
Happy reading ❤️
Andre tiba di kantor Iebih pagi dari biasanya. Untuk menghindari obrolan kedua orangtuanya, ia bahkan tak menghanbiskan sarapannya.
Suasana kantor masih sunyi dan lengang belum banyak orang yang datang. Andre memasuki ruang kerjanya yang sederhana dan mendudukkan tubuhnya di sana.
Pikirannya masih melayang pada hal-hal buruk yang terus menghantui. Ditambah rencana kedatangan adiknya pasti akan menambah beban pikirannya. Sudah terbayangkan bagaimana kedua orangtuanya akan membandingkan ia dan adiknya nanti.
Andre membuka Iaci mejanya dan melihat satu paper bag yang berisikan berbagai macam obat untuk penyakitnya. la tahu obat itu masih bersisa banyak karena Andre tak teratur meminumnya padahal dokter yang menanganinya mengatakan jika ia harus mengkonsumsinya dengan teratur dan sampai habis lalu ia harus melakukan tes laboratorium lagi.
Alih-alih meminum obatnya, ia Iebih memilih mengambil sebatang benda bernikotin dan manyalakannya. la menyesap dengan dalam benda itu hingga berasap dan menghmebuskannya pelan. Andre melakukan itu untuk beberapa kali hingga ia memutuskan untuk berdiri.
Dirinya berjalan kembali keluar ruangan menuju pantry untuk membuat kopi hitam, berharap secangkir kopi bisa membuatnya Iebih hidup pagi ini.
"Hei," sapa Andre pelan pada Alya yang melewatinya di lorong kantor.
"Oh hai," jawabnya pelan.
"Mau ada acara?" Tanya Andre terheran melihat penampilan Alya yang lebih rapih dari biasanya. Hari ini Alya mengenakan satu stel blazer formal yang dipadukan dengan rok sepanjang lutut.
"Kan aku udah minta izin dari 2 hari yang lalu jika hari ini pukul 10 pagi akan mengkuti acara hari orang tua di sekolah Raka."
"Oh ya ? Sorry aku lupa. Emang Raka udah sekolah ya ?" Tanya Andre. Banyaknya persoalan membuat ia tak begitu peduli pada sekitarnya.
"Iya, bulan ini mulai masuk Tk."
"Tapi hari ini kita harus menemui klien dari PT. XXX."
"Setelah dari acara sekolah Raka, aku akan langsung ke tempat pertemuan." Alya beralasan.
Andre pun akhirnya mengalah, ia tahu jika Alya begitu memprioritaskan anaknya.
"Ah mungkin gue juga begitu kalau punya anak." Batin Andre dalam hatinya.
Andre meneruskan niatnya untuk membuat kopi, sedangkan Alya berjalan ke arah kursinya untuk memulai pekerjaannya lebih awal karena siang ini ia harus pergi.
Tanpa Alya sadari, ada sepasang mata terus memperhatikan dirinya, siapa lagi jika bukan Andre yang kini menjadi atasannya.
Tak ada yang menarik dari seorang Alya bagi Andre. Wanita itu terlalu dewasa dan serius, tak pernah menunjukkan sisi manja juga menggemaskan ciri khasnya para wanita. Penampilannya juga biasa saja tak cantik menggoda seperti tipe wanita yang Andre sukai.
Tapi, Andre kagum dengan kerja kerasnya dan rasa keibuannya yang begitu kentara. Setiap mereka lembur bersama pasti Alya membawa anaknya ikut serta.
Anak yang kini berusia 5 tahun itu akan menuruti perkataan sang ibu dan tanpa rewel menemani ibunya kerja.
Pernah suatu waktu ketika Andre merasa jenuh dengan pekerjaannya, ia pun memilih untuk memainkan sebuah game online dan menyerahkan pekerjaan itu pada Alya.
Raka yang tengah duduk sembari menonton TV, tiba-tiba turun dari tempatnya duduk dan berjalan mendekati Andre karena tertarik oleh suara bising dari ponsel atasan ibunya itu.
"Apa Raka boleh lihat, Om?" Tanya Raka takut-takut.
"Boleh." Jawab Andre singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Tanpa Andre sangka, Raka masuk diantara kedua tangannya hingga kepala anak itu bersender ke dadanya.
Ada perasaan aneh yang Andre rasakan saat itu, terlebih lagi ia belum lama kehilangan anak perempuannya. Rasa yang tak bisa Andre ungkapan dengan kata-kata.
Sejak saat itu sedikit banyak Andre menjadi lebih dekat dengan anak lelaki Alya. Setiap mereka bertemu pasti akan bertegur sapa penuh canda dan Andre sangat menyukai itu.
Padahal Andre bukanlah penggemar anak kecil, malah ia tak suka. Namun tragedi yang menimpa anaknya membuat Andre sedikit berubah.
Alya menolehkan kepala saat merasa diperhatikan dan ia pun mendapati Andre sedang memandangi dirinya dari jauh.
Andre memalingkan muka ketika Alya melihat ke arahnya, tiba-tiba saja ia merasa tak enak hati karena tertangkap basah sedang memperhatikan.
Dan seperti yang Andre tahu, Alya bukan wanita yang mudah terpengaruh. Wanita itu kembali menundukkan kepala dan fokus pada tumpukan kertas kerja di atas mejanya.
***
Gibran membaringkan bayi Athalla di atas tempat tidurnya. Pagi ini ia sendiri yang mengurus anaknya itu dengan penuh kasih sayang dan Sabina begitu terkagum-kagum melihatnya. Ia sengaja meliburkan diri karena akan mengantarkan sang ibu ke bandara untuk pulang kembali ke kampungnya.
"Sayang, siang ini ada suster yang akan membantumu merawat baby Athalla." Kata Gibran seraya melingkarkan tangannya dan memeluk Sabina dari arah belakang. Tak lupa ia pun mengecup pipi Sabina dengan lembut.
Hubungan keduanya semakin mesra saja semenjak mereka mengungkapkan perasaannya masing-masing. Gibran semakin menunjukkan rasa cinta dengan sikap posesifnya dan Sabina sangat menyukai itu.
"Tapi aku masih bisa handle baby Atha seorang diri." Jawab Sabina beralasan.
"Ya, aku tahu itu, tapi ibuku akan pulang hari ini. Aku tak ingin kamu kerepotan jika aku sedang bekerja. Kamu bisa meminta bantuannya jika diperlukan saja." Kata Gibran dan Sabina pun akhirnya menerima tawaran suaminya itu.
Pukul 9 pagi seorang wanita berusia sekitar 22 tahunan datang dengan membawa surat rekomendasi dari sebuah yayasan penyalur tenaga kerja suster yang ternama.
Ibu Gibran yang menerima kedatangan wanita yang mengenakan seragam suster berwarna biru muda itu, karena anak dan menantunya sedang berada di lantai 2 di kamar mereka.
Sebenarnya apa yang dilakukan Ria adalah hal yang wajar, namun Ibu Gibran melihatnya dengan raut wajah tak suka.
"Dokter Gibran," sapa wanita itu sopan seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Gibran pun menerima uluran tangan itu dan menyalaminya. Tanpa basa-basi, Gibran pun meminta wanita itu untuk duduk kembali.
"Anda lebih tampan dari yang saya lihat di televisi." Ucap Ria tak bisa menyembunyikan kekagumannya.
"Terimakasih," jawan Gibran singkat dan ibunya menunjukkan raut wajah tak suka yang makin kentara.
Gibran menjelaskan tentang pekerjaan yang harus dilakukan suster baru itu dan Ria si suster mendengarkan dengan seksama.
Selama kegiatan itu berlangsung, ibu Gibran tak meninggalkan mereka berdua meksipun hanya sebentar saja.
Tak lama, Sabina pun berjalan menuruni tangga untuk menemui wanita yang akan bekerja padanya.
Ria tak bisa menyembunyikan matanya yang memperhatikan cara Sabina berjalan. Membuat ibu Gibran semakin tak suka saja.
Sabina pun sadar jika wanita itu melihatnya dengan pandangan mata terkejut ke arahnya. Terkejut karena cara berjalan Sabina yang tak seperti wanita lain pada umumnya. Mungkin dalam hati Ria sangat menyayangkan jika lelaki setampan Gibran harus bersanding dengan Sabina yang memiliki kekurangan pada tubuhnya.
***
Di lain tempat, andre tengah duduk di kursinya ketika ayahnya datang tanpa mengetuk pintu.
"Andre, hari ini kita akan menengok proyek kerja kita yang baru di daerah Depok." Ucap sang ayah langsung mendudukkan tubuhnya di hadapan Andre.
Andre tak mengiyakan, ia hanya menatap segan lawan bicaranya. Ayah Andre terus berbicara, sedangkan Andre tak bisa menangkap apapun yang ayahnya ucapkan.
"Maaf, hari ini aku harus menemui klien." Potong Andre cepat.
"Apa tak bisa ditunda ?
"Tak bisa, malah aku harus pergi sekarang." Jawab Andre seraya berdiri.
"Janji bertemu pagi ?" Tanya ayahnya terheran.
"Hmm, iya. Maaf aku harus pergi."
Dengan terpaksa ayah Andre pun ikut berjalan keluar mengikuti anaknya, padahal sebenarnya Andre tak ada acara apapun pagi ini hanya saja ia ingin menghindari ayahnya.
Beruntung bagi Andre karena Alya pun baru saja keluar dari mejanya untuk pergi ke acara sekolah anaknya.
"Sudah siap ? Ayo kita pergi." Ucap Andre seraya menarik lengan Alya untuk berjalan dengannya.
Alya mengerutkan alis tak mengerti, "ikutin aja," bisik Andre lirih.
Alya menoleh ke belakang dan terlihat ayah Andre yang merupakan bos besarnya berjalan di belakang mereka.
"Selamat pagi, Pak." Ucap Alya seraya menganggukkan kepala sebagai tanda penghormatan.
Ayah Andre hanya menganggukkan kepalanya.
"Ayah, aku harus pergi." Ucap Andre ketika mereka sampai di depan lift dan ayah Andre pun membiarkan anaknya itu pergi dengan bawahannya.
"Seperti yang aku bilang tadi, aku mau ke sekolah Raka." Ucap Alya ketika mereka memasuki lift bersamaan.
"Aku antar." Jawab Andre.
"Apa ?"
"Udah jangan banyak tanya." Tutur Andre malas menjelaskan. Alya pun diam tak lagi berbicara.
Disinilah mereka di sekolah Raka. Alya keluar dari mobil Andre, dan Raka berlari menyambut sang ibu dengan tawa riangnya.
Andre pun keluar dari mobilnya karena tak mungkin ia menunggu selama 2 jam di dalam mobil.
Mata Raka berbinar melihat kehadiran Andre disana, ia pun berlari menghampiri.
"Om datang juga ?" Tanya Raka antusias.
"Hmm iya, karena Om dan ibumu harus bekerja bersama." Jawab Andre.
"Maukah Om pura-pura jadi ayahku sehari ini saja ? Teman-temanku membawa ayah dan ibunya hari ini." Tanya Raka penuh harap.
To be continued ❤️
Thanks for reading ❤️
Mon maap telat update yaaa 🙏