
Happy reading ❤️
Alis Gibran berkerut tanda tak suka, bibirnya yang berisi terkatup rapat dan rahangnya mengeras karena rasa cemburu yang ia rasakan ketika melihat Sabina diikuti seorang lelaki yang ia kenali. Tangannya mengepal di bawah meja menahan rasa panas dalam dadanya yang siap meledak.
Sabina menelan salivanya, ia merasa pandangan Gibran yang dingin seolah mengulitinya hidup-hidup. Suaminya itu tak menatap Andre ataupun mbok Inah. Tapi mata tajam itu tengah memandangnya tanpa teralihkan.
"Andre, kumohon pergilah." Ucap Sabina lirih penuh mohon. Ia tak mau terjadi keributan antara Andre dengan suaminya.
Andre pun mengikuti arah mata Sabina dan melihat Gibran yang duduk di atas kursi tepat di hadapan mereka.
Andre hafal betul arti pandangan yang Gibran berikan saat ini. Sehingga membuat lelaki itu memutuskan untuk pergi meninggalkan Sabina karena ia pun tak mau bila harus berhadapan dengan Gibran dan berakhir babak belur seperti sebelumnya.
"Aku pergi ya Bina, tapi kumohon beri beri aku kesempatan untuk berbicara denganmu berdua saja. Banyak hal yang ingin aku katakan padamu. "Bisik Andre dengan jarak yang begitu dekat membuat wajah Sabina menegang seketika
Sabina tidak menolak dan tidak juga mengiyakan ajakan Andre. Dirinya masih terlalu terkejut dengan apa yang tengah terjadi saat ini.
Di depan sana Gibran langsung menggeserkan kursinya kebelakang untuk berdiri. Ingin ia berlari dan menjauhkan Andre dari sang istri namun ia sadar sedang berada di mana dan posisinya sebagai apa. Yang akan ia lakukan saat ini adalah membawa Sabina dalam pelukan dan memperlihatkan kepemilikannya.
Gibran berjalan menuju Sabina berdiri tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun. Sedangkan Andre langsung pergi menjauhi ketika ia melihat Gibran berjalan kian mendekat.
Tanpa banyak bicara, Gibran langsung melingkarkan tangannya di pinggang sang istri tapi sedetik kemudian Sabina menepis dengan halus belitan tangan suaminya. Seolah pergi untuk menyalami dokter kandungan yang datang menyambutnya. Gibran diam membisu dengan penolakan istrinya itu.
Beruntung bagi Sabina karena seorang wanita paruh baya dengan jas putih datang menghampiri.
"Saya telah menunggu Anda," Ucap dokter Dewi yang merupakan dokter kandungan Sabina. Ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Ah ya maaf saya terlambat karena jalanan macet." Ucap Sabina beralasan dan ia pun menyambut uluran tangan sang dokter.
"Tidak apa-apa," jawab dokter Dewi memaklumi.
"Loh Dokter Gibran masih disini ? Biasanya sudah berangkat ke klinik." Lanjut Dokter Dewi pada Gibran yang kini telah berdiri tepat di sebelah Sabina.
"Ya." Jawab Gibran singkat dengan suaranya yang berat.
Gibran hanya mengucapkan sepatah kata, namun mampu membuat Sabina menggigil seketika karena nada suaranya yang dingin.
"Kalau begitu, mari." Tutur dokter Dewi dan ia mempersilakan Sabina dan Gibran untuk berjalan lebih dulu.
"Saya akan ditemani mbok Inah karena Dokter Gibran sangat sibuk. Ada yang lebih penting yang harus diurusi di kliniknya." Ucap Sabina penuh sindiran sehingga membuat Gibran mendelikkan matanya.
Gibran berjalan mendahului tanpa menanggapi sindiran yang Sabina ucapkan. Dengan terpaksa Sabina pun mengikuti. Mbok Inah dan dokter Dewi saling beradu pandang karena keadaan menjadi canggung seketika.
"Mbok Inah tunggu diluar, saya yang akan menemani istri saya untuk diperiksa." Ucap Gibran dengan menekankan kata istri dan Sabina pun tak bisa menolak.
Sebelum melakukan pemeriksaan, Sabina lebih dulu menimbang berat badan dan memeriksa tekanan darahnya. Tak ada ibu hamil lainnya, karena sebenarnya jam praktek dokter Dewi telah selesai namun jam ini ia khususkan untuk memeriksa Sabina.
Dokter Dewi mengoleskan gel ke atas perut Sabina yang buncit, ia akan melakukan pemeriksaan USG. Gibran yang berdiri tepat di sebelah Sabina menatap perut istrinya dengan penuh rasa rindu. Ingin sekali ia memberikan banyak ciuman di sana seperti yang biasanya dirinya lakukan.
"Hmmm," gumam dokter Dewi sembari memperlihatkan layar yang menunjukkan keadaan bayi yang berada dalam kandungan Sabina.
"Apa semuanya baik ?" Tanya Sabina.
Dokter Dewi hanya mengulum senyum sedangkan rahang Gibran kembali mengeras karena sedikit banyak ia pun paham.
"Apa masih sering mual ?" Tanya dokter Dewi ketika mereka bertiga telah duduk saling berhadapan.
"Tidak," jawab Sabina dan Gibran terus memperhatikan istrinya itu.
"Bobot tubuh anda berkurang banyak, seharusnya untuk kehamilan yang memasuki trimester ketiga ini tak terjadi karena pada umumnya rasa mual telah hilang pada fase ini." Jelas dokter Dewi.
Sabina menegang begitu juga Gibran, "apa bayinya baik-baik saja ?" Tanya Sabina.
"Perkembangannya sesuai usia kehamilan, posisi plasenta baik namun berat badan bayi sedikit kurang." Jawab dokter Dewi berusaha menenangkan.
"Bagaimana pola makan dan tidurnya ?" Tanya sang dokter kandungan.
"Hmm, makan seperti biasa tapi memang saya kurang berselera akhir-akhir ini." Jawab Sabina.
"Saya agak sulit untuk tidur di malam hari. Sering terbangun tiba-tiba." Jawab Sabina lagi.
"Kalau seperti itu usahakan untuk tidur siang walaupun hanya sekitar 1 jam" dokter Dewi memberikan saran.
"Siang pun sulit," jawab Sabina sembari tertawa. Sedangkan Gibran terus memperhatikan istrinya itu setiap ia menjawab pertanyaan. Hatinya menjadi kecut mendengar setiap kata yang Sabina ucapkan.
"Sering merasa sedih ?" Tanya dokter Dewi.
"Eh... Mmm... Terkadang." Jawab Sabina terbata, ia merasa heran dokter Dewi seolah dapat menebak semua yang Sabina alami.
Gibran yang mendengar itu semakin merasakan ngilu di dalam hatinya. Ia tahu sekali arah pembicaraan ini.
"Kalau ingin bayinya sehat dan berkembang baik, kuncinya jangan stress." Jelas dokter Dewi seraya memandang wajah Sabina dan Gibran secara bergiliran.
Sabina syok seketika. Ia takut terjadi hal buruk dengan kandungannya. Sedangkan Gibran, ia merasa tertampar. Dirinya sadar bahwa ia lah yang menjadi sumber stress Sabina.
"Maksudnya ?" Tanya Sabina dengan menelan salivanya sendiri. Ia merasa begitu takut.
"Berat badan anda berkurang cukup banyak dari penimbangan terakhir. Dan ini tidak baik. Begitu pun dengan berat bayi yang anda kandung, beratnya kurang untuk seusianya." Jelas dokter Dewi dengan perlahan.
"Ada sekitar 8 minggu hingga perkiraan waktu lahir. Makanlah makanan yang bergizi, atur pola tidur dan jangan sedih berlebihan." Lanjutnya lagi dan Sabina dengan serius mendengarkan.
"Olah raga yang ringan juga boleh, misalnya jalan pagi ditemani pak dokter." Ucap Dokter Dewi berusaha mencairkan suasana.
Sabina hanya tersenyum masam, dan Gibran dadanya terasa semakin sesak.
"Saya akan meresepkan vitamin juga obat mual akan saya tambahkan. Diminum hanya jika merasa mual ya." Dokter Dewi pun menuliskan resep di atas selembar kertas.
"Tapi saya gak mual, Dok." Jawab Sabina.
"Jika merasa mual. Saya takut jika selera makan bu dokter berkurang karena itu."
Sabina pun menganggukkan kepala.
"Jangan stress, jangan bersedih. Karena bayi yang kita kandung akan merasakan hal yang sama. Jika ibunya tidak merasa bahagia maka bayinya pun akan merasa seperti itu."
Sabina kembali tersenyum masam ketika mendengar itu dan Gibran diam tak bersuara. Ia hanya semakin merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Sabina dan kehamilannya saat ini.
"Nah tugas pak dokter nih, awasi istrinya dan bikin happy terus ya." Ucap dokter Dewi pada Gibran. Walaupun sang dokter mengatakan itu sembari tertawa ringan namun Gibran merasakan itu sebagai tamparan keras baginya.
"Ya Tuhan... Tapi dia akan baik-baik saja kan ?" Tanya Sabina cemas.
"Kita lihat perkembangannya 2 minggu ke depan."
"Apa resikonya besar ?"
"Hmm ?" Dokter Dewi balik bertanya.
"Ji... Jika saya merasa stress, apa resiko terbesar terhadap kehamilan?" Tanya Sabina.
"Bayi anda bisa lahir prematur dengan berat badan kurang dan itu tak baik. Bayi juga bisa memiliki sifat tempramen nantinya karena ia pun merasakan gelisah yang sama." Jelas dokter Dewi dan Sabina mengangguk paham.
"Intinya kamu jangan banyak pikiran agar pola makan dan tidurmu menjadi baik. Karena itu sangat berpengaruh bagi kesehatan bayi kita." Akhirnya Gibran membuka suara dan Sabina pun menolehkan kepalanya seraya menatap Gibran dengan tersenyum miring.
Gibran menarik nafas dalam dan dadanya kembali terasa sesak. Ia sadar Sabina tentu akan menyalahkannya.
"Saling bekerjasama dengan pasangan itu jauh lebih baik. Biasanya ibu hamil sangat membutuhkan perhatian pasangannya. Saya tahu dokter Gibran sangat sibuk mengurusi pasien, tapi tak ada salahnya jika lebih memperhatikan lagi istrinya. Manja-manja atau bercinta itu juga sangat bagus loh. Itu bisa meningkatkan mood istri dengan cepat" Canda dokter Dewi.
Sabina spontan tertawa mendengar itu, ia mentertawakan Gibran tentu saja, sedangkan Gibran kembali merasa tertampar untuk ke sekian kalinya.
Gibran sadar, sibuk mengurusi orang lain ( Amanda ) hingga ia lalai terhadap Sabina dan anak yang dikandungnya.
Inilah hasil yang dituai Gibran dari segala perbuatannya.
thanks for reading ❤️
kalau suka ceritanya, mumpung Senin yuk vote buat yang ikhlas aja.. makasih