Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
52. Hancur


 


***********


 


Besok sore nya ternyata benar Hoshi datang


lagi ke taman bunga sakura itu. Kali ini dia


datang bersama dengan seorang sensei


kepercayaan Tuan Hasimoto. Hoshi memberi


alasan bahwa dia memiliki hutang nyawa pada seseorang dan harus memberikan sesuatu


sebagai tanda ucapan terimakasih. Unsur balas


budi itulah yang tidak bisa di bantah oleh Tuan


Besar Hasimoto. Hal itu merupakan sebuah


beban bagi seorang ksatria samurai sejati.


Namun Tuan Hasimoto hanya memberi satu kesempatan saja pada Hoshi untuk menemui


sang penolong nya tersebut, dan tidak ada lagi


lain kali. Itupun dengan syarat Hoshi harus dio


temani oleh sensei dari klan samurai nya. Mau


tidak mau Hoshi menurutinya, demi bisa pergi


menemui Sachi. Tapi Hoshi meminta mereka


semua untuk menjaga jarak dari dirinya agar


dia bisa bebas bersama dengan Sachi.


Sudah setengah jam Hoshi menunggu Sachi di


jembatan merah, tapi gadis kecil bermata indah


itu belum juga kelihatan batang hidungnya. Dia


mulai resah, sudah sejak semalam dirinya tidak


bisa memejamkan mata karena bayangan wajah


imut dan menggemaskan Sachi selalu menggoda


di pelupuk matanya. Entah kenapa Hoshi tidak


bisa melupakan semua gerak gerik dan tawa


riang gadis kecil itu. Dia seakan menemukan


dunia baru setelah bertemu dengan gadis ini.


Ada dorongan yang sangat hebat dalam dirinya


untuk bangkit dan keluar dari semua peraturan


yang di jeratkan sang ayah pada dirinya.


"Kak Hoshi...."


Hoshi menatap senang kearah kedatangan Sachi


yang sedang tersenyum lebar kearahnya dengan


mata yang hidup berkilauan penuh semangat.


Keduanya mendekat, Hoshi masih menatap lekat


gadis kecil itu yang sore ini mengenakan setelan


celana dan kaos serta sepatu boots di padu manis


dengan mantel tebal warna pink, sangat cantik.


Rambutnya yang indah di gelung manis di atas


kepalanya.


"Apa kabar Sachi..?"


"Baik Kak.. kakak bagaimana.?"


"Aku baik sekali. Kamu datang sama siapa.?"


"Ayah..tuh..ada di sana..!"


Sachi menunjuk ke arah seorang pria tinggi


yang sedang berdiri mengawasi di bawah pohon


sakura tidak jauh dari jembatan. Hoshi tampak


membungkuk sedikit kearah pria itu yang juga


membalasnya dengan menunduk sedikit.


"Ayo kita kesana..kita cari sesuatu..!"


Hoshi menggengam tangan Sachi kemudian


menariknya untuk berjalan ke tempat yang ada


stan makanan nya, dimana di sana ada banyak


cemilan dan jajanan yang di jual bebas .


Sachi tampak senang mendapat traktiran dari


remaja tampan itu. Keduanya berjalan ringan


menyusuri taman dengan tawa riang sesekali


terdengar dari mulut Sachi membuat Hoshi


tambah semangat. Tidak sekalipun remaja


itu melepas genggaman tangannya.


Keduanya kini duduk di atas bangku taman di


bawah pohon sakura yang sedang mekar-mekar


nya hingga bunganya berjatuhan di atas kepala


Sachi membuat gadis kecil itu tertawa senang


seraya menengadahkan tangan nya menahan


bunga-bunga tersebut. Hoshi tampak menatap terkesima saat melihat Sachi mendongakkan kepalanya dengan bibir yang tiada henti tertawa. Matanya yang indah bercahaya di padu dengan


bentuk wajah yang sangat sempurna, terlihat


begitu cantik dan mungil membuat hati Hoshi berdebar tidak karuan.


Tangan Hoshi bergerak mengambil bunga-bunga


cantik itu dari kepala Sachi membuat mata mereka


bertemu. Bibir mungil Sachi dengan deretan gigi


putih yang tersusun rapi dan menarik tampak


tiada henti menyunggingkan senyum manis.


"Sachi.. apa kita bisa bertemu lagi nanti..?"


