Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
62. Nostalgia


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Pagi ini cuaca masih menyisakan udara dingin


membekukan. Beberapa pelayan tampak sibuk


menjalankan tugasnya masing-masing. Sedang


di dalam kamar khusus saat ini suasana masih


tampak sepi, hanya gemericik air di taman dan


suara kicau burung yang mewarnai suasana.


Namun hanya ada sosok Agra saja yang masih


terbaring di atas tempat tidur. Ternyata pagi ini


Kiran sudah berada di dapur istana bersama ibu mertuanya. Dia memaksa kepala pelayan untuk


membawanya ke dapur ini.


"Ibu..izinkan saya untuk membuatkan sedikit


makanan khas untuk kalian berdua sebelum


kami kembali pulang..!"


Kiran memohon kepada ibu mertuanya itu


yang keukeuh tidak mengijinkan nya dengan


alasan tidak ingin membuatnya lelah.


"Ibu tidak ingin kamu kelelahan Kiran."


"Hanya membuat makanan mana mungkin


saya akan lelah Bu..lagipula saya sudah biasa


melakukannya."


"Baiklah kalau kau memaksa.. buatlah sesuatu


yang mudah saja..! ibu tidak ingin kau cape.!"


"Baiklah.. seperti yang ibu perintahkan..!"


Kiran tampak semangat. Dia segera mencari


bahan makanan di lemari pendingin di bantu


oleh kepala pelayan. Nyonya Yuri hanya bisa tersenyum lembut. Dan mulailah Kiran dengan kegiatan kesukaannya itu.


"Apa kalian tidak bisa lebih lama lagi tinggal


di sini.? Hoshi dan ayah nya baru saja kembali


berbaikan..!"


"Saya mau saja Bu..tapi Agra memiliki urusan


pekerjaan yang tidak bisa di abaikan begitu


saja.! dia orang yang sangat sibuk.!"


Keduanya saling pandang sebentar, kembali


pada kegiatan nya.


"Ibu mengerti..tapi ibu masih ingin bersama


dengan kalian lebih lama lagi.!"


"Bagaimana kalau ibu ikut kami pulang..?"


Keduanya terdiam, mematung di tempat. Kiran


mendekat kearah Nyonya Yuri, menggenggam


tangannya lembut.


"Bukankah ibu sangat merindukan Eyang.?


Saya yakin kali ini Ayah tidak akan keberatan.


Tidak lama lagi resepsi pernikahan kami akan


segera di gelar, dan kami sangat memerlukan kehadiran kalian berdua..! itu adalah sebuah kehormatan bagi kami..!"


Nyonya Yuri terlihat berkaca-kaca. Dia mengelus


wajah Kiran penuh kasih. Entah kenapa walau


mereka baru tiga hari saja saling mengenal tapi


kedekatan itu seolah telah terjalin sangat lama.


"Ibu memang sangat merindukan Eyang putri.


Tapi sekarang ini, dunia ibu ada di sini. Ibu tidak


bisa pergi sendiri tanpa ayah mertuamu..!"


"Bukankah kalian bisa pergi bersama kami.?".


"Seperti hal nya Hoshi mu..ayah mertua mu


juga memiliki urusan dan kewajiban di sini.!"


Kiran menarik napas berat, lalu mengangguk


seraya mengelus lengan ibu mertuanya.


"Saya faham..tapi kami sangat mengharapkan


kehadiran kalian berdua nanti.."


"Ibu tidak berani menjamin bisa ikut kalian,


tapi kami akan mengusahakan untuk datang


di acara resepsi nanti..!"


Wajah Kiran tampak berbinar. Dia merangkul


ibu mertuanya itu penuh rasa bahagia.


"Baiklah..tidak apa, kami akan selalu menunggu


kedatangan kalian."


Lirihnya. Akhirnya dia melanjutkan kembali


aktivitas nya di bantu oleh Nyonya Yuri hingga


satu jam kemudian semuanya selesai. Kiran


kembali ke biliknya dengan membawa teh hijau.


------ ------


Dua insan yang sedang di mabuk asmara itu


kini saling berhadapan, seperti biasa Kiran


memakaikan setelan resmi ke tubuh suami


nya itu. Rencana nya siang ini mereka akan


kembali terbang pulang ke negaranya.


