Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
66. Kehilangan


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Kiran berjalan cepat di koridor rumah sakit


tidak peduli sambutan dan sapaan hormat


dari para staf rumah sakit yang terkejut


melihat kedatangan dirinya ke tempat ini.


Saat ini dia sedang terburu-buru, hatinya


di liputi oleh kekhawatiran.


"Tunjukkan saya ruang perawatan Aryella..!"


Pinta Kiran pada Dokter Rey yang baru saja


muncul menyambut kedatangan nya.


"Mari Nona ikuti saya.."


Dokter Rey membimbing langkah Kiran kearah


kamar perawatan Aryella. Setengah jam lalu


Kiran mendapat telepon dari ayah nya bahwa


Aryella mengalami pendarahan hebat karena


terjatuh di tempat kerja nya, akibatnya janin


yang di kandung nya tidak bisa di selamatkan.


Selain kabar duka ada hal lain yang membuat


Kiran terkejut, yaitu fakta bahwa Aryella dan


Nathan sudah melangsungkan pernikahan


secara diam-diam saat Kiran sedang pergi ke


luar negeri. Dirinya sengaja tidak di beritahu


karena tidak ingin mengganggu acara nya.


Mata Kiran bersirobos tatap dengan mata


Nathan yang sedang duduk bersandar lemas


di sofa ruangan begitu Kiran masuk ke sana.


Keduanya untuk sesaat saling menatap kuat.


Masih tersisa sorot mata penuh kerinduan


dan cinta yang terpancar dari tatapan Nathan.


Namun Kiran berusaha untuk tidak peduli.


Saat ini di dalam ruangan itu hanya ada dua


orang tersebut, Nathan dan Aryella karena


orang tua mereka sudah pulang.


Kiran segera menghampiri Aryella yang


sedang terbaring lemah. Keduanya saling


berpelukan erat dengan air mata yang kini


tidak terbendung mengalir deras membasahi


wajah keduanya.


"Kenapa bisa terjadi hal seperti ini Aryella.?


Apa kamu kurang hati-hati.?"


Omel Kiran saat mereka sudah melepaskan


pelukannya, dia tampak duduk di kursi samping


ranjang pasien lalu mengusap lembut tangan


Aryella yang terpasang selang infus. Saat ini


wajah Aryella terlihat pucat tak bersemangat.


"Mungkin ini adalah karma. Karena kami tidak


pernah menginginkan kehadiran anak ini. Jadi


Tuhan pun tidak rela untuk memberikan nya."


Lirih Aryella sambil menunduk sedih. Nathan


tampak mendekat kearah mereka berdua.


"Kau tidak boleh berburuk sangka pada apa


yang sudah di gariskan Tuhan pada kita. Aku


yakin ada sesuatu yang indah di balik ini."


Kiran menguatkan sambil mengusap lembut


rambut Aryella, menatapnya penuh rasa iba.


"Aku hanya merasa bahwa semua ini memang


layak aku dapatkan. Hubungan ini di mulai oleh


sebuah kesalahan dan keterpaksaan.!"


"Sudahlah..yang lalu biarlah berlalu. Aku harap


mulai sekarang kalian bisa belajar untuk saling


menerima satu sama lain.!"


"Apa kau pikir itu mudah untuk di jalani Kiran.?"


Kiran melirik cepat kearah Nathan yang sudah


berdiri di sebelahnya. Pandangan pria itu kini


tercurah pada sosok Aryella yang terlihat


sangat lemah dan tak bergairah.


"Aku pikir tidak ada hal yang mustahil selama


kita mau berusaha dan meyakini nya.!"


"Apakah itu yang terjadi padamu dengan Tuan


Muda terhormat itu ?"


Kiran mendongak, menatap Nathan yang


sedang memandang lurus kearah Aryella.


"Iya..itu yang terjadi padaku. Semuanya bisa


karena biasa, perasaan itu tumbuh karena kami


selalu bersama, saling percaya, saling terima


dan saling membutuhkan satu sama lain.!"


"Aku lihat kau sudah sangat mencintai nya.!


bahkan perasaanmu dulu padaku sepertinya


hanya sekedar angin lalu saja.!"


