Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Last Bonus Chapter


Masih ada yang nunggu kah ?


Happy reading ❤️


Telah berlalu 3 Minggu sejak saat itu. Sabina mulai menjalankan terapi berjalannya setelah ia benar-benar pulih pasca operasi bedah tulang yang ia lakukan. Walaupun sulit dan menyiksa namun Gibran dengan setia selalu menemaninya. Memberikan semangat pada istrinya itu dan menguatkannya. Gibran selalu mengatakan jika Sabina pasti mampu melaluinya.


Seperti hari ini Sabina tengah berlatih berjalan dengan bertumpu pada 2 palang besi dan dipandu oleh instrukturnya. Gibran dan Athalla menemani Sabina dengan duduk di atas kursi yang disediakan untuk para pengantar pasien.


"Ayo Mama bica !! Mama bica !" celoteh Athalla sembari bertepuk tangan dengan suara khas anak batita yang menggemaskan.


Sabina yang merasakan linu pada kedua kakinya berusaha sekuat mungkin untuk bertahan. Ia bersyukur dalam hati karena kini keadaannya sangat berbeda dengan dahulu kala.


Jika dulu ia akan melalui hal sulit ini hanya bertemankan para pelayan namun kini ia ditemani oleh orang-orang yang sangat Sabina cintai dari hati yaitu anak dan suaminya.


"Go Mama bunny," Gibran berdiri dan memberikan semangat dengan mengepalkan tangannya. Sabina yang melihat itu tertawa seketika. Begitupun Gibran yang tersenyum membalas sang istri.


"Saya rasa istri anda akan cepat sembuh dan dapat berjalan dengan normal jika diberikan semangat oleh orang-orang yang dicintainya," ucap dokter Go yang tanpa Gibran sadari telah berdiri di sebelahnya.


Meskipun sabina kini tengah menjalankan terapi dengan dokter yang lain, namun dokter Go masih menjadi penanggung jawab atas dirinya.


Hampir setiap hari juga dokter tampan itu menyempatkan diri untuk melihat perkembangan yang Sabina capai. Selain Karena tanggung jawabnya, namun juga karena Sabina adalah pasien VIP nya.


"Sejauh ini istri anda mengalami kemajuan yang pesat, ini di luar prediksi saya," lanjut dokter Go dan Gibran pun setuju dengannya.


"Ya, saya sependapat dengan anda, Dokter." jawab Gibran.


"Anda cuti lama hanya untuk menemani Nyonya Sabina ?" tanya dokter Go.


"Iya, saya ingin berada di sisinya selama ia melalui ini semua." jawab Gibran.


"Apa anda tidak tertarik untuk mengambil spesialis ?" tanya dokter Go lagi.


"Tidak, itu bukan passion saya." jawab Gibran.


"Lalu apa passion anda ?"


Gibran tersenyum penuh arti, membayangkan bisa membangun banyak klinik yang harganya terjangkau di pelosok daerah. Masa kecilnya yang sulit membuat ia menginginkan itu semua.


"Sulit untuk saya jelaskan," jawab Gibran sembari tertawa.


"Ahhhh, baiklah saya mengerti. Sepertinya anda hanya bisa membagi mimpi anda dengan sang istri," ujar dokter Go.


Gibran kembali tersenyum dan membenarkannya.


***


Di tempat lain Andre mulai menjalankan tugasnya sebagai tenaga marketing sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang konstruksi. Setelah ia melakukan training 1 minggu lamanya, kini ia pun mulai turun ke lapangan.


Jangan salahkan Andre bila pesonanya tak kunjung luntur, walaupun bekerja sebagai staf biasa namun penampilan Andre yang biasa terlihat modis membuatnya jadi pusat perhatian para wanita. Terlebih lagi pekerjaannya ini mengharuskan ia bertemu dengan banyak klien dan tak sedikit diantara mereka adalah wanita. Sungguh godaan yang besar bagi seorang Andreas Tama, seolah ini adalah cobaan cintanya untuk Alya.


Seperti saat ini Andre tengah duduk menunggu calon klien yang ternyata seorang wanita yang usianya terpaut lebih tua 10 tahun darinya dan masih sendiri. Meskipun begitu wanita itu masih terlihat cantik dan menarik dengan badan ramping terawat dan wajah berpoles make up.


Ia adalah seorang manager perusahaan properti yang tertarik untuk menggunakan jasa perusahaan Andre dalam membangun sebuah apartemen di kota tersebut. Ini adalah kali ke tiga mereka bertemu untuk membicarakan perihal kerjasama yang belum tercapai kata sepakat.


