
Happy reading ❤️
"Ta.. tapi bu... bukan itu maksudku." ucap Sabina pelan.
"what ?" Gibran berkerut alis tak paham.
"Mak... maksudku... aku sudah memutuskan untuk melakukan operasi kakiku... A.. aku ingin bisa berjalan dengan normal." Sabina menatap dalam mata suaminya ketika mengatakan hal itu, membuat Gibran yang saat ini bertelanjang dada menaikkan alisnya karena tak percaya.
Hening untuk beberapa saat, Gibran masih berusaha mencerna apa yang baru saja istrinya katakan. Ia menarik nafas dalam dan mengigit bibir bawahnya ketika sadar apa yang ia maksud dan istrinya maksudkan ternyata memiliki tujuan yang berbeda.
2 hal yang mengejutkan bagi Gibran. Yang pertama ia terkejut atas keputusan Sabina yang menurutnya begitu tiba-tiba, dan yang kedua ia terkejut sekaligus malu dengan apa yang baru saja terjadi.
"Mengapa begitu tiba-tiba ? Apa perkataan Ria begitu menyakiti kamu ?" tanya Gibran cemas.
"Kita bisa menambahkan gugatan lain untuk memberatkannya." lanjut Gibran lagi dan Sabina menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Bukan karena perkataan Ria, Amanda atau siapapun yang telah menghina aku. Bukan karena mereka." jawab Sabina masih dengan menatap dalam mata suaminya.
"Apa karena ayahmu ? Karena aku tahu, ayahmu merasakan sakit hati yang lebih perih dari pada yang kamu rasakan setelah mengetahui apa yang telah Ria lakukan padamu. Ayahmu lebih mendukung aku untuk melakukan tuntutan pada Ria daripada mendukung kamu yang ingin memberinya pengampunan." tanya Gibran lagi.
Gibran tahu jika ayah mertuanya itu begitu merasa sedih dan sakit hati yang lebih dalam daripada yang Sabina rasakan karena penghinaan itu. Bahkan tanpa rasa malu, ayah Sabina meneteskan air matanya ketika ia tahu jika putri kesayangannya kembali mendapatkan penghinaan mengenai bentuk fisiknya yang tak sempurna. Sehingga ia sangat mendukung Gibran untuk melakukan tuntutan itu.
"Tidak, bukan karena ayah " jawab Sabina tanpa ragu.
"Lalu karena apa ? apa yang membuatmu memutuskan hal ini dengan tiba-tiba ? padahal aku tahu jika sebenarnya kamu sangat enggan untuk melakukan tindakan ini karena prosesnya yang begitu menyiksa." tanya Gibran beruntun.
"Karena keinginanku sendiri dan juga karenamu" jawab Sabina pelan namun Gibran masih bisa mendengarnya.
"Aku ?" Gibran semakin berkerut alis tak paham. Ia pun berdiri dan mengais kaosnya yang telah teronggok di atas lantai lalu mengenakannya kembali walaupun tak secepat ketika ia membukanya tadi.
"Ada kaitannya denganmu." jawab Sabina lirih seraya memandangi Gibran yang berdiri menjulang di hadapannya.
"Bina, aku sangat mencintaimu. Tak ada satupun dari dirimu yang ingin ku rubah, bagiku kamu itu sudah sangat sempurna." ucap Gibran frustasi.
"Aku lakukan ini karena aku mencintaimu dan...,"
"Aku tak memintamu untuk melakukan ini." potong Gibran.
"Dengarkan aku dulu pak dokter," ucap Sabina gemas. Ia tahu jika Gibran sedang merasa begitu cemas.
"Aku memutuskan hal ini bukan secara tiba-tiba, aku telah memikirkannya dari lama. Bukan karena penghinaan yang telah aku dapatkan, bukan juga karena keinginan ayah. Tapi kerena keinginanku sendiri dan juga karenamu, karena kita." Sabina mengatakannya dengan perlahan, berharap Gibran dapat mengerti. Ia sadar keputusan ini sangat mengejutkan suaminya.
