Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
34. Teh Hijau


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Kiran mengalah dan tahu diri, dia segera menarik


pandangannya, kembali menundukkan kepala.


Tata tampak bingung, tidak tahu harus berbuat


apa, dia sudah bisa menebak semua situasi ini.


"Sekali lagi maafkan kelancangan saya Nyonya


dan terimakasih telah mengijinkan kami untuk menginap di tempat yang sangat indah ini."


Lirih Kiran seraya kembali membungkukan


badannya. Nyonya Ambar melirik sekilas


lalu kembali memalingkan wajahnya.


"Saya permisi Nyonya.. Assalamualaikum.."


"Pastikan tidak ada barang mu yang tertinggal


ataupun barang yang terbawa.!"


Kiran tidak jadi melangkah, dia kembali melirik


kearah Nyonya Ambar. Hatinya mulai di liputi


oleh kekesalan, apakah semua orang besar


harus bersikap se arogan ini.?


"Kalau anda mau silahkan geledah tas saya


untuk memastikan semuanya."


Mata Nyonya Ambar tampak mengerjap.Raut


mukanya berubah keras cenderung dingin.


"Kalau begitu periksa tasnya..!"


Titah nya pada Tata yang langsung terkejut.


Kiran pun tidak kalah terkejut nya. Ya Tuhan..


jadi dia di samakan dengan maling.? Kiran


berharap Agra melupakan niatnya untuk datang


dan menyusulnya ke tempat ini. Kalau tidak


dia tidak bisa membayangkan reaksi apa yang


akan di perlihatkan oleh suaminya itu.


"Tapi Nyonya..saya sendiri yang mengurus


Nona Kiran semalam.!"


"Jangan membantahku.! cepat periksa tas nya.!"


Dengus Nyonya Ambar. Tata menatap ragu


kearah Kiran yang hanya bisa tersenyum tipis


kearah Tata lalu mengangguk menyerahkan


tas nya.


"Periksalah..tidak apa-apa.."


"Maafkan saya Nona."


Sahut Tata sambil kemudian mulai membuka


tas milik Kiran yang di taruh di atas meja. Sudut


mata nyonya Ambar tampak memperhatikan


apa yang di lakukan oleh pelayan pribadinya itu.


Tata mengeluarkan semua isi tas tersebut


kemudian di simpan di hadapan Nyonya Ambar.


Tatapan Nyonya Ambar langsung menyapu


semua benda yang ada di hadapannya itu


dan berakhir di sebuah benda perak berkilau


yang hampir tersembunyi di balik tumpukan


benda lainnya. Tangan wanita sepuh itu meraih


benda yang berupa kalung perak tersebut.


Kiran terkesiap, tubuh nya bereaksi seketika.


Dia segera mendekat kearah Nyonya Ambar


yang sedang mengamati kalung itu dengan


seksama, matanya tampak memicing sedikit.


Perlahan dia membuka bandul kecil berbentuk


hati yang ada di ujung kalung itu.


Matanya tampak melebar saat dia melihat


kode unik yang tertera di dalamnya dengan


ukiran bunga sakura yang masih nampak


jelas karena terawat dengan sangat baik.


"Mohon maaf nyonya..bisa anda kembalikan


barang itu pada saya.?"


Kiran mengulurkan tangannya dengan sikap


yang sangat sopan ke hadapan Nyonya Ambar.


Namun Tata beserta para pelayan justru terkejut


melihat sikap berani Kiran. Mereka terlihat


was-was dan menggeleng lemah.


Nyonya Ambar melirik tajam kearah Kiran,


menatap wajah cantik gadis itu.


"Buatkan aku racikan teh hijau yang enak.!"


Titahnya sambil kembali fokus pada kalung


rantai perak cantik di tangannya. Kiran tampak


menautkan alisnya bingung.


"Apa yang Nyonya inginkan sebenarnya.?"


Sikap asli seorang Kiran yang keras kepala


akhirnya keluar. Senyum tipis terukir di sudut


bibir wanita tua itu.


