Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
60. Di Restui


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Bilik pribadi Tuan Besar....


Nyonya Yuri duduk bersimpuh menundukkan


kepala menghadap sang suami yang sedang


menatap ke luar jendela dimana saat ini badai


salju datang cukup kencang. Pandangannya


lurus menembus batas kabut putih tebal yang


menyelimuti hampir seluruh wilayah istana


nya, tempat kekuasaannya. Namun semua


dunia yang kini di genggamnya, bahkan itu


tidak ada artinya sama sekali, karena harta


yang paling berharga nya selama bertahun-


tahun malah menjauh dari kehidupan nya.


"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu suamiku.


Kau begitu mencintai Hoshi, tapi kau sudah


melukai istrinya, orang yang paling berharga


dalam kehidupannya..!"


Lirih Nyonya Yuri dengan suara yang sangat


berat. Tuan Hasimoto melirik, menatap tenang


istrinya, wanita yang paling di cintainya, hingga


dia nekad mengurung nya hanya agar dunia


luar tidak bisa memandang kecantikannya


yang begitu memukau. Dan sekarang semua


sikap posesif nya itu rupanya sudah menular


pada putranya, sama persis seperti dirinya.


"Aku tidak melukainya, aku justru membuatnya


kuat. Obat itu bukan racun, itu adalah antibodi.


Sebagai seorang wanita pendamping Hiroshi


Hasimoto gadis itu tidak boleh lemah, Hoshi


memiliki gen yang berbeda dari orang lain..!"


Nyonya Yuri mengangkat kepalanya, menatap


tidak percaya pada suaminya itu. Dia bangkit


lalu berjalan mendekat kearah Tuan Hasimoto.


"Apakah itu benar suamiku..?"


"Apa aku pernah berbohong padamu..?"


"Lalu apa maksudmu melakukan semua hal


yang mengerikan ini.? apa kau sadar..kau


sudah menghancurkan hati Hoshi.?"


"Dia memang harus merasakannya..! pahit


getir kehidupan akan membuatnya lebih kuat


dan menghargai apa yang di milikinya.!"


"Tapi kau sudah membuat Hoshi kita semakin


membencimu..!"


"Dia tidak pernah membenciku..! dia hanya


tidak ingin kalah dariku..! darahku mengalir


dalam tubuhnya, semua karakternya adalah


gambaran jelas dari diriku..!"


"Suamiku..apakah sebenarnya kau sudah bisa


menerima gadis itu sebagai menantu kita.?"


Tuan Hasimoto terdiam, menarik napas berat


dan memejamkan matanya.


"Dia gadis yang memiliki ketulusan hati dan


tidak pernah melihat siapa itu Hoshi..!"


"Lalu untuk apa semua drama ini.?"


"Aku hanya ingin melihat seberapa besar cinta


mereka, seberapa kuat ikatan bathin mereka.


Aku tidak ingin Hoshi mendapatkan wanita


yang salah..Dia haruslah istimewa..!"


Nyonya Yuri terhenyak. Tuan Hasimoto berbalik


menarik tubuh istrinya itu ke dalam dekapannya,


memeluknya erat, memberikan kehangatan dan


kenyamanan yang selama ini telah membuat


wanita itu nekad berada dalam kurungan sang


mafia walau harus terpisah dari keluarganya.


"Dan sekarang aku sudah melihat semua itu..!"


Bisiknya seraya mempererat pelukannya.Kedua


nya terdiam saling memeluk, merasakan isi hati masing-masing. Dari awal Nyonya Yuri memang


sudah merasa kalau ada yang tidak beres


dengan semua tindakan suaminya ini.


"Ayo kita tidur..ini sudah sangat malam, kau


bisa sakit kalau kurang istirahat. Kau tidak


boleh terlalu banyak berpikir, serahkan semua


nya padaku.! tugasmu hanya harus selalu


berada di sisiku, setiap waktu..!"


Ujar Tuan Hasimoto sambil kemudian meraih


tubuh mungil istrinya itu ke dalam pangkuan


nya, membawanya ke ruangan dalam untuk


segera mengistirahatkan jiwa raga mereka.


