Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
41. Bermandikan Cahaya Bulan


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Suasana di dalam kamar pribadi Agra di penuhi


aroma wangi segar yang keluar dari bunga-bunga cantik nan harum yang tersimpan hampir di


seluruh sudut ruangan. Cahaya bulan purnama


yang jatuh tepat di atas tempat tidur membiaskan cahaya indah menyinari satu satu sosok molek


yang kini tengah terbaring di atas tempat tidur. Lingerie warna maroon tampak membalut tubuh indahnya membuat dia semakin menggiurkan.


Agra keluar dari kamar ganti, saat ini dia hanya


memakai jubah mandi besar. Bagian dadanya


di biarkan terbuka hingga dada bidang nya yang


sedikit berbulu nampak begitu menggoda.Dia


berdiri di sisi tempat tidur, menatap seluruh


tubuh indah istrinya itu dari ujung rambut


sampai ujung kaki, saat ini darahnya terbakar


hebat, tubuh bagian bawahnya sudah meronta


sejak melihat keadaan Kiran di kolam rendam tadi.


"Apakah malam ini aku bisa memiliki dirimu


seutuhnya bidadari ku.."


Lirih Agra sambil kemudian naik ke atas tempat


tidur, perlahan meraih tubuh molek itu kedalam pelukannya. Di pandangnya lekat wajah cantik


nan elok itu dengan tatapan yang sangat dalam


dan memuja di penuhi kabut gairah yang sudah


tidak tertahankan lagi. Rasanya dia tidak akan sanggup lagi kalau harus menahannya kali ini.


Sudah sekitar 15 menit Kiran larut dalam lorong


kegelapan akibat tekanan hebat yang cukup mengguncang jiwanya.


Perlahan dia mulai membuka matanya, mencoba


mengumpulkan semua kesadarannya, mengingat


kembali apa yang sudah terjadi beberapa saat ke belakang. Kiran tersentak ketika menyadari saat


ini dirinya ada dalam rengkuhan kuat satu sosok


tegap yang hanya berbalut jubah mandi saja.


Kedua mata mereka bertemu, saling menatap


kuat seolah sedang saling meyakinkan diri.


"Agra.. benarkah ini kamu..?"


Tangan halus lembut Kiran bergerak meraih


wajah tampan Agra, menyusuri setiap detail


wajah yang terpahat dengan sempurna itu.


Dia mencoba meyakinkan penglihatannya.


"Iya..ini aku sayang..aku pulang..Aku sudah


tidak bisa lagi jauh darimu walau hanya


sehari saja.."


Bisik Agra sambil meraih tangan Kiran lalu


menciuminya lembut. Dengan luruhan air


mata bahagia Kiran menyusupkan wajahnya


di belahan dada bidang Agra yang terbuka.


Tangannya di pakai menekan dada laki-laki


itu memukulnya pelan mencoba mengeluarkan


segala ganjalan yang ada di hatinya.


"Apa kau tahu..aku sangat tersiksa karena tidak


bisa menghubungi mu.! kamu menghilang begitu


saja tanpa kabar.! kenapa selalu begini Agra..


kenapa kamu membuatku menderita.!"


Kiran mengeluarkan segala unek-uneknya


sambil tiada henti memukuli dada Agra yang


membiarkan saja istrinya itu menumpahkan


semua kesakitannya, sesungguhnya dirinya


pun merasakan hal yang sama.


"Keluarkan lah semua beban di hatimu itu.


Cabiklah hatiku sekalian.. kalau mau kamu


bisa mencopot jantungku..agar kamu tahu


dan mm bisa melihat seberapa dalamnya


perasaan ku padamu Kiran..!"


"Perasaanku lebih dalam lagi padamu..! kau


tidak tahu bagaimana menderita nya aku


menahan beban rindu padamu.! tapi kamu


seolah tidak peduli, kamu membiarkan aku


tenggelam dalam kesakitan ku sendiri.!"


"Maafkan aku sayang.. tidak ada niat sedikitpun


dalam hatiku untuk membuatmu menderita."


"Aku mencintaimu Agra...tolong jangan pernah


meninggalkan ku.! aku sangat mencintaimu."


Deg !


Jantung Agra kini serasa berhenti berdetak.