"Teruskan," ucap Gibran. Ia pun kembali mendudukkan tubuhnya di hadapan sang istri dan bersiap mendengarkan apa yang Sabina inginkan.
"Karena kita ternyata memiliki mimpi yang sama. Sepertinya halnya kamu, akupun ingin memiliki banyak anak jika Tuhan mengizinkan. Aku ingin rumah ini dipenuhi gelak tawa anak-anak kita, rumah ini akan dipenuhi oleh banyak cinta. Impianku yaitu ingin bisa bermain-main dengan mereka, bisa mengejar mereka di taman tanpa kesusahan. Aku selalu membayangkan itu setiap waktu. Kamu ingat ? ketika Amanda di rawat ada seorang anak yang menabrak ku tanpa sengaja dan ibunya mengejar anak itu, walaupun sang ibu kelelahan tapi terlihat binar bahagia di wajahnya. Lalu apa kamu juga ingat ketika Athalla melakukan imunisasi ? hal yang serupa juga terjadi. Dan itulah yang aku inginkan... Aku ingin sembuh karena diriku sendiri, dan juga ingin mewujudkan mimpi yang sama denganmu... Maka bantulah aku untuk mewujudkannya." Jelas Sabina dengan tanpa ragu.
"Apa kamu yakin, Sayang ?" tanya Gibran seraya menatap mata istrinya dengan dalam. Mencari sebuah keraguan disana, namun Gibran tak menemukannya.
"Sangat yakin, Sayang. Aku ingin kita berdua bisa mewujudkan apa yang menjadi impian kita. Bantu aku, Papa kelinci." Jawab Sabina dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Akan aku lakukan apapun yang bisa membuatmu bahagia, Mama kelinci." ucap Gibran dengan matanya yang mengembun. Ia terharu bahagia dengan keputusan besar yang Sabina ambil.
"Ayo kita menua bersama dalam cinta bersama anak-anak kita." kata Sabina penuh semangat, Gibran tertawa seraya menganggukkan kepala. Itu adalah kata-kata yang ia ucapkan ketika meminta Sabina untuk tetap menjadi istrinya di hari jadi mereka yang pertama.
"Aku semakin mencintaimu, Bina. Kamu adalah wanita yang kuat." Gibran mengangkat dagu istrinya hingga pandangan mata mereka bertemu dan saling terkunci.
"Kamulah yang membuat aku kuat, dan aku sangat mencintaimu lebih dari yang bisa kamu bayangkan. Kamulah segalanya bagiku, Papa Kelinci." ucap Sabina dengan jelasnya dan hati Gibran berbunga-bunga karena itu.
"Love you, Mama kelinci," gumam Gibran lirih. Dan dengan perlahan ia pun menyatukan bibirnya dengan bibir Sabina hingga sempurna. Ia mengulum bibir istrinya dengan lembut dan penuh penghayatan seolah menyatakan perasaan cintanya yang begitu dalam.
Cukup lama keduanya saling berpagut bibir, hingga Gibran pun memisahkan tautan bibir mereka dengan berat hati.
"Kapan kamu ingin melakukan operasi itu ?" tanya Gibran.
"Aku akan melakukannya setelah menyapih bayi Athalla, mungkin sekitar 2 tahun lagi. Selama itu kamu bisa membantuku untuk mencari dokter terbaik."
Gibran paham, Sabina ingin melakukannya setelah kewajiban menyusui anak mereka telah terpenuhi sehingga ia bisa melakukan serangkaian pengobatan itu dengan hati yang tenang. Rasa kagum pada Sabina kian bertambah saja.
"Baiklah... sepertinya kamu telah memikirkannya dengan matang." kata Gibran.
"Sudah kukatakan, ini bukan keputusan yang tiba-tiba." ucap Sabina sembari tertawa.
"Setelah aku sembuh, kita akan terus berc**a seperti kelinci." Goda Sabina sembari menaik turunkan alisnya dan Gibran tertawa melihatnya.
"Apa Papa kelinci sudah boleh buka puasa ?" tanya Gibran malu-malu.
"Tentu saja boleh, tapi dengan syarat jangan dulu membuatku hamil. Aku yakin kamu tahu caranya bagaimana." jawab Sabina sembari mengedipkan matanya penuh goda.
"Tentu saja aku tahu bagaimana caranya." Ucap Gibran masih dengan wajahnya yang tersenyum karena bahagia.
"Kalau begitu tunggu." Sabina turun dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi, sedangkan Gibran menunggunya di atas ranjang dengan menyenderkan tubuhnya.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Sabina datang dengan salah satu gaun keramat yang ia miliki. Wajahnya sengaja ia rias natural agar semakin terlihat cantik di mata Gibran. Aroma musk yang menggoda menguar dari tubuhnya dan memanjakan indra penciuman sang suami.
Dengan tak sabaran Gibran meraih tubuh Sabina dalam pangkuannya, Ia menyentuh setiap inchi tubuh Sabina dengan perasaan cinta juga rindu yang membuncah.
Begitu pun Sabina, tanpa rasa malu ia memperlihatkan bagaimana reaksi tubuhnya yang begitu menginginkan setiap sentuhan yang Gibran berikan. Ia mendes*hkan nama Gibran berkali-kali ketika sentuhan suaminya semakin memabukkan.
Tak lama kamar itu dipenuhi oleh aroma cinta dan lenguhan yang saling bersahutan.
***
Di lain tempat, orang tua Andre masih terbaring diatas tempat tidur tanpa memejamkan mata. Telah berlalu 3 hari dari pengakuan sang anak dan selama itu juga mereka sangat terkejut dengan apa yang terjadi pada anak mereka.
Tak menyangka jika Andre melalui masa sulitnya hanya ditemani oleh Alya, seorang wanita yang begitu asing di mata mereka.
"Kita adalah orang tua yang buruk," ucap Ayah Andre memecahkan keheningan.
"Apa maksudmu ?" tanya sang istri tak terima.
"Meskipun kita telah membawa Andre kembali pulang ke rumah tapi kita tak tahu jika ia memiliki masalah sebesar itu dan kamu pun menutupi perihal anaknya yang meninggal." jawab ayahnya dengan nada suara yang dingin.
"Andre menginginkan sebuah pengakuan untuk anak yang meninggal itu, tentu saja tak mungkin kita lakukan. Apa yang akan orang-orang katakan ? perusahaan yang mulai merangkak ini tentu akan kembali terjatuh." ucap sang istri dengan sama ketusnya.
"Tak bisa kah kamu mengerti ? kita ini adalah orang tua, sebagaimana Andre telah melakukan banyak kesalahan tapi kita berusaha untuk menyelamatkannya karena dia darah daging kita. Mungkin begitu juga yang ia rasakan terhadap anaknya, ada ikatan batin disana." ayah Andre mendudukkan tubuhnya diatas ranjang dan meraup wajahnya frustasi.
Istrinya yang terbaring tak berkata-kata lagi, namun dalam hati ia membenarkan apa yang suaminya katakan.
"Wajar jika Andre jatuh cinta pada wanita itu, karena dia lah yang membantu Andre melewati masa sulit sedangkan kita sibuk mengelu-elukan anak kita yang lain. Aku merasa gagal sebagai ayah."
"Jadi apa mau sekarang ?" tanya sang istri.
"Aku hanya ingin Andre bahagia dengan caranya sendiri, tak peduli apapun itu yang penting dia bisa hidup di jalan yang benar. Maka bebanku akan berkurang."
To be continued ❤️
Thanks for reading 😘