
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Dengan menautkan alis Tanisha membalikan
badan nya, matanya tampak melebar melihat kemunculan Kiran bersama pria paruh baya
yang masih terlihat sangat gagah dan menarik
itu. Dia langsung mengambil posisi berdiri di
samping meja sambil membungkukkan badan
dengan wajah sedikit memerah.
Kenapa wanita itu harus datang sekarang..!!
Geram Tanisha dalam hatinya, dia benar-benar
kesal saat ini melihat kedatangan Kiran. Bisa
kacau semua khayalan kesenangan nya dimana
dia akan melayani dan mendampingi sang
Presdir makan siang.
"Selamat datang Tuan Besar.. selamat datang
Nona Muda.."
Sambut mereka serempak sambil membungkuk
serendah mungkin dengan lutut yang bergetar.
Mereka tidak menyangka sama sekali akan
mendapat kunjungan mendadak seperti ini,
apalagi yang berkunjung kali ini adalah orang-
orang paling penting dalam hidup sang Presdir.
"Selamat siang semuanya..!"
Sahut Kiran sambil menghentikan langkah.
Tuan Hasimoto pun ikut berhenti, keduanya
membagi pandangan pada semua wanita
profesional itu. Tatapan mereka sama-sama
berakhir pada sosok yang paling menonjol
di antara yang lainnya. Kedua nya menatap
datar kearah Tanisha yang tengah menunduk.
"Ayah silahkan masuk duluan, saya ada perlu
sebentar dengan kepala sekretaris.."
Tuan Hasimoto menatap Kiran, lalu mengelus
rambut menantunya itu sambil mengangguk.
Dia kembali melangkah bersama dengan Bara
sementara Zack masih setia mendampingi
Nona nya. Kiran mendekat kearah Tanisha
yang masih terdiam di posisinya. Sekretaris
lain mencoba memberanikan diri mencuri
pandang kearah istri pimpinan itu. Tidak ada
yang tidak mengakui kecantikan Kiran, dia
memang benar-benar mempesona.
Tatapan mereka sedikit penasaran karena
melihat Kiran berdiri tegak di hadapan Tanisha.
"Apa kau menyiapkan makan siang untuk
Presdir mu Nona Tanisha.?"
Tanisha sedikit tersentak, dia mengangkat
wajahnya, menatap sekilas wajah Kiran
yang sedang melirik kearah kotak makan
di tangan nya.
"Benar Nona.. Presdir sendiri yang meminta
nya langsung pada saya."
"Ohh ya.. biasanya kan Bara yang menyiapkan
semua ini, berarti dia cukup percaya padamu.!"
Wajah Tanisha langsung memerah, ada rasa
percaya diri dan keinginan untuk memulai
perang bersama istrinya Presdir ini.
"Sepertinya begitu Nona..Saya juga sudah
menyiapkan sesuatu yang sangat spesial
untuk nya.."
"Untuk nya..? kedengarannya cukup akrab.!"
Potong Kiran dengan seulas senyum.
"Maksud saya untuk Presdir Nona.."
"Kau tahu makanan apa saja yang biasa dia
makan dan yang tidak dia sukai.?"
Tanisha tersenyum manis sambil kembali
menatap sekilas kearah Kiran.
"Tentu saja saya tahu Nona.. semua hal yang
berhubungan dengan Presdir kami semua
sangat memahami nya.."
"Ohh..begitu rupanya, menarik juga. Peran mu
cukup penting seperti nya setelah Bara.!"
Kiran masih menatap tenang wajah Tanisha
yang lagi-lagi tersenyum manis.
"Semua sudah sesuai dengan posisi Nona.
Dan posisi saya adalah pendamping Presdir..!"
Ujar Tanisha dengan suara yang sangat yakin
dan percaya diri. Kiran melipat kedua tangan
di dadanya, tatapannya kini berubah serius.
"Ya..tentu saja, tapi posisimu hanyalah sebagai
kepala sekretaris yang mempunyai batasan
tertentu. Dan saya tidak suka kalau ada yang
keluar dari zona profesionalisme kerja..!"
Tanisha sedikit tersentak, mundur selangkah.
