
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Bilik pribadi Tuan Besar....
Nyonya Yuri duduk bersimpuh menundukkan
kepala menghadap sang suami yang sedang
menatap ke luar jendela dimana saat ini badai
salju datang cukup kencang. Pandangannya
lurus menembus batas kabut putih tebal yang
menyelimuti hampir seluruh wilayah istana
nya, tempat kekuasaannya. Namun semua
dunia yang kini di genggamnya, bahkan itu
tidak ada artinya sama sekali, karena harta
yang paling berharga nya selama bertahun-
tahun malah menjauh dari kehidupan nya.
"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu suamiku.
Kau begitu mencintai Hoshi, tapi kau sudah
melukai istrinya, orang yang paling berharga
dalam kehidupannya..!"
Lirih Nyonya Yuri dengan suara yang sangat
berat. Tuan Hasimoto melirik, menatap tenang
istrinya, wanita yang paling di cintainya, hingga
dia nekad mengurung nya hanya agar dunia
luar tidak bisa memandang kecantikannya
yang begitu memukau. Dan sekarang semua
sikap posesif nya itu rupanya sudah menular
pada putranya, sama persis seperti dirinya.
"Aku tidak melukainya, aku justru membuatnya
kuat. Obat itu bukan racun, itu adalah antibodi.
Sebagai seorang wanita pendamping Hiroshi
Hasimoto gadis itu tidak boleh lemah, Hoshi
memiliki gen yang berbeda dari orang lain..!"
Nyonya Yuri mengangkat kepalanya, menatap
tidak percaya pada suaminya itu. Dia bangkit
lalu berjalan mendekat kearah Tuan Hasimoto.
"Apakah itu benar suamiku..?"
"Apa aku pernah berbohong padamu..?"
"Lalu apa maksudmu melakukan semua hal
yang mengerikan ini.? apa kau sadar..kau
sudah menghancurkan hati Hoshi.?"
"Dia memang harus merasakannya..! pahit
getir kehidupan akan membuatnya lebih kuat
dan menghargai apa yang di milikinya.!"
"Tapi kau sudah membuat Hoshi kita semakin
membencimu..!"
"Dia tidak pernah membenciku..! dia hanya
tidak ingin kalah dariku..! darahku mengalir
dalam tubuhnya, semua karakternya adalah
gambaran jelas dari diriku..!"
"Suamiku..apakah sebenarnya kau sudah bisa
menerima gadis itu sebagai menantu kita.?"
Tuan Hasimoto terdiam, menarik napas berat
dan memejamkan matanya.
"Dia gadis yang memiliki ketulusan hati dan
tidak pernah melihat siapa itu Hoshi..!"
"Lalu untuk apa semua drama ini.?"
"Aku hanya ingin melihat seberapa besar cinta
mereka, seberapa kuat ikatan bathin mereka.
Aku tidak ingin Hoshi mendapatkan wanita
yang salah..Dia haruslah istimewa..!"
Nyonya Yuri terhenyak. Tuan Hasimoto berbalik
menarik tubuh istrinya itu ke dalam dekapannya,
memeluknya erat, memberikan kehangatan dan
kenyamanan yang selama ini telah membuat
wanita itu nekad berada dalam kurungan sang
mafia walau harus terpisah dari keluarganya.
"Dan sekarang aku sudah melihat semua itu..!"
Bisiknya seraya mempererat pelukannya.Kedua
nya terdiam saling memeluk, merasakan isi hati masing-masing. Dari awal Nyonya Yuri memang
sudah merasa kalau ada yang tidak beres
dengan semua tindakan suaminya ini.
"Ayo kita tidur..ini sudah sangat malam, kau
bisa sakit kalau kurang istirahat. Kau tidak
boleh terlalu banyak berpikir, serahkan semua
nya padaku.! tugasmu hanya harus selalu
berada di sisiku, setiap waktu..!"
Ujar Tuan Hasimoto sambil kemudian meraih
tubuh mungil istrinya itu ke dalam pangkuan
nya, membawanya ke ruangan dalam untuk
segera mengistirahatkan jiwa raga mereka.
