
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Sore hari yang sangat cerah di lingkungan
perumahan elite keluarga Mahesa...
Suasana di kediaman keluarga Mahesa sore
ini tampak cukup hangat karena semua
anggota keluarga sedang berkumpul. Mereka
sedang mensyukuri kembalinya Tuan Zein
ke tengah-tengah keluarga setelah kurang
lebih satu minggu menginap di rumah sakit.
Sam pun hari ini kebetulan sedang libur dari
dinas siangnya dan kebagian jadwal malam.
Dan Aryella sedang tidak ada kegiatan. Dia
juga tampaknya sedang merasakan tidak enak
badan, tubuhnya terasa lemas dan pusing.
Kiran baru saja selesai membersihkan diri
lalu menjalankan kewajibannya. Tadi siang
setelah pertemuan selesai dia pergi ke
kantornya di antar oleh Zack. Agra hanya
mengatakan bahwa dia akan segera datang
ke rumah ini untuk menjemputnya.
"Kenapa kau masih di sini..? ataukah status
mu sebagai istri cucu Hadiningrat memang
tidak di akui.?"
Kiran yang sedang berdiri di depan cermin
meja rias melihat kearah Aryella dari pantulan
cermin, gadis itu tampak berdiri di belakang
nya dengan melipat kedua tangannya.
"Tidak adakah pembahasan lain selain hal
ini Aryella.? apa semua ini sangat penting
untukmu.?"
Kiran mencoba mengabaikan Aryella yang
kini maju ke dekatnya.
"Tentu saja ini sangat penting bagiku. Karena
aku tidak pernah kalah darimu..!"
Kiran menyisir rambut indahnya sembari
menatap tenang kearah Aryella.
"Kita tidak sedang berlomba. Jadi tidak ada
istilah menang atau kalah di sini.!"
"Kenapa kamu tidak mundur saja dari semua
ini, sebelum di permalukan di depan keluarga
terhormat itu..!"
"Aku mencintai suamiku Aryella.. Begitupun
dengan dia, kami akan menghadapi apapun
dengan kebersamaan lahir bathin kami..!"
"Hahaa.. kenapa kamu sangat naif sih Kiran.
Kalau memang dia mencintaimu lalu kenapa
sampai sekarang hubungan kalian tidak dia
publish..?"
Kiran menyimpan sisir diatas meja, lalu
berbalik menghadap Aryella, kini keduanya
saling menatap kuat, namun sesaat kemudian
Aryella berpaling muka.
"Kau hanya tidak tahu saja.. bagaimana kami
menghadapi begitu banyak cobaan untuk bisa
membangun kebersamaan ini. Jadi Aryella
adikku sayang.. berhentilah ikut campur
urusan pribadi ku..!"
Tegas Kiran sambil menatap tajam wajah
Aryella yang tampak sedikit pucat. Kiran
menautkan alisnya.
"Apa kau sedang sakit.?"
Dia memegang kening Aryella yang terlihat
menatap Kiran dengan sorot mata kompleks.
"Jangan sok peduli padaku.! dari kecil kau
sudah merebut kasih sayang ibuku..! dan
sekarang kau merebut perhatian semua orang.
Aku benci sama kamu.! kamu tidak pernah
peka padaku.!"
Desis Aryella sambil kemudian menepis kasar
tangan lalu Kiran berbalik melangkah keluar.
"Aryella.. tunggu.."
Blam.!
Kiran terlonjak saat pintu kamar di banting
dengan keras. Dia menghembuskan napas
kasar lalu menjatuhkan dirinya di atas tempat
tidur. Kenapa Aryella selalu saja salah faham.
Ada cairan bening yang kini turun menyusuri
pipi putih mulus Kiran, hatinya terasa perih.
Aryella.. kenapa kamu tidak pernah mengerti
kalau kakak sangat menyayangi mu..
Lirih Kiran seraya mengusap air matanya.
Sementara itu di luar rumah saat ini sedang
terjadi kehebohan. Suasana hening dan damai
di kawasan perumahan elite tersebut tiba-tiba
saja di kejutkan oleh kedatangan kurang lebih
10 mobil mewah ber plat nomor khusus.Di
belakang 10 mobil mewah tersebut terdapat
rombongan mobil lain, dan setelah di lihat
secara seksama itu adalah mobil-mobil para
awak media, para pencari berita.
