
Happy reading ❤️
"Sabina tak perlu tahu tentang aku yang bekerja disini, ini akan menjadi rahasia kecil kita yang lain," ucap Amanda sembari menyodorkan kopi yang dibuatnya dan ia tahu betul jika Gibran sangat menyukai kopi buatannya.
"Jangan main-main denganku, Manda !" Sentak Gibran seraya menggebrak meja dan kopi di dalam cangkir pun tumpah membasahi permukaan meja kerjanya
Tubuh Amanda melonjak karena terkejut dengan apa yang Gibran lakukan padanya. Ini adalah kesekian kalinya lelaki itu berkata-kata dengan nada meninggi. Tak ada lagi tutur kata lembut seperti dahulu kala. Amanda pun menitikkan air matanya dengan kepala tertunduk.
"A... Aku hanya mencoba mencari uang dengan cara halal untuknya." Ucapnya seraya mengelus perutnya yang membesar.
"Tapi bukan begini caranya. Jangan menguji kesabaran aku, Manda." Desis Gibran dengan gusar dan tangan terkepal.
"Hanya kamu yang memperlakukan aku layaknya manusia, orang lain memandangku seolah aku ini sesuatu yang sangat menjijikkan." Gumam Amanda lirih namun Gibran dapat mendengarnya dengan jelas.
"Apa kamu pernah berpikir kenapa mereka melakukan itu padamu ? Kenapa mereka melihatmu seperti itu ?"
Amanda mengangkat wajahnya dan menatap Gibran yang kini tengah melihatnya dengan penuh amarah.
"Ka... Karena a... Aku bukan wanita yang baik ?" Tanya Amanda.
Gibran diam tak menjawab apa yang Amanda tanyakan, tatapan dinginnya masih menatap tajam Amanda.
"Apa karena aku telah berbuat jahat ?" Tanya Amanda sembari menundukkan kepala.
Namun Gibran masih diam tak menjawab.
"Gibran, maafkan aku karena dulu telah menyakiti kamu. Tapi percayalah jika perasaan aku sama kamu gak pernah...,"
"Aku gak peduli dengan perasaanmu dan cerita kita yang telah lalu. Sudah tak ada artinya bagiku. Apa yang kurang dariku Manda ? Aku tak pernah bercerita buruk tentangmu pada siapapun, tak pernah mengusik hidupmu lagi karena aku tak peduli. Aku hanya tidak tega pada bayi dalam perutmu. Jadi sekarang please fuc**ng leave me alone !!" Hardik Gibran seraya berdiri dan Amanda semakin menangis tersedu.
Gibran meraih kunci mobil yang terletak di dalam laci mejanya, dan tanpa bicara ia pergi meninggalkan Amanda yang masih berdiri.
"Ran, tolong bersihkan meja saya dan pastikan dia segera meninggalkan klinik ini." Tunjuk Gibran pada Amanda. Rani melihatnya takut-takut dan sedikit ragu.
Suara bantingan pintu dan decitan ban yang nyaring menandakan kepergian Gibran yang penuh emosi.
Gibran menjalankan mobil secepat yang ia bisa. Pikirannya melayang pada Sabina. Ia yang telah berkomitmen, ia sendiri yang melanggarnya. Sudah banyak yang ia sembunyikan dari istrinya itu. Tak terbayang apa yang akan Sabina lakukan padanya.
Bunyi klakson berkali-kali dari mobil di belakangnya menyadarkan Gibran dari lamunan. Ia tak menyangka masalahnya menjadi lebih rumit dari yang dirinya kira.
Niatnya hanya membantu menyelamatkan bayi yang di kandung Amanda, tapi nyatanya perempuan itu memanfaatkan kebaikannya.
"Sialllannn, Manda !" Umpat Gibran seraya memukuli setir mobilnya.
Lama berkendara dengan pikiran yang sibuk membuatnya sedikit lelah. Gibran pun menepikan mobilnya di sebuah mini market dan mengambil sebotol minuman dingin ketika ia sampai di dalamnya.
