Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
menunggumu


waktu menunjukkan jam 13.00


Marfin bergegas meninggalkan ruangannya.


siang pak...


setiap karyawan yang ia jumpai, membungkukan badan menyapanya dengan ramah dan sopan.


sementara Leo sudah menunggunya di lobby.


" bagaimana dengan yang kuminta? tanya Marfin kepada Leo.


" pertama tugas saya mencari properti , tadi ivan sudah mengirim gambar dan akan saya kunjungi besok tuan.


kedua, saya juga sudah meminta ivan mengirim orang kerumah nona Dea sesuai yang tuan inginkan tuan. Leo menjelaskan.


*****


tinn tinn.... klakson di bunyikan beberapa kali oleh leo.


pak wan lari tergopoh gopoh membukakan pintu pagar.


akhirnya mobil memasuki halaman rumah yang terbilang tidak terlalu besar.


Bu leni menyambut mereka dan memboyong mereka kekamar tempat dimana Dea sedang terbaring lemas.


" panggilkan Dokter Dim. pinta Marfin kepada Leo.


" baik tuan. jawab Leo.


Marfin menghampiri Dea dan duduk di tepi ranjang di sebelah Dea.


" apa kau baik baik saja? tanya Marfin kemudian meraba kening Dea merasakan suhu badan Dea.


" tidak tuan, aku tidak sakit. aku hanya sedikit mual, jawab Dea.


" apa setiap pagi kau merasa mual? tanya Marfin lagi.


" tidak tuan. jawab Dea.


"Mana orang yang memasakkanmu masakan padang? tanya Marfin.


"Dia sedang didapur tuan. jawab Dea.


"baiklah aku permisi keluar sebentar. ucap Marfin.


di ruang tamu ia merogoh saku celananya mendapati ponselnya dan mengetik pesan untuk Alika.


" sayang, Maaf ya Mas pulangnya sedikit terlambat.


tidak apa apakan? mau titip apa? jaga kesehatan ya?


pesan Marfin


***


beberapa menit kemudian.


permisi, seorang wanita datang membawakan banyak makanan di meja dorong.


" bawa kemari. pinta Dea.


" apa ibu sudah makan? tanya Dea kepada wanita itu.


" sudah non, tadi bersama bu leni. jawab Wanita itu.


" kalau begitu terimakasih ya. Dea berdiri dan bergegas dari tempat tidurnya mengambil uang cash dan memberikannya kepada wanita itu.


" sekali lagi terimakasih bu. ucap Dea.


" sama sama non, semoga lekas sembuh ya, saya permisi. ucap Wanita itu.


wanita itu bergegas meninggalkan Dea dan Marfin.


Dea tampak tidak sabar dengan hidangan yang tersaji, dengan rasa lapar ia segera menyantap satu persatu makanan yang ada.


" makanlah yang kenyang, supaya bayimu sehat. kata Marfin seraya tersenyum berdiri di depan pintu dan menghampiri Dea.


" tuan Mau? Dea menawarkan.


" tidak, makanlah yang banyak. pinta Marfin kembali.


berapa menit Dea menghabiskan makanannya hingga membuat Marfin geleng geleng kepala melihat makanan yang di makan Dea sangat banyak.


" kau makan banyak, tapi tidak gemuk ya. ucap Marfin seraya meledek Dea.


"aku kan makan bukan hanya untuk ku tuan, untuk bayi ini juga. ucap Dea sambil pelan pelan menyandarkan tubuhnya ke pangkal ranjang.


" oh begitu ya, apa kau selalu mual tiap pagi? tanya Marfin.


" ti....tidak. Dea menggelengkan kepalanya.


" oh baguslah .ucap Marfin.


tak lama kemudian Leo datang bersama Dokter Dim dokter keluarga Marfin wijaya.


Dokter Dim langsung memeriksa keadaan Dea dan juga kandungannya.


" Hal seperti ini sudah biasa tuan di usia kehamilan yang cukup muda. kondisi fisiknya baik baik saja kok. tutur Dokter Dim.


" baiklah nona, harus jaga kesehatan ya, jangan capek capek. titah Dokter Dim yang kemudian di angguki Dea.


" Baik Kalo memang begitu saya permisi ya tuan. ucap Dim sambil membungkukan badannya.


sementara Marfin hanya berdiri kaku dengan melipat kedua tangannya. Dokter Dim kemudian meninggalkan kamar Dea di ikuti Leo.


" tunggu, Marfin menghentikan Dim setelah sesaat keluar dari kamar Dea.


" kau tidak lupa untuk tidak memberi tahu siapa siapa kan tentang wanita ini. tegas Marfin kepada Dim.


Dim berupaya menunjukkan senyum sebagai rasa hormat meski dalam hatinya ingin sekali bertanya" siapa sebenarnya wanita itu? dan apa hubungannya dengan tuan? kenapa dia begitu takut jika keluarganya tau?.


