Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
69. Mati Kutu


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Dengan menautkan alis Tanisha membalikan


badan nya, matanya tampak melebar melihat kemunculan Kiran bersama pria paruh baya


yang masih terlihat sangat gagah dan menarik


itu. Dia langsung mengambil posisi berdiri di


samping meja sambil membungkukkan badan


dengan wajah sedikit memerah.


Kenapa wanita itu harus datang sekarang..!!


Geram Tanisha dalam hatinya, dia benar-benar


kesal saat ini melihat kedatangan Kiran. Bisa


kacau semua khayalan kesenangan nya dimana


dia akan melayani dan mendampingi sang


Presdir makan siang.


"Selamat datang Tuan Besar.. selamat datang


Nona Muda.."


Sambut mereka serempak sambil membungkuk


serendah mungkin dengan lutut yang bergetar.


Mereka tidak menyangka sama sekali akan


mendapat kunjungan mendadak seperti ini,


apalagi yang berkunjung kali ini adalah orang-


orang paling penting dalam hidup sang Presdir.


"Selamat siang semuanya..!"


Sahut Kiran sambil menghentikan langkah.


Tuan Hasimoto pun ikut berhenti, keduanya


membagi pandangan pada semua wanita


profesional itu. Tatapan mereka sama-sama


berakhir pada sosok yang paling menonjol


di antara yang lainnya. Kedua nya menatap


datar kearah Tanisha yang tengah menunduk.


"Ayah silahkan masuk duluan, saya ada perlu


sebentar dengan kepala sekretaris.."


Tuan Hasimoto menatap Kiran, lalu mengelus


rambut menantunya itu sambil mengangguk.


Dia kembali melangkah bersama dengan Bara


sementara Zack masih setia mendampingi


Nona nya. Kiran mendekat kearah Tanisha


yang masih terdiam di posisinya. Sekretaris


lain mencoba memberanikan diri mencuri


pandang kearah istri pimpinan itu. Tidak ada


yang tidak mengakui kecantikan Kiran, dia


memang benar-benar mempesona.


Tatapan mereka sedikit penasaran karena


melihat Kiran berdiri tegak di hadapan Tanisha.


"Apa kau menyiapkan makan siang untuk


Presdir mu Nona Tanisha.?"


Tanisha sedikit tersentak, dia mengangkat


wajahnya, menatap sekilas wajah Kiran


yang sedang melirik kearah kotak makan


di tangan nya.


"Benar Nona.. Presdir sendiri yang meminta


nya langsung pada saya."


"Ohh ya.. biasanya kan Bara yang menyiapkan


semua ini, berarti dia cukup percaya padamu.!"


Wajah Tanisha langsung memerah, ada rasa


percaya diri dan keinginan untuk memulai


perang bersama istrinya Presdir ini.


"Sepertinya begitu Nona..Saya juga sudah


menyiapkan sesuatu yang sangat spesial


untuk nya.."


"Untuk nya..? kedengarannya cukup akrab.!"


Potong Kiran dengan seulas senyum.


"Maksud saya untuk Presdir Nona.."


"Kau tahu makanan apa saja yang biasa dia


makan dan yang tidak dia sukai.?"


Tanisha tersenyum manis sambil kembali


menatap sekilas kearah Kiran.


"Tentu saja saya tahu Nona.. semua hal yang


berhubungan dengan Presdir kami semua


sangat memahami nya.."


"Ohh..begitu rupanya, menarik juga. Peran mu


cukup penting seperti nya setelah Bara.!"


Kiran masih menatap tenang wajah Tanisha


yang lagi-lagi tersenyum manis.


"Semua sudah sesuai dengan posisi Nona.


Dan posisi saya adalah pendamping Presdir..!"


Ujar Tanisha dengan suara yang sangat yakin


dan percaya diri. Kiran melipat kedua tangan


di dadanya, tatapannya kini berubah serius.


"Ya..tentu saja, tapi posisimu hanyalah sebagai


kepala sekretaris yang mempunyai batasan


tertentu. Dan saya tidak suka kalau ada yang


keluar dari zona profesionalisme kerja..!"


Tanisha sedikit tersentak, mundur selangkah.