"Seberapa penting benda murahan ini bagi


dirimu.? ini hanya kalung tidak berharga.!"


"Bagi Nyonya mungkin itu tidak berharga,


tapi bagi saya kalung itu memiliki nilai


historis tersendiri."


"Kalau begitu kau harus membayar nya.!


buatkan aku teh hijau sekarang juga.!"


"Bukan kah barang itu tidak ada artinya bagi


anda, lalu kenapa saya harus membayarnya.?


itu sangat tidak masuk akal.!"


Ujar Kiran mengeluarkan unek-uneknya.Tata


dan para pelayan kembali terkejut dengan


sikap dan perkataan Kiran, mereka semakin merasakan kecemasan dan ketegangan.


"Aku hanya ingin melihat seberapa penting


nya benda ini untuk mu Nona.!"


"Saya mohon dengan sangat Nyonya, tolong


kembalikan kalung itu pada saya.."


"Lakukan apa yang aku perintahkan barusan.!


apa susahnya bagi kamu.! atau jangan-jangan


kamu tidak bisa membuat nya.."


"Tentu saja saya bisa !"


Debat Kiran dengan suara yang sedikit tinggi


membuat senyum sinis tersungging di bibir


wanita tua itu.


"Kalau begitu buktikan sekarang juga.!"


Ketus Nyonya Ambar acuh. Dia menyimpan


kalung dalam genggamannya. Kiran menatap


wajah Nyonya Ambar mencoba menahan rasa


kesal yang kini mulai merambat naik.


"Apalagi yang kau tunggu Nona Mahesa?"


Kiran tersentak, dia menghembuskan napas


nya perlahan kemudian beranjak ke meja sebelah


dimana di sana terdapat teko cantik dan semua


perlengkapan minuman.


Nyonya Ambar melanjutkan acara sarapan nya


dengan menikmati sebuah hidangan tradisional


kesukaan nya. Tapi sudut matanya sesekali


melihat kearah Kiran yang sedang berkutat


dengan kegiatan meracik teh hijau nya.


Tata masih menahan napasnya, perasaannya


saat ini di penuhi oleh ketegangan. Sebenarnya


apa yang di inginkan oleh Nyonya Besarnya.?


Tidak lama Kiran sudah kembali membawa


secangkir teh racikan nya. Dia menghidangkan


nya di depan nyonya Ambar.


"Duduklah..!"


Titah Nyonya Ambar dengan enteng nya. Kiran


menatap ragu, dia melirik kearah Tata yang


juga sama ragu nya.


"Pendengaran mu masih berfungsi kan.?"


Kiran segera duduk di hadapan Nyonya Ambar


setelah Tata menarik kursi untuknya. Dia meraih


tas di simpan di pangkuan nya.


"Perbaiki cara duduk mu, sebagai seorang


wanita berkelas semua yang kau lakukan akan


selalu menjadi sorotan.!"


Alis Kiran kembali bertaut, tapi akhirnya dia


segera memperbaiki cara duduknya menjadi


lebih tegak namun tetap terlihat anggun dan


luwes. Nyonya Ambar menatapnya sambil


mengulas senyum tak terlihat.


"Apa sekarang saya sudah bisa mengambil


barang nya Nyonya, mohon maaf sebenarnya


saya sedang buru-buru saat ini."


Lirih Kiran kembali bersikap sesopan mungkin.


Nyonya Ambar mulai meraih cangkir teh yang


tadi di hadapan nya. Kiran, Tata dan semua


pelayan seolah menahan napas karena tegang.


Nyonya Ambar mulai menyeruput teh itu dengan


perlahan dan gaya yang sangat apik. Dia mencoba menikmati rasa teh nya membuat semua orang


kembali menahan napas. Kiran menatap cemas


kearah Nyonya Ambar berharap mendapatkan


sambutan yang baik. Ada binar kekaguman yang sempat tersirat dari mata nenek itu tapi kemudian


dia bangkit berdiri.


"Pastikan nanti malam dia kembali menginap


di sini kalau ingin mendapatkan barang nya


kembali.! ujiannya belum selesai.!"