------ ------


Sampai pagi menjelang, Agra tidak pernah


memejamkan matanya. Dia hanya bisa duduk


sambil bermeditasi, memusatkan konsentrasi


dan pikirannya pada semua hal yang kini


sedang di alaminya. Dia tidak menduga sama


sekali kalau kepergiannya ke tempat ini akan


berakhir dengan tragedi pahit seperti ini.


Waktu semakin beranjak siang. Satu jam lagi


pertarungan antara Agra dan Tuan Hasimoto


akan segera berlangsung. Seluruh penghuni


istana geger, mereka cukup terkejut dengan


kabar ini. Sebagaimana di ketahui, tidak ada


orang yang berani menantang sang Ketua


untuk bertarung secara langsung, karena dia


adalah ahli bela diri yang sangat di takuti di


kalangan para pemilik perguruan.


Dan sekarang..Agra berani menantangnya,


semua orang juga tahu, Agra tidak begitu


lama belajar ilmu bela diri sebelum akhirnya


dia memilih keluar dari istana ini.


Saat ini Agra sudah siap dengan kostum khas


putih-putih nya, lengkap dengan ikat pinggang


dan ikat kepalanya . Rambutnya masih sedikit


basah, walaupun terlihat cukup segar namun


tidak ada semangat ataupun gairah hidup yang


kini terlihat dari raut wajahnya. Hanya tersisa kesakitan dan kesedihan yang terpendar dari


sorot matanya. Dia berdiri di dekat alas tempat


tidur, dimana disana sang pujaan hati masih


betah dengan kondisinya semula.


"Tuan..anda harus sarapan dulu..!"


Bara mengingatkan seraya membantu Agra


membenahi pakaiannya.


"Apa kau pikir aku bisa makan dan minum


sementara keadaan istriku masih seperti itu.!"


"Tapi pertarungan ini sangat berisiko Tuan..


Anda memerlukan kesiapan luar dalam.!"


"Bara..! kalau aku harus berakhir sekarang juga


maka itu adalah ketentuan yang berlaku.! asal


Kiran bisa tetap hidup, tidak ada penyesalan


dalam hatiku.. selama ini aku hidup memang


hanya untuk menemukan nya..!"


Bara terhenyak dalam diam.Tidak ada lagi yang


bisa di ucapkan nya. Dia tahu pasti selama ini


hati Tuan nya ini hanya tertuju pada satu nama


dan satu sosok saja.


Agra duduk di samping tubuh Kiran, kembali


mengecek kondisi nya. Istrinya itu masih dalam keadaan yang sama. Terpejam rapat seolah


enggan untuk membuka matanya kembali,


dunia sudah benar-benar di tinggalkannya.


Agra tampak mengernyitkan alisnya, denyut


nadi Kiran terasa kian melemah, bahkan kulit


nya kini sudah semakin pucat, suhu tubuhnya


pun semakin menurun.


"Panggil dokter sekarang juga..!"


Titah Agra dengan wajah di penuhi kepanikan.


Dia sudah tidak bisa lagi menguasai dirinya .


Tanpa kata, Bara cepat keluar dari dalam kamar.


Agra menggengam kuat jemari Kiran yang kaku


dan beku, tangannya bergerak membelai wajah


nya yang sangat dingin. Agra menatap kosong,


hatinya hancur sudah. Dia sudah tidak kuat lagi


melihat keadaan Kiran. Rasanya dunia nya pun


kini sudah mati.


"Tuan Muda..Tuan Besar ada di sini..!"


Ada suara dari luar pintu geser. Rahang Agra


mengeras seketika, tangannya terkepal kuat.


Kepalanya kini menunduk dalam. Tidak lama


ke dalam ruangan muncul Tuan Hasimoto


bersama Ryu, Zack dan Bara pun ikut masuk.


Untuk sesaat Tuan Hasimoto tampak berdiri


memperhatikan kondisi Kiran. Lalu beranjak,


kemudian duduk bersimpuh di samping kiri


tubuh Kiran yang terbaring bagai mayat hidup.