Para sekretaris lain saling lirik, wajah mereka


kini sedikit memucat. Tidak menduga kalau


istri Presdir akan berbicara lugas seperti itu.


"Tentu saja Nona.. kami semua bekerja secara


profesional, kami juga tahu batasan kami.!"


Sahut Tanisha dengan wajah sedikit memerah.


Jemarinya terkepal kuat, ada emosi yang kini


mulai menyeruak memenuhi dadanya. Ohh..


ternyata mulut istri Presdir ini cukup tajam


juga rupanya, umpat Tanisha dalam hati.!


"Aku harap kalian semua bisa menjaga attitude


kerja yang baik dan menjaga kehormatan serta


nama besar perusahaan ini.! berbusana dan


bertutur kata yang sopan..!"


Tegas Kiran sambil membagi pandangan ke


semua sekretaris . Aura dan jiwa seorang


pimpinan perusahaan kini keluar seluruhnya.


Semua wanita cantik itu tampak menunduk


segan, tidak berani lagi mengangkat wajah.


Walau bagaimanapun Kiran pernah berada


di posisi penting, sebagai direktur utama


sebuah perusahaan rekanan Bintang Group.


Tentu saja jiwa pemimpin nya masih sangat


melekat dalam dirinya.


Tanisha sedikit terkejut dengan sikap elegan


Kiran yang begitu mengintimidasi. Dia tahu


pasti Kiran sedang menyentil soal pakaian


yang kini di kenakannya.


"Dan asal kalian tahu, aku bisa memutasi


kalian ke posisi lain kalau peringatan ku


ini kalian abaikan..!"


"Kami mengerti Nona..kami akan selalu


memperhatikan nya..!"


Sahut mereka kompak dengan wajah tertunduk.


Kiran tersenyum lembut. Dia kembali maju ke


hadapan Tanisha, kemudian meraih kotak


makan dari tangannya, melihat isinya sambil menautkan alisnya.


"Apa kau yakin sudah memahami apa yang


suka dan tidak di sukai oleh Presdir Tanisha.?"


Tanya Kiran sambil memperhatikan isi kotak


makan tersebut. Tanisha mengernyitkan alis


seraya menatap kotak makan tersebut.


"Sa-saya rasa semuanya sudah sesuai dengan


selera Presdir Nona..!"


Sahut Tanisha dengan wajah sedikit tidak


enak, hatinya kini semakin dongkol.


"Ohh.. sepertinya kamu melewatkan satu hal


yang sangat penting Tanisha. Sayang nya


suami ku tidak menyukai makanan pedas.!"


Desis Kiran sambil menyerahkan kembali


kotak makan itu ke tangan Tanisha dengan


sedikit menekan membuat tubuh wanita itu


terdorong mundur beberapa langkah.


"Lagipula saat ini aku sudah membawakan


makan siang untuk nya. Jadi Nona Tanisha


sebaiknya kau nikmati sendiri makanan itu,


jangan sampai terbuang percuma, mubazir..! "


Tanisha mengangkat wajah nya, menatap


Kiran tidak terima. Kiran tersenyum tenang.


"Tapi Nona.. ini adalah pesanan Presdir.!


Saya yakin beliau akan menyukainya.!"


"Aku lebih mengenal suami ku Tanisha..


Jadi jangan coba-coba melangkahi ku.!"


Tegas Kiran sambil menatap tajam wajah


Tanisha yang langsung tertunduk tidak kuat


melawan aura kemilau yang memancar dari


kedua mata indah Kiran yang bercahaya.


"Kiran....!"


Semua orang terperanjat mendengar suara


berat yang berasal dari arah ruangan Presdir.


Dan sosok gagah sang Presdir kini sedang


berjalan mendekat kearah berdirinya Kiran


yang hanya bisa menatapnya tenang dengan


sesungging senyum lembut terbit di bibir


indahnya hingga membuat hati sang Presdir


meronta seketika, dia tidak peduli apapun lagi.


"Apa yang kamu lakukan di sini.? kau telah


membuatku kelaparan sayang..!"


