Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
13. Tuan Agra Bintang


 


**********


 


Agra menarik tangan Kiran untuk berdiri tanpa


melepas genggamannya. Kiran merapatkan


tubuhnya ke tangan Agra sambil menyusupkan


wajahnya ke punggung laki-laki itu karena tidak


sanggup melihat bagaimana hewan-hewan


lapar itu kini siap menerkam mereka.


"Tetaplah di samping ku, jangan bergerak keluar.!"


Titah Agra sambil bersiaga dan mengeluarkan


senjata dari balik jaketnya. Sebenarnya dia tidak


ingin menggunakan senjata api, namun melihat


gelagat yang cukup membahayakan ini mau


tidak mau dia harus memakainya.


"Tapi aku takut Agraa..apakah kita akan berakhir


disini sekarang.."


Suara Kiran bergetar menahan rasa takut dan


tubuh nya yang semakin lemas. Tatapan Agra


tampak waspada melihat semua pergerakan


para serigala itu yang sedang menyalak kearah mereka dengan suara yang sangat memekakkan telinga. Mulut mereka juga mengeluarkan cairan


yang sangat menjijikkan.


"Berpikir positif, berusaha untuk tetap tenang,


jangan berpikiran yang tidak-tidak, aku ada di


sini, kau tidak perlu takut oke ?!"


Bisik Agra menenangkan, Kiran berusaha untuk


percaya pada suaminya itu namun kemudian dia


menjerit histeris saat tiba-tiba seekor serigala


menerjang kearah mereka. Dengan gerakan cepat


Agra kembali menendang kepala hewan itu lalu


memukulnya memakai senjata di tangan nya.


Dia juga meletuskan senjata ke udara untuk


memberi peringatan pada hewan-hewan itu


agar menjauh, namun beberapa diantara malah


meloncat menerjang dan menyerang Agra.


Tanpa melepas perlindungan nya terhadap Kiran


Agra kembali melawan dan melumpuhkan hewan


liar itu mengunakan tendangan dan pukulan


hingga beberapa diantaranya terlempar jauh


dan mengerang kesakitan.


Dalam keadaan itu Badar dan Bara datang ke


sana langsung menyerang hewan-hewan buas


itu mengunakan senjata yang mereka bawa.


Akhirnya setelah beberapa saat mereka semua


bisa memukul mundur hewan-hewan itu hingga


kabur dengan keadaan babak belur.


Kiran menjatuhkan dirinya di atas tanah karena


tubuhnya lemas dan sakit akibat pergerakan


Agra yang memaksa nya untuk mengikuti setiap gerakannya.Gadis itu kini menangis ketakutan.


Agra berjongkok di hadapannya, meraih wajah


gadis itu dan merapihkan rambutnya yang


tampak berantakan. Tidak peduli apapun lagi


Kiran memeluk erat tubuh tegap Agra menangis


tersedu di dadanya.


"Kenapa harus seseram ini tinggal di sini..rasa


nya aku tidak kuat lagi Agra..aku ingin pulang


saja ke kota..!"


Rengek Kiran semakin tersedu, Agra menarik


napas berat sambil mempererat pelukannya.


Dia menciumi puncak kepala Kiran dengan


wajah yang kini sudah sedingin kutub utara.


Badar dan Bara hanya bisa terdiam melihat


keduanya masih mencoba mengatur napas.


"Kita akan bicarakan ini nanti, sekarang sebaik


nya tenangkan dirimu dulu.!"


Bisik Agra sambil kemudian mengangkat tubuh


Kiran ala bridal style. Mereka semua berjalan


menuju ke pondok tanpa ada lagi suara.


Tiba di pondok semua orang tampak ribut


menanyakan kondisi Kiran yang sedang


meringkuk di dalam pangkuan Agra.


Tanpa kata Agra langsung membawa Kiran


masuk ke dalam kamar tempat nya beristirahat. Lintang dan beberapa pegawai wanita ikut


masuk ke dalam kamar untuk membantu


menangani keadaan Kiran.


