
***********
Besok sore nya ternyata benar Hoshi datang
lagi ke taman bunga sakura itu. Kali ini dia
datang bersama dengan seorang sensei
kepercayaan Tuan Hasimoto. Hoshi memberi
alasan bahwa dia memiliki hutang nyawa pada seseorang dan harus memberikan sesuatu
sebagai tanda ucapan terimakasih. Unsur balas
budi itulah yang tidak bisa di bantah oleh Tuan
Besar Hasimoto. Hal itu merupakan sebuah
beban bagi seorang ksatria samurai sejati.
Namun Tuan Hasimoto hanya memberi satu kesempatan saja pada Hoshi untuk menemui
sang penolong nya tersebut, dan tidak ada lagi
lain kali. Itupun dengan syarat Hoshi harus dio
temani oleh sensei dari klan samurai nya. Mau
tidak mau Hoshi menurutinya, demi bisa pergi
menemui Sachi. Tapi Hoshi meminta mereka
semua untuk menjaga jarak dari dirinya agar
dia bisa bebas bersama dengan Sachi.
Sudah setengah jam Hoshi menunggu Sachi di
jembatan merah, tapi gadis kecil bermata indah
itu belum juga kelihatan batang hidungnya. Dia
mulai resah, sudah sejak semalam dirinya tidak
bisa memejamkan mata karena bayangan wajah
imut dan menggemaskan Sachi selalu menggoda
di pelupuk matanya. Entah kenapa Hoshi tidak
bisa melupakan semua gerak gerik dan tawa
riang gadis kecil itu. Dia seakan menemukan
dunia baru setelah bertemu dengan gadis ini.
Ada dorongan yang sangat hebat dalam dirinya
untuk bangkit dan keluar dari semua peraturan
yang di jeratkan sang ayah pada dirinya.
"Kak Hoshi...."
Hoshi menatap senang kearah kedatangan Sachi
yang sedang tersenyum lebar kearahnya dengan
mata yang hidup berkilauan penuh semangat.
Keduanya mendekat, Hoshi masih menatap lekat
gadis kecil itu yang sore ini mengenakan setelan
celana dan kaos serta sepatu boots di padu manis
dengan mantel tebal warna pink, sangat cantik.
Rambutnya yang indah di gelung manis di atas
kepalanya.
"Apa kabar Sachi..?"
"Baik Kak.. kakak bagaimana.?"
"Aku baik sekali. Kamu datang sama siapa.?"
"Ayah..tuh..ada di sana..!"
Sachi menunjuk ke arah seorang pria tinggi
yang sedang berdiri mengawasi di bawah pohon
sakura tidak jauh dari jembatan. Hoshi tampak
membungkuk sedikit kearah pria itu yang juga
membalasnya dengan menunduk sedikit.
"Ayo kita kesana..kita cari sesuatu..!"
Hoshi menggengam tangan Sachi kemudian
menariknya untuk berjalan ke tempat yang ada
stan makanan nya, dimana di sana ada banyak
cemilan dan jajanan yang di jual bebas .
Sachi tampak senang mendapat traktiran dari
remaja tampan itu. Keduanya berjalan ringan
menyusuri taman dengan tawa riang sesekali
terdengar dari mulut Sachi membuat Hoshi
tambah semangat. Tidak sekalipun remaja
itu melepas genggaman tangannya.
Keduanya kini duduk di atas bangku taman di
bawah pohon sakura yang sedang mekar-mekar
nya hingga bunganya berjatuhan di atas kepala
Sachi membuat gadis kecil itu tertawa senang
seraya menengadahkan tangan nya menahan
bunga-bunga tersebut. Hoshi tampak menatap terkesima saat melihat Sachi mendongakkan kepalanya dengan bibir yang tiada henti tertawa. Matanya yang indah bercahaya di padu dengan
bentuk wajah yang sangat sempurna, terlihat
begitu cantik dan mungil membuat hati Hoshi berdebar tidak karuan.
Tangan Hoshi bergerak mengambil bunga-bunga
cantik itu dari kepala Sachi membuat mata mereka
bertemu. Bibir mungil Sachi dengan deretan gigi
putih yang tersusun rapi dan menarik tampak
tiada henti menyunggingkan senyum manis.
"Sachi.. apa kita bisa bertemu lagi nanti..?"