Geram Agra, tanpa basa-basi dia mengangkat


tubuh Kiran ke dalam pangkuannya tidak


peduli reaksi terkejut dari para sekretaris nya.


"Sayang.. apa-apaan ini.! tolong turunkan


aku. Ada ayah di dalam..!"


"Aku tidak peduli, kau sudah membuat ku


kesal sekarang..!"


"Aku mohon sayang..! ini sangat memalukan."


"Apanya yang memalukan, kau itu istri ku.!"


"Iya sayang aku tahu..tapi ini sungguh


kurang pantas. Ayo turunkan aku.."


"Aku bilang tidak ya tidak..!"


Dengus Agra sambil berjalan acuh menuju


ruangannya. Kiran benar-benar dibuat malu


bukan main. Kenapa suaminya ini suka sekali


mengangkat tubuh nya hampir di setiap waktu


dan kesempatan tidak peduli tempat atau


situasi apapun. Tuhan..harus di taruh dimana


nih muka! Kiran merutuki Agra dalam hatinya.


Para sekretaris hanya bisa melongo, syok luar


biasa. Sosok gagah tadi benar-benar Presdir


mereka kan.? Hati Tanisha kini terbakar api


cemburu yang sangat dahsyat. Sudah dua kali


dia melihat bagaimana perlakuan mesra sang


Presdir terhadap istri nya itu. Zack tersenyum


tipis , mendekati Tanisha yang sedang menatap


geram kearah kepergian Agra dan Kiran.


"Apa anda masih punya nyali untuk bermain


api Nona Danureza..?"


Tanisha tersentak, wajah nya tampak merah


padam, menatap tajam wajah tampan Zack


yang memiliki rahang tegas serta aura yang


sangat mencekam itu. Nyalinya langsung ciut


saat melihat seringai tipis kini tercipta di bibir


kepala pengawal itu. Dia mundur saat Zack


semakin mendekat.


"Aku peringatkan Nona.. urungkan niat mu


untuk bersaing dengan Nona muda ku..


karena kau bukanlah tandingannya..!"


Desis Zack sambil kemudian melangkah pergi menyusul Tuan dan Nona nya yang masih saja terdengar berdebat. Tanisha menghembuskan


napas kasar mencoba mengontrol emosi nya.


masing-masing masih berusaha meyakinkan


diri dengan apa yang di lihat nya barusan.


Begitu posesif nya Presdir mereka terhadap


istrinya itu. Dan terlihat nyata kalau bos besar


mereka sangat menggilai wanita bernama


Evanindhia Sashikirana itu..!


Tatapan para sekretaris kini terfokus kearah


Tanisha yang sedang duduk menundukkan


kepala dengan kepalan tangan di atas meja.


Wajah mereka tampak tersenyum mengejek


karena merasa Tanisha sudah di permalukan.


"Aku sudah bilang kan..kau terlalu percaya


diri Nona Tanisha..! kau lihat buktinya..! "


Ledek sekretaris senior. Tanisha langsung


berdiri, menatap kesal bawahan nya itu.


"Itu hanya kamuflase saja. Aku yakin aslinya


tidak lah seperti yang terlihat..!"


"Hei..apa kau merasa pantas bersaing dengan


Nona Muda Hadiningrat..? sekelas Mikhayla


saja tidak mampu mengalahkan nya.!"


Wajah Tanisha berubah pias, dia meremas


jemarinya dengan raut wajah berubah keras.


"Dia hanya sedang beruntung saja, tidak lebih


dari itu.! apa lebihnya dia dariku.!"


"Aku sarankan agar kau tahu diri sedikit, dan


bekerja saja dengan baik kalau tidak ingin di


pecat oleh Nyonya Agra Bintang.!"


"Diam kalian..! jangan memanggilku Tanisha


jika aku tidak bisa menaklukkan nya..!"


Geram Tanisha sambil kemudian berjalan


dengan menghentakkan kakinya menuju


ke luar ruangan.


------- ------


Kiran menuangkan makanan ke piring Agra


dan ayah mertua nya yang sudah menunggu


dengan tidak sabar. Keduanya sama-sama ingin


di dahulukan, hal ini membuat Kiran tersenyum


geli melihat tingkah absurb suami dan Ayah


mertua nya tersebut.


