
Marfin kemudian tiba di rumah sakit.
ia berjalan dengan melebarkan langkahnya.
Permisi tuan, adakah yang bisa saya bantu? Tanya suster kepada Marfin yang berjalan dengan tatapan lurus dan memasukkan kedua salah satu tangannya kedalam saku celananya ia terus berjalan tanpa melihat kanan maupun kiri.
" *tuan, nona yang dibawa sekretaris Leo tadi berada di kamar nomor 18.
sekretaris Leo sedang menunggu disana. suster menunjukkan arah.
Tanpa menjawab. Marfin langsung menemui menuju kamar yang di maksud.
ya rumah sakit X adalah rumah sakit terbaik di kota Y ,dan juga Andalan keluarga Marfin wijaya. jadi semua pihak rumah sakit sudah begitu sangat mengenal keluarga Marfin wijaya dan Dokter DiM adalah salah satunya dokter pribadi dari Bu Risma.
" Leo ! bagaimana keadaannya, Tanya Marfin kepada sekretaris leo yang duduk di samping Dea. belum sempat menjawab
dokter Dim sudah memasuki ruangan.
" tuan, bisakah kita bicara di ruangan? pinta Dokter Dim.
Marfin dan sekretaris Leo kemudian mengikuti dokter Dim menuju ke keruangannya.
Tiba di ruangan Dokter.
" siapa wanita itu tuan? tanya Dokter Dim.
"Dia....
Marfin tak melanjutkan kata katanya.
kau tak perlu tau siapa wanita itu?
yang perlu kau lakukan adalah menolongnya. jawab Marfin dengan datar.
sekretaris leo berdiri di sampingnya.
" bagaimana dengan bayinya ? tanya Marfin.
bayinya baik baik saja tuan, untung sekretaris leo cepat membawanya kemari jika tidak mungkin ibu dan bayinya tidak bisa di selamatkan.
dia hanya perlu istirahat tuan, ucap Dokter.
sekretaris leo dan Marfin hanya sama sama diam.
" kelihatannya wanita itu sedang depresi tuan, ? apa yang sebenarnya terjadi? tanya Dokter lagi.
di sudut lain, di depan pintu.
Tiara mendengarkan obrolan mereka .
" wanita?bayinya ?? siapa yang Marfin maksud? apa hubungannya dengan dia?
Batin tiara dengan tatapan tajam.
kemudian dia pergi menemui salah satu suster.
" sus, kau tahu siapa wanita yang dibawa tuan muda tadi? di nomor berapa dia di rawat? tanya Tiara.
" oh, nona tadi berada di nomor 18. jawab suster.
" baik terimakasih.
Tiara bergegas pergi kekamar nomor 18 tersebut.
pelan pelan ia membuka pintu, berjalan perlahan menghampiri wanita yang tengah berbaring diatas tempat tidur.
tampak wanita itu sangat terlihat pucat. lemah tak berdaya.
" hey siapa kau? bisik tiara kepada Dea.
namun tentu saja Dea tak mendengar apa yang dia katakan karna Dea sedang dalam keadaan tidak sadar.
" kau bukan wanita spesial yang ada dalam kehidupan Marfin lagi bukan?
tidakk ... tidakkk....
mengapa wanita yang spesial untuk Marfin hanya wanita wanita biasa seperti ini.
pertama istrinya, apa yang bagus dari istrinya, aku jauh lebih cantik, modern, aku juga jauh lebih kaya dari pada wanita wanitanya.
kedua,
wanita ini. tiara menunjuk Dea yang tengah berbaring diatas ranjang.
siapa dia? apakah dia mencintai wanita ini juga. Tiara terus berkata kata sendirian di ruangan tersebut.
"ohhh... Otak Tiara mulai berfikir jahat.
jadi nona Alika, suamimu berselingkuh dengan gadis biasa sepertimu juga.
Tiara menatap tajam dea dengan senyum liciknya.
ini bagus... Artinya jika Alika tau soal ini, ia akan meninggalkan Marfin.
Dan aku akan menjadi sandaran untuk Marfin ketika dia sedih. ahaha.... Tiara tertawa puas.
Dan wanita ini. ia melihat Dea kembali.
aku akan dengan mudah menyingkirkannya.dea menepukkan pelan kedua tangannya, Matanya berfikir jahat.
Tak ...tak....
" siall....
Mereka pasti kemari. ketus Tiara.
terdengar masih jauh suara kaki akan memasuki ruangan itu, cepat cepat Tiara meninggalkan ruangan itu.
Marfin dan sekretaris leo berjalan kekamar Dea dirawat.
" kau jangan meninggalkannya,pinta Marfin.
jangan khawatir tuan, aku akan selalu di sampingnya sesuai yang tuan inginkan. jawab sekretaris leo kemudian ia membukakan pintu.
Di tempat lain..
Alika tampak sedang menunggu kabar kedatangan suaminya,
apakah aku harus menghubunginya? tapi knapa harus aku, tidak bisakah dia yang menghubungiku. Alika sambil melihat lihat ponsel dan kemudian meletakkannya kembali di kasur.
ia berlari kecil menuruni anak tangga.
pelayan.... panggil Alika.
ia nona. salah satu pelayan menghampirinya.
dimana ibu, kau melihatnya?
di taman rumah nona,sedang bercengkrama dengan tuan jee. jawab pelayan itu.
kemudian Alika menemui mereka.
dari kejauhan Alika melihat mereka tampak sedang asyik berbincan bincang.
ia mendekatinya perlahan.
bu...
Alika menyapa.
hay, sayang sini duduklah bersama kami, kita berbincang bincang,kau belum tau banyak kan tentang keponakan ibu ini, ucap bu Risma sambil melihat kearah jee.
jee hanya tersenyum.
Bu risma menawarkan Alika duduk di kursi yang kosong.
ibu , sebenarnya aku ingin meminta izin, aku ingin kerumah paman dan bibi, sudah lama aku tidak kesana . Alika mulai bicara.
oh tentu saja boleh sayang, ajak suamimu, bertamulah kesana.bu risma menanggapi dengan senyuman.
tidak bu... aku akan kesana sendiri.
Suamiku sedang sibuk nanti dia akan menyusul, aku bisa meminta salah satu pelayan mengantarku atau aku bisa mengendarai mobil sendiri, Alika menjelaskan.
tidak ... tidak. Bantah bu risma.
jee... kau bisa temani Alika kan? pinta Bu risma.
" pria ini sama menyebalkannya dengan suamiku,mana mungkin dia mau membantu orang lain . Batin Alika.
tentu saja tante. .. aku akan mengantarkannya. lagi pula aku juga ingin jalan jalan di kota ini, mungkin Alika juga bisa menemaniku jalan jalan. ucap Jee dengan senyum.
terimakasih tuan jee.. Alika tersenyum berpura pura seolah senang.
Alika pergi disusul oleh jee, kemudian mereka memasuki mobil kemudian meninggalkan kediaman Marfin wijaya*.