------ ------
Sampai pagi menjelang, Agra tidak pernah
memejamkan matanya. Dia hanya bisa duduk
sambil bermeditasi, memusatkan konsentrasi
dan pikirannya pada semua hal yang kini
sedang di alaminya. Dia tidak menduga sama
sekali kalau kepergiannya ke tempat ini akan
berakhir dengan tragedi pahit seperti ini.
Waktu semakin beranjak siang. Satu jam lagi
pertarungan antara Agra dan Tuan Hasimoto
akan segera berlangsung. Seluruh penghuni
istana geger, mereka cukup terkejut dengan
kabar ini. Sebagaimana di ketahui, tidak ada
orang yang berani menantang sang Ketua
untuk bertarung secara langsung, karena dia
adalah ahli bela diri yang sangat di takuti di
kalangan para pemilik perguruan.
Dan sekarang..Agra berani menantangnya,
semua orang juga tahu, Agra tidak begitu
lama belajar ilmu bela diri sebelum akhirnya
dia memilih keluar dari istana ini.
Saat ini Agra sudah siap dengan kostum khas
putih-putih nya, lengkap dengan ikat pinggang
dan ikat kepalanya . Rambutnya masih sedikit
basah, walaupun terlihat cukup segar namun
tidak ada semangat ataupun gairah hidup yang
kini terlihat dari raut wajahnya. Hanya tersisa kesakitan dan kesedihan yang terpendar dari
sorot matanya. Dia berdiri di dekat alas tempat
tidur, dimana disana sang pujaan hati masih
betah dengan kondisinya semula.
"Tuan..anda harus sarapan dulu..!"
Bara mengingatkan seraya membantu Agra
membenahi pakaiannya.
"Apa kau pikir aku bisa makan dan minum
sementara keadaan istriku masih seperti itu.!"
"Tapi pertarungan ini sangat berisiko Tuan..
Anda memerlukan kesiapan luar dalam.!"
"Bara..! kalau aku harus berakhir sekarang juga
maka itu adalah ketentuan yang berlaku.! asal
Kiran bisa tetap hidup, tidak ada penyesalan
dalam hatiku.. selama ini aku hidup memang
hanya untuk menemukan nya..!"
Bara terhenyak dalam diam.Tidak ada lagi yang
bisa di ucapkan nya. Dia tahu pasti selama ini
hati Tuan nya ini hanya tertuju pada satu nama
dan satu sosok saja.
Agra duduk di samping tubuh Kiran, kembali
mengecek kondisi nya. Istrinya itu masih dalam keadaan yang sama. Terpejam rapat seolah
enggan untuk membuka matanya kembali,
dunia sudah benar-benar di tinggalkannya.
Agra tampak mengernyitkan alisnya, denyut
nadi Kiran terasa kian melemah, bahkan kulit
nya kini sudah semakin pucat, suhu tubuhnya
pun semakin menurun.
"Panggil dokter sekarang juga..!"
Titah Agra dengan wajah di penuhi kepanikan.
Dia sudah tidak bisa lagi menguasai dirinya .
Tanpa kata, Bara cepat keluar dari dalam kamar.
Agra menggengam kuat jemari Kiran yang kaku
dan beku, tangannya bergerak membelai wajah
nya yang sangat dingin. Agra menatap kosong,
hatinya hancur sudah. Dia sudah tidak kuat lagi
melihat keadaan Kiran. Rasanya dunia nya pun
kini sudah mati.
"Tuan Muda..Tuan Besar ada di sini..!"
Ada suara dari luar pintu geser. Rahang Agra
mengeras seketika, tangannya terkepal kuat.
Kepalanya kini menunduk dalam. Tidak lama
ke dalam ruangan muncul Tuan Hasimoto
bersama Ryu, Zack dan Bara pun ikut masuk.
Untuk sesaat Tuan Hasimoto tampak berdiri
memperhatikan kondisi Kiran. Lalu beranjak,
kemudian duduk bersimpuh di samping kiri
tubuh Kiran yang terbaring bagai mayat hidup.