Hoshi bertanya dengan tatapan tidak lepas
dari wajah mungil Sachi yang mengerjap cantik
membuat Hoshi tertegun. Tangannya masih
ada di kepala Sachi. Tangan mungil gadis kecil
itu meraih tangan Hoshi, menatapnya lugu.
"Aku gimana ayah saja..kalau kata ayah boleh
nanti aku kesini lagi.."
"Aku akan bicara nanti pada ayahmu..!"
Sachi mengangguk. Hoshi meraih sesuatu dari
balik saku mantelnya, mengeluarkan sebuah
kalung perak yang sangat cantik. Perlahan dia melingkarkan kalung tersebut di leher Sachi
yang terdiam seraya menatap kalung itu.
"Apa ini Kak..? apa ini buat aku..?"
Hoshi memegang bahu Sachi, menatap lekat
wajah imut gadis kecil itu yang sedang fokus
pada kalung di lehernya.
"Ini khusus aku buat untukmu..pakailah.! dan
apapun yang terjadi jangan pernah membuang
atau menghilangkan nya..Oke..?"
Sachi menatap mata Hoshi yang terlihat sangat
serius dengan tatapan tajam yang menusuk.
Dia mengangguk yakin seraya tersenyum.
"Baiklah Kak.. terimakasih ya.. kalungnya
sangat cantik."
"Tidak secantik kamu bunga sakura ku..!"
Desis Hoshi tanpa sadar, Sachi menatap wajah
Hoshi dengan ekspresi geli.
"Kakak bilang apa..?"
"Ahh..bukan apa-apa..ayo kita jalan lagi sebelum
kamu pulang..!"
Tergagap Hoshi menjawab dengan wajah merah.
Dia meraih tangan Sachi, menggengam nya kuat, kemudian mereka kembali berjalan. Sachi tampak
berjalan riang setengah berjingkrak di samping
Hoshi yang hanya bisa tersenyum puas.
Hoshi tidak sadar di belakang mereka sensei
yang menemaninya melaporkan semua gerak
gerik dirinya secara live lewat hidden camera
pada sang Tuan Besar Hasimoto..
Seminggu kemudian....
Akhir pekan seperti janjinya pada Sachi, dengan
segala usaha yang sangat keras, Hoshi bisa
keluar juga dari istana, seperti biasa dengan
mengelabui para pengawal. Sesungguhnya
bukan karena mereka lengah tapi semua nya
sudah di skenario oleh Tuan Hasimoto.
Namun Hoshi harus menelan kekecewaan yang
teramat pahit karena sampai malam hari sosok
mungil Sachi tidak juga muncul di taman. Sudah
6 jam lebih Hoshi menanti kemunculan Sachi.
Tapi hingga waktu menunjukan pukul 9 malam
Sachi tidak jua datang. Hal itu membuat Hoshi
kecewa tapi juga di telan kemarahan yang kini
membakar jiwanya.
Para petugas taman mendatangi Hoshi karena
waktu penutupan tempat akan di mulai sesaat
lagi. Hoshi hanya menunjukkan sebuah kartu
emas yang membuat para petugas itu terdiam
tak berkutik. Mereka semua minggir, menemani
Tuan muda Hasimoto tersebut yang sedang di
rundung murka.
"Sachi... kemana kamu..!"
Desis Hoshi seraya mengacak rambutnya. Dia
berteriak kencang melepaskan kekesalannya.
"Hoshi.. ayo pulang..!"
Ada suara bariton di samping nya. Hoshi melirik,
sosok gagah sang ayah kini sudah berdiri tegak
di sebelahnya. Dia menatap nanar wajah sang
ayah, kemudian berdiri, berhadapan dengan
sang ayah. Mereka saling menatap kuat seolah
mengadu kekuatan.
"Mulai besok..aku akan mempelajari semua hal
yang ayah larang selama ini..!"
Tegasnya sambil kemudian melangkah cepat.
Tuan Hasimoto mengerjap, bukan ini yang dia
rencanakan. Dia yakin Hoshi akan kecewa dan
melupakan gadis kecil itu.
Tapi ternyata semua nya merupakan awal yang
berbeda dari seorang Hiroshi Hasimoto...
Sejak itulah Hoshi menjadi sosok yang berbeda.
Dia berdiri sendiri, bersebrangan dengan sang
ayah. Tidak ada lagi peraturan, tidak ada lagi
ketaatan dan anak yang penurut. Selama dua
tahun Hoshi mempelajari ilmu bela diri tanpa
henti, dia mengejar semua yang tertinggal..
*** Flashback Off ...
"Karena itulah aku dengan ayah bertentangan..
