
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam lebih
akhirnya mobil yang membawa Kiran dan Nathan
tiba di sebuah villa yang ada di atas bukit. Nathan
kembali mengangkat tubuh Kiran dengan hati-hati
di bawa masuk ke dalam bangunan cukup megah
berlantai 2 tersebut. Villa ini letaknya cukup jauh
dari pemukiman penduduk lainnya.
Nathan membaringkan tubuh lemah Kiran di
atas tempat tidur besar di kamar lantai atas.
Perlahan dia membuka blazer yang di kenakkan
oleh Kiran agar wanita yang di cintainya itu bisa
bernapas lega dan lebih nyaman.Tubuh Nathan bergetar hebat, hasrat nya langsung naik ketika melihat seluruh lekuk tubuh indah Kiran kini
hanya berbalut dress cantik pas body di bawah
lutut. Leher jenjangnya yang putih berkilau terpampang nyata di depan mata karena model bajunya yang sedikit terbuka di bagian atasnya.
Nathan menegakkan badannya, menarik napas
berat, dia mencoba mengontrol dirinya. Mata
nya tidak lepas dari sosok Kiran yang tengah
terbaring dengan posisi terlentang.
Dua orang pengawal nya berdiri menunduk di
dekat pintu masuk.
"Tingkatkan sistem perlindungan agar tidak bisa
terlacak oleh orang itu. Jangan biarkan siapa
pun masuk ke area Villa..!"
Titah Nathan pada dua orang pengawal pribadi
nya tersebut.
"Baik Tuan..kami semua akan siaga di ruang
kontrol."
"Baiklah..kalian pindai pergerakan mencurigakan
sekecil apapun, aku yakin laki-laki itu tidak akan
tinggal diam.!"
"Kami sudah menyiapkan penyambutan yang
baik untuk nya Tuan kalau dia berhasil masuk.!"
"Hemm..dia memang harus tahu siapa saingan
nya..dia sudah berani mengambil Kiran ku..!"
Desis Nathan dengan seringai licik nya. Matanya
kembali terfokus pada sosok Kiran yang terlihat
mulai kembali pada kesadarannya. Dia bergerak
pelan dan mendesah lembut.
"Kalian boleh keluar sekarang..!"
"Baik, kami permisi tuan.."
Dua pengawal itu langsung membungkuk
setelah itu berlalu keluar dari ruangan.
Nathan menatap lekat wajah Kiran yang mulai
membuka matanya, tapi rasa kantuk dan lelah
seakan menyulitkan dirinya untuk terjaga. Bibir
Nathan melukis senyum bahagia karena wanita
yang sudah membuat pikiran nya kacau kini ada bersamanya. Kiran kembali menggerakan badan
nya gelisah dengan desahan lembut keluar dari mulutnya, gaun bagian bawahnya tersingkap
sedikit membuat betis nya yang indah terbuka.
Sontak saja hasrat Nathan kembali menanjak.
"Ahh.. Agraa.. dimana aku.."
Lirih Kiran bergumam pelan seraya memijat
kepalanya yang terasa sedikit pening. Walau
cuma berupa gumaman kecil namun hal itu
cukup terdengar jelas di telinga Nathan. Rahang Nathan langsung mengeras, emosinya kembali
naik. Matanya yang sudah semakin berkabut
tampak menatap panas tubuh Kiran yang begitu menggiurkan. Mata Kiran bersirobos tatap
dengan mata Nathan yang semakin panas.
"Ahh... Nathan..apa yang kau lakukan padaku ?
kemana kamu membawaku.?"
Kiran memekik kuat saat dia sadar sepenuhnya
dengan apa yang terjadi. Dia segera bangkit dan
menarik selimut yang ada di sana, namun Nathan bergerak cepat menghempas selimut tersebut.
"Kau sendiri yang datang padaku sayang..!"
"Tidak, itu tidak benar..aku datang hanya ingin
berbicara padamu..!"