Para sekretaris lain saling lirik, wajah mereka
kini sedikit memucat. Tidak menduga kalau
istri Presdir akan berbicara lugas seperti itu.
"Tentu saja Nona.. kami semua bekerja secara
profesional, kami juga tahu batasan kami.!"
Sahut Tanisha dengan wajah sedikit memerah.
Jemarinya terkepal kuat, ada emosi yang kini
mulai menyeruak memenuhi dadanya. Ohh..
ternyata mulut istri Presdir ini cukup tajam
juga rupanya, umpat Tanisha dalam hati.!
"Aku harap kalian semua bisa menjaga attitude
kerja yang baik dan menjaga kehormatan serta
nama besar perusahaan ini.! berbusana dan
bertutur kata yang sopan..!"
Tegas Kiran sambil membagi pandangan ke
semua sekretaris . Aura dan jiwa seorang
pimpinan perusahaan kini keluar seluruhnya.
Semua wanita cantik itu tampak menunduk
segan, tidak berani lagi mengangkat wajah.
Walau bagaimanapun Kiran pernah berada
di posisi penting, sebagai direktur utama
sebuah perusahaan rekanan Bintang Group.
Tentu saja jiwa pemimpin nya masih sangat
melekat dalam dirinya.
Tanisha sedikit terkejut dengan sikap elegan
Kiran yang begitu mengintimidasi. Dia tahu
pasti Kiran sedang menyentil soal pakaian
yang kini di kenakannya.
"Dan asal kalian tahu, aku bisa memutasi
kalian ke posisi lain kalau peringatan ku
ini kalian abaikan..!"
"Kami mengerti Nona..kami akan selalu
memperhatikan nya..!"
Sahut mereka kompak dengan wajah tertunduk.
Kiran tersenyum lembut. Dia kembali maju ke
hadapan Tanisha, kemudian meraih kotak
makan dari tangannya, melihat isinya sambil menautkan alisnya.
"Apa kau yakin sudah memahami apa yang
suka dan tidak di sukai oleh Presdir Tanisha.?"
Tanya Kiran sambil memperhatikan isi kotak
makan tersebut. Tanisha mengernyitkan alis
seraya menatap kotak makan tersebut.
"Sa-saya rasa semuanya sudah sesuai dengan
selera Presdir Nona..!"
Sahut Tanisha dengan wajah sedikit tidak
enak, hatinya kini semakin dongkol.
"Ohh.. sepertinya kamu melewatkan satu hal
yang sangat penting Tanisha. Sayang nya
suami ku tidak menyukai makanan pedas.!"
Desis Kiran sambil menyerahkan kembali
kotak makan itu ke tangan Tanisha dengan
sedikit menekan membuat tubuh wanita itu
terdorong mundur beberapa langkah.
"Lagipula saat ini aku sudah membawakan
makan siang untuk nya. Jadi Nona Tanisha
sebaiknya kau nikmati sendiri makanan itu,
jangan sampai terbuang percuma, mubazir..! "
Tanisha mengangkat wajah nya, menatap
Kiran tidak terima. Kiran tersenyum tenang.
"Tapi Nona.. ini adalah pesanan Presdir.!
Saya yakin beliau akan menyukainya.!"
"Aku lebih mengenal suami ku Tanisha..
Jadi jangan coba-coba melangkahi ku.!"
Tegas Kiran sambil menatap tajam wajah
Tanisha yang langsung tertunduk tidak kuat
melawan aura kemilau yang memancar dari
kedua mata indah Kiran yang bercahaya.
"Kiran....!"
Semua orang terperanjat mendengar suara
berat yang berasal dari arah ruangan Presdir.
Dan sosok gagah sang Presdir kini sedang
berjalan mendekat kearah berdirinya Kiran
yang hanya bisa menatapnya tenang dengan
sesungging senyum lembut terbit di bibir
indahnya hingga membuat hati sang Presdir
meronta seketika, dia tidak peduli apapun lagi.
"Apa yang kamu lakukan di sini.? kau telah
membuatku kelaparan sayang..!"