Dan..mobil-mobil mewah tersebut masuk ke
halaman rumah keluarga Mahesa walaupun
tidak muat semua dan harus parkir sebagian
di pinggir jalan. Para penghuni perumahan
elite itu yang kebetulan sedang berada di
kediamannya masing-masing tampak keluar
dari rumah mereka dengan wajah yang sudah
mulai di liputi emosi. Mereka berniat untuk
menegur dan memberi peringatan kepada
orang-orang yang baru saja datang agar tidak
membuat kegaduhan dan mengganggu
kenyamanan para penghuni perumahan ini.
Namun nyali mereka tiba-tiba saja menciut
saat melihat para wanita dan pria ber jas
dan berkacamata hitam langsung menyebar
dan berjaga di sekitar kediaman Mahesa.
Nyali mereka semakin mengecil saat melihat
plat nomor khusus di mobil paling depan.
Semua pelayan keluarga Mahesa yang berjumlah
sekitar 6 orang tampak terkejut dan melongo
melihat kedatangan rombongan yang tidak
di undang tersebut. Mereka berdiri di depan
pintu depan ketika Pak Hans keluar dari salah
satu mobil tersebut kemudian melangkah
menghampiri para pelayan tadi yang di pimpin
oleh Mbak Siti.
"Tolong sampaikan kabar pada Tuan Mahesa
bahwa Nyonya Besar Hadiningrat datang untuk menjemput menantunya..!"
Titah Pak Hans dengan suara yang sangat
tegas. Mbak Siti dan para pelayan semakin
terkejut, jadi suaminya Nona Kiran adalah
cucu bangsawan Hadiningrat.?
"Kalian faham apa yang saya sampaikan tadi?"
Pak Hans menatap tajam para pelayan itu sedikit
merasa geli melihat reaksi kaget mereka.
"Ohh.. iya..saya faham Tuan, sebentar kami
akan menyampaikan kabar ini pada Tuan
besar..!"
Mbak Siti tergagap sambil kemudian menunduk
lalu dia berbalik masuk ke dalam rumah.
Dengan tergopoh-gopoh Mbak Siti segera
menghampiri Tuan Zein yang sedang berada
di ruang keluarga bersama Nyonya Amelia
dan Sam. Kelihatannya mereka bertiga sedang
berbincang hangat sembari ngopi sore.
"Tu-Tuan..maaf..di-di luar ada..ada Nyonya
Besar Hadiningrat.."
"Apa..?? Nyonya Hadiningrat..?"
Ketiga anggota keluarga Mahesa itu langsung
terkejut, berseru bersamaan. Mereka saling
pandang dengan wajah yang memucat juga
di liputi oleh kecemasan.
"Apa yang terjadi Yah..? apa Nyonya Besar
sudah mengetahui semua nya, bagaimana
kalau dia menolak keberadaan Kiran.?"
Sam tampak panik. Tuan Zein masih terdiam
dalam keterkejutan nya.
"Sudah..kita lihat dulu ada apa sebenarnya.
Yakinlah Tuan Agra tidak akan membiarkan
hal buruk apapun terjadi pada Kiran kita.."
Nyonya Amelia akhirnya angkat bicara. Tuan
Zein mengangguk setuju.
"Mari kita sambut beliau..!"
Tuan Zein berdiri kemudian melangkah di ikuti
oleh Sam dan Nyonya Amelia.
"Nyonya Besar Hadiningrat datang kesini..?
Apa dia akan mempermalukan keluarga ini
gara-gara Kak Kiran..?"
Aryella yang baru saja muncul di ruangan itu
tampak bergumam sendiri. Dia kembali berbalik menuju lantai atas untuk memberitahu Kiran
soal keberadaan Nyonya Ambar.
Tuan Zein, Nyonya Amelia, Samuel beserta
para pelayan tampak bengong di tempat saat
melihat kemunculan Nyonya Ambar dari dalam
mobil paling mewah. Dia di dampingi asisten
pribadinya juga di kawal oleh 4 orang wanita
maskulin berwajah super datar.
Saat ini Nyonya Ambar mengenakkan busana
tradisional. Dan yang membuat mata melongo
adalah ada sekitar 20 orang pelayan istana
Hadiningrat juga ikut berpakaian tradisional
dengan sanggul manis di kepalanya. Mereka
semua tidak datang dengan tangan kosong.
Ada dua mobil khusus yang berisi bingkisan
dan barang-barang bawaan sebagai kado
persembahan untuk keluarga Mahesa. Dan
semuanya bukanlah barang murahan. Satu
mobil berisi makanan dan satu lagi berisi
barang-barang berharga yang kini sudah
ada di tangan para pelayan yang berpakaian
tradisional tadi.