Tubuhnya lemas seketika. Sementara Kiran


semakin mempererat pelukannya seraya


menumpahkan seluruh air matanya. Agra


mencoba mengontrol dirinya, dia mencium


puncak kepala Kiran sambil menarik napas


dalam-dalam.


"Asal kau tahu..aku sudah mencintai mu sejak


lama. Sejak pertama kali aku melihat mata


indahmu itu, aku sudah jatuh cinta padamu.."


Kiran menghentikan tangisnya. Jiwanya saat


ini seakan melayang, tidak percaya pada apa


yang di dengarnya. Dia melonggarkan pelukan


nya, lalu mendongakkan kepala, keduanya kini


saling pandang kuat.


"Apakah itu benar..?"


Tanya Kiran dengan polosnya. Agra tersenyum


lembut, tangan nya membelai wajah bening


mulus Kiran, tatapannya kini semakin dalam.


"Tentu saja..kau adalah bunga sakura ku yang


cantik di musim semi, yang selalu aku nanti


di jembatan merah..!"


Kiran melongo. Terkejut.? tentu saja ! bahkan


sangat terkejut. Matanya yang indah tampak


melebar menyiratkan rasa tidak percaya.


"Kak Hoshi...? kau kah orang yang ingin aku


temui di tempat itu ? tapi tidak pernah aku


temukan lagi.!"


"Apa kau tahu..aku sampai harus mengelabui


para penjaga agar bisa datang kesana lalu


menunggu mu sampai malam di jembatan


itu Nona kecil Sachi.."


Kiran menggeleng kuat, matanya kian melebar


tidak percaya dengan semua kenyataan yang


sangat mengejutkan ini. Apakah dirinya masih


berada di dalam mimpi.?


"Tidak ! kau bukan pria kecilku itu.! kau sangat


penakut, kau juga sangat lembut dan santun.!"


"Kau yang sudah mengubahku sayang..! jiwa


ku yang sesungguhnya bangkit setelah


bertemu denganmu..!"


Kiran kembali menggeleng lemah. Air mata


nya kini semakin deras membasahi pipinya.


"Waktu itu Ayahku langsung membawaku


pulang setelah ayahmu datang ke rumah.!"


Mata Agra langsung menatap tak percaya.


Wajahnya tiba-tiba berubah dingin.


"Ayahku.. mendatangi ayahmu.?"


Rahang nya tampak mengeras. Wajahnya


juga semakin dingin. Kiran meraup wajah


Agra membelai nya lembut penuh cinta.


"Waktu itu aku masih kecil, aku tidak mengerti


apapun..! yang aku tahu aku hanya berusaha


melupakan keberadaan mu walau pun itu


sangat sulit.!"


Lirihnya. Agra meraih tubuh Kiran ke dalam


dekapannya. Keduanya saling memeluk erat


mencoba menyalurkan segala rasa yang kini membuncah di dalam dada.


Setelah cukup lama saling memeluk...


Agra bergerak meraih gelas kecil dari atas


nakas kemudian mendekatkan nya ke mulut


Kiran yang menautkan alisnya.


"Apa ini..? ini seperti jamu, aku tidak suka.!"


Elak nya seraya menutup mulut dan hidung nya.


"Minumlah.. itu baik untuk kita..!"


"Kita ? apa kau bercanda.? bagaimana bisa


ini baik untuk kita sementara aku yang minum.!"


"Jangan banyak protes sayang..apa kau mau


eyang putri memberimu hukuman baru.?"


Mendengar nama eyang putri di sebut Kiran


langsung meneguk minuman itu walau akhir


nya dia harus terbatuk-batuk dan berlari ke


kamar mandi karena tidak kuat dengan aroma


aneh yang keluar dari minuman tersebut.


Kiran membelalakkan matanya saat melihat


pantulan dirinya di cermin yang ada di kamar


mandi. Apa ini ? kenapa dirinya bisa memakai


pakaian minim ini.? dirinya bahkan terlihat


seperti tidak berpakaian sama sekali. Tidak,


bagaimana dia bisa keluar dari kamar mandi


kalau begini caranya.!


"Kiran..apa kau baik-baik saja di dalam.?"


