
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Suasana di dalam kamar pribadi Agra di penuhi
aroma wangi segar yang keluar dari bunga-bunga cantik nan harum yang tersimpan hampir di
seluruh sudut ruangan. Cahaya bulan purnama
yang jatuh tepat di atas tempat tidur membiaskan cahaya indah menyinari satu satu sosok molek
yang kini tengah terbaring di atas tempat tidur. Lingerie warna maroon tampak membalut tubuh indahnya membuat dia semakin menggiurkan.
Agra keluar dari kamar ganti, saat ini dia hanya
memakai jubah mandi besar. Bagian dadanya
di biarkan terbuka hingga dada bidang nya yang
sedikit berbulu nampak begitu menggoda.Dia
berdiri di sisi tempat tidur, menatap seluruh
tubuh indah istrinya itu dari ujung rambut
sampai ujung kaki, saat ini darahnya terbakar
hebat, tubuh bagian bawahnya sudah meronta
sejak melihat keadaan Kiran di kolam rendam tadi.
"Apakah malam ini aku bisa memiliki dirimu
seutuhnya bidadari ku.."
Lirih Agra sambil kemudian naik ke atas tempat
tidur, perlahan meraih tubuh molek itu kedalam pelukannya. Di pandangnya lekat wajah cantik
nan elok itu dengan tatapan yang sangat dalam
dan memuja di penuhi kabut gairah yang sudah
tidak tertahankan lagi. Rasanya dia tidak akan sanggup lagi kalau harus menahannya kali ini.
Sudah sekitar 15 menit Kiran larut dalam lorong
kegelapan akibat tekanan hebat yang cukup mengguncang jiwanya.
Perlahan dia mulai membuka matanya, mencoba
mengumpulkan semua kesadarannya, mengingat
kembali apa yang sudah terjadi beberapa saat ke belakang. Kiran tersentak ketika menyadari saat
ini dirinya ada dalam rengkuhan kuat satu sosok
tegap yang hanya berbalut jubah mandi saja.
Kedua mata mereka bertemu, saling menatap
kuat seolah sedang saling meyakinkan diri.
"Agra.. benarkah ini kamu..?"
Tangan halus lembut Kiran bergerak meraih
wajah tampan Agra, menyusuri setiap detail
wajah yang terpahat dengan sempurna itu.
Dia mencoba meyakinkan penglihatannya.
"Iya..ini aku sayang..aku pulang..Aku sudah
tidak bisa lagi jauh darimu walau hanya
sehari saja.."
Bisik Agra sambil meraih tangan Kiran lalu
menciuminya lembut. Dengan luruhan air
mata bahagia Kiran menyusupkan wajahnya
di belahan dada bidang Agra yang terbuka.
Tangannya di pakai menekan dada laki-laki
itu memukulnya pelan mencoba mengeluarkan
segala ganjalan yang ada di hatinya.
"Apa kau tahu..aku sangat tersiksa karena tidak
bisa menghubungi mu.! kamu menghilang begitu
saja tanpa kabar.! kenapa selalu begini Agra..
kenapa kamu membuatku menderita.!"
Kiran mengeluarkan segala unek-uneknya
sambil tiada henti memukuli dada Agra yang
membiarkan saja istrinya itu menumpahkan
semua kesakitannya, sesungguhnya dirinya
pun merasakan hal yang sama.
"Keluarkan lah semua beban di hatimu itu.
Cabiklah hatiku sekalian.. kalau mau kamu
bisa mencopot jantungku..agar kamu tahu
dan mm bisa melihat seberapa dalamnya
perasaan ku padamu Kiran..!"
"Perasaanku lebih dalam lagi padamu..! kau
tidak tahu bagaimana menderita nya aku
menahan beban rindu padamu.! tapi kamu
seolah tidak peduli, kamu membiarkan aku
tenggelam dalam kesakitan ku sendiri.!"
"Maafkan aku sayang.. tidak ada niat sedikitpun
dalam hatiku untuk membuatmu menderita."
"Aku mencintaimu Agra...tolong jangan pernah
meninggalkan ku.! aku sangat mencintaimu."
Deg !
Jantung Agra kini serasa berhenti berdetak.