Perlahan dia meraih pergelangan tangan Kiran,


mengecek denyut nadinya. Alisnya nampak


bertaut dalam, dia kembali mengecek nadi


Kiran di bagian lehernya. Wajahnya bereaksi


sedikit terkejut dengan sorot mata tidak terbaca.


"Apa yang terjadi dengan nya..? apa kau sudah


melakukan kesalahan fatal.?"


Geram Agra dengan tatapan tajam bagai ujung pedang. Tuan Hasimoto bergeming. Dia duduk


bersila, memusatkan konsentrasi nya dengan


melipat kedua tangan di dada. Tidak lama dia


kembali menempelkan dua jari tengahnya di


leher Kiran dan melakukan gerakan totokan


cepat hampir tak terlihat. Tubuh Kiran bereaksi,


mengejang sesaat sampai akhirnya kembali


terbaring kaku.


Tuan Hasimoto melirik kearah Ryu yang kini


maju, duduk di sebelah pamannya. Lalu dia


mengeluarkan sesuatu dari balik mantelnya.


Agra melebarkan matanya ketika melihat Tuan


Hasimoto menyuntikkan cairan kuning ke leher


sebelah kiri Kiran. Agra bergerak cepat ingin


mencegah tindakan ayah nya itu, tapi dengan


gerakan cepat Ryu menghalangi nya sambil


menatap tajam meyakinkan Agra.


Tubuh Kiran bereaksi dengan bergetar hebat,


hingga akhirnya kembali tenang saat suntikan


itu selesai. Agra menatap tajam wajah Kiran


yang kini sudah kembali ke semula. Terpejam


kuat dengan kondisi yang seolah tertidur lelap.


Tuan Hasimoto berdiri, menatap wajah Kiran


untuk sesaat, lalu dia beranjak.


"Aku tunggu kau di sasana..!"


Ucapnya sambil melangkah tenang keluar dari


ruangan meninggalkan Agra yang kini terdiam


mengamati kondisi Kiran. Selang beberapa saat


kemudian jemari Kiran bergerak, dengan cepat


Agra mengecek kembali denyut nadi nya. Dia


menari napas lega, matanya berbinar cerah.


Dalam sekali gerakan Agra meraih tubuh Kiran


ke dalam pelukannya, menciumi puncak kepala


nya tiada henti dengan mata berkaca-kaca.


"Kau kembali sayang..aku tahu kamu tidak akan


berjalan sesuai dengan yang kau inginkan..!"


Bisik Agra sambil mencium kening Kiran lama.


Kemudian mengecup lembut bibirnya yang kini


tidak sekaku sebelumnya. Terasa lembut dan


manis, ada aroma mint segar yang keluar dari


mulut Kiran membuat Agra tertegun sendiri.


"Tuan..kita harus segera pergi ke sasana..!"


Bara mencoba mengingatkan karena waktu


nya sudah tiba. Agra menarik napas berat,


menatap wajah Kiran yang berada di dalam


dekapan nya. Dia mengelus wajah istrinya


itu yang kini mulai berangsur menghangat.


"Doakan aku sayang.. anggap saja ini adalah


ujian terakhir kita. Kalaupun aku harus berakhir


sekarang, aku bahagia karena bisa melihatmu selamat..!"


Agra membaringkan kembali tubuh lemah Kiran


di atas tempat tidur. Menatap lekat wajah nya


yang masih terlihat pucat namun sudah tidak


sepucat sebelumnya.


"Zack..kau jaga dia baik-baik..! pastikan dokter


terus memantau perkembangan nya..!"


Titah Agra sambil mengikat sabuk di pinggang


nya dan mengikat kepalanya.


"Siap laksanakan Tuan..!"


Sahut Zack sambil membungkuk dalam. Agra


kembali mencium kening Kiran sebelum akhir


nya dengan berat hati melangkah pergi untuk


menentukan nasibnya ke depan.


****** ******


Suasana di dalam ruang pelatihan saat ini sudah diliputi oleh ketegangan. Hanya ada orang-orang


yang cukup berkepentingan saja yang kini hadir


dalam ruangan tertutup itu. Bahkan Nyonya Yuri


pun tidak datang, karena dia tidak sanggup kalau


harus menyaksikan kedua orang terkasihnya itu


harus saling berhadapan dalam suasana panas


dan ini bukanlah main-main.


