
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Kiran berjalan cepat di koridor rumah sakit
tidak peduli sambutan dan sapaan hormat
dari para staf rumah sakit yang terkejut
melihat kedatangan dirinya ke tempat ini.
Saat ini dia sedang terburu-buru, hatinya
di liputi oleh kekhawatiran.
"Tunjukkan saya ruang perawatan Aryella..!"
Pinta Kiran pada Dokter Rey yang baru saja
muncul menyambut kedatangan nya.
"Mari Nona ikuti saya.."
Dokter Rey membimbing langkah Kiran kearah
kamar perawatan Aryella. Setengah jam lalu
Kiran mendapat telepon dari ayah nya bahwa
Aryella mengalami pendarahan hebat karena
terjatuh di tempat kerja nya, akibatnya janin
yang di kandung nya tidak bisa di selamatkan.
Selain kabar duka ada hal lain yang membuat
Kiran terkejut, yaitu fakta bahwa Aryella dan
Nathan sudah melangsungkan pernikahan
secara diam-diam saat Kiran sedang pergi ke
luar negeri. Dirinya sengaja tidak di beritahu
karena tidak ingin mengganggu acara nya.
Mata Kiran bersirobos tatap dengan mata
Nathan yang sedang duduk bersandar lemas
di sofa ruangan begitu Kiran masuk ke sana.
Keduanya untuk sesaat saling menatap kuat.
Masih tersisa sorot mata penuh kerinduan
dan cinta yang terpancar dari tatapan Nathan.
Namun Kiran berusaha untuk tidak peduli.
Saat ini di dalam ruangan itu hanya ada dua
orang tersebut, Nathan dan Aryella karena
orang tua mereka sudah pulang.
Kiran segera menghampiri Aryella yang
sedang terbaring lemah. Keduanya saling
berpelukan erat dengan air mata yang kini
tidak terbendung mengalir deras membasahi
wajah keduanya.
"Kenapa bisa terjadi hal seperti ini Aryella.?
Apa kamu kurang hati-hati.?"
Omel Kiran saat mereka sudah melepaskan
pelukannya, dia tampak duduk di kursi samping
ranjang pasien lalu mengusap lembut tangan
Aryella yang terpasang selang infus. Saat ini
wajah Aryella terlihat pucat tak bersemangat.
"Mungkin ini adalah karma. Karena kami tidak
pernah menginginkan kehadiran anak ini. Jadi
Tuhan pun tidak rela untuk memberikan nya."
Lirih Aryella sambil menunduk sedih. Nathan
tampak mendekat kearah mereka berdua.
"Kau tidak boleh berburuk sangka pada apa
yang sudah di gariskan Tuhan pada kita. Aku
yakin ada sesuatu yang indah di balik ini."
Kiran menguatkan sambil mengusap lembut
rambut Aryella, menatapnya penuh rasa iba.
"Aku hanya merasa bahwa semua ini memang
layak aku dapatkan. Hubungan ini di mulai oleh
sebuah kesalahan dan keterpaksaan.!"
"Sudahlah..yang lalu biarlah berlalu. Aku harap
mulai sekarang kalian bisa belajar untuk saling
menerima satu sama lain.!"
"Apa kau pikir itu mudah untuk di jalani Kiran.?"
Kiran melirik cepat kearah Nathan yang sudah
berdiri di sebelahnya. Pandangan pria itu kini
tercurah pada sosok Aryella yang terlihat
sangat lemah dan tak bergairah.
"Aku pikir tidak ada hal yang mustahil selama
kita mau berusaha dan meyakini nya.!"
"Apakah itu yang terjadi padamu dengan Tuan
Muda terhormat itu ?"
Kiran mendongak, menatap Nathan yang
sedang memandang lurus kearah Aryella.
"Iya..itu yang terjadi padaku. Semuanya bisa
karena biasa, perasaan itu tumbuh karena kami
selalu bersama, saling percaya, saling terima
dan saling membutuhkan satu sama lain.!"
"Aku lihat kau sudah sangat mencintai nya.!
bahkan perasaanmu dulu padaku sepertinya
hanya sekedar angin lalu saja.!"
Kiran terdiam. Aryella menatap wajah Nathan
yang terlihat sangat dingin.