Suara Agra terdengar begitu cemas. Kiran


semakin merasakan gugup dan lagi..kenapa


sekarang dia merasakan tubuhnya serasa


panas dan gerah. Kiran berdiri gelisah, ada


keringat yang kini mulai meremang di dahi


nya, apa yang terjadi? dia merasakan saat


ini ada hasrat aneh yang menggedor jiwanya


ingin segera di lampiaskan.


Agra tidak tahan lagi dia berniat membuka


pintu kamar mandi namun Kiran sudah lebih


dulu keluar. Keduanya saling pandang kuat


dengan sorot mata yang sama-sama sudah


berkabut. Junior Agra semakin tidak bisa


di kendalikan saat melihat seluruh lekuk


tubuh Kiran yang terlihat jelas di balik


pakaian minim bahan itu.


Dia mendekat dan tanpa basa-basi langsung


mengangkat tubuh indah yang sudah memanas


itu ke dalam pangkuannya. Kiran melingkarkan


tangannya di leher kokoh Agra, mata mereka


tiada lepas saling menatap dalam. Perlahan


Agra meletakan tubuh halus lembut nan wangi


itu di atas tempat tidur indah di bawah pancaran


sinar bulan. Untuk sesaat Agra hanya terdiam


memandangi wajah Kiran yang terlihat begitu


cantik bermandikan cahaya rembulan.


Tangannya bergetar membelai mesra wajah


yang kini sudah memerah maksimal itu.


"Sayang..ijinkan aku memiliki dirimu malam


ini. Aku sudah tidak bisa bertahan lagi. Aku


sudah sangat lama menantikan momen ini.


Kau sudah membuatku gila setiap saat..aku.."


Kiran bangkit sedikit , mengecup lembut bibir


Agra dengan pandangan yang kini meredup


karena dirinya pun sudah tidak akan bisa lagi


menolak ataupun menghindar. Saat ini dirinya


pun menginginkan hal yang sama.


"Jangan bicara lagi..aku adalah milikmu


sayang... seutuhnya.. ambilah hak mu..dan


mulailah dengan berdoa untuk kebaikan


hubungan kita ke depan.."


Bisik Kiran dengan suara yang sangat lembut


sedikit bergetar menahan dorongan hasrat


yang semakin menggedor jiwanya. Wajah Agra


terlihat berbinar.. bahagia tiada tara, seolah


bulan kini sudah berada di pangkuan.


"Aku sangat mencintaimu Kiran sayang..


Bunga sakura ku..kau adalah hidupku.."


mendaratkan ciuman lembut di puncak kepala


nya dengan melantunkan doa khusyuk untuk


memulai proses penyatuan ini. Tidak lama


ciuman nya turun ke kening, sangat lama. Lalu


turun lagi di kedua matanya, wajahnya dan


setelah itu barulah mereka seakan tertarik oleh


magnet yang sangat kuat, saling menyergap,


saling ******* dan terhanyut dalam buaian


ciuman penuh gelora kerinduan serta hasrat


yang kini sudah sepenuhnya membakar


seluruh aliran darah mereka.


Dengan gerakan halus dan teratur Agra mulai


melucuti gaun malam Kiran hingga kini tubuh


yang memiliki bentuk sempurna dengan ukuran


yang sangat pas di semua bagian itu sudah polos seluruhnya. Keduanya saling menatap sebentar,


wajah Kiran sudah tidak tahu semalu apa saat


ini. Dia memejamkan matanya saat Agra memulai


ritual memuja seluruh tubuh indahnya itu dengan


memberikan sentuhan lembut di setiap inchi


nya serta meninggalkan jejak kepemilikan di


semua bagian tubuh itu hingga membuat Kiran


menjerit kecil dan mendesah panjang merasakan


sensasi kenikmatan yang baru pertama kali di


rasakannya itu.


"Akkhh..Agra..aku tidak tahan lagi.."


Agra menatap teduh wajah istrinya itu yang


sudah mulai di penuhi oleh keringat.


"Aku akan melakukan nya sekarang sayang..


Ingatlah..aku bersamamu.. Bertahanlah untuk


melewatinya.."


Bisik Agra membuat wajah Kiran kini berubah


tegang setengah ketakutan. Tubuhnya semakin bergetar tegang saat melihat Agra membuka


jubah mandinya, lalu melempar nya asal, hingga


tubuh itu kini polos sudah. Mata Kiran tampak terkesima saat melihat bagaimana gagah dan


perkasa nya tubuh suaminya itu. Dia menelan


salivanya berat saat melihat ke bagian bawah.