Geram Agra, tanpa basa-basi dia mengangkat
tubuh Kiran ke dalam pangkuannya tidak
peduli reaksi terkejut dari para sekretaris nya.
"Sayang.. apa-apaan ini.! tolong turunkan
aku. Ada ayah di dalam..!"
"Aku tidak peduli, kau sudah membuat ku
kesal sekarang..!"
"Aku mohon sayang..! ini sangat memalukan."
"Apanya yang memalukan, kau itu istri ku.!"
"Iya sayang aku tahu..tapi ini sungguh
kurang pantas. Ayo turunkan aku.."
"Aku bilang tidak ya tidak..!"
Dengus Agra sambil berjalan acuh menuju
ruangannya. Kiran benar-benar dibuat malu
bukan main. Kenapa suaminya ini suka sekali
mengangkat tubuh nya hampir di setiap waktu
dan kesempatan tidak peduli tempat atau
situasi apapun. Tuhan..harus di taruh dimana
nih muka! Kiran merutuki Agra dalam hatinya.
Para sekretaris hanya bisa melongo, syok luar
biasa. Sosok gagah tadi benar-benar Presdir
mereka kan.? Hati Tanisha kini terbakar api
cemburu yang sangat dahsyat. Sudah dua kali
dia melihat bagaimana perlakuan mesra sang
Presdir terhadap istri nya itu. Zack tersenyum
tipis , mendekati Tanisha yang sedang menatap
geram kearah kepergian Agra dan Kiran.
"Apa anda masih punya nyali untuk bermain
api Nona Danureza..?"
Tanisha tersentak, wajah nya tampak merah
padam, menatap tajam wajah tampan Zack
yang memiliki rahang tegas serta aura yang
sangat mencekam itu. Nyalinya langsung ciut
saat melihat seringai tipis kini tercipta di bibir
kepala pengawal itu. Dia mundur saat Zack
semakin mendekat.
"Aku peringatkan Nona.. urungkan niat mu
untuk bersaing dengan Nona muda ku..
karena kau bukanlah tandingannya..!"
Desis Zack sambil kemudian melangkah pergi menyusul Tuan dan Nona nya yang masih saja terdengar berdebat. Tanisha menghembuskan
napas kasar mencoba mengontrol emosi nya.
masing-masing masih berusaha meyakinkan
diri dengan apa yang di lihat nya barusan.
Begitu posesif nya Presdir mereka terhadap
istrinya itu. Dan terlihat nyata kalau bos besar
mereka sangat menggilai wanita bernama
Evanindhia Sashikirana itu..!
Tatapan para sekretaris kini terfokus kearah
Tanisha yang sedang duduk menundukkan
kepala dengan kepalan tangan di atas meja.
Wajah mereka tampak tersenyum mengejek
karena merasa Tanisha sudah di permalukan.
"Aku sudah bilang kan..kau terlalu percaya
diri Nona Tanisha..! kau lihat buktinya..! "
Ledek sekretaris senior. Tanisha langsung
berdiri, menatap kesal bawahan nya itu.
"Itu hanya kamuflase saja. Aku yakin aslinya
tidak lah seperti yang terlihat..!"
"Hei..apa kau merasa pantas bersaing dengan
Nona Muda Hadiningrat..? sekelas Mikhayla
saja tidak mampu mengalahkan nya.!"
Wajah Tanisha berubah pias, dia meremas
jemarinya dengan raut wajah berubah keras.
"Dia hanya sedang beruntung saja, tidak lebih
dari itu.! apa lebihnya dia dariku.!"
"Aku sarankan agar kau tahu diri sedikit, dan
bekerja saja dengan baik kalau tidak ingin di
pecat oleh Nyonya Agra Bintang.!"
"Diam kalian..! jangan memanggilku Tanisha
jika aku tidak bisa menaklukkan nya..!"
Geram Tanisha sambil kemudian berjalan
dengan menghentakkan kakinya menuju
ke luar ruangan.
------- ------
Kiran menuangkan makanan ke piring Agra
dan ayah mertua nya yang sudah menunggu
dengan tidak sabar. Keduanya sama-sama ingin
di dahulukan, hal ini membuat Kiran tersenyum
geli melihat tingkah absurb suami dan Ayah
mertua nya tersebut.