Ayah merasa kalau kamu adalah penyebab aku berubah dan membangkang..!"
Agra mempererat pelukannya. Kiran mendongak
menatap dalam wajah tampan suaminya itu.
"Lalu bagaimana aku bisa berada di hadapan
mereka, kalau akulah penyebab semua konflik
yang terjadi diantara kalian.."
"Semua tidak ada hubungannya denganmu.
Siapa yang dapat menentang Kuasa Tuhan atas
nama cinta. Semuanya tumbuh begitu saja, aku
benar-benar tidak bisa melupakanmu..aku gila
karena memikirkan keberadaan mu Sachi..!"
Bisik Agra dengan suara yang semakin berat.
Mata mereka terpejam seiring bibir yang saling
bertaut, saling ******* lembut, manis penuh
dengan cinta dan kemesraan. Keduanya hanyut
dalam buaian kehangatan ciuman yang semakin
lama semakin panas. Kiran sudah mulai merasa
ada gelagat aneh di bawah sana, sesuatu yang
kini dia duduki sudah bangun dan meronta.
"Kita ke kamar sayang..aku tidak tahan..!"
Bisik Agra parau dan bergetar. Wajah Kiran kini
memerah, dia menggeleng pelan, meraup wajah
Agra yang sudah merah menggoda.
"Aku harus memasak sekarang. Tinggal satu
langkah lagi buatku agar benar-benar layak
menjadi seorang Nona Muda Hadiningrat..!"
"Kau sudah lebih dari layak sayang.."
"Tapi semuanya tetap harus ku jalani, aku tidak
bisa mengecewakan Eyang..!"
"Tapi bagaimana dengan ku ini..!"
"Sabarlah..nanti malam kau bisa melakukan
semuanya sepuas mu..!"
Kiran mengecup lembut bibir Agra setelah itu
dia bangkit berdiri. Agra memegang tangannya
dengan wajah yang merajuk. Kiran menggeleng
kuat dengan senyum lembut . Akhirnya Agra
terpaksa membiarkan Kiran pergi kearah dapur
untuk menjalankan tugas terakhir nya.
***** ******
Kantor CEO Global Company....
Kondisi dalam ruangan saat ini tampak kacau
dan berantakan. Berkas-berkas berhamburan
di lantai, berbagai pajangan hancur berkeping-
keping. Sang asisten pribadi CEO berdiri mepet
bos nya yang sedang meluap-luap. Beberapa
saat lalu Nathan melihat rilis berita tentang
Kiran yang di jemput hormat oleh Nyonya
Besar Hadiningrat sebagai menantunya.
Nathan tampak berdiri menunduk di dekat
kursi kerja nya. Kedua tangannya tertumpu di
atas meja dengan napas yang memburu. Dia
baru saja selesai meluapkan segala emosi
jiwanya pada apapun yang ada di dekatnya.
"Jadi..Bimantara adalah laki-laki yang telah
berani mengambil mu dari tanganku Kiran..!
Bagaimana semua ini bisa terjadi, aku yakin
Zein Mahesa lah yang telah menjual mu pada
orang itu..!"
Desis Nathan seraya menjatuhkan dirinya di
atas kursi kebesarannya. Dia memukulkan
tinjunya berulangkali ke atas meja. Matanya
menyala di bakar api Angkara murka.
"Arnold..Kau atur jadwal pertemuanku dengan
orang itu, besok pagi aku sudah harus bertemu
dengannya.!"
Titah Nathan pada sang asisten yang tampak
menatap takut-takut padanya sedikit bingung
dan ragu.
"Maksud anda jadwal bertemu dengan Presdir
Bintang Group Tuan..?"
"Kau pikir dengan siapa lagi ? aku harus segera membuat perhitungan dengannya..!"
"Tapi tuan..tidak bisa sembarang membuat
jadwal pertemuan dengannya..!"
Nathan kembali memukulkan tinjunya keatas
meja membuat sang asisten terlonjak kaget.
"Katakan saja ada urusan pribadi menyangkut
istrinya, dia tidak akan menolak ku.!"
"Ba-baik Tuan.. saya akan atur jadwalnya.."