Para awak media segera bergerak mencari
posisi masing-masing untuk mengabadikan
momen penting ini. Momen dimana Nyonya
Besar Hadiningrat menjemput seorang gadis
untuk di bawa ke istananya sebagai menantu.
Dan gadis yang sangat beruntung itu adalah
putrinya Zein Mahesa.
Tuan Zein dan yang lainnya langsung serempak
membungkuk dalam di hadapan wanita sepuh
yang masih sangat menyilaukan itu.
"Se-selamat datang di rumah kami Nyonya Besar..
Merupakan sebuah kehormatan besar bagi kami
karena anda sudi berkunjung ke kediaman kami.."
Tuan Zein berucap dengan gugup. Nyonya
Ambar kini sudah berdiri di hadapan semua
anggota keluarga Mahesa.
"Hemm..maaf kalau aku datang kesini tidak
memberitahu kalian terlebih dahulu. Tapi ini
sangat mendesak..aku ingin segera menjemput
menantuku untuk ikut pulang ke kediamanku.!"
Tuan Zein tampak terhenyak, begitupun dengan
Nyonya Amelia dan Sam.
"Nyo-Nyonya..semua keputusan ada di tangan
anda, kami akan menerima nya sesuai dengan
yang seharusnya. Mari silahkan masuk.."
Tuan Zein mempersilahkan Nyonya terhormat
itu untuk masuk ke dalam rumahnya. Dan
akhirnya mereka semua masuk ke dalam ruang tengah yang cukup luas. Dengan penuh rasa
hormat Tuan Zein mempersilahkan Nyonya
Ambar untuk duduk di kursi singel. Wanita tua
itu tampak duduk tenang di dampingi asisten
nya. Sedang para pelayan saat ini terlihat sibuk menyusun barang bawaan yang kini di serahkan
dari tangan para pelayan istana Hadiningrat.
Tuan Zein berserta keluarga nya tampak hanya
bisa bengong tak mampu mengeluarkan kata-
kata saat melihat banyaknya barang sembahan
yang hampir memenuhi seluruh ruangan itu.
Sedang untuk barang-barang berharga seperti perhiasan, kain-kain berharga mahal juga barang
antik lainnya di letakkan di atas meja bundar
yang berada tepat di tengah lingkaran sofa.
"Aku tidak bermaksud untuk merendahkan
tidak berguna ini. Tapi ini adalah tradisi leluhur
keluarga kami..! mohon jangan salah faham..!"
Ujar Nyonya Ambar saat melihat keluarga itu
hanya bisa bengong saja dari tadi.
"Tentu tidak Nyonya..kami mengerti dengan
semua tradisi ini dan kami menghormatinya.."
Tuan Zein menyahut seraya menundukkan
kepala. Nyonya Amelia hanya bisa terdiam
tidak menduga akan menerima semua
kejutan tradisi ini dan dia merasa tidak enak
karena tidak bisa menyambutnya dengan
layak.
"Apa anda ibunya menantu ku Kiran..?"
Nyonya Amelia yang sedang larut dalam
lamunannya tampak terperanjat.
"Be-betul Nyonya..!"
Sahutnya lembut seraya tersenyum canggung.
"Apa ada sesuatu yang kurang menurut mu?
kelihatannya kau tidak senang..!"
"Ampun Nyonya Besar..tidak sama sekali.
Hanya saja..saya merasa tidak enak karena
tidak bisa menjamu dan menyambut Nyonya
Besar dengan layak.."
"Aku tidak membutuhkan nya..Tapi kalau kau
mau, kau bisa membuatkan sesuatu yang
spesial untukku..!"
Nyonya Amelia mengangkat wajahnya sedikit
mencoba melihat kearah nenek tua itu segan.
"Saya..tidak pandai membuat apapun Nyonya.
Apakah anda sudi mencicip kalau saya buatkan
susu jahe merah.?"
Dengan sedikit ragu Nyonya Amelia mencoba
menawarkan sesuatu.
"Buatlah..! dan tolong panggilkan Kiran..!"
"Baik Nyonya akan saya buatkan sekarang
juga, permisi.."
Nyonya Amelia berdiri, membungkuk sedikit
setelah itu dia berlalu menuju dapur. Di Saat
bersamaan muncul Kiran bersama Aryella dari
arah ruang keluarga, kedua anak dan ibu itu
saling pandang, Nyonya Amelia mengedip pelan mencoba meyakinkan putrinya itu untuk tetap
tenang, Kiran mengangguk pelan. Sedangkan
Aryella saat ini sedang menganga melihat
tumpukan barang persembahan yang di
bawa oleh keluarga Hadiningrat itu.