Tuhan.. bisakah tubuhnya menahan benda


seperkasa itu.? Kiran menjerit dalam hatinya


sembari menutup wajahnya memakai bantal


saat Agra mulai menindih tubuhnya.


"Jangan di tutupi sayang..biarkan aku menikmati


wajah cantik penuh kenikmatan mu ini..!"


Bisik Agra parau sambil kemudian dia kembali


******* lembut bibir Kiran yang sudah bengkak


itu untuk memulai ritual penyatuan tubuhnya.


Perlahan namun pasti Agra mulai menyatukan


tubuhnya dengan sangat hati-hati, penuh


dengan kelembutan, cinta dan kasih sayang.


Kiran menjerit kesakitan, merasakan tubuhnya


seakan terbelah menjadi dua saat Agra berhasil memasukinya. Air matanya luruh seketika, dia


mencoba meronta , memukul punggung kokoh


Agra sebagai protes bahwa ini sangat sakit.


Agra menatap teduh wajah merah istrinya itu


lalu membungkam bibir nya berusaha meredam


rasa sakit yang di rasakan oleh nya. Bahkan


bukan hanya Kiran saja, dirinya pun saat ini


masih merasakan tidak nyaman.


"Maafkan aku sayang...tapi ini tidak akan


lama, sabarlah.."


Bisiknya seraya menghentikan gerakannya.


Kiran menggeleng kuat sambil terisak.


"Tapi ini sangat sakit sayang.."


"Aku tahu..nanti juga kau akan menikmatinya.."


"Agraa ..akhhh..tapi ini masih sakit.."


Agra menciumi kedua mata Kiran yang penuh


dengan lelehan air mata. Dia mulai bergerak


kembali masih berusaha selembut dan sehalus


mungkin. Dan setelah cukup lama pemanasan


akhirnya semua kesakitan itu berubah menjadi


sebuah kenikmatan tiada banding yang mampu


membuat keduanya melayang naik ke awan


hingga mencapai langit ke tujuh mengarungi


dan menjelajahi sebuah pengalaman baru


yang pertama kalinya untuk mereka. Kedua


nya masih sama-sama murni.


Kiran menatap redup wajah Agra yang di


penuhi peluh dan keringat yang kini tengah menindihnya, memberikan kenikmatan tak


terkira, membawa dirinya mengarungi surga


dunia di bawah pancaran cahaya bulan


purnama. Dia mengusap lembut keringat


yang membanjiri wajah suami perkasa


nya itu dengan tatapan penuh cinta.


"Aku mencintaimu sayang..aku sangat bahagia


karena bisa menyerahkan segala kehormatan


yang ku jaga selama ini padamu Hoshi ku..!"


Lirih Kiran saat mereka mengakhiri ronde


pertama yang memakan durasi sangat lama.


Keduanya saling pandang penuh cinta.


"Aku lebih mencintai mu lagi Sachi ku.."


Balas Agra seraya mengecup mesra bibir Kiran


setelah itu dia menjatuhkan tubuhnya yang di


penuhi keringat di samping Kiran, menarik


kembali tubuh lelah itu kedalam pelukan nya,


mencoba menghirup feromon yang keluar dari


tubuh istrinya itu yang sangat khas dan


menenangkan jiwanya, Agra mencium


puncak kepala Kiran. Tidak lama keduanya


sudah terpejam karena kelelahan.


Namun itu barulah awalnya saja. Selang dua


jam kemudian Agra kembali melancarkan aksi


nya yang lebih ganas dan liar, membuat Kiran


mau tidak mau harus mengimbanginya. Hingga


menjelang subuh barulah mereka mengakhiri


semua pergulatan panas nya. Keduanya terlelap


saling memeluk erat, saling memberi rasa aman,


rasa nyaman dan ketenangan bathin karena


sudah saling memiliki satu sama lain.


------ ------


Pagi hari yang sangat sibuk di istana megah


Hadiningrat. Para pelayan, serta pekerja yang


ada di istana itu bergerak sigap pada tugasnya


masing-masing. Suasana pagi ini sepertinya


ada sesuatu yang berbeda di lingkungan istana


utama. Semua pelayan bergerak senyap, tidak


ada kegaduhan ataupun suara-suara yang bisa


mengganggu kenyamanan sang penghuni kamar


atas yang saat ini masih saja terlelap saling


berpelukan erat dengan keadaan tubuh polos


tersembunyi di balik selimut lembut.


Atap kaca bening itu kini telah tertutup secara


otomatis hingga kini yang memancar adalah


sinar matahari pagi yang hangat dan sudah


melalui proses penyaringan sirkulasi udara


terlebih dahulu hingga tidak akan membuat


mata silau ataupun panas di kulit, namun


justru yang di dapat dan sampai di dalam


ruangan adalah vitamin D yang akan sangat


bermanfaat bagi kesehatan tulang.


Kiran terjaga dari tidurnya, membuka mata


perlahan, kemudian memicing menyesuaikan


cahaya yang jatuh dari atap. Ketika mencoba


bergerak dia meringis kesakitan merasakan


tubuhnya seakan remuk redam. Saat ini seperti


biasa dirinya berada di dalam pelukan posesif


lengan Agra yang menutupi hampir seluruh


tubuh nya.


"Owhh... sakit sekali rasanya.."


Lirih Kiran saat dia berusaha untuk melepas


lingkaran tangan Agra di pinggangnya. Tubuh


mereka saat ini sama-sama polos dan masih


menempel ketat satu sama lain. Wajah Kiran


memerah saat dia mengingat peristiwa indah


semalam. Namun ada rasa tidak enak di hati


nya saat menyadari mereka berdua telah berani mengotori rumah orang dengan apa yang telah


di lakukan semalam.


Malam pertama di rumah orang.? Duhh..apa


kata dunia ? memangnya sudah tidak ada


lagi hotel yang bisa di sewa.?? Kiran menarik


napas perlahan, kembali berusaha untuk


keluar dari kungkungan Agra.


"Akhirnya..bisa juga..!"


Bisiknya saat dia sudah bisa keluar dari


kekuasaan tubuh suaminya itu. Kiran mencoba


bergerak sambil meraih gaun minim nya


yang tergeletak di atas lantai.


"Awwhh.. kenapa sakit banget sih..!"


Kiran memekik kuat ketika dia tidak bisa turun


dari atas tempat tidur karena rasa sakit di


sekujur tubuhnya terutama di bagian bawah


nya terasa sangat sakit dan perih. Agra


tersentak dari tidurnya langsung terbangun


saat mendengar pekikan Kiran.


"Ada apa sayang..kau mau kemana.?"


Kiran menatap Agra meringis merasa bersalah


karena telah membangunkan nya.


"A-aku mau ke air..tapi badanku sakit semua.


Aku juga tidak bisa berjalan. Maaf kamu jadi


terbangun gara-gara aku.."


"Hei..kenapa tidak membangunkan ku.?


memangnya kamu bisa jalan sendiri..!"


Desis Agra sambil tersenyum miring. Tanpa


ragu dia bangkit kemudian duduk di pinggir


tempat tidur. Kiran memejamkan mata saat


melihat tubuh polos suaminya itu.


"Ini semua gara-gara kamu juga..uuhh.. rasa


nya sakit sekali sayang.."


Keluh Kiran sambil kembali mencoba berdiri


setelah dia berhasil menutupi sebagian tubuh


nya dengan gaun minim yang semalam di


pakai nya. Tapi dalam gerakan cepat Agra


meraih tubuh lemah itu di dudukkan di atas


pangkuannya.


"Sini..aku periksa.. nanti aku obati.."


Ucap Agra sambil membuka pelan paha Kiran.


"Awwhh.. sakit sayang.. jangan di buka.!


bawa saja aku ke kamar mandi, aku ingin


berendam di bak whirpool.."


Rengek Kiran karena tidak tahan dengan rasa


sakitnya. Agra menatap khawatir, keduanya


saling pandang lekat.


"Baiklah bidadari ku..kita berendam sekarang.


Setelah itu baru kita obati luka nya.."


Agra segera berdiri sambil mengangkat tubuh


Kiran kemudian melangkah ke arah kamar


mandi masih dengan keadaan tubuh nya yang


polos tidak tertutupi sehelai kain pun..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....