Memang terlalu singkat keberadaan mereka


di tempat ini, tapi sudah menjadi kebiasaan


Agra, dia tidak pernah lebih dari 3 hari berada


di negara ini karena tidak tega meninggalkan


Eyang putri terlalu lama di istananya.


Tatapan Agra tidak pernah lepas dari wajah


cantik Kiran yang pagi ini terlihat begitu cerah


dan bercahaya. Dia bagaikan bunga sakura


yang sedang mekar, nampak sangat indah.


"Sebenarnya aku masih betah di sini. Aku


juga masih ingin bersama dengan ibu..!"


Lirih Kiran, tangannya bergerak terampil


memasangkan dasi di leher suaminya. Agra


menarik pinggang Kiran hingga dia terpaksa


menghentikan aktifitas nya memasang dasi.


Tubuh Kiran terangkat, tangannya kini ada


di pundak Agra, menekan kuat agar dia tetap


bisa menjaga jarak karena Agra semakin


menariknya agar wajah mereka bersentuhan.


"Kita akan datang lagi nanti kalau waktunya


memungkinkan.. sekarang kita harus kembali


karena Eyang memerlukan kehadiran kita.!"


"Baiklah kau benar..sudah lepasin aku..!"


"Tidak.! berikan dulu aku ciuman dahsyat mu..!"


"Apaan sih kamu, aneh-aneh saja..!"


"Kenapa kamu selalu membuatku tidak bisa


menahan diri Kiran..!"


Desis Agra sambil kemudian ******* kuat bibir


Kiran hingga dia terpaksa harus berontak untuk melepaskan ciumannya. Keduanya saling menatap


seraya mengatur napas yang tersengal. Dengan


sedikit kesal Kiran kembali melanjutkan sisa


pekerjaannya, merapihkan tampilan suaminya.


Setelah memastikan suaminya itu siap, Kiran


menggiring nya untuk duduk di bangku taman.


Agra duduk santai di meja taman, menikmati


sajian teh hijau buatan Kiran dan camilan kecil


sambil mengecek laporan yang masuk di ponsel


nya mengenai beberapa urusan pekerjaan.


Sementara Kiran saat ini sedang berganti


pakaian. Dia mengenakkan celana panjang


dengan sweater cantik warna cerah. lalu


mengikat tinggi rambut nya yang berkilau


membuat dia tampak semakin cantik dan


mempesona dengan polesan tipis di wajah


nya untuk menyamarkan warna pucat kulit


nya akibat ulah Agra semalam.


"Tuan Muda..Nona..Nyonya Besar ingin bertemu."


Ada suara laporan dari luar pintu. Kiran segera


merapihkan diri, tidak lama ke dalam ruangan


muncul Nyonya Yuri dengan wajah cerah dan


senyum lembut yang senantiasa terkembang.


"Ibu.. kenapa repot-repot datang kesini..Ibu


bisa menyuruh saya untuk datang..!"


Nyonya Yuri langsung merangkul Kiran yang


terhenyak sesaat, namun akhirnya dia juga


membalas rangkulan ibu mertuanya itu.


"Ibu datang kesini ingin memberikan sesuatu


untukmu sebelum kalian pergi..!"


Ucap Nyonya Yuri setelah mereka melepaskan


rangkulan nya. Agra hanya memperhatikan


keduanya dari jauh karena saat ini dia sedang


melakukan panggilan telepon.


Kiran dan Nyonya Yuri duduk di kursi yang ada


di pojok ruangan. Kepala pelayan maju seraya


menyodorkan kotak kecil ke hadapan Nyonya


Besarnya. Kiran menatap dan memperhatikan


ibu mertuanya itu yang sedang membuka kotak


cantik berwarna merah tersebut. Dia tampak


melebarkan matanya saat melihat Nyonya


Yuri meraih satu kalung berlian cantik dengan


model yang sangat unik dan istimewa.


"Ini adalah kalung pernikahan kami, barang


pertama yang di berikan oleh ayah mertua mu


pada ibu.."


Ucap Nyonya Yuri sambil berdiri di hadapan


Kiran yang hanya bisa terdiam di tempat .


"Sekarang kalung ini ibu wariskan padamu.."


Lirihnya kemudian sambil melingkarkan benda


berkilauan yang sangat indah itu ke leher Kiran


yang hanya bisa menatap kagum pada kalung


cantik itu. Matanya berbinar indah melihat


benda cantik itu kini telah melingkar di leher


jenjang nya, sangat indah dan memukau.