Perlahan dia meraih pergelangan tangan Kiran,
mengecek denyut nadinya. Alisnya nampak
bertaut dalam, dia kembali mengecek nadi
Kiran di bagian lehernya. Wajahnya bereaksi
sedikit terkejut dengan sorot mata tidak terbaca.
"Apa yang terjadi dengan nya..? apa kau sudah
melakukan kesalahan fatal.?"
Geram Agra dengan tatapan tajam bagai ujung pedang. Tuan Hasimoto bergeming. Dia duduk
bersila, memusatkan konsentrasi nya dengan
melipat kedua tangan di dada. Tidak lama dia
kembali menempelkan dua jari tengahnya di
leher Kiran dan melakukan gerakan totokan
cepat hampir tak terlihat. Tubuh Kiran bereaksi,
mengejang sesaat sampai akhirnya kembali
terbaring kaku.
Tuan Hasimoto melirik kearah Ryu yang kini
maju, duduk di sebelah pamannya. Lalu dia
mengeluarkan sesuatu dari balik mantelnya.
Agra melebarkan matanya ketika melihat Tuan
Hasimoto menyuntikkan cairan kuning ke leher
sebelah kiri Kiran. Agra bergerak cepat ingin
mencegah tindakan ayah nya itu, tapi dengan
gerakan cepat Ryu menghalangi nya sambil
menatap tajam meyakinkan Agra.
Tubuh Kiran bereaksi dengan bergetar hebat,
hingga akhirnya kembali tenang saat suntikan
itu selesai. Agra menatap tajam wajah Kiran
yang kini sudah kembali ke semula. Terpejam
kuat dengan kondisi yang seolah tertidur lelap.
Tuan Hasimoto berdiri, menatap wajah Kiran
untuk sesaat, lalu dia beranjak.
"Aku tunggu kau di sasana..!"
Ucapnya sambil melangkah tenang keluar dari
ruangan meninggalkan Agra yang kini terdiam
mengamati kondisi Kiran. Selang beberapa saat
kemudian jemari Kiran bergerak, dengan cepat
Agra mengecek kembali denyut nadi nya. Dia
menari napas lega, matanya berbinar cerah.
Dalam sekali gerakan Agra meraih tubuh Kiran
ke dalam pelukannya, menciumi puncak kepala
nya tiada henti dengan mata berkaca-kaca.
"Kau kembali sayang..aku tahu kamu tidak akan
berjalan sesuai dengan yang kau inginkan..!"
Bisik Agra sambil mencium kening Kiran lama.
Kemudian mengecup lembut bibirnya yang kini
tidak sekaku sebelumnya. Terasa lembut dan
manis, ada aroma mint segar yang keluar dari
mulut Kiran membuat Agra tertegun sendiri.
"Tuan..kita harus segera pergi ke sasana..!"
Bara mencoba mengingatkan karena waktu
nya sudah tiba. Agra menarik napas berat,
menatap wajah Kiran yang berada di dalam
dekapan nya. Dia mengelus wajah istrinya
itu yang kini mulai berangsur menghangat.
"Doakan aku sayang.. anggap saja ini adalah
ujian terakhir kita. Kalaupun aku harus berakhir
sekarang, aku bahagia karena bisa melihatmu selamat..!"
Agra membaringkan kembali tubuh lemah Kiran
di atas tempat tidur. Menatap lekat wajah nya
yang masih terlihat pucat namun sudah tidak
sepucat sebelumnya.
"Zack..kau jaga dia baik-baik..! pastikan dokter
terus memantau perkembangan nya..!"
Titah Agra sambil mengikat sabuk di pinggang
nya dan mengikat kepalanya.
"Siap laksanakan Tuan..!"
Sahut Zack sambil membungkuk dalam. Agra
kembali mencium kening Kiran sebelum akhir
nya dengan berat hati melangkah pergi untuk
menentukan nasibnya ke depan.
****** ******
Suasana di dalam ruang pelatihan saat ini sudah diliputi oleh ketegangan. Hanya ada orang-orang
yang cukup berkepentingan saja yang kini hadir
dalam ruangan tertutup itu. Bahkan Nyonya Yuri
pun tidak datang, karena dia tidak sanggup kalau
harus menyaksikan kedua orang terkasihnya itu
harus saling berhadapan dalam suasana panas
dan ini bukanlah main-main.