"Bagiku itu sama saja kau datang menyerahkan
dirimu padaku, aku tahu kau masih menyimpan
harapan kepadaku..!"
"Itu tidak benar Nathan, aku sudah tidak punya
perasaan apapun padamu, justru dengan seperti
ini , aku jadi membencimu..!"
Tatapan Nathan tampak menyala di penuhi oleh
amarah tapi juga hasrat yang tak terbendung.
"Kau yang memaksaku melakukan semua ini
Kiran..Aku tidak akan melepaskan mu lagi..
kau adalah milikku..!"
Desis Nathan sambil naik merangkak ke atas
tempat tidur. Kiran mundur dengan wajah pucat
di penuhi ketegangan. Matanya menatap tajam
pergerakan Nathan yang kini semakin mendekat.
"Na-Nathan..mau apa kamu..? tolong jangan
ganggu aku.. biarkan aku pulang..!"
"Aku ingin memiliki dirimu sekarang juga. Aku
tidak peduli bagaimana pun keadaanmu saat
ini, dengan begini kamu tidak mungkin kembali
lagi pada laki-laki itu..!"
"Kamu sudah gila Nathan..! apa kau sadar, kau
terlalu terobsesi padaku..!"
"Itu benar Kiran..aku memang terobsesi padamu.
Dan kau harus kembali padaku..apapun caranya.!"
"Tidak.. berhenti Nathan.. lepaskan aku..aaa..!"
Kiran menjerit saat Nathan mengurung tubuh
nya dan menarik paksa gaunnya hingga bagian
atasnya kini robek parah. Karuan saja hal itu
membuat tubuh bagian atasnya terbuka hingga
hasrat Nathan semakin menggila.
"Kau yang sudah memaksaku melakukan ini
Kiran..kau sudah menyerahkan kesucian mu
pada laki-laki asing..! sedang aku yang selama
ini bertahan dan menjagamu..apa yang sudah
aku dapatkan.. hanya penghianatan..!"
Geram Nathan dengan tatapan semakin dalam
di penuhi gairah yang kini sudah menguasai
seluruh aliran darahnya. Kiran mencoba meronta, menekan tubuh Nathan yang semakin merapat.
"Nathan..aku mohon sadarlah..kau tidak bisa
melakukan semua ini padaku..!"
"Kenapa sayang, apa kamu ragu padaku.? tenang
saja aku adalah ahlinya memuaskan wanita di atas tempat tidur, kau akan tahu rasanya sekarang..!"
Plak !
Satu tamparan keras mendarat di wajah Nathan
membuat dia berpaling cukup kencang. Kiran
segera menendang perut Nathan kemudian
bergerak cepat turun dari atas tempat tidur.
"Mau kemana kamu..! kau sudah membuat
kesabaranku habis Kiran..!"
Desis Nathan sambil kemudian menarik tubuh
Kiran lalu memutar nya dan menjatuhkan nya
dengan posisi yang kini sudah tertindih. Kiran
membulatkan matanya saat tangan Nathan
bergerak ingin merenggut paksa pakaiannya.
"Aaaa.. jangan..! Nathan kumohon jangan..!
tolooong..."
Jerit Kiran dengan derai air mata. Sekuat tenaga
dia melawan Nathan dengan mencakar wajah
dan dadanya.
"Pasrahkan lah dirimu sayang.. jangan memaksa
ku berbuat kasar padamu..!"
Geram Nathan seraya mengunci kedua tangan
Kiran di atas kepalanya, mengikatnya memakai
sobekan gaun yang tadi di robeknya.
"Suamiku pasti akan datang..dia tidak akan
membiarkan mu lolos Nathan..!"
"Apa yang bisa dia lakukan..! aku sudah menutup
semua akses ke tempat ini, dia tidak akan bisa
melacak tempat ini..!"
"Kau belum tahu bagaimana kemampuannya.
Dia bisa melakukan apapun yang tidak akan
pernah kau bayangkan sebelumnya.."