"Ta-tapi ibu..ini terlalu berharga buat ibu..dan


saya merasa kurang pantas menerima benda


sepenting ini.."


"Tidak ! hanya kamu yang pantas menerima


nya. Ayah Hoshi sudah menyetujui nya..!"


"Ibu..Apa ini tidak berlebihan..?"


Kiran meraih kalung itu dengan tatapan yang


sangat terpukau pada benda itu.


"Tidak sama sekali. Semua ini layak kamu


terima, setelah apa yang kamu lalui selama


ini.. terimalah..!"


"Terimakasih banyak bu..!"


Kiran kembali memeluk erat ibu mertuanya itu


penuh rasa haru dan syukur. Agra tiba-tiba saja


sudah ada di dekat mereka, menatap keduanya


dengan tenang.


"Kau memang pantas menerima nya..!"


Lirihnya saat Kiran sudah melepas rangkulan


nya. Kiran tersenyum lembut seraya memeluk


tubuh gagah suaminya penuh rasa bahagia.


****** ******


Keluarga kecil itu kini sudah ada di meja makan


di taman belakang. Sarapan pagi kali ini sangat


lah istimewa karena menu yang di hidangkan


adalah makanan khas negara asal Nyonya Yuri.


Dan mereka pun duduk di meja makan modern


jadi tidak harus duduk bersimpuh lagi.


Untuk sesaat ke 4 nya masih terdiam dengan


wajah tampak sedikit berat sampai akhir nya


Kiran bergerak menuangkan makanan hasil


buatannya tersebut ke piring ayah mertuanya.


"Silahkan di coba Ayah, semoga ayah suka.


Dan maaf saya hanya bisa membuat beberapa


menu sederhana saja.."


Lirih Kiran sambil menundukkan kepala sedikit.


Tuan Hasimoto menatap tenang wajah Kiran,


lalu perlahan dia mulai mencicipi makanan itu.


Kiran dan Nyonya Yuri terdiam sedikit tegang,


sedang Agra terlihat mendengus kesal karena


Kiran lebih mendahulukan Ayahnya daripada


dirinya.


makanan yang ada di mulutnya. Dia terkejut,


makanan ini rasanya berbeda, tapi terasa


begitu lezat, dia juga cukup sering mencicipi


makanan hasil masakan istrinya, tapi buatan


Kiran ini memang sungguh lezat dan berbeda.


"Bagaimana.. apakah ayah suka rasanya..?"


Kiran penasaran karena tidak ada respon dari


ayah mertuanya itu hanya terus makan saja.


Tanpa kata dia kembali menunjuk pada wadah


makanan tadi dengan isyarat mata.


"A-apa.. ayah menyukainya. ?"


Kiran mencoba meyakinkan, Tuan Hasimoto


mengangkat jempolnya. Wajah Kiran berbinar


bahagia. Dia kembali menuangkan makanan


tadi, kali ini dengan porsi sesungguhnya. Agra


melipat kedua tangan di dada seraya menatap


kesal kearah istrinya itu yang malah sibuk


sendiri dengan kegiatan melayani mertuanya.


Sementara Tuan Hasimoto tampak tersenyum


puas sudah berhasil mengambil alih perhatian menantunya. Lain lagi dengan Nyonya Yuri


yang hanya bisa menarik napas lega seraya


mengulum senyum bahagia melihat semua itu.


"Kiran..! sampai kapan kau akan membiarkan


aku menunggu..!"


Tidak tahan lagi Agra menggeram kesal. Kiran


tersentak, baru sadar atas kekhilafan nya. Dia


segera melirik kearah Agra, tersenyum gusar


dengan wajah dipenuhi rasa bersalah.


"Maaf sayang..aku sampai lupa padamu..!"


"Apa, kau lupa padaku karena kehadiran orang


baru itu.? aku yang sudah berkorban banyak


untukmu Kiran..!"


"Iya aku tahu, sekali lagi maaf ya sayang.."


Agra mendelik kesal kearah Tuan Hasimoto


yang hanya tersenyum miring.


"Aku ini suamimu Kiran, sementara dia itu


hanya orang yang baru kamu kenal.!"