Bara dan para pengawal Agra tampak berada di
sisi sebelah kiri, sementara Ryu dan para staf
istana ada di sebelah kanan. Wajah mereka kini
sudah tidak karuan, antara tegang dan cemas.
Kedua orang itu kini sudah saling berhadapan
di area tengah yang biasa di gunakan sebagai
tempat untuk bertanding. Mata mereka beradu
panas, saling mengukur kekuatan lawan.
"Terimakasih karena kau sudah menempati
janjimu.! Tapi ini adalah penentuan dari
semua hal yang kita pertentangan selama ini.!"
Agra membuka suara dengan tatapan tajam
menembus bathin Tuan Hasimoto yang kini
hanya menyeringai tipis.
"Kau begitu kokoh dengan pendirian mu untuk
mempertahankan wanita itu di sisimu, hingga
apapun rela kamu tempuh..!"
Desis Tuan Hasimoto dengan senyum miring
dan pandangan meremehkan.
"Tentu saja, prinsip ku adalah harga diriku.
Dan harga diriku adalah keselamatan istriku.!
Aku menang, aku bebas, tapi kalau aku kalah
kau bisa menyiapkan pemakaman yang cukup
layak untukku.!"
Desis Agra, Tuan Hasimoto menatap lurus
wajah tampan putranya yang kali ini terlihat
begitu keras cenderung bengis. Dia menarik
napas panjang sambil mengangkat bahunya.
"Baiklah.. sekarang mari kita lihat sampai
dimana hasil dari perjuangan mu selama ini.!"
Ujar Tuan Hasimoto sambil kemudian berdiri
tegak, begitupun dengan Agra. Keduanya kini
saling membungkuk hormat lalu mulai bergerak
memasang kuda-kuda dan jurus pertama.
Semua orang seakan menahan napas saat
pertarungan di mulai. Tubuh mereka bergerak
cepat dengan gerakan lincah dan terlatih.
Keduanya kini bertarung seru dan sengit, tidak
ada keraguan dalam gerakan yang mereka
lakukan, keduanya bertarung dengan serius.
Mereka saling menyerang, menghindar, maju
dan mundur, saling membalas serangan dengan
teknik bela diri tingkat tinggi. Untuk beberapa
lama belum ada yang terlihat terdesak, tampak
nya kekuatan mereka cukup seimbang, hingga
akhirnya satu pukulan dan tendangan masuk
ke tubuh masing-masing membuat keduanya
mundur sambil memegangi dadanya.
Mereka mengatur napas dengan tatapan yang
terfokus pada lawan. Tidak lama Agra kembali
menyerang, kali ini mereka menggunakan jurus
yang lebih tinggi lagi. Gerakan mereka semakin
cepat sampai nyaris tak terlihat. Semua orang
semakin tegang. Bara terkesiap saat melihat
Agra terdesak dan beberapa pukulan masuk
ke dadanya membuat tubuhnya terseret ke
belakang. Ada tetesan darah dari sudut bibir
Agra membuat dia menyeringai tipis.
"Bagaimana Tuan Hadiningrat..? apa kau akan
menyerah sekarang.? ataukah masih ingin
melanjutkan nya.?"
Ejek Tuan Hasimoto seraya mengibaskan
lengan bajunya dengan tatapan angkuh.
Agra mengusap darah dari sudut bibirnya.
"Ini belum apa-apa Tuan Hasimoto.. sekarang
keluarkan jurus langka mu..Kita akhiri semua
nya saat ini juga..!"
Geram Agra sambil kemudian kembali berdiri
tegak, lalu mengambil posisi siaga. Tuan Besar
menatap tajam pergerakan Agra, kemudian dia
pun mulai melakukan gerakan penutup nya.
Semua orang mundur mengamankan diri dengan
tatapan bengong melihat gerakan kilat mereka
yang hampir tidak terlihat, hanya hembusan
angin cukup kencang yang tersisa dari gerakan
yang mereka peragakan. Cukup lama mereka
bertarung dalam gerakan kilat ini hingga akhir
nya tubuh mereka masing-masing terlempar
ke sisi ruangan dengan memuntahkan darah.