Hoshi bertanya dengan tatapan tidak lepas


dari wajah mungil Sachi yang mengerjap cantik


membuat Hoshi tertegun. Tangannya masih


ada di kepala Sachi. Tangan mungil gadis kecil


itu meraih tangan Hoshi, menatapnya lugu.


"Aku gimana ayah saja..kalau kata ayah boleh


nanti aku kesini lagi.."


"Aku akan bicara nanti pada ayahmu..!"


Sachi mengangguk. Hoshi meraih sesuatu dari


balik saku mantelnya, mengeluarkan sebuah


kalung perak yang sangat cantik. Perlahan dia melingkarkan kalung tersebut di leher Sachi


yang terdiam seraya menatap kalung itu.


"Apa ini Kak..? apa ini buat aku..?"


Hoshi memegang bahu Sachi, menatap lekat


wajah imut gadis kecil itu yang sedang fokus


pada kalung di lehernya.


"Ini khusus aku buat untukmu..pakailah.! dan


apapun yang terjadi jangan pernah membuang


atau menghilangkan nya..Oke..?"


Sachi menatap mata Hoshi yang terlihat sangat


serius dengan tatapan tajam yang menusuk.


Dia mengangguk yakin seraya tersenyum.


"Baiklah Kak.. terimakasih ya.. kalungnya


sangat cantik."


"Tidak secantik kamu bunga sakura ku..!"


Desis Hoshi tanpa sadar, Sachi menatap wajah


Hoshi dengan ekspresi geli.


"Kakak bilang apa..?"


"Ahh..bukan apa-apa..ayo kita jalan lagi sebelum


kamu pulang..!"


Tergagap Hoshi menjawab dengan wajah merah.


Dia meraih tangan Sachi, menggengam nya kuat, kemudian mereka kembali berjalan. Sachi tampak


berjalan riang setengah berjingkrak di samping


Hoshi yang hanya bisa tersenyum puas.


Hoshi tidak sadar di belakang mereka sensei


yang menemaninya melaporkan semua gerak


gerik dirinya secara live lewat hidden camera


pada sang Tuan Besar Hasimoto..


Seminggu kemudian....


Akhir pekan seperti janjinya pada Sachi, dengan


segala usaha yang sangat keras, Hoshi bisa


keluar juga dari istana, seperti biasa dengan


mengelabui para pengawal. Sesungguhnya


bukan karena mereka lengah tapi semua nya


sudah di skenario oleh Tuan Hasimoto.


Namun Hoshi harus menelan kekecewaan yang


teramat pahit karena sampai malam hari sosok


mungil Sachi tidak juga muncul di taman. Sudah


6 jam lebih Hoshi menanti kemunculan Sachi.


Tapi hingga waktu menunjukan pukul 9 malam


Sachi tidak jua datang. Hal itu membuat Hoshi


kecewa tapi juga di telan kemarahan yang kini


membakar jiwanya.


Para petugas taman mendatangi Hoshi karena


waktu penutupan tempat akan di mulai sesaat


lagi. Hoshi hanya menunjukkan sebuah kartu


emas yang membuat para petugas itu terdiam


tak berkutik. Mereka semua minggir, menemani


Tuan muda Hasimoto tersebut yang sedang di


rundung murka.


"Sachi... kemana kamu..!"


Desis Hoshi seraya mengacak rambutnya. Dia


berteriak kencang melepaskan kekesalannya.


"Hoshi.. ayo pulang..!"


Ada suara bariton di samping nya. Hoshi melirik,


sosok gagah sang ayah kini sudah berdiri tegak


di sebelahnya. Dia menatap nanar wajah sang


ayah, kemudian berdiri, berhadapan dengan


sang ayah. Mereka saling menatap kuat seolah


mengadu kekuatan.


"Mulai besok..aku akan mempelajari semua hal


yang ayah larang selama ini..!"


Tegasnya sambil kemudian melangkah cepat.


Tuan Hasimoto mengerjap, bukan ini yang dia


rencanakan. Dia yakin Hoshi akan kecewa dan


melupakan gadis kecil itu.


Tapi ternyata semua nya merupakan awal yang


berbeda dari seorang Hiroshi Hasimoto...


Sejak itulah Hoshi menjadi sosok yang berbeda.


Dia berdiri sendiri, bersebrangan dengan sang


ayah. Tidak ada lagi peraturan, tidak ada lagi


ketaatan dan anak yang penurut. Selama dua


tahun Hoshi mempelajari ilmu bela diri tanpa


henti, dia mengejar semua yang tertinggal..


