
Marfin masih termenung ,belum menjawab pertanyaan ibunya, fikirannya masih melayang kesana kemari, bingung ,bahkan ia meninggalkan ibunya yang bicara menantikan jawabannya sebagai seorang suami. apa yang harus ia lakukan?
Sementara itu, di tempat lain tepatnya di kediaman Alfino fernandes ia sedang duduk merenung di balkon rumahnya sambil melihat pemandangan kota yang tersedia disana.
"apa yang harus aku lakukan, bahkan setelah suaminya datang, aku tak lagi berhak ada di sampingnya?
lamunannya terhenti saat mendengar dering ponsel miliknya, nomor tak dikenal, ia mengacuhkan sesaat namun fikirannya ingin menerima panggilan tersebut dan akhirnya dengan cepat ia mengangkat panggilan itu.
" halo, fin? sapa disana.
" ini siapa? tanya Alfino.
" apa benar ini Alfino fernandes lulusan universitas jakarta fakultas ekonomi, tanya seseorang disana?
" iya benar, jawab Alfino singkat.
" Bro, ini aku Raka, temen kampusmu dulu ya meskipun beda fakultas, katanya.
" Raka ? Raka mana ya? Alfino mengingat ngingat.
" yang satu fakultas sama Alika, pungkasnya.
" owhh.... Raka bagaskara , Alfino berhasil mengingat.
" iya benar, Aku Raka bro.
kamu lanjut S2 dimana bro?
" di london, jawabnya singkat.
" Wah bro, kamu hebat ! puji Raka disana.
" ada apa kau menelponku? tanya Alfino ketus.
" wah bro,kita itukan teman. apa tidak boleh menghubungi teman sendiri, kata Raka disana.
"tujuan selain itu, potong Alfino.
"aku mendengar kabarmu di siaran televisi, seorang pengusaha kaya bernama alfino fernandes sedang membutuhkan donor darah,itu sebabnya aku menelponmu, ungkap Raka.
" lalu? jawab Alfino singkat.
" Aku siap membantumu kawan, ayolah golongan darahku sama dengan yang kau butuhkan, kata Raka dengan gaya bicaranya yang sok akrab.
seketika mendengar kata kata Raka, hatinya menjadi sangat senang.
beban di hatinya seolah hilang, ia tahu bahwa Raka tak mungkin berkata bohong atau mempermainkannya.
" apa kau serius? tanya Alfino.
lalu, berapa jumlah yang harus ku bayar untuk itu, ketikkan lewat pesan dan kirimkan rekeningmu akan segera ku kirim, kata Alfino.
" tenang bro, aku temanmu. kau tidak perlu menukar pertemanan dengan uang, jawab Raka.
" sudah, kita bicara lagi nanti, cepat datang ke surabaya ke alamat rumah sakit yang akan ku kirimkan, perintah Alfino.
" aku sudah di surabaya bro, kirimkan secepatnya alamat rumah sakitnya, timpal Raka.
" baiklah, Alfino menutup obrolannya.
jarinya langsung dengan cepat mengirim kan alamat kepada Raka lewat pesan whatsappnya.
****
Marfin dengan langkah cepat memasuki lift di sebuah apartement.
" akhirnya kau datang juga mas, kata Dea tersenyum membelakangi Marfin setelah membuka pintu dan ia masuk kedalam terlebih dulu.
" dimana lelaki yang bersamamu, apakah kalian tidur bersama? tanya Marfin.
" apa kau kemari untuk bertanya soal itu, kalo begitu pergilah, kata Dea memalingkan muka dan melipatkan kedua tangannya di pinggang rampingnya.
" tidak, maafkan aku, aku hanya bertanya,tidak ada maksud lain.
tolong maafkan aku, Marfin berusaha lembut.
" katakan ! kata Dea.
" kau tidak perlu memohon untuk aku mengembalikan Rachel kepadamu, kau ibunya kau berhak atas dia, kata Marfin.
Dea Berbalik arah, menatap tajam Marfin yang ada di hadapannya.
plakkk.... tamparan keras mendarat di pipi kanan Marfin, ia meringis memegangi pipinya.