"Dia ayah mertuaku sayang.. sudah ya..tidak


usah di perpanjang.."


Kiran segera bergerak menuangkan makanan


tersebut ke piring Agra yang masih saja terlihat


kesal, menatap tajam kearah ayah nya yang


terlihat sangat menikmati makanan nya.


"Tidak bisa. ! kau bahkan baru saja mengenal


nya..! kau juga tahu benar kalau dia itu pria


yang licik..!"


"Hei.. siapa yang kau bilang licik.?"


Tuan Hasimoto menyela tidak suka, kedua


mata ayah dan anak itu saling menatap panas.


"Memang nya kau pikir siapa lagi Tuan Besar


yang terhormat..?"


"Aku bukan licik Tuan Muda, itu yang di sebut


sebagai cerdik.!"


Dengus Tuan Hasimoto. Kiran menatap kedua


nya bergantian sambil menggeleng resah.


"Apa kalian hanya akan terus berdebat.?"


Kiran mencoba melerai dan mengingatkan


mereka. Keduanya langsung terdiam, lalu


memalingkan wajah sambil kemudian mulai


fokus pada makanan nya. Kiran dan Nyonya


Yuri saling pandang kemudian menggeleng


bersamaan sambil tersenyum geli. Aroma


persaingan itu tetap saja ada, bahkan untuk


hal-hal sepele seperti ini. Akhirnya mereka


menikmati sarapan paginya dengan tenang.


"Kita akan segera menyusul kalian, tapi kamu


harus membuatkan banyak makanan yang


lezat nanti.!"


Kiran tampak terganga, Agra terdiam kaku


sedang Nyonya Yuri terkejut tidak percaya.


"Kalian tidak percaya padaku.?"


"Benarkah ayah akan segera menyusul kami?"


Kiran mencoba meyakinkan, Tuan Hasimoto


mengangguk yakin. Agra mengerjap, dia masih


belum percaya sepenuhnya.


"Kau akan datang ke istanaku..?"


Tanya Agra cepat, keduanya saling menatap.


"Aku seorang ksatria, pantang bersilat lidah.!"


Jawab Tuan Hasimoto mantap. Agra menekan tinjunya ke atas meja seraya menundukan


kepala mengucap syukur dengan pelan, cara bersyukur yang aneh ! Kiran tampak tersenyum


lebar, menatap lekat Ayah mertuanya.


"Terimakasih ayah..kau sudah membekali


kami kebahagiaan sebelum pulang..!"


Lirih Kiran sambil berdiri lalu membungkuk.


"Semua ini karena masakanmu..!"


Ujar Tuan Hasimoto sekena nya. Kiran tampak


mengerucutkan bibir nya kecewa tapi wajahnya


tetap berbinar bahagia. Nyonya Yuri meneteskan


air mata, akhirnya..untuk pertama kalinya setelah


sekian lama suaminya itu di beri kesadaran juga


untuk mengunjungi kembali negara asal dirinya.


Tempat kelahirannya, tempat keluarganya .


------ ------


Akhirnya sekitar jam 11 siang waktu setempat,


setelah cuaca sedikit tenang Agra dan Kiran berpamitan pada kedua orang tuanya. Agra


tampak berangkulan dengan Tuan Hasimoto


setelah cukup lama tidak pernah melakukan


nya. Keduanya begitu larut dalam rasa haru.


"Jagalah istrimu baik-baik..dia memang layak


untuk kamu kejar..!"


Desis Tuan Hasimoto membuat Agra tersenyum


tipis sambil mengangguk.


"Aku tunggu kalian di istanaku..!"


Ucap Agra sambil melepaskan rangkulan nya.


Kini giliran Kiran yang berada dalam pelukan


ayah mertuanya itu. Tuan Hasimoto mengusap


lembut rambut menantunya itu.


"Terimakasih karena ayah sudah menerima


saya dengan ikhlas..saya hanyalah wanita


yang banyak kekurangan.."


"Kau sudah cukup sempurna untuk putraku.


Jadilah wanita yang kuat..dan berilah kami


cucu secepatnya..!"


"Insya Allah kalau sudah waktunya semua


akan terkabul ayah..!"


"Kalian akan mendapatkan anak kembar. Aku


sudah memastikan itu dengan obat yang kau


minum kemarin..!"


"Ohh..jadi kau melakukan semua itu untuk


hal ini.? dasar tidak manusiawi..!"


Dengus Agra sambil memalingkan wajahnya.


Tuan Hasimoto tersenyum santai.


"Itu untuk masa depan kalian berdua..!"


"Tapi kau sudah melakukannya tanpa izinku.!"


"Sudah, biarkan takdir Tuhan yang berbicara.


Kita serahkan saja semuanya pada yang Maha


Mengatur kehidupan.."


Debat Kiran membuat kedua anak dan ayah yang


selalu bersaing tidak jelas itu terdiam seketika.


Nyonya Yuri hanya bisa menepuk jidat pusing.


Kiran melepaskan diri dari pelukan sang ayah


mertua. Agra langsung merengkuh bahu Kiran, keduanya kini berdiri di hadapan kedua orang


tua tersebut, lalu membungkuk bersamaan.


"Selamat tinggal ayah..ibu.. sampai bertemu


kembali di istana kami..!"


Seru kiran seraya melambaikan tangan kepada


kedua mertuanya itu saat mobil yang membawa


mereka mulai melaju meninggalkan halaman


depan istana. Tuan Hasimoto mengusap pelan


sudut matanya yang basah membuat sang istri mengerjap tidak percaya. Kiran..ya..menantu


nya itu telah meninggalkan kesan yang cukup


mendalam bagi mereka berdua..


Ternyata.. sebelum pergi menuju bandara,


Agra terlebih dahulu membawa Kiran untuk bernostalgia sebentar dengan mendatangi


taman bunga sakura. Kiran terlihat begitu


bahagia saat menapakkan kembali kakinya


di tempat itu. Walaupun saat ini area itu di


penuhi oleh salju namun tidak mengurangi antusiasme Kiran menjelajahi kembali setiap


sudut tempat yang pernah di datangi olehnya


dulu bersama dengan Agra.


"Sayang..aku ingin jajanan yang dulu pernah


kita beli, apa tempat nya masih ada ya..?"


Pinta Kiran sambil menarik tangan Agra menuju


ke area kuliner tempat dulu mereka menikmati


jajanan di sana. Agra tampak mengikuti semua keinginan istrinya itu dengan senang hati. Dan


ternyata tempat kuliner itu memang masih ada.


Kiran membeli semua yang dulu sering di beli


nya. Mereka kembali berjalan bergandengan


tangan sambil menikmati makanan yang tadi


sudah di beli oleh Kiran.


Namun setelah cukup lama menjelajah Kiran


tiba-tiba menghentikan langkahnya. Alisnya


tampak bertaut dalam.


"Sayang.. ngomong-ngomong kenapa tidak


ada seorangpun pengunjung yang datang ke


tempat ini.? apa kita terlalu pagi datangnya?"


Agra tersenyum tipis, dia menatap tenang


wajah bingung istrinya itu.


"Memang tidak akan ada yang datang sayang..


karena aku sudah menyewa tempat ini khusus


untuk kita berdua saja..!"


"Apa..? kenapa kamu melakukan semua ini.?"


"Agar kita bisa bebas menjelajahi tempat ini


tanpa adanya gangguan..!"


"Iishh kau ini.. kenapa harus sampai seperti


ini sih, kan lebih seru kalau ada orang lain.!"


Kiran cemberut, Agra mendekat, mengetatkan


mantel dan syal yang di pakai Kiran, kemudian


merapihkan penutup kepala nya karena hawa


dingin semakin terasa membekukan.


"Karena aku ingin menikmati kecantikan Sachi


ku sepuasnya di tempat ini, tanpa ada orang


lain, hanya ada Hoshi..dan Sachi..!"


Lirih Agra sambil kemudian memagut bibir


Kiran, ******* nya lembut penuh perasaan.


Keduanya terhanyut dalam ciuman lembut


dan manis yang mampu mengalahkan hawa


dingin yang tercipta di sekelilingnya di atas


jembatan merah yang pernah menjadi saksi


pertemuan pertama mereka.


Setelah lama akhirnya Agra mengangkat tubuh


Kiran ke dalam pangkuan nya di bawa keluar


dari area taman untuk melanjutkan perjalanan,


kembali pulang ke tanah air untuk memulai


hidup yang lebih tenang, kehidupan rumah


tangga yang baru akan mulai mereka bina...


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....