*** Flashback Off ...


"Karena itulah aku dengan ayah bertentangan..


Ayah merasa kalau kamu adalah penyebab aku berubah dan membangkang..!"


Agra mempererat pelukannya. Kiran mendongak


menatap dalam wajah tampan suaminya itu.


"Lalu bagaimana aku bisa berada di hadapan


mereka, kalau akulah penyebab semua konflik


yang terjadi diantara kalian.."


"Semua tidak ada hubungannya denganmu.


Siapa yang dapat menentang Kuasa Tuhan atas


nama cinta. Semuanya tumbuh begitu saja, aku


benar-benar tidak bisa melupakanmu..aku gila


karena memikirkan keberadaan mu Sachi..!"


Bisik Agra dengan suara yang semakin berat.


Mata mereka terpejam seiring bibir yang saling


bertaut, saling ******* lembut, manis penuh


dengan cinta dan kemesraan. Keduanya hanyut


dalam buaian kehangatan ciuman yang semakin


lama semakin panas. Kiran sudah mulai merasa


ada gelagat aneh di bawah sana, sesuatu yang


kini dia duduki sudah bangun dan meronta.


"Kita ke kamar sayang..aku tidak tahan..!"


Bisik Agra parau dan bergetar. Wajah Kiran kini


memerah, dia menggeleng pelan, meraup wajah


Agra yang sudah merah menggoda.


"Aku harus memasak sekarang. Tinggal satu


langkah lagi buatku agar benar-benar layak


menjadi seorang Nona Muda Hadiningrat..!"


"Kau sudah lebih dari layak sayang.."


"Tapi semuanya tetap harus ku jalani, aku tidak


bisa mengecewakan Eyang..!"


"Tapi bagaimana dengan ku ini..!"


"Sabarlah..nanti malam kau bisa melakukan


semuanya sepuas mu..!"


Kiran mengecup lembut bibir Agra setelah itu


dia bangkit berdiri. Agra memegang tangannya


dengan wajah yang merajuk. Kiran menggeleng


kuat dengan senyum lembut . Akhirnya Agra


terpaksa membiarkan Kiran pergi kearah dapur


untuk menjalankan tugas terakhir nya.


***** ******


Kantor CEO Global Company....


Kondisi dalam ruangan saat ini tampak kacau


dan berantakan. Berkas-berkas berhamburan


di lantai, berbagai pajangan hancur berkeping-


keping. Sang asisten pribadi CEO berdiri mepet


bos nya yang sedang meluap-luap. Beberapa


saat lalu Nathan melihat rilis berita tentang


Kiran yang di jemput hormat oleh Nyonya


Besar Hadiningrat sebagai menantunya.


Nathan tampak berdiri menunduk di dekat


kursi kerja nya. Kedua tangannya tertumpu di


atas meja dengan napas yang memburu. Dia


baru saja selesai meluapkan segala emosi


jiwanya pada apapun yang ada di dekatnya.


"Jadi..Bimantara adalah laki-laki yang telah


berani mengambil mu dari tanganku Kiran..!


Bagaimana semua ini bisa terjadi, aku yakin


Zein Mahesa lah yang telah menjual mu pada


orang itu..!"


Desis Nathan seraya menjatuhkan dirinya di


atas kursi kebesarannya. Dia memukulkan


tinjunya berulangkali ke atas meja. Matanya


menyala di bakar api Angkara murka.


"Arnold..Kau atur jadwal pertemuanku dengan


orang itu, besok pagi aku sudah harus bertemu


dengannya.!"


Titah Nathan pada sang asisten yang tampak


menatap takut-takut padanya sedikit bingung


dan ragu.


"Maksud anda jadwal bertemu dengan Presdir


Bintang Group Tuan..?"


"Kau pikir dengan siapa lagi ? aku harus segera membuat perhitungan dengannya..!"


"Tapi tuan..tidak bisa sembarang membuat


jadwal pertemuan dengannya..!"


Nathan kembali memukulkan tinjunya keatas


meja membuat sang asisten terlonjak kaget.


"Katakan saja ada urusan pribadi menyangkut


istrinya, dia tidak akan menolak ku.!"


"Ba-baik Tuan.. saya akan atur jadwalnya.."