" kau baru menyadari bahwa aku berhak atas anakku, kemarin apa yang membuatmu membawanya dariku? katakan? Dea mendekatkan dirinya kepada Marfin.
Marfin menolak, menjauhkan Dea dari tubuhnya saat dea berusaha melingkarkan tangannya ke pinggangnya.
" apa yang kau lakukan ! hal gila apa ini, kau sudah tidak waras ! bentak Marfin.
gelak tawa keluar dari mulut Dea, wanita yang tengah berpakaian kimono putih selutut itu duduk ditepi ranjang membuat tawa palsu yang harus dilihat Marfin.
" untuk apa kau kemari ? tanya Dea.
" aku membutuhkanmu,untuk istriku.kata Marfin datar.
Dea berdiri kembali dan menghampiri Marfin,
" untuk istrimu, maksudmu darahku mengalir di tubuhnya, aku dan dia akan menjadi satu, begitu? Dea memiringkan kepalanya.
"Dea, jika kau tak ingin membantunya karena dia istriku, bantulah dia sebagai orang lain yang sedang membutuhkan,kata Marfin.
aku akan membayarnya untuk itu, berapapun yang kau mau, bahkan jika kau ingin seluruh hartaku, aku akan memberikannya untukmu.
tolong Dea... bantu aku ! aku butuh cepat , jika saja bisa menunggu aku tidak akan datang kemari untuk mengemis padamu, Desis Marfin.
" mengemis katamu? Dea tersenyum.
" ayolah, lebih mengemis lagi tuan, kata Dea sembari mengitari tubuh Marfin dengan memainkan jari lentiknya.
" Dea cukup ! kau tidak sekotor itu ! berhenti !Marfin setengah berteriak.
" Apa katamu, katakan sekali lagi? ucap Dea lembut.
dengan sabar Marfin mengulangi perkataannya.
namun di sambut gelak tawa oleh Dea,
" aku heran dengan sikapmu, kadang sedingin salju, diam menyeramkan seperti singa, bahkan kadang lebih buas dari seekor serigala!
"nona, sebutan itu mengapa seolah kau berbicara dengan orang asing kepadaku, sudah hilangkah aku dalam fikiranmu, sebagai Dea yang selalu kau perhatikan, dan kau sebagai Marfin sang penyelamat hidupku, apakah kita benar benar akan menjadi orang asing kembali,batin Dea.
" pergi dari sini, usir Dea dengan telunjuknya*.
hilang sikap egois dari Marfin, ia seperti orang yang terlihat pasrah, seperti orang yang kehilangan semangat hidup.
mungkinkah karena bayangan kehilangan Alika sudah terlintas di benakknya,hingga membuatnya rapuh seperti sekarang ini.
bagaimana nasib si kembar anaknya, kelak jika dewasa nanti, hal menyenangkan apa yang akan ia ceritakan tentang kebersamaannya bersama Alika.
Marfin memalingkan badannya, kembali menggapai pintu dan keluar dari apartement Dea.
****
leo menunggunya di mobil, melihat majikannya datang Leo cepat cepat membukakan pintu,dan mempersilahkan masuk.
" silahkan tuan, ucapnya kemudian ia berlari ke pintu depan.
perjalanan mereka langsung menuju rumah sakit.
****
Marfin melihat keluarganya berkumpul disana, seperti ada seseuatu yang terjadi.
jantungnya berdegup kencang, semoga kabar buruk tidak di dengar oleh telinganya.
"tuan Marfin, kau dari mana saja? tanya Alfino.
" aku menemui Dea, untuk membantu Alika. jawabnya datar.
" kau mengemis padanya nak, bu Risma sedikit mendorong anaknya.
" honey.. sudah lah, pak anton menahan bu Risma.
" jadi bagaimana, bisakah kita mulai pengambilan darahnya? tanya Dokter.
Marfin melirik dokter yang berada di sebelahnya, tak mengerti maksud pertanyaannya.
" tuan, perkenalkan ini Raka. pendonor sekaligus teman kuliah Alika, alfino memperkenalkan laki laki yang ada di sampingnya.
" halo bro, aku raka. Raka mengulurkan tangannya kepada Marfin.
marfin tersenyum senang menyambut tangannya.
" Halo Raka, aku senang bertemu denganmu.
" aku juga sangat senang Bro, ternyata suami Alika tampan sekali, puji Raka.
buru buru, Marfin meminta dokter segera memberikan tindakana kepada Alika.
setelah dokter berhasil mengambil darah Raka, kini setetes demi tetes darah Raka mengalir ke tubuh Alika.
mereka semua berdoa penuh harap agar sesegera mungkin Alika dapat membuka matanya kembali.
*****
Marfin menggendong puteri kecilnya di tangannya,dengan mata yang menahan tangis ia mendekati isterinya yang belum sadarkan diri.
" sayang, puteri kita cantik. sepertimu dan tampan sepertiku, lihat disana, Marfin mengajak Alika berbicara menunjuk kearah puteranya yang berada di tangan ibunya.
sebagai seorang ibu,tentu saja bu Risma tak kuasa menahan air matanya melihat anak dan menantunya dalam keadaan seperti sekarang ini, akankah keduanya akan bersama kembali seperti dulu?
******
" Mau apa kau kemari, darahmu sudah tidak di perlukan lagi, anakku sebentar lagi sembuh. ucap Bu Risma kepada Dea.
" pergilah, tidak ada yang membutuhkanmu disini, sambung bu Risma kembali.
entah mengapa kelembutan bu Risma hilang ketika melihat wanita bernama Dea, ia hilang kendali.
" aku selalu bersikap baik pada orang lain, tapi orang sepertimu tidak pantas di perlakukan seperti itu, kata bu Risma.
" cukup honey.. lagi lagi pak Anton yang merelai keduanya.
" nak... pergilah, istriku sedang dalam keadaan tidak baik, datanglah lagi jika keadaan sudah membaik, saran Pak Anton.
"tidak perlu datang lagi, kata bu Risma setengah berteriak membelakangi Dea.
yuda yang berada di samping Dea ,begitu tidak tega melihat Dea selalu di perlakukan tidak baik oleh bu Risma, ia mencoba membantah bu Risma.
" nyonya wijaya yang terhormat, wanita sesuci apa anda sampai menghinakan wanita lain? ujar Yuda dengan nada kesal.
adu mulut terjadi di antara keduanya, pak anton dan juga Dea melerai keduanya namun bu Risma masih tidak puas meluapkan amarahnya.
" anak muda, kamu itu cuma di jadiin Alat sama itu anak, siapa sih wanita itu, bukan cuma miskin materi tapi juga miskin hati, ujar bu Risma menunjuk kearah Dea.
Mendengar keributan Marfin keluar dari ruangan Alika.
cekrek ia membuka pintu.
" apa ibu tidak bosan ribut dengan orang lain?tanya Marfin.
" kamu membela wanita itu nak, tanyanya tak percaya.
Marfin menarik nafas dan menghembuskannya pelan, menyusun kata serapi mungkin agar tidak melukai hati wanita yang melahirkannya itu.
" bukan begitu ibu, lihatlah kondisi Alika. yang harus kita fikirkan sekarang adalah kesembuhan Alika, bukan lain lain,
katanya lembut.
Bu Risma cemberut, matanya terus tertuju kepada Dea.
yuda menggenggam bahu Dea dan mengajaknya meninggalkan rumah sakit.
*****
Dea masuk kedalam apartement dengan emosi yang meluap, ia melemparkan tas kecil juga sepatu yang di pakainya ke sofa.
" Dasar nenek sihir, enggak ada akhlak !! ujarnya.
" sudahlah, biarkan saja,kata yuda membuka jaketnya dan meletakkannya di sandaran kursi.
hening seketika, Dea duduk di kasur berjauhan dengan yuda .
penasaran,yuda memberanikan diri bertanya kehidupan pribadinya, mengapa bu Risma begitu membencinya?