Kiran menghampiri Nyonya Ambar yang sedang menatap tenang kearah nya. Dia langsung saja bersimpuh di hadapan Nyonya Ambar yang
mengurai senyum bersahaja, Kiran mencium
punggung tangan nenek suaminya itu. Ya..
wanita tua yang terkadang menyebalkan ini
adalah nenek mertuanya.
"Maafkan Kiran Eyang kalau selama ini bersikap kurang sopan dan sering membangkang, tapi
sungguh semuanya di luar pengetahuan Kiran..!"
Tangan Eyang putri bergerak mengelus lembut
rambut indah Kiran kemudian mencium puncak
kepalanya, setelah itu mengangkat wajah nya.
Di pandangnya tenang wajah cucu menantunya
itu yang terlihat begitu cantik bercahaya.
"Kau tidak pernah mengecewakanku..! cucuku
yang keras kepala itu yang sudah membuat mu
berada di dalam kebingungan..!"
Ujarnya tenang sambil kemudian mencium kening
Kiran lembut, hal itu cukup membuat Kiran dan
semua orang membelalakan matanya terutama
Aryella. What..? apa-apaan ini ? Nyonya Besar
dan Kiran kelihatannya sudah sangat akrab ?
"Tapi Eyang..Apa saya pantas untuk menerima
semua ini, saya merasa sangat tidak layak
untuk mendampingi cucu Eyang.."
"Siapa yang bilang begitu.? kalau cucuku sendiri
yang sudah memilihmu, lalu aku bisa apa..?"
Kiran masih duduk bersimpuh di hadapan Eyang
putri sambil menggenggam tangan lembut nenek
tua itu. Tuan Zein dan Sam hanya bisa melihat
interaksi keduanya dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi Eyang sungguh Kiran merasa.."
"Sudah.! jangan bicara lagi.. sekarang ganti
pakaian mu dengan yang sudah Eyang bawa.
Kau harus segera menjalankan ritual proses
penjemputan..!"
Kiran mendongakan kepala nya, alisnya tampak
bertaut bingung dan sedikit resah.
"Ritual lagi Eyang..tapi untuk apa.?"
"Jangan banyak mengeluh..! kalau kau serius
ingin masuk ke dalam kehidupan cucuku maka
ikuti semua tradisi keluarga ini..!"
Debat Eyang putri dengan tatapan intimidasi
nya. Kiran menarik napas perlahan. Darah
memang benar-benar tidak berbohong. Cucu
dan nenek ini sungguh satu karakter banget.!
"Baiklah Eyang.."
Lirih Kiran seraya kemudian bangkit. Nyonya
Ambar melirik pada dua orang pelayan pribadi
nya yang sudah siap dengan satu boks besar
di tangan mereka.
"Pergilah ke kamarmu, mereka berdua akan
membantumu bersiap..!"
Titahnya dengan tatapan pasti tidak ingin ada
lagi bantahan. Kiran mengangguk pelan setelah
itu dia membungkuk sopan di depan nenek
mertuanya itu, kemudian melangkah pergi ke
kamarnya di lantai atas bersama dua pelayan
pribadi tadi.
Aryella benar-benar tidak percaya dengan apa
yang sedang berlaku saat ini. Sangat terlihat
sekali kalau nenek tercinta Bimantara Agra
Bintang itu sudah sangat menerima kehadiran
Kiran sebagai istri cucunya. Ini semus sangat
berkebalikan dengan dugaan dirinya.
Nyonya Amelia muncul ke dalam ruangan itu
langsung menghampiri Eyang putri.
"Silahkan Nyonya Besar.."
Dia menyodorkan secangkir susu jahe yang
sudah di buatnya, lalu berdiri di samping
Nyonya Besar terhormat itu.
"Duduklah di sini..!"
Titah Nyonya Ambar seraya melirik kursi yang
ada di sebelahnya. Dengan patuh ibu sambung
Kiran itu duduk dengan tidak lepas menunduk.
"Kau ibu sambung nya Kiran bukan..?"
"Benar Nyonya.."
"Terimakasih karena kau sudah mendidik dan
menyayangi cucu menantuku sampai menjadi
seorang gadis yang kuat dan luar biasa.."
Nyonya Amelia menganga, dia melihat kearah
Nyonya Ambar yang sedang menyeruput susu
jahe buatannya.
"Jarang ada ibu sambung yang menyayangi
putri sambung nya melebihi anak kandung
nya sendiri..!"
Sambung Nyonya Ambar dengan wajah yang
terlihat puas dengan rasa susu jahe nya.
Nyonya Amelia kembali menunduk, merasa
sangat tersanjung dengan pujian wanita tua
itu.
"Saya hanya berusaha seadil mungkin dalam
memberikan kasih sayang dan perhatian untuk
anak-anak kami Nyonya.."
Sahutnya sedikit malu. Aryella yang duduk di
dekat Sam tampak memalingkan wajahnya.
Ada kekesalan dan kekecewaan dalam hati.
"Apa kau mengajarkan Kiran cara membuat
susu jahe ini..?"
Nyonya Amelia terdiam sesaat hingga akhirnya
dia faham kemana arah perkataan Eyang putri.
"Semua hal yang saya bisa sudah saya ajarkan
padanya Nyonya, dia bahkan lebih baik dari
saya sekarang..!"
Ujar Nyonya Amelia bangga membuat Nyonya
Ambar manggut-manggut.
"Baiklah..kalau begitu Tuan Zein.. sekarang aku
secara resmi meminta izin ingin membawa
pulang cucu menantu ku ke rumah kami.."
Ucap Nyonya Ambar begitu melihat kemunculan
Kiran ke dalam ruangan itu. Semua orang tampak
menatap bengong kearah Kiran. Saat ini gadis
itu mengenakkan kebaya modern yang sangat
mewah dan elegan, membalut pas tubuh indah
nya membuat dia terlihat begitu cantik dan
bersinar, benar-benar memukau. Rambutnya
di gulung manis menyisakan anak rambut yang
jatuh di pelipisnya. Wajahnya terlihat di poles
tipis di sesuaikan dengan warna kebayanya,
deep purple gradasi soft pink.
Akhirnya mau tidak mau Kiran harus melalui
ritual perpisahan dengan keluarganya. Karena
setelah dia keluar dari pintu rumah ini tidak
boleh menengok lagi ke dalam. Dengan berat
hati Tuan Zein juga Nyonya Amelia akhirnya
melepaskan Kiran untuk pergi ke tempat baru
nya, rumah keluarga suaminya.
Saat ini para awak media sudah siaga tepat
di depan teras rumah. Semua kamera dan
alat perekam sudah terpasang dengan baik.
Mereka sungguh tidak sabar lagi ingin segera
melihat rupa menantu keluarga Hadiningrat.
Sebenarnya para wartawan lebih penasaran
lagi terhadap Bimantara karena dia merupakan
sosok yang sangat misterius di kalangan para
pencari berita. Dia tidak pernah mengijinkan
media mengekspos berita apapun tentang
dirinya hingga sosoknya jarang di ketahui publik.
Hanya sosok Nyonya Ambarwati Hadiningrat
lah yang cukup akrab dengan wartawan.Karena Nyonya Besar itu sering sekali mengundang
para wartawan di beberapa acara amalnya.
Jadi dia merupakan sosok bangsawan yang
cukup akrab dengan media massa. Sangat
bertolak belakang dengan sang cucu yang
misterius dan tertutup.
Suasana di depan rumah keluarga Mahesa saat
ini seperti sedang ada acara besar-besaran
karena selain ada puluhan awak media, terus
barisan para pengawal keluarga Hadiningrat
para penghuni komplek perumahan itupun
kini merapat ke tempat itu karena penasaran
ingin melihat apa yang terjadi sebenarnya
setelah mendapat selentingan kabar bahwa
salah satu putri Tuan Zein telah di persunting
oleh cucu bangsawan kelas satu yakni klan Hadiningrat, yang notabenenya adalah pemilik
komplek perumahan ini.
Dalam keadaan gaduh seperti sedang ada
acara kemerdekaan itu tiba-tiba semua orang
memfokuskan perhatian pada kedatangan
rombongan mobil mewah yang di pimpin oleh
sebuah mobil sport mewah keluaran terbaru
yang membuat mata melongo. Dan para
pengawal yang ada di sana pun langsung mengevakuasi warga agar memberi jalan
pada rombongan itu.
Mobil sport mewah tersebut berhenti tepat di
pintu gerbang bersamaan kemunculan Kiran
dan Eyang putri dari dalam rumah. Dari dalam
mobil mewah tersebut keluar satu sosok
tinggi tegap, gagah dan sangat mempesona
membuat semua mata seakan tersihir oleh
ketampanan dan kharismanya.
Semua mata kini di buat bengong di dua sisi.
Mata mereka melihat kedua arah, antara
sosok bidadari cantik jelita di teras rumah
juga pangeran charming yang baru saja keluar
dari mobil mewah...
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....