" tentu tuan, saya juga dokter yang selalu menjaga privasi pasien. ucap Dim sembari tersenyum.


" bagus... kata Marfin yang kemudian memalingkan badannya dan membiarkan Leo mengantar dokter Dim sampai keluar rumah.


" terimakasih pak. ucap Leo.


Dokter Dim membalas menepuk pundak Leo sebelum memasuki mobil.


leo kembali menemui Marfin yang duduk di ruang tamu sembari bersender di kursi dengab wajah yang tampak terlihat gelisah.


" apa tuan baik baik saja? tanya Leo yang berdiri di depan Marfin.


" yahh aku baik baik saja. jawab Marfin yang kemudian membenarkan posisi duduknya.


" lalu bagaimana? apa kita langsung pulang saja? kata Leo sembari duduk di sofa yang berhadapan dengan Marfin.


" saya rasa nona Dea juga baik baik saja tuan, kasian nona Alika jika harus sendirian di apartemen. sambung Leo kembali.


Marfin tak menggubris ucapan Leo ia meninggalkan Leo di ruang tamu dan pergi menemui Dea di kamarnya.


" bagaimana sekarang apakah sudah membaik? tanya Marfin yang kemudian duduk di samping Dea yang sedang berbaring.


" aku tidak apa apa tuan. aku sehat sehat saja, makanan yang aku mau juga sudah ada di perutku. ucap Dea sembari mengusap perutnya.


" oh iya, bagaimana keadaan istri tuan?tanya Dea.


"oh ..dia sangat baik baik saja. jawab Marfin datar.


"Dia belum hamil? tanya Dea sontak membuat Marfin kaget.


"a_apa..... ! jawab Marfin gelagapan.


"maksudku dia belum hamil. sambung Marfin.


" owhh... jika dia hamil juga mungkin tuan akan sibuk mengurus istri tuan dan tidak akan kemari ya. ucap Dea kemudian menundukkan kepalanya.


" apa maksudnya, kenapa dia bertanya seolah ada cemburu dalam hatinya. Marfin sejenak menelisir wajah Dea yang tertunduk.


" tidak juga, aku pasti kemari kok,tenang saja.jawab Marfin.


" owhh.... begitu ya. Nona Alika sangat cantik ya tuan, parasnya seperti model saja. tutur Dea kembali mengangkat wajahnya.


" bagaimana kau tahu? dia biasa biasa saja kok,dia sangat sederhana sepertimu.tegas Marfin.


Marfin menggeleng gelengkan kepalanya mengisyaratkan bahwa cerita itu tidak mungkin.


" bagaimana itu mungkin? Dia tidak mungkin keluar tanpa izinku apalagi hanya kesebuah mini market.


"tapi, Dia bilang dia nona Alika, istri tuan. kata Dea.


" apa mungkin itu Alika, tapi rasanya tidak mungkin. kalo iya? berani sekali ia keluar tanpa seizinku. gerutu Marfin.


" boleh aku pulang? tanya Marfin.


Dea tertegun sejenak mendapati pertanyaan seperti itu,memangnya siapa dia mengapa seorang Marfin harus meminta izinnya.


ya... ya... tentu saja tuan. pulanglah aku baik baik saja. kata Dea dengan wajah polosnya kemudian menundukkan kepalanya lagi.


" aku pamit ya, ucap Marfin tersenyum sembari memegang pangkal kepala Dea.


Dea membuka lebar matanya menatap senyum manis itu sampai ia seperti menahan nafas karna begitu terpana.


" hati hati tuan. ucap Dea masih menatap.


Marfin kemudian bangkit dari duduknya kemudian bergegas meninggalkan Dea.


sementara Dea menatapnya sampai ia tak lagi terlihat.


" aa..... Dia sangat tampan, luar biasa.Dea menghela nafas dan menghempasnya kasar.


******


" tuan, apa tuan tidak akan membeli sesuatu untuk nona Alika? tanya leo sembari fokus dengan setirnya.


" owh iya, kau belikan saja dia bunga. titah Marfin dengan nada datar.


" aku, aku yang membelikannya kembali.


gerutu Leo didalam hati.


" kenapa? kau tidak mau. ucap Marfin dengan nada tinggi.


" aa.... bukan begitu tuan? mengapa tidak tuan saja yang membelikan? tanya Leo dengan wajah takutnya.


" kau atau aku yang membelikan sama saja. ucap Marfin datar.


akhirnya beberpa menit leo memarkirkan mobilnya di sebuah toko bunga sementara Marfin menunggunya didalam mobil.


" ini tuan, kata leo setelah kembali dengan buket bunga mawar berwarna merah. Marfin menerimanya dengan wajah datarnya.


leo kemudian fokus kembali dengan setir mobilnya.