Tubuhnya lemas seketika. Sementara Kiran
semakin mempererat pelukannya seraya
menumpahkan seluruh air matanya. Agra
mencoba mengontrol dirinya, dia mencium
puncak kepala Kiran sambil menarik napas
dalam-dalam.
"Asal kau tahu..aku sudah mencintai mu sejak
lama. Sejak pertama kali aku melihat mata
indahmu itu, aku sudah jatuh cinta padamu.."
Kiran menghentikan tangisnya. Jiwanya saat
ini seakan melayang, tidak percaya pada apa
yang di dengarnya. Dia melonggarkan pelukan
nya, lalu mendongakkan kepala, keduanya kini
saling pandang kuat.
"Apakah itu benar..?"
Tanya Kiran dengan polosnya. Agra tersenyum
lembut, tangan nya membelai wajah bening
mulus Kiran, tatapannya kini semakin dalam.
"Tentu saja..kau adalah bunga sakura ku yang
cantik di musim semi, yang selalu aku nanti
di jembatan merah..!"
Kiran melongo. Terkejut.? tentu saja ! bahkan
sangat terkejut. Matanya yang indah tampak
melebar menyiratkan rasa tidak percaya.
"Kak Hoshi...? kau kah orang yang ingin aku
temui di tempat itu ? tapi tidak pernah aku
temukan lagi.!"
"Apa kau tahu..aku sampai harus mengelabui
para penjaga agar bisa datang kesana lalu
menunggu mu sampai malam di jembatan
itu Nona kecil Sachi.."
Kiran menggeleng kuat, matanya kian melebar
tidak percaya dengan semua kenyataan yang
sangat mengejutkan ini. Apakah dirinya masih
berada di dalam mimpi.?
"Tidak ! kau bukan pria kecilku itu.! kau sangat
penakut, kau juga sangat lembut dan santun.!"
"Kau yang sudah mengubahku sayang..! jiwa
ku yang sesungguhnya bangkit setelah
bertemu denganmu..!"
Kiran kembali menggeleng lemah. Air mata
nya kini semakin deras membasahi pipinya.
"Waktu itu Ayahku langsung membawaku
pulang setelah ayahmu datang ke rumah.!"
Mata Agra langsung menatap tak percaya.
Wajahnya tiba-tiba berubah dingin.
"Ayahku.. mendatangi ayahmu.?"
Rahang nya tampak mengeras. Wajahnya
juga semakin dingin. Kiran meraup wajah
Agra membelai nya lembut penuh cinta.
"Waktu itu aku masih kecil, aku tidak mengerti
apapun..! yang aku tahu aku hanya berusaha
melupakan keberadaan mu walau pun itu
sangat sulit.!"
Lirihnya. Agra meraih tubuh Kiran ke dalam
dekapannya. Keduanya saling memeluk erat
mencoba menyalurkan segala rasa yang kini membuncah di dalam dada.
Setelah cukup lama saling memeluk...
Agra bergerak meraih gelas kecil dari atas
nakas kemudian mendekatkan nya ke mulut
Kiran yang menautkan alisnya.
"Apa ini..? ini seperti jamu, aku tidak suka.!"
Elak nya seraya menutup mulut dan hidung nya.
"Minumlah.. itu baik untuk kita..!"
"Kita ? apa kau bercanda.? bagaimana bisa
ini baik untuk kita sementara aku yang minum.!"
"Jangan banyak protes sayang..apa kau mau
eyang putri memberimu hukuman baru.?"
Mendengar nama eyang putri di sebut Kiran
langsung meneguk minuman itu walau akhir
nya dia harus terbatuk-batuk dan berlari ke
kamar mandi karena tidak kuat dengan aroma
aneh yang keluar dari minuman tersebut.
Kiran membelalakkan matanya saat melihat
pantulan dirinya di cermin yang ada di kamar
mandi. Apa ini ? kenapa dirinya bisa memakai
pakaian minim ini.? dirinya bahkan terlihat
seperti tidak berpakaian sama sekali. Tidak,
bagaimana dia bisa keluar dari kamar mandi
kalau begini caranya.!
"Kiran..apa kau baik-baik saja di dalam.?"
Suara Agra terdengar begitu cemas. Kiran
semakin merasakan gugup dan lagi..kenapa
sekarang dia merasakan tubuhnya serasa
panas dan gerah. Kiran berdiri gelisah, ada
keringat yang kini mulai meremang di dahi
nya, apa yang terjadi? dia merasakan saat
ini ada hasrat aneh yang menggedor jiwanya
ingin segera di lampiaskan.
Agra tidak tahan lagi dia berniat membuka
pintu kamar mandi namun Kiran sudah lebih
dulu keluar. Keduanya saling pandang kuat
dengan sorot mata yang sama-sama sudah
berkabut. Junior Agra semakin tidak bisa
di kendalikan saat melihat seluruh lekuk
tubuh Kiran yang terlihat jelas di balik
pakaian minim bahan itu.
Dia mendekat dan tanpa basa-basi langsung
mengangkat tubuh indah yang sudah memanas
itu ke dalam pangkuannya. Kiran melingkarkan
tangannya di leher kokoh Agra, mata mereka
tiada lepas saling menatap dalam. Perlahan
Agra meletakan tubuh halus lembut nan wangi
itu di atas tempat tidur indah di bawah pancaran
sinar bulan. Untuk sesaat Agra hanya terdiam
memandangi wajah Kiran yang terlihat begitu
cantik bermandikan cahaya rembulan.
Tangannya bergetar membelai mesra wajah
yang kini sudah memerah maksimal itu.
"Sayang..ijinkan aku memiliki dirimu malam
ini. Aku sudah tidak bisa bertahan lagi. Aku
sudah sangat lama menantikan momen ini.
Kau sudah membuatku gila setiap saat..aku.."
Kiran bangkit sedikit , mengecup lembut bibir
Agra dengan pandangan yang kini meredup
karena dirinya pun sudah tidak akan bisa lagi
menolak ataupun menghindar. Saat ini dirinya
pun menginginkan hal yang sama.
"Jangan bicara lagi..aku adalah milikmu
sayang... seutuhnya.. ambilah hak mu..dan
mulailah dengan berdoa untuk kebaikan
hubungan kita ke depan.."
Bisik Kiran dengan suara yang sangat lembut
sedikit bergetar menahan dorongan hasrat
yang semakin menggedor jiwanya. Wajah Agra
terlihat berbinar.. bahagia tiada tara, seolah
bulan kini sudah berada di pangkuan.
"Aku sangat mencintaimu Kiran sayang..
Bunga sakura ku..kau adalah hidupku.."
mendaratkan ciuman lembut di puncak kepala
nya dengan melantunkan doa khusyuk untuk
memulai proses penyatuan ini. Tidak lama
ciuman nya turun ke kening, sangat lama. Lalu
turun lagi di kedua matanya, wajahnya dan
setelah itu barulah mereka seakan tertarik oleh
magnet yang sangat kuat, saling menyergap,
saling ******* dan terhanyut dalam buaian
ciuman penuh gelora kerinduan serta hasrat
yang kini sudah sepenuhnya membakar
seluruh aliran darah mereka.
Dengan gerakan halus dan teratur Agra mulai
melucuti gaun malam Kiran hingga kini tubuh
yang memiliki bentuk sempurna dengan ukuran
yang sangat pas di semua bagian itu sudah polos seluruhnya. Keduanya saling menatap sebentar,
wajah Kiran sudah tidak tahu semalu apa saat
ini. Dia memejamkan matanya saat Agra memulai
ritual memuja seluruh tubuh indahnya itu dengan
memberikan sentuhan lembut di setiap inchi
nya serta meninggalkan jejak kepemilikan di
semua bagian tubuh itu hingga membuat Kiran
menjerit kecil dan mendesah panjang merasakan
sensasi kenikmatan yang baru pertama kali di
rasakannya itu.
"Akkhh..Agra..aku tidak tahan lagi.."
Agra menatap teduh wajah istrinya itu yang
sudah mulai di penuhi oleh keringat.
"Aku akan melakukan nya sekarang sayang..
Ingatlah..aku bersamamu.. Bertahanlah untuk
melewatinya.."
Bisik Agra membuat wajah Kiran kini berubah
tegang setengah ketakutan. Tubuhnya semakin bergetar tegang saat melihat Agra membuka
jubah mandinya, lalu melempar nya asal, hingga
tubuh itu kini polos sudah. Mata Kiran tampak terkesima saat melihat bagaimana gagah dan
perkasa nya tubuh suaminya itu. Dia menelan
salivanya berat saat melihat ke bagian bawah.
Tuhan.. bisakah tubuhnya menahan benda
seperkasa itu.? Kiran menjerit dalam hatinya
sembari menutup wajahnya memakai bantal
saat Agra mulai menindih tubuhnya.
"Jangan di tutupi sayang..biarkan aku menikmati
wajah cantik penuh kenikmatan mu ini..!"
Bisik Agra parau sambil kemudian dia kembali
******* lembut bibir Kiran yang sudah bengkak
itu untuk memulai ritual penyatuan tubuhnya.
Perlahan namun pasti Agra mulai menyatukan
tubuhnya dengan sangat hati-hati, penuh
dengan kelembutan, cinta dan kasih sayang.
Kiran menjerit kesakitan, merasakan tubuhnya
seakan terbelah menjadi dua saat Agra berhasil memasukinya. Air matanya luruh seketika, dia
mencoba meronta , memukul punggung kokoh
Agra sebagai protes bahwa ini sangat sakit.
Agra menatap teduh wajah merah istrinya itu
lalu membungkam bibir nya berusaha meredam
rasa sakit yang di rasakan oleh nya. Bahkan
bukan hanya Kiran saja, dirinya pun saat ini
masih merasakan tidak nyaman.
"Maafkan aku sayang...tapi ini tidak akan
lama, sabarlah.."
Bisiknya seraya menghentikan gerakannya.
Kiran menggeleng kuat sambil terisak.
"Tapi ini sangat sakit sayang.."
"Aku tahu..nanti juga kau akan menikmatinya.."
"Agraa ..akhhh..tapi ini masih sakit.."
Agra menciumi kedua mata Kiran yang penuh
dengan lelehan air mata. Dia mulai bergerak
kembali masih berusaha selembut dan sehalus
mungkin. Dan setelah cukup lama pemanasan
akhirnya semua kesakitan itu berubah menjadi
sebuah kenikmatan tiada banding yang mampu
membuat keduanya melayang naik ke awan
hingga mencapai langit ke tujuh mengarungi
dan menjelajahi sebuah pengalaman baru
yang pertama kalinya untuk mereka. Kedua
nya masih sama-sama murni.
Kiran menatap redup wajah Agra yang di
penuhi peluh dan keringat yang kini tengah menindihnya, memberikan kenikmatan tak
terkira, membawa dirinya mengarungi surga
dunia di bawah pancaran cahaya bulan
purnama. Dia mengusap lembut keringat
yang membanjiri wajah suami perkasa
nya itu dengan tatapan penuh cinta.
"Aku mencintaimu sayang..aku sangat bahagia
karena bisa menyerahkan segala kehormatan
yang ku jaga selama ini padamu Hoshi ku..!"
Lirih Kiran saat mereka mengakhiri ronde
pertama yang memakan durasi sangat lama.
Keduanya saling pandang penuh cinta.
"Aku lebih mencintai mu lagi Sachi ku.."
Balas Agra seraya mengecup mesra bibir Kiran
setelah itu dia menjatuhkan tubuhnya yang di
penuhi keringat di samping Kiran, menarik
kembali tubuh lelah itu kedalam pelukan nya,
mencoba menghirup feromon yang keluar dari
tubuh istrinya itu yang sangat khas dan
menenangkan jiwanya, Agra mencium
puncak kepala Kiran. Tidak lama keduanya
sudah terpejam karena kelelahan.
Namun itu barulah awalnya saja. Selang dua
jam kemudian Agra kembali melancarkan aksi
nya yang lebih ganas dan liar, membuat Kiran
mau tidak mau harus mengimbanginya. Hingga
menjelang subuh barulah mereka mengakhiri
semua pergulatan panas nya. Keduanya terlelap
saling memeluk erat, saling memberi rasa aman,
rasa nyaman dan ketenangan bathin karena
sudah saling memiliki satu sama lain.
------ ------
Pagi hari yang sangat sibuk di istana megah
Hadiningrat. Para pelayan, serta pekerja yang
ada di istana itu bergerak sigap pada tugasnya
masing-masing. Suasana pagi ini sepertinya
ada sesuatu yang berbeda di lingkungan istana
utama. Semua pelayan bergerak senyap, tidak
ada kegaduhan ataupun suara-suara yang bisa
mengganggu kenyamanan sang penghuni kamar
atas yang saat ini masih saja terlelap saling
berpelukan erat dengan keadaan tubuh polos
tersembunyi di balik selimut lembut.
Atap kaca bening itu kini telah tertutup secara
otomatis hingga kini yang memancar adalah
sinar matahari pagi yang hangat dan sudah
melalui proses penyaringan sirkulasi udara
terlebih dahulu hingga tidak akan membuat
mata silau ataupun panas di kulit, namun
justru yang di dapat dan sampai di dalam
ruangan adalah vitamin D yang akan sangat
bermanfaat bagi kesehatan tulang.
Kiran terjaga dari tidurnya, membuka mata
perlahan, kemudian memicing menyesuaikan
cahaya yang jatuh dari atap. Ketika mencoba
bergerak dia meringis kesakitan merasakan
tubuhnya seakan remuk redam. Saat ini seperti
biasa dirinya berada di dalam pelukan posesif
lengan Agra yang menutupi hampir seluruh
tubuh nya.
"Owhh... sakit sekali rasanya.."
Lirih Kiran saat dia berusaha untuk melepas
lingkaran tangan Agra di pinggangnya. Tubuh
mereka saat ini sama-sama polos dan masih
menempel ketat satu sama lain. Wajah Kiran
memerah saat dia mengingat peristiwa indah
semalam. Namun ada rasa tidak enak di hati
nya saat menyadari mereka berdua telah berani mengotori rumah orang dengan apa yang telah
di lakukan semalam.
Malam pertama di rumah orang.? Duhh..apa
kata dunia ? memangnya sudah tidak ada
lagi hotel yang bisa di sewa.?? Kiran menarik
napas perlahan, kembali berusaha untuk
keluar dari kungkungan Agra.
"Akhirnya..bisa juga..!"
Bisiknya saat dia sudah bisa keluar dari
kekuasaan tubuh suaminya itu. Kiran mencoba
bergerak sambil meraih gaun minim nya
yang tergeletak di atas lantai.
"Awwhh.. kenapa sakit banget sih..!"
Kiran memekik kuat ketika dia tidak bisa turun
dari atas tempat tidur karena rasa sakit di
sekujur tubuhnya terutama di bagian bawah
nya terasa sangat sakit dan perih. Agra
tersentak dari tidurnya langsung terbangun
saat mendengar pekikan Kiran.
"Ada apa sayang..kau mau kemana.?"
Kiran menatap Agra meringis merasa bersalah
karena telah membangunkan nya.
"A-aku mau ke air..tapi badanku sakit semua.
Aku juga tidak bisa berjalan. Maaf kamu jadi
terbangun gara-gara aku.."
"Hei..kenapa tidak membangunkan ku.?
memangnya kamu bisa jalan sendiri..!"
Desis Agra sambil tersenyum miring. Tanpa
ragu dia bangkit kemudian duduk di pinggir
tempat tidur. Kiran memejamkan mata saat
melihat tubuh polos suaminya itu.
"Ini semua gara-gara kamu juga..uuhh.. rasa
nya sakit sekali sayang.."
Keluh Kiran sambil kembali mencoba berdiri
setelah dia berhasil menutupi sebagian tubuh
nya dengan gaun minim yang semalam di
pakai nya. Tapi dalam gerakan cepat Agra
meraih tubuh lemah itu di dudukkan di atas
pangkuannya.
"Sini..aku periksa.. nanti aku obati.."
Ucap Agra sambil membuka pelan paha Kiran.
"Awwhh.. sakit sayang.. jangan di buka.!
bawa saja aku ke kamar mandi, aku ingin
berendam di bak whirpool.."
Rengek Kiran karena tidak tahan dengan rasa
sakitnya. Agra menatap khawatir, keduanya
saling pandang lekat.
"Baiklah bidadari ku..kita berendam sekarang.
Setelah itu baru kita obati luka nya.."
Agra segera berdiri sambil mengangkat tubuh
Kiran kemudian melangkah ke arah kamar
mandi masih dengan keadaan tubuh nya yang
polos tidak tertutupi sehelai kain pun..
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....