Sahut sang asisten seraya kemudian berlalu
keluar dari dalam ruangan. Nathan meremas
kepalanya. Bayangan wajah cantik Kiran terus
saja menggodanya membuat dia semakin
merasa tersiksa dan frustasi sendiri. Hatinya
semakin terasa sakit saat membayangkan
saat ini Kiran sudah benar-benar di miliki oleh
laki-laki berkuasa itu. Wanita yang selama ini
mati-matian untuk tidak di sentuhnya karena
ingin dia miliki secara utuh pada saat malam
pertama pernikahan sekarang dia malah jatuh
dan menjadi milik orang lain.
"Aahh....Kiran.. kenapa kamu melakukan ini
padaku.! tidak tahukah kamu kalau aku sangat
mencintaimu..aku tidak bisa hidup tanpa mu.!"
Desis Nathan menjatuhkan kepalanya di atas
meja. Rasa sakit hati kini menenggelamkan
dirinya pada kekecewaan dan dendam.
"Tidak ada gunanya kau menyesali semuanya.
Saat ini dia sudah bahagia bersama suaminya."
Nathan mengangkat kepalanya saat mendengar
suara yang sangat dingin di sampingnya. Dia
menatap sosok tinggi semampai dengan wajah
cantik sedikit memucat tengah berdiri tidak jauh
dari tempat duduknya.
"Mau apa kau kesini ? aku sedang tidak ingin
di ganggu !"
Ketus Nathan dengan tatapan tidak suka pada
gadis cantik itu yang tiada lain adalah Aryella.
"Kau bukanlah tandingan pria berkuasa itu.
Kiran memang lebih pantas bersamanya. !"
"Apa maksudmu..? kau pikir laki-laki itu lebih
baik dariku untuk Kiran.?'"
"Tentu saja ! di lihat dari segi apapun laki-laki
itu memang jauh lebih baik darimu..!"
"Brengsek..! hentikan ocehan mu ini Aryella.!
Semua ini terjadi gara-gara kamu.! kamulah
yang pantas di salahkan untuk semua ini.!"
Geram Nathan seraya menarik pinggang Aryella
kemudian mencengkram tengkuk nya. Wajah
mereka kini bersentuhan, saling menatap kuat.
"Berhentilah berharap padanya. Karena hati
dan cintanya sekarang sudah milik orang lain.!"
"Aku tidak percaya semua itu, darimana kamu
tahu semua ini..?"
"Aku melihat sendiri bagaimana mereka saling
mencintai dan tidak mungkin terpisahkan.!"
"Hoohh..jadi begitu.? bulsit.! aku yakin Kiran
hanya terpaksa menikahi pria itu..! ayahmu
yang telah melakukan pemaksaan ini..!"
"Ayah tidak tahu apa-apa soal ini. Mereka
berdua bertemu murni karena jodoh..!"
"Cukup Aryella..! aku tidak percaya apapun
yang keluar dari mulut manismu ini..!"
Desis Nathan seraya menekan tengkuk Aryella
hingga kini bibir mereka bersentuhan, napas
keduanya seakan menyatu.
"Aku masih mencintaimu Nathan..pandangan
lah aku sekali saja ! jangan mengejar bayangan
yang tidak pasti. !"
Nathan menatap kuat wajah cantik Aryella.
Dengan kasar dia ******* bibir merah Aryella
dan menciumnya dengan buas. Aryella hanya
bisa membulatkan matanya mendapat serangan
liar Nathan. Belum lepas dari kekagetannya tiba-
tiba Nathan mendorong tubuh Aryella ke atas
meja, menidurkan nya paksa.
"Nathan.. apa yang kau lakukan..? lepaskan
aku..aakkhh..!"
Aryella memekik ketika tanpa aba-aba Nathan
menarik paksa gaunnya lalu melucuti pakaian
dalamnya, kedua tangan Aryella di kunci di atas kepala, wajah Nathan yang di penuhi kabut
samar antara hasrat dan amarah kini bermain
liar di dada Aryella.
"Lepaskan aku Nathan..dasar brengsek..!"
"Bukankah kamu kesini hanya untuk ini, maka
akan aku berikan sesuai keinginan mu..!"
"Aakkhh..Nathaann... brengsek kamu..!"
"Puaskan aku sekarang juga Aryella..!"
"Akkhh Nathan... lepaskan aku..kau benar-
benar telah menghinaku..akkhh...!"
Aryella menjerit tertahan seraya memejamkan
mata saat Nathan sudah membenamkan milik
nya ke dalam tubuh nya membuat dia langsung
mengejang dan bergetar merasakan kenikmatan
yang kini sudah merasuk ke seluruh tubuhnya.