Sahut sang asisten seraya kemudian berlalu


keluar dari dalam ruangan. Nathan meremas


kepalanya. Bayangan wajah cantik Kiran terus


saja menggodanya membuat dia semakin


merasa tersiksa dan frustasi sendiri. Hatinya


semakin terasa sakit saat membayangkan


saat ini Kiran sudah benar-benar di miliki oleh


laki-laki berkuasa itu. Wanita yang selama ini


mati-matian untuk tidak di sentuhnya karena


ingin dia miliki secara utuh pada saat malam


pertama pernikahan sekarang dia malah jatuh


dan menjadi milik orang lain.


"Aahh....Kiran.. kenapa kamu melakukan ini


padaku.! tidak tahukah kamu kalau aku sangat


mencintaimu..aku tidak bisa hidup tanpa mu.!"


Desis Nathan menjatuhkan kepalanya di atas


meja. Rasa sakit hati kini menenggelamkan


dirinya pada kekecewaan dan dendam.


"Tidak ada gunanya kau menyesali semuanya.


Saat ini dia sudah bahagia bersama suaminya."


Nathan mengangkat kepalanya saat mendengar


suara yang sangat dingin di sampingnya. Dia


menatap sosok tinggi semampai dengan wajah


cantik sedikit memucat tengah berdiri tidak jauh


dari tempat duduknya.


"Mau apa kau kesini ? aku sedang tidak ingin


di ganggu !"


Ketus Nathan dengan tatapan tidak suka pada


gadis cantik itu yang tiada lain adalah Aryella.


"Kau bukanlah tandingan pria berkuasa itu.


Kiran memang lebih pantas bersamanya. !"


"Apa maksudmu..? kau pikir laki-laki itu lebih


baik dariku untuk Kiran.?'"


"Tentu saja ! di lihat dari segi apapun laki-laki


itu memang jauh lebih baik darimu..!"


"Brengsek..! hentikan ocehan mu ini Aryella.!


Semua ini terjadi gara-gara kamu.! kamulah


yang pantas di salahkan untuk semua ini.!"


Geram Nathan seraya menarik pinggang Aryella


kemudian mencengkram tengkuk nya. Wajah


mereka kini bersentuhan, saling menatap kuat.


"Berhentilah berharap padanya. Karena hati


dan cintanya sekarang sudah milik orang lain.!"


"Aku tidak percaya semua itu, darimana kamu


tahu semua ini..?"


"Aku melihat sendiri bagaimana mereka saling


mencintai dan tidak mungkin terpisahkan.!"


"Hoohh..jadi begitu.? bulsit.! aku yakin Kiran


hanya terpaksa menikahi pria itu..! ayahmu


yang telah melakukan pemaksaan ini..!"


"Ayah tidak tahu apa-apa soal ini. Mereka


berdua bertemu murni karena jodoh..!"


"Cukup Aryella..! aku tidak percaya apapun


yang keluar dari mulut manismu ini..!"


Desis Nathan seraya menekan tengkuk Aryella


hingga kini bibir mereka bersentuhan, napas


keduanya seakan menyatu.


"Aku masih mencintaimu Nathan..pandangan


lah aku sekali saja ! jangan mengejar bayangan


yang tidak pasti. !"


Nathan menatap kuat wajah cantik Aryella.


Dengan kasar dia ******* bibir merah Aryella


dan menciumnya dengan buas. Aryella hanya


bisa membulatkan matanya mendapat serangan


liar Nathan. Belum lepas dari kekagetannya tiba-


tiba Nathan mendorong tubuh Aryella ke atas


meja, menidurkan nya paksa.


"Nathan.. apa yang kau lakukan..? lepaskan


aku..aakkhh..!"


Aryella memekik ketika tanpa aba-aba Nathan


menarik paksa gaunnya lalu melucuti pakaian


dalamnya, kedua tangan Aryella di kunci di atas kepala, wajah Nathan yang di penuhi kabut


samar antara hasrat dan amarah kini bermain


liar di dada Aryella.


"Lepaskan aku Nathan..dasar brengsek..!"


"Bukankah kamu kesini hanya untuk ini, maka


akan aku berikan sesuai keinginan mu..!"


"Aakkhh..Nathaann... brengsek kamu..!"


"Puaskan aku sekarang juga Aryella..!"


"Akkhh Nathan... lepaskan aku..kau benar-


benar telah menghinaku..akkhh...!"


Aryella menjerit tertahan seraya memejamkan


mata saat Nathan sudah membenamkan milik


nya ke dalam tubuh nya membuat dia langsung


mengejang dan bergetar merasakan kenikmatan


yang kini sudah merasuk ke seluruh tubuhnya.


