
Happy Reading ❤️
"Ku mohon... jadilah istriku untuk selamanya... Ayo kita menua bersama dalam cinta. Aku mencintaimu melebihi kata-kata yang bisa aku ucapkan. Aku mencintaimu melebihi tindakan yang bisa aku lakukan. Aku akan di sini mencintaimu sampai akhir."
"A... apa kamu sedang melamar aku ? ta.. tapi aku sudah menjadi istrimu." ucap Sabina terbata dan ia pun menunjukkan cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya.
Gibran meraih tangan Sabina dengan lembut dan menarik cincin itu dari jari manis istrinya secara perlahan hingga terlepas dengan sempurna.
"Aku belum pernah memintamu menjadi istriku dengan resmi."
"Ya karena kamu terpaksa menikahi aku." potong Sabina. "Maaf...," lanjutnya lagi seraya menundukkan kepala.
"Lihatlah aku, Bina. Tahun lalu aku berusaha menolak pernikahan ini tapi hari ini aku mati-matian berusaha mempertahankannya dan kini aku ingin kamu tahu perasaanku yang sebenarnya." tutur Gibran dan ia pun mengeluarkan cincin pernikahan yang baru dari kotaknya.
"Namaku terukir disana, dengan ini aku mengikatkan diriku dan seluruh rasa cintaku hanya padamu seorang. Sabina Mulia, maukah kamu jadi istriku untuk selamanya ?" Tanya Gibran penuh mohon.
Mata Sabina mengembun karena bahagia, tentu saja ia bersedia untuk menjadi pendamping hidup lelaki yang sangat dicintainya.
Sabina menganggukkan kepala, "Ya, Gibran... aku bersedia." jawab Sabina penuh haru.
Senyuman terukir dengan sempurna di wajah Gibran saat ini. Ia pun segera menyematkan cincin pernikahan yang baru di jari manis istrinya. Sedangkan Sabina tak bisa menahan air bening yang jatuh membasahi pipinya.
"Terimakasih, Sayang. Aku sangat mencintaimu." ucap Gibran seraya mencium punggung tangan Sabina dengan penuh cinta.
"Aku juga sangat mencintaimu," jawab Sabina seraya mengusap pipinya yang basah.
"Apa sekarang aku boleh menciummu ?" Tanya Gibran takut-takut.
"Aku tak suka ditanya-tanya." jawab Sabina dengan memutar bola matanya dan Gibran tertawa melihatnya.
Gibran mendekatkan wajahnya membenamkan bibirnya di atas bibir Sabina dengan sempurna, ia memejamkan matanya dan mengulum lembut bibir istrinya itu dengan penuh penghayatan.
Sedangkan Sabina, ia meremas kaos Gibran sebagai pegangan. Sungguh ciuman Gibran selalu memabukkan.
"Kita berhasil, Bina." lirih Gibran ketika tautan bibir mereka terpisah.
"apa?" gumam Sabina tak paham.
"Kita berhasil melaksanakan kesepakatan kita." jawab Gibran antusias.
"Apa kamu ingat dengan kesepakatan ini ? Kita boleh marah, boleh bersikap dingin jika terjadi perselisihan namun tak seorangpun boleh pergi meninggalkan rumah dalam keadaan marah. Kita akan hadapi setiap persoalan bersama-sama dan mencari jalan keluarnya dengan kepala dingin setelah kita berdua siap untuk berbicara. Kita telah berhasil melakukannya." ungkap Gibran dengan antusias.
"Ah iya..." Sabina menutup mulutnya tak percaya.
"Terimakasih karena tidak meninggalkan aku padahal aku telah menyakiti hatimu," ucap Gibran sungguh-sungguh.
"kamu juga, terimakasih karena telah bersabar menghadapi aku yang sangat sensitif waktu itu." timpal Sabina dan keduanya kembali tertawa.
"Hanya satu kesepakatan lagi yang belum terlaksana." ucap Gibran penuh maksud dan Sabina sangat paham apa yang Gibran maksudkan itu.
"Kita selesaikan semua di atas ranjang." tutur Sabina . Gibran tertawa mendengarnya.
"Jadi, apa aku boleh menengok anakku secara langsung? Aku sudah sangat merindukannya" tanya Gibran seraya memasukkan anak rambut Sabina ke belakang daun telinganya dan Sabina tersenyum mendengar itu
"Ingat kata dokter Dewi, berci*ta dapat menjadi mood booster bagi ibu hamil," Gibran mengingatkan.
"Mood booster buat bapaknya juga." ujar Sabina dengan mencebikkan bibirnya dan apa yang Sabina ucapkan membuat Gibran tertawa.
"Aku juga merindukanmu, Bina." Gumam Gibran seraya kembali meraih bibir Sabina dengan bibirnya.
Cukup lama mereka berpagut bibir, melampiaskan rasa rindu yang telah membuncah hingga ciuman itu semakin menuntut dan Gibran maupun Sabina menginginkan lebih dari itu.
"Sebaiknya, kita pindah ke kamar." bisik Gibran dengan suaranya yang telah berubah parau.
Sabina menuruti perkataan Gibran dengan mengikuti langkah suaminya memasuki kamar tidur mereka.
Gibran segera menarik tubuh Sabina dalam pelukannya dan menyatukan kembali bibirnya dengan sempurna. Ia menggiring Sabina ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya.
Dengan satu tarikan tangan Gibran melepaskan kaos hitam yang membelit tubuhnya dengan sempurna menyisakan tubuh atasnya yang polos dan dihiasi otot kekar yang tak berlebihan.
Sabina menatapnya dengan sayu, ia pun sangat merindukan sentuhan dari lelaki yang sangat dicintainya.
"Sayang, aku tak akan pernah membiarkan cinta diantara kita mati, karena aku mencintaimu tanpa batas," ungkap Gibran dan ia pun mulai mencumbu Sabina dengan lembut, menyatakan segala rasa rindunya melalui setiap sentuhan.
***
Pagi masih gelap ketika Sabina terbangun. Ia melilitkan bedcover untuk menutupi tubuhnya yang masih polos. Ia pandangi wajah Gibran yang tertidur pulas di sebelahnya.
Sabina tersenyum ketika ingat bagaimana Gibran menyentuhnya dengan penuh puja dan lelaki itu tak henti-hentinya mengatakan kata cinta membuat dirinya serasa terbang ke nirwana.
Sabina juga memperhatikan cincin pernikahan yang Gibran sematkan semalam. Dalam cincin itu terukir nama Gibran Fahreza dengan jelas.
Sungguh Sabina merasa bahagia karena kini ia terikat dengan lelaki yang sangat dicintainya.
"Tahukan kamu? aku pun sangat mencintaimu hingga aku memilih bertahan meskipun waktu itu aku merasakan sakit hati yang luar biasa dan ingin pergi meninggalkanmu tapi aku sadar jika aku tak mampu tanpamu. lirih Sabina pada Gibran yang masih memejamkan matanya.
"Sayang, bangun sudah hampir subuh," Sabina mengguncang tubuh polos Gibran dengan perlahan.
Membutuhkan waktu beberapa saat hingga akhirnya Gibran membuka matanya dengan perlahan.
"Selamat pagi Nyonya Gibran Fehreza" ucap Gibran dengan suaranya yang serak.
"Pagi," jawab Sabina dengan tersipu-sipu.
"Kamu makin gemesin kalau malu-malu gini." Gibran pun menarik tubuh Sabina dalam pelukannya dan mendekapnya erat.
"5 menit lagi," pinta Gibran seraya memberikan ciuman di puncak kepala Sabina dengan gemas.
"Hari ini, hari jadi kita... Kamu mau apa ?" tanya Gibran.
"Bagaimana kalau kita pergi berkencan ?" Sabina balik bertanya.
"Your wish is my command, Sabina." ( keinginanmu adalah perintah bagiku). jawab Gibran seraya mengeratkan pelukannya.
***
Menjelang siang, Sabina telah bersiap untuk pergi berkencan dengan Gibran. Kini ia duduk di depan meja rias dan memoleskan lipstik berwarna natural pada bibirnya.
"Hadiah ulang tahunmu yang terlambat," ucap Gibran seraya memberikan sebuah kotak berwarna hitam dengan pita silver sebagai hiasannya.
"Apa ini ? kamu terlalu banyak memberikan hadiah,. sedangkan aku belum memberikan apapun padamu." Sesal Sabina. Dan ia pun membuka kotak itu yang di dalamnya terdapat sebuah kalung dengan liontin bertahtakan berlian.
"Oh my God," gumam Sabina yang terpesona.
"Kamu suka ?" tanya Gibran.
"Tentu saja, namun ini terlalu berlebihan."
"Tak ada yang berlebihan jika itu untukmu." bisik Gibran sembari memasangkan kalung itu di leher jenjang sang istri.
"Gibran, aku belum memberikanmu hadiah."
"Kamu menerima pernyataan cintaku adalah hadiah anniversary yang paling aku inginkan. Terimakasih." Bisik Gibran lagi dan ia pun mengecup pipi Sabina dengan mesra.
Gibran mengulurkan tangannya untuk Sabina raih. "Ayo kita pergi sekarang." ucapnya dan Sabina meraih tangan suaminya itu dalam genggamannya.
Mereka berjalan keluar kamar dengan jemari yang saling bertautan.
"Dari semalam penampilanmu terlihat sangat rapi."
"Hu'um, sengaja karena untuk menarik perhatian kamu. Aku takut kamu kepincut cowok lain." jawab Gibran dan Sabina mencubit gemas pinggang Gibran ketika ia mendengar itu.
"Serius sayang, kan aku udah niat mau ngelamar kamu. Masa iya pakai baju rumahan."
" Emang sejak kapan kamu rencanain ini semua ?" tanya Sabina.
"Sejak kita tidur terpisah,. Disitulah aku tersadar jika aku tak ingin lagi sendirian, aku ingin terikat padamu." jawab Gibran tanpa ragu.
"Ih gak adil. Kamu terlihat ganteng, sedangkan aku hanya mengenakan daster kelinci." protes Sabina dan seketika Gibran ingat akan sesuatu.
"Ah... kesepakatan lainnya !! Kita akan terus bercinta seperti kelinci !" Ucap Gibran antusias.
"Aku sangat mencintaimu, Mama kelinci." gumam Gibran dan ia pun mencium punggung tangan Sabina dengan mesra, sedangkan Sabina kembali mencubit Gibran dengan gemas.
Ponsel Gibran yang tersimpan di dalam saku celananya berbunyi ketika mereka baru saja sampai di depan mobil yang terparkir.
Gibran merogoh sakunya dan menolak panggilan itu seketika. Namun tak lama nomor telepon yang Gibran kenali itu kembali menghubunginya dan lagi-lagi Gibran menolak panggilan itu.
"Siapa ?" tanya Sabina.
"Rani, asisten aku."
"Kenapa gak dijawab ?"
"Aku gak mau di ganggu. Ini kan hari libur." Gibran beralasan.
Namun baru saja Gibran dan Sabina masuk ke dalam mobil, ponsel Gibran kembali berbunyi.
"Angkat lah, mungkin sangat penting." ucap Sabina dan Gibran pun menurutinya.
"Halo Ran,"
Sabina memperhatikan sang suami dan berusaha mencuri dengar apa yang hendak di bicarakan asistennya. Gibran yang menyadari itu segera menekan tombol loud speaker agar Sabina bisa ikut mendengarkan.
"hiks...hiks Pak dokter, ibu Amanda mengalami pendarahan lagi karena terjatuh dan kali ini harus dilakukan tindakan operasi Caesar. Pihak rumah sakit menghubungi saya, sedangkan saya tak punya hubungan apapun dengan beliau, saya tak memiliki cukup uang untuk membantunya. Dokter Risa pun tak bisa menghubungi anda. Tolong bantu saya."
"Maaf, Ran... Saya pun sudah tak ingin lagi terlibat dalam hal apapun dengan ibu Amanda. Jadi tolong jangan hubungi saya lagi."
"Ta... tapi dok, beliau sedang dalam keadaan kritis dan pak dokter yang menjadi penanggung jawab sebelumnya. Saya tak sanggup... hiks hiks.." jawab Rani sembari menangis.
Gibran menarik nafas dalam seraya memejamkan mata, sungguh perkara Amanda membuatnya sangat tersiksa.
"Pergilah, berikan pertolongan padanya. Aku tak akan marah karena kini aku mengerti posisi mu dan aku percaya padamu." Ucap Sabina seraya menyentuh lengan Gibran untuk menenangkan.
Gibran menolehkan kepala dan menatap Sabina dengan dalam.
"Tapi ini hari anniversary kita, aku tak mau lagi membuat kamu kecewa." protes Gibran.
"Kita bisa merayakannya nanti malam, seseorang sedang meregang nyawa dan membutuhkan kehadiranmu. Percayalah sayang, aku akan berusaha mengerti." ucap Sabina sungguh-sungguh.
Gibran menatap Sabina dengan dalam sebelum ia memutuskan.
"Baiklah, aku akan pergi tapi jika kamu bersedia menemani aku kali ini."
To be continued ❤️
Thanks for reading 😘