"Aku ini suamimu Kiran..kau harusnya lebih
mendahulukan ku..!"
Titah Agra dengan wajah sedikit kesal karena
Kiran tampaknya lebih condong melayani ayah
nya terlebih dahulu.
"Aku mertua nya..dia harus mendahulukan ku
untuk membuktikan bakti nya sebagai menantu.!"
"Tidak bisa, suami adalah nomor satu.!".
"Tapi mertua lebih utama. !"
"Kau tamu di sini, tidak perlu terlalu memaksa.
Terima saja apa yang di perintahkan tuan rumah."
"Justru karena kau tuan rumah, alangkah lebih
baik jika tidak terlalu serakah.!"
"Sudahlah..tidak ada yang perlu di perdebatkan.
Bagiku, keadilan tidak terletak pada siapa yang
duluan atau belakangan..tapi bagaimana caraku
memperlakukan kalian berdua sesuai posisi
masing-masing.!"
Kiran menghentikan perdebatan yang tidak
terlalu penting itu seraya meletakkan kedua
piring di hadapan masing-masing. Keduanya
saling pandang sesaat. Kemudian memulai
makan siang nya dengan tenang.
Kiran masih terdiam memandangi makanan
untuk nya. Tapi perutnya seakan menolak itu
semua untuk masuk. Ada rasa tidak nyaman
yang langsung memenuhi perutnya. Sedang
kedua orang di dekatnya malah kelihatan
sangat menikmati makanan hasil buatannya
itu. Mereka terlihat sangat lahap menyantap
makan siangnya.
Agra menghentikan makannya, menatap wajah
Kiran yang nampak sedikit tidak bergairah.
"Ada apa sayang..apa kau tidak enak badan.?
Kenapa tidak makan.?"
"Entahlah.. tapi aku merasa sedikit kurang
berselera sayang.."
Tuan Hasimoto mengernyitkan alis.
"Sepertinya ada masalah dengan kesehatan
mu Nak..kau harus memeriksakan diri ke
dokter.!"
"Tidak perlu ayah.. ini hanya masuk angin
biasa. Nanti juga sembuh sendiri.."
Agra masih mengamati keadaan Kiran, lalu
dia menyendok makanan di dekatkan ke
mulut Kiran yang langsung menggeleng.
"Kiran.. tidak ada penolakan, atau aku akan
berhenti makan sekarang juga.!"
Kiran mengerucutkan bibirnya, lalu menerima
suapan suaminya itu dengan menahan malu
karena di saksikan langsung oleh ayah mertua.
Tapi..kok rasanya nikmat juga ya..Agra tampak
berbinar, dia kembali menyuapi Kiran yang kali
ini terlihat semangat menerima nya.
"Tidak perlu malu nak..Kau berhak di manjakan
oleh suamimu itu. Ayah juga selalu melakukan
hal yang sama pada ibu mertuamu..!"
Kiran tersipu, wajahnya kini semakin merah
membuat Agra gemas ingin menerkamnya.
Sayang nya ada mahluk lain di ruangan ini.
Akhirnya makan siang pun berlanjut hingga
makanan yang di bawa Kiran hampir ludes
semuanya. Ini sesuatu yang cukup berbeda
karena biasanya orang-orang sekelas mereka
segala sesuatu selalu di atur sesuai porsi nya
namun gara-gara makanan buatan Kiran hal
itu sepertinya sudah tidak berlaku lagi saat ini.
"Aku akan berkeliling bersama asisten mu.
Setelah itu barulah kembali ke rumah.!"
Tegas Tuan Hasimoto saat acara makan siang
selesai dan jam kerja sudah di mulai kembali.
"Baiklah.. Bara dan Zack akan mengantar mu
ke beberapa tempat yang cukup penting.!"
Sahut Agra sambil menatap ayah nya sebentar.
Saat ini dia sudah kembali berkutat dengan
segala kesibukan nya, sementara Kiran sedang
menjalankan sholat dzuhur.
"Mari Tuan..saya akan menemani anda ."
Bara membungkuk setelah itu mulai berjalan
membimbing Tuan Hasimoto keluar ruangan.