Kiran terdiam. Aryella menatap wajah Nathan


yang terlihat sangat dingin.


"Itulah sebuah proses perjalanan Nathan. Kita


akan menemukan yang sejati setelah melalui


saat kehilangan dan kesakitan.!"


Nathan menghela napas panjang, menatap


Aryella yang juga sedang menatapnya.


"Aku harap aku bisa melalui proses itu, walau


mungkin akan cukup sulit bagiku.!"


"Aku yakin kamu bisa, belajarlah untuk ikhlas


menerima semua ketentuan Tuhan yang telah


di gariskan kepada kehidupan kita.!"


"Aku akan mencoba nya. Semoga rasa sakit


yang kurasakan karena kehilanganmu bisa


menjadi sebuah kesenangan di masa depan.!"


Ujar Nathan sambil kemudian melangkah keluar


dari ruangan. Kiran dan Aryella saling pandang


lalu tersenyum tipis.


"Pandanglah dia sebagai seseorang yang akan


selalu bersamamu selamanya Aryella. Dia sudah


menjadi suamimu sekarang, panutan mu.!"


Aryella mengangguk, matanya tampak sedikit


bersemangat sekarang, ada harapan yang kini


memercik kuat dalam hatinya.


"Kau benar.. dia suamiku sekarang. Dan aku


akan berusaha untuk meraih hatinya, seperti


dia yang telah merengkuh jiwaku seutuhnya.!"


Kiran tersenyum puas seraya mengangguk


yakin. Keduanya kembali saling berpelukan.


Mereka memang harus saling mendukung.


Setelah cukup lama akhirnya Kiran pamit


pulang karena waktu semakin beranjak malam.


Dia pergi ke rumah sakit ini selepas magrib,


dan sekarang Agra pasti sudah di perjalanan


pulang menuju istana. Dia hanya di beri izin


satu jam saja untuk berada di rumah sakit ini.


"Apa aku perlu mengantarmu..?"


Nathan mencoba menawarkan bantuan. Kiran


menatap jengah kearah Nathan.


"Kau mau berurusan lagi dengan suami ku.?"


Ancam Kiran yang langsung membuat wajah


Nathan berubah kecut. Aryella tersenyum tipis.


"Baiklah..aku lebih baik mencari aman saja.!"


Ucap Nathan sambil memalingkan wajahnya.


Kiran mengulum senyum, menatap pria yang


pernah mengisi seluruh isi hatinya itu.


"Jagalah istri mu baik-baik.! kenikmatan itu


tidak akan di dapatkan kalau kita mencarinya


dengan buru-buru. Begitupun dengan suatu


hubungan rumah tangga..! resapi dan ikuti


perjalanan nya, maka kau akan tahu bedanya."


Ucap Kiran berpidato sebelum akhirnya dia


memeluk Aryella cukup lama. Nathan hanya


bisa merenung dan mencerna ucapan Kiran.


Sungguh wanita yang masih ada di dalam hati


nya ini semakin kesini semakin matang saja.


Akhirnya Kiran keluar dari ruangan, Zack dan


4 pengawal nya sudah menunggu. Mereka


langsung menuju parkiran khusus di basement.


Kiran merebahkan tubuhnya di sandaran jok.


Kini baru terasa bahwa tubuh nya sedikit lelah.


Kepalanya juga terasa berat dengan perasaan


tidak nyaman yang semakin terasa. Dari pagi


dia tiada henti beraktifitas, dan sekarang


tubuh nya benar-benar butuh istirahat.


"Bangunkan aku kalau sudah sampai Zack.!"


Pinta Kiran seraya memejamkan mata mencoba


untuk merilekskan tubuh dan pikirannya.


"Baik Nona..!"


Sahut Zack sambil melihat Nona nya itu lewat


spion tengah. Dia melajukan mobilnya dengan


kecepatan sedang membelah jalanan ibukota


yang masih saja terlihat padat dan bising.


Beberapa saat kemudian...


Zack melajukan mobilnya dengan kecepatan


tinggi ketika tiba di jalanan yang cukup sepi.


