. Karena


pertarungan besok akan mempertaruhkan


nyawa nya. Demi mendapatkan penawar itu


dia rela melepaskan apapun yang di milikinya...


Termasuk juga dengan nyawanya sendiri..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....