"Tolong bantu dia membersihkan diri.!"


Titah Agra pada Lintang yang mengganguk


pelan. Dia kembali menatap Kiran yang kini


terlihat memejamkan matanya mencoba untuk


menenangkan dirinya. Agra keluar dari kamar


untuk kembali menemui tamunya .


"Nona tidak apa-apa..? apa ada yang terluka.?"


Tanya Lintang sambil membuka jaket yang di


pakai Kiran. Pegawai wanita yang lain membantu


melepaskan sepatunya. Kiran membuka matanya.


"Aku tidak apa-apa Lintang, tapi tubuh ku rasa


nya remuk semua."


Lirih Kiran seraya menggerakkan badannya


yang kini terasa linu di semua bagian.


"Apa mau saya pijat Nona ? "


Tawar salah seorang pegawai wanita dengan


tatapan yang begitu mengkhawatirkan Kiran.


"Tidak usah Bu, saya hanya perlu istirahat."


Tolak Kiran sambil tersenyum lembut.


"Saya akan menyiapkan air hangat untuk Nona."


Ucap seorang lagi sambil kemudian berlalu


keluar dari kamar.


"Apakah kehidupan di tempat ini memang


seperti ini Lintang, harus se ekstrim ini.?"


Tanya Kiran dengan tatapan mata yang sendu,


lelah dan seakan ingin menyerah.


"Iya memang seperti ini Nona, kami sudah


terbiasa dengan semua ini."


"Bagaimana kalian bisa bertahan dengan semua


bahaya yang selalu mengancam setiap saat.!"


"Kami hanya bisa menghindari nya Nona, tidak


berusaha untuk mendatangi bahaya. Kita punya


lingkungan kehidupan sendiri."


Jawab Lintang sambil meletakkan jaket Kiran


di ujung tempat tidur. Kiran terdiam, sungguh


bagi dirinya ini semua memang sangat tidak


masuk akal, dia tidak menyangka kalau tempat


ini sangat di luar dugaan.


"Baiklah.. terimakasih atas bantuan kalian. Aku


akan membersihkan diri, kalian boleh keluar."


Kiran beranjak dari atas tempat tidur saat


melihat seorang pegawai membawa air hangat


seember penuh.


"Baik Nona, kalau begitu kami permisi.!"


Sahut Lintang sambil kemudian keluar di ikuti


oleh para pegawai lainnya. Kiran menarik napas panjang , apakah dia harus menyerah sekarang, padahal baru beberapa hari saja ada di tempat ini.


Dia segera masuk ke dalam kamar mandi yang


hanya seukuran 2 kali 3 meter saja.


------ ------


Setelah berbicara beberapa saat dengan Agra


para tamu tadi akhirnya pamit pulang. Moza


terlihat berat untuk meninggalkan Agra.


"Saya masih bisa bermain lagi ke sini kan


Tuan Agra.? saya ingin mengajak anda untuk


bermain lumpur di lintasan sebelah.!"


Moza berucap penuh harap seraya menatap


dalam wajah tampan Agra yang terlihat datar


saja, tapi justru hal itu membuat gadis pecinta


balapan itu semakin penasaran.


"Apa saya bisa menolak permohonan seorang


putri penguasa di daerah ini Nona Moza.?"


Wajah gadis itu kontan saja merona di penuhi


rasa senang, dia kembali tersenyum manis.


"Terimakasih Tuan..kita lihat apakah anda


bisa menguasai lintasan liar di tempat ini !"


Ucap Moza sambil membungkuk sedikit, setelah


itu dia kembali melempar senyum memikat nya


pada Agra kemudian melangkah kearah mobilnya.


Dia melambaikan tangan kearah Agra sesaat


sebelum melajukan mobil Jeep mewah nya.


"Dia itu pembalap idola di daerah sini Tuan.!


Banyak pengusaha luar yang ingin melamar


nya untuk di jadikan istri.!"


Terang Badar yang ada di sampingnya. Bara


gadis pembalap tadi.


"Kau pikir itu penting bagiku.? "


Geram Agra dengan tatapan yang sangat dingin.


Badar langsung menunduk, dia telah melupakan


satu fakta penting.


"Maafkan saya Tuan, saya benar-benar lupa


kalau anda sudah memiliki Nona Kiran.!"


"Kumpulkan semua penjaga, aku ingin memberi instruksi penting. Dalam waktu satu jam semua


sudah harus ada di dekat pos.!"


"Baik Tuan laksanakan..!"


Sambut Badar sambil kemudian membungkuk


lalu pergi dari hadapan Agra.


"Kamu sudah menghubungi Russel ? katakan


padanya jangan terlalu mencolok, pilih anak


buahnya dari daerah lokal saja.!"


Agra berbicara dengan mimik yang sangat


serius, Bara langsung mengangguk antusias.


"Sudah Tuan, kapanpun di butuhkan mereka


siap terbang kesini, hanya saja sarana di tempat


ini sangat terbatas !"


"Itu akan kita atur sekarang.!"


Sahut Agra dengan rahang yang semakin tegas


dan wajah yang semakin dingin. Sudah cukup


bagi dia menyaksikan bagaimana Kiran begitu tertekan dengan semua kondisi di tempat ini.


Dia harus membereskan apapun itu yang bisa membuat sisi trauma istrinya bangkit kembali.


Akhirnya setelah sekitar satu jam menunggu


kini semua penjaga yang hanya tersisa sekitar


15 orang telah berkumpul di pos jaga depan.


Mereka semua berasal dari berbagai wilayah


perkebunan. Jumlah mereka memang sudah


berkurang. Sudah 3 hari ini pencurian terus saja berlangsung hingga para penjaga banyak yang


terluka dan tidak bisa bertugas.


Agra sudah memastikan siapa dalang di balik


aksi pembalakan liar ini. Dan dia hanya akan


menuggu waktu yang tepat untuk membekuk


mereka semua sekaligus membereskannya.


"Apa yang terjadi sebenarnya.? kalian sudah


menyelidiki semuanya.?"


Tanya Agra dengan membagikan tatapan tajam


pada semua penjaga yang berbaris patuh di hadapannya sambil menunduk.


"Seperti dugaan semula Tuan, semua sengaja


di gerakkan.!"


Jawab seorang penjaga yang bertugas menjadi


koordinator bagi para penjaga lainnya.


Rahang Agra tampak mengeras, tangannya


terkepal kuat, wajahnya berubah kelam.


"Mereka sengaja ingin menggiring Kiran dan


aku untuk keluar dari tempat ini.! kita lihat


saja sampai dimana permainan mereka.!"


Geram Agra sambil memainkan senjata di


tangannya kemudian membidikkan kearah


luar hingga membuat lutut para penjaga


bergetar ketakutan.


"Sisir semua tempat di seluruh wilayah.! kalian


harus pastikan tidak akan ada lagi binatang liar


yang bisa datang ke tempat ini.!"


Titah Agra dengan suara yang sangat tegas di


penuhi oleh emosi yang tertahan.


"Baik Tuan, tapi kami kekurangan personil, kita


perlu tambahan tenaga baru untuk membentengi


setiap wilayah.!"


Sahut Badar karena dia menyadari kekuatan


mereka saat ini semakin berkurang. Anak buahnya


hanya tersisa 15 orang lagi, dan itu sangat tidak


cukup untuk menjaga 4 wilayah. Sudah sekitar 20 orang bawahannya terluka dan tidak bisa lagi


bertugas untuk saat ini.


"Semuanya sudah aku atur, mereka akan


datang kalau sudah waktunya.!"


Ucap Agra sambil kembali berdiri tegak di


hadapan para bawahannya itu.


"Aku sengaja mengumpulkan kalian di sini


untuk memastikan loyalitas kalian semua.!"


Kembali tegas Agra dengan gestur dan sikap


yang sangat berbeda dari biasanya. Seorang


Agra yang asli kini keluar seluruhnya.


"Mungkin diantara kalian belum banyak yang


tahu siapa Tuan Bimantara Agra Bintang..tapi


aku akan pastikan kalau kalian berkhianat


maka hidup kalian tidak akan selamat.!"


Bara memberi penegasan dengan menekan


kan kata-katanya. Semua penjaga tampak


menunduk dalam, gemetar ketakutan.


"Kami tidak akan berani Tuan Bimantara.."


Kompak mereka dengan kepala yang semakin


menunduk. Agra tersenyum miring.


"Baiklah..Aku minta kalian harus menyiapkan


landasan helikopter yang baru di dekat sini.


Semuanya sudah harus siap dalam 7 hari.!"


Badar dan Bara serta para penjaga tampak


terkejut bukan main. Mereka saling pandang


di penuhi rasa penasaran.


"Minta bantuan pada para pekerja, kalau perlu


kerjakan juga di malam hari.! Badar kau atur


semua kebutuhan materialnya.!"


Badar masih dalam mode bingung dan kaget.


Agra menatap tajam wajah laki-laki bertubuh


besar itu.


"Apa kau masih ada pertanyaan Badar.?"


"Ma-maaf Tuan..a-apakah anda akan segera melakukan penebangan ?"


"Iya..Kita akan memancing ikan itu agar


segera masuk ke dalam perangkap.!"


"Kalau begitu kita harus segera menemui Tuan


Hasim yang sudah berani membeli dengan


harga yang telah di tetapkan oleh Nona Kiran."


"Suruh orang itu datang kesini untuk segera


menandatangi nota jual beli.! kita akan ikuti


dulu apa yang di tetapkan oleh Kiran.!"


Bara tampak tidak setuju dengan ide konyol


Tuan nya itu karena dia yakin semuanya akan


sia-sia saja, sebab para bandar di tempat ini


masih terpusat di satu otoritas.


"Tuan.. pembeli bukanlah masalah bagi kita.


Kenapa anda harus repot-repot terjun langsung


untuk masalah sepele seperti ini.!"


Ucap Bara berusaha mengingatkan Agra bahwa


semua ini hanyalah masalah sepele bagi Tuan


nya itu, lalu apa yang di rencanakan olehnya.!


Agra tersenyum miring sambil menatap lurus


kearah pondok.


"Kau benar, pembeli bukanlah masalah bagiku.!


yang paling penting aku ingin segera membawa


Kiran dari tempat ini ! Tapi tidak secepat itu


pula, dia harus mulai menerima ku sedikit


demi sedikit.!"


Sahut Agra dengan sesungging senyum tipis


yang mampu menguraikan wajah kelamnya.


"Tapi Tuan kita hanya akan membuang-buang


waktu saja dengan berada di tempat ini.! anda


lihat bukan, semuanya sungguh tidak layak


bagi anda.! makanan, tempat tinggal, kulit


anda akan alergi berat kalau terlalu lama


tinggal di tempat ini.!"


"Kamu terlalu bawel Bara, apa yang tidak bisa


aku lakukan untuk wanita yang selama 15


tahun ini aku dambakan.!"


Debat Agra membuat Badar dan para penjaga


hanya bisa terdiam dalam kebingungan melihat


perdebatan Tuan dan asistennya itu.


"Baiklah, terserah Tuan saja."


Akhirnya Bara hanya bisa menarik napas berat.


Kalau soal hati dan perasaan apapun itu tidak


akan bisa mengalahkan nya, apalagi perasaan


Tuan nya terhadap Kiran yang sudah di pendam


nya selama belasan tahun.


 


**********


 


TBC.....