Bara dan para pengawal Agra tampak berada di


sisi sebelah kiri, sementara Ryu dan para staf


istana ada di sebelah kanan. Wajah mereka kini


sudah tidak karuan, antara tegang dan cemas.


Kedua orang itu kini sudah saling berhadapan


di area tengah yang biasa di gunakan sebagai


tempat untuk bertanding. Mata mereka beradu


panas, saling mengukur kekuatan lawan.


"Terimakasih karena kau sudah menempati


janjimu.! Tapi ini adalah penentuan dari


semua hal yang kita pertentangan selama ini.!"


Agra membuka suara dengan tatapan tajam


menembus bathin Tuan Hasimoto yang kini


hanya menyeringai tipis.


"Kau begitu kokoh dengan pendirian mu untuk


mempertahankan wanita itu di sisimu, hingga


apapun rela kamu tempuh..!"


Desis Tuan Hasimoto dengan senyum miring


dan pandangan meremehkan.


"Tentu saja, prinsip ku adalah harga diriku.


Dan harga diriku adalah keselamatan istriku.!


Aku menang, aku bebas, tapi kalau aku kalah


kau bisa menyiapkan pemakaman yang cukup


layak untukku.!"


Desis Agra, Tuan Hasimoto menatap lurus


wajah tampan putranya yang kali ini terlihat


begitu keras cenderung bengis. Dia menarik


napas panjang sambil mengangkat bahunya.


"Baiklah.. sekarang mari kita lihat sampai


dimana hasil dari perjuangan mu selama ini.!"


Ujar Tuan Hasimoto sambil kemudian berdiri


tegak, begitupun dengan Agra. Keduanya kini


saling membungkuk hormat lalu mulai bergerak


memasang kuda-kuda dan jurus pertama.


Semua orang seakan menahan napas saat


pertarungan di mulai. Tubuh mereka bergerak


cepat dengan gerakan lincah dan terlatih.


Keduanya kini bertarung seru dan sengit, tidak


ada keraguan dalam gerakan yang mereka


lakukan, keduanya bertarung dengan serius.


Mereka saling menyerang, menghindar, maju


dan mundur, saling membalas serangan dengan


teknik bela diri tingkat tinggi. Untuk beberapa


lama belum ada yang terlihat terdesak, tampak


nya kekuatan mereka cukup seimbang, hingga


akhirnya satu pukulan dan tendangan masuk


ke tubuh masing-masing membuat keduanya


mundur sambil memegangi dadanya.


Mereka mengatur napas dengan tatapan yang


terfokus pada lawan. Tidak lama Agra kembali


menyerang, kali ini mereka menggunakan jurus


yang lebih tinggi lagi. Gerakan mereka semakin


cepat sampai nyaris tak terlihat. Semua orang


semakin tegang. Bara terkesiap saat melihat


Agra terdesak dan beberapa pukulan masuk


ke dadanya membuat tubuhnya terseret ke


belakang. Ada tetesan darah dari sudut bibir


Agra membuat dia menyeringai tipis.


"Bagaimana Tuan Hadiningrat..? apa kau akan


menyerah sekarang.? ataukah masih ingin


melanjutkan nya.?"


Ejek Tuan Hasimoto seraya mengibaskan


lengan bajunya dengan tatapan angkuh.


Agra mengusap darah dari sudut bibirnya.


"Ini belum apa-apa Tuan Hasimoto.. sekarang


keluarkan jurus langka mu..Kita akhiri semua


nya saat ini juga..!"


Geram Agra sambil kemudian kembali berdiri


tegak, lalu mengambil posisi siaga. Tuan Besar


menatap tajam pergerakan Agra, kemudian dia


pun mulai melakukan gerakan penutup nya.


Semua orang mundur mengamankan diri dengan


tatapan bengong melihat gerakan kilat mereka


yang hampir tidak terlihat, hanya hembusan


angin cukup kencang yang tersisa dari gerakan


yang mereka peragakan. Cukup lama mereka


bertarung dalam gerakan kilat ini hingga akhir


nya tubuh mereka masing-masing terlempar


ke sisi ruangan dengan memuntahkan darah.