"Aku ini suamimu Kiran..kau harusnya lebih


mendahulukan ku..!"


Titah Agra dengan wajah sedikit kesal karena


Kiran tampaknya lebih condong melayani ayah


nya terlebih dahulu.


"Aku mertua nya..dia harus mendahulukan ku


untuk membuktikan bakti nya sebagai menantu.!"


"Tidak bisa, suami adalah nomor satu.!".


"Tapi mertua lebih utama. !"


"Kau tamu di sini, tidak perlu terlalu memaksa.


Terima saja apa yang di perintahkan tuan rumah."


"Justru karena kau tuan rumah, alangkah lebih


baik jika tidak terlalu serakah.!"


"Sudahlah..tidak ada yang perlu di perdebatkan.


Bagiku, keadilan tidak terletak pada siapa yang


duluan atau belakangan..tapi bagaimana caraku


memperlakukan kalian berdua sesuai posisi


masing-masing.!"


Kiran menghentikan perdebatan yang tidak


terlalu penting itu seraya meletakkan kedua


piring di hadapan masing-masing. Keduanya


saling pandang sesaat. Kemudian memulai


makan siang nya dengan tenang.


Kiran masih terdiam memandangi makanan


untuk nya. Tapi perutnya seakan menolak itu


semua untuk masuk. Ada rasa tidak nyaman


yang langsung memenuhi perutnya. Sedang


kedua orang di dekatnya malah kelihatan


sangat menikmati makanan hasil buatannya


itu. Mereka terlihat sangat lahap menyantap


makan siangnya.


Agra menghentikan makannya, menatap wajah


Kiran yang nampak sedikit tidak bergairah.


"Ada apa sayang..apa kau tidak enak badan.?


Kenapa tidak makan.?"


"Entahlah.. tapi aku merasa sedikit kurang


berselera sayang.."


Tuan Hasimoto mengernyitkan alis.


"Sepertinya ada masalah dengan kesehatan


mu Nak..kau harus memeriksakan diri ke


dokter.!"


"Tidak perlu ayah.. ini hanya masuk angin


biasa. Nanti juga sembuh sendiri.."


Agra masih mengamati keadaan Kiran, lalu


dia menyendok makanan di dekatkan ke


mulut Kiran yang langsung menggeleng.


"Kiran.. tidak ada penolakan, atau aku akan


berhenti makan sekarang juga.!"


Kiran mengerucutkan bibirnya, lalu menerima


suapan suaminya itu dengan menahan malu


karena di saksikan langsung oleh ayah mertua.


Tapi..kok rasanya nikmat juga ya..Agra tampak


berbinar, dia kembali menyuapi Kiran yang kali


ini terlihat semangat menerima nya.


"Tidak perlu malu nak..Kau berhak di manjakan


oleh suamimu itu. Ayah juga selalu melakukan


hal yang sama pada ibu mertuamu..!"


Kiran tersipu, wajahnya kini semakin merah


membuat Agra gemas ingin menerkamnya.


Sayang nya ada mahluk lain di ruangan ini.


Akhirnya makan siang pun berlanjut hingga


makanan yang di bawa Kiran hampir ludes


semuanya. Ini sesuatu yang cukup berbeda


karena biasanya orang-orang sekelas mereka


segala sesuatu selalu di atur sesuai porsi nya


namun gara-gara makanan buatan Kiran hal


itu sepertinya sudah tidak berlaku lagi saat ini.


"Aku akan berkeliling bersama asisten mu.


Setelah itu barulah kembali ke rumah.!"


Tegas Tuan Hasimoto saat acara makan siang


selesai dan jam kerja sudah di mulai kembali.


"Baiklah.. Bara dan Zack akan mengantar mu


ke beberapa tempat yang cukup penting.!"


Sahut Agra sambil menatap ayah nya sebentar.


Saat ini dia sudah kembali berkutat dengan


segala kesibukan nya, sementara Kiran sedang


menjalankan sholat dzuhur.


"Mari Tuan..saya akan menemani anda ."


Bara membungkuk setelah itu mulai berjalan


membimbing Tuan Hasimoto keluar ruangan.