*******


" silahkan tuan, sampai ketemu besok. ucap Leo membukakan pintu sembari tersenyum, sementara Marfin masih saja menampakkan wajah datar, ia keluar dari mobil kemudian merapikan jas yang ia kenakan dengan cara elegant. sementara Leo kembali memacu mobilnya.


ting..


pintu lift terbuka.


" Marfin? tiara tanpak di kagetkan sosok pria tampan yang hendak memasuki lift bersamanya.


" sial, kenapa wanita ini ada disini. Batin Marfin yang kemudian masuk kedalam lift.


" apa kabar tuan? tanya Tiara.


Marfin hanya memalingkan muka tak menjawab pertanyaan dari mantan kekasihnya tersebut.


Didalam lift hanya ada mereka berdua, tentu saja membuat Marfin merasa tidak nyaman.


" sial, dia sama sekali tidak melihatku,bunga itu? apakah untuk istrinya. batin tiara kesal sambil menatap tajam Marfin.


" awww....jerit tiara. ia berpura pura terjatuh dengan high heels yang ia kenakan.


mau tidak mau Marfin menagkap tubuh itu dengan kedua tangannya.


kini tubuh tiara berada di dada bidang Marfin.


"hati hati, ucap Marfin yang dengan cepat melepaskan tangannya.


" kau peduli padaku tuan? Tiara menatap lirih wajah itu dan memberanikan diri memeluknya.


" I miss you soo much. ucap Tiara sambil mencium punggung Marfin.


" beraninya kau menyentuhku. gertak Marfin kemudian mendorong tiara.


ting... pintu lift terbuka.


" cepat keluar. gertak Marfin.


tiara dengan cepat menekan tombol lantai paling atas lantai yang hendak di datangi Marfin.


" aku masih ingin bersamamu meski sebentar saja. kata Tiara kembali mendekatkan tubuhnya didada Marfin.


Marfin kembali mendorong tiara menjauhkannya dari tubuhnya.


" tuan, apa kau tidak rindu dengan aroma tubuhku ini.


dibagian ini kau pernah menyentuhku, kau pernah menciumnya. lalu mengapa sekarang kau tampak jijik dengan tubuh ini. ujar tiara sembari sambil menggoda Marfin dengan gerak geriknya.


" apa kau bilang? jangan berani beraninya kau mengatakan itu. ancam Marfin sembari meremas wajah Tiara dengan sebelah tangannya.


ting ...


pintu lif kembali terbuka.


dengan langkah cepat Marfin melangkahkan kakinya.


Tiara mengejarnya di belakang.


"tunggu tuan, tiara memegang lembut lengan Marfin dari belakang.


matanya penuh pesona, bentuk tubuhnya sangat menggoda bagi laki laki mana saja.


" kau harus kembali lagi kepelukku, bercinta kembali denganku. atau jika tidak, kau akan kehilangan istrimu. ancam Tiara sembari memainkan jari lentiknya di wajah Marfin.


" apa maksudmu? tanya Marfin.


" aku tahu, kau punya simpanan bukan?


jika istrimu tahu, mungkin dia akan meninggalkanmu. kata Tiara dengan suara lembutnya.


" omong kosong apa ini. Marfin memegang kasar tangan tiara.


" aww... sakitt .Tiara menjerit kesakitan.


" dengar baik baik, jangan macam macam. kau tau benar siapa aku, aku bisa menghabisimu jika aku mau. enyahlah kau... ucap Marfin kemudian menghempaskan tubuh tiara dilantai.


Marfin kemudian meninggalkan tiara yang terduduk di lantai akibat dorongan kerasnya.


" lihat saja, aku pasti bisa mendapatkan mu kembali dengan mudah. batin tiara


Marfin menekan pasword untuk membuka pintu Apartemennya.


Ia kembali menutup pintu itu, dilihatnya istrinya sedang tertidur pulas di sofa.


" sayang, ayo bangun. Marfin menghampiri istrinya dan berbisik lembut di telinganya.


" Mas sudah pulang ya. Ucap alika membuka matanya, mencium tangan suaminya, dan meletakkan tas yang di bawa suaminya.


" kenapa tidak tidur di kamar saja. ujar Marfin kepada istrinya.


" aku nungguin mas pulang? ucap Alika memonyongkan bibirnya.


" sudah makan? tanya Marfin.


Alika menggeleng gelengkan kepalanya mengisyaratkan bahwa dirinya belum makan karna menunggu suaminya.


krukk... krukkk... suara perut Alika.


" ya ampunn..... ayo makan.Marfin menarik tangan istrinya ke meja makan.


" kau sudah membuat banyak makanan seperti ini tapi tidak di makan? tanya Marfin santai.


Alika kembali menggeleng gelengkan kepalanya,ia kemudian menarik kursi dan mempersilahkan suaminya duduk untuk makan malam bersamanya.