Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Sudah Memutuskan


Happy reading ❤️


"Aku akan berusaha memperbaiki diri, aku janji pada kalian. Tapi bolehkah aku meminta sesuatu ?" tanya Andre takut-takut.


"Minta apa ?" Tanya ibunya penuh curiga.


"Bolehkah aku meminang Alya untuk menjadi pendamping hidup ku?"


Ayah dan ibunya saling berpandangan ketika mendengar permintaan anak mereka. Tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkannya.


" Apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan baru saja ?" tanya ayahnya


" Kamu jangan salah mengartikan perasaanmu sendiri, Andre. Hanya karena dia telah membantumu bukan berarti kamu harus menikahinya. Pantas saja dia mau menolongmu, karena dia ada maksud lain di belakangnya." Ucap sang ibu.


"Apa maksud Mama ?" tanya Andre gusar.


"Wanita itu, dia menolongmu untuk menjebakmu. Dia menginginkan kamu agar bisa menjadi miliknya. Mungkin dia ingin kaya dengan jalan pintas." jawab ibunya ketus.


"Wanita yang selalu mama pandang buruk itu telah menyelamatkan anakmu, Ma. Dia yang membuatku tetap waras dan bisa melalui ini semua. Jika yang Alya inginkan hanya uang tentunya dia telah menerima pernyataan cintaku tadi malam, tapi asal mama tahu dia menolaknya. Dia menolakku karena merasa tak pantas berada di sampingku. Padahal yang sebenarnya terjadi, akulah yang tak pantas bersanding dengan wanita sebaik dirinya. Apa mama bisa bayangkan siapa wanita yang mau menerima aku ketika tahu anakmu ini sakit ? dan mama tahu penyakit apa yang aku idap."


Ibu Andre terdiam mendengarkan apa yang Andre ucapkan, begitupun ayahnya. Mereka menyadari apa yang anaknya ucapkan itu benar adanya. Di luar sana tentu tak akan ada wanita yang mau menerima anaknya jika mereka tahu tentang masa lalu anaknya itu, juga dengan penyakit menular s**sual yang pernah diidapnya.


"Dia yang telah membantu aku selamat dari segala tekanan, apa aku tak boleh aku jatuh cinta padanya?" tanya Andre putus asa.


"Jika semua tentang uang dan kedudukan, aku sudah tak peduli. Sumpah demi apapun aku sudah tak menginginkan harta atau kemewahan, karena itulah yang telah membawaku ke jalan yang sesat. Yang aku inginkan saat ini hanya hidup tenang di jalan yang lurus dengan wanita yang aku cinta. Jika menurut Mama, Alya tak pantas untukku karena status sosial, maka aku yang akan memantaskan diriku untuknya. Aku akan buang status sosialku, aku akan menjadi seorang Andreas tanpa Tama dibelakangnya." ucap Andre dengan suaranya yang bergetar.


***


Telah berlalu 3 hari semenjak kejadian itu. Kejadian yang membuat hati Sabina terluka. Di tengah kesibukan mempersiapkan syukuran 40 hari bayi Athalla di rumahnya, saat ini ia kedatangan seorang pengacara yang di minta Gibran untuk datang.


Sabina di temani Gibran bertemu dengan pengacara mereka untuk membicarakan perihal tuntutan yang akan dilayangkan.


"Sebenarnya saya merasa kasihan jika dia harus berurusan dengan hukum," ucap Sabina.


"Tapi yang dia lakukan itu sangat keterlaluan, Bina. Aku tak terima siapapun yang berkata buruk tentangmu." timpal Gibran dengan sedikit emosi.


"Tapi dia telah menuliskan permintaan maaf," Sabina beralasan. "Dia masih muda, emosinya masih labil dan bagaimana dengan masa depannya jika ia berurusan dengan hukum." lanjutnya lagi.