"Ohh.. shit.! kau begitu memuja nya Kiran..!"
"Tentu saja..dia itu tidak bisa di bandingkan
dengan mu..! Dia terlalu berharga..aaa..!"
"Stop Kiran...dia hanyalah pecundang..!"
"Kau yang pengecut Nathan...!"
Pekik Kiran sambil tiada henti menendang dan
bergerak meronta. Namun justru gerakannya
itu malah membuat hasrat Nathan semakin
tidak terkendali. Dia segera membuka kemeja
nya membuat tubuh Kiran bergetar ketakutan.
Sementara itu keadaan di lantai bawah saat ini
tidak seperti perkiraan Nathan. Para pengawal
nya yang berjumlah sekitar 15 orang di buat tak berdaya ketika tiba-tiba datang beberapa mobil dengan plat nomor khusus. Dari dalam mobil-
mobil itu melesat bayangan hitam melakukan
gerakan tak terlihat melumpuhkan semua
pengawal tersebut hanya dalam hitungan
detik saja.
Semua pengawal tersebut kini duduk bersimpuh
di tengah ruangan di bawah ancaman senjata
para bayangan hitam yang di pimpin oleh Zack.
Dengan takut dan gemetar para pengawal tadi
tampak melirik kearah pintu dimana Agra baru
saja masuk ke dalam ruangan dengan tampang
yang sudah sangat dingin. Dia memakai setelan
preman nya dengan rambut yang berantakan.
Agra berdiri di hadapan para pengawal tersebut
yang langsung lemas gemetaran setelah yakin
siapa yang kini mereka hadapi.
"Punya teknologi apa kalian hingga memiliki
nyali untuk melawan seorang Hiroshi Hasimoto.!"
Desis Agra seraya menyentuh dagu kepala
pengawal dengan pelatuk senjata mungilnya.
Kepala pengawal tampak langsung bersujud.
"Ampun Tuan..saya tidak menduga sama sekali
kalau orang yang di maksud oleh Tuan Wiranata
adalah anda, ampuni kami Tuan Muda..!"
Ucap kepala pengawal sambil terus bersujud
mohon ampun. Agra menegakkan badannya,
memutar tubuh kemudian berdiri tepat di tengah
ruangan yang langsung terhubung ke lantai atas.
"Semuanya sudah sesuai dengan rencana Tuan
Muda.! Ayahnya sedang dalam perjalanan.!"
Lapor Zack sambil membungkuk di samping
Agra yang berdiri tenang di tengah ruangan
sambil menyunggingkan senyum sinis, namun wajahnya terlihat dingin. Matanya menatap
lurus menembus lantai atas tepatnya kearah
kamar tidur utama.
"Hemm..baguss.. malam ini juga urusanku
dengan orang ini harus tuntas. Tidak boleh
lagi ada nyamuk usil di sekitar Kiran..!"
Desis Agra sambil mengangkat senjata nya..
Kiran memejam rapat dengan luruhan air mata
ketika Nathan bergerak ingin menjamah dirinya
yang kini sudah kehilangan tenaga.
"Tuan Nathan Wiranata yang terhormat..
turunlah..aku menantang mu untuk berduel..!"
Ada teriakan menggema dari lantai bawah
bersamaan suara letusan senjata api yang
membuat Nathan menghentikan gerakannya.
Kiran membuka matanya cepat, wajahnya
tampak berbinar senang. Dengan cepat dia
mendorong tubuh Nathan hingga akhirnya
dirinya terbebas dari kungkungan nya.
"Aku sudah bilang padamu..dia akan datang.
Kalau kau seorang laki-laki sejati, sekarang aku
menantang mu.. hadapilah dia secara jantan.
Kalau kau bisa menang melawannya.. maka
aku akan ikut bersamamu..!"
Ujar Kiran dengan yakin. Nathan mendengus
geram, dia memakai kembali kemejanya. Lalu
membuka ikatan di tangan Kiran. Keduanya
kini saling menatap kuat.