Nathan bergerak liar dan buas mengekspor tubuh Aryella dengan berbagai posisi, di mulai dari atas
meja, kemudian membawanya duduk di atas
kursi kerjanya. Dan Aryella pun kini tidak bisa
lagi bertahan dia akhirnya melayani segala
hasrat Nathan dengan sama panasnya.
Desahan dan erangan kini memenuhi ruangan
yang sudah berantakan itu. Suasana berubah
panas membara dengan pemandangan yang
cukup menyakitkan mata.
Nathan membawa tubuh polos Aryella keatas
sofa untuk menuntaskan segala hasrat nya.
Menindih dan mengurungkan nya tanpa ampun.
Dia benar-benar seperti orang yang kesetanan.
Karena dorongan emosi yang berlebih dan hati
yang terpusat pada satu orang dia merasa saat
ini sosok Kiran seolah-olah menjelma sedang
berada di bawah nya, dalam kekuasaannya.
Permainan nya semakin lama semakin liar dan
intens dengan gerakan tidak beraturan hingga membuat Aryella menjerit kecil dan melenguh panjang. Akhirnya setelah cukup lama Nathan
sukses juga mencapai puncak penuh kepuasan
namun dia masih mencoba untuk menggerakkan tubuhnya dengan menggeram kuat.
"Aakkhh..Nathan.. sudah hentikan..aku..aku
sedang mengandung anakmu..!"
Gerakan Nathan langsung terhenti seketika.
Mata mereka bertemu, Nathan tampak kaget.
Dia segera menarik dirinya dari atas tubuh
Aryella yang lemah.
"Apa yang kau katakan..? kau jangan bercanda
Aryella..!"
Nathan berdiri, merapihkan celana nya dan
memakai kembali kemejanya. Dia meraih gaun
Aryella dari atas meja lalu melempar nya keatas
pangkuan Aryella.
"Aku tidak bercanda..! itu benar..! aku sedang
mengandung anakmu sekarang..!"
"Hahaa..kau pikir aku akan percaya pada wanita
murahan seperti mu.? aku tidak bodoh Aryella.!"
"Aku tidak pernah tidur dengan laki-laki mana
pun Nathan..! hanya kamu satu-satunya..!"
Nathan terdiam, dia memang mengakui waktu
berhubungan pertama kali dengan gadis itu
dia masih dalam keadaan suci.
"Ohh shit ! aku tidak bisa Aryella.! bukankah
sudah aku bilang kita melakukan nya atas dasar
suka sama suka tanpa ada unsur mengikat.!"
Aryella berdiri, merapihkan gaunnya yang kini
sudah kembali membalut tubuhnya. Dia menatap
tajam wajah Nathan yang memalingkan muka.
"Aku juga tidak ingin ini terjadi..tapi semuanya
di luar keinginanku..! kenyataannya sekarang
aku sedang hamil anak mu.! anak mu Nathan.!"
"Aku tidak akan bertanggung jawab Aryella.!
Kau bukanlah wanita yang kuinginkan untuk
menjadi pendamping hidupku.!"
"Berhentilah menjadi pengecut Nathan..! Kalau
benar kau mencintai Kiran.. biarkan dia tenang
dan bahagia dengan kehidupannya sekarang.
Jadilah laki-laki sejati..!"
"Gugurkan kandungan mu..! aku akan memberi
berapapun yang kau mau..! asal jangan minta
aku bertanggung jawab atas kehamilan mu itu.!"
Aryella membeku di tempat, matanya tampak
membulat sempurna. Dia benar-benar tidak
menduga Nathan akan berbicara sepahit ini.
Air matanya berjatuhan satu persatu menyusuri
pipi nya yang memucat.
"Kau.. benar-benar brengsek Nathan..! Jadi aku
sudah melakukan hal benar dengan menjauhkan
Kiran ku yang berharga dari laki-laki brengsek
semacam kamu..!"
Aryella meraih sesuatu dari dalam tas nya lalu
meletakkan nya di tangan Nathan.
"Ini adalah anakmu..darah daging mu Tuan
Nathan Wiranata yang terhormat..!"
Desis Aryella dengan menepis kasar air mata
nya, setelah itu dia berbalik kemudian berlalu
keluar ruangan dengan derai air mata. Nathan
mematung di tempat menatap nanar hasil
lab kehamilan Aryella. Dia meremas kertas itu
kemudian membanting tubuhnya keatas sofa.
Dia menutup wajahnya seraya memejam kuat..
**********
TBC.....