Pernikahan Yang Tak Diinginkan

Pernikahan Yang Tak Diinginkan
Restu


dengan langkah cepat pemuda itu melangkah membawa tubuh Alika yang terkulai lemah.


" taksi... pemuda itu mengehentikan taksi.


supir taksi kaget melihat wanita yang di bawa pemuda itu bersimbah darah.


"tolong bantu saya pak.pinta pemuda itu.


di dalam perjalanan pemuda itu terus memberikan semangat kepada Alika,


" Alika kau harus kuat Alika...... ucap pemuda itu.


sesampainya dirumah sakit.


para perawat langsung menghampiri membantu pemuda itu membawa tubuh Alika langsung ke UGD.


" tolong lakukan yang terbaik untuk wanita ini dok, berapapun biyayanya akan saya tanggung yang penting selamatkan dia. pemuda itu memohon.


" anda siapanya? Tanya dokter .


saya bukan siapa siapanya dokter, tolong selamatkan dia.pinta pemuda ini lagi.


" kalo begitu tolong hubungi keluarganya, ucap dokter.


pemuda itu kebingungan kemudian memanggil polisi untuk penyelidikan dan juga memanggil keluarga Alika.


setibanya paman dan bibi Alika dirumah sakit.


"Dok bagaimana keadaan putri kami? tanya bu Teti bibinya Alika.


" tenang nyonya, dia sudah melewati masa kritisnya. kita hanya menunggu ia sadar, dia begitu kuat nyonya. saya berfikir dia tidak bisa diselamatkan ternyata tuhan berkata lain. dokter menuturkan.


" Pahh.. Alika pahh...kemudian bu Teti menangis dan memeluk pak Adi.


"kasihan dia pah? sedari kecil hidupnya selalu menderita pah.... tangis bu Teti srmakin terisak isak. pak Adi mencoba menenangkan istrinya agar tidak bersedih guna untuk membuat Alika lebih semangat untuk tetap bertahan. karna dalam hidup Alika, mereka berdua sudah menjadi pengganti orang tua Alika yang lama tiada.


" bolehkah kami melihatnya Dok. pinta bu Teti.


"baiklah bu, semoga dekat dengan keluarganya membuat Alika lekas tersadar.ucap sang dokter.


mereka bangun dari kursi dan bergegas akan pergi dimana ada Alika yang terbaring didalamnya namun langkah pak Adi terhenti,


"Dokter.. siapa yang membawa putri saya kemari dok?? tanya pak Adi.


" seorang pemuda pak. beruntung sekali ia membawanya tepat waktu, kalo tidak .. saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Alika. dan dia juga telah membayar semua biyaya untuk Alika.ucap Dokter.


" *lalu dimana pemuda itu sekarang pak ? tanya *Pak Adi.


" Dia tadi pergi kemasjid pak , mungkin mendoakan untuk kesembuhan Alika. ucap Dokter.


pak Adi bergegas Menuju kemesjid untuk bertemu dengan pemuda tersebut. namun pak Adi tak menjumpai pemuda tersebut**.


Seminggu kemudian, keadaan Alika mulai membaik dan dokterpun sudah mengizinkan keluarganya membawa Alika pulang.


" selama aku belum sadarkan diri, siapa saja yang menjengukku paman? tanya Alika.


"Ada teman temanmu , terus keluarga tuan besar . jawab pak Adi.


" Tuan Marfin wijaya? apakah dia menemaniku? tanya Alika.


"Tuan muda beberapa hari ini sibuk, katanya dia keluar kota untuk urusan pekerjaan, jadi dia belum bisa menjengukmu dirumah sakit, tapi hari ini dia sudah pulang dan janji akan menemuimu nanti. jawab pak Adi.


"*Bagaimana mungkin? aku melihat Marfin dari kejauhan waktu itu, kemudian dia berlari kearahku lalu menangis melihat keadaanku, aku yakin itu adalah Marfin, meskipun saat itu penglihatanku tidak begitu jelas. Ucap alika di dalam hati.


" Antarkan aku kerumah pak Anton paman? Bisakah? pinta Alika kepada pamannya*.


sesampainya di kediaman pak Anton wijaya


nampak keluarga besar sedang menyantap makan malam bersama.


" nak Alika...bu risma menghampiri Alika dan memeluknya.


syukur ya allah kamu sudah bertambah baik..ucap bu Risma.


iya kak Alika, kami sangat senang kak Alika sehat sekarang. ucap Ana.


Alika menatap semua isi ruangan seolah mencari cari sesuatu.


"Nak siapa yang kau cari? tanya pak Anton.


ayolah, pak Adi ? Alika mari makan bersama kami.ajak pak Anton.


"tidak tuan, aku dan paman buru buru, aku kesini hanya sekalian mampir tadi sehabis berbelanja . ucap Alika.


Belanja apa kak? tanya Ana heran.


" oh itu, bahan bahan kue untuk besok pagi bibi memintanya. ucap Alika gugup.


Terdengar hentakan sepatu menghampiri , Alika memalingkan badan dan melihat Marfi melangkah dan diikuti oleh sekertaris Leo .


"Alikaa...... teriakan seorang pemuda teringat di ingatan Alika.


" Tuan muda.... Alika menatap wajah marfin kemudian kedua tangannya menyentuh wajah marfin.


semua orang terheran heran dengan sikap Alika kepada Marfin, Ada apa ? mereka bertanya tanya.


kemudian Marfin memegang tangan yang berada di wajahnya sembari bertanya"


ada apa nona Alika, apakah engkau baik baik saja ? tanya Marfin.


Alika sejenak menghela nafas


"tuan Marfin wijaya, terakhir kali aku ingat kau memintaku untuk menikah dengan mu? saat ini apakah engkau bersedia memintanya lagi? ucap Alika.


mendengar itu semua terkejut, pak Adi yang menyaksikan dan mendengar ucapan tak pantas itu kemudian menarik tangan Alika dan meminta maaf atas nama Alika, saat itu pak Adi tampak marah dan malu atas tindakan Alika, dan mohon undur diri untuk membawa Alika pulang kerumahnya. namun saat pak Adi akan membuka pintu, terdengar suara menghampirinya.


"tunggu pak? Marfin memanggil dengan wajah datar.


"Tidak tuan muda maafkan ataa kelancangan kami, ucap Pak Adi**.


marfin menghampiri pak Adi yang menggandeng tangan Alika, kemudian Marfin melepaskan gandengan itu dan mengambil alih tangan Alika dan membawa ke hadapan orang tuanya.


"*Ayah, ibu.... apakah kalian akan memberi restu kalian untuk kami? ucap Marfin.


Alika menatap wajah Marfin, seakan tak percaya apa yang ia dengarnya kemudian menatap kembali kedua orang tua marfin.


bu risma dan pak Anton tampak kaget tapi kemudian bu Risma tersenyum seolah mengisyaratkan persetujuannya.


" Tentu saja nak, apa yang kau inginkan selalu kami turuti, ibunya memeluk keduanya.


pak Antonpun berkata demikian.


" jadi kapan kalian akan menikah? secepatnya? ucap Ana*.


semua hanya tertawa .


" *Tuan Muda aku akan menyiapkan segalanya, ucap sekertaris Leo.


pak Adi *hanya terdiam sedari tadi ia tak menyangka dengan apa yang ia dengar dari mulut kedua majikannya, mengapa mereka berdua begitu mudah memberi restu untuk Alika dan Marfin. sementara mereka adalah orang terpandang wanita kalangan ataspun bisa menjadi menantu mereka**.