Ucapnya santai sambil kemudian melangkah


acuh di dampingi dua orang pelayan pribadinya.


What ?? apa-apaan ini.? mata Kiran hanya bisa melongo melihat sikap aneh Nyonya Ambar.. seenaknya saja dia memaksakan kehendaknya ! benar-benar mirip sekali dengan Agra.!


Lahh..kenapa jadi membawa-bawa nama Agra !


Kenal juga tidak suaminya dengan nenek itu.!


"Nona.. malam ini anda harus menginap lagi


di sini agar besok pagi bisa menemui Nyonya


Besar kembali."


"Saya akan datang besok pagi saja, tidak perlu


menginap segala ! "


"Tapi Nyonya Besar menyuruh anda untuk


kembali menginap Nona dan itu tidak bisa


di bantah.!"


"Terimakasih sebelumnya Tata, tapi sepertinya


menginap lagi di rumah ini bukanlah sesuatu


yang patut untuk saya lakukan.!"


"Nyonya Besar akan tahu kalau anda tidak


datang untuk menginap, anda akan semakin


kesulitan mendapatkan barang nya kembali."


Terang Tata membuat Kiran menutup wajah


nya di penuhi rasa kesal. Uhh..ada-ada saja !


Kiran beranjak, dia harus segera keluar dari


tempat ini, Agra pasti sudah menunggu nya.


Untung saja suaminya itu tidak ikut datang


menemui nenek tua aneh itu.!


------ ------


Hari ini Kiran dengan keras kepala tetap masuk


kantor walaupun Agra melarangnya. Semula


Agra akan mengantar nya ke rumah orang tua


nya tapi ternyata Kiran memaksa pergi ke kantor


karena ada banyak hal yang harus dia lakukan.


Saat ini mereka berdua sudah ada di dalam


ruang kerja Tuan Zein. Lagi-lagi Lia dan Sari


di buat terkejut dengan kemunculan Agra


yang datang menemani Kiran. Sebenarnya


bukankah calon suami putri bos mereka itu


adalah CEO nya Global Company ?


"Ini laporan yang anda minta kemarin Bu."


Lia menyimpan sebuah dokumen penting dari


departemen keuangan yang di minta Kiran.


"Terimakasih Lia, kau boleh keluar."


Lia segera membungkuk kemudian berlalu


keluar dari ruangan dengan tidak lupa mencuri


pandang kearah Agra yang sedang duduk santai


di sofa sambil memainkan ponsel nya. Dunia


sudah benar-benar terbalik, wanita sibuk kerja


eehh pria nya malah bersantai ria sambil


ongkang kaki.


"Ini memang ada yang tidak beres.! "


Gumam Kiran sambil mengamati dokumen


yang ada di tangannya. Agra melirik kearah Kiran.


Dia beranjak dari duduknya menghampiri Kiran


lalu melihat apa yang sedang di lihat oleh istri


nya itu. Agra segera mengambil berkas itu lalu


melihatnya dengan seksama.


"Apa kau menemukan sesuatu seperti aku.?"


Tanya Kiran yang kini fokus pada laporan lain


nya masih dari bagian keuangan.


"Siapa akuntan nya ?"


"Aku tidak begitu mengenalnya.."


"Ini harus segera di bereskan, kebocoran ini


sudah terlalu lama di biarkan.! sepertinya


ayah mu terlalu percaya pada orang ini.!"


"Tapi ini sepertinya akan cukup sulit, mereka


sudah mempersiapkan segala kemungkinan


yang bisa saja terjadi.!"


"Itu bukan masalah buatku, kita akan membuat


kejutan manis untuk mereka.!"


"Apa maksudmu.? ini tidak semudah mengurus


masalah keuangan perkebunan Agra.."


Agra hanya tersenyum tipis, menatap wajah


Kiran yang terlihat gusar campur kesal.


"Apa kau meragukan kemampuan ku.?"


"Aku tidak ragu padamu.. tapi sepertinya mereka sudah sangat lihai untuk memanipulasi semua


data realnya Agra..kita tidak punya bukti untuk menjeratnya.!"