Keduanya berusaha menegakkan diri dengan
sedikit kesulitan karena kini terluka dalam.
Mata mereka kembali bertemu, saling menatap
tajam, ada seringaian kecil di bibir Tuan Besar,
senyum kepuasan terulas di sana. Ternyata
putranya ini telah menjelma menjadi penerus
nya tanpa harus dirinya sendiri yang langsung
terjun membimbing dan mengajarinya.
Dua orang staf istana melempar senjata kearah
mereka yang langsung di tangkap. Inilah tahap
akhir dari pertarungan ini, dan semua sudah
bisa menebak hasil akhir, karena Tuan Besar
adalah ahlinya memainkan benda ini dan sudah
menjadi icon dirinya sebagai samurai sejati.
Tidak menunggu lama keduanya sudah kembali
terlibat pertarungan seru dan sengit yang kali
ini menimbulkan suara mencekam saat senjata
mereka beradu. Tuan Hasimoto terkesiap saat
menyadari ilmu pedang Agra sudah mencapai
tahap sempurna. Senjata mereka kini beradu,
keduanya saling menekan dan mendorong
dengan sisa kekuatan yang di miliki. Kali ini
Tuan Hasimoto tampak terdesak membuat
semua orang membelalakkan matanya tidak
percaya pada penglihatannya. Tubuh Tuan
Hasimoto jatuh terlentang, senjatanya kini
terlempar jauh.
Tuan Hasimoto hanya bisa memejamkan
mata pasrah saat melihat Agra melompat
tinggi sambil mengangkat senjata nya ke
udara untuk mengakhiri pertarungan ini.
"Agra hentikan...!!"
Tuan Hasimoto membuka mata, semua orang
melongo. Mata Agra membulat sempurna ,
tangannya bergetar hebat saat menyadari kini
ujung senjatanya berada di bagian luar jantung
istrinya. Entah bagaimana tiba-tiba saja Kiran
sudah ada di hadapannya, menghadang datang
nya senjata tanpa ragu, dia menjadi tameng
bagi keselamatan Tuan Hasimoto.Tatapannya
teduh dan pasrah penuh dengan kesakitan .
"Ki-Kiran....apa yang kamu lakukan..?"
Gemetar Agra berucap sambil melempar jauh
senjata nya, dia tampak syok luar biasa.
"Aku mohon akhiri lah semua ini.! Kalau kalian
ingin puas, lenyapkan aku sekarang juga..karena
akar dari pertentangan kalian adalah aku..!"
Lirih Kiran sambil duduk bersimpuh. Tuan
Hasimoto berdiri, menarik napas panjang.
Dia mengibaskan pakaiannya. Agra goyah,
dia terjatuh, duduk lemas di lantai di hadapan
Kiran yang kini menunduk menangis tersedu.
Tuan Hasimoto mendekat kearah keduanya.
Dia mengusap lembut puncak kepala Kiran.
"Sekarang aku sudah yakin pada cinta kalian.
Pengorbanan dan keteguhan adalah sesuatu
yang sulit di dapatkan. Pertahankan itu..Aku
merestui kalian berdua..!"
Ujarnya dengan suara yang sangat tegas dan
penuh dengan kharisma. Setelah itu tanpa kata
lagi dia melangkah pergi penuh ketenangan,
keyakinan dan kepuasan bathin.
Semua orang masih melongo, tidak percaya
pada apa yang yang baru saja keluar dari mulut
seorang Hasimoto. Ini bukan mimpi kan.?
"Agra...kamu membuatku takut..!"
Kiran melompat kedalam pelukan Agra yang
langsung mengangkat dan memutar tubuh
lemah itu ke udara. Agra berteriak kencang
melepas semua beban yang selama ini sudah
menghimpitnya..Dia bebas sekarang..
"Aku mencintaimu kiraann..."
Teriakan nya menggema ke seantero istana
membuat semua orang sontak menghentikan
setiap aktivitas yang sedang di lakukannya....
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC......