
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Pagi ini cuaca masih menyisakan udara dingin
membekukan. Beberapa pelayan tampak sibuk
menjalankan tugasnya masing-masing. Sedang
di dalam kamar khusus saat ini suasana masih
tampak sepi, hanya gemericik air di taman dan
suara kicau burung yang mewarnai suasana.
Namun hanya ada sosok Agra saja yang masih
terbaring di atas tempat tidur. Ternyata pagi ini
Kiran sudah berada di dapur istana bersama ibu mertuanya. Dia memaksa kepala pelayan untuk
membawanya ke dapur ini.
"Ibu..izinkan saya untuk membuatkan sedikit
makanan khas untuk kalian berdua sebelum
kami kembali pulang..!"
Kiran memohon kepada ibu mertuanya itu
yang keukeuh tidak mengijinkan nya dengan
alasan tidak ingin membuatnya lelah.
"Ibu tidak ingin kamu kelelahan Kiran."
"Hanya membuat makanan mana mungkin
saya akan lelah Bu..lagipula saya sudah biasa
melakukannya."
"Baiklah kalau kau memaksa.. buatlah sesuatu
yang mudah saja..! ibu tidak ingin kau cape.!"
"Baiklah.. seperti yang ibu perintahkan..!"
Kiran tampak semangat. Dia segera mencari
bahan makanan di lemari pendingin di bantu
oleh kepala pelayan. Nyonya Yuri hanya bisa tersenyum lembut. Dan mulailah Kiran dengan kegiatan kesukaannya itu.
"Apa kalian tidak bisa lebih lama lagi tinggal
di sini.? Hoshi dan ayah nya baru saja kembali
berbaikan..!"
"Saya mau saja Bu..tapi Agra memiliki urusan
pekerjaan yang tidak bisa di abaikan begitu
saja.! dia orang yang sangat sibuk.!"
Keduanya saling pandang sebentar, kembali
pada kegiatan nya.
"Ibu mengerti..tapi ibu masih ingin bersama
dengan kalian lebih lama lagi.!"
"Bagaimana kalau ibu ikut kami pulang..?"
Keduanya terdiam, mematung di tempat. Kiran
mendekat kearah Nyonya Yuri, menggenggam
tangannya lembut.
"Bukankah ibu sangat merindukan Eyang.?
Saya yakin kali ini Ayah tidak akan keberatan.
Tidak lama lagi resepsi pernikahan kami akan
segera di gelar, dan kami sangat memerlukan kehadiran kalian berdua..! itu adalah sebuah kehormatan bagi kami..!"
Nyonya Yuri terlihat berkaca-kaca. Dia mengelus
wajah Kiran penuh kasih. Entah kenapa walau
mereka baru tiga hari saja saling mengenal tapi
kedekatan itu seolah telah terjalin sangat lama.
"Ibu memang sangat merindukan Eyang putri.
Tapi sekarang ini, dunia ibu ada di sini. Ibu tidak
bisa pergi sendiri tanpa ayah mertuamu..!"
"Bukankah kalian bisa pergi bersama kami.?".
"Seperti hal nya Hoshi mu..ayah mertua mu
juga memiliki urusan dan kewajiban di sini.!"
Kiran menarik napas berat, lalu mengangguk
seraya mengelus lengan ibu mertuanya.
"Saya faham..tapi kami sangat mengharapkan
kehadiran kalian berdua nanti.."
"Ibu tidak berani menjamin bisa ikut kalian,
tapi kami akan mengusahakan untuk datang
di acara resepsi nanti..!"
Wajah Kiran tampak berbinar. Dia merangkul
ibu mertuanya itu penuh rasa bahagia.
"Baiklah..tidak apa, kami akan selalu menunggu
kedatangan kalian."
Lirihnya. Akhirnya dia melanjutkan kembali
aktivitas nya di bantu oleh Nyonya Yuri hingga
satu jam kemudian semuanya selesai. Kiran
kembali ke biliknya dengan membawa teh hijau.
------ ------
Dua insan yang sedang di mabuk asmara itu
kini saling berhadapan, seperti biasa Kiran
memakaikan setelan resmi ke tubuh suami
nya itu. Rencana nya siang ini mereka akan
kembali terbang pulang ke negaranya.
Memang terlalu singkat keberadaan mereka
di tempat ini, tapi sudah menjadi kebiasaan
Agra, dia tidak pernah lebih dari 3 hari berada
di negara ini karena tidak tega meninggalkan
Eyang putri terlalu lama di istananya.
Tatapan Agra tidak pernah lepas dari wajah
cantik Kiran yang pagi ini terlihat begitu cerah
dan bercahaya. Dia bagaikan bunga sakura
yang sedang mekar, nampak sangat indah.
"Sebenarnya aku masih betah di sini. Aku
juga masih ingin bersama dengan ibu..!"
Lirih Kiran, tangannya bergerak terampil
memasangkan dasi di leher suaminya. Agra
menarik pinggang Kiran hingga dia terpaksa
menghentikan aktifitas nya memasang dasi.
Tubuh Kiran terangkat, tangannya kini ada
di pundak Agra, menekan kuat agar dia tetap
bisa menjaga jarak karena Agra semakin
menariknya agar wajah mereka bersentuhan.
"Kita akan datang lagi nanti kalau waktunya
memungkinkan.. sekarang kita harus kembali
karena Eyang memerlukan kehadiran kita.!"
"Baiklah kau benar..sudah lepasin aku..!"
"Tidak.! berikan dulu aku ciuman dahsyat mu..!"
"Apaan sih kamu, aneh-aneh saja..!"
"Kenapa kamu selalu membuatku tidak bisa
menahan diri Kiran..!"
Desis Agra sambil kemudian ******* kuat bibir
Kiran hingga dia terpaksa harus berontak untuk melepaskan ciumannya. Keduanya saling menatap
seraya mengatur napas yang tersengal. Dengan
sedikit kesal Kiran kembali melanjutkan sisa
pekerjaannya, merapihkan tampilan suaminya.
Setelah memastikan suaminya itu siap, Kiran
menggiring nya untuk duduk di bangku taman.
Agra duduk santai di meja taman, menikmati
sajian teh hijau buatan Kiran dan camilan kecil
sambil mengecek laporan yang masuk di ponsel
nya mengenai beberapa urusan pekerjaan.
Sementara Kiran saat ini sedang berganti
pakaian. Dia mengenakkan celana panjang
dengan sweater cantik warna cerah. lalu
mengikat tinggi rambut nya yang berkilau
membuat dia tampak semakin cantik dan
mempesona dengan polesan tipis di wajah
nya untuk menyamarkan warna pucat kulit
nya akibat ulah Agra semalam.
"Tuan Muda..Nona..Nyonya Besar ingin bertemu."
Ada suara laporan dari luar pintu. Kiran segera
merapihkan diri, tidak lama ke dalam ruangan
muncul Nyonya Yuri dengan wajah cerah dan
senyum lembut yang senantiasa terkembang.
"Ibu.. kenapa repot-repot datang kesini..Ibu
bisa menyuruh saya untuk datang..!"
Nyonya Yuri langsung merangkul Kiran yang
terhenyak sesaat, namun akhirnya dia juga
membalas rangkulan ibu mertuanya itu.
"Ibu datang kesini ingin memberikan sesuatu
untukmu sebelum kalian pergi..!"
Ucap Nyonya Yuri setelah mereka melepaskan
rangkulan nya. Agra hanya memperhatikan
keduanya dari jauh karena saat ini dia sedang
melakukan panggilan telepon.
Kiran dan Nyonya Yuri duduk di kursi yang ada
di pojok ruangan. Kepala pelayan maju seraya
menyodorkan kotak kecil ke hadapan Nyonya
Besarnya. Kiran menatap dan memperhatikan
ibu mertuanya itu yang sedang membuka kotak
cantik berwarna merah tersebut. Dia tampak
melebarkan matanya saat melihat Nyonya
Yuri meraih satu kalung berlian cantik dengan
model yang sangat unik dan istimewa.
"Ini adalah kalung pernikahan kami, barang
pertama yang di berikan oleh ayah mertua mu
pada ibu.."
Ucap Nyonya Yuri sambil berdiri di hadapan
Kiran yang hanya bisa terdiam di tempat .
"Sekarang kalung ini ibu wariskan padamu.."
Lirihnya kemudian sambil melingkarkan benda
berkilauan yang sangat indah itu ke leher Kiran
yang hanya bisa menatap kagum pada kalung
cantik itu. Matanya berbinar indah melihat
benda cantik itu kini telah melingkar di leher
jenjang nya, sangat indah dan memukau.
"Ta-tapi ibu..ini terlalu berharga buat ibu..dan
saya merasa kurang pantas menerima benda
sepenting ini.."
"Tidak ! hanya kamu yang pantas menerima
nya. Ayah Hoshi sudah menyetujui nya..!"
"Ibu..Apa ini tidak berlebihan..?"
Kiran meraih kalung itu dengan tatapan yang
sangat terpukau pada benda itu.
"Tidak sama sekali. Semua ini layak kamu
terima, setelah apa yang kamu lalui selama
ini.. terimalah..!"
"Terimakasih banyak bu..!"
Kiran kembali memeluk erat ibu mertuanya itu
penuh rasa haru dan syukur. Agra tiba-tiba saja
sudah ada di dekat mereka, menatap keduanya
dengan tenang.
"Kau memang pantas menerima nya..!"
Lirihnya saat Kiran sudah melepas rangkulan
nya. Kiran tersenyum lembut seraya memeluk
tubuh gagah suaminya penuh rasa bahagia.
****** ******
Keluarga kecil itu kini sudah ada di meja makan
di taman belakang. Sarapan pagi kali ini sangat
lah istimewa karena menu yang di hidangkan
adalah makanan khas negara asal Nyonya Yuri.
Dan mereka pun duduk di meja makan modern
jadi tidak harus duduk bersimpuh lagi.
Untuk sesaat ke 4 nya masih terdiam dengan
wajah tampak sedikit berat sampai akhir nya
Kiran bergerak menuangkan makanan hasil
buatannya tersebut ke piring ayah mertuanya.
"Silahkan di coba Ayah, semoga ayah suka.
Dan maaf saya hanya bisa membuat beberapa
menu sederhana saja.."
Lirih Kiran sambil menundukkan kepala sedikit.
Tuan Hasimoto menatap tenang wajah Kiran,
lalu perlahan dia mulai mencicipi makanan itu.
Kiran dan Nyonya Yuri terdiam sedikit tegang,
sedang Agra terlihat mendengus kesal karena
Kiran lebih mendahulukan Ayahnya daripada
dirinya.
makanan yang ada di mulutnya. Dia terkejut,
makanan ini rasanya berbeda, tapi terasa
begitu lezat, dia juga cukup sering mencicipi
makanan hasil masakan istrinya, tapi buatan
Kiran ini memang sungguh lezat dan berbeda.
"Bagaimana.. apakah ayah suka rasanya..?"
Kiran penasaran karena tidak ada respon dari
ayah mertuanya itu hanya terus makan saja.
Tanpa kata dia kembali menunjuk pada wadah
makanan tadi dengan isyarat mata.
"A-apa.. ayah menyukainya. ?"
Kiran mencoba meyakinkan, Tuan Hasimoto
mengangkat jempolnya. Wajah Kiran berbinar
bahagia. Dia kembali menuangkan makanan
tadi, kali ini dengan porsi sesungguhnya. Agra
melipat kedua tangan di dada seraya menatap
kesal kearah istrinya itu yang malah sibuk
sendiri dengan kegiatan melayani mertuanya.
Sementara Tuan Hasimoto tampak tersenyum
puas sudah berhasil mengambil alih perhatian menantunya. Lain lagi dengan Nyonya Yuri
yang hanya bisa menarik napas lega seraya
mengulum senyum bahagia melihat semua itu.
"Kiran..! sampai kapan kau akan membiarkan
aku menunggu..!"
Tidak tahan lagi Agra menggeram kesal. Kiran
tersentak, baru sadar atas kekhilafan nya. Dia
segera melirik kearah Agra, tersenyum gusar
dengan wajah dipenuhi rasa bersalah.
"Maaf sayang..aku sampai lupa padamu..!"
"Apa, kau lupa padaku karena kehadiran orang
baru itu.? aku yang sudah berkorban banyak
untukmu Kiran..!"
"Iya aku tahu, sekali lagi maaf ya sayang.."
Agra mendelik kesal kearah Tuan Hasimoto
yang hanya tersenyum miring.
"Aku ini suamimu Kiran, sementara dia itu
hanya orang yang baru kamu kenal.!"
"Dia ayah mertuaku sayang.. sudah ya..tidak
usah di perpanjang.."
Kiran segera bergerak menuangkan makanan
tersebut ke piring Agra yang masih saja terlihat
kesal, menatap tajam kearah ayah nya yang
terlihat sangat menikmati makanan nya.
"Tidak bisa. ! kau bahkan baru saja mengenal
nya..! kau juga tahu benar kalau dia itu pria
yang licik..!"
"Hei.. siapa yang kau bilang licik.?"
Tuan Hasimoto menyela tidak suka, kedua
mata ayah dan anak itu saling menatap panas.
"Memang nya kau pikir siapa lagi Tuan Besar
yang terhormat..?"
"Aku bukan licik Tuan Muda, itu yang di sebut
sebagai cerdik.!"
Dengus Tuan Hasimoto. Kiran menatap kedua
nya bergantian sambil menggeleng resah.
"Apa kalian hanya akan terus berdebat.?"
Kiran mencoba melerai dan mengingatkan
mereka. Keduanya langsung terdiam, lalu
memalingkan wajah sambil kemudian mulai
fokus pada makanan nya. Kiran dan Nyonya
Yuri saling pandang kemudian menggeleng
bersamaan sambil tersenyum geli. Aroma
persaingan itu tetap saja ada, bahkan untuk
hal-hal sepele seperti ini. Akhirnya mereka
menikmati sarapan paginya dengan tenang.
"Kita akan segera menyusul kalian, tapi kamu
harus membuatkan banyak makanan yang
lezat nanti.!"
Kiran tampak terganga, Agra terdiam kaku
sedang Nyonya Yuri terkejut tidak percaya.
"Kalian tidak percaya padaku.?"
"Benarkah ayah akan segera menyusul kami?"
Kiran mencoba meyakinkan, Tuan Hasimoto
mengangguk yakin. Agra mengerjap, dia masih
belum percaya sepenuhnya.
"Kau akan datang ke istanaku..?"
Tanya Agra cepat, keduanya saling menatap.
"Aku seorang ksatria, pantang bersilat lidah.!"
Jawab Tuan Hasimoto mantap. Agra menekan tinjunya ke atas meja seraya menundukan
kepala mengucap syukur dengan pelan, cara bersyukur yang aneh ! Kiran tampak tersenyum
lebar, menatap lekat Ayah mertuanya.
"Terimakasih ayah..kau sudah membekali
kami kebahagiaan sebelum pulang..!"
Lirih Kiran sambil berdiri lalu membungkuk.
"Semua ini karena masakanmu..!"
Ujar Tuan Hasimoto sekena nya. Kiran tampak
mengerucutkan bibir nya kecewa tapi wajahnya
tetap berbinar bahagia. Nyonya Yuri meneteskan
air mata, akhirnya..untuk pertama kalinya setelah
sekian lama suaminya itu di beri kesadaran juga
untuk mengunjungi kembali negara asal dirinya.
Tempat kelahirannya, tempat keluarganya .
------ ------
Akhirnya sekitar jam 11 siang waktu setempat,
setelah cuaca sedikit tenang Agra dan Kiran berpamitan pada kedua orang tuanya. Agra
tampak berangkulan dengan Tuan Hasimoto
setelah cukup lama tidak pernah melakukan
nya. Keduanya begitu larut dalam rasa haru.
"Jagalah istrimu baik-baik..dia memang layak
untuk kamu kejar..!"
Desis Tuan Hasimoto membuat Agra tersenyum
tipis sambil mengangguk.
"Aku tunggu kalian di istanaku..!"
Ucap Agra sambil melepaskan rangkulan nya.
Kini giliran Kiran yang berada dalam pelukan
ayah mertuanya itu. Tuan Hasimoto mengusap
lembut rambut menantunya itu.
"Terimakasih karena ayah sudah menerima
saya dengan ikhlas..saya hanyalah wanita
yang banyak kekurangan.."
"Kau sudah cukup sempurna untuk putraku.
Jadilah wanita yang kuat..dan berilah kami
cucu secepatnya..!"
"Insya Allah kalau sudah waktunya semua
akan terkabul ayah..!"
"Kalian akan mendapatkan anak kembar. Aku
sudah memastikan itu dengan obat yang kau
minum kemarin..!"
"Ohh..jadi kau melakukan semua itu untuk
hal ini.? dasar tidak manusiawi..!"
Dengus Agra sambil memalingkan wajahnya.
Tuan Hasimoto tersenyum santai.
"Itu untuk masa depan kalian berdua..!"
"Tapi kau sudah melakukannya tanpa izinku.!"
"Sudah, biarkan takdir Tuhan yang berbicara.
Kita serahkan saja semuanya pada yang Maha
Mengatur kehidupan.."
Debat Kiran membuat kedua anak dan ayah yang
selalu bersaing tidak jelas itu terdiam seketika.
Nyonya Yuri hanya bisa menepuk jidat pusing.
Kiran melepaskan diri dari pelukan sang ayah
mertua. Agra langsung merengkuh bahu Kiran, keduanya kini berdiri di hadapan kedua orang
tua tersebut, lalu membungkuk bersamaan.
"Selamat tinggal ayah..ibu.. sampai bertemu
kembali di istana kami..!"
Seru kiran seraya melambaikan tangan kepada
kedua mertuanya itu saat mobil yang membawa
mereka mulai melaju meninggalkan halaman
depan istana. Tuan Hasimoto mengusap pelan
sudut matanya yang basah membuat sang istri mengerjap tidak percaya. Kiran..ya..menantu
nya itu telah meninggalkan kesan yang cukup
mendalam bagi mereka berdua..
Ternyata.. sebelum pergi menuju bandara,
Agra terlebih dahulu membawa Kiran untuk bernostalgia sebentar dengan mendatangi
taman bunga sakura. Kiran terlihat begitu
bahagia saat menapakkan kembali kakinya
di tempat itu. Walaupun saat ini area itu di
penuhi oleh salju namun tidak mengurangi antusiasme Kiran menjelajahi kembali setiap
sudut tempat yang pernah di datangi olehnya
dulu bersama dengan Agra.
"Sayang..aku ingin jajanan yang dulu pernah
kita beli, apa tempat nya masih ada ya..?"
Pinta Kiran sambil menarik tangan Agra menuju
ke area kuliner tempat dulu mereka menikmati
jajanan di sana. Agra tampak mengikuti semua keinginan istrinya itu dengan senang hati. Dan
ternyata tempat kuliner itu memang masih ada.
Kiran membeli semua yang dulu sering di beli
nya. Mereka kembali berjalan bergandengan
tangan sambil menikmati makanan yang tadi
sudah di beli oleh Kiran.
Namun setelah cukup lama menjelajah Kiran
tiba-tiba menghentikan langkahnya. Alisnya
tampak bertaut dalam.
"Sayang.. ngomong-ngomong kenapa tidak
ada seorangpun pengunjung yang datang ke
tempat ini.? apa kita terlalu pagi datangnya?"
Agra tersenyum tipis, dia menatap tenang
wajah bingung istrinya itu.
"Memang tidak akan ada yang datang sayang..
karena aku sudah menyewa tempat ini khusus
untuk kita berdua saja..!"
"Apa..? kenapa kamu melakukan semua ini.?"
"Agar kita bisa bebas menjelajahi tempat ini
tanpa adanya gangguan..!"
"Iishh kau ini.. kenapa harus sampai seperti
ini sih, kan lebih seru kalau ada orang lain.!"
Kiran cemberut, Agra mendekat, mengetatkan
mantel dan syal yang di pakai Kiran, kemudian
merapihkan penutup kepala nya karena hawa
dingin semakin terasa membekukan.
"Karena aku ingin menikmati kecantikan Sachi
ku sepuasnya di tempat ini, tanpa ada orang
lain, hanya ada Hoshi..dan Sachi..!"
Lirih Agra sambil kemudian memagut bibir
Kiran, ******* nya lembut penuh perasaan.
Keduanya terhanyut dalam ciuman lembut
dan manis yang mampu mengalahkan hawa
dingin yang tercipta di sekelilingnya di atas
jembatan merah yang pernah menjadi saksi
pertemuan pertama mereka.
Setelah lama akhirnya Agra mengangkat tubuh
Kiran ke dalam pangkuan nya di bawa keluar
dari area taman untuk melanjutkan perjalanan,
kembali pulang ke tanah air untuk memulai
hidup yang lebih tenang, kehidupan rumah
tangga yang baru akan mulai mereka bina...
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....