Kiran menjatuhkan berkas-berkas tadi di atas


meja kemudian mengurut pelipis nya. Agra


segera meraih tubuh Kiran ke dalam pangkuan


nya membuat Kiran membulatkan matanya.


"Hei..Agra..apa-apaan kau ini.! turunkan aku."


Agra membawa Kiran ke ruangan sebelah yang


biasa di gunakan sebagai tempat istirahat. Dia membaringkan tubuh Kiran dengan hati-hati di


atas sofa besar, lalu mengganjal punggungnya


dengan bantal supaya nyaman bersandar.


"Agra..apa yang kau lakukan.? aku masih


banyak pekerjaan yang harus di selesaikan."


Kiran hanya bisa bengong melihat apa yang


di lakukan oleh suaminya itu. Keduanya kini


saling pandang kuat.


"Apa kau percaya padaku.?"


Kiran terdiam, mata mereka saling menatap.


"Serahkan semuanya padaku. Saat ini kau harus istirahat untuk memulihkan kondisi tubuh mu.


Biarkan aku yang akan menangani semua


masalah penyelewengan dana ini.!"


Kiran hanya bisa bengong menatap Agra sedikit


ragu. Tapi kemudian dia meraup wajah tampan


Agra, menatapnya dalam .


"Ini masalah perusahaan ayahku, aku tidak ingin melibatkan mu Agra..!"


"Ingat, aku di sini untuk menjadi pengawalmu.


Dan itu berlaku untuk semua hal, termasuk


pekerjaan.!"


Kiran terdiam, saat ini dia memang merasakan


kepalanya sedikit pusing, dia juga mengantuk.


"Baiklah kalau kau memang bisa..lakukan lah."


Lirih Kiran sambil melepaskan jemarinya dari


wajah Agra. Dia merebahkan tubuhnya sedikit


ke belakang. Giliran tangan Agra yang kini


mengelus lembut wajah Kiran.


"Hari ini juga aku akan membereskan semua


masalah keuangan di perusahaan ini. Aku ada


kenalan yang ahli menangani masalah seperti


ini, dia bisa bekerja dengan cepat dan akurat.!"


Ucapnya sambil kemudian mengecup lembut


bibir Kiran yang langsung tersipu malu.


"Tidurlah.. serahkan semua nya padaku."


Agra mengelus lembut kepala Kiran kemudian beranjak ke arah meja kerja, meraih laptop dan dokumen yang tadi di periksa oleh Kiran.Setelah


itu kembali ke sofa di mana Kiran berada, duduk


di sebrang nya, jadi dia masih bisa mengawasi


Kiran, dan mulai lah Agra bekerja sementara


Kiran memejamkan matanya, entah kenapa


tiba-tiba saja dia terserang kantuk padahal ini


adalah jam kerja.


Beberapa saat kemudian Agra beranjak ke


sudut ruangan yang berjendela besar. Dia


melakukan panggilan telepon lalu berbicara


dengan seseorang.


"Pastikan sebelum malam semua laporannya


sudah harus kau dapatkan.!"


Titah Agra dengan suara yang sangat dingin.


Sudut matanya melihat kearah Kiran yang masih


tampak memejamkan matanya dengan tenang.


"Baiklah..aku tunggu hasilnya !"


Agra mengakhiri pembicaraan nya. Dia sedikit


tersentak ketika pintu ruangan tiba-tiba saja


terbuka. Dengan segera dia memperbaiki


tampilannya, memakai kembali topi nya.


Ke dalam ruangan muncul Lia yang berdebat


dengan seorang gadis cantik bertubuh tinggi


semampai dengan dress mini yang melekat


erat di tubuh proporsional nya, tampak seksi


dan sangat menarik.


"Aku ingatkan padamu ya Lia.. jangan sok


mengaturku.!"


"Tapi Nona Dhita..."


Ucapan Lia menggantung saat melihat bos


cantiknya itu sedang bersandar manja di sofa


dengan mata yang terpejam rapat.