Keduanya berusaha menegakkan diri dengan


sedikit kesulitan karena kini terluka dalam.


Mata mereka kembali bertemu, saling menatap


tajam, ada seringaian kecil di bibir Tuan Besar,


senyum kepuasan terulas di sana. Ternyata


putranya ini telah menjelma menjadi penerus


nya tanpa harus dirinya sendiri yang langsung


terjun membimbing dan mengajarinya.


Dua orang staf istana melempar senjata kearah


mereka yang langsung di tangkap. Inilah tahap


akhir dari pertarungan ini, dan semua sudah


bisa menebak hasil akhir, karena Tuan Besar


adalah ahlinya memainkan benda ini dan sudah


menjadi icon dirinya sebagai samurai sejati.


Tidak menunggu lama keduanya sudah kembali


terlibat pertarungan seru dan sengit yang kali


ini menimbulkan suara mencekam saat senjata


mereka beradu. Tuan Hasimoto terkesiap saat


menyadari ilmu pedang Agra sudah mencapai


tahap sempurna. Senjata mereka kini beradu,


keduanya saling menekan dan mendorong


dengan sisa kekuatan yang di miliki. Kali ini


Tuan Hasimoto tampak terdesak membuat


semua orang membelalakkan matanya tidak


percaya pada penglihatannya. Tubuh Tuan


Hasimoto jatuh terlentang, senjatanya kini


terlempar jauh.


Tuan Hasimoto hanya bisa memejamkan


mata pasrah saat melihat Agra melompat


tinggi sambil mengangkat senjata nya ke


udara untuk mengakhiri pertarungan ini.


"Agra hentikan...!!"


Tuan Hasimoto membuka mata, semua orang


melongo. Mata Agra membulat sempurna ,


tangannya bergetar hebat saat menyadari kini


ujung senjatanya berada di bagian luar jantung


istrinya. Entah bagaimana tiba-tiba saja Kiran


sudah ada di hadapannya, menghadang datang


nya senjata tanpa ragu, dia menjadi tameng


bagi keselamatan Tuan Hasimoto.Tatapannya


teduh dan pasrah penuh dengan kesakitan .


"Ki-Kiran....apa yang kamu lakukan..?"


Gemetar Agra berucap sambil melempar jauh


senjata nya, dia tampak syok luar biasa.


"Aku mohon akhiri lah semua ini.! Kalau kalian


ingin puas, lenyapkan aku sekarang juga..karena


akar dari pertentangan kalian adalah aku..!"


Lirih Kiran sambil duduk bersimpuh. Tuan


Hasimoto berdiri, menarik napas panjang.


Dia mengibaskan pakaiannya. Agra goyah,


dia terjatuh, duduk lemas di lantai di hadapan


Kiran yang kini menunduk menangis tersedu.


Tuan Hasimoto mendekat kearah keduanya.


Dia mengusap lembut puncak kepala Kiran.


"Sekarang aku sudah yakin pada cinta kalian.


Pengorbanan dan keteguhan adalah sesuatu


yang sulit di dapatkan. Pertahankan itu..Aku


merestui kalian berdua..!"


Ujarnya dengan suara yang sangat tegas dan


penuh dengan kharisma. Setelah itu tanpa kata


lagi dia melangkah pergi penuh ketenangan,


keyakinan dan kepuasan bathin.


Semua orang masih melongo, tidak percaya


pada apa yang yang baru saja keluar dari mulut


seorang Hasimoto. Ini bukan mimpi kan.?


"Agra...kamu membuatku takut..!"


Kiran melompat kedalam pelukan Agra yang


langsung mengangkat dan memutar tubuh


lemah itu ke udara. Agra berteriak kencang


melepas semua beban yang selama ini sudah


menghimpitnya..Dia bebas sekarang..


"Aku mencintaimu kiraann..."


Teriakan nya menggema ke seantero istana


membuat semua orang sontak menghentikan


setiap aktivitas yang sedang di lakukannya....


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC......