Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
47. Prosesi Penjemputan


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Sore hari yang sangat cerah di lingkungan


perumahan elite keluarga Mahesa...


Suasana di kediaman keluarga Mahesa sore


ini tampak cukup hangat karena semua


anggota keluarga sedang berkumpul. Mereka


sedang mensyukuri kembalinya Tuan Zein


ke tengah-tengah keluarga setelah kurang


lebih satu minggu menginap di rumah sakit.


Sam pun hari ini kebetulan sedang libur dari


dinas siangnya dan kebagian jadwal malam.


Dan Aryella sedang tidak ada kegiatan. Dia


juga tampaknya sedang merasakan tidak enak


badan, tubuhnya terasa lemas dan pusing.


Kiran baru saja selesai membersihkan diri


lalu menjalankan kewajibannya. Tadi siang


setelah pertemuan selesai dia pergi ke


kantornya di antar oleh Zack. Agra hanya


mengatakan bahwa dia akan segera datang


ke rumah ini untuk menjemputnya.


"Kenapa kau masih di sini..? ataukah status


mu sebagai istri cucu Hadiningrat memang


tidak di akui.?"


Kiran yang sedang berdiri di depan cermin


meja rias melihat kearah Aryella dari pantulan


cermin, gadis itu tampak berdiri di belakang


nya dengan melipat kedua tangannya.


"Tidak adakah pembahasan lain selain hal


ini Aryella.? apa semua ini sangat penting


untukmu.?"


Kiran mencoba mengabaikan Aryella yang


kini maju ke dekatnya.


"Tentu saja ini sangat penting bagiku. Karena


aku tidak pernah kalah darimu..!"


Kiran menyisir rambut indahnya sembari


menatap tenang kearah Aryella.


"Kita tidak sedang berlomba. Jadi tidak ada


istilah menang atau kalah di sini.!"


"Kenapa kamu tidak mundur saja dari semua


ini, sebelum di permalukan di depan keluarga


terhormat itu..!"


"Aku mencintai suamiku Aryella.. Begitupun


dengan dia, kami akan menghadapi apapun


dengan kebersamaan lahir bathin kami..!"


"Hahaa.. kenapa kamu sangat naif sih Kiran.


Kalau memang dia mencintaimu lalu kenapa


sampai sekarang hubungan kalian tidak dia


publish..?"


Kiran menyimpan sisir diatas meja, lalu


berbalik menghadap Aryella, kini keduanya


saling menatap kuat, namun sesaat kemudian


Aryella berpaling muka.


"Kau hanya tidak tahu saja.. bagaimana kami


menghadapi begitu banyak cobaan untuk bisa


membangun kebersamaan ini. Jadi Aryella


adikku sayang.. berhentilah ikut campur


urusan pribadi ku..!"


Tegas Kiran sambil menatap tajam wajah


Aryella yang tampak sedikit pucat. Kiran


menautkan alisnya.


"Apa kau sedang sakit.?"


Dia memegang kening Aryella yang terlihat


menatap Kiran dengan sorot mata kompleks.


"Jangan sok peduli padaku.! dari kecil kau


sudah merebut kasih sayang ibuku..! dan


sekarang kau merebut perhatian semua orang.


Aku benci sama kamu.! kamu tidak pernah


peka padaku.!"


Desis Aryella sambil kemudian menepis kasar


tangan lalu Kiran berbalik melangkah keluar.


"Aryella.. tunggu.."


Blam.!


Kiran terlonjak saat pintu kamar di banting


dengan keras. Dia menghembuskan napas


kasar lalu menjatuhkan dirinya di atas tempat


tidur. Kenapa Aryella selalu saja salah faham.


Ada cairan bening yang kini turun menyusuri


pipi putih mulus Kiran, hatinya terasa perih.


Aryella.. kenapa kamu tidak pernah mengerti


kalau kakak sangat menyayangi mu..


Lirih Kiran seraya mengusap air matanya.


Sementara itu di luar rumah saat ini sedang


terjadi kehebohan. Suasana hening dan damai


di kawasan perumahan elite tersebut tiba-tiba


saja di kejutkan oleh kedatangan kurang lebih


10 mobil mewah ber plat nomor khusus.Di


belakang 10 mobil mewah tersebut terdapat


rombongan mobil lain, dan setelah di lihat


secara seksama itu adalah mobil-mobil para


awak media, para pencari berita.


Dan..mobil-mobil mewah tersebut masuk ke


halaman rumah keluarga Mahesa walaupun


tidak muat semua dan harus parkir sebagian


di pinggir jalan. Para penghuni perumahan


elite itu yang kebetulan sedang berada di


kediamannya masing-masing tampak keluar


dari rumah mereka dengan wajah yang sudah


mulai di liputi emosi. Mereka berniat untuk


menegur dan memberi peringatan kepada


orang-orang yang baru saja datang agar tidak


membuat kegaduhan dan mengganggu


kenyamanan para penghuni perumahan ini.


Namun nyali mereka tiba-tiba saja menciut


saat melihat para wanita dan pria ber jas


dan berkacamata hitam langsung menyebar


dan berjaga di sekitar kediaman Mahesa.


Nyali mereka semakin mengecil saat melihat


plat nomor khusus di mobil paling depan.


Semua pelayan keluarga Mahesa yang berjumlah


sekitar 6 orang tampak terkejut dan melongo


melihat kedatangan rombongan yang tidak


di undang tersebut. Mereka berdiri di depan


pintu depan ketika Pak Hans keluar dari salah


satu mobil tersebut kemudian melangkah


menghampiri para pelayan tadi yang di pimpin


oleh Mbak Siti.


"Tolong sampaikan kabar pada Tuan Mahesa


bahwa Nyonya Besar Hadiningrat datang untuk menjemput menantunya..!"


Titah Pak Hans dengan suara yang sangat


tegas. Mbak Siti dan para pelayan semakin


terkejut, jadi suaminya Nona Kiran adalah


cucu bangsawan Hadiningrat.?


"Kalian faham apa yang saya sampaikan tadi?"


Pak Hans menatap tajam para pelayan itu sedikit


merasa geli melihat reaksi kaget mereka.


"Ohh.. iya..saya faham Tuan, sebentar kami


akan menyampaikan kabar ini pada Tuan


besar..!"


Mbak Siti tergagap sambil kemudian menunduk


lalu dia berbalik masuk ke dalam rumah.


Dengan tergopoh-gopoh Mbak Siti segera


menghampiri Tuan Zein yang sedang berada


di ruang keluarga bersama Nyonya Amelia


dan Sam. Kelihatannya mereka bertiga sedang


berbincang hangat sembari ngopi sore.


"Tu-Tuan..maaf..di-di luar ada..ada Nyonya


Besar Hadiningrat.."


"Apa..?? Nyonya Hadiningrat..?"


Ketiga anggota keluarga Mahesa itu langsung


terkejut, berseru bersamaan. Mereka saling


pandang dengan wajah yang memucat juga


di liputi oleh kecemasan.


"Apa yang terjadi Yah..? apa Nyonya Besar


sudah mengetahui semua nya, bagaimana


kalau dia menolak keberadaan Kiran.?"


Sam tampak panik. Tuan Zein masih terdiam


dalam keterkejutan nya.


"Sudah..kita lihat dulu ada apa sebenarnya.


Yakinlah Tuan Agra tidak akan membiarkan


hal buruk apapun terjadi pada Kiran kita.."


Nyonya Amelia akhirnya angkat bicara. Tuan


Zein mengangguk setuju.


"Mari kita sambut beliau..!"


Tuan Zein berdiri kemudian melangkah di ikuti


oleh Sam dan Nyonya Amelia.


"Nyonya Besar Hadiningrat datang kesini..?


Apa dia akan mempermalukan keluarga ini


gara-gara Kak Kiran..?"


Aryella yang baru saja muncul di ruangan itu


tampak bergumam sendiri. Dia kembali berbalik menuju lantai atas untuk memberitahu Kiran


soal keberadaan Nyonya Ambar.


Tuan Zein, Nyonya Amelia, Samuel beserta


para pelayan tampak bengong di tempat saat


melihat kemunculan Nyonya Ambar dari dalam


mobil paling mewah. Dia di dampingi asisten


pribadinya juga di kawal oleh 4 orang wanita


maskulin berwajah super datar.


Saat ini Nyonya Ambar mengenakkan busana


tradisional. Dan yang membuat mata melongo


adalah ada sekitar 20 orang pelayan istana


Hadiningrat juga ikut berpakaian tradisional


dengan sanggul manis di kepalanya. Mereka


semua tidak datang dengan tangan kosong.


Ada dua mobil khusus yang berisi bingkisan


dan barang-barang bawaan sebagai kado


persembahan untuk keluarga Mahesa. Dan


semuanya bukanlah barang murahan. Satu


mobil berisi makanan dan satu lagi berisi


barang-barang berharga yang kini sudah


ada di tangan para pelayan yang berpakaian


tradisional tadi.


Para awak media segera bergerak mencari


posisi masing-masing untuk mengabadikan


momen penting ini. Momen dimana Nyonya


Besar Hadiningrat menjemput seorang gadis


untuk di bawa ke istananya sebagai menantu.


Dan gadis yang sangat beruntung itu adalah


putrinya Zein Mahesa.


Tuan Zein dan yang lainnya langsung serempak


membungkuk dalam di hadapan wanita sepuh


yang masih sangat menyilaukan itu.


"Se-selamat datang di rumah kami Nyonya Besar..


Merupakan sebuah kehormatan besar bagi kami


karena anda sudi berkunjung ke kediaman kami.."


Tuan Zein berucap dengan gugup. Nyonya


Ambar kini sudah berdiri di hadapan semua


anggota keluarga Mahesa.


"Hemm..maaf kalau aku datang kesini tidak


memberitahu kalian terlebih dahulu. Tapi ini


sangat mendesak..aku ingin segera menjemput


menantuku untuk ikut pulang ke kediamanku.!"


Tuan Zein tampak terhenyak, begitupun dengan


Nyonya Amelia dan Sam.


"Nyo-Nyonya..semua keputusan ada di tangan


anda, kami akan menerima nya sesuai dengan


yang seharusnya. Mari silahkan masuk.."


Tuan Zein mempersilahkan Nyonya terhormat


itu untuk masuk ke dalam rumahnya. Dan


akhirnya mereka semua masuk ke dalam ruang tengah yang cukup luas. Dengan penuh rasa


hormat Tuan Zein mempersilahkan Nyonya


Ambar untuk duduk di kursi singel. Wanita tua


itu tampak duduk tenang di dampingi asisten


nya. Sedang para pelayan saat ini terlihat sibuk menyusun barang bawaan yang kini di serahkan


dari tangan para pelayan istana Hadiningrat.


Tuan Zein berserta keluarga nya tampak hanya


bisa bengong tak mampu mengeluarkan kata-


kata saat melihat banyaknya barang sembahan


yang hampir memenuhi seluruh ruangan itu.


Sedang untuk barang-barang berharga seperti perhiasan, kain-kain berharga mahal juga barang


antik lainnya di letakkan di atas meja bundar


yang berada tepat di tengah lingkaran sofa.


"Aku tidak bermaksud untuk merendahkan


tidak berguna ini. Tapi ini adalah tradisi leluhur


keluarga kami..! mohon jangan salah faham..!"


Ujar Nyonya Ambar saat melihat keluarga itu


hanya bisa bengong saja dari tadi.


"Tentu tidak Nyonya..kami mengerti dengan


semua tradisi ini dan kami menghormatinya.."


Tuan Zein menyahut seraya menundukkan


kepala. Nyonya Amelia hanya bisa terdiam


tidak menduga akan menerima semua


kejutan tradisi ini dan dia merasa tidak enak


karena tidak bisa menyambutnya dengan


layak.


"Apa anda ibunya menantu ku Kiran..?"


Nyonya Amelia yang sedang larut dalam


lamunannya tampak terperanjat.


"Be-betul Nyonya..!"


Sahutnya lembut seraya tersenyum canggung.


"Apa ada sesuatu yang kurang menurut mu?


kelihatannya kau tidak senang..!"


"Ampun Nyonya Besar..tidak sama sekali.


Hanya saja..saya merasa tidak enak karena


tidak bisa menjamu dan menyambut Nyonya


Besar dengan layak.."


"Aku tidak membutuhkan nya..Tapi kalau kau


mau, kau bisa membuatkan sesuatu yang


spesial untukku..!"


Nyonya Amelia mengangkat wajahnya sedikit


mencoba melihat kearah nenek tua itu segan.


"Saya..tidak pandai membuat apapun Nyonya.


Apakah anda sudi mencicip kalau saya buatkan


susu jahe merah.?"


Dengan sedikit ragu Nyonya Amelia mencoba


menawarkan sesuatu.


"Buatlah..! dan tolong panggilkan Kiran..!"


"Baik Nyonya akan saya buatkan sekarang


juga, permisi.."


Nyonya Amelia berdiri, membungkuk sedikit


setelah itu dia berlalu menuju dapur. Di Saat


bersamaan muncul Kiran bersama Aryella dari


arah ruang keluarga, kedua anak dan ibu itu


saling pandang, Nyonya Amelia mengedip pelan mencoba meyakinkan putrinya itu untuk tetap


tenang, Kiran mengangguk pelan. Sedangkan


Aryella saat ini sedang menganga melihat


tumpukan barang persembahan yang di


bawa oleh keluarga Hadiningrat itu.


Kiran menghampiri Nyonya Ambar yang sedang menatap tenang kearah nya. Dia langsung saja bersimpuh di hadapan Nyonya Ambar yang


mengurai senyum bersahaja, Kiran mencium


punggung tangan nenek suaminya itu. Ya..


wanita tua yang terkadang menyebalkan ini


adalah nenek mertuanya.


"Maafkan Kiran Eyang kalau selama ini bersikap kurang sopan dan sering membangkang, tapi


sungguh semuanya di luar pengetahuan Kiran..!"


Tangan Eyang putri bergerak mengelus lembut


rambut indah Kiran kemudian mencium puncak


kepalanya, setelah itu mengangkat wajah nya.


Di pandangnya tenang wajah cucu menantunya


itu yang terlihat begitu cantik bercahaya.


"Kau tidak pernah mengecewakanku..! cucuku


yang keras kepala itu yang sudah membuat mu


berada di dalam kebingungan..!"


Ujarnya tenang sambil kemudian mencium kening


Kiran lembut, hal itu cukup membuat Kiran dan


semua orang membelalakan matanya terutama


Aryella. What..? apa-apaan ini ? Nyonya Besar


dan Kiran kelihatannya sudah sangat akrab ?


"Tapi Eyang..Apa saya pantas untuk menerima


semua ini, saya merasa sangat tidak layak


untuk mendampingi cucu Eyang.."


"Siapa yang bilang begitu.? kalau cucuku sendiri


yang sudah memilihmu, lalu aku bisa apa..?"


Kiran masih duduk bersimpuh di hadapan Eyang


putri sambil menggenggam tangan lembut nenek


tua itu. Tuan Zein dan Sam hanya bisa melihat


interaksi keduanya dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi Eyang sungguh Kiran merasa.."


"Sudah.! jangan bicara lagi.. sekarang ganti


pakaian mu dengan yang sudah Eyang bawa.


Kau harus segera menjalankan ritual proses


penjemputan..!"


Kiran mendongakan kepala nya, alisnya tampak


bertaut bingung dan sedikit resah.


"Ritual lagi Eyang..tapi untuk apa.?"


"Jangan banyak mengeluh..! kalau kau serius


ingin masuk ke dalam kehidupan cucuku maka


ikuti semua tradisi keluarga ini..!"


Debat Eyang putri dengan tatapan intimidasi


nya. Kiran menarik napas perlahan. Darah


memang benar-benar tidak berbohong. Cucu


dan nenek ini sungguh satu karakter banget.!


"Baiklah Eyang.."


Lirih Kiran seraya kemudian bangkit. Nyonya


Ambar melirik pada dua orang pelayan pribadi


nya yang sudah siap dengan satu boks besar


di tangan mereka.


"Pergilah ke kamarmu, mereka berdua akan


membantumu bersiap..!"


Titahnya dengan tatapan pasti tidak ingin ada


lagi bantahan. Kiran mengangguk pelan setelah


itu dia membungkuk sopan di depan nenek


mertuanya itu, kemudian melangkah pergi ke


kamarnya di lantai atas bersama dua pelayan


pribadi tadi.


Aryella benar-benar tidak percaya dengan apa


yang sedang berlaku saat ini. Sangat terlihat


sekali kalau nenek tercinta Bimantara Agra


Bintang itu sudah sangat menerima kehadiran


Kiran sebagai istri cucunya. Ini semus sangat


berkebalikan dengan dugaan dirinya.


Nyonya Amelia muncul ke dalam ruangan itu


langsung menghampiri Eyang putri.


"Silahkan Nyonya Besar.."


Dia menyodorkan secangkir susu jahe yang


sudah di buatnya, lalu berdiri di samping


Nyonya Besar terhormat itu.


"Duduklah di sini..!"


Titah Nyonya Ambar seraya melirik kursi yang


ada di sebelahnya. Dengan patuh ibu sambung


Kiran itu duduk dengan tidak lepas menunduk.


"Kau ibu sambung nya Kiran bukan..?"


"Benar Nyonya.."


"Terimakasih karena kau sudah mendidik dan


menyayangi cucu menantuku sampai menjadi


seorang gadis yang kuat dan luar biasa.."


Nyonya Amelia menganga, dia melihat kearah


Nyonya Ambar yang sedang menyeruput susu


jahe buatannya.


"Jarang ada ibu sambung yang menyayangi


putri sambung nya melebihi anak kandung


nya sendiri..!"


Sambung Nyonya Ambar dengan wajah yang


terlihat puas dengan rasa susu jahe nya.


Nyonya Amelia kembali menunduk, merasa


sangat tersanjung dengan pujian wanita tua


itu.


"Saya hanya berusaha seadil mungkin dalam


memberikan kasih sayang dan perhatian untuk


anak-anak kami Nyonya.."


Sahutnya sedikit malu. Aryella yang duduk di


dekat Sam tampak memalingkan wajahnya.


Ada kekesalan dan kekecewaan dalam hati.


"Apa kau mengajarkan Kiran cara membuat


susu jahe ini..?"


Nyonya Amelia terdiam sesaat hingga akhirnya


dia faham kemana arah perkataan Eyang putri.


"Semua hal yang saya bisa sudah saya ajarkan


padanya Nyonya, dia bahkan lebih baik dari


saya sekarang..!"


Ujar Nyonya Amelia bangga membuat Nyonya


Ambar manggut-manggut.


"Baiklah..kalau begitu Tuan Zein.. sekarang aku


secara resmi meminta izin ingin membawa


pulang cucu menantu ku ke rumah kami.."


Ucap Nyonya Ambar begitu melihat kemunculan


Kiran ke dalam ruangan itu. Semua orang tampak


menatap bengong kearah Kiran. Saat ini gadis


itu mengenakkan kebaya modern yang sangat


mewah dan elegan, membalut pas tubuh indah


nya membuat dia terlihat begitu cantik dan


bersinar, benar-benar memukau. Rambutnya


di gulung manis menyisakan anak rambut yang


jatuh di pelipisnya. Wajahnya terlihat di poles


tipis di sesuaikan dengan warna kebayanya,


deep purple gradasi soft pink.


Akhirnya mau tidak mau Kiran harus melalui


ritual perpisahan dengan keluarganya. Karena


setelah dia keluar dari pintu rumah ini tidak


boleh menengok lagi ke dalam. Dengan berat


hati Tuan Zein juga Nyonya Amelia akhirnya


melepaskan Kiran untuk pergi ke tempat baru


nya, rumah keluarga suaminya.


Saat ini para awak media sudah siaga tepat


di depan teras rumah. Semua kamera dan


alat perekam sudah terpasang dengan baik.


Mereka sungguh tidak sabar lagi ingin segera


melihat rupa menantu keluarga Hadiningrat.


Sebenarnya para wartawan lebih penasaran


lagi terhadap Bimantara karena dia merupakan


sosok yang sangat misterius di kalangan para


pencari berita. Dia tidak pernah mengijinkan


media mengekspos berita apapun tentang


dirinya hingga sosoknya jarang di ketahui publik.


Hanya sosok Nyonya Ambarwati Hadiningrat


lah yang cukup akrab dengan wartawan.Karena Nyonya Besar itu sering sekali mengundang


para wartawan di beberapa acara amalnya.


Jadi dia merupakan sosok bangsawan yang


cukup akrab dengan media massa. Sangat


bertolak belakang dengan sang cucu yang


misterius dan tertutup.


Suasana di depan rumah keluarga Mahesa saat


ini seperti sedang ada acara besar-besaran


karena selain ada puluhan awak media, terus


barisan para pengawal keluarga Hadiningrat


para penghuni komplek perumahan itupun


kini merapat ke tempat itu karena penasaran


ingin melihat apa yang terjadi sebenarnya


setelah mendapat selentingan kabar bahwa


salah satu putri Tuan Zein telah di persunting


oleh cucu bangsawan kelas satu yakni klan Hadiningrat, yang notabenenya adalah pemilik


komplek perumahan ini.


Dalam keadaan gaduh seperti sedang ada


acara kemerdekaan itu tiba-tiba semua orang


memfokuskan perhatian pada kedatangan


rombongan mobil mewah yang di pimpin oleh


sebuah mobil sport mewah keluaran terbaru


yang membuat mata melongo. Dan para


pengawal yang ada di sana pun langsung mengevakuasi warga agar memberi jalan


pada rombongan itu.


Mobil sport mewah tersebut berhenti tepat di


pintu gerbang bersamaan kemunculan Kiran


dan Eyang putri dari dalam rumah. Dari dalam


mobil mewah tersebut keluar satu sosok


tinggi tegap, gagah dan sangat mempesona


membuat semua mata seakan tersihir oleh


ketampanan dan kharismanya.


Semua mata kini di buat bengong di dua sisi.


Mata mereka melihat kedua arah, antara


sosok bidadari cantik jelita di teras rumah


juga pangeran charming yang baru saja keluar


dari mobil mewah...


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....