"Aku pastikan malam ini kau akan kembali ke
pelukanku Kiran.. laki-laki itu bukanlah lawan
yang sepadan untuk ku..!"
"Kita lihat saja nanti..Tuan Nathan..!"
"Aku pegang kata-kata mu..! bersiaplah..besok
pagi kita akan mengurus surat perpisahan mu
dengan laki-laki itu..!"
memakainya kembali. Nathan menggengam
tangan Kiran, tapi Kiran menepis nya kasar.
Nathan kembali menarik tangan Kiran di seret
keluar kamar.
Mata Agra berkilat murka melihat Kiran keluar
dari kamar utama dengan keadaan yang sangat
kacau dan terseret paksa. Tapi ekspresi wajah
nya masih terlihat tenang tidak terprovokasi.
Wajah Nathan terlihat kelam saat melihat semua
pengawalnya kini bertekuk lutut di bawah
ancaman para manusia berpakaian hitam.
Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa laki-laki
ini bisa menembus sistem pertahanan nya.
Padahal dia sangat yakin itu tidak akan bisa
di retas oleh apapun.!
"Agra..."
Teriak Kiran sambil melepaskan pegangan
tangan Nathan kemudian berlari menuruni
tangga membuat Agra terkejut melebarkan
matanya khawatir jika Kiran terjatuh, begitu
pun dengan Nathan. Agra segera menyerbu
kearah kedatangan Kiran yang langsung
melompat kedalam rengkuhannya ,memeluk
dirinya erat sambil menangis tersedu.
"Agra.. maafkan aku..aku pergi tanpa seijinmu..!
Aku tidak tahu akan terjadi hal seperti ini.."
Isak Kiran dalam pelukan erat Agra yang hanya
bisa menciumi puncak kepalanya.
"Kau tidak pernah belajar dari kesalahan yang
lalu Kiran..Dasar wanita ceroboh..!"
"Maaf..aku selalu saja menyusahkan mu..!"
"Itulah dirimu..! Kau selalu saja membuatku
kehilangan rasa kemanusiaan..!"
"Sekali lagi maaf..aku memang bodoh, tidak
memikirkan segala akibatnya..!"
"Kau selalu membuatku khawatir. Jangan
pernah mengulanginya lagi bertindak sendiri
seperti ini.!"
"Iya..aku tidak akan mengulanginya.."
Kiran semakin mempererat pelukannya seraya
menyembunyikan wajahnya di rengkuhan dada
bidang Agra yang mampu memberinya rasa
aman dan nyaman. Agra mencium kening Kiran
kemudian mengangkat tubuh nya di bawa ke
area yang lebih aman.
Nathan hanya bisa mematung di tempatnya
berdiri. Hatinya terasa berdenyut nyeri melihat bagaimana perlakuan Kiran terhadap suaminya
itu. Matanya terasa perih melihat pemandangan
di depan matanya itu.Tidak, ini tidak bisa di
biarkan.!
Beberapa menit kemudian.....
Kiran minggir ke sisi ruangan bersama dengan
Zack dan Bara. Semua pengawal Nathan juga
para pasukan Zack melingkar di sisi ruangan.
Di tengah ruangan kini telah berdiri dua sosok
tinggi gagah saling berhadapan. Keduanya kini
hanya mengenakkan kaos tipis saja hingga
tubuh tegap dan gagah mereka terekspos nyata.
"Apa kau yakin ingin melawanku Tuan Agra.?
Aku pastikan ini adalah pertaruhan..semuanya
hitam di atas putih, kalau kau kalah istrimu
akan menjadi milikku..!"
Desis Nathan dengan senyum sinis meremehkan.
Agra menggerakkan kepalanya dengan senyum
santai dan pandangan lurus kearah Nathan.
"Kita lihat saja nanti..aku ingatkan padamu
jangan sampai mulut besarmu itu menelan
dirimu sendiri.!"