"Maaf karena membuat anda menunggu, Pak Andreas," ucap wanita itu seraya menjabat tangan Andre dengan penuh percaya diri. Wangi parfum mahal khas sosialita langsung menyeruak dari tubuhnya yang ramping berbalut stelan blazer berwarna beige yang dipadukan dengan rok pensil warna senada. Wanita itu duduk di atas kursi dengan menyilang kan kaki sehingga kakinya yang jenjang terekspos dengan sempurna.


Andre menarik nafas dalam, sebagai laki-laki normal tentu saja wanita yang tengah duduk di hadapannya saat ini adalah sebuah godaan yang luar biasa.


Tanpa menghabiskan waktu percuma, Andre pun mulai menjelaskan kelebihan perusahaan dimana ia bekerja saat ini dan wanita itu memperhatikan dengan seksama. Andre juga menjelaskan banyaknya keuntungan yang akan diperoleh jika mereka melakukan kerja sama.


Banyak pertanyaan yang diajukan oleh wanita bernama Sonia itu, dan Andre pun menjawab setiap pertanyaanya dengan baik dan jelas. Andre sungguh menguasai pekerjaannya dan wanita itu pun terpesona melihatnya.


"Terus terang saya sangat tertarik menggunakan perusahaan anda, Pak Andreas. Bagaimana jika kita menindaklanjutinya sembari makan malam mungkin? Agar lebih saling memahami," ucap Wanita itu penuh maksud. Dengan gestur tubuh penuh goda Andre paham sekali apa yang wanita itu inginkan.


Jika saja ini terjadi dahulu kala, Andre yakin dalam waktu satu jam mendatang wanita bernama Sonia itu akan ada dalam kuasa tubuhnya. Saling bergelut manja berusaha untuk saling memuaskan satu sama lain. Namun kini keadaannya lain, ia telah menikah dan berjanji untuk setia pada wanita yang telah menyelematkan hidupnya.


Dibawah meja, satu tangan Andre memainkan cincin nikah yang melingkar sempurna di jari manisnya dengan begitu ia merasakan Alya hadir di sana bersamanya. Ia melakukan itu agar terus tersadar jika seseorang tengah menunggunya pulang.


"Terimakasih atas perhatian Anda, namun kita bisa melakukan pembicaraan ini dengan lebih jelasnya di kantor saya." jawab Andre tanpa ragu.


"Hmmm... sebenarnya bukan itu maksud saya. Saya jamin anda bisa mendapatkan pekerjaan ini tapi...," jawab Sonia dengan tatapan matanya yang sendu penuh goda.


Sebuah pilihan berat bagi Andre yang baru saja menapaki kariernya. Andre tersenyum sebelum akhirnya ia memutuskan...


***


7 tahun berlalu...


"Bangun Papa, selamat ulang tahun !"


"Papa bangun ! Ayo buka kadonya !"


"Papa anun, Papa...,"


Gibran membuka matanya meski kantuk masih ia rasakan. Dan ketiga anak lelakinya yang membangunkan ia dari tidur nyenyaknya padahal hari ini adalah hari libur dan ia sangat ingin menghabiskan waktunya untuk bersantai.


"Sayang, anak-anakmu membangunkan aku," keluh Gibran dengan manja.


Athalla berusia 9 tahun, Axel 4,5 tahun dan Aiden berusia 2 tahun. Saat ini ketiga anak lelakinya tengah mengerubungi Gibran, bahkan Aiden duduk diatas perut Papanya.


Sabina yang kini tengah berbadan dua juga telah sembuh total, Sekarang ia bisa berjalan dengan sempurna dan menjalankan hidup sesuai impiannya.


Ia hidup bahagia dengan Gibran dan ketiga anak lelaki mereka. Impian untuk bisa berlarian di taman dengan anak-anaknya tercapai sudah.


Gibran pun masih tetap seperti dahulu, memimpin rumah sakit milik Sabina dan melakukan praktek di klinik kecilnya yang dulu.


Hampir setiap akhir pekan Gibran membawa keluarganya untuk menghabiskan waktu di kliniknya dan Gibran sangat senang karena Sabina dan ketiga anak mereka sangat menyukainya.


"Tiup lilinnya, tiup lilinnya !"


Gibran mengucapkan harapannya dalam hati dengan mata terpejam. Ia bersyukur dengan segala yang ia miliki saat ini dan berharap agar keluarga kecilnya selalu merasa bahagia, lalu ia pun meniup lilin-lilin itu.


Riuh tepuk tangan terdengar dan Gibran pun memberikan ciuman mesra di pipi Sabina. "Terimakasih, Sayang. Aku semakin mencintaimu," bisik Gibran dan membuat pipi Sabina merona. Gibran pun mencium ke tiga anak lelakinya penuh kasih sayang.


***


Malam harinya rumah Sabina mulai dipadati oleh kedatangan beberapa tamu yang merupakan keluarga dan kerabat dekat. Mereka akan merayakan ulangtahun Gibran.


Ibu Gibran pun hadir disana begitu juga ayah Sabina yang kini telah menikah lagi setelah putrinya itu benar-benar sembuh.


"Selamat datang," sambut Sabina ketika ia membukakan pintu untuk seorang lelaki beserta istri dan kedua anaknya. Siapa lagi jika bukan Andre, Alya dan kedua anak mereka.


"Kamu hamil lagi ?" tanya Andre terheran. Sudah lama Andre tak bertemu dengan Sabina. Seingat Andre ia bertemu Sabina beberapa tahun lalu ketika itu Sabina baru saja melahirkan anak ketiganya. Hidup di kota yang berbeda membuat mereka jarang sekali untuk bertemu.


"Hahahahaha, iya," jawab Sabina sembari tertawa.


"Anak ke 4 ?" tanya Andre.


" ke 4 dan 5, mereka perempuan," jawab Sabina seraya mengedipkan sebelah mata membuat Andre juga Alya saling beradu pandang karena terkejut.


"Kembar ?" tanya Alya.


"Iya, menurut pemeriksaan dokter sih begitu." jawab Sabina.


"Bina anakmu banyak banget," gumam Andre dengan tercengang namun Sabina masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Ini semua karena Papa kelinci," jawab Sabina.


"Papa kelinci ?" tanya Andre dan Alya berbarengan, Sabina hanya tertawa melihatnya.


***


"Jadi bagaimana rencana pembangunannya ?" tanya ayah Sabina.


Gibran, ayah Sabina dan Andre duduk bersama dalam sebuah ruangan tertutup. Kini mereka tengah membicarakan soal rencana pembangunan klinik 'Mulia' di beberapa daerah pelosok. Klinik yang diperuntukkan bagi kalangan menengah ke bawah sesuai impian dan passion yang Gibran miliki selama ini.


"Saya telah memberikan proposalnya pada Gibran," jawab Andre.


Andre memutuskan untuk membuat perusahaan konstruksinya sendiri dengan modal yang ia miliki. Ditemani Alya, mereka jatuh bangun bersama dan akhirnya bisa meraih kesuksesan meski itu tak mudah.


Setelah makan siang dengan wanita bernama Sonia waktu itu, Andre sadar akan banyaknya godaan wanita di luar sana hingga ia membuat keputusan besar dalam hidupnya yaitu hanya memilih Alya seorang dan membangun usaha bersama.


Keluarga Andre pun akhirnya menerima kehadiran Alya karena mereka tahu wanita itulah yang membantu Andre untuk sukses seperti saat ini. Andre pun tak kembali ke perusahaan keluarganya namun ia tetap membantu adik-adiknya jika mereka memerlukan sesuatu.


Inilah kerjasama pertama Andre dengan keluarga Mulia dan ia akan melakukan yang terbaik karena tak ingin mengecewakan Gibran dan juga ayah Sabina. Semuanya telah berdamai dengan masa lalu.


Cukup lama mereka saling berbicara hingga ketukan di pintu menghentikan pembicaraan mereka.


"Ayo Sayang, semua sudah berkumpul," ajak Sabina dari balik pintu dan Aiden berlari pada Gibran kemudian meminta papanya itu untuk memangkunya.


"Kalian bisa melanjutkannya nanti setelah makan malam," ucap Sabina lagi dan Gibran pun menyetujuinya.


Ketiganya pun meninggalkan ruang kerja Gibran dan berjalan menuju ruang makan di mana semua orang telah menunggu.


"Terimakasih Sayang, terimakasih telah membantu mewujudkan mimpiku," bisik Gibran.


Sabina lah yang memberikan ide pada ayahnya untuk membuat klinik 'Mulia' seperti yang Gibran impikan. Ayah Sabina pun setuju dan menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk membantu menantunya itu.


"Apapun untukmu, Papa kelinci," jawab Sabina dan Gibran pun menarik pinggang istrinya itu untuk lebih mendekat kemudian ia memberikan ciuman mesra di puncak kepala istrinya.


- Tamat - ( lagi )😂


Bonus chapter terakhir yaa 😘


Terimakasih banyak untuk para readers yang telah membaca novel ini sampai akhir 😘😘


Mohon maaf jika ada kata-kata yang melukai perasaan Readers semua 🙏🙏


Sampai ketemu di novel aku yang lain ❤️


Tons of love for you guys ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️