Dia akan berkeliling melihat seluruh bangunan


megah berasitektur canggih itu agar lebih tahu


apa saja yang telah di hasilkan oleh putranya itu.


Agra kembali pada kesibukannya. Ada banyak


hal yang harus di selesaikan nya sekarang


agar dia bisa sedikit santai selanjutnya.


"Permisi Presdir.."


Tanisha muncul ke dalam ruangan membawa


tumpukan berkas dan dokumen penting. Dia


tampak melihat ke sekeliling ruangan karena


tidak melihat sosok Kiran di sana.


"Ini dokumen pengesahan beberapa perusahaan


yang ikut kompetisi Presdir.."


Tanisha berdiri di samping Agra mencondongkan


tubuh nya seraya menyimpan berkas di hadapan


Agra. Ada aroma wangi semerbak yang keluar


dari tubuh wanita itu yang langsung menabrak


indra penciuman Agra.


Agra mengernyitkan alisnya, mengangkat wajah


melihat kearah Tanisha yang masih betah pada


posisi semula hingga belahan dada nya yang


indah kini terpampang nyata di depan mata


Agra yang langsung menegakkan badannya.


"Ini yang harus anda tandatangani sekarang.


Saya akan menyerahkan langsung ke bagian


pengembangan..!"


Tanisha membuka beberapa dokumen yang


harus di tandatangani oleh Agra dengan posisi


tubuh yang masih menantang dan menggoda.


Rahang Agra mulai mengeras tapi dia tetap


tenang cenderung bersikap tertantang.


Dia menatap wajah Tanisha yang kini mulai


merasakan panas dingin saat mata Presdir


nya itu menyapu keseluruhan sosoknya.


"Apa target karirmu Tanisha.? apa cukup layak


bagimu menjadi wanita spesial bos mu.?"


Wajah Tanisha langsung memerah, mata nya


tampak berbinar indah, apakah sang Presdir


sedang mengirimkan sinyal positif untuk nya?


"A-apa maksud anda Presdir.?"


Terbata suara Tanisha dengan tatapan yang


kini jatuh seluruhnya di wajah super tampan


bos nya itu yang nyaris membuat dirinya tidak


bisa mengontrol diri.


"Bukankah kau menginginkan hal itu.?"


Wajah Tanisha semakin berbinar, tidak salah


lagi bos nya ini memang sedang memberikan


penawaran terhadap nya. Sepertinya Presdir


ini sebenarnya sudah jatuh ke dalam pesona


nya hanya saja dia terlalu gengsi.


"Sa-saya hanya ingin berkarir dengan baik.


Tapi seandainya Presdir menginginkan saya


secara personal, saya tidak akan kuasa untuk


menolak. Semua akan terjadi sesuai dengan


keinginan anda Presdir..!"


Bibir Agra terangkat sedikit membuat mata hati Tanisha semakin di selimuti oleh keserakahan.


Dia harus segera memiliki raga Presdir nya ini.


Masalah hati bisa belakangan.


"Kamu cukup menarik..! hasil kerja juga bisa


di andalkan. Ya kamu layak di pertimbangkan.!"


Agra menutup dokumen yang sudah di tanda


tangani nya. Tanisha tersenyum lembut seraya


menerima kembali berkas itu. Dengan halus


dia menyentuhkan tangannya ke lengan Agra.


"Pujian anda adalah angin surga bagi saya..!"


Bisik Tanisha sambil kembali meraih dokumen


lain di atas meja yang harus di bawanya keluar.


Posisinya miring menghadap Agra yang berada


pada posisi cukup dekat, hingga mereka seakan


sedang saling menatap lekat.


"Sayang...apa yang kau lakukan..?"


Ada suara yang terdengar sedikit kesal dari


arah kamar pribadi. Tanisha terkesiap, sedang


Agra tampak santai saja cenderung acuh.


Tanisha menarik dirinya, menegakkan badan.


Matanya kini bersirobos tatap dengan mata


bening indah yang terlihat sedikit emosi.Bibir


merah merekah Tanisha menyunggingkan


senyum penuh persaingan dan percaya diri..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC....