
*****
waktu pukul 19.00
Marfin menekan tombol pasword untuk membuka pintu apartemennya.
" Mas....kau sudah pulang? tanya Alika kemudian menghampiri Marfin kemudian membawakan tas dan juga jas yang di lepaskan marfin kemudian meletakkannya di ruang ganti.
" Bagaimana kabar Mas hari ini? Alika menggerayutkan tangannya ke leher suaminya.
" baik . jawab Marfin kemudian merengkuh pinggang istrinya.
" Ana dan ibu tadi kemari, sengaja tak memberi tahumu mereka ingin memberi surprise tapi mas malah lama datang. Alika bercerita dengan wajah manja.
" sayang? aku bekerja lagipula kita bisa datang kapan saja kita mau kerumah ibu. kata Marfin sembari mendekatkan hidungnya kewajah istrinya.
sesaat mereka saling menggoda.
" kau sangat cantik, kata Marfin.
" benarkah? kata Alika manja.
" ya benar, aku fikir aku pulang kerja, kau belum mandi lalu kita akan mandi bareng romantis di bawah guyuran air shower atau kita bergulat mesra di bathtub . goda Marfin sambil mencium leher istrinya.
" ihh.... dasar omes. kata Alika sembari mendorong pelan Marfin.
" apa itu omes? kata Marfin sambil tertawa kecil.
" otak Mesum... ahahaha. Alika tertawa lebar.
"hem.... sepertinya memang aku harus seperti ini terus tiap hari, kau senang bukan? tanya Marfin sembari menghampiri istrinya merengkuh kembali pinggang istrinya.
" Mas... Alika menggapai dasi yang terpasang rapi di kerah baju suaminya. kemudian dengan tangan lembut ia melepaskan dasi itu, lalu Marfin mengambil alih dasi itu dan melemparnya keatas kasur empuk nan luas yang berada tepat di hadapannya, sementara Alika membelakangi kasur tersebut.
" kenapa sayang? bisik Marfin lembut terdengar ditelinga Alika.
" tetaplah bersikap manis seperti ini, kata Alika. mengingat Marfin yang dulu adalah sosok yang dingin bahkan seolah tak ingin dekat dekat dengan dirinya.
tapi entahlah, seketika sikapnya menjadi lebih hangat belakangan ini, sikapnya tak lagi dingin kepada Alika, seolah ia begitu sangat mencintai istrinya.
"aku akan selalu seperti ini, tapi jangan kewalahan melayaniku jika seperti ini terus, kau akan kesakitan seperti tadi pagi. kata Marfin sembari tersenyum.
" ihh... Alika memukul pelan dada suaminya kemudian menyembunyikan wajahnya di dada bidang itu.
" izinkan aku mandi terlebih dahulu, kemudian baru kita olahraga malam kembali. tutur Marfin sambil mengelus lembut punggung istrinya.
Alika mengangkat wajahnya dengan malu malu, rona wajah di pipinya seketika merah mendengar penuturan suaminya.
" iya, mandilah. kata Alika kemudian memalingkan badannya menutupi senyum bahagia di bibirnya mendengar ucapan suaminya.
Marfin tersenyum melihat tingkah menggemaskan istrinya, kemudian ia bergegas kekamar mandi.
kamar mandi yang luas dengan desain bathtub marmer memberikan kesan mewah berlatar belakang pemandangan dari ketinggian apartemen.
bel berbunyi.
Alika melongok kan wajahnya melihat siapa yang akan bertamu malam malam begini, dengan baju tidur yang sexy berwarna putih diatas lutut ia kemudian mengambil penutup untuk menutup bagian dadanya yang terlihat.
" Tuan Leo? ada apa?
tanya Alika ketika melihat leo yang datang.
" Maaf nona, saya hanya mengantarkan ini pesanan tuan. kata Leo sembari memberikan kunci.
" kunci mobil? kata Alika.
"iya nona, saya permisi.kata Leo tanpa basa basi.
belum sempat Alika mengangkat wajahnya saat ia melihat kunci di telapak tangannya dan akan berbicara dengan leo, namun leo sudah hilang sangat cepat dari pandangannya.
" *mengapa dia buru buru sekali. gerutu Alika sambil menutup pintu.
" kenapa sayang? tanya Marfin yang sudah selesai mandi dan sudah berganti baju tidur kerah bawah berwarna putih.
" itu tadi ada leo, namun sangat buru buru sekali. ia memberika kunci mobil ini, kata Alika sembari memperlihatkan kunci kepada Marfin.
" itu mobil mu sayang, tidak apa apa aku memang memintanya untuk tidak mampir. kata Marfin santai.
" mobil? untukku? kata Alika seraya menunjuk dirinya sendiri.
" besok pagi lihat saja mobilnya sudah terparkir di bawah. kata Marfin.
" Mas, tidak perlu mobil loh. kata Alika
" tidak apa apa sayang, aku tidak selalu bisa mengantarmu kemana mana, tapi mobil hanya bisa kamu pakai ketika tidak ada benar benar supir. kata Marfin menegaskan.
" ya tapi, supir akan selalu ada Mas.
" itu hadiah sayang, kata Marfin sambil menepuk lembut kasur mengisyaratkan agar Alika duduk di sampingnya.
" Maafkan aku, mungkin aku harus melakukan ini agar aku bisa lebih mencintaimu, dan melupakan cinta untuk orang lain. Batin Marfin menatap wajah istrinya.
Alika merebahkan wajahnya dipundak suaminya, ia merasa sangat bahagia mendapatkan suami yang kini sudah sangat romantis terhadapnya.
" Makasih sayang? kata Alika.
" kau harus membayarnya, kata Marfin datar.
" bayar? Alika memajukan bibirnya dan mengangkat kepalanya dari pundak Marfin.
" hah? sampe pagi? tidak tidak... bisa bisa aku tidak bisa berjalan. kata Alika cemberut.
"hahaha.... Marfin tertawa mendengar kata istrinya itu.
Marfin perlahan menarik pelan tubuh istrinya, kemudian membopongnya kekasur empuk beralaskan sprei warna putih.
Alika tepat berada di bawah tubuhnya, dengan lembut ia menyentuh pipi istrinya, mengecupnya berkali kali sebagai ungkapan rasa sayang.
" yakin kuat? tanya Marfin.
" ihh... tapi pelan pelan mas. jawab Alika manja.
" iya pelan pelan kok.
yaudah yok, sambung Marfin kembali sembari melepaskan baju tidurnya. kini yang tersisa hanya celana pendek yang ia pakai.
" sabar sayang, baca doa dulu ya.
kata Alika tersenyum sembari melingkarkan tangannya keleher suaminya.
" baiklah, Marfin menjauhkan tubuhnya dari istrinya kemudian mereka berdua sejenak sebelum melakukan persetubuhan.
*******
" nona belum tidur? kata Bu leni ketika melihat Dea berada di dapur dengan segelas air putih.
" Dea belum ngantuk bi, kata Dea.
" non yang sabar ya, yang kuat. kata bu leni menepuk lembut bahu Dea.
Dea menatap ponselnya ketika mendengar suara pesan masuk di terimanya.
" Yuda"
" apa yang terjadi, suamimu menghancurkan bisnis yang di bangun ayahku. ayahku memang tidak akan rugi dengan hancurnya salah satu restaurantnya.
tapi suamimu sangat sombong.
Dea menghela nafas.
tring...
pesan masuk kembali di terima.
"yuda"
" bidadari cantik yang ku temui waktu itu ternyata kepunyaan orang lain, di dalam tubuhnya sudah terdapat benih orang lain.
mengapa demikian bidadariku?
mengapa tidak kau katakan sebelumnya, bahwa kau mempunyai suami yang sombong, angkuh dan pasti sangat memuakkan bagimu. kata Yuda disana.
" memuakkan. kata Dea menyadarkan bu leni yang mendengarnya.
"siapa yang memuakkan non? tanya Bu leni.
" tidak bi, Dea tidur duluan ya bi, kata dea sembari tersenyum dan meninggalkan bu leni.
perlahan dea merebahkan tubuhnya memegangi perutnya yang belum terlihat membuncit.
" nak, siapapun ayahmu. engaku terlahir dari rahim ibu, ibu akan menjadikanmu sosok yang lebih baik dari ibu. ujar Dea.
suara ponsel kembali berdering.
yuda memanggil lewat video call.
"ada apa dengannya? ganggu saja.kata Dea ia membalikan layar ponselnya.
Dering itu kembali terdengar beberapa kali hingga Dea akhirnya menggeser tombol untuk menjawabnya.
" hem, ada apa?kata Dea memalingkan wajahnya dan membiarkan yuda menatap langit langit atap kamarnya.
" mana suamimu, kok belum tidur. kata Yuda.
" suamiku keluar sebentar, jika dia tau kau menelponku. kau pasti akan di habisi. kata Dea dengan nada datar.
" suamimu itu psikopat ya? tawa yuda terdengar.
" kenapa kau betah denganya, sambungnya lagi.
"hey kenapa kau diam, tunjukkan wajahmu, aku ingin lihat. pinta yuda.
Dea terdiam kemudian mengambil ponsel yang di letakkan tidak jauh darinya dan mengakhiri obrolannya.
" suami?
siapa yang dia sebut suami?
Marfin? dia bahkan bukan suamiku, aku bahkan bukan kepunyaannya.
ya tuhan.... tatap matanya selalu membuat gemetar hatiku.
mulutku selalu menolak kehadirannya, namun hatiku bahkan selalu ingin dekat dengannya, mungkinkah aku membohongi diriku sendiri? aku mencintainya, tidakk.... aku tidak mencintainya, tidak mungkin.
aku tidak boleh mencintai seseorang yang sudah menjadi milik orang lain.
Dea menyembunyikan wajahnya dibalik selimut, berusaha melawan kata hatinya hingga kemudian mimpi indah menghampirinya*.