Ada 4 mobil penguntit yang kini membayangi


laju mobilnya. Dengan lihai dan profesional


Zack melesatkan mobilnya mencoba untuk


mengecoh mobil penguntit. Dia menggeram


saat menyadari majikannya bisa saja bangun


dari tidur nya, dan Zack terpaksa mengerem


mendadak mobil nya ketika 4 mobil tadi kini


berhasil menghadang laju mobilnya.


Zack mengepalkan tinjunya dengan wajah


yang sudah sedingin es, tatapan nya lurus


ke depan melihat kemunculan beberapa


pria tinggi besar berjas hitam yang kini


sedang berjalan kearah mobil nya. Dia


menyeringai tipis melihat orang-orang itu.


Mobil anak buahnya baru saja tiba di sana.


Dia segera keluar dengan mengunci mobil


terlebih dahulu, memastikan bahwa Nona


Muda nya tenang-tenang saja di dalam. Dia


bersama ke 4 anak buahnya maju dengan


gagah berani.


"Siapa kalian..? ada urusan apa dengan


Nona kami..?"


Tanya Zack sambil meregangkan otot-otot


lehernya dengan tatapan lurus kearah musuh.


"Berikan wanita itu pada kami, maka nyawa


kalian akan selamat..! "


"Ohh.. kalau begitu langkahi dulu mayat kami,


baru lah kalian bisa membawa nya.!"


Tegas Zack dengan seringai iblis nya.


"Banyak bacot ! seraang..!"


Seru pimpinan para penyerang itu sambil


kemudian maju menyerang Zack dan anak


buahnya. Maka terjadilah pertarungan seru


dan sengit diantara mereka.


Kiran membuka mata saat mendengar ada


suara keributan di luar. Matanya membulat


sempurna saat melihat Zack dan 4 orang


pengawalnya sedang bertarung seru dengan


sekitar 12 orang pria berbadan besar. Dia


memekik kaget saat salah seorang dari para


pria berbadan besar itu kini berusaha untuk


memecahkan kaca mobil dengan susah payah


karena memang kaca mobil ini anti pecah.


Kiran meraih ponsel yang dari tadi berdering


dan nomor Agra lah yang kini memanggilnya.


"Ha-hallo Agraa...cepat kesini..kami di serang.!"


sekarang. Ingat jangan keluar dari mobil,


dan tetap tenang..!"


"Baiklah.. cepat datang aku takuutt..!"


"Sebentar lagi aku datang sayang.. kamu


tenang oke.. jangan panik..!"


"Cepat Agra.. mereka banyak sekali aaa...!"


Kiran kembali memekik saat kaca mobil akhir


nya pecah dan pintu berhasil di buka. Dia


menatap tajam kearah seorang pria tinggi


yang kini berusaha untuk menariknya keluar


dari mobil. Dengan gerakan cepat dan reflek


Kiran menendang perut orang tersebut dengan


tenaga penuh, dan dia terkejut sendiri melihat


apa yang terjadi kemudian. Orang itu terlempar


cukup jauh akibat tendangan nya tadi. Kiran


menutup mulutnya tidak percaya dengan apa


yang terjadi.


Orang tadi mencoba untuk berdiri dengan


meringis merasakan sakit di ulu hatinya.


Matanya tampak menatap marah kearah Kiran


yang kini keluar dari mobil. Entah dari mana


datang nya, ada semacam keberanian dalam


diri Kiran saat melihat hal yang tidak terduga


tadi di tengah rasa tidak percaya nya.


"Ohh.. punya nyali juga rupanya Nona Muda


ini.! cihh..! tapi kamu tetap tidak akan lolos


Nona cantik.. Ayo ikut !"


Dengus orang itu yang merupakan pimpinan


para penyerang tadi. Zack terlihat sedikit panik


saat melihat Nona nya kini sudah ada di luar


mobil dan berhadapan dengan pimpinan para


penyerang. Dia harus segera membereskan


lawan-lawannya secepat mungkin.


"Hei.. jangan macam-macam kamu.! siapa


kalian sebenarnya.? "


Seru Kiran dengan tatapan tajam dan sikap


waspada kearah orang tadi.


"Kau tidak perlu tahu siapa kami Nona.. ayo


sekarang menyerah lah.!"


Desis orang itu sambil maju dengan gerakan


cepat ingin membekap Kiran, namun lagi-lagi


saat orang itu mendekat Kiran menggerakan


tangannya mencoba melawan, dengan sekuat


tenaga dia mendorong keras tubuh besar orang


itu yang langsung terlempar ke belakang. Mata


Kiran melebar, apa yang terjadi dengan dirinya.?


Bukan hanya Kiran yang terkejut, bahkan Zack


pun tampak tertegun sebentar hingga serangan


lawan masuk menghantam tubuh nya membuat


dia mundur beberapa langkah. Kini Zack habis


kesabaran, dia segera meningkatkan serangan


nya membabat habis lawan-lawannya.


Kiran mundur, menatap kepalan tangan nya


dengan aneh. Kenapa dia jadi kuat begini.?


Macam robot saja.! dia tersenyum gusar, lalu


menggeleng pelan merasa geli sendiri dengan


isi pikirannya yang sedikit konyol.!


"Hehh.. kamu maju lagi, maka aku pastikan


semua tulang mu rontok semuanya..!"


Ancam Kiran saat melihat orang tadi kembali


berdiri dengan susah payah. Namun tampang


nya kini terlihat ketakutan. Dia mundur perlahan sambil melihat dan mengamati situasi. Di saat bersamaan datang mobil Agra dan mobil-mobil


para pengawalnya membuat orang itu semakin kalangkabut. Mereka berusaha untuk kabur tapi


Zack dan anak buahnya langsung membekuk


mereka yang sebenarnya sudah babak belur.


"Sayang... kamu tidak apa-apa..?"


Kiran langsung masuk kedalam pelukan erat


Agra yang terlihat sangat khawatir.


"Aku tidak apa-apa sayang..!"


"Syukurlah..aku sangat mencemaskan mu..!"


Agra menciumi puncak kepala Kiran sambil


memeluk nya semakin erat.


"Bereskan mereka semua..! jangan sampai


ada informasi yang terlewat.!"


Titah Agra menatap marah pada orang-orang


itu yang kini duduk bersimpuh di atas jalanan.


"Baik Tuan, kita akan tangani mereka.!"


Ujar Zack sambil menyeret orang-orang itu


masuk ke dalam mobil mereka.


Agra segera mengangkat ringan tubuh Kiran


melangkah menuju mobilnya.


"Bara kau urus mereka semua, besok pagi


aku tunggu laporan nya. Kita harus pastikan


ini adalah gangguan terakhir.!"


"Baik Tuan laksanakan..!"


Sambut Bara sambil membungkuk pada saat


Agra sudah duduk di balik kemudi. Kiran kini


sudah merebahkan tubuhnya ke sandaran jok.


Tidak lama mobil mewah itupun mulai melaju


cepat meninggalkan tempat kejadian perkara.


------ -------


Kamar megah Istana utama Hadiningrat....


Agra tampak keluar dari kamar ganti sambil menggendong tubuh Kiran yang baru saja


selesai membersihkan diri. Untuk acara mandi bersama kali ini dia bisa bebas dari terkaman suaminya itu karena melihat kondisinya yang


masih sedikit trauma. Perlahan dan hati-hati


Agra membaringkan tubuh lelah istrinya itu


diatas tempat tidur, menatapnya lekat penuh


cinta.


Saat ini Kiran mengenakkan gaun malam


panjang bermotif warna soft pink yang sangat


cantik melekat manis di tubuh indahnya.Untuk


sesaat Agra tampak menelan salivanya berat, berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan


hasrat dan keinginan memiliki istrinya itu


malam ini.


Kiran menatap lembut wajah tampan Agra


yang kini berdiri di pinggir tempat tidur.


"Tubuhku lelah sekali sayang..aku ingin tidur


sekarang juga..!"


"Kau tidak boleh tidur dulu sayang..perutmu


harus diisi dulu..!"


"Tapi aku sudah mengantuk. ! aku benar-benar


butuh istirahat sekarang !"


"Aku mohon isilah sedikit saja sayang, Tata


sudah menyiapkannya.!"


"Aku tidak berselera sayang.. perutku rasanya


tidak nyaman. Sepertinya masuk angin.!"


Kiran memejamkan matanya yang memang


terasa begitu penat dan lelah. Agra menatap


diam wajah cantik istrinya itu. Dia pun naik


ke atas tempat tidur, menarik tubuh Kiran ke


dalam dekapannya, memeluk nya erat seraya


menciumi puncak kepala nya penuh sayang.


"Maaf sayang..lagi-lagi kamu harus mengalami


kejadian tidak mengenakan ini. Tapi aku janji


ini adalah yang terakhir..!"


Lirih Agra berat, rahang nya tampak mengeras.


Dirinya benar-benar geram mengingat apa yang


terjadi barusan. Dia harus segera membereskan


biang keladinya.


"Sepertinya itu sudah menjadi resiko bagiku


karena memilih menjadi istrimu..!"


Gumam Kiran sambil melingkarkan tangan


nya di punggung kokoh Agra yang langsung


memejamkan matanya menahan serbuan


hasrat yang kini mulai menanjak. Keduanya


terdiam saling memeluk erat.


"Tuan..makan malam sudah saya taruh di


ruang samping !"


Suara Tata terdengar dari ruang santai. Agra


mengangkat sedikit kepalanya.


"Tata, besok pagi siapkan rempah khusus


racikan Eyang, Kiran membutuhkan nya.!"


Tata tampak menautkan alisnya.


"Apakah Nona cedera Tuan..?"


"Tidak.! dia hanya memerlukan nya untuk


memulihkan kondisi fisiknya.!"


"Baik Tuan besok pagi saya siapkan."


"Hemm..kau boleh keluar sekarang.!"


"Baik Tuan saya permisi.."


Sahut Tata sambil kemudian membungkuk.


Setelah itu dia berlalu keluar dari kamar.


Agra meraih ponsel yang bergetar diatas nakas.


Nama Bara tertera di layar, perlahan dia bangkit,


dengan hati-hati melepaskan rengkuhan nya di


tubuh Kiran yang kini sudah terlelap tenang.


Agra segera menjauh dari tempat tidur, tapi


tatapan nya masih belum lepas dari Kiran.


"Bagaimana..apa kalian sudah memastikan


semuanya.? ini semua ulah wanita itu kan.?"


Agra berbicara dengan sedikit di tekan. Dia


berdiri di balkon, memandang jauh ke depan


menembus gemerlap nya lampu taman.


"Benar Tuan.. mereka adalah orang-orang


bayaran nya Nona Mikhayla..!"


"Hemm..dia tidak mengindahkan peringatan


ku rupanya.! baiklah aku tidak akan memberi


toleransi lagi padanya ! Dia juga sudah berani


memasukan tikus kecil ke dalam kantor ku.!"


"Besok saya akan menyiapkan semua file


yang anda butuhkan..!"


"Kita akan lihat dulu, permainan apa yang


akan di lancarkan oleh suruhan nya itu.! dia


sudah berani menyentuh daerah pribadi ku.!"


"Baik Tuan.. jadi kita akan menunggu sampai


mereka melancarkan aksi nya.?"


"Hemm..kita tunggu sampai acara Meet Night


berlangsung.! aku yakin mereka menunggu


waktu yang tepat.! "


"Baik Tuan. ! selamat malam..!"


Agra menutup telponnya, bibirnya tersenyum


miring dengan tatapan menerawang jauh.


"Mikhayla..kau sendiri yang memilih jalan ini.


Kamu sudah menghina perasaanku terhadap


istriku.! dan aku akan memberikan ganjaran


setimpal untuk penghinaan mu ini.!"


Desis Agra sambil melipat kedua tangannya


di dada. Dia menghembuskan napas kasar.


Setelah lama akhirnya Agra kembali masuk


ke dalam kamar, naik keatas tempat tidur dan


masuk ke balik selimut. Saat ini dia juga sudah kehilangan selera makan, lebih baik tidur saja.


Perlahan dia kembali menarik tubuh halus


lembut Kiran ke dalam pelukannya. Kemudian


mendaratkan ciuman mesra di bibir ranumnya.


Setelah itu dia mulai memejamkan mata nya,


dan tidak lama sudah terlelap dalam tidur


tenang nya dengan tidak lepas memeluk dan


mengurung tubuh Kiran dalam dekapannya..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....