Nathan bergerak liar dan buas mengekspor tubuh Aryella dengan berbagai posisi, di mulai dari atas


meja, kemudian membawanya duduk di atas


kursi kerjanya. Dan Aryella pun kini tidak bisa


lagi bertahan dia akhirnya melayani segala


hasrat Nathan dengan sama panasnya.


Desahan dan erangan kini memenuhi ruangan


yang sudah berantakan itu. Suasana berubah


panas membara dengan pemandangan yang


cukup menyakitkan mata.


Nathan membawa tubuh polos Aryella keatas


sofa untuk menuntaskan segala hasrat nya.


Menindih dan mengurungkan nya tanpa ampun.


Dia benar-benar seperti orang yang kesetanan.


Karena dorongan emosi yang berlebih dan hati


yang terpusat pada satu orang dia merasa saat


ini sosok Kiran seolah-olah menjelma sedang


berada di bawah nya, dalam kekuasaannya.


Permainan nya semakin lama semakin liar dan


intens dengan gerakan tidak beraturan hingga membuat Aryella menjerit kecil dan melenguh panjang. Akhirnya setelah cukup lama Nathan


sukses juga mencapai puncak penuh kepuasan


namun dia masih mencoba untuk menggerakkan tubuhnya dengan menggeram kuat.


"Aakkhh..Nathan.. sudah hentikan..aku..aku


sedang mengandung anakmu..!"


Gerakan Nathan langsung terhenti seketika.


Mata mereka bertemu, Nathan tampak kaget.


Dia segera menarik dirinya dari atas tubuh


Aryella yang lemah.


"Apa yang kau katakan..? kau jangan bercanda


Aryella..!"


Nathan berdiri, merapihkan celana nya dan


memakai kembali kemejanya. Dia meraih gaun


Aryella dari atas meja lalu melempar nya keatas


pangkuan Aryella.


"Aku tidak bercanda..! itu benar..! aku sedang


mengandung anakmu sekarang..!"


"Hahaa..kau pikir aku akan percaya pada wanita


murahan seperti mu.? aku tidak bodoh Aryella.!"


"Aku tidak pernah tidur dengan laki-laki mana


pun Nathan..! hanya kamu satu-satunya..!"


Nathan terdiam, dia memang mengakui waktu


berhubungan pertama kali dengan gadis itu


dia masih dalam keadaan suci.


"Ohh shit ! aku tidak bisa Aryella.! bukankah


sudah aku bilang kita melakukan nya atas dasar


suka sama suka tanpa ada unsur mengikat.!"


Aryella berdiri, merapihkan gaunnya yang kini


sudah kembali membalut tubuhnya. Dia menatap


tajam wajah Nathan yang memalingkan muka.


"Aku juga tidak ingin ini terjadi..tapi semuanya


di luar keinginanku..! kenyataannya sekarang


aku sedang hamil anak mu.! anak mu Nathan.!"


"Aku tidak akan bertanggung jawab Aryella.!


Kau bukanlah wanita yang kuinginkan untuk


menjadi pendamping hidupku.!"


"Berhentilah menjadi pengecut Nathan..! Kalau


benar kau mencintai Kiran.. biarkan dia tenang


dan bahagia dengan kehidupannya sekarang.


Jadilah laki-laki sejati..!"


"Gugurkan kandungan mu..! aku akan memberi


berapapun yang kau mau..! asal jangan minta


aku bertanggung jawab atas kehamilan mu itu.!"


Aryella membeku di tempat, matanya tampak


membulat sempurna. Dia benar-benar tidak


menduga Nathan akan berbicara sepahit ini.


Air matanya berjatuhan satu persatu menyusuri


pipi nya yang memucat.


"Kau.. benar-benar brengsek Nathan..! Jadi aku


sudah melakukan hal benar dengan menjauhkan


Kiran ku yang berharga dari laki-laki brengsek


semacam kamu..!"


Aryella meraih sesuatu dari dalam tas nya lalu


meletakkan nya di tangan Nathan.


"Ini adalah anakmu..darah daging mu Tuan


Nathan Wiranata yang terhormat..!"


Desis Aryella dengan menepis kasar air mata


nya, setelah itu dia berbalik kemudian berlalu


keluar ruangan dengan derai air mata. Nathan


mematung di tempat menatap nanar hasil


lab kehamilan Aryella. Dia meremas kertas itu


kemudian membanting tubuhnya keatas sofa.


Dia menutup wajahnya seraya memejam kuat..


 


**********


 


TBC.....