Ujar Agra tenang. Nathan berdecak, dia melirik
kearah Kiran yang berdiri tegang.
"Baiklah kita mulai sekarang..agar aku bisa
segera membawa istrimu ke istanaku..!"
Geram Nathan sambil mulai memasang kuda-
kuda. Sedang Agra hanya tersenyum tipis tanpa
gerakan berlebihan. Nathan langsung meloncat menyerang Agra dengan gerakan yang sangat
cepat dan terlatih. Keduanya kini sudah terlibat
pertarungan seru, saling menyerang, mengelak
mundur dan membalas.
Semua orang kini seakan menahan napas
melihat sengitnya pertarungan mereka yang
menggunakan teknik beladiri tingkat tinggi.
Nathan mundur saat Agra berhasil memasukan
satu pukulan telak di dadanya dan kelihatan
nya Agra sangat santai dalam menghadapi
pertarungan ini.
Nathan menautkan alisnya. Bagaimana ini
bisa terjadi.? kenapa laki-laki berkuasa yang
setahu dia hanya jago di bidang teknologi
saja bisa memiliki kemampuan seperti ini.!
Shit.! Nathan sampai harus mengeluarkan
semua kemampuannya untuk mengimbangi
gerakan Agra.
"Kenapa Tuan Nathan..? apa masih ada yang
akan kau keluarkan lagi.? ayo mumpung aku
masih bersedia bermain-main dengan mu..!"
Ejek Agra dengan seringai senyum remehnya.
Wajah Nathan berubah kelam. Dia kembali
menegakkan tubuhnya, menatap tajam kearah
pergerakan Agra yang lagi-lagi hanya berdiri
santai meregangkan otot-otot lehernya. Nathan
memasang jurus pamungkas nya, Agra hanya
memandang miring dengan seulas senyum.
"Habislah kau sekarang..!"
Teriak Nathan seraya melesat menyerang Agra.
Kiran terkesiap melihat gerakan cepat Nathan
yang sulit terbaca itu. Namun Bara dan Zack
hanya menahan senyum berusaha untuk tetap
berekspresi datar. Dalam gerakan cepat nyaris
tak terlihat Agra memutar tubuh membalikan
serangan memasukkan pukulan dan tendangan
mautnya ke beberapa bagian vital di tubuh
Nathan hingga membuat pria itu terlempar
sadis lalu jatuh di hadapan para pengawalnya.
Darah segar mengucur deras dari hidung Nathan.
Dia berusaha bangkit sambil meludah dan menepis
darah dari hidungnya. Kiran nampak memucat.
Dia meringis melihat keadaan Nathan. Ada rasa
tidak tega dalam hatinya melihat keadaan Nathan
yang berdarah-darah seperti itu.
Agra maju ke hadapan Nathan yang mencoba
untuk menegakkan badannya dengan susah
payah. Tatapannya terlihat tidak percaya akan
semua yang dia hadapi saat ini.
"Bagaimana..Tuan Nathan..apa masih merasa
penasaran denganku.? kau masih ingin mencoba
mengambil dan menyentuh milikku.?"
Tanya Agra yang berdiri santai di hadapan Nathan.
Mata mereka beradu kuat.
"Siapa kau selain seorang Hiroshi Hasimoto..?
yang aku dengar ayahmu tidak pernah sekalipun
mengajarkan ilmu bela diri padamu..!"
Desis Nathan masih mencoba mengatur napas.
Agra mendengus sambil mendekat kearah Nathan.
"Kau pernah mendengar ksatria Sukaidoragon..?
Akulah orangnya..Tuan Nathan..!"
Bisik Agra dengan seringai kecil nya. Wajah
Nathan langsung berubah pucat pasi. Tubuh
nya kini goyah, mundur, kemudian jatuh terduduk.
"Kali ini aku masih mengampuni nyawamu..!
mengingat pertangungjawaban mu di butuhkan
untuk adik ipar ku..!"