"Itulah sebuah proses perjalanan Nathan. Kita
akan menemukan yang sejati setelah melalui
saat kehilangan dan kesakitan.!"
Nathan menghela napas panjang, menatap
Aryella yang juga sedang menatapnya.
"Aku harap aku bisa melalui proses itu, walau
mungkin akan cukup sulit bagiku.!"
"Aku yakin kamu bisa, belajarlah untuk ikhlas
menerima semua ketentuan Tuhan yang telah
di gariskan kepada kehidupan kita.!"
"Aku akan mencoba nya. Semoga rasa sakit
yang kurasakan karena kehilanganmu bisa
menjadi sebuah kesenangan di masa depan.!"
Ujar Nathan sambil kemudian melangkah keluar
dari ruangan. Kiran dan Aryella saling pandang
lalu tersenyum tipis.
"Pandanglah dia sebagai seseorang yang akan
selalu bersamamu selamanya Aryella. Dia sudah
menjadi suamimu sekarang, panutan mu.!"
Aryella mengangguk, matanya tampak sedikit
bersemangat sekarang, ada harapan yang kini
memercik kuat dalam hatinya.
"Kau benar.. dia suamiku sekarang. Dan aku
akan berusaha untuk meraih hatinya, seperti
dia yang telah merengkuh jiwaku seutuhnya.!"
Kiran tersenyum puas seraya mengangguk
yakin. Keduanya kembali saling berpelukan.
Mereka memang harus saling mendukung.
Setelah cukup lama akhirnya Kiran pamit
pulang karena waktu semakin beranjak malam.
Dia pergi ke rumah sakit ini selepas magrib,
dan sekarang Agra pasti sudah di perjalanan
pulang menuju istana. Dia hanya di beri izin
satu jam saja untuk berada di rumah sakit ini.
"Apa aku perlu mengantarmu..?"
Nathan mencoba menawarkan bantuan. Kiran
menatap jengah kearah Nathan.
"Kau mau berurusan lagi dengan suami ku.?"
Ancam Kiran yang langsung membuat wajah
Nathan berubah kecut. Aryella tersenyum tipis.
"Baiklah..aku lebih baik mencari aman saja.!"
Ucap Nathan sambil memalingkan wajahnya.
Kiran mengulum senyum, menatap pria yang
pernah mengisi seluruh isi hatinya itu.
"Jagalah istri mu baik-baik.! kenikmatan itu
tidak akan di dapatkan kalau kita mencarinya
dengan buru-buru. Begitupun dengan suatu
hubungan rumah tangga..! resapi dan ikuti
perjalanan nya, maka kau akan tahu bedanya."
Ucap Kiran berpidato sebelum akhirnya dia
memeluk Aryella cukup lama. Nathan hanya
bisa merenung dan mencerna ucapan Kiran.
Sungguh wanita yang masih ada di dalam hati
nya ini semakin kesini semakin matang saja.
Akhirnya Kiran keluar dari ruangan, Zack dan
4 pengawal nya sudah menunggu. Mereka
langsung menuju parkiran khusus di basement.
Kiran merebahkan tubuhnya di sandaran jok.
Kini baru terasa bahwa tubuh nya sedikit lelah.
Kepalanya juga terasa berat dengan perasaan
tidak nyaman yang semakin terasa. Dari pagi
dia tiada henti beraktifitas, dan sekarang
tubuh nya benar-benar butuh istirahat.
"Bangunkan aku kalau sudah sampai Zack.!"
Pinta Kiran seraya memejamkan mata mencoba
untuk merilekskan tubuh dan pikirannya.
"Baik Nona..!"
Sahut Zack sambil melihat Nona nya itu lewat
spion tengah. Dia melajukan mobilnya dengan
kecepatan sedang membelah jalanan ibukota
yang masih saja terlihat padat dan bising.
Beberapa saat kemudian...
Zack melajukan mobilnya dengan kecepatan
tinggi ketika tiba di jalanan yang cukup sepi.
Ada 4 mobil penguntit yang kini membayangi
laju mobilnya. Dengan lihai dan profesional
Zack melesatkan mobilnya mencoba untuk
mengecoh mobil penguntit. Dia menggeram
saat menyadari majikannya bisa saja bangun
dari tidur nya, dan Zack terpaksa mengerem
mendadak mobil nya ketika 4 mobil tadi kini
berhasil menghadang laju mobilnya.
Zack mengepalkan tinjunya dengan wajah
yang sudah sedingin es, tatapan nya lurus
ke depan melihat kemunculan beberapa
pria tinggi besar berjas hitam yang kini
sedang berjalan kearah mobil nya. Dia
menyeringai tipis melihat orang-orang itu.
Mobil anak buahnya baru saja tiba di sana.
Dia segera keluar dengan mengunci mobil
terlebih dahulu, memastikan bahwa Nona
Muda nya tenang-tenang saja di dalam. Dia
bersama ke 4 anak buahnya maju dengan
gagah berani.
"Siapa kalian..? ada urusan apa dengan
Nona kami..?"
Tanya Zack sambil meregangkan otot-otot
lehernya dengan tatapan lurus kearah musuh.
"Berikan wanita itu pada kami, maka nyawa
kalian akan selamat..! "
"Ohh.. kalau begitu langkahi dulu mayat kami,
baru lah kalian bisa membawa nya.!"
Tegas Zack dengan seringai iblis nya.
"Banyak bacot ! seraang..!"
Seru pimpinan para penyerang itu sambil
kemudian maju menyerang Zack dan anak
buahnya. Maka terjadilah pertarungan seru
dan sengit diantara mereka.
Kiran membuka mata saat mendengar ada
suara keributan di luar. Matanya membulat
sempurna saat melihat Zack dan 4 orang
pengawalnya sedang bertarung seru dengan
sekitar 12 orang pria berbadan besar. Dia
memekik kaget saat salah seorang dari para
pria berbadan besar itu kini berusaha untuk
memecahkan kaca mobil dengan susah payah
karena memang kaca mobil ini anti pecah.
Kiran meraih ponsel yang dari tadi berdering
dan nomor Agra lah yang kini memanggilnya.
"Ha-hallo Agraa...cepat kesini..kami di serang.!"
sekarang. Ingat jangan keluar dari mobil,
dan tetap tenang..!"
"Baiklah.. cepat datang aku takuutt..!"
"Sebentar lagi aku datang sayang.. kamu
tenang oke.. jangan panik..!"
"Cepat Agra.. mereka banyak sekali aaa...!"
Kiran kembali memekik saat kaca mobil akhir
nya pecah dan pintu berhasil di buka. Dia
menatap tajam kearah seorang pria tinggi
yang kini berusaha untuk menariknya keluar
dari mobil. Dengan gerakan cepat dan reflek
Kiran menendang perut orang tersebut dengan
tenaga penuh, dan dia terkejut sendiri melihat
apa yang terjadi kemudian. Orang itu terlempar
cukup jauh akibat tendangan nya tadi. Kiran
menutup mulutnya tidak percaya dengan apa
yang terjadi.
Orang tadi mencoba untuk berdiri dengan
meringis merasakan sakit di ulu hatinya.
Matanya tampak menatap marah kearah Kiran
yang kini keluar dari mobil. Entah dari mana
datang nya, ada semacam keberanian dalam
diri Kiran saat melihat hal yang tidak terduga
tadi di tengah rasa tidak percaya nya.
"Ohh.. punya nyali juga rupanya Nona Muda
ini.! cihh..! tapi kamu tetap tidak akan lolos
Nona cantik.. Ayo ikut !"
Dengus orang itu yang merupakan pimpinan
para penyerang tadi. Zack terlihat sedikit panik
saat melihat Nona nya kini sudah ada di luar
mobil dan berhadapan dengan pimpinan para
penyerang. Dia harus segera membereskan
lawan-lawannya secepat mungkin.
"Hei.. jangan macam-macam kamu.! siapa
kalian sebenarnya.? "
Seru Kiran dengan tatapan tajam dan sikap
waspada kearah orang tadi.
"Kau tidak perlu tahu siapa kami Nona.. ayo
sekarang menyerah lah.!"
Desis orang itu sambil maju dengan gerakan
cepat ingin membekap Kiran, namun lagi-lagi
saat orang itu mendekat Kiran menggerakan
tangannya mencoba melawan, dengan sekuat
tenaga dia mendorong keras tubuh besar orang
itu yang langsung terlempar ke belakang. Mata
Kiran melebar, apa yang terjadi dengan dirinya.?
Bukan hanya Kiran yang terkejut, bahkan Zack
pun tampak tertegun sebentar hingga serangan
lawan masuk menghantam tubuh nya membuat
dia mundur beberapa langkah. Kini Zack habis
kesabaran, dia segera meningkatkan serangan
nya membabat habis lawan-lawannya.
Kiran mundur, menatap kepalan tangan nya
dengan aneh. Kenapa dia jadi kuat begini.?
Macam robot saja.! dia tersenyum gusar, lalu
menggeleng pelan merasa geli sendiri dengan
isi pikirannya yang sedikit konyol.!
"Hehh.. kamu maju lagi, maka aku pastikan
semua tulang mu rontok semuanya..!"
Ancam Kiran saat melihat orang tadi kembali
berdiri dengan susah payah. Namun tampang
nya kini terlihat ketakutan. Dia mundur perlahan sambil melihat dan mengamati situasi. Di saat bersamaan datang mobil Agra dan mobil-mobil
para pengawalnya membuat orang itu semakin kalangkabut. Mereka berusaha untuk kabur tapi
Zack dan anak buahnya langsung membekuk
mereka yang sebenarnya sudah babak belur.
"Sayang... kamu tidak apa-apa..?"
Kiran langsung masuk kedalam pelukan erat
Agra yang terlihat sangat khawatir.
"Aku tidak apa-apa sayang..!"
"Syukurlah..aku sangat mencemaskan mu..!"
Agra menciumi puncak kepala Kiran sambil
memeluk nya semakin erat.
"Bereskan mereka semua..! jangan sampai
ada informasi yang terlewat.!"
Titah Agra menatap marah pada orang-orang
itu yang kini duduk bersimpuh di atas jalanan.
"Baik Tuan, kita akan tangani mereka.!"
Ujar Zack sambil menyeret orang-orang itu
masuk ke dalam mobil mereka.
Agra segera mengangkat ringan tubuh Kiran
melangkah menuju mobilnya.
"Bara kau urus mereka semua, besok pagi
aku tunggu laporan nya. Kita harus pastikan
ini adalah gangguan terakhir.!"
"Baik Tuan laksanakan..!"
Sambut Bara sambil membungkuk pada saat
Agra sudah duduk di balik kemudi. Kiran kini
sudah merebahkan tubuhnya ke sandaran jok.
Tidak lama mobil mewah itupun mulai melaju
cepat meninggalkan tempat kejadian perkara.
------ -------
Kamar megah Istana utama Hadiningrat....
Agra tampak keluar dari kamar ganti sambil menggendong tubuh Kiran yang baru saja
selesai membersihkan diri. Untuk acara mandi bersama kali ini dia bisa bebas dari terkaman suaminya itu karena melihat kondisinya yang
masih sedikit trauma. Perlahan dan hati-hati
Agra membaringkan tubuh lelah istrinya itu
diatas tempat tidur, menatapnya lekat penuh
cinta.
Saat ini Kiran mengenakkan gaun malam
panjang bermotif warna soft pink yang sangat
cantik melekat manis di tubuh indahnya.Untuk
sesaat Agra tampak menelan salivanya berat, berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan
hasrat dan keinginan memiliki istrinya itu
malam ini.
Kiran menatap lembut wajah tampan Agra
yang kini berdiri di pinggir tempat tidur.
"Tubuhku lelah sekali sayang..aku ingin tidur
sekarang juga..!"
"Kau tidak boleh tidur dulu sayang..perutmu
harus diisi dulu..!"
"Tapi aku sudah mengantuk. ! aku benar-benar
butuh istirahat sekarang !"
"Aku mohon isilah sedikit saja sayang, Tata
sudah menyiapkannya.!"
"Aku tidak berselera sayang.. perutku rasanya
tidak nyaman. Sepertinya masuk angin.!"
Kiran memejamkan matanya yang memang
terasa begitu penat dan lelah. Agra menatap
diam wajah cantik istrinya itu. Dia pun naik
ke atas tempat tidur, menarik tubuh Kiran ke
dalam dekapannya, memeluk nya erat seraya
menciumi puncak kepala nya penuh sayang.
"Maaf sayang..lagi-lagi kamu harus mengalami
kejadian tidak mengenakan ini. Tapi aku janji
ini adalah yang terakhir..!"
Lirih Agra berat, rahang nya tampak mengeras.
Dirinya benar-benar geram mengingat apa yang
terjadi barusan. Dia harus segera membereskan
biang keladinya.
"Sepertinya itu sudah menjadi resiko bagiku
karena memilih menjadi istrimu..!"
Gumam Kiran sambil melingkarkan tangan
nya di punggung kokoh Agra yang langsung
memejamkan matanya menahan serbuan
hasrat yang kini mulai menanjak. Keduanya
terdiam saling memeluk erat.
"Tuan..makan malam sudah saya taruh di
ruang samping !"
Suara Tata terdengar dari ruang santai. Agra
mengangkat sedikit kepalanya.
"Tata, besok pagi siapkan rempah khusus
racikan Eyang, Kiran membutuhkan nya.!"
Tata tampak menautkan alisnya.
"Apakah Nona cedera Tuan..?"
"Tidak.! dia hanya memerlukan nya untuk
memulihkan kondisi fisiknya.!"
"Baik Tuan besok pagi saya siapkan."
"Hemm..kau boleh keluar sekarang.!"
"Baik Tuan saya permisi.."
Sahut Tata sambil kemudian membungkuk.
Setelah itu dia berlalu keluar dari kamar.
Agra meraih ponsel yang bergetar diatas nakas.
Nama Bara tertera di layar, perlahan dia bangkit,
dengan hati-hati melepaskan rengkuhan nya di
tubuh Kiran yang kini sudah terlelap tenang.
Agra segera menjauh dari tempat tidur, tapi
tatapan nya masih belum lepas dari Kiran.
"Bagaimana..apa kalian sudah memastikan
semuanya.? ini semua ulah wanita itu kan.?"
Agra berbicara dengan sedikit di tekan. Dia
berdiri di balkon, memandang jauh ke depan
menembus gemerlap nya lampu taman.
"Benar Tuan.. mereka adalah orang-orang
bayaran nya Nona Mikhayla..!"
"Hemm..dia tidak mengindahkan peringatan
ku rupanya.! baiklah aku tidak akan memberi
toleransi lagi padanya ! Dia juga sudah berani
memasukan tikus kecil ke dalam kantor ku.!"
"Besok saya akan menyiapkan semua file
yang anda butuhkan..!"
"Kita akan lihat dulu, permainan apa yang
akan di lancarkan oleh suruhan nya itu.! dia
sudah berani menyentuh daerah pribadi ku.!"
"Baik Tuan.. jadi kita akan menunggu sampai
mereka melancarkan aksi nya.?"
"Hemm..kita tunggu sampai acara Meet Night
berlangsung.! aku yakin mereka menunggu
waktu yang tepat.! "
"Baik Tuan. ! selamat malam..!"
Agra menutup telponnya, bibirnya tersenyum
miring dengan tatapan menerawang jauh.
"Mikhayla..kau sendiri yang memilih jalan ini.
Kamu sudah menghina perasaanku terhadap
istriku.! dan aku akan memberikan ganjaran
setimpal untuk penghinaan mu ini.!"
Desis Agra sambil melipat kedua tangannya
di dada. Dia menghembuskan napas kasar.
Setelah lama akhirnya Agra kembali masuk
ke dalam kamar, naik keatas tempat tidur dan
masuk ke balik selimut. Saat ini dia juga sudah kehilangan selera makan, lebih baik tidur saja.
Perlahan dia kembali menarik tubuh halus
lembut Kiran ke dalam pelukannya. Kemudian
mendaratkan ciuman mesra di bibir ranumnya.
Setelah itu dia mulai memejamkan mata nya,
dan tidak lama sudah terlelap dalam tidur
tenang nya dengan tidak lepas memeluk dan
mengurung tubuh Kiran dalam dekapannya..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....