Mata gadis cantik tadi langsung bertabrakan


dengan mata elang Agra yang sedang berdiri


santai di dekat jendela dengan kedua kaki


menyilang dan punggung yang bersandar ke


dinding ruangan. Nampak santai dan tenang.


Untuk beberapa saat mata gadis itu yang tiada


lain adalah Aryella tampak tidak bisa berkedip.


Dia terpana melihat keberadaan pria maskulin


itu di ruangan ini. Namun tidak lama dia sadar


dari keterpesonaan nya. Agra masih berdiri


pada posisi yang sama, menatap datar kearah


Aryella yang kini mendekat padanya.


Sementara Lia masih berdiri di tempatnya


sambil menatap sedikit kesal kearah Aryella.


"Siapa kau.. kenapa bisa ada di ruang kerja


ayah ku.? "


Tanya Aryella yang kini sudah berdiri di depan


Agra yang menegakkan badannya. Keduanya


saling pandang, jantung Aryella serasa di tabrak


sesuatu saat melihat jelas bagaimana tampan


nya pria ini, hatinya bergetar seketika .


"Aku.. suami kakak mu.!"


Jawab Agra santai sambil kemudian beranjak


dari hadapan Aryella yang membulatkan mata


nya tidak percaya, suaminya Kiran.? Ohh No..!


apa dia adalah suami dadakannya Kiran.?


Aryella memutar badannya melangkah kearah


sofa. Saat ini Agra sudah kembali duduk di sofa


menghadap laptop meneruskan pekerjaannya


membuat Lia menatapnya tidak percaya.


"Lia.. apalagi yang kamu tunggu.? keluar.!"


Ketus Aryella seraya mengibaskan tangannya.


Lia mengangguk kemudian berlalu keluar dari


ruangan. Aryella duduk anggun tumpang kaki


di sofa yang ada di sebelah Agra. Paha putih


mulusnya kini terpampang nyata di depan


mata Agra, tampak begitu menggoda, tatapan


nya mengunci sosok gagah Agra yang tengah


fokus pada laptopnya tidak terganggu dengan


apa yang ada di sebelahnya.


"Apa benar kau suaminya kak Kiran..? atau


kamu hanya salah satu pria simpanan nya.?"


Tanya Aryella mencoba meyakinkan diri. Agra


menghentikan aktifitas nya, menatap sebentar


kearah Kiran yang terlihat mulai terjaga dari


tidurnya.


"Kau bisa bertanya langsung padanya.!"


Jawab Agra acuh cenderung dingin membuat


Aryella semakin penasaran pada laki-laki ini.


Agra kembali pada kesibukannya.


"Kalian menikah dadakan bukan.? apa itu bisa


di sebut sebagai pernikahan.?"


Ujar Aryella, tatapannya tidak lepas dari wajah


tampan Agra yang semakin lama di lihat semakin membuat hatinya berdebar tidak menentu, pria


ini begitu memikat, dia memiliki daya tarik


seksual luar biasa yang mampu membuat


tubuh Aryella memanas seketika.


Agra melirik kearah Aryella, menatapnya tajam


membuat tubuh gadis itu langsung panas dingin


dan merasakan getaran hebat yang merambat


ke seluruh aliran darahnya. Gila.! tatapannya


saja membuat tubuh Aryella bereaksi erotis.


"Bagaimana pun awal kejadiannya.. kenyataan


nya aku adalah kakak ipar mu Nona Aryella..!"


Tegas Agra dengan suara yang sangat berat.


Wajah Aryella memerah. Dia melirik kearah


Kiran yang terlihat membuka matanya.


"Baiklah..tapi aku yakin pernikahan ini hanya


lah sebuah fatamorgana bagi kalian, karena


sebentar lagi dia akan di tarik laki-laki lain.!"


"Aryella..kamu di sini.?"


Agra melihat kearah Kiran yang saat ini sedang


menatap tajam wajah Aryella, sementara mata


gadis itu tidak terlepas dari sosok Agra..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....