
jam menunjukkan 6.30
Alika membuka matanya. di lihatnya disebelahnya suaminya masih tertidur dengan lelap. ia memiringkan badannya lalu tersenyum menatap wajah suaminya. tangannya ingin menggapai wajah itu, namun terhenti.
" Aku mencintaimu"
kata kata itu terngiang di telinganya saat suaminya mengatakan untuk pertama kalinya meski dalam keadaan mabuk.
yaa .... meski Mereka tidur seranjang namun hanya sekali saja mereka melakukan hubungan suami istri itupun dalam keadaan marfin sedang mabuk dan semuanya menjadi kenangan indah untuk Alika, karna ia telah memberikan kesuciannya saat malam itu kepada suaminya.
dan sedikit sikap romantisnya belakangan kemarin hanya di tujukan sebagai ungkapan rasa bersalahnya karna sengaja atau tidak, ia telah menghadirkan sosok wanita lain didalam hidupnya.
karnanya dia terlihat seolah olah begitu menyayangi Alika hanya untuk menutupi rasa bersalahnya.
semua fasilitas Alika ia cukupi, baju mahal, sepatu berkelas, tas yang limited edition dan kartu debit tanpa limit.
Alika kembali memalingkan tubuhnya dan membelakangi suaminya dengan tersenyum .
kemudian tak lama Alika bergegas bangun pergi ke taman bunga di samping kamarnya.
Aroma segar cukup tercium di hidungnya, embun pagi yang menempel di rerumputtan, di kelopak bunga yang sedang bermekaran pun menetes diantara ranting dan dahan.
perasaan yang selalu sama, kesejukkan yang selalu sama bahkan ketika di nikmati dari sudut bumi yang berbeda.
Alika mengangkat kedua tangannya memiringkan badannya, melingkarkan tangannya keatas.
kriukk...kriukk...
suara perut Alika berbunyi.
aww...Aku laper. Alika memegang perutnya.
cepat cepat ia keluar dari kamarnya melebarkan langkahnya berlari kecil menuruni anak tangga menuju tempat makan keluarga.
nampak jee sedang duduk sarapan seorang diri. sementara kepala pelayan berdiri di samping jee.
Alika memanggil kepala pelayan tersebut dengan melambaikan tangannya.
ia nona? ada apa?
tolong buatkan aku nasi goreng, hanya dalam waktu 5 menit. pedas ya .... ucap Alika.
baik non, pelayan itu sedikit membungkukan badannya.
Alika berjalan lurus seperti berpura pura tak melihat jee di depan matanya.
ia kemudian duduk di meja makan di depan Jee dengan tatapan lurus tanpa melihat ke kanan ataupun kekiri.
sesekali ia menatap jee dengan mata sinis sambil memainkan jari jarinya pada meja .
*beberapa menit kemudian sarapan yang Alika pesan sudah datang.
ini nona, ucap pelayan dengan sopan . meletakkan nasi goreng pesanan Alika di depannya*.
" Lapar nona, tanya jee dengan senyum manisnya.
Lalu??...tanya Jee lagi.
Lalu apa, kau fikir jika aku makan aku tidak lapar, kau sendiri mengapa makan, apa kau sedang lapar, tuan. Alika melipatkan kedua tangannya di pinggangnya.
" dasar aneh sudah tau aku lapar, Masih saja bertanya. Batin Alika.
heyy...boleh aku bertanya? mengapa saudaraku yang tampan itu mau menikah dengan gadis sepertimu? tanya jee.
Alika pura pura tak mendengar apa yang dikatakan jee.
ia masih melahap makanan di depan matanya.
hey ... Aku sedang bicara pada mu. bukan pada meja makan ini. jee memaju kan kepalanya kearah Alika yang duduk di depannya.
" Tuan,kau bicara terus , bagaimana aku bisa makan. boleh aku makan. Aku mohon , boleh ya. ucap Alika sambil sedikit menggelengkan kepalanya seperti anak kecil yang meminta mainan baru.
Jee, menutup mulutnya menahan tawa melihat kelakuan Alika.kemudian
ia menggeleng gelengkan kepala.
" dasar bocah .Batin jee
Tak tak ....
suara kaki terdengar turun dari tangga dengan langkah cepat.
" hey .... sayang kau sudah bangun? tanya Marfin sambil menuju menghampiri istrinya.
wow....sarapan apa ini? tanya Marfin kembali.
eumm...... Marfin mengambil sendok yang di pegang Alika, kemudian mengambil sesuap nasi goreng dan memakannya.
Arghh....pedass..
pelayan langsung mengambilkan minum dengan sigap.
" sayang... stop. jangan makan ini. Marfin menarik piring Alika dan memberikannya kepada pelayan.
ta..tapii aku laparr. Ucap Alika memajukkan bibirnya dan membulatkan matanya.
sudahh....sekarang cepat mandi. kita akan pergi, Marfin menarik tangan istrinya dan memintanya untuk berdiri.
Dengan wajah cemberut Alika kembali menaiki tangga menuju kamarnya.
" tolong bawakam nona Alika roti kedalam kamar, dia masih lapar. pinta Marfin.
satu lagi... jangan turuti jika dia ingin memakan makanan pedas. perutnya akan sakit nanti. ucap Marfin lagi.
baik tuan..jawab pelayan membungkukan badan.
disudut lain jee hanya tersenyum menyaksikan keduanya.