"Dia masih muda, tapi dia telah dewasa. Seharusnya dia tahu mana hal yang salah dan benar." timpal Gibran yang masih bersikukuh untuk menuntut Ria atas penghinaannya pada sang istri.


"Dari fakta baru yang saya terima, ternyata Ria adalah salah satu fans dokter Gibran di laman sosial media." ucap pengacaranya itu.


"Pantas saja ia terlihat begitu tertarik padamu." kata Sabina seraya menatap suaminya.


"Hal itu tak merubah apapun, saya tetap akan melayangkan gugatan padanya."


"Ta.. tapi, Sayang." potong Sabina.


"Maaf Bina, bukannya aku tak kasihan tapi apa yang dia lakukan adalah hal yang buruk." Gibran bersikukuh.


"Dalam proses tuntutan ini banyak tahapan yang harus dilalui, Ria tak akan langsung di jatuhi hukuman. Mungkin nanti pihak polisi pun akan mengajukan penyelesaian masalah lewat jalan kekeluargaan, dalam tahap itu anda bisa mencabut tuntutan jika Ria benar-benar menyesal dengan perbuatannya. Namun saat ini saya mengerti kenapa dokter Gibran tetap ingin mengajukan tuntutan, mungkin dalam hal ini pak dokter ingin memberikan efek jera padanya." jelas pengacara itu dan Sabina pun mengangguk paham.


Cukup lama mereka bertemu hingga akhirnya pengacara itu pun pergi dengan keputusan Gibran tetap melakukan tuntutan.


Sabina bejalan menaiki tangga menuju kamarnya, ia akan bersiap untuk acara yang sebentar lagi akan digelar dan Gibran berjalan di belakangnya.


Langkah keduanya terhenti ketika mbok Inah mengatakan ada sebuah karangan bunga mawar berwarna biru muda dan juga kado yang dibungkus dengan kertas berwarna senada baru saja diantar seorang kurir.


Gibran menerimanya dan membaca sekilas kartu yang berada disana. "Tama," gumam Gibran dengan malasnya.


"iihh," decaknya sebal. Ia merasa kesal karena Andre masih saja mengirimkan hadiah untuk istrinya.


"Untukmu, dari fans." ucap Gibran seraya menyerahkan buket bunga itu juga sebuah kotak kado pada istrinya, kemudian Gibran berjalan melalui sabina begitu saja.


Mata Sabina membulat, ia tak percaya jika suaminya itu kembali merajuk setiap ada sesuatu yang berkaitan dengan Andre. Padahal telah Sabina katakan padanya jika ia dan lelaki itu sudah tak memiliki hubungan apapun lagi.


Sabina membaca kartu itu pelan.


"Thank you for everything, its mean a lot.


Your very best friend :)


-Tama-. "


Dengan berkerut alis Sabina pun membuka kado itu dan terkejut ketika mendapati sebuah jam tangan mewah untuk laki-laki. Sudah dipastikan jika hadiah itu untuk Gibran, bukan untuk dirinya. Sabina tertawa geli ketika ingat bagaimana Gibran cemburu tadi. Ia pun segera kembali berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


Gibran telah mengenakan baju koko berwarna putih untuk acara syukuran itu, masih dengan wajahnya yang ditekuk karena rasa cemburu yang menyelimuti hatinya. Bahkan ia mengabaikan kehadiran Sabina di kamar mereka.



"Ku rasa hadiah ini untukmu," ucap Sabina seraya menyerahkan kotak jam tangan itu pada suaminya.


Gibran mengangkat wajahnya dan menerima kotak itu kemudian membukanya. Ia terkejut ketika melihat sebuah jam tangan mewah untuk laki-laki. Andre sangat tahu semua yang menjadi kesukaannya. Ia pun menatap Sabina malu-malu.


Gibran malu karena telah cemburu pada sang istri, sedangkan Sabina balas menatapnya dengan tersenyum geli.


"Maaf," gumam Gibran namun Sabina masih bisa mendengarnya.


"Maaf untuk apa ?" goda Sabina.


"Maaf karena telah berburuk sangka," ucap Gibran.Ia tak mau mengakui jika dirinya tadi cemburu.


"hmmm benarkah ?" tanya Sabina lagi.


"Baiklah kamu menang, Bina. Maaf karena aku merasa cemburu padahal kamu telah menjelaskan berulang kali jika kalian sudah tak ada hubungan apapun lagi." jawab Gibran.


Sabina tersenyum mendengarnya, bukannya marah namun ia merasa gemas pada suaminya itu.


"Pak dokter jangan cemburuan, gak baik untuk kesehatan." ucap Sabina sembari tertawa.


Tawa yang kini menular pada bibir suaminya. Gibran pun membuka jam itu dari kemasannya dan langsung mengenakannya di tangan kiri.


"Bagus ?" tanya Gibran dan Sabina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Ayo bersiap nanti terlambat." ucap Gibran seraya mengecup pipi Sabina dengan gemas. Rasa cemburunya menguap sudah.


***


Sabina tampak mempesona dengan dress panjang berwarna putih yang sempurna membalut tubuhnya. Riasan wajah natural membuat penampilannya kian cantik saja.



Sepanjang acara Gibran selalu mencuri pandang pada istrinya itu dan Sabina akan mengedipkan sebelah matanya penuh goda jika ia memergoki Gibran tengah memperhatikannya.


Gibran akan tertawa setiap kali Sabina melakukan itu, sungguh ia terpesona pada istrinya.


Bibir Sabina bergumam kata "I love you" ketika pandangan mata mereka bertemu, dan dada Gibran bergemuruh seketika. Ia merasa dadanya dipenuhi rasa cinta yang luar biasa.


***


Malam telah larut, acara pun telah selesai dari beberapa jam yang lalu. Bayi Athalla telah tidur di temani ibu mertuanya di kamar sebelah. Ini pertama kali Sabina tidur berdua dengan Gibran setelah ia melahirkan.


Keduanya tengah duduk bersandar di kepala ranjang dengan ponsel di tangan mereka.


"Aku sudah putuskan, aku ingin melakukannya." ucap Sabina memecahkan keheningan mereka.


Gibran yang mendengar itu langsung meletakkan ponselnya di atas nakas dan menarik lepas kaosnya dengan secepat kilat hingga hanya menyisakan celana boxer yang menutupi bagian inti tubuhnya.


Sabina mengerjapkan matanya berkali-kali, ia terpesona dengan kecepatan super yang dimiliki suaminya ketika membuka baju, dan bukan hanya karena itu saja. Ia pun terpesona dengan tubuh Gibran yang terlihat liat dengan guratan otot yang tak berlebihan. Bisa Sabina ingat dengan jelas dalam bayangannya bagaimana nikmatnya berada di atas tubuh suaminya dan mengendalikan permainan.


"Aku tahu ini sudah larut malam, tapi jika kamu menginginkannya maka aku pun begitu. Apalagi hari ini kamu terlihat begitu mempesona, Bina." ucap Gibran penuh goda seraya menempelkan batang hidungnya di pipi Sabina.


Apa yang Gibran ucapkan membuat Sabina tersadar dari lamunannya yang panas. Ia pun menelan salivanya yang terasa kelat.


"Kita akan melakukannya dengan pelan, seperti waktu pertama kali mencobanya." bisik Gibran menenangkan. Ia tahu jika tubuh Sabina menegang karena gugup.


"Ta.. tapi bu... bukan itu maksudku." ucap Sabina pelan.


"what ?" Gibran berkerut alis tak paham.


"Mak... maksudku... aku sudah memutuskan untuk melakukan operasi kakiku... A.. aku ingin bisa berjalan dengan normal."


To be continued ❤️


thanks for reading 😘😘😘