Ia berjalan berkeliling, menelusuri setiap rak dan mengambil beberapa makanan yang Sabina suka dan memasukkannya ke dalam keranjang.
Cukup banyak yang Gibran pilih hingga keranjangnya pun terlihat penuh. Ia tersenyum ketika ingat bayangan dirinya dan Sabina berbelanja untuk pertama kalinya dan bermain tebak-tebakan untuk lebih saling mengenal.
Sederhana namun sangat berkesan baginya. Dan akhir dari kegiatan belanja waktu itu, Gibran mengambil foto Sabina yang tersenyum dengan ponselnya.
Foto yang kini ia pandangi dengan perasaan tak menentu.
***
Sabina membukakan pintu dengan senyuman di wajahnya. Senyum itu semakin lebar ketika Gibran menyerahkan sebuah paper bag berisikan banyak makanan kesukaannya.
"Apa ini ?" Tanya Sabina seraya mengambilnya.
"Untukmu," jawab Gibran. Kemudian ia mencium pipi Sabina dengan gemas.
Sabina mengeluarkan satu persatu isi paper bag itu dengan rasa senang. Berbagai jenis coklat, permen mint dan minuman matcha. Padahal beberapa waktu lalu Gibran pernah melarangnya untuk meminum minuman kemasan.
"Tumben, Yank. Nyogok ya ? Hayo kamu habis nakal ya ?" Tanya Sabina sembari tertawa. Ia menggoda suaminya itu.
Namun Gibran diam seketika, apa yang Sabina ucapkan terasa menusuk hatinya.
"Aku beliin karena aku inget kamu," jawab Gibran ketus.
Melihat raut wajah Gibran yang berubah masam membuat Sabina merasa heran.
"Aku hanya bercanda, kenapa kamu menganggapnya serius ? Kalau kamu tak melakukan apapun tak usah marah begini" ucap Sabina tenang namun membuat Gibran merasa terjebak sekarang.
"Maaf," gumam Gibran.
"Aku yang minta maaf," ucap Sabina dengan tenangnya.
"Terimakasih ya," lanjut Sabina seraya memberikan kecupan di pipi suaminya.
Ciuman yang menggetarkan hati Gibran. Ia semakin merasa bersalah pada istrinya itu.
***
Sudah berlalu 1 minggu semenjak Gibran meminta Amanda pergi dan wanita itu menurutinya. Pada akhirnya Gibran dapat menarik nafas dengan lega.
Hari ini tepat memasuki usia 7 bulan kandungan Sabina. Gibran sudah menyiapkan sebuah pesta kejutan untuk istrinya itu.
Sebuah pesta baby shower di salah satu hotel berbintang lima di kota Jakarta. Bahkan Gibran telah menyediakan sebuah mobil mewah yang warnanya mewakili jenis kelamin bayi yang di kandung Sabina.
Ini akan menjadi kejutan, karena sesungguhnya baik Sabina maupun Gibran belum mengetahui apa jenis kelamin anak mereka namun ia meminta tolong pada dokter kandungan Sabina yang juga merupakan sahabatnya untuk membantu acara ini dengan sebuah event organizer ternama.
Hari ini Gibran akan mengajak Sabina untuk makan malam romantis namun yang sebenarnya beberapa kerabat dan orang terdekat Sabina sudah menunggu di sana.
"Sudah siap ?" Tanya Gibran pada Sabina yang sedang merapihkan riasannya di hadapan cermin.
Gibran pandangi lekat-lekat wajah cantik istrinya. Dengan gaun putih berenda dan riasan wajah natural membuat sabina tampil mempesona. Aroma musk dan bunga menguar dari tubuhnya dan Gibran menghirupnya dengan rakus.
" Kamu cantik sekali, Bina. Aku cinta banget sama kamu." Bisik Gibran dan ia pun melabuhkan bibirnya di pipi Sabina.
"Aku juga," jawab Sabina seraya berdiri dan meraih tas tangan dari atas nakas.
Keduanya berjalan berdampingan dengan jemari saling bertautan. Tak banyak kata yang saling terucap, mereka berjalan dalam sunyi. Hubungan keduanya meskipun terlihat baik-baik saja namun pada nyatanya ada ketegangan disana.
Sabina dengan rasa curiganya dan Gibran dengan rahasia kecil yang ia sembunyikan.
Setelah beberapa belas menit berkendara, Gibran dan Sabina tiba di sebuah hotel bintang lima di kawasan Jakarta Selatan.
Sabina tak tahu jika sebuah kejutan menantinya. Ia berjalan dengan menggandeng tangan Gibran dan terkejut luar biasa ketika pintu restoran di buka semua keluarga dan kerabat dekatnya hadir di sana. Bahkan ibu mertua dan kedua kakaknya yang tinggal di luar pulau Jawa pun hadir di sana.
Mata Sabina mengembun menahan tangis bahagia, pipinya merona. Ia memeluk Gibran seketika dan kemudian host pun membuka acara.
Acara makan malam berlangsung dengan meriah, alunan lagu yang di bawakan salah satu artis ibu kota menambah kemeriahan malam itu.
Puncak acara pun tiba. Sabina dan Gibran berdiri di hadapan para tamu dengan kotak hadiah cukup besar di hadapannya.
Dengan perlahan keduanya membuka kotak itu dan keluarlah balon berwarna emas dan terikat pita. Lalu dengan dada berdebar-debar, Sabina dan Gibran berusaha memecahkan balon tersebut diiringi tepuk tangan meriah para tamu.
Balon pun meletus mengeluarkan serbuk terang gliter berwarna biru muda. Menandakan jika Sabina tengah mengandung seorang bayi laki-laki.
Gibran yang menyadari itu melompat-lompat karena merasa bahagia luar biasa. Tanpa sadar ia menarik Sabina dalam dekapannya dan menyatukan bibir mereka dengan sempurna.
Riuh tepuk tangan mengiringi ciuman panas itu namun Gibran tak jua melepas tautan bibir mereka meski Sabina telah berusaha.
"Aku semakin mencintaimu, Bina." Ucap Gibran ketika tautan bibir mereka terpisah dan Sabina pun mengatakan hal yang sama.
Sebuah kado sangat besar dengan banyak pita dan muncul dari balik layar. Gibran pun meraih tangan istrinya untuk menghampiri kejutan berikutnya. Dengan perlahan Gibran membantu istrinya itu untuk menggunting pita dan terbukalah kotak itu dengan sebuah mobil mewah Range Rover berwarna biru. Sabina memeluk Gibran dan menjinjitkan kakinya untuk meraih bibir sang suami.
Gibran pun menundukkan wajahnya dan menyambut bibir sang istri dengan suka hati. Riuh tepuk tangan para tamu kembali terdengar memenuhi ruangan itu.
***
Esok paginya 2 orang manusia tengah menonton televisi dari tempat yang berbeda.
Andre di apartemennya dan Amanda di kosan sangat sederhananya. Keduanya tengah menyiapkan obat untuk mengobati penyakit yang sama yang mereka idap.
Mata keduanya terpaku pada acara televisi yang menyiarkan kemeriahan acara baby shower Sabina juga Gibran uang sudah dilakukan tadi malam.
Belum ada satu tahun bagi Andre juga Amanda meninggalkan para kekasihnya untuk lari bersama namun kini merekalah yang hidup menderita.
"Harusnya gue, yang berdiri di sebelah Sabina dan memeluknya erat." Gusar Andre seraya melemparkan gelas yang ia pegang ke dinding sehingga menimbulkan bunyi pecahan kaca yang cukup nyaring.
"Seharusnya aku yang berada disana dan diperlakukan layaknya ratu. Bukan perempuan pincang yang jago akting itu." Geram Amanda seraya melemparkan benda yang bisa ia raih dengan tangannya.
To be continued ❤️
Maaf slow update. Anak2 ku lagi UAS.
Terimakasih atas pengertiannya 😘😘