Ujar Agra sambil menatap tajam wajah Nathan
yang semakin memucat. Dalam keadaan itu ke
dalam ruangan tiba-tiba muncul Tuan Wiranata
serta asisten pribadi Nathan.
Tuan Wiranata menghampiri Nathan, memeriksa
keadaannya yang cukup mengenaskan. Kemudian
dia mendekat kearah Agra membungkuk hormat
di hadapannya .
"Tuan Bimantara.. maafkan perbuatan putra saya.
Saya benar-benar mohon maaf..! dia sedikit tidak
bisa di kendalikan.!"
Ucapnya dengan suara yang bergetar tegang.
Agra menarik napas kasar. Kiran mendekat lalu
masuk ke dalam dekapan hangat Agra.
"Kali ini aku maafkan kalian. Tapi tanggung jawab
itu tetap harus di jalankan.! aku punya banyak
bukti yang bisa membawa mu pada kehancuran
Tuan Nathan.. Skandal mu sudah terlalu banyak..!"
Desis Agra sambil melempar dokumen rahasia
ke hadapan Nathan yang tertunduk mengambil
dokumen tersebut. Tubuh nya semakin lemas,
Tuan Wiranata pun sama pucatnya setelah dia
melihat berkas dari dokumen tersebut yang berisi
berbagai kecurangan bisnis yang telah mereka
lakukan bahkan ini berhubungan langsung
dengan pemerintah. Keduanya tertunduk lesu.
"Nikahi Aryella..kau sudah merusaknya sekian
lama. Aku sudah cukup lama mengikuti sepak
terjang mu..! Belajarlah menjadi pria sejati.!"
Tegas Agra sambil memakaikan mantel ke
tubuh Kiran yang kini hanya bisa menatap
Agra penuh rasa kagum.
"Dan ingat..! jangan pernah lagi berharap bisa
mendapatkan Kiran..! karena dari dulu sampai
sekarang dia adalah milikku..dia adalah milik
Bimantara Agra Bintang..!"
Ujar Agra seraya mengangkat ringan tubuh
Kiran ke dalam pangkuan nya.
"Bara kau pastikan mereka menjalankan
semua yang aku perintahkan dengan baik.!"
Titah Agra yang di sambut anggukan kepala
Bara. Agra berjalan keluar dari ruangan dengan
langkah tegap dan gagah.
Nathan menatap kepergian keduanya dengan
sorot mata kalah dan pasrah. Kini dia sadar sepenuhnya siapa saingannya itu.Terlalu tinggi,
dan tidak akan pernah terjangkau olehnya..
Kini mereka sudah dalam perjalanan pulang.
Agra tidak melepaskan Kiran dari pangkuannya.
Kiran menyandarkan kepalanya di dada Agra.
Dia mendongak, keduanya saling menatap.
"Terimakasih sayang..kau datang tepat waktu.
Kalau tidak aku tidak tahu apa yang akan terjadi
pada hubungan kita..!"
Lirih Kiran seraya mengelus lembut wajah
Agra yang masih terlihat dingin..
"Aku tidak akan pernah membiarkan hal buruk
apapun terjadi padamu..!"
Desis Agra sambil kemudian menyergap bibir
merah alami Kiran yang dari tadi sudah sangat
menggodanya. Keduanya terhanyut dalam
lembut dan manisnya ciuman yang semakin
lama semakin panas dan membara.
"Malamku kacau gara-gara semua ini..!"
Umpat Agra setelah ciuman mereka terlepas.
Wajah Kiran memerah, dia menyembunyikan
wajahnya di belahan dada bidang suaminya.
"Aku akan menggantinya nanti..!"
Bisiknya penuh rasa malu, Agra tersenyum tipis
dia semakin mempererat pelukannya.
"Aku kunci kata-kata mu barusan sayang.."
Bisiknya sambil mengecup lembut kening
Kiran yang kini sudah mulai masuk ke dalam
alam bawah sadarnya, dia tertidur lelap dan
tenang dalam pangkuan sang kekasih hati..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.......