Dia akan berkeliling melihat seluruh bangunan
megah berasitektur canggih itu agar lebih tahu
apa saja yang telah di hasilkan oleh putranya itu.
Agra kembali pada kesibukannya. Ada banyak
hal yang harus di selesaikan nya sekarang
agar dia bisa sedikit santai selanjutnya.
"Permisi Presdir.."
Tanisha muncul ke dalam ruangan membawa
tumpukan berkas dan dokumen penting. Dia
tampak melihat ke sekeliling ruangan karena
tidak melihat sosok Kiran di sana.
"Ini dokumen pengesahan beberapa perusahaan
yang ikut kompetisi Presdir.."
Tanisha berdiri di samping Agra mencondongkan
tubuh nya seraya menyimpan berkas di hadapan
Agra. Ada aroma wangi semerbak yang keluar
dari tubuh wanita itu yang langsung menabrak
indra penciuman Agra.
Agra mengernyitkan alisnya, mengangkat wajah
melihat kearah Tanisha yang masih betah pada
posisi semula hingga belahan dada nya yang
indah kini terpampang nyata di depan mata
Agra yang langsung menegakkan badannya.
"Ini yang harus anda tandatangani sekarang.
Saya akan menyerahkan langsung ke bagian
pengembangan..!"
Tanisha membuka beberapa dokumen yang
harus di tandatangani oleh Agra dengan posisi
tubuh yang masih menantang dan menggoda.
Rahang Agra mulai mengeras tapi dia tetap
tenang cenderung bersikap tertantang.
Dia menatap wajah Tanisha yang kini mulai
merasakan panas dingin saat mata Presdir
nya itu menyapu keseluruhan sosoknya.
"Apa target karirmu Tanisha.? apa cukup layak
bagimu menjadi wanita spesial bos mu.?"
Wajah Tanisha langsung memerah, mata nya
tampak berbinar indah, apakah sang Presdir
sedang mengirimkan sinyal positif untuk nya?
"A-apa maksud anda Presdir.?"
Terbata suara Tanisha dengan tatapan yang
kini jatuh seluruhnya di wajah super tampan
bos nya itu yang nyaris membuat dirinya tidak
bisa mengontrol diri.
"Bukankah kau menginginkan hal itu.?"
Wajah Tanisha semakin berbinar, tidak salah
lagi bos nya ini memang sedang memberikan
penawaran terhadap nya. Sepertinya Presdir
ini sebenarnya sudah jatuh ke dalam pesona
nya hanya saja dia terlalu gengsi.
"Sa-saya hanya ingin berkarir dengan baik.
Tapi seandainya Presdir menginginkan saya
secara personal, saya tidak akan kuasa untuk
menolak. Semua akan terjadi sesuai dengan
keinginan anda Presdir..!"
Bibir Agra terangkat sedikit membuat mata hati Tanisha semakin di selimuti oleh keserakahan.
Dia harus segera memiliki raga Presdir nya ini.
Masalah hati bisa belakangan.
"Kamu cukup menarik..! hasil kerja juga bisa
di andalkan. Ya kamu layak di pertimbangkan.!"
Agra menutup dokumen yang sudah di tanda
tangani nya. Tanisha tersenyum lembut seraya
menerima kembali berkas itu. Dengan halus
dia menyentuhkan tangannya ke lengan Agra.
"Pujian anda adalah angin surga bagi saya..!"
Bisik Tanisha sambil kembali meraih dokumen
lain di atas meja yang harus di bawanya keluar.
Posisinya miring menghadap Agra yang berada
pada posisi cukup dekat, hingga mereka seakan
sedang saling menatap lekat.
"Sayang...apa yang kau lakukan..?"
Ada suara yang terdengar sedikit kesal dari
arah kamar pribadi. Tanisha terkesiap, sedang
Agra tampak santai saja cenderung acuh.
Tanisha menarik dirinya, menegakkan badan.
Matanya kini bersirobos tatap dengan mata
bening indah yang terlihat sedikit emosi.Bibir
merah merekah Tanisha menyunggingkan
